Bab 6
Steven berdiri di luar pintu. Wajah tegasnya yang dalam tampak dingin dan acuh tak acuh. Dia berujar, "Aku akan melakukan perjalanan dinas selama beberapa hari. Hanna nggak bisa mengurusnya sendirian. Tolong kamu jaga dia dalam dua hari ini."
Vanesa sedang tidak enak badan, juga tidak ingin berbasa-basi dengan Steven.
"Baiklah. Kalau kamu sudah pulang dari perjalanan dinas dan ingin menjemputnya, jangan lupa untuk membawa surat cerai itu."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik sambil menggendong Regan, langsung menuju kantor.
Steven berdiri di tempat, memperhatikan dalam diam sejenak.
Kemudian, pria itu menutup pintu utama studio, langsung berbalik pergi.
…
Di ruang istirahat, Vanesa menurunkan Regan, lalu menghela napas berat.
"Lepaskan jaketmu, lalu tidurlah."
Regan sekarang sudah sangat penurut.
Dia melepaskan jaketnya, memberikannya kepada Vanesa, lalu berkata, "Ibu, tolong bantu aku menggantungkan jaketku. Terima kasih."
Regan selalu berbicara dengan manis seperti ini.
Vanesa tersenyum kepadanya, menerima jaket itu, lalu menggantungnya di gantungan baju.
Keduanya pun berbaring di tempat tidur.
Regan memeluk lengan Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apakah Ibu marah karena aku pergi menemui wanita itu?"
Vanesa tertegun sejenak. Kemudian, dia menghela napas, memeluk Regan, lalu membimbingnya dengan nada lembut, "Dia adalah Ibu yang melahirkanmu. Ibu tahu akan sulit bagimu menerima hal ini dalam waktu singkat, tapi tanpa dia, nggak akan ada kamu. Jadi, nanti kamu nggak boleh memanggilnya dengan kata-kata 'wanita itu'."
Kegelisahan kecil di hati Regan pun menghilang karena kalimat dari Vanesa ini.
Ketika Regan melihat bahwa Vanesa tidak pulang saat malam, dia mengira Vanesa marah, tidak menginginkan dirinya lagi karena sudah pergi menemui Hanna.
Untungnya, dia hanya berpikir terlalu banyak!
Regan menutup mata dengan puas, lalu berujar, "Ibu, aku akan selalu mencintaimu. Nggak peduli siapa yang melahirkanku, Ibu akan selamanya menjadi Ibu kesayanganku!"
Hati Vanesa meleleh, dia menyentuh pipi kecil Regan.
"Ibu mengerti. Ibu juga berjanji padamu kalau Ibu akan selalu ada saat kamu membutuhkanku," balas Vanesa.
"Bu, Ibu sendiri yang mengatakannya, ya!" Regan menguap. "Ibu nggak boleh berbohong. Kalau berbohong, hidungmu akan memanjang!"
Vanesa terkekeh mendengar kata-katanya yang kekanak-kanakan. Emosinya yang penuh kekesalan perlahan-lahan menjadi tenang.
Vanesa menundukkan kepala, memberikan ciuman ringan di dahi Regan, lalu berkata, "Ibu nggak akan pernah membohongimu. Selamat malam."
Yang membalas Vanesa adalah suara napas Regan yang teratur.
…
Sekarang adalah waktu liburan semester, Regan tidak perlu pergi ke taman kanak-kanak.
Hari berikutnya, studio kembali menerima satu artefak lainnya. Bayarannya sangat tinggi, hanya saja waktu pengirimannya juga cukup ketat.
Selama dua hari berturut-turut, Regan hampir selalu bersama Vanesa di studio.
Ketika Vanesa sedang sibuk bekerja, Lucy dan karyawan lainnya akan membantu Vanesa menjaga Regan.
Selama dua tahun terakhir ini, Regan memang sudah sering datang ke sini. Dia sudah akrab dengan semua orang.
Pada pukul dua sore di hari ketiga, Vanesa akhirnya menyelesaikan pekerjaan restorasinya.
Setelah keluar dari ruang restorasi, dia berjalan menuju kantor sambil mengirim pesan WhatsApp kepada sahabatnya yang bekerja di departemen kandungan.
Vanesa: [Apa kamu ada pekerjaan sore ini?]
[Ada! Kenapa?]
Vanesa: [Tolong ambilkan nomor antrian untukku. Aku akan sampai di sana sekitar jam setengah empat.]
[Kenapa? Apa kamu hamil?]
Vanesa: [Aku nggak yakin. Haidku terlambat sekitar sepuluh hari. Beberapa hari ini, perutku juga terasa nggak nyaman.]
[Kamu terlambat sepuluh hari? Apa kamu nggak bisa membeli alat tes kehamilan untuk memeriksanya dulu?]
Ketika mendengar ini, Vanesa baru teringat dengan alat tes kehamilan yang dia lupakan di dalam tasnya.
Vanesa mengerucutkan bibir, menghela napas pelan, lalu kembali mengetik. [Aku sudah membelinya, tapi aku lupa karena sibuk.]
[Hebat sekali kamu! Kamu bisa lupa setelah membelinya! Pasti kamu lembur lagi, 'kan? Vanesa, bukannya aku ingin mengutukmu, tapi kalau suatu hari nanti kamu mati mendadak di ruang restorasi, aku juga nggak akan kaget! Cepat periksa dulu sekarang!]
Vanesa: [Aku mengerti.]
…
Vanesa kembali ke kantor.
Regan berbaring di sofa, tampak tertidur nyenyak. Selimut kecil di tubuhnya sudah ditendang hingga terjatuh ke lantai.
Di meja ada kotak makan siang yang belum habis.
Vanesa melangkah mendekat, mengambil selimut kecil itu, lalu kembali menyelimuti Regan.
Dia membereskan kotak makan, membuangnya ke tempat sampah, lalu membersihkan meja. Setelah kembali duduk di sofa yang lain, Vanesa mengangkat tangan untuk menyeka keringat halus di dahinya.
Perut bagian bawahnya kembali terasa tidak nyaman. Tiba-tiba, Vanesa teringat dengan alat tes kehamilan yang ada di tasnya. Ketika dia akan bangkit untuk mengambilnya, Lucy mendorong pintu, lalu melangkah masuk.
"Kak Vanesa, ada seseorang yang mencarimu di bawah."
…
Di bawah studio ada sebuah kedai kopi.
Begitu Vanesa melangkah masuk, dia langsung melihat Hanna yang sedang duduk di sudut.
Hanna duduk di sana, memandang ke arah Vanesa melalui kacamata hitamnya.
Vanesa mengenakan gaun berwarna aprikot, dengan balutan jaket bulu berwarna merah muda di luar. Rambutnya yang panjang hingga sepinggang, tergerai dengan alami, tampak sangat lembut.
Tubuhnya memiliki ketenangan seorang wanita dewasa. Wajahnya yang sebesar telapak tangan memiliki fitur yang halus. Dia tidak tampak sangat menakjubkan, tapi karena kulitnya yang seputih salju, entah kenapa Vanesa memberikan kesan dingin meski tanpa mengatakan apa-apa.
Ketika Hanna melihatnya berjalan mendekat, dia berdiri dengan senyuman lembut, lalu menyapa, "Nona Vanesa, silakan duduk."
Vanesa tidak duduk.
Dia tidak merasa perlu bertemu dengan Hanna secara pribadi.
"Nona Hanna, kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja secara langsung."
Hanna mengangkat tangan untuk melepaskan kacamata hitamnya, lalu berujar, "Sepertinya Nona Vanesa nggak terlalu menyukaiku. Aku bisa mengerti. Aku juga baru tahu hari ini kalau ternyata Steven menipumu. Tapi Steven juga melakukan ini demi kebaikanku. Aku harap Nona Vanesa nggak menyalahkannya."
Vanesa menarik sudut bibirnya, sementara suaranya tenang ketika dia membalas, "Aku nggak menyalahkan siapa pun. Sejak awal, aku dan Steven memang hanya melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Mengenai Regan, dia adalah anak yang kamu kandung, serta kamu lahirkan. Kamu sepenuhnya berhak bertemu dengannya."
"Apakah Nona Vanesa benar-benar berpikir begitu?" tanya Hanna.
Vanesa mengernyitkan kening, tampak kehabisan kesabaran. "Apakah Nona Hanna mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan pemikiranku?"
Hanna menatap Vanesa.
Dia merasa agak terkejut.
Vanesa ternyata jauh lebih tenang dari yang Hanna pikirkan.
Wanita seperti ini berada di samping Steven selama lima tahun.
Jujur saja, tidak mungkin Hanna tidak merasa terancam sedikit pun.
Namun, sekarang dia sudah kembali. Sudah waktunya bagi Vanesa untuk pergi.
Hanna mengambil surat cerai dari dalam tas.
Dia meletakkan surat cerai di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Vanesa.
"Steven berpikir untuk memberikan Mansion Resta padamu. Selain itu, ada pula tambahan 100 miliar sebagai kompensasi atas kerja kerasmu selama lima tahun ini. Kalau kamu merasa nggak ada masalah dengan semua ini, tanda tangani saja suratnya," kata Hanna.
Bab 7
Vanesa tidak membaca surat itu, langsung mengambilnya. Dia menatap Hanna sembari berkata, "Katakan pada Steven kalau pengacaraku akan menghubunginya untuk urusan perceraian selanjutnya."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik, hendak pergi.
Hanna berdiri, lalu bertanya, "Nona Vanesa, apakah Regan ada di tempatmu?"
Vanesa menghentikan langkahnya, melirik ke arah Hanna.
Hanna berkata dengan nada lembut yang penuh dengan permohonan, "Sudah beberapa hari aku nggak bertemu dengan Regan. Bolehkah aku naik untuk menemuinya?"
Sebenarnya, Vanesa sangat tidak ingin Hanna menginjakkan kaki di studionya.
Namun, Regan adalah anak Hanna. Setelah bercerai dengan Steven nanti, Vanesa bahkan tidak bisa dianggap sebagai ibu tirinya.
Setelah memikirkan tentang hal ini, Vanesa baru saja akan berbicara ketika suara anak kecil yang polos terdengar lebih dulu.
"Ibu!"
Vanesa menoleh, melihat Regan yang sudah berlari ke arah mereka!
Regan memeluk Vanesa.
Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya, mengusap kepalanya karena kebiasaannya. "Kenapa kamu berlari turun sendirian?"
"Kak Lucy menemaniku turun dengan lift. Dia baru pergi setelah melihatku masuk ke kafe."
Regan memeluk Vanesa, sementara dia menggosokkan pipi kecilnya di pelukan Vanesa. Kemudian, dia bertanya, "Ibu, kenapa lama sekali di luar? Aku merindukanmu!"
Vanesa tersenyum simpul, tampak tak berdaya.
'Anak ini memang pandai bertingkah manja,' pikir Vanesa.
Interaksi di antara keduanya jatuh ke dalam pandangan Hanna. Tubuh rampingnya sedikit bergetar, wajah cantiknya langsung memucat.
"Regan …."
Ketika Regan mendengar suara itu, dia mengangkat kepala. Tanpa diduga, pandangannya bertatapan dengan pandangan terluka Hanna.
Tubuh kecilnya membeku.
Vanesa juga terkejut, jelas merasakan ketidaknyamanan Regan.
Dia baru saja akan melepaskan Regan ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Hanna."
Ketika Vanesa menoleh, dia melihat Steven.
Pria itu mengenakan jaket panjang hitam. Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi dingin.
Vanesa melihatnya berjalan dengan langkah besar ke sisi Hanna. Steven melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala Hanna.
Hanna dilindungi dengan erat dalam pelukannya.
Vanesa menatap semua ini dengan linglung. Rasa sakit yang penuh dengan kepahitan menyebar tak terkendali di dadanya.
Steven menundukkan kepala, lalu berkata dengan nada lembut pada Hanna yang ada dalam pelukannya, "Ada yang mengambil foto diam-diam."
Saat Hanna mendengar ini, dia menunjukkan ekspresi panik. Kedua tangannya mencengkeram kemeja di dada Steven dengan erat, wajah cantiknya yang membuat banyak penggemar terpesona itu terbenam di dada Steven.
Steven melindungi Hanna sambil melangkah pergi.
Ketika melewati sisi Vanesa, pria itu hanya mengatakan satu kalimat, "Antar Regan pulang, aku akan menjemputnya nanti."
Pria itu hanya memberi tahu, tidak membutuhkan tanggapan Vanesa.
Vanesa memeluk Regan, melihat Steven yang melindungi Hanna naik mobil melalui jendela kaca kafe.
Steven yang seperti ini benar-benar menunjukkan sosok seorang pria sejati.
Selama proses ini, tidak hanya wajah Hanna, bahkan sehelai rambut pun tidak terlihat dari balik jaket hitam itu.
Mobil Maybach pun melaju pergi.
Vanesa menundukkan kepala, melihat surat cerai di tangannya dengan bibir yang terkatup keras. Rasa panas yang mengalir di pelupuk matanya ditekannya kembali sekali lagi.
"Ibu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Regan.
Vanesa kembali tersadar, langsung bertatapan dengan pandangan khawatir dan peduli Regan.
Dia mengambil napas dalam-dalam, tersenyum dengan susah payah, lalu menjawab, "Aku nggak apa-apa."
Regan mengamati raut wajah Vanesa.
Melihat Vanesa sepertinya tidak berbeda dengan biasanya, Regan pun merasa lega.
Vanesa tidak apa-apa, tetapi Regan masih ingat ekspresi sedih ibunya tadi!
Ketika memikirkan bahwa dirinya sudah membuat ibunya sedih, Regan merasa sangat bersalah.
Vanesa melihat waktu.
Waktu pemeriksaan yang dijanjikan dengan temannya sudah hampir tiba.
Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Regan, Ibu harus pergi dulu untuk mengurus sesuatu. Bisakah kamu kembali ke studio dan menungguku?"
"Nggak mau!" Regan sekarang ingin sekali segera bertemu dengan Hanna, tetapi dia tidak berani memberi tahu Vanesa apa yang ada dalam pikirannya.
Regan memutar bola matanya, lalu berkata, "Ibu, kamu sudah beberapa hari nggak pulang ke rumah. Tadi Ayah menyuruh Ibu untuk mengantarkanku pulang dulu. Apakah ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu?"
Hal penting apa yang ingin dibicarakan Steven dengannya? Mungkin itu hanya masalah perceraian saja.
Namun, bagaimana mungkin Vanesa bisa mengatakan tentang hal ini pada Regan?
Ini adalah urusan orang dewasa, tidak seharusnya melibatkan anak yang tidak bersalah.
"Ibu, ayo pulang ke rumah denganku!" Regan menarik tangan Vanesa, lalu berkata dengan manja, "Ayolah! Aku sudah beberapa hari nggak bertemu dengan Ayah, aku merindukan Ayah!"
Vanesa menghela napas, lalu menjawab dengan terpaksa, "Baiklah. Kalau begitu Ibu akan mengantarmu pulang dulu."
"Hore!" Regan merasa sangat senang. "Ibu baik sekali!"
Vanesa mengusap kepalanya. Ketika melihat wajah kecil Regan yang lucu dan polos, dia mendesah dalam hati.
Selama lima tahun pernikahan ini, mungkin hanya ketergantungan dan perasaan Regan terhadapnya yang nyata.
Selain itu, semuanya adalah kebohongan, hanya khayalan belaka.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa dan Regan kembali ke Mansion Resta.
Steven masih belum pulang, sementara Regan sudah menjadi tidak sabaran setelah menunggu hanya sepuluh menit.
"Bu, bisakah Ibu menelepon Ayah untuk menanyakan kapan dia akan pulang?" tanya Regan.
Vanesa juga mengira Steven akan segera pulang. Dia ingin langsung pergi ke rumah sakit ketika Steven pulang.
Namun, masalahnya sekarang, Steven tidak mengangkat teleponnya meski panggilannya tersambung.
Ini terjadi tiga kali berturut-turut.
Vanesa merasa tidak berdaya, tetapi tetap menghibur Regan, "Ayahmu mungkin sedang sibuk."
Regan mengerutkan kening.
'Mungkinkah Ibu menangis, jadi Ayah sedang menghiburnya hingga nggak sempat mengangkat telepon?' pikir Regan.
Setelah memikirkan ini, Regan menjadi makin cemas. Dia bahkan mulai menyesali mengapa dia memeluk Vanesa tadi. Jika dia tidak memeluk Vanesa, Hanna tidak akan merasa sedih!
Makin Regan memikirkannya, makin kesal dirinya. Bahkan tatapan yang dia berikan pada Vanesa pun dipenuhi dengan kebencian.
Hanya saja, Vanesa saat ini sedang mengirim pesan WhatsApp pada sahabatnya, tidak menyadari emosi Regan.
Vanesa: [Ada sedikit masalah yang menundaku. Kita lakukan pemeriksaannya besok saja.]
Sahabat Vanesa: [Besok aku bekerja shift pagi, kamu bisa langsung datang saja.]
Vanesa: [Baiklah.]
Sahabat Vanesa: [Melihat keadaanmu, aku yakin kamu pasti belum menggunakan alat tesnya.]
Vanesa melirik tas di sampingnya dengan perasaan yang agak bersalah, lalu membalas: [Sekarang aku akan melakukannya.]
Sahabatnya pun mengirimkan beberapa emoji sebagai balasan.
Vanesa membalas dengan emoji yang bertuliskan "aku bersalah". Kemudian, dia mengambil tasnya, bangkit berdiri, lalu berkata, "Regan, Ibu mau ke toilet sebentar."
Regan tidak meresponnya.
Vanesa mengira dia sedang merasa kesal karena Steven, jadi tidak terlalu memikirkannya. Vanesa pun berbalik naik ke lantai dua.
Setelah mendengar suara pintu kamar utama di lantai dua tertutup, Regan langsung berlari kembali ke kamarnya, mengambil jam tangan telepon yang dibelikan Hanna dari bawah bantal.
Kontak pertama di telepon itu adalah kontak Hanna, jadi Regan pun meneleponnya.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
"Regan?"
Suara Steven yang rendah dan serak terdengar dari telepon. Terdengar juga napas yang terengah-engah.
Regan merasa sedikit terkejut ketika bertanya, "Ayah? Kenapa Ayah yang mengangkat teleponnya? Di mana Ibu?"
"Ibu kelelahan dan baru saja tertidur. Ada apa?" jawab Steven.
Ketika Regan mendengar ini, hatinya merasa makin cemas. "Apakah Ibu menangis?"
Steven tidak menyangkal, "Sekarang sudah nggak apa-apa."
"Aku khawatir dengan Ibu. Ayah, aku sudah berada di rumah sekarang. Bisakah kamu menjemputku? Aku ingin bersama dengan Ibu!" ujar Regan.
"Baiklah, sekarang Ayah akan pulang untuk menjemputmu."
Setelah menutup telepon, Regan merasa sangat senang. Dia diam-diam menyembunyikan jam tangan telepon di saku jaketnya, lalu keluar kamar dan berlari turun.
Regan duduk di sofa, menyalakan televisi, lalu menonton dengan gembira sambil menunggu ayahnya menjemputnya.
Sementara itu, di kamar mandi kamar utama, Vanesa memegang alat tes kehamilan di tangannya dengan ujung jari yang memutih ....
Bab 8
Dari halaman terdengar suara mobil.
Steven sudah pulang.
Vanesa memegang alat tes kehamilan, lalu membuka pintu kamar mandi.
Di bawah, terdengar suara gembira Regan.
"Ayah!"
Vanesa turun menyusuri tangga satu per satu.
Regan berdiri di atas sofa dengan tangan terbuka ke arah Steven, lalu berkata, "Ayah, peluk aku!"
Steven membungkuk untuk mengangkat Regan.
Vanesa memperhatikan bahwa Steven sudah mengganti pakaiannya.
Saat mengingat kembali pada tiga panggilan telepon yang tidak dijawab tadi ....
Kebenaran yang kejam makin jelas di hadapan Vanesa.
Langkah Vanesa berhenti di anak tangga terakhir. Buku-buku jari di tangannya yang memegang alat tes kehamilan itu tampak memutih.
Regan memeluk leher Steven, melihat ke arah Vanesa, lalu berujar, "Ibu, Ayah ingin mengajakku bermain. Apakah Ibu ingin ikut dengan kami?"
Vanesa melirik Regan, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Steven.
Hari ini, Steven tidak memakai kacamata. Matanya yang dalam itu tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
Akhirnya, pria itu mengalihkan pandangan padanya, tampak dingin seperti biasa.
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama beberapa hari ini. Aku akan berada di Kota Amarai beberapa waktu ini, jadi aku akan menjaga Regan."
Suara Steven terdengar rendah dan merdu. Hanya saja, setiap katanya mengandung jarak.
Jarak terhadap Vanesa.
Vanesa tersenyum simpul ketika mendengarnya, sementara matanya mulai menjadi panas.
Dia merasa ironis.
Ironis karena kegembiraan yang muncul di hatinya ketika melihat hasil tes di kamar mandi tadi.
Ketika Regan melihat Vanesa diam saja, hatinya merasa agak cemas.
Dia masih ingat bahwa Vanesa mengatakan ingin keluar mengurus sesuatu ketika mereka berada di kafe tadi. Alasan Regan bertanya seperti itu, sepenuhnya karena dia yakin bahwa Vanesa tidak akan setuju.
Namun, bagaimana kalau Vanesa setuju? Apa yang harus dia lakukan?
'Aku ingin pergi menemui Ibu dengan Ayah!' pikir Regan.
"Ibu?" Regan mencoba memanggil dengan ragu.
Vanesa mengalihkan pandangannya, langsung bertatapan dengan mata Regan yang tampak sedikit cemas.
Pikiran Vanesa kacau, tidak sempat menyelidiki emosi apa yang ada di mata Regan saat ini. Dia hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Ibu nggak ikut. Kalian bersenang-senanglah."
Sebenarnya Vanesa tahu bahwa Steven kemungkinan besar akan membawa Regan menemui Hanna. Namun, dia tiba-tiba merasa tidak peduli lagi, tidak ingin mengurus hal ini lagi.
Regan menghela napas lega.
"Kalau begitu, Ibu sebaiknya beristirahat dengan baik di rumah." Regan melanjutkan sambil melihat ke arah Steven, "Ayah, ayo cepat kita pergi!"
Steven menanggapi dengan acuh tak acuh. Dia berbalik sambil menggendong Regan. Ketika melewati meja kopi, ujung matanya melirik surat cerai itu.
Hanya saja, kata 'cerai' di atas surat itu tertutup oleh mainan Regan.
Langkah Steven terhenti sejenak.
Vanesa terus memperhatikan Steven. Jadi, ketika pandangan pria itu jatuh pada surat cerai di atas meja, napas Vanesa seakan terhenti.
Meskipun tahu bahwa Steven akan mengajukan perceraian, Vanesa tidak pernah menyangka bahwa surat cerai ini akan diserahkan ke tangannya oleh kekasih Steven, ibu kandung Regan.
Sebelum hari ini, Vanesa mengira bahwa meskipun tidak ada cinta di antara mereka, setidaknya mereka adalah pasangan suami istri yang saling menghormati.
Vanesa tidak pernah menyangka, pernikahan yang dia jalani dengan penuh rasa syukur, serta tanpa penyesalan ini, akan berakhir ketika dia mengetahui … bahwa semuanya adalah tipu daya yang direncanakan Steven dengan cermat demi kekasihnya.
Demi melindungi kekasih hatinya, Steven rela mempertaruhkan pernikahannya sendiri. Dia membuat sebuah penjara bernama pernikahan untuk Vanesa, mengurungnya di penjara itu. Dia melihat Vanesa bertingkah seperti badut yang rela mengorbankan segalanya untuk anak yang dilahirkan kekasihnya.
Apakah dalam lima tahun ini Steven tidak pernah merasa bersalah sedikit pun?
Vanesa mengingat kembali adegan ketika Hanna memberikan surat cerai padanya. Hatinya marah dan sakit.
Pada saat ini, Steven sedang menunduk menatap surat cerai itu.
Pria itu mengerutkan kening sedikit, bersiap mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Vanesa akhirnya tidak bisa menahannya lagi, langsung melangkah mendekati Steven.
Alat tes kehamilan di tangannya hampir pecah karena cengkeramannya.
Emosi yang tertahan selama ini sudah mencapai puncaknya di saat ini.
"Steven ...."
"Ayah, ayo cepat kita pergi!"
Suara Regan yang mendesak memotong kata-kata Vanesa, juga menghilangkan niat Steven untuk menyelidiki lebih lanjut.
Steven tersenyum simpul, lalu membalas, "Baiklah, kita akan pergi sekarang."
Setelah berkata demikian, dia langsung pergi sambil menggendong Regan.
Dari awal sampai akhir, Steven bahkan tidak melirik Vanesa sekali pun.
Sampai akhirnya suara mobil di luar makin menjauh.
Tubuh Vanesa yang kaku seakan kehilangan tenaga. Dia berpegangan pada sandaran sofa, lalu berjongkok perlahan.
Dia menundukkan kepala. Dalam penglihatannya, dua garis merah yang jelas itu menjadi makin kabur.
Air mata yang panas menetes, jatuh di atas dua garis merah itu.
Seandainya Steven melirik Vanesa sekali saja, dia akan menemukan alat tes kehamilan yang dipegangnya.
Sayangnya, pandangan dan hati Steven sama. Sejak awal sampai akhir, tidak akan pernah berhenti padanya.
Vanesa berjongkok di lantai, air mata membasahi wajahnya. Manor Resta yang besar ini terasa kosong, hanya suara tangisan tertahan Vanesa yang bergema lama.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa mengirimkan foto melalui WhatsApp pada temannya.
Sahabat Vanesa: [Akurasi alat tes kehamilan ini tinggi. Besok kamu bisa datang dengan perut kosong untuk pemeriksaan.]
Vanesa: [Aku ingin langsung membuat janji untuk melakukan aborsi.]
Sahabat Vanesa terkejut membaca pesan ini.
Detik berikutnya, temannya itu langsung menelepon.
Saat ini, emosi Vanesa sudah kembali tenang. Dia sedang mengemasi barang-barangnya.
Ketika melihat nama Stella di layar telepon, Vanesa meletakkan pakaian yang sedang dilipatnya, lalu mengambil ponsel untuk menjawabnya.
"Apa Steven tahu?" Suara Stella Anston yang berada di seberang telepon terdengar serius. Dia melanjutkan, "Kamu harus memikirkan semua ini dengan baik. Ini adalah anak pertamamu."
"Dia nggak tahu." Suara Vanesa terdengar sangat pelan. "Kami akan bercerai. Dia sudah punya Regan, jadi dia nggak akan peduli dengan kehidupan yang datang secara nggak sengaja ini."
Setelah mendengar ini, Stella yang ada di seberang juga terdiam sejenak.
Stella memahami tentang kondisi pernikahan Vanesa dan Steven.
"Meskipun dulu aku nggak begitu optimis dengan dirimu dan Steven, lima tahun ini aku sudah melihatmu menjalin hubungan yang cukup harmonis dengan pasangan ayah dan anak itu. Aku bahkan sempat mengira kalian akan hidup seperti ini selamanya. Siapa sangka .... Haih! Apa kamu tahu perasaan ini? Rasanya seperti aku sudah mengikuti serial drama dengan serius, tapi tiba-tiba berakhir dengan buruk!" ujar Stella.
Vanesa mengedipkan matanya yang perih.
Vanesa tidak bisa menceritakan segala macam hal pada Stella secara mendetail. Jika ingin menyalahkan, Vanesa hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hatinya, sudah mencintai orang yang salah.
"Besok aku akan datang ke tempatmu." Suara Vanesa terdengar tegas.
Stella menghela napas sedih beberapa kali, lalu berkata, "Aku nggak bisa langsung melakukannya besok. Aku harus melakukan pemeriksaan dulu. Kita akan bicarakan nanti saat kamu datang."
"Ya."
Setelah menutup telepon, Vanesa meletakkan ponselnya, lalu melanjutkan berkemas.
Meskipun Steven memberikan Mansion Resta ini untuknya, Vanesa tidak berniat untuk terus tinggal di sini.
Dia tahu bahwa Steven pasti juga tidak akan peduli dengan rumah ini. Jadi, Vanesa berencana menjual rumah ini setelah mereka bercerai nanti.
Bagaimanapun juga, ini adalah rumah yang sudah dia tinggali selama lima tahun. Ada banyak barang-barang keperluan sehari-hari di sini.
Vanesa hanya mengemas beberapa pakaian dan tas sehari-hari untuk dibawa. Sisanya, terserah pada Steven untuk mengurusnya. Jika Steven malas mengurusnya, nanti Vanesa akan sekalian membersihkannya saat menjual rumah ini.
Setelah selesai berkemas, Vanesa menandatangani surat cerai, lalu meletakkan surat cerai itu di meja kopi yang paling mencolok.
Saat melangkah keluar dari Mansion Resta, Vanesa menarik dua koper. Dia menutup pintu, langsung pergi tanpa menoleh lagi.