Bab 1

Suatu hari, aku menerima telepon dari seorang pengembang properti.

Orang itu dengan sopan menasihatiku bahwa meskipun aku sudah menikah, aku tidak perlu sampai membuat keributan sepanjang malam. Banyak tetangga yang mengeluh dan merekalah yang dipusingkan karena berada di antara kedua belah pihak.

Aku menjawab dengan tenang.

"Kalian pasti salah paham, aku saja nggak punya pacar, mana mungkin aku sudah menikah?"

Melihatku masih tidak mau mengaku, pihak pengembang properti mengirimkan video pengawas lingkungan perumahan kepadaku.

Dalam video tersebut, lorong bangunan dihiasi dengan lampu dan tamu datang tanpa henti. Beberapa orang mengiringi pengantin perempuan masuk ke dalam rumah baru.

Pengantin laki-lakinya adalah mantan pacarku, yang sudah putus denganku dua setengah tahun yang lalu.

"Penghuni apartemen nomor 801, aku tahu bahwa pernikahan adalah acara yang membahagiakan, tapi nggak perlu sampai mengundang begitu banyak kerabat dan teman untuk bermain kartu dan karaoke sepanjang malam!"

"Kalian melakukannya sampai beberapa hari, membuat pemilik apartemen di sekitar mengeluh kepadaku. Kalian masih bernyanyi sampai jam setengah tiga pagi, membuat tetangga sebelah nggak bisa istirahat karena terlalu berisik."

"Kalau orang menikah dan membuat acara di rumah, paling acara akan selesai tengah malam dan tamu akan kembali untuk istirahat. Kenapa kalian membuat kebisingan sampai berhari-hari? Itu memang apartemen kalian, tapi lingkungan apartemen milik umum. Kalau terlalu ribut, yang lain pasti akan marah karena nggak bisa istirahat. Kalau sudah begitu, bagaimana kalian akan hidup rukun ke depannya?"

"Pihak properti seperti kami juga serba salah. Aku harap kalian bisa lebih menahan diri. Boleh saja kalau mau main kartu di siang hari, tapi jangan bikin ribut saat malam!"

Hari ini aku libur, jadi aku berencana tidur sampai siang. Namun, aku dibangunkan oleh panggilan telepon yang tidak dikenal di pagi hari.

Mendengarkan suara yang menghardik dari seberang sana, aku pun jadi bingung.

"Apa-apaan ini, siapa kamu? Salah sambung, ya!"

Barulah setelah itu, orang di ujung telepon mulai memperkenalkan diri.

"Dengan Ibu Andrina, pemilik apartemen nomor 801 di gedung nomor 6 Taman Kenari Kota K? Aku pemilik properti di tempat ini."

"Saat mengurus balik nama sertifikat apartemen, aku menambahkan kontak Line milikmu. Aku juga mengundangmu ke grup properti. Kamu bilang akan jarang tinggal di sana, jadi nggak bergabung ke grup."

"Sekarang, kamu menikah dan sedang berbahagia, tapi perhatikan juga dampak bagi yang lain. Aku bukan menyalahkanmu, cuma lagi mengingatkan."

Sebuah pernyataan yang makin membuat otakku mandek.

Siapa yang menikah, aku?

Aku mengatur pikiranku dan teringat bahwa aku memang pernah membeli rumah di Taman Kenari tiga tahun yang lalu.

Saat itu, rumah itu akan digunakan sebagai rumah pernikahan. Namun, hubungan kami kandas dan aku tidak pernah kembali ke sana lagi.

Dua tahun ini aku tinggal di rumah orang tuaku dan sempat mempertimbangkan apakah akan menjual rumah di sana. Lalu, aku ingat kalau harga properti sedang turun, jadi aku mempertimbangkannya lagi karena tidak ingin rugi.

Sekarang, orang ini mengatakan ada yang menikah di rumahku?

"Kalian pasti salah, aku saja nggak punya pacar, mana mungkin aku menikah?"

Orang di ujung telepon menarik napas dalam-dalam dan sepertinya menahan amarahnya. Dia pasti mengira aku mengelak dan mencoba membela diri.

"Begini saja, Bu Andrina. Aku nggak akan banyak bicara dan akan mengirimkan video pengawasan di lingkungan sekitar saat mereka menyambut pengantin perempuan. Aku juga akan mengirimkan video pengawas di lift gedung."

"Aku harap kalian bisa mengurus masalah ini biar nggak ada keluhan lain dari pemilik apartemen di sebelah."

Setelah mengatakan hal itu, ponselku menerima serangkaian pesan.

Aku membukanya dan melihat bahwa video pertama adalah video di pintu masuk area apartemen. Karpet merah terbentang di tanah, mobil penyambut yang dihias dengan bunga terlihat keluar masuk.

Video kedua adalah pengawasan di pintu masuk ke gedung 6 memperlihatkan sekelompok tamu yang keluar masuk dengan berisik. Pengantin pria menggendong pengantin wanita yang kepalanya tertutup kain merah, berjalan masuk ke dalam lift.

Video ketiga adalah video pengawasan di pintu masuk lift lantai 8. Ada sedikit dekorasi di gedung, bahkan ada pita yang dipasang. Pengantin pria menggendong pengantin wanita keluar dari lift, diikuti oleh banyak orang.

Karena menggendong pengantin wanita, pengantin pria sedikit tertunduk, tetapi dia mengangkat kepalanya sedikit ketika keluar dari lift.

Hanya dengan sekali lihat, aku langsung mengenalinya.

Bukankah dia mantan pacarku dan kami putus dua setengah tahun yang lalu?

Bab 2

Ruben, mantan pacarku.

Lebih tepatnya mantan tunanganku. Karena saat putus, kami sudah bertunangan.

Dia berasal dari pedesaan dan memiliki adik laki-laki dan perempuan. Kondisi keluarganya sedikit kurang mampu.

Beberapa tahun yang lalu aku masih muda dan tidak memahami banyak hal. Aku seperti tersihir, memaksa dan bersikeras untuk menikah dengannya.

Melihat sikap keras kepalaku, orang tuaku khawatir aku akan hidup di desa bersamanya dan menjalani hidup yang susah, jadi mereka membelikanku apartemen di Taman Kenari nomor 801.

Setelah membeli apartemen, orang tuaku berharap keluarga Ruben akan mengeluarkan uang untuk renovasi apartemen. Namun, Ruben tidak bersedia melakukannya. Katanya, sertifikat itu bukan atas namanya, kenapa dia harus mengeluarkan uang untuk renovasi?

Lalu, aku menggunakan semua tabungan yang aku kumpulkan dua tahun setelah lulus untuk merenovasi apartemen.

Setelah pertunangan, Ruben tiba-tiba mengatakan bahwa namanya harus ditambahkan ke sertifikat rumah. Kalau tidak, pernikahan tidak akan dilangsungkan.

Untungnya, orang tuaku punya pemikiran yang luar, jadi membeli rumah itu atas nama mereka. Jadi, aku tidak mengurus prosedur pergantian nama.

Ruben memintaku membujuk orang tuaku agar menuliskan nama kami berdua di dalam sertifikat. Meskipun aku begitu mencintainya, tetapi pikiranku tetap jernih.

"Saat renovasi, aku bilang akan menambahkan namamu dalam sertifikat, tapi kamu nggak mau. Kamu sendiri yang nggak mau!"

" Andrina, kenapa kamu nggak ngerti, sih! Apa kita nggak butuh uang buat menggelar pesta pernikahan? Aku sudah kasih enam belas juta sama emas, apa itu bukan uang?"

Ruben menegurku lagi.

"Kamu juga tahu kalau orang tuaku petani, berapa sih yang bisa mereka dapatkan dalam satu tahun? Biaya renovasi bisa sampai dua ratus juta, kalau aku minta uang sebanyak itu sama mereka, bukankah sama saja membunuh mereka?"

"Tapi keluargamu nggak diminta buat bayar rumah, renovasi juga pakai uangku dan orang tuaku."

Aku pun jadi ikut kesal.

"Uang orang tuaku juga bukan yang tiba-tiba ada, mereka bekerja keras untuk bisa mendapatkannya. Kalian nggak kasih uang sepeser pun, tapi mau namamu ada di sertifikat rumah?"

" Andrina, kenapa kamu jadi matre begini? Kita sudah mau menikah, tapi kamu masih perhitungan begini?"

Ruben mulai memainkan triknya lagi.

"Kalau kamu mencintaiku, harusnya ada namaku saja di sertifikat apartemen."

"Kamu nggak tahu malu sekali! Karena kamu nggak mampu beli uang, mereka pakai uang hari tua mereka buat membelikan kita rumah!"

Ini pertama kalinya aku menyadari kalau laki-laki ini benar-benar tidak punya malu.

"Kalau kamu mampu, harusnya kamu beli rumah pakai duit sendiri! Saat itu Ayah bilang kalau uang muka bakal dibayar sama keluargamu dan keluargaku, lalu kita yang bayar cicilannya. Tapi, kamu nggak mau, katanya bebannya terlalu berat! Sekarang, rumah sudah dibeli dan kamu ingin menguasainya sendirian!"

"Jangan buat masalah nggak jelas, aku mau namaku ada di sertifikat. Orang tuamu selalu waspada kepadaku. Aku merasa mereka nggak menganggapku sebagai manusia, jadi aku minta begini!"

Ruben terlihat kesal karena dipojokkan seperti ini.

"Andrina, kamu itu bodoh! Kamu anak tunggal, jadi kalau orang tuamu meninggal, rumah ini akan jadi milik kita! Apa bedanya menambahkan namaku sekarang atau nanti?"

Orang tuaku hidup sehat, tetapi dia benar-benar mengatakan kata-kata seperti itu. Aku marah dan melayangkan satu tamparan kepadanya.

"Orang tuamu yang meninggal! Ruben, aku akhirnya tahu sifatmu yang sebenarnya! Belum nikah saja kamu sudah menginginkan harta orang tuaku!"

Kami bertengkar hebat dan aku memutuskan untuk mundur dari pernikahan.

Orang tuaku merasa lega dan mengatakan bahwa keputusan ini sangat tepat. Bahkan jika aku tidak menikah, mereka masih sanggup untuk menghidupiku.

Setelah menarik diri dari pernikahan, Ruben menggangguku sampai beberapa hari. Dia baru berhenti setelah aku memblokir semua kontaknya.

Bab 3

Awalnya aku berpikir bahwa hidupku dan hidupnya tidak akan saling berkaitan lagi.

Aku tidak menyangka bahwa akan terjadi sesuatu seperti ini.

Aku langsung beranjak dari tempat tidur, mandi, berganti pakaian, mengambil tas dan bergegas keluar rumah.

Taman Kenari gedung 6. Aku naik lift menuju pintu masuk apartemen nomor 801.

Ruangan itu memang berantakan.

Kulit kacang dan kulit kuaci berantakan dari lift sampai lorong. Ada jejak sepatu, abu rokok dan tisu yang berserakan di lantai.

Pantas saja pihak properti sampai mengeluh. Jika aku jadi tetangga rumah ini, aku pasti juga akan marah-marah.

Ada banyak dekorasi di sisi kanan pintu apartemen 801, bahkan ada buket bunga besar.

Aku melangkah mendekat dan menyadari bahwa kunci apartemen yang lama sudah dicungkil dan diganti dengan yang baru.

Tanpa kunci pun aku masih bisa masuk.

Aku mengulurkan tangan dan mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.

Aku mengeluarkan palu kecil yang sudah aku siapkan dari tas, lalu menghantamkannya langsung ke pintu. Suaranya sangat keras.

Aku memukulkannya belasan kali sebelum ada orang yang membuka pintu.

"Sial, aku pikir ada gempa bumi!"

Seorang wanita tua berusia sekitar lima puluhan menjulurkan kepalanya dari ambang pintu dan memelototi aku dengan mata menyipit.

"Siang-siang begini menggedor rumahku, apa kamu gila?"

"Wah, berani sekali kamu bilang begitu. Kata siapa ini rumahmu?"

Aku langsung bergegas ke depan, membuka pintu dengan paksa dan bergegas masuk tanpa berpikir panjang.

Tata letak rumah tidak berubah, hanya ada tambahan foto pernikahan Ruben dan istrinya yang tergantung di dinding. Rumah ini didekorasi dengan meriah, bahkan sampai ada pita yang membentang. Benar-benar seperti rumah pengantin baru.

"Siapa kamu? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku!"

Ibu-ibu itu mengumpat dengan kesal sambil mengikutiku masuk.

"Orang gila mana yang berkeliaran keluar ...."

Aku tidak mau repot-repot berbicara dengannya dan langsung menuju tiga kamar.

Ada meja kartu di balkon dan kamar tidur kedua, kulit kacang dan kuaci berserakan di mana-mana, bahkan ada bau asap yang begitu menyengat.

Ruang tamu dipasangi fasilitas Karaoke, bahkan layar masih menyala sampai sekarang. Sepertinya mereka habis begadang dan bersenang-senang semalaman.

Aku gemetar karena marah.

Aku menghabiskan banyak uang untuk mendekorasi rumah baru. Aku bahkan belum menempatinya, tetapi rumah ini sudah digunakan untuk mengadakan pesta pernikahan dan menjamu kerabat!

Aku bergegas ke kamar tidur utama dan mengangkat selimut dengan satu tangan. Aku terkejut karena hanya ada seorang wanita setengah telanjang yang terbaring di dalamnya.

"Aahh ...."

Wanita itu menjerit dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa muncul di rumahku?"

Sepertinya wanita itu masih belum mengetahui apa pun.

Aku langsung mengeluarkan ponselku dan merekam video dari kamar tidur ke ruang tamu, dari wanita itu ke ibu-ibu yang membukakan pintu. Aku fokus merekam bagian rumah yang rusak.

Ibu-ibu itu mengejarku, mencoba merebut ponselku.

"Apa yang kamu rekam? Ini rumahku, punya hak apa kamu buat merekam ...."

Aku tidak tahan lagi dan berteriak.

"Sialan, ini rumahku!"

Ibu-ibu menatapku dengan sorot bodoh, bicara dengan nada mengejek.

"Kenapa kamu nggak pergi ke rumah sakit jiwa, kenapa malah ke mari! Ini rumah yang dibeli menantuku untuk hadiah pernikahan!"

"Kamu gila! Kamu ingin punya rumah sampai gila begini?"

Wanita itu juga berpakaian dan bergegas keluar, mengumpat sambil menunjuk hidungku.

"Masuk ke rumahku dan mengambil video tanpa izin. Kamu melanggar privasiku! Kamu melanggar hukum, tahu nggak?"

Sungguh dua orang yang tidak tahu diuntung!

Aku benar-benar tertawa saat sudah tidak bisa berkata-kata.

"Kalianlah yang melanggar hukum!"

Cinta Buta Pembawa Petaka

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya