Logo
CINTA DINGIN TUAN BESAR
CINTA DINGIN TUAN BESAR

CINTA DINGIN TUAN BESAR

35 Bab
Tamat
Dalam billionaire romance novels CINTA DINGIN TUAN BESAR, Marla terjebak perjodohan rahasia di keluarga Austin. Ia harus menghadapi Richard yang dingin serta Ascar sang pengacau. Baca novel modern ini untuk melihat apakah Marla bertahan atau melarikan diri dari rencana Margaret.
Bab 1 dari CINTA DINGIN TUAN BESAR

"Marla!" Teriak seorang gadis dengan surai panjang berlari tergesa menghampiri gadis bersurai gelombang. Gadis itu sedang asik bermain ayunan di taman belakang.

"Ada apa, Erika?" gadis itu berkata dengan kedua tangannya menggerakan ayunan. Tetap tidak mengubah posisinya, terus bermain dengan ayunan kesayangan.

"Ibu Anya menyuruh semua untuk berkumpul di aula. Gosip yang beredar, mereka salah satu keluarga terpandang dan sedang mencari seorang pelayan. Ayo, ikut. Ini kesempatan kita ...." Erika menarik lengan gadis itu yang bergeming dengan reaksi berlebihan gadis itu.

"Nggak akan menarik buatku. Kamu saja yang pergi. Aku akan tetap disini. Menghirup udara segar pagi ini dengan aroma mawar dan gardenia yang paling kusukai." Marla tetap menggeleng dan tidak menggerakkan kakinya untuk turun dari ayunan.

"Ayolah, Marla, aku tahu, kamu memang tak menginginkan ini, tapi setidaknya kamu temani aku. Aku sudah sangat bosan terkurung disini. Mungkin saja, hari ini adalah hari keberuntunganku." Erika sedikit menunjukan wajah menyedihkan, gadis itu tahu, teman kecil terbaiknya itu tidak akan pernah sanggup menolak wajahnya. Itu adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi teman kecilnya itu.

"Hoh, astaga, Erika. Apa itu? Stop! Jangan tunjukan wajah seperti itu. Kamu yakin nggak sedang merayuku? Wajah menyebalkanmu itu benar-benar deh ...."

Habis sudah Marla kali ini, gadis itu tidak dapat berkutik lagi. Wajah iba dari teman kecilnya itu sudah membuat frustasi.

"Ayolah, aku mohon, Marla, ini 'kan nggak ada ruginya juga buat kamu ...." Erika masih dengan pendiriannya.

"Erika, Erika, seorang pelayan? Heem, sudahlah. Jangan membujuk lagi. Ini nggak akan berhasil. Pergilah. Kamu tahu sendiri, aku nggak perlu izin itu untuk keluar. Aku punya kartu akses bebas kemanapun aku pergi ...." Ya ... Gadis itu tidak akan terkecoh oleh godaan sang teman kecil. Dia bahkan tanpa ragu menunjukkan sederet gigi putihnya.

"Oke. Aku tahu. Kamu memang yang terbaik. Paling terdepan. Paling beruntung. Paling-paling di antara kami. Kamu punya keahlian melukis dan bermain piano. Ditambah lagi, ibu Anya menyayangimu seperti anak sendiri. Paket komplit. Sedangkan aku? Hem, apapun aku nggak bisa. Nggak punya keahlian sedikitpun!"

Marla hanya bisa menghela nafas panjang. Saat mendengar si cerewet Erika menggunakan semua alibi, gadis itu sudah tidak bisa berkata apapun.

"Dasar mulut cerewet. Bisa nggak sih, kamu nggak menggunakan alasan itu. Aku juga nggak tahu kenapa aku punya dua keahlian itu. Kamu kan tahu, sejak kecil aku jarang berbicara dan sering sekali menghindari kalian." Marla tidak ingin mengalah, meskipun pada akhirnya gadis itu akan memenangkan pertarungan mulut kali ini.

"Makanya temani aku, oke? Please! Kali ini saja, aku janji. Begini saja ... jatah cemilanku saat makan siang nanti akan menjadi milikmu. Bagaimana? Ayolah, temani aku, Marla," bujuk Erika tidak akan mengalah sampai disitu saja.

"Hah, baiklah cerewet, aku temani. Jangan gunakan sogokan kecil seperti itu. Nggak mempan tahu. Tapi, aku nggak mau ikut-ikutan seperti yang lain, oke? Aku akan bersembunyi sampai nggak terlihat, deal?" Erika mengangguk cepat. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk melompat kegirangan.

"Yes. Kamu memang teman paling baik, Marla. Ayo, pergi!" Erika mengaitkan tangannya dan membawa Marla ke aula.

***

Di ruangan ibu Anya seorang wanita sedang berbicara dengan serius.

"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya dengan detail, Anya. Nyonya hanya menginginkan gadis yang pernah datang pada pesta ulang tahun keluarga Christian bulan lalu. Dia, masih tinggal disini kan?" Sejak kedatangan wanita paruh baya itu, Anya tampak gelisah. Tidak biasanya wanita paruh baya itu akan secara khusus mendatangi tempatnya jika memang tidak ada suatu hal yang mendesak. Dan, apapun keinginannya, tetap harus terpenuhi.

Wanita itu berpenampilan sederhana, namun itu sama sekali tidak mengurangi sikap anggun dan tegasnya. Anya tidak memberikan jawaban apapun. Wanita itu hanya beranjak dari duduknya. Mencari dalam rak satu buah buku. Tepatnya satu album foto yang berisi semua penghuni di dalam kediamannya.

Lalu, meski sedikit ragu, Anya membawa album foto itu ke hadapan wanita tadi. Membukanya, mencarikan sesaat dan menunjuk salah satu foto yang terpasang di dalamnya.

"Apa benar, nyonya menginginkannya?" tidak ada jawaban lain selain anggukan cepat dari wanita itu. Satu helaan nafas lembut penuh kegelisahan mungkin saja terdengar oleh wanita itu.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Anya, nyonya tidak akan melukainya!"

"Saya mengerti, kalau begitu, ada baiknya anda melihat anak yang lainnya. Mungkin saja, masih ada anak lain yang memenuhi kriteria nyonya!" bujuk Anya. Sambil mengajak wanita tadi keluar dari ruangan dan memperlihatkan anak-anak lainnya.

"Nyonya tidak menginginkan yang lainnya, hanya gadis itu. Dimana dia sekarang?" Anya membawa wanita itu ke aula. Semua anak tampak sudah berkumpul disana.

"Aku akan langsung membawanya. Aku harap, kau bisa segera mempersiapkan. Bila perlu, tidak perlu membawa apapun, disana dia tidak akan kekurangan apapun!" tegasnya tanpa memperdulikan saat Anya mengajaknya berkeliling untuk melihat anak lainnya.

"Anda yakin tidak ingin melihat yang lainnya Madam Ester? Anak kami, mungkin bisa sekali lagi Madam lihat," sepertinya Anya sangat berusaha keras membujuk Ester. Ester tidak menjawab. Tetap berkeliling dan mencari keberadaan sosok yang dicarinya.

Erika menarik Marla diam-diam di barisan paling belakang. Marla ingin sekali bersembunyi, tapi gandengan tangan dari Erika membuatnya mau tidak mau terseret dalam barisan. Ester masih terus berkeliling. Wajah Anya semakin gelisah saat mendekati barisan paling belakang. Ingin sekali Anya menarik lengan Ester agar kembali, namun sayangnya langkah kaki Ester lebih cepat dalam meneliti satu demi satu anak dalam barisan.

"Marla, lihat, dia kemari. Huwaa, semoga saja aku yang terpilih," bisik Erika antusias dan terdengar tidak sabar. Tangannya terus menyenggol sikut gadis itu yang tidak perduli sama sekali dengan tingkah heboh teman kecilnya.

"Um, iya, iya. Semoga kamu yang terpilih. Kamu kan tahu, alasanku tetap berada disini!" sahut Marla, suara seperti bergumam dan hampir tidak terdengar.

Kini Ester tepat berdiri di hadapan dua gadis itu. Erika makin gugup dan jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Tangannya dingin saat bersentuhan dengan Marla.

"Kau!" ucap Ester semakin membuat Erika gugup.

"Sa-saya, Nyonya?" sahut Erika, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.

"O-oo," Ester menggelengkan kepalanya, "Bukan kau, tapi, kau!" sekali lagi Ester berkata, namun kali ini Ester menunjuk dengan jari telunjuknya tepat ke arah Marla.

"Ahh, ba-baiklah," sorot kecewa dari Erika terlihat jelas, namun itu hanya sesaat, Erika melupakan itu saat teman kecilnya yang terpilih.

"Ma-Marla, hei, Marla!" suara Erika setengah berbisik sambil menyenggol lengan gadis di sebelahnya. Marla, tidak peduli. Dia merasa ada di dalam dunianya sendiri. Tidak sadar dengan kehadiran Ester dihadapannya.

Anya kehabisan kata. Hanya bisa menghela nafas panjang sebelum tangannya menarik tangan gadis itu.

"Aw!" pekik gadis bersurai gelombang lembut itu saat tangannya tiba-tiba ditarik paksa keluar barisan.

"Bu, ada apa? Sakit sekali!"

"Bodoh! Kenapa kau ada disana?" hardik Anya setengah berbisik.

Ester mengikutinya dari belakang.

"Lho? Memangnya ada apa, Bu?" Sekali lagi Marla yang sedang bingung mengajukan pertanyaan.

"Seperti yang aku bilang tadi, Anya. Bantulah dia bersiap-siap atau aku akan membawanya sekarang?" Ester berkata dengan nada cukup penuh penekanan. Membuat Marla memutar otaknya. Mengingat kembali ucapan Erika beberapa saat lalu dan akhirnya ....

"Nggak, Bu? Ini nggak benar kan, Bu? Apa maksud ucapannya?" Wajah pias sudah tergambar dalam wajah gadis bersurai gelombang tadi.

Anya tidak menjawab apapun. Perkataan Ester sama halnya dengan perintah nyonya. Anya tidak dapat menolak atau membuat permohonan pengganti. Marla sepenuhnya sadar dengan situasinya. Wanita tadi adalah orang yang diceritakan Erika. Dia yang sedang mencari seorang pelayan dan Marla-lah yang terpilih.

"En-nggak, Bu, aku nggak mau pergi. Aku nggak menginginkan tempat ini, Bu. Aku mau tetap disini, Bu. Aku mohon, jangan aku yang pergi, Bu," pinta gadis bersurai gelombang tadi, kali ini dia sudah benar-benar memohon. Cairan bening itu mulai membasahi wajah cantiknya.

"Sayang maafkan Ibu, Ibu pun tidak menginginkan hal ini. Hanya saja, Ibu tidak bisa menolaknya. Ini permintaan langsung dari nyonya, Sayang. Ibu harap kamu mengerti!"

"Nggak, Bu. Aku mohon, a-atau, Erika saja, Bu. Biarkan Erika yang pergi. Aku benar-benar nggak mau pergi dari sini, Bu!" Tangis gadis bersurai gelombang itu pecah, baginya, ini adalah hal terburuk yang dialaminya.

"Maafkan Ibu, sayang, Ibu tidak bisa!" Anya mencoba menenangkan gadis itu, mencoba menyakinkan semua akan baik-baik saja.

"Nggak, Bu. Erika saja, Bu. Dia benar-benar menginginkan ini. Aku mohon, Bu. Biarkan Erika saja yang pergi, Bu!"

"Maafkan saya, Nyonya Anya, Madam Ester sudah menunggu, mohon segera!" Suara seorang laki-laki memecah pembicaraan mereka.

"Ba-baik, mohon ditunggu sebentar saja!" Anya berbalik dan memohon, "Ayo, Marla, Ibu mohon, jangan membantah lagi!" Anya setengah menyeret paksa tubuh gadis itu karena dia tetap menolak pergi.

"Ibu ... tolong, Bu ... aku nggak mau pergi, Bu. Aku mohon, Bu," tangis Marla mengiba. Gadis bersurai gelombang tadi bahkan rela bersujud. Tetapi, saat ini, ibu yang selalu saja bersikap baik padanya mengabaikan. Saat Anya sudah berada di kamar gadis itu. Dia mengeluarkan tas dan memasukan baju gadis itu dengan cepat.

Erika yang tidak tega ikut masuk ke kamar. Itu adalah kamar mereka berdua.

"Bu, biarkan Erika saja yang pergi, Bu. Jangan Marla. Ibu kan tahu, Marla tidak menginginkan ini. Marla tetap harus disini, Bu!" Gadis yang bernama Erika itu ikut bersujud di samping tubuh Marla. Menyaksikan teman terbaiknya menangis bukan hal yang menyenangkan. Selama ini, Marla jarang sekali menangis, bahkan hampir tidak pernah menangis meski anak lain dulu merundungnya.

"Diam, Erika! Kamu tidak berhak ikut campur. Kalau kamu ingin tetap bersujud. Bersujudlah sampai makan malam. Kamu tidak perlu makan siang. Ini adalah hukuman karena kamu mencoba membantah, Ibu!"

Marla hampir tidak percaya. Ibunya yang terkenal baik hati sampai tega menghukum. Itu bukan kebiasaannya, ibu tidak akan pernah menghukum anaknya, meskipun anaknya melakukan kesalahan yang besar. Ibu pasti akan memaafkan dan memberikan hukuman yang tidak akan membuat orang lain terlukai.

"Ayo, Marla. Jangan biarkan Madam menunggumu. Ini tidak akan baik untukmu!"

Marla kembali diseret paksa sampai depan gerbang. Dilihatnya, wanita yang bernama Ester tadi menunggunya tak sabar. Saat melihat gadis itu diseret oleh Anya, Ester segera memerintahkan salah seorang pengawal untuk menjemputnya.

"Tu-tunggu dulu, aku mohon, izinkan aku memeluk Ibuku, aku mohon!" pinta gadis bersurai gelombang tadi. Tangisannya tetap tidak berhenti saat dia memeluk Ibu yang selama ini sudah membesarkannya sebagai anak sendiri.

"Maafkan Ibu, sayang, maafkan, Ibu ...."

Lirih perkataan Anya menyayat kalbu Marla. Pertama kalinya dia berpisah dengan orang yang amat berarti. Dia, wanita itu, wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, kini, gadis itu harus melepaskannya.

"Aku nggak mau pergi, Bu, aku mohon ...."

Tangisannya sudah tak bisa terbendung. Ester hanya bisa memandangi sambil menyuruh dua orang pengawal menyeret paksa Marla yang tetap menolak masuk mobil. Meski berat, Anya tetap harus melepaskan gadis itu pergi.

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Aku Tak Membencimu
Aku Tak Membencimu
Demi melunasi hutang, Ayyara Faderica terpaksa menikah dengan CEO Kieran Bimantara dalam Aku Tak Membencimu. Meski diperlakukan bak ratu, Ayyara sulit melepas masa lalunya. Simak perjuangan cinta dalam billionaire romance novel ini melalui layanan baca online novel terbaik.
Di Jodohkan Dengan Om Galak
Di Jodohkan Dengan Om Galak
Dalam novel romance Di Jodohkan Dengan Om Galak, Nessa terikat kontrak pernikahan setahun dengan Arga, seorang CEO dingin. Di tengah bayang-bayang masa lalu sang billionaire, mereka harus memilih antara berpisah atau mempertahankan cinta. Baca web novel ini selengkapnya.
Direktur Iblis Takut Kehilangan
Direktur Iblis Takut Kehilangan
Dalam Direktur Iblis Takut Kehilangan, Lia harus menghidupi dua anaknya setelah menjadi janda. Meski diskriminasi menghalangi, ia menjadi asisten Bagas, direktur dingin di modern novel ini. Akankah prinsipnya goyah? Baca kisah perjuangannya di billionaire romance novels ini.
Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan
Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan
Dalam novel modern Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan, Kiana dikhianati suaminya, Yovan, setelah tahu pernikahan mereka palsu. Untuk membalas dendam, ia menikahi tuan muda kaya raya demi merebut kembali haknya. Baca novel online gratis ini untuk mengikuti kisah romantis Kiana.
Hidupku yang Kaya Mendadak
Hidupku yang Kaya Mendadak
Dalam Hidupku yang Kaya Mendadak, seorang mahasiswa miskin dikhianati kekasihnya demi pria kaya. Namun, identitas aslinya sebagai putra miliarder terungkap, mengubah nasibnya seketika. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti transformasi hidupnya di platform online novel kami.
Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
Dalam novel romantis miliarder Kencan Buta Setelah Pulang Kampung, Nadya Luandra dikhianati oleh Daniel Liman setelah tujuh tahun hubungan rahasia mereka. Daniel justru memilih cinta pertamanya, Yuna Fadian, dan menganggap Nadya hanya pengganti. Baca novel online gratis ini di Novel Web kami.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Putri Asli Membalas
Putri Asli Membalas
Polwan Gita meninggal saat bertugas, lalu terbangun sebagai putri asli Keluarga Mido. Masa lalunya penuh derita. Disiksa ibu angkat, diintimidasi saudara tiri, dan dibenci orang tua sendiri, hingga mati tragis di tangan penculik.Kini, Gita menuntut keadilan sekaligus mengungkap misteri kematiannya. Namun, rahasia masa lalu dan cinta masa kecilnya, Dion, kembali menguji hatinya.
Istri CEO Bekerja Sebagai Pembersih
Istri CEO Bekerja Sebagai Pembersih
Dia secara keliru menikahi seorang pria asing karena mengira pria itu adalah kencan butanya. Tanpa dia sadari, pemulung yang ditemuinya sebelumnya sebenarnya adalah neneknya.
Ayah, Tolong! Ibu di Penjara!
Ayah, Tolong! Ibu di Penjara!
Ketika seorang CEO yang berkuasa menemukan putrinya dan membebaskan kekasih masa kuliahnya dari penjara, mereka harus mengatasi kebencian selama bertahun-tahun dan berkorban untuk melindungi anak mereka dari orang-orang yang memisahkan mereka.
Dibalik Rembesan
Dibalik Rembesan
​​Yuli Surya, putri Keluarga Surya, terpaksa menikahi seorang pengemis yang menyamar, Bagas Hidayat,untuk menyelamatkan nyawanya sendiri dan ayahnya, Andi. Keluarga Surya menolak mempercayai status Bagas yang sebenarnya sebagai Kaisar. Mereka justru menjilat Dian, anak seorang pejabat tinggi Kementerian Hukum, merendahkan Bagas, dan memaksa Yuli untuk menjadi selir Dian. Namun, segalanya berbalik ketika Bagas akhirnya membuktikan identitasnya yang sesungguhnya dan mengatasi segala rintangan.​
Tersesat dalam Bayanganmu
Tersesat dalam Bayanganmu
Demi menyelamatkan kekasihnya dari kebangkrutan, wanita itu rela mengorbankan kesempatan pengobatannya untuk membiayai investasi pria itu. Saat menyadari penyakitnya tak lagi tertolong, dengan berlinang air mata, dia memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sang pria akhirnya mengetahui keberadaan putra mereka, namun wanita itu bersikeras membantah dan mengaku bahwa anak tersebut bukanlah darah dagingnya. Tertipu oleh seorang penipu yang mengklaim telah berjasa, sang pria pun semakin tersesat dalam kesalahpahaman. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terungkap, dirinya pun dihantui penyesalan yang tak berujung.
[Versi Dub] Hidupmu Dulu, Sekarang Milikku!
[Versi Dub] Hidupmu Dulu, Sekarang Milikku!
Briana dan Nayla memilih keluarga angkat di hari yang sama. Nayla masuk ke keluarga kaya Gultom, sementara Briana memilih keluarga sederhana. Setelah bereinkarnasi, peran mereka bertukar. Tapi… apakah akhir ceritanya juga ikut berubah?