Bab 5
Hanna melepaskan Regan, mengambil banyak hadiah dari sofa di sampingnya.
"Ibu membelikan semua ini untukmu. Lihatlah, apa ada yang kamu suka?"
Mata Regan berbinar. "Itu Iron Man!"
"Regan, apa kamu menyukainya?" Hanna mengusap kepalanya, lalu melanjutkan, "Ini edisi terbatas. Ibu meminta tolong pada beberapa teman untuk mencarikannya. Susah sekali untuk bisa membelinya."
"Terima kasih, Ibu!" Regan menerima Iron Man itu, suara kekanak-kanakannya yang jernih bergema di seluruh mansion, "Ibu baik sekali!"
Hanna tersenyum di balik air matanya, lalu berujar, "Sayang, akhirnya kamu mau memanggilku Ibu."
"Ayah tadi sudah mengatakannya padaku kalau Ibu mengalami banyak penderitaan untuk melahirkanku."
Regan meletakkan Iron Man, mengambil tisu untuk menyeka air mata Hanna, lalu melanjutkan, "Ibu, maafkan aku. Tadi pagi aku seharusnya nggak bersikap seperti itu pada Ibu. Aku nggak akan bersikap seperti itu lagi."
Ketika mendengar ini, Hanna menangis lebih keras lagi, terlihat makin menyedihkan.
"Sayang, kamu nggak bersalah. Ibu yang salah. Nanti Ibu pasti akan berusaha sepenuhnya menjadi Ibu yang baik," kata Hanna.
"Ibu baik, kok!" Regan memeluk Hanna dengan inisiatifnya sendiri, lalu melanjutkan, "Ayah mengatakan kalau Ibu selalu menyayangiku. Nanti aku juga akan menyayangi Ibu!"
Hanna menatap Steven dengan air mata yang mengalir lebih deras, lalu berkata, "Terima kasih, Steven."
Steven mendekat, memberikan sapu tangannya pada Hanna sambil berujar, "Ini yang seharusnya aku lakukan. Jangan menangis lagi, nanti Regan akan sedih."
"Benar, Bu. Ibu cantik sekali, jangan menangis. Kalau menangis, nanti bisa menjadi jelek!" kata Regan.
Setelah mendengar ini, Hanna menerima sapu tangan dari Steven, menyeka air matanya, lalu berujar, "Baiklah, Ibu nggak akan menangis."
Ibu dan anak yang akhirnya bersatu kembali ini tampak hangat dan manis.
Regan yang menerima banyak hadiah, memeluk hadiah-hadiah itu, lalu duduk di sofa untuk bermain.
Hanna duduk di samping memperhatikan, dengan kelembutan yang tampak di matanya.
Steven duduk di sofa tunggal di sampingnya, menunduk menatap ponselnya untuk menangani pekerjaan.
Hanna menoleh menatap Steven, seolah ragu sejenak, sebelum akhirnya berkata pelan, "Apa rencanamu terhadap Nona Vanesa?"
Ketika mendengar ini, Steven mengangkat kepala dengan ekspresi acuh tak acuh, lalu membalas, "Aku akan menanganinya dengan baik."
"Beberapa tahun ini, Nona Vanesa sudah merawat Regan dengan baik. Jujur saja, hatiku selalu merasa kasihan padanya," ucap Hanna.
"Ini bukan salahmu." Suara Steven terdengar rendah ketika berujar, "Regan memang anakmu."
"Ya, Bu!" Regan mengangkat kepala dari tumpukan mainan, mulut kecilnya manis seperti madu, "Aku dilahirkan oleh Ibu, jadi wajar kalau aku mengakuimu sebagai ibuku! Lagi pula, Ibu cantik sekali. Ayah mengatakan kalau aku lucu karena Ibu cantik!"
"Penyanjung kecil!" Hanna mengetuk ujung hidung Regan, lalu membalas, "Jangan sampai kamu bicara seperti ini di depan Ibu Vanesa. Dia akan marah."
"Nggak akan!" Regan sangat percaya diri. "Dia paling nggak sanggup marah padaku!"
Pada saat ini, Steven menerima telepon tentang urusan pekerjaan.
Dia bangkit berdiri sambil berujar, "Aku akan kembali ke kantor dulu."
"Baiklah, lakukan saja pekerjaanmu. Regan akan menemaniku." Hanna berhenti sejenak, sebelum lanjut bertanya, "Apa kamu akan pulang untuk makan malam?"
Steven mengerutkan bibir, memikirkannya sejenak, lalu menjawab, "Setelah selesai kerja aku akan pulang."
"Kalau begitu, hati-hati di jalan," balas Hanna.
"Sampai jumpa, Ayah!" kata Regan.
Steven menanggapi dengan gumaman acuh tak acuh, lalu berbalik pergi.
…
Larut malam, lampu masih menyala di ruang studio restorasi.
Rambut panjang sepinggang wanita itu disanggul dengan jepit rambut. Ini memperlihatkan leher putih jenjangnya. Di batang hidungnya, tersampir kacamata pelindung. Kedua tangannya yang memakai sarung tangan putih tampak memegang alat.
Dia menundukkan kepala dengan pandangan yang fokus, sedang melakukan restorasi terakhir pada sebuah artefak.
Orang lain sudah pulang, membuat seluruh lantai sangat sepi. Hanya ada suara halus saat Vanesa bekerja.
Makin hidup tidak sesuai dengan keinginan, makin dia tidak boleh lengah dalam pekerjaan.
Selama bertahun-tahun ini, setelah melihat berbagai sifat manusia, Vanesa perlahan memahami satu kebenaran. Sifat manusia sulit dikenali, hati manusia sulit ditebak. Hanya uang dan pekerjaan yang bisa dia pegang teguh dengan usahanya.
Lima tahun lalu, demi tinggal di Kota Amari untuk merawat Regan, Vanesa melepaskan kesempatan yang direkomendasikan mentornya. Mentornya yang merasa marah, memutuskan hubungan dengan Vanesa.
Ini adalah penyesalan terbesar Vanesa hingga kini.
Dia selalu merasa tidak layak mendapatkan bimbingan dan perhatian dari mentornya. Jadi, selama lima tahun ini, Vanesa tetap menggunakan waktu luangnya untuk membeli materi, terus belajar untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
Setelah lulus kuliah, Vanesa mengambil pinjaman untuk membuka studio.
Saat ini, studio sudah mulai berjalan dengan lancar. Penghasilan dari pesanan yang Vanesa terima juga makin tinggi.
Tabungan pribadinya juga sudah cukup untuk dia dan ibunya hidup bebas dari kekhawatiran seumur hidup.
Sebenarnya, semuanya berkembang ke arah yang baik.
Sedangkan untuk orang-orang yang tidak bisa Vanesa dapatkan, belajar menjauh dari mereka saja sudah bisa disebut sebagai kedewasaan ....
Setelah menyelesaikan pekerjaan restorasi terakhir, Vanesa memasukkan artefak ke dalam wadah.
Setelah kembali ke kantor pribadinya, dia mengambil segelas air hangat, lalu meminumnya hingga habis.
Vanesa melirik kalender di atas meja sambil meletakkan gelas air.
Vanesa mengambil pena, menandai tanggal hari ini di kalender dengan tanda silang.
Tinggal 8 hari lagi sebelum akhirnya ibunya akan dibebaskan.
Perkiraan cuaca pada hari itu menunjukkan bahwa cuaca akan cerah.
Bzzt ….
Ponsel di saku Vanesa bergetar.
Itu adalah telepon dari Steven.
Vanesa mengernyitkan kening, menarik napas dalam, lalu menekan tombol untuk menerima telepon.
"Kapan kamu akan kembali?" Suara rendah Steven terdengar dari ujung lain telepon.
Vanesa melihat jam. Sekarang sudah pukul 2 pagi.
Dia merasa sedikit lelah, serta tidak berencana mengemudi setengah jam untuk pulang.
Sambil mengusap lehernya yang pegal, Vanesa bertanya dengan nada dingin, "Ada apa?"
"Regan menunggumu pulang untuk membacakan cerita sebelum tidur," kata Steven.
Tangan Vanesa yang mengusap lehernya terhenti.
Ketika teringat kejadian siang tadi ketika Steven menggendong Regan pergi untuk menghibur Hanna, hatinya merasa tidak nyaman.
"Hari ini aku nggak akan pulang." Suara Vanesa acuh tak acuh, tanpa emosi. "Kamu bujuk saja dia."
Setelah berkata demikian, Vanesa langsung menutup telepon.
Namun, detik berikutnya Steven menelepon lagi.
Vanesa yang merasa sedikit kesal, langsung mematikan ponsel, lalu melemparkannya ke meja. Kemudian, dia membuka pintu ruang istirahat, langsung melangkah masuk.
Orang yang bekerja dalam bidang restorasi sering bekerja lembur. Jadi, saat merenovasi studio dulu, Vanesa membuat satu ruang istirahat terpisah di kantor pribadinya.
Ruang istirahat ini memiliki kamar mandi, perlengkapan hidup sehari-hari, serta pakaian ganti.
Terkadang, saat terlalu sibuk bekerja, Vanesa juga akan membawa Regan ke sini. Setelah membujuk Regan untuk tidur, baru Vanesa akan pergi bekerja lembur.
Oleh karena itu, di ruang istirahat ini juga ada kebutuhan sehari-hari Regan.
Vanesa sudah selesai mandi dan berganti piyama. Baru saja dia akan tidur, tiba-tiba terdengar suara anak menangis dari luar.
"Ibu! Ibu, buka pintunya …."
Vanesa terkejut.
Apakah itu Regan?
Vanesa melangkah keluar dari kantor, bergegas menuju pintu utama studio.
Di balik pintu kaca, Steven tampak menggendong Regan yang terus menangis menatapnya.
Regan mengenakan jaket bulu, serta hanya memakai piyama di dalamnya.
Kedua kakinya tampak kosong, bahkan tidak memakai kaus kaki.
Suhu luar ruangan pada malam hari di Kota Amari sangatlah dingin.
Daya tahan tubuh Regan tidak begitu baik, bagaimana kalau dia sampai masuk angin?
Vanesa yang merasa kesal, maju untuk membuka pintu, lalu berujar, "Kenapa kamu masih membawanya keluar malam-malam begini ...."
"Ibu!"
Regan langsung melepaskan diri dari pelukan Steven, lalu berlari ke pelukan Vanesa.
Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya.
Regan memeluk erat leher Vanesa, membenamkan wajahnya di lekukkan leher Vanesa, lalu menangis tersedu-sedu.
"Apa Ibu nggak menginginkanku lagi? Huhuhu …. Ibu, tolong jangan membuangku …."
Vanesa mengernyitkan kening, wajahnya agak pucat.
Perut bagian bawah yang tadinya sudah tidak terasa sakit, tiba-tiba terasa sakit lagi ….
Bab 6
Steven berdiri di luar pintu. Wajah tegasnya yang dalam tampak dingin dan acuh tak acuh. Dia berujar, "Aku akan melakukan perjalanan dinas selama beberapa hari. Hanna nggak bisa mengurusnya sendirian. Tolong kamu jaga dia dalam dua hari ini."
Vanesa sedang tidak enak badan, juga tidak ingin berbasa-basi dengan Steven.
"Baiklah. Kalau kamu sudah pulang dari perjalanan dinas dan ingin menjemputnya, jangan lupa untuk membawa surat cerai itu."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik sambil menggendong Regan, langsung menuju kantor.
Steven berdiri di tempat, memperhatikan dalam diam sejenak.
Kemudian, pria itu menutup pintu utama studio, langsung berbalik pergi.
…
Di ruang istirahat, Vanesa menurunkan Regan, lalu menghela napas berat.
"Lepaskan jaketmu, lalu tidurlah."
Regan sekarang sudah sangat penurut.
Dia melepaskan jaketnya, memberikannya kepada Vanesa, lalu berkata, "Ibu, tolong bantu aku menggantungkan jaketku. Terima kasih."
Regan selalu berbicara dengan manis seperti ini.
Vanesa tersenyum kepadanya, menerima jaket itu, lalu menggantungnya di gantungan baju.
Keduanya pun berbaring di tempat tidur.
Regan memeluk lengan Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apakah Ibu marah karena aku pergi menemui wanita itu?"
Vanesa tertegun sejenak. Kemudian, dia menghela napas, memeluk Regan, lalu membimbingnya dengan nada lembut, "Dia adalah Ibu yang melahirkanmu. Ibu tahu akan sulit bagimu menerima hal ini dalam waktu singkat, tapi tanpa dia, nggak akan ada kamu. Jadi, nanti kamu nggak boleh memanggilnya dengan kata-kata 'wanita itu'."
Kegelisahan kecil di hati Regan pun menghilang karena kalimat dari Vanesa ini.
Ketika Regan melihat bahwa Vanesa tidak pulang saat malam, dia mengira Vanesa marah, tidak menginginkan dirinya lagi karena sudah pergi menemui Hanna.
Untungnya, dia hanya berpikir terlalu banyak!
Regan menutup mata dengan puas, lalu berujar, "Ibu, aku akan selalu mencintaimu. Nggak peduli siapa yang melahirkanku, Ibu akan selamanya menjadi Ibu kesayanganku!"
Hati Vanesa meleleh, dia menyentuh pipi kecil Regan.
"Ibu mengerti. Ibu juga berjanji padamu kalau Ibu akan selalu ada saat kamu membutuhkanku," balas Vanesa.
"Bu, Ibu sendiri yang mengatakannya, ya!" Regan menguap. "Ibu nggak boleh berbohong. Kalau berbohong, hidungmu akan memanjang!"
Vanesa terkekeh mendengar kata-katanya yang kekanak-kanakan. Emosinya yang penuh kekesalan perlahan-lahan menjadi tenang.
Vanesa menundukkan kepala, memberikan ciuman ringan di dahi Regan, lalu berkata, "Ibu nggak akan pernah membohongimu. Selamat malam."
Yang membalas Vanesa adalah suara napas Regan yang teratur.
…
Sekarang adalah waktu liburan semester, Regan tidak perlu pergi ke taman kanak-kanak.
Hari berikutnya, studio kembali menerima satu artefak lainnya. Bayarannya sangat tinggi, hanya saja waktu pengirimannya juga cukup ketat.
Selama dua hari berturut-turut, Regan hampir selalu bersama Vanesa di studio.
Ketika Vanesa sedang sibuk bekerja, Lucy dan karyawan lainnya akan membantu Vanesa menjaga Regan.
Selama dua tahun terakhir ini, Regan memang sudah sering datang ke sini. Dia sudah akrab dengan semua orang.
Pada pukul dua sore di hari ketiga, Vanesa akhirnya menyelesaikan pekerjaan restorasinya.
Setelah keluar dari ruang restorasi, dia berjalan menuju kantor sambil mengirim pesan WhatsApp kepada sahabatnya yang bekerja di departemen kandungan.
Vanesa: [Apa kamu ada pekerjaan sore ini?]
[Ada! Kenapa?]
Vanesa: [Tolong ambilkan nomor antrian untukku. Aku akan sampai di sana sekitar jam setengah empat.]
[Kenapa? Apa kamu hamil?]
Vanesa: [Aku nggak yakin. Haidku terlambat sekitar sepuluh hari. Beberapa hari ini, perutku juga terasa nggak nyaman.]
[Kamu terlambat sepuluh hari? Apa kamu nggak bisa membeli alat tes kehamilan untuk memeriksanya dulu?]
Ketika mendengar ini, Vanesa baru teringat dengan alat tes kehamilan yang dia lupakan di dalam tasnya.
Vanesa mengerucutkan bibir, menghela napas pelan, lalu kembali mengetik. [Aku sudah membelinya, tapi aku lupa karena sibuk.]
[Hebat sekali kamu! Kamu bisa lupa setelah membelinya! Pasti kamu lembur lagi, 'kan? Vanesa, bukannya aku ingin mengutukmu, tapi kalau suatu hari nanti kamu mati mendadak di ruang restorasi, aku juga nggak akan kaget! Cepat periksa dulu sekarang!]
Vanesa: [Aku mengerti.]
…
Vanesa kembali ke kantor.
Regan berbaring di sofa, tampak tertidur nyenyak. Selimut kecil di tubuhnya sudah ditendang hingga terjatuh ke lantai.
Di meja ada kotak makan siang yang belum habis.
Vanesa melangkah mendekat, mengambil selimut kecil itu, lalu kembali menyelimuti Regan.
Dia membereskan kotak makan, membuangnya ke tempat sampah, lalu membersihkan meja. Setelah kembali duduk di sofa yang lain, Vanesa mengangkat tangan untuk menyeka keringat halus di dahinya.
Perut bagian bawahnya kembali terasa tidak nyaman. Tiba-tiba, Vanesa teringat dengan alat tes kehamilan yang ada di tasnya. Ketika dia akan bangkit untuk mengambilnya, Lucy mendorong pintu, lalu melangkah masuk.
"Kak Vanesa, ada seseorang yang mencarimu di bawah."
…
Di bawah studio ada sebuah kedai kopi.
Begitu Vanesa melangkah masuk, dia langsung melihat Hanna yang sedang duduk di sudut.
Hanna duduk di sana, memandang ke arah Vanesa melalui kacamata hitamnya.
Vanesa mengenakan gaun berwarna aprikot, dengan balutan jaket bulu berwarna merah muda di luar. Rambutnya yang panjang hingga sepinggang, tergerai dengan alami, tampak sangat lembut.
Tubuhnya memiliki ketenangan seorang wanita dewasa. Wajahnya yang sebesar telapak tangan memiliki fitur yang halus. Dia tidak tampak sangat menakjubkan, tapi karena kulitnya yang seputih salju, entah kenapa Vanesa memberikan kesan dingin meski tanpa mengatakan apa-apa.
Ketika Hanna melihatnya berjalan mendekat, dia berdiri dengan senyuman lembut, lalu menyapa, "Nona Vanesa, silakan duduk."
Vanesa tidak duduk.
Dia tidak merasa perlu bertemu dengan Hanna secara pribadi.
"Nona Hanna, kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja secara langsung."
Hanna mengangkat tangan untuk melepaskan kacamata hitamnya, lalu berujar, "Sepertinya Nona Vanesa nggak terlalu menyukaiku. Aku bisa mengerti. Aku juga baru tahu hari ini kalau ternyata Steven menipumu. Tapi Steven juga melakukan ini demi kebaikanku. Aku harap Nona Vanesa nggak menyalahkannya."
Vanesa menarik sudut bibirnya, sementara suaranya tenang ketika dia membalas, "Aku nggak menyalahkan siapa pun. Sejak awal, aku dan Steven memang hanya melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Mengenai Regan, dia adalah anak yang kamu kandung, serta kamu lahirkan. Kamu sepenuhnya berhak bertemu dengannya."
"Apakah Nona Vanesa benar-benar berpikir begitu?" tanya Hanna.
Vanesa mengernyitkan kening, tampak kehabisan kesabaran. "Apakah Nona Hanna mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan pemikiranku?"
Hanna menatap Vanesa.
Dia merasa agak terkejut.
Vanesa ternyata jauh lebih tenang dari yang Hanna pikirkan.
Wanita seperti ini berada di samping Steven selama lima tahun.
Jujur saja, tidak mungkin Hanna tidak merasa terancam sedikit pun.
Namun, sekarang dia sudah kembali. Sudah waktunya bagi Vanesa untuk pergi.
Hanna mengambil surat cerai dari dalam tas.
Dia meletakkan surat cerai di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Vanesa.
"Steven berpikir untuk memberikan Mansion Resta padamu. Selain itu, ada pula tambahan 100 miliar sebagai kompensasi atas kerja kerasmu selama lima tahun ini. Kalau kamu merasa nggak ada masalah dengan semua ini, tanda tangani saja suratnya," kata Hanna.
Bab 7
Vanesa tidak membaca surat itu, langsung mengambilnya. Dia menatap Hanna sembari berkata, "Katakan pada Steven kalau pengacaraku akan menghubunginya untuk urusan perceraian selanjutnya."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik, hendak pergi.
Hanna berdiri, lalu bertanya, "Nona Vanesa, apakah Regan ada di tempatmu?"
Vanesa menghentikan langkahnya, melirik ke arah Hanna.
Hanna berkata dengan nada lembut yang penuh dengan permohonan, "Sudah beberapa hari aku nggak bertemu dengan Regan. Bolehkah aku naik untuk menemuinya?"
Sebenarnya, Vanesa sangat tidak ingin Hanna menginjakkan kaki di studionya.
Namun, Regan adalah anak Hanna. Setelah bercerai dengan Steven nanti, Vanesa bahkan tidak bisa dianggap sebagai ibu tirinya.
Setelah memikirkan tentang hal ini, Vanesa baru saja akan berbicara ketika suara anak kecil yang polos terdengar lebih dulu.
"Ibu!"
Vanesa menoleh, melihat Regan yang sudah berlari ke arah mereka!
Regan memeluk Vanesa.
Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya, mengusap kepalanya karena kebiasaannya. "Kenapa kamu berlari turun sendirian?"
"Kak Lucy menemaniku turun dengan lift. Dia baru pergi setelah melihatku masuk ke kafe."
Regan memeluk Vanesa, sementara dia menggosokkan pipi kecilnya di pelukan Vanesa. Kemudian, dia bertanya, "Ibu, kenapa lama sekali di luar? Aku merindukanmu!"
Vanesa tersenyum simpul, tampak tak berdaya.
'Anak ini memang pandai bertingkah manja,' pikir Vanesa.
Interaksi di antara keduanya jatuh ke dalam pandangan Hanna. Tubuh rampingnya sedikit bergetar, wajah cantiknya langsung memucat.
"Regan …."
Ketika Regan mendengar suara itu, dia mengangkat kepala. Tanpa diduga, pandangannya bertatapan dengan pandangan terluka Hanna.
Tubuh kecilnya membeku.
Vanesa juga terkejut, jelas merasakan ketidaknyamanan Regan.
Dia baru saja akan melepaskan Regan ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Hanna."
Ketika Vanesa menoleh, dia melihat Steven.
Pria itu mengenakan jaket panjang hitam. Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi dingin.
Vanesa melihatnya berjalan dengan langkah besar ke sisi Hanna. Steven melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala Hanna.
Hanna dilindungi dengan erat dalam pelukannya.
Vanesa menatap semua ini dengan linglung. Rasa sakit yang penuh dengan kepahitan menyebar tak terkendali di dadanya.
Steven menundukkan kepala, lalu berkata dengan nada lembut pada Hanna yang ada dalam pelukannya, "Ada yang mengambil foto diam-diam."
Saat Hanna mendengar ini, dia menunjukkan ekspresi panik. Kedua tangannya mencengkeram kemeja di dada Steven dengan erat, wajah cantiknya yang membuat banyak penggemar terpesona itu terbenam di dada Steven.
Steven melindungi Hanna sambil melangkah pergi.
Ketika melewati sisi Vanesa, pria itu hanya mengatakan satu kalimat, "Antar Regan pulang, aku akan menjemputnya nanti."
Pria itu hanya memberi tahu, tidak membutuhkan tanggapan Vanesa.
Vanesa memeluk Regan, melihat Steven yang melindungi Hanna naik mobil melalui jendela kaca kafe.
Steven yang seperti ini benar-benar menunjukkan sosok seorang pria sejati.
Selama proses ini, tidak hanya wajah Hanna, bahkan sehelai rambut pun tidak terlihat dari balik jaket hitam itu.
Mobil Maybach pun melaju pergi.
Vanesa menundukkan kepala, melihat surat cerai di tangannya dengan bibir yang terkatup keras. Rasa panas yang mengalir di pelupuk matanya ditekannya kembali sekali lagi.
"Ibu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Regan.
Vanesa kembali tersadar, langsung bertatapan dengan pandangan khawatir dan peduli Regan.
Dia mengambil napas dalam-dalam, tersenyum dengan susah payah, lalu menjawab, "Aku nggak apa-apa."
Regan mengamati raut wajah Vanesa.
Melihat Vanesa sepertinya tidak berbeda dengan biasanya, Regan pun merasa lega.
Vanesa tidak apa-apa, tetapi Regan masih ingat ekspresi sedih ibunya tadi!
Ketika memikirkan bahwa dirinya sudah membuat ibunya sedih, Regan merasa sangat bersalah.
Vanesa melihat waktu.
Waktu pemeriksaan yang dijanjikan dengan temannya sudah hampir tiba.
Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Regan, Ibu harus pergi dulu untuk mengurus sesuatu. Bisakah kamu kembali ke studio dan menungguku?"
"Nggak mau!" Regan sekarang ingin sekali segera bertemu dengan Hanna, tetapi dia tidak berani memberi tahu Vanesa apa yang ada dalam pikirannya.
Regan memutar bola matanya, lalu berkata, "Ibu, kamu sudah beberapa hari nggak pulang ke rumah. Tadi Ayah menyuruh Ibu untuk mengantarkanku pulang dulu. Apakah ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu?"
Hal penting apa yang ingin dibicarakan Steven dengannya? Mungkin itu hanya masalah perceraian saja.
Namun, bagaimana mungkin Vanesa bisa mengatakan tentang hal ini pada Regan?
Ini adalah urusan orang dewasa, tidak seharusnya melibatkan anak yang tidak bersalah.
"Ibu, ayo pulang ke rumah denganku!" Regan menarik tangan Vanesa, lalu berkata dengan manja, "Ayolah! Aku sudah beberapa hari nggak bertemu dengan Ayah, aku merindukan Ayah!"
Vanesa menghela napas, lalu menjawab dengan terpaksa, "Baiklah. Kalau begitu Ibu akan mengantarmu pulang dulu."
"Hore!" Regan merasa sangat senang. "Ibu baik sekali!"
Vanesa mengusap kepalanya. Ketika melihat wajah kecil Regan yang lucu dan polos, dia mendesah dalam hati.
Selama lima tahun pernikahan ini, mungkin hanya ketergantungan dan perasaan Regan terhadapnya yang nyata.
Selain itu, semuanya adalah kebohongan, hanya khayalan belaka.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa dan Regan kembali ke Mansion Resta.
Steven masih belum pulang, sementara Regan sudah menjadi tidak sabaran setelah menunggu hanya sepuluh menit.
"Bu, bisakah Ibu menelepon Ayah untuk menanyakan kapan dia akan pulang?" tanya Regan.
Vanesa juga mengira Steven akan segera pulang. Dia ingin langsung pergi ke rumah sakit ketika Steven pulang.
Namun, masalahnya sekarang, Steven tidak mengangkat teleponnya meski panggilannya tersambung.
Ini terjadi tiga kali berturut-turut.
Vanesa merasa tidak berdaya, tetapi tetap menghibur Regan, "Ayahmu mungkin sedang sibuk."
Regan mengerutkan kening.
'Mungkinkah Ibu menangis, jadi Ayah sedang menghiburnya hingga nggak sempat mengangkat telepon?' pikir Regan.
Setelah memikirkan ini, Regan menjadi makin cemas. Dia bahkan mulai menyesali mengapa dia memeluk Vanesa tadi. Jika dia tidak memeluk Vanesa, Hanna tidak akan merasa sedih!
Makin Regan memikirkannya, makin kesal dirinya. Bahkan tatapan yang dia berikan pada Vanesa pun dipenuhi dengan kebencian.
Hanya saja, Vanesa saat ini sedang mengirim pesan WhatsApp pada sahabatnya, tidak menyadari emosi Regan.
Vanesa: [Ada sedikit masalah yang menundaku. Kita lakukan pemeriksaannya besok saja.]
Sahabat Vanesa: [Besok aku bekerja shift pagi, kamu bisa langsung datang saja.]
Vanesa: [Baiklah.]
Sahabat Vanesa: [Melihat keadaanmu, aku yakin kamu pasti belum menggunakan alat tesnya.]
Vanesa melirik tas di sampingnya dengan perasaan yang agak bersalah, lalu membalas: [Sekarang aku akan melakukannya.]
Sahabatnya pun mengirimkan beberapa emoji sebagai balasan.
Vanesa membalas dengan emoji yang bertuliskan "aku bersalah". Kemudian, dia mengambil tasnya, bangkit berdiri, lalu berkata, "Regan, Ibu mau ke toilet sebentar."
Regan tidak meresponnya.
Vanesa mengira dia sedang merasa kesal karena Steven, jadi tidak terlalu memikirkannya. Vanesa pun berbalik naik ke lantai dua.
Setelah mendengar suara pintu kamar utama di lantai dua tertutup, Regan langsung berlari kembali ke kamarnya, mengambil jam tangan telepon yang dibelikan Hanna dari bawah bantal.
Kontak pertama di telepon itu adalah kontak Hanna, jadi Regan pun meneleponnya.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
"Regan?"
Suara Steven yang rendah dan serak terdengar dari telepon. Terdengar juga napas yang terengah-engah.
Regan merasa sedikit terkejut ketika bertanya, "Ayah? Kenapa Ayah yang mengangkat teleponnya? Di mana Ibu?"
"Ibu kelelahan dan baru saja tertidur. Ada apa?" jawab Steven.
Ketika Regan mendengar ini, hatinya merasa makin cemas. "Apakah Ibu menangis?"
Steven tidak menyangkal, "Sekarang sudah nggak apa-apa."
"Aku khawatir dengan Ibu. Ayah, aku sudah berada di rumah sekarang. Bisakah kamu menjemputku? Aku ingin bersama dengan Ibu!" ujar Regan.
"Baiklah, sekarang Ayah akan pulang untuk menjemputmu."
Setelah menutup telepon, Regan merasa sangat senang. Dia diam-diam menyembunyikan jam tangan telepon di saku jaketnya, lalu keluar kamar dan berlari turun.
Regan duduk di sofa, menyalakan televisi, lalu menonton dengan gembira sambil menunggu ayahnya menjemputnya.
Sementara itu, di kamar mandi kamar utama, Vanesa memegang alat tes kehamilan di tangannya dengan ujung jari yang memutih ....