Bab 1
Saat aku sedang hamil enam bulan, adikku mengalami kecelakaan dan sangat membutuhkan transfusi darah.
Setelah diperiksa, hanya golongan darahku yang cocok untuknya.
Namun, diriku yang mengalami mual selama kehamilan sangat lelah, sehingga aku menolaknya.
Akan tetapi, keluargaku memaksaku untuk pergi ke ruang transfusi darah.
Aku tidak sanggup melawan, jadi hanya bisa meminta bantuan suamiku.
Tanpa diduga, dia berpangku tangan.
"Mumpung kondisimu baik-baik saja, jadi nggak masalah untuk mendonorkan darah. Hanna berbeda, dia punya masa depan yang cerah, jangan sampai menundanya."
Setelah operasi, aku pingsan di ruang transfusi darah. Hal pertama yang aku lakukan setelah sadar adalah membuat janji untuk aborsi.
"Bu Elena, apa benar kamu ingin menggugurkan anak ini? Kamu juga tahu situasi Pak Jordan. Kalau menggugurkan anak ini, dia bakal sulit punya anak lagi. Begitu tindakan dimulai, anak ini tidak bisa diselamatkan!"
Dokter menatapku dengan tidak berani percaya dan mengeluarkan laporan pemeriksaan fisik Jordan Aprilio.
"Bu Elena, kali ini kamu berhasil mengandung anak Pak Jordan sudah merupakan keajaiban medis. Aku sarankan untuk..."
"Nggak perlu, lakukan saja."
Aku menyela dokter itu dengan tenang.
Kenapa aku harus mengambil risiko melahirkan anak yang tidak dipeduli sama siapa pun dan membiarkannya menderita di dunia ini?
Setelah membuat janji untuk aborsi, aku kembali ke vila Jordan.
Dia keluar dari dapur sambil membawa kotak bekal.
Melihat aku kembali dengan lemah, Jordan hanya memberiku beberapa instruksi tanpa berhenti sama sekali.
"Aku sisain sup ayam di panci buatmu, jangan lupa makan saat makan malam. Kamu baru saja mendonorkan banyak darah, harus menambah nutrisi."
Melihat Jordan hendak keluar rumah, aku bertanya,
"Lalu, kamu mau ke mana?"
Jordan segera mengerutkan kening dan sangat kesal.
"Tentu saja ke rumah sakit, terjadi hal seperti itu pada Hanna, harus ada yang merawatnya. Hanya kamu yang mengabaikannya begitu saja seolah-olah nggak ada hubungan denganmu!"
Sambil berkata, Jordan menatapku dengan pandangan meremehkan.
"Aku memintamu untuk mendonor darah, tapi kamu malah menolaknya. Entah kenapa kamu begitu kejam, kamu bahkan tidak mau menyelamatkan adikmu sendiri!"
Pada saat ini, sepertinya aku mendengar suara jantungku hancur berkeping-keping.
Aku menggertakkan gigi sambil menatap Jordan.
"Aku kejam? Lalu, demi siapa aku melakukan ini? Kalau bukan karena hamil, mana mungkin aku tidak mau donor darah!"
Ketika mendengar kata-kataku, Jordan berlari menghampiriku dan menatapku tajam.
"Kamu masih mengungkitkan anak? Aku hanya memintamu untuk mendonorkan darah, bukan mengorbankan nyawamu! Kau kira seberapa berharganya dirimu? Apakah anak akan hilang begitu kamu mendonorkan darah?"
Aku sungguh tak percaya kata-kata ini akan diucapkan dari mulut suamiku.
Aku menatapnya dengan tatapan kosong, lalu berbicara pelan seolah telah kehilangan segala tenaga.
"Lalu, apa kamu tahu kalau aku tidak pernah makan dengan baik selama enam bulan? Kalau nggak, mana mungkin aku pingsan di ruang transfusi darah?"
Secercah rasa bersalah melintas di mata Jordan.
Namun, segera rasa bersalah ini digantikan oleh kemarahan dan kebencian.
Jordan mengulurkan tangan dan memegang daguku erat-erat.
"Kamu selalu ada masalah selama kehamilan. Kalau bukan kamu bersikeras memintaku mengantarmu ke rumah sakit untuk memeriksa respons nutrisi bayi, bagaimana mungkin Hanna mengalami kecelakaan mobil!"
"Kau yang menyebabkan semua ini!"
Jordan mencubit daguku dengan kuat.
Lalu, aku sadar, ternyata dia menganggap semua ini salahku.
Menurutnya, aku berutang semuanya pada adikku.
Akulah istrinya Jordan, aku tengah mengandung anaknya.
Namun, dia memilih untuk berbelanja dengan Hanna daripada menemaniku ke rumah sakit untuk pemeriksaan.
Tiba-tiba aku tertawa terbahak-bahak.
Menurut Jordan, hal itu tampak seperti tantangan terhadap otoritasnya.
Dia menampar wajahku, rasa jijiknya padaku tampak jelas di wajahnya.
"Kau menyebabkan Hanna dirawat di rumah sakit, tapi malah tertawa. Elena Heis, tak kusangka kau begitu kejam, sungguh menjijikkan."
Selesai berkata, Jordan meninggalkan vila dengan marah.
Aku perlahan mengangkat kepalaku dan menyeka darah di sudut bibirku.
Tak masalah, Jordan akan segera tahu bagaimana rasanya patah hati.
Bab 2
Setelah Jordan pergi, tidak ada berita sama sekali.
Aku menunggu dari siang hingga malam, tetapi dia tidak kembali.
Aku terlalu lapar, jadi hanya bisa menguatkan diri untuk menyiapkan makanan di dapur dengan tubuhku yang lemah ini.
Tanpa sadar aku membuka panci presto di atas kompor dan meliriknya.
Benar saja hanya sup ayam.
Ada juga beberapa potongan daging kecil dan leher serta pantat ayam.
Semua daging terenak dibawa oleh Jordan, tidak tersisa apa pun.
Aku tertegun selama dua detik, kemudian tertawa tanpa suara.
Entah apa yang masih aku nantikan.
Aku memasak semangkuk mi.
Jordan kembali pada saat ini.
Dia mengerutkan kening ketika melihatku keluar membawa semangkuk mi dengan terhuyung-huyung.
"Kamu sedang hamil, kenapa hanya makan ini? Apa nilai gizi yang terkandung di dalamnya!"
Jordan maju dan memapahku duduk di meja makan, lalu menarikkan kursi dengan penuh perhatian.
Aku menatapnya dengan heran.
Aku memakan dua suap mi, lalu meletakkan sumpitku.
"Aku nggak sanggup menikmati masakan orang lain, aku hanya bisa memasak mi untuk diriku sendiri."
Jordan tampak canggung, dia berdeham dan melirikku.
"Kalau bukan kamu mengatakan hal-hal yang menyinggungku, mana mungkin aku marah sampai melupakannya. Lagi pula, bukankah aku menyisakan daging ayam untukmu? Kamu sedang hamil, jadi jangan pilih makan, kamu bisa makan daging apa saja."
Jordan terus mengomel.
Aku memijat kepalaku dengan kesal, wajahku makin pucat.
"Bisakah kamu diam? Apa kamu lupa kalau aku ingin muntah saat mencium bau sup ayam? Gimana aku memakannya?"
Jordan yang hendak marah, tiba-tiba menghentikan amarahnya.
Tampaknya sungguh konyol.
Dia benaran lupa hal ini.
"Aku... Aku... Aku merawat Hanna sampai lupa. Dia bilang mau makan sup ayam, aku tentu harus mengutamakan pasien dulu."
Jordan perlahan-lahan menjadi yakin dan mulai melontarkan komentar-komentar ironis padaku.
"Lagi pula, kamu punya tangan dan kaki, dan kamu juga tidak sedang sakit. Kamu hanya mendonorkan sedikit darah, kenapa harus berlagak lemah?"
Ketika mendengar kata-katanya, aku merasa sangat kesal.
Hanna... dia selalu mengutamakan Hanna.
Di mata Jordan, meski aku mengandung anaknya tetap saja tidak sepenting Hanna!
Ngomong-ngomong, saat aku menikah dengan Jordan.
Semua orang di keluargaku mengkritikku dan merasa aku tidak layak bersama Jordan. Mereka semua menganggap Hanna dan Jordan adalah pasangan yang cocok.
Hanna bahkan mengajak Jordan keluar menggunakan namaku tanpa sepengetahuanku.
Awalnya, Jordan akan memberitahuku tentang hal ini.
Namun, seiring berjalannya waktu, dia tampak berubah dan tidak pernah menyebut tentang Hanna lagi.
Sekarang, aku sadar mungkin dia telah goyah sejak dia berhenti memberitahuku.
Melihatku terdiam dan tertegun, Jordan pun berbicara.
"Sudahlah Sayang, aku tahu kamu sudah bekerja keras, mengandung anak dan mempertaruhkan nyawamu untuk mendonorkan darah. Sini, biarkan aku menyuapimu."
Dia mengambil mi dengan sumpit, lalu meletakkannya di dekat mulutku seolah-olah ingin menghiburku.
Wangi samar langsung tercium dari ujung lengan bajunya.
Itu aroma Hanna.
Tiba-tiba aku merasa mual.
Aku tidak tahan lagi, lalu bergegas dan muntah di toilet.
Aku memuntahkan semua mi yang baru saja kumakan.
Setelah akhirnya tenang, aku menatap wajahku yang lemah di cermin.
Serta ekspresi Jordan yang agak tak berdaya.
Dia memapah lenganku dan bertanya dengan penuh perhatian.
"Sayang, ada apa denganmu? Apa kamu ingin periksa ke rumah sakit?"
Aku menepis lengannya dengan kuat dan berkata acuh tak acuh.
"Nggak usah, menjauhlah dariku!"
Wajah Jordan yang awalnya menyanjung berubah muram.
Dia menggumamkan sesuatu saat melihatku berjalan kembali ke kamar tidur.
"Menurutku, kamu itu nggak tahu diri, aku ingin membantumu, kamu malah berlagak sombong!"
Bab 3
Aku mendengar apa yang dia katakan.
Aku berbaring terengah-engah di ranjang, mataku tanpa sadar memerah.
Aku bertemu Jordan di sebuah musikal.
Aku penari di panggung, Jordan adalah musisi dalam musikal itu, guruku yang mengenalkan kami berdua.
Saat pertama kali melihatnya, aku terpesona oleh dedikasinya terhadap musik.
Aku hampir jatuh dari panggung saat latihan.
Jordan bergegas menahanku dari bawah dan menyelamatkanku dari cedera, tapi kaki kanannya patah.
Aku gemetar ketakutan saat itu.
Dia langsung memelukku.
"Apa yang kamu takutkan? Aku tidak memintamu membayar ganti rugi. Lagi pula, meski kakiku patah, juga tidak akan berdampak apa pun padaku. Tapi, kamu berbeda, kalau kaki kananmu patah akan memengaruhi seluruh hidupmu."
Aku jatuh ke dalam pelukannya yang lembut karena kalimat ini.
Sayangnya, aku baru menyadari sekarang kalau kesetiaan pada musik tidak berarti kesetiaan pada cinta.
Jordan akan jatuh cinta padaku yang menari dengan gemulai, dia juga akan tertarik pada Hanna yang menari dengan semangat.
Jordan masuk ke kamar saat aku sedang tidur.
Dia membawa semangkuk bubur telur abad kesukaanku.
"Sayang, ayo bangun. Nggak boleh tidur tanpa makan, itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Jordan berbicara, tapi aku tidak bergerak sama sekali.
Jordan jarang tidak marah. Sebaliknya, dia dengan hati-hati memapahku bangun dari ranjang dan berbicara dengan lembut.
"Sekalipun marah padaku dan tidak mau makan, kamu harus tetap mempertimbangkan anak. Anak masih sangat kecil dan butuh nutrisi."
"Setelah memakan bubur, kamu boleh melampiaskan kemarahanmu padaku."
Dia membujukku dengan sangat sabar untuk pertama kalinya.
Aku pun menatapnya.
Jordan memegang mangkuk di tangannya, dengan sedikit sanjungan di matanya.
Terakhir kali dia begitu lembut dan perhatian padaku karena ingin meminta sesuatu padaku.
Dia memohon agar aku menyerahkan nama peserta kompetisi tari pada Hanna.
"Mumpung kamu sedang hamil, juga nggak bisa ikut serta dalam kompetisi tari. Lebih baik berikan saja pada Hanna, dia sudah lama ingin ikut serta dalam kompetisi ini."
Tiba-tiba aku sadar kalau Jordan punya niat lain!
Aku dengan tenang mengambil bubur dari tangan Jordan dan menatapnya tanpa ekspresi.
"Katakan saja, apa yang kau inginkan dariku kali ini?"
Jordan tersenyum canggung.
"Apa yang kamu bicarakan, Sayang? Meski tidak butuh apa pun, aku memang pantas menyiapkan bubur untukmu."
"Kalau nggak mau bilang, aku akan anggap kamu tidak punya permintaan!"
Ekspresi wajahnya langsung berubah, dia segera berkata, seolah-olah dia takut aku akan menarik kembali kata-kataku.
"Hanna ingin makan daging rebus saus dan sup ikan buatanmu, aku sudah siapkan bahan-bahannya. Aku akan mengantar ke Hanna besok setelah kamu membuatnya."
Sekalipun aku sudah siap mental, kata-katanya bagai pedang yang perlahan menusuk hatiku.
Meskipun lamban, aku akhirnya sadar kalau aku sudah tidak berharga di mata semua orang.
Sejak kecil, akulah pelayan di rumah, Hanna suka memerintahku.
Ayah dan Ibu hanya menyayanginya dan ingin memberinya semua yang terbaik.
Hanna telah merasakan kebahagiaan sejak kecil, aku hanya bisa mengaguminya.
Dia bisa belajar melukis dan menari, aku bahkan harus memohon cukup lama agar bisa mendapatkan biaya kuliah.
Bahkan bisa menari pun berkat Hanna.
Hanna tidak mau belajar menari, tapi uang sudah dibayar, jadi aku mengajukan diri.
Kemudian, Hanna iri padaku dan mulai meminta ingin menari lagi.
Demi merangsangnya, Ayah dan Ibu mengizinkanku belajar menari.
Meski begitu, aku bahkan tidak pantas memiliki sepasang sepatu nari.
Aku selalu menari tanpa alas kaki.
Hanna selalu sengaja menginjakku, lalu membuat sekumpulan orang tertawa.
"Elena, kamu menari tanpa alas kaki, jelek banget!"
Sampai Jordan melamarku.
Lalu, aku menikahinya tanpa ragu-ragu.
Kukira bisa lolos dari kehidupan yang menyiksa ini.
Namun, sekarang aku menyadari kalau kehidupan semacam itu hanya muncul dalam bentuk yang berbeda.
Orang yang menyiksaku menjadi suamiku, Jordan.