Bab 2
Ruben, mantan pacarku.
Lebih tepatnya mantan tunanganku. Karena saat putus, kami sudah bertunangan.
Dia berasal dari pedesaan dan memiliki adik laki-laki dan perempuan. Kondisi keluarganya sedikit kurang mampu.
Beberapa tahun yang lalu aku masih muda dan tidak memahami banyak hal. Aku seperti tersihir, memaksa dan bersikeras untuk menikah dengannya.
Melihat sikap keras kepalaku, orang tuaku khawatir aku akan hidup di desa bersamanya dan menjalani hidup yang susah, jadi mereka membelikanku apartemen di Taman Kenari nomor 801.
Setelah membeli apartemen, orang tuaku berharap keluarga Ruben akan mengeluarkan uang untuk renovasi apartemen. Namun, Ruben tidak bersedia melakukannya. Katanya, sertifikat itu bukan atas namanya, kenapa dia harus mengeluarkan uang untuk renovasi?
Lalu, aku menggunakan semua tabungan yang aku kumpulkan dua tahun setelah lulus untuk merenovasi apartemen.
Setelah pertunangan, Ruben tiba-tiba mengatakan bahwa namanya harus ditambahkan ke sertifikat rumah. Kalau tidak, pernikahan tidak akan dilangsungkan.
Untungnya, orang tuaku punya pemikiran yang luar, jadi membeli rumah itu atas nama mereka. Jadi, aku tidak mengurus prosedur pergantian nama.
Ruben memintaku membujuk orang tuaku agar menuliskan nama kami berdua di dalam sertifikat. Meskipun aku begitu mencintainya, tetapi pikiranku tetap jernih.
"Saat renovasi, aku bilang akan menambahkan namamu dalam sertifikat, tapi kamu nggak mau. Kamu sendiri yang nggak mau!"
" Andrina, kenapa kamu nggak ngerti, sih! Apa kita nggak butuh uang buat menggelar pesta pernikahan? Aku sudah kasih enam belas juta sama emas, apa itu bukan uang?"
Ruben menegurku lagi.
"Kamu juga tahu kalau orang tuaku petani, berapa sih yang bisa mereka dapatkan dalam satu tahun? Biaya renovasi bisa sampai dua ratus juta, kalau aku minta uang sebanyak itu sama mereka, bukankah sama saja membunuh mereka?"
"Tapi keluargamu nggak diminta buat bayar rumah, renovasi juga pakai uangku dan orang tuaku."
Aku pun jadi ikut kesal.
"Uang orang tuaku juga bukan yang tiba-tiba ada, mereka bekerja keras untuk bisa mendapatkannya. Kalian nggak kasih uang sepeser pun, tapi mau namamu ada di sertifikat rumah?"
" Andrina, kenapa kamu jadi matre begini? Kita sudah mau menikah, tapi kamu masih perhitungan begini?"
Ruben mulai memainkan triknya lagi.
"Kalau kamu mencintaiku, harusnya ada namaku saja di sertifikat apartemen."
"Kamu nggak tahu malu sekali! Karena kamu nggak mampu beli uang, mereka pakai uang hari tua mereka buat membelikan kita rumah!"
Ini pertama kalinya aku menyadari kalau laki-laki ini benar-benar tidak punya malu.
"Kalau kamu mampu, harusnya kamu beli rumah pakai duit sendiri! Saat itu Ayah bilang kalau uang muka bakal dibayar sama keluargamu dan keluargaku, lalu kita yang bayar cicilannya. Tapi, kamu nggak mau, katanya bebannya terlalu berat! Sekarang, rumah sudah dibeli dan kamu ingin menguasainya sendirian!"
"Jangan buat masalah nggak jelas, aku mau namaku ada di sertifikat. Orang tuamu selalu waspada kepadaku. Aku merasa mereka nggak menganggapku sebagai manusia, jadi aku minta begini!"
Ruben terlihat kesal karena dipojokkan seperti ini.
"Andrina, kamu itu bodoh! Kamu anak tunggal, jadi kalau orang tuamu meninggal, rumah ini akan jadi milik kita! Apa bedanya menambahkan namaku sekarang atau nanti?"
Orang tuaku hidup sehat, tetapi dia benar-benar mengatakan kata-kata seperti itu. Aku marah dan melayangkan satu tamparan kepadanya.
"Orang tuamu yang meninggal! Ruben, aku akhirnya tahu sifatmu yang sebenarnya! Belum nikah saja kamu sudah menginginkan harta orang tuaku!"
Kami bertengkar hebat dan aku memutuskan untuk mundur dari pernikahan.
Orang tuaku merasa lega dan mengatakan bahwa keputusan ini sangat tepat. Bahkan jika aku tidak menikah, mereka masih sanggup untuk menghidupiku.
Setelah menarik diri dari pernikahan, Ruben menggangguku sampai beberapa hari. Dia baru berhenti setelah aku memblokir semua kontaknya.
Bab 3
Awalnya aku berpikir bahwa hidupku dan hidupnya tidak akan saling berkaitan lagi.
Aku tidak menyangka bahwa akan terjadi sesuatu seperti ini.
Aku langsung beranjak dari tempat tidur, mandi, berganti pakaian, mengambil tas dan bergegas keluar rumah.
Taman Kenari gedung 6. Aku naik lift menuju pintu masuk apartemen nomor 801.
Ruangan itu memang berantakan.
Kulit kacang dan kulit kuaci berantakan dari lift sampai lorong. Ada jejak sepatu, abu rokok dan tisu yang berserakan di lantai.
Pantas saja pihak properti sampai mengeluh. Jika aku jadi tetangga rumah ini, aku pasti juga akan marah-marah.
Ada banyak dekorasi di sisi kanan pintu apartemen 801, bahkan ada buket bunga besar.
Aku melangkah mendekat dan menyadari bahwa kunci apartemen yang lama sudah dicungkil dan diganti dengan yang baru.
Tanpa kunci pun aku masih bisa masuk.
Aku mengulurkan tangan dan mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
Aku mengeluarkan palu kecil yang sudah aku siapkan dari tas, lalu menghantamkannya langsung ke pintu. Suaranya sangat keras.
Aku memukulkannya belasan kali sebelum ada orang yang membuka pintu.
"Sial, aku pikir ada gempa bumi!"
Seorang wanita tua berusia sekitar lima puluhan menjulurkan kepalanya dari ambang pintu dan memelototi aku dengan mata menyipit.
"Siang-siang begini menggedor rumahku, apa kamu gila?"
"Wah, berani sekali kamu bilang begitu. Kata siapa ini rumahmu?"
Aku langsung bergegas ke depan, membuka pintu dengan paksa dan bergegas masuk tanpa berpikir panjang.
Tata letak rumah tidak berubah, hanya ada tambahan foto pernikahan Ruben dan istrinya yang tergantung di dinding. Rumah ini didekorasi dengan meriah, bahkan sampai ada pita yang membentang. Benar-benar seperti rumah pengantin baru.
"Siapa kamu? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku!"
Ibu-ibu itu mengumpat dengan kesal sambil mengikutiku masuk.
"Orang gila mana yang berkeliaran keluar ...."
Aku tidak mau repot-repot berbicara dengannya dan langsung menuju tiga kamar.
Ada meja kartu di balkon dan kamar tidur kedua, kulit kacang dan kuaci berserakan di mana-mana, bahkan ada bau asap yang begitu menyengat.
Ruang tamu dipasangi fasilitas Karaoke, bahkan layar masih menyala sampai sekarang. Sepertinya mereka habis begadang dan bersenang-senang semalaman.
Aku gemetar karena marah.
Aku menghabiskan banyak uang untuk mendekorasi rumah baru. Aku bahkan belum menempatinya, tetapi rumah ini sudah digunakan untuk mengadakan pesta pernikahan dan menjamu kerabat!
Aku bergegas ke kamar tidur utama dan mengangkat selimut dengan satu tangan. Aku terkejut karena hanya ada seorang wanita setengah telanjang yang terbaring di dalamnya.
"Aahh ...."
Wanita itu menjerit dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa muncul di rumahku?"
Sepertinya wanita itu masih belum mengetahui apa pun.
Aku langsung mengeluarkan ponselku dan merekam video dari kamar tidur ke ruang tamu, dari wanita itu ke ibu-ibu yang membukakan pintu. Aku fokus merekam bagian rumah yang rusak.
Ibu-ibu itu mengejarku, mencoba merebut ponselku.
"Apa yang kamu rekam? Ini rumahku, punya hak apa kamu buat merekam ...."
Aku tidak tahan lagi dan berteriak.
"Sialan, ini rumahku!"
Ibu-ibu menatapku dengan sorot bodoh, bicara dengan nada mengejek.
"Kenapa kamu nggak pergi ke rumah sakit jiwa, kenapa malah ke mari! Ini rumah yang dibeli menantuku untuk hadiah pernikahan!"
"Kamu gila! Kamu ingin punya rumah sampai gila begini?"
Wanita itu juga berpakaian dan bergegas keluar, mengumpat sambil menunjuk hidungku.
"Masuk ke rumahku dan mengambil video tanpa izin. Kamu melanggar privasiku! Kamu melanggar hukum, tahu nggak?"
Sungguh dua orang yang tidak tahu diuntung!
Aku benar-benar tertawa saat sudah tidak bisa berkata-kata.
"Kalianlah yang melanggar hukum!"
Bab 4
"Ibu, kenapa Ibu juga nggak lihat dulu? Kenapa kasih dia masuk?"
Wanita itu mengambil ponselnya dan merekamku dengan alis berkerut.
"Di zaman sekarang ada banyak orang gila. Kalau dia merusak sesuatu atau membuat masalah, kita nggak perlu bicara baik-baik lagi."
Mendengar kata-kata itu, ibu-ibu itu mengambil sapu dan mengacungkannya ke arahku sambil mengancam.
"Pergi dari sini atau aku akan menghajarmu!"
Sambil mengatakan itu, dia bahkan melambaikan sapu di tangannya.
Aku tahu bahwa mereka tidak akan mempercayai apa pun yang aku katakan sekarang.
Lagi pula, buktinya sudah direkam, jadi aku berencana untuk keluar terlebih dahulu. Aku akan menelepon polisi dan membuat laporan ada orang yang masuk ke rumahku tanpa izin.
Namun, baru sampai pintu depan, kepalaku tiba-tiba dipukul, lalu terdengar suara umpatan dan makian ibu-ibu.
"Ternyata benar-benar orang gila! Kalau nggak akan jera kalau nggak diberi pelajaran! Kamu mengganggu kami istirahat, cepat sana pergi! Kalau nggak ...."
Seketika, amarahku langsung terpancing. Aku mengambil sapu dan memukulkannya ke kepala ibu-ibu itu.
"Kamu mau mati! Sudah tinggal di rumahku, berani sekali kamu memukulku!"
Orang bodoh memang akan selalu berkumpul dengan orang bodoh!
Aku awalnya merasa bahwa karena mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, jadi aku tidak perlu menanggapi mereka dengan serius. Namun, aku tidak akan tinggal diam saat mereka memukulku.
Ibu-ibu itu jatuh ke lantai, berguling ke sana ke mari sambil menutupi kepalanya dan berteriak kesakitan.
"Pembunuh! Tolong, putriku, cepat lapor polisi! Cepat! Ada yang menerobos masuk ke rumah dan menyerangku ...."
Wanita muda yang sedang merekam video langsung menarik ibunya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu saat melihatku melawan dengan serius.
Mau menjebakku?
Baiklah, karena mereka sudah lapor polisi, jadi aku nggak perlu lapor polisi lagi.
Tidak lama kemudian, dua orang polisi datang.
"Siapa yang lapor polisi?"
"Pak polisi, aku!"
Mendengar keributan di luar rumah, wanita itu buru-buru membuka pintu dan berjalan keluar sambil menunjuk ke arahku.
"Akulah yang menelepon polisi! Wanita ini tiba-tiba masuk ke rumahku dan mengambil video sembarangan! Dia juga menyerang ibuku!"
Ibu-ibu itu menutupi kepalanya dan berjalan keluar sambil mengeluh.
"Benar, Pak. Cepat tangkap orang ini. Kamu harus membayar biaya pengobatanku dan kerusakan mental putriku!"
Polisi itu menatapku, ada sedikit kecurigaan di matanya.
Wanita itu bahkan menyerahkan ponsel di tangannya.
"Aku merekamnya saat dia menyerang ibuku, ini buktinya."
Aku, "..."
"Pak, aku juga akan melaporkan sesuatu. Mereka masuk ke rumahku tanpa izin, merusak properti di rumah dan dengan sengaja ingin menjebakku."
Ibu-ibu bergegas mendekat dan mengutarakan kemarahannya kepadaku.
"Omong kosong! Ini rumah hadiah pernikahan yang dibeli oleh menantuku!"
Aku pun turut memaki ibu-ibu itu.
"Kamu yang bicara omong kosong! Ini rumahku, menantumulah yang mengganti kunci rumah dan tinggal di rumah ini. Dia berbohong padamu kalau ini rumahnya!"
Melihat kami berdebat tanpa henti, polisi membawa kami ke kantor polisi.
Di dalam kantor polisi, aku langsung mengeluarkan foto sertifikat properti, bukti pembelian, serta gambar renovasi.
Di depan bukti-bukti nyata seperti itu, ibu-ibu dan wanita muda itu masih tidak percaya, masih memaki dan memarahiku. Mereka mengatakan aku penipu dan bersikeras kalau rumah itu milik mereka.
Polisi membujuk baik-baik baik, tetapi didorong oleh ibu-ibu itu. Polisi pun jadi sasaran kemarahannya.
"Kalian pikir aku bodoh? Kalian pasti bekerja sama untuk melakukan penipuan karena ingin mengambil rumah kami!"
"Aku nggak akan tanda tangan apa pun sampai menantuku datang. Kalian tunggu saja ...."
Mendengar pernyataan dan sikap keras kepalanya, polisi yang menerima laporan kami pun memutar matanya dan tanpa bisa berkata-kata.