Bab 4

Steven yang mengenakan setelan jas hitam, terlihat anggun dan dingin.

Pandangannya sekilas menyapu wajah pucat Vanesa, lalu jatuh pada wajah Regan yang terus menangis.

"Regan, kemarilah." Steven melambaikan tangan kepada Regan.

Ketika mendengar ini, ekspresi para pelayan langsung berubah. Mereka buru-buru melepaskan tangan mereka.

Regan langsung berlari ke arah Steven.

"Ayah! Huhuhu .... Ayah akhirnya datang!"

Steven mengusap kepala Regan, suaranya terdengar dalam dan hangat ketika bertanya, "Ceritakan pada Ayah, ada apa?"

Sebelum Regan sempat mengatakan apa pun, Hanna sudah berjalan mendekat.

Hanna menyeka air mata di wajahnya, sementara suara lembutnya diliputi dengan nada yang menyalahkan diri sendiri.

"Semua ini salahku yang nggak mempertimbangkannya dengan baik. Aku tiba-tiba muncul begitu saja. Regan nggak bisa menerima kenyataan kalau aku adalah ibunya. Emosinya sedikit nggak terkendali," kata Hanna.

"Kamu memang bukan ibuku!" Regan mengangkat tangan, mendorong Hanna dengan keras, lalu menambahkan, "Kamu adalah wanita jahat! Kamu bukan ibuku!"

Hanna berteriak kaget, sepatu hak tinggi di kakinya miring, hingga dia hampir terjatuh.

Di saat kritis, Steven melangkah maju untuk merangkul Hanna ke dalam pelukannya.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Steven.

Hanna tidak bisa menggerakkan salah satu kakinya. "Sepertinya pergelangan kakiku terkilir. Aku nggak apa-apa. Emosi Regan yang paling penting."

Steven mengernyitkan kening, membungkuk untuk menggendong Hanna, lalu berkata, "Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan."

Ketika berbalik, pandangan Steven bertemu dengan tatapan Vanesa.

Mata Vanesa yang memerah menatap Steven dengan tatapan kosong. Dia bertanya, "Apa dia benar-benar ibu kandung Regan?"

"Hanna memang ibu kandung Regan," tegas Steven.

Steven menatap lurus ke arah Vanesa, mata gelapnya tampak dingin dan tegas.

Vanesa tidak melihat sedikit pun rasa bersalah seorang penipu di wajah pria itu.

Hatinya yang sudah dingin dan terluka, perlahan-lahan seakan tenggelam.

"Regan lebih patuh padamu. Kamu bawa dia pulang dulu, lalu beri dia pemahaman yang baik."

Setelah Steven mengatakan ini, dia langsung menggendong Hanna naik mobil.

Mobil itu melaju meninggalkan kediaman Keluarga Dallas.

Vanesa menundukkan kepala. Matanya terasa perih, bibir pucatnya sedikit terbuka, sementara dia mengambil napas dalam-dalam beberapa kali untuk menahan air matanya.

"Ibu."

Regan menggenggam tangan Vanesa dengan tangan kecilnya, lalu bertanya, "Ibu, matamu merah sekali. Apa Ibu menangis?"

Vanesa berjongkok, menyentuh pipi kecil Regan, lalu memaksakan senyuman pucat kepadanya.

"Ibu nggak menangis. Ibu akan membawamu pulang dulu." Vanesa bangkit berdiri, menatap Giny, lalu berujar, "Kamu juga sudah mendengar kata-kata Steven."

Giny menatapnya dengan ekspresi penuh amarah.

Meskipun Giny merasa tidak rela, Steven sudah memutuskan. Tidak baik baginya untuk memaksa menahan Regan lagi.

Bagaimanapun juga, sekarang Hanna sudah kembali, sementara Steven akan segera bercerai dengan Vanesa. Jangan harap Vanesa bisa memanfaatkan Regan untuk terus tinggal di Keluarga Dallas!

Dengan pemikiran ini, suasana hati Giny menjadi lebih baik.

Di perjalanan pulang, Vanesa mencoba menjelaskan identitas Hanna kepada Regan.

Namun, Regan sangat menolak penjelasan ini. Belum sempat Vanesa berbicara banyak, Regan sudah kembali menangis.

Vanesa yang merasa tidak berdaya sekaligus sakit hati, hanya bisa membujuk Regan terlebih dulu.

Regan menangis sampai kelelahan, langsung tertidur sebelum mereka sampai di rumah.

Ketika Vanesa baru saja meletakkan Regan yang tertidur di tempat tidur kamar anak, suara mobil terdengar dari bawah.

Vanesa pun menyelimuti Regan.

Saat Vanesa turun ke bawah, Steven baru saja mendorong pintu terbuka, lalu melangkah masuk.

Pandangan keduanya bertemu, membuat suasana sedikit tegang.

"Di mana Regan?" tanya Steven.

"Dia sedang tidur di atas," balas Vanesa.

Steven menanggapi dengan gumaman kecil, melangkah melewati Vanesa, langsung naik ke atas.

Vanesa berbalik menatap punggungnya, sementara tangan yang tergantung di sisi tubuhnya sudah mengepal.

Dia ragu sejenak, tetapi tetap melangkah maju untuk mengejarnya.

Setelah menghabiskan waktu lima tahun sebagai suami istri, malam yang mereka habiskan bersama sudah tidak terhitung. Vanesa pikir, setidaknya dia punya hak untuk meminta penjelasan dari pria ini.

Di lantai dua, Steven mendorong pintu kamar anak, lalu melangkah masuk.

Dia menggendong Regan yang sedang tertidur nyenyak, lalu berbalik keluar.

Vanesa yang berdiri di luar pintu menatapnya, lalu bertanya, "Kamu mau membawa Regan ke mana?"

"Hanna mengalami depresi. Dia sekarang membutuhkan Regan," jawab Steven.

Setelah Steven memberikan penjelasan singkat itu, dia langsung pergi sambil menggendong Regan.

Vanesa berdiri terpaku di tempat.

Dia baru tersadar ketika suara mobil menghilang.

Steven datang dan pergi sesukanya, merasa itu adalah hal yang wajar. Dia bahkan tidak memberi Vanesa kesempatan untuk bertanya.

Vanesa melirik rumah yang kosong.

Kemudian, dia tertawa.

Dia tertawa dengan air mata yang mengalir dari matanya.

Di bagian utara kota, di sebuah kompleks vila yang terkenal dengan sistem keamanan serta layanan propertinya.

Sebuah Maybach hitam melaju dari kaki gunung, hingga berhenti di halaman Mansion Burla yang tinggi.

Di dalam mobil, Regan sudah terbangun.

Steven menggendongnya, menjelaskan kepadanya bahwa Hanna adalah ibu kandungnya, sementara Vanesa hanya ibu angkat yang merawatnya selama lima tahun ini.

Setelah mendengar penjelasan ini, Regan tidak lagi memberontak, hanya menanyakan satu kalimat, "Jadi, apa nanti aku akan punya dua Ibu?"

Steven bergumam menyetujui, lalu menjelaskan dengan tenang, "Ibu Hanna mengalami banyak penderitaan untuk bisa melahirkanmu. Dia sangat menyayangimu, jadi kamu harus meminta maaf kepadanya, juga berinisiatif memanggilnya Ibu. Apa kamu mengerti?"

Regan mengangguk dengan patuh.

Setelah masuk ke dalam rumah, tampak Hanna sedang duduk di sofa dengan kaki yang ditutupi selimut. Kedua ujung kakinya terlihat dari luar, sementara kakinya yang terkilir dibalut perban tebal.

Ketika melihat kedatangan keduanya, wajah cantik dan anggun Hanna langsung penuh dengan senyuman manis.

"Steven, Regan, kalian datang."

Regan memegang tangan Steven, lalu mendongak menatap Steven.

"Pergilah." Steven mengusap kepala Regan.

Regan yang merasa mendapat dorongan, berjalan menuju Hanna.

Hanna mengulurkan tangan kepadanya, lalu berkata, "Regan, kemarilah. Apakah Ibu boleh memelukmu?"

Regan ragu sejenak, tetapi tetap berjalan mendekat.

Hanna memeluknya dengan air mata yang mengalir.

"Sayang, maafkan Ibu. Ibu nggak bermaksud menyangkalmu. Selama lima tahun ini, Ibu selalu memikirkanmu setiap hari ...."

Ketika Hanna memeluk Regan, tubuh kecil bocah itu tampak agak kaku.

Regan bisa mencium aroma parfum bunga dari tubuh Hanna.

Ini sangat berbeda dengan aroma manis yang samar dari tubuh Vanesa ....

Bab 5

Hanna melepaskan Regan, mengambil banyak hadiah dari sofa di sampingnya.

"Ibu membelikan semua ini untukmu. Lihatlah, apa ada yang kamu suka?"

Mata Regan berbinar. "Itu Iron Man!"

"Regan, apa kamu menyukainya?" Hanna mengusap kepalanya, lalu melanjutkan, "Ini edisi terbatas. Ibu meminta tolong pada beberapa teman untuk mencarikannya. Susah sekali untuk bisa membelinya."

"Terima kasih, Ibu!" Regan menerima Iron Man itu, suara kekanak-kanakannya yang jernih bergema di seluruh mansion, "Ibu baik sekali!"

Hanna tersenyum di balik air matanya, lalu berujar, "Sayang, akhirnya kamu mau memanggilku Ibu."

"Ayah tadi sudah mengatakannya padaku kalau Ibu mengalami banyak penderitaan untuk melahirkanku."

Regan meletakkan Iron Man, mengambil tisu untuk menyeka air mata Hanna, lalu melanjutkan, "Ibu, maafkan aku. Tadi pagi aku seharusnya nggak bersikap seperti itu pada Ibu. Aku nggak akan bersikap seperti itu lagi."

Ketika mendengar ini, Hanna menangis lebih keras lagi, terlihat makin menyedihkan.

"Sayang, kamu nggak bersalah. Ibu yang salah. Nanti Ibu pasti akan berusaha sepenuhnya menjadi Ibu yang baik," kata Hanna.

"Ibu baik, kok!" Regan memeluk Hanna dengan inisiatifnya sendiri, lalu melanjutkan, "Ayah mengatakan kalau Ibu selalu menyayangiku. Nanti aku juga akan menyayangi Ibu!"

Hanna menatap Steven dengan air mata yang mengalir lebih deras, lalu berkata, "Terima kasih, Steven."

Steven mendekat, memberikan sapu tangannya pada Hanna sambil berujar, "Ini yang seharusnya aku lakukan. Jangan menangis lagi, nanti Regan akan sedih."

"Benar, Bu. Ibu cantik sekali, jangan menangis. Kalau menangis, nanti bisa menjadi jelek!" kata Regan.

Setelah mendengar ini, Hanna menerima sapu tangan dari Steven, menyeka air matanya, lalu berujar, "Baiklah, Ibu nggak akan menangis."

Ibu dan anak yang akhirnya bersatu kembali ini tampak hangat dan manis.

Regan yang menerima banyak hadiah, memeluk hadiah-hadiah itu, lalu duduk di sofa untuk bermain.

Hanna duduk di samping memperhatikan, dengan kelembutan yang tampak di matanya.

Steven duduk di sofa tunggal di sampingnya, menunduk menatap ponselnya untuk menangani pekerjaan.

Hanna menoleh menatap Steven, seolah ragu sejenak, sebelum akhirnya berkata pelan, "Apa rencanamu terhadap Nona Vanesa?"

Ketika mendengar ini, Steven mengangkat kepala dengan ekspresi acuh tak acuh, lalu membalas, "Aku akan menanganinya dengan baik."

"Beberapa tahun ini, Nona Vanesa sudah merawat Regan dengan baik. Jujur saja, hatiku selalu merasa kasihan padanya," ucap Hanna.

"Ini bukan salahmu." Suara Steven terdengar rendah ketika berujar, "Regan memang anakmu."

"Ya, Bu!" Regan mengangkat kepala dari tumpukan mainan, mulut kecilnya manis seperti madu, "Aku dilahirkan oleh Ibu, jadi wajar kalau aku mengakuimu sebagai ibuku! Lagi pula, Ibu cantik sekali. Ayah mengatakan kalau aku lucu karena Ibu cantik!"

"Penyanjung kecil!" Hanna mengetuk ujung hidung Regan, lalu membalas, "Jangan sampai kamu bicara seperti ini di depan Ibu Vanesa. Dia akan marah."

"Nggak akan!" Regan sangat percaya diri. "Dia paling nggak sanggup marah padaku!"

Pada saat ini, Steven menerima telepon tentang urusan pekerjaan.

Dia bangkit berdiri sambil berujar, "Aku akan kembali ke kantor dulu."

"Baiklah, lakukan saja pekerjaanmu. Regan akan menemaniku." Hanna berhenti sejenak, sebelum lanjut bertanya, "Apa kamu akan pulang untuk makan malam?"

Steven mengerutkan bibir, memikirkannya sejenak, lalu menjawab, "Setelah selesai kerja aku akan pulang."

"Kalau begitu, hati-hati di jalan," balas Hanna.

"Sampai jumpa, Ayah!" kata Regan.

Steven menanggapi dengan gumaman acuh tak acuh, lalu berbalik pergi.

Larut malam, lampu masih menyala di ruang studio restorasi.

Rambut panjang sepinggang wanita itu disanggul dengan jepit rambut. Ini memperlihatkan leher putih jenjangnya. Di batang hidungnya, tersampir kacamata pelindung. Kedua tangannya yang memakai sarung tangan putih tampak memegang alat.

Dia menundukkan kepala dengan pandangan yang fokus, sedang melakukan restorasi terakhir pada sebuah artefak.

Orang lain sudah pulang, membuat seluruh lantai sangat sepi. Hanya ada suara halus saat Vanesa bekerja.

Makin hidup tidak sesuai dengan keinginan, makin dia tidak boleh lengah dalam pekerjaan.

Selama bertahun-tahun ini, setelah melihat berbagai sifat manusia, Vanesa perlahan memahami satu kebenaran. Sifat manusia sulit dikenali, hati manusia sulit ditebak. Hanya uang dan pekerjaan yang bisa dia pegang teguh dengan usahanya.

Lima tahun lalu, demi tinggal di Kota Amari untuk merawat Regan, Vanesa melepaskan kesempatan yang direkomendasikan mentornya. Mentornya yang merasa marah, memutuskan hubungan dengan Vanesa.

Ini adalah penyesalan terbesar Vanesa hingga kini.

Dia selalu merasa tidak layak mendapatkan bimbingan dan perhatian dari mentornya. Jadi, selama lima tahun ini, Vanesa tetap menggunakan waktu luangnya untuk membeli materi, terus belajar untuk meningkatkan kemampuan dirinya.

Setelah lulus kuliah, Vanesa mengambil pinjaman untuk membuka studio.

Saat ini, studio sudah mulai berjalan dengan lancar. Penghasilan dari pesanan yang Vanesa terima juga makin tinggi.

Tabungan pribadinya juga sudah cukup untuk dia dan ibunya hidup bebas dari kekhawatiran seumur hidup.

Sebenarnya, semuanya berkembang ke arah yang baik.

Sedangkan untuk orang-orang yang tidak bisa Vanesa dapatkan, belajar menjauh dari mereka saja sudah bisa disebut sebagai kedewasaan ....

Setelah menyelesaikan pekerjaan restorasi terakhir, Vanesa memasukkan artefak ke dalam wadah.

Setelah kembali ke kantor pribadinya, dia mengambil segelas air hangat, lalu meminumnya hingga habis.

Vanesa melirik kalender di atas meja sambil meletakkan gelas air.

Vanesa mengambil pena, menandai tanggal hari ini di kalender dengan tanda silang.

Tinggal 8 hari lagi sebelum akhirnya ibunya akan dibebaskan.

Perkiraan cuaca pada hari itu menunjukkan bahwa cuaca akan cerah.

Bzzt ….

Ponsel di saku Vanesa bergetar.

Itu adalah telepon dari Steven.

Vanesa mengernyitkan kening, menarik napas dalam, lalu menekan tombol untuk menerima telepon.

"Kapan kamu akan kembali?" Suara rendah Steven terdengar dari ujung lain telepon.

Vanesa melihat jam. Sekarang sudah pukul 2 pagi.

Dia merasa sedikit lelah, serta tidak berencana mengemudi setengah jam untuk pulang.

Sambil mengusap lehernya yang pegal, Vanesa bertanya dengan nada dingin, "Ada apa?"

"Regan menunggumu pulang untuk membacakan cerita sebelum tidur," kata Steven.

Tangan Vanesa yang mengusap lehernya terhenti.

Ketika teringat kejadian siang tadi ketika Steven menggendong Regan pergi untuk menghibur Hanna, hatinya merasa tidak nyaman.

"Hari ini aku nggak akan pulang." Suara Vanesa acuh tak acuh, tanpa emosi. "Kamu bujuk saja dia."

Setelah berkata demikian, Vanesa langsung menutup telepon.

Namun, detik berikutnya Steven menelepon lagi.

Vanesa yang merasa sedikit kesal, langsung mematikan ponsel, lalu melemparkannya ke meja. Kemudian, dia membuka pintu ruang istirahat, langsung melangkah masuk.

Orang yang bekerja dalam bidang restorasi sering bekerja lembur. Jadi, saat merenovasi studio dulu, Vanesa membuat satu ruang istirahat terpisah di kantor pribadinya.

Ruang istirahat ini memiliki kamar mandi, perlengkapan hidup sehari-hari, serta pakaian ganti.

Terkadang, saat terlalu sibuk bekerja, Vanesa juga akan membawa Regan ke sini. Setelah membujuk Regan untuk tidur, baru Vanesa akan pergi bekerja lembur.

Oleh karena itu, di ruang istirahat ini juga ada kebutuhan sehari-hari Regan.

Vanesa sudah selesai mandi dan berganti piyama. Baru saja dia akan tidur, tiba-tiba terdengar suara anak menangis dari luar.

"Ibu! Ibu, buka pintunya …."

Vanesa terkejut.

Apakah itu Regan?

Vanesa melangkah keluar dari kantor, bergegas menuju pintu utama studio.

Di balik pintu kaca, Steven tampak menggendong Regan yang terus menangis menatapnya.

Regan mengenakan jaket bulu, serta hanya memakai piyama di dalamnya.

Kedua kakinya tampak kosong, bahkan tidak memakai kaus kaki.

Suhu luar ruangan pada malam hari di Kota Amari sangatlah dingin.

Daya tahan tubuh Regan tidak begitu baik, bagaimana kalau dia sampai masuk angin?

Vanesa yang merasa kesal, maju untuk membuka pintu, lalu berujar, "Kenapa kamu masih membawanya keluar malam-malam begini ...."

"Ibu!"

Regan langsung melepaskan diri dari pelukan Steven, lalu berlari ke pelukan Vanesa.

Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya.

Regan memeluk erat leher Vanesa, membenamkan wajahnya di lekukkan leher Vanesa, lalu menangis tersedu-sedu.

"Apa Ibu nggak menginginkanku lagi? Huhuhu …. Ibu, tolong jangan membuangku …."

Vanesa mengernyitkan kening, wajahnya agak pucat.

Perut bagian bawah yang tadinya sudah tidak terasa sakit, tiba-tiba terasa sakit lagi ….

Bab 6

Steven berdiri di luar pintu. Wajah tegasnya yang dalam tampak dingin dan acuh tak acuh. Dia berujar, "Aku akan melakukan perjalanan dinas selama beberapa hari. Hanna nggak bisa mengurusnya sendirian. Tolong kamu jaga dia dalam dua hari ini."

Vanesa sedang tidak enak badan, juga tidak ingin berbasa-basi dengan Steven.

"Baiklah. Kalau kamu sudah pulang dari perjalanan dinas dan ingin menjemputnya, jangan lupa untuk membawa surat cerai itu."

Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik sambil menggendong Regan, langsung menuju kantor.

Steven berdiri di tempat, memperhatikan dalam diam sejenak.

Kemudian, pria itu menutup pintu utama studio, langsung berbalik pergi.

Di ruang istirahat, Vanesa menurunkan Regan, lalu menghela napas berat.

"Lepaskan jaketmu, lalu tidurlah."

Regan sekarang sudah sangat penurut.

Dia melepaskan jaketnya, memberikannya kepada Vanesa, lalu berkata, "Ibu, tolong bantu aku menggantungkan jaketku. Terima kasih."

Regan selalu berbicara dengan manis seperti ini.

Vanesa tersenyum kepadanya, menerima jaket itu, lalu menggantungnya di gantungan baju.

Keduanya pun berbaring di tempat tidur.

Regan memeluk lengan Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apakah Ibu marah karena aku pergi menemui wanita itu?"

Vanesa tertegun sejenak. Kemudian, dia menghela napas, memeluk Regan, lalu membimbingnya dengan nada lembut, "Dia adalah Ibu yang melahirkanmu. Ibu tahu akan sulit bagimu menerima hal ini dalam waktu singkat, tapi tanpa dia, nggak akan ada kamu. Jadi, nanti kamu nggak boleh memanggilnya dengan kata-kata 'wanita itu'."

Kegelisahan kecil di hati Regan pun menghilang karena kalimat dari Vanesa ini.

Ketika Regan melihat bahwa Vanesa tidak pulang saat malam, dia mengira Vanesa marah, tidak menginginkan dirinya lagi karena sudah pergi menemui Hanna.

Untungnya, dia hanya berpikir terlalu banyak!

Regan menutup mata dengan puas, lalu berujar, "Ibu, aku akan selalu mencintaimu. Nggak peduli siapa yang melahirkanku, Ibu akan selamanya menjadi Ibu kesayanganku!"

Hati Vanesa meleleh, dia menyentuh pipi kecil Regan.

"Ibu mengerti. Ibu juga berjanji padamu kalau Ibu akan selalu ada saat kamu membutuhkanku," balas Vanesa.

"Bu, Ibu sendiri yang mengatakannya, ya!" Regan menguap. "Ibu nggak boleh berbohong. Kalau berbohong, hidungmu akan memanjang!"

Vanesa terkekeh mendengar kata-katanya yang kekanak-kanakan. Emosinya yang penuh kekesalan perlahan-lahan menjadi tenang.

Vanesa menundukkan kepala, memberikan ciuman ringan di dahi Regan, lalu berkata, "Ibu nggak akan pernah membohongimu. Selamat malam."

Yang membalas Vanesa adalah suara napas Regan yang teratur.

Sekarang adalah waktu liburan semester, Regan tidak perlu pergi ke taman kanak-kanak.

Hari berikutnya, studio kembali menerima satu artefak lainnya. Bayarannya sangat tinggi, hanya saja waktu pengirimannya juga cukup ketat.

Selama dua hari berturut-turut, Regan hampir selalu bersama Vanesa di studio.

Ketika Vanesa sedang sibuk bekerja, Lucy dan karyawan lainnya akan membantu Vanesa menjaga Regan.

Selama dua tahun terakhir ini, Regan memang sudah sering datang ke sini. Dia sudah akrab dengan semua orang.

Pada pukul dua sore di hari ketiga, Vanesa akhirnya menyelesaikan pekerjaan restorasinya.

Setelah keluar dari ruang restorasi, dia berjalan menuju kantor sambil mengirim pesan WhatsApp kepada sahabatnya yang bekerja di departemen kandungan.

Vanesa: [Apa kamu ada pekerjaan sore ini?]

[Ada! Kenapa?]

Vanesa: [Tolong ambilkan nomor antrian untukku. Aku akan sampai di sana sekitar jam setengah empat.]

[Kenapa? Apa kamu hamil?]

Vanesa: [Aku nggak yakin. Haidku terlambat sekitar sepuluh hari. Beberapa hari ini, perutku juga terasa nggak nyaman.]

[Kamu terlambat sepuluh hari? Apa kamu nggak bisa membeli alat tes kehamilan untuk memeriksanya dulu?]

Ketika mendengar ini, Vanesa baru teringat dengan alat tes kehamilan yang dia lupakan di dalam tasnya.

Vanesa mengerucutkan bibir, menghela napas pelan, lalu kembali mengetik. [Aku sudah membelinya, tapi aku lupa karena sibuk.]

[Hebat sekali kamu! Kamu bisa lupa setelah membelinya! Pasti kamu lembur lagi, 'kan? Vanesa, bukannya aku ingin mengutukmu, tapi kalau suatu hari nanti kamu mati mendadak di ruang restorasi, aku juga nggak akan kaget! Cepat periksa dulu sekarang!]

Vanesa: [Aku mengerti.]

Vanesa kembali ke kantor.

Regan berbaring di sofa, tampak tertidur nyenyak. Selimut kecil di tubuhnya sudah ditendang hingga terjatuh ke lantai.

Di meja ada kotak makan siang yang belum habis.

Vanesa melangkah mendekat, mengambil selimut kecil itu, lalu kembali menyelimuti Regan.

Dia membereskan kotak makan, membuangnya ke tempat sampah, lalu membersihkan meja. Setelah kembali duduk di sofa yang lain, Vanesa mengangkat tangan untuk menyeka keringat halus di dahinya.

Perut bagian bawahnya kembali terasa tidak nyaman. Tiba-tiba, Vanesa teringat dengan alat tes kehamilan yang ada di tasnya. Ketika dia akan bangkit untuk mengambilnya, Lucy mendorong pintu, lalu melangkah masuk.

"Kak Vanesa, ada seseorang yang mencarimu di bawah."

Di bawah studio ada sebuah kedai kopi.

Begitu Vanesa melangkah masuk, dia langsung melihat Hanna yang sedang duduk di sudut.

Hanna duduk di sana, memandang ke arah Vanesa melalui kacamata hitamnya.

Vanesa mengenakan gaun berwarna aprikot, dengan balutan jaket bulu berwarna merah muda di luar. Rambutnya yang panjang hingga sepinggang, tergerai dengan alami, tampak sangat lembut.

Tubuhnya memiliki ketenangan seorang wanita dewasa. Wajahnya yang sebesar telapak tangan memiliki fitur yang halus. Dia tidak tampak sangat menakjubkan, tapi karena kulitnya yang seputih salju, entah kenapa Vanesa memberikan kesan dingin meski tanpa mengatakan apa-apa.

Ketika Hanna melihatnya berjalan mendekat, dia berdiri dengan senyuman lembut, lalu menyapa, "Nona Vanesa, silakan duduk."

Vanesa tidak duduk.

Dia tidak merasa perlu bertemu dengan Hanna secara pribadi.

"Nona Hanna, kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja secara langsung."

Hanna mengangkat tangan untuk melepaskan kacamata hitamnya, lalu berujar, "Sepertinya Nona Vanesa nggak terlalu menyukaiku. Aku bisa mengerti. Aku juga baru tahu hari ini kalau ternyata Steven menipumu. Tapi Steven juga melakukan ini demi kebaikanku. Aku harap Nona Vanesa nggak menyalahkannya."

Vanesa menarik sudut bibirnya, sementara suaranya tenang ketika dia membalas, "Aku nggak menyalahkan siapa pun. Sejak awal, aku dan Steven memang hanya melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Mengenai Regan, dia adalah anak yang kamu kandung, serta kamu lahirkan. Kamu sepenuhnya berhak bertemu dengannya."

"Apakah Nona Vanesa benar-benar berpikir begitu?" tanya Hanna.

Vanesa mengernyitkan kening, tampak kehabisan kesabaran. "Apakah Nona Hanna mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan pemikiranku?"

Hanna menatap Vanesa.

Dia merasa agak terkejut.

Vanesa ternyata jauh lebih tenang dari yang Hanna pikirkan.

Wanita seperti ini berada di samping Steven selama lima tahun.

Jujur saja, tidak mungkin Hanna tidak merasa terancam sedikit pun.

Namun, sekarang dia sudah kembali. Sudah waktunya bagi Vanesa untuk pergi.

Hanna mengambil surat cerai dari dalam tas.

Dia meletakkan surat cerai di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Vanesa.

"Steven berpikir untuk memberikan Mansion Resta padamu. Selain itu, ada pula tambahan 100 miliar sebagai kompensasi atas kerja kerasmu selama lima tahun ini. Kalau kamu merasa nggak ada masalah dengan semua ini, tanda tangani saja suratnya," kata Hanna.

Cinta Kita Sudah Sampai Ujung

Bab 4
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya