Bab 1

Sebelum menikah, mataku yang buta demi menolong Doni tiba-tiba pulih.

Aku ingin memberi tahu hal ini padanya dengan senang, tapi malah melihatnya sedang bermesraan dengan adik sepupuku.

"Kak Doni, sekarang anak kita sangat sehat, dokter bilang kita sudah bisa melakukan hubungan intim. Bagaimana kalau kita mencobanya di ruang tamu?"

"Selain itu, kakak sedang tidur di kamar, kalau kita melakukan hubungan intim di sini, pasti sangat seru, 'kan?"

"Diam! Kelak jangan pakai istriku untuk bercanda."

Doni memarahinya sambil menciumnya.

Melihat gerakan mereka makin mesra, bahkan napas mereka makin desak, dia baru menyadari kenapa setengah tahun lalu, mereka berdua tiba-tiba suka olahraga dalam ruangan.

Aku menutup mulutku dengan tangan, lalu kembali ke kamar dan mengunci pintu. Sekarang aku tidak berencana memberi tahu Doni kalau mataku sudah pulih.

Aku mengeluarkan ponsel untuk menelepon ibuku.

"Ibu, aku nggak mau menikah dengan Doni lagi, aku mau menikah dengan pria vegetatif dari Keluarga Barata itu."

"Aku nggak mau Doni si pria berengsek itu lagi."

Ketika suasana di luar mulai tenang.

Doni berseru dari luar.

"Amel, aku ada urusan mendadak di kantor. Aku harus pergi sebentar."

Sepupuku, Mita, juga berkata dia perlu keluar untuk membeli roti agar bisa membuatkan roti lapis untukku.

Karena aku tidak menjawab, mereka sadar aku sudah tertidur.

Akhirnya, mereka pun pergi dengan saling bergandengan tangan.

Aku mengikuti mereka dengan hati-hati. Ternyata mereka menuju vila orang tua Doni yang terletak tak jauh dari sini.

Saat pintu terbuka, terlihat adik laki-laki dan perempuan Doni berdiri di sana sambil membawa hadiah.

"Selamat, ya, Kak Mita, atas kehamilannya! Kakak, selamat karena akan menjadi ayah!"

Aku menahan tangisku dengan menutup mulutku.

Lalu, ibunya Doni keluar dari rumah dan menuntun Mita masuk dengan lembut.

"Syukurlah kalau kamu hamil anak Doni. Aku sampai cemas kalau cucu kami nanti mewarisi gen cacat dari si buta itu."

"Akhirnya Keluarga Halim bisa punya cucu yang benar-benar sehat."

"Benar! Kalau bukan karena kakakku pria yang bertanggung jawab, siapa di ibu kota ini yang sudi menikahi Amel si buta?"

"Dia cuma mengandalkan keluarganya yang kaya, sombong, dan seenaknya sendiri. Jelas-jelas nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kak Mita."

Ekspresi Doni tampak makin dingin.

"Tolong hentikan pembicaraan seperti itu. Amel menjadi buta karena menolongku."

Sayangnya, tak seorang pun mempedulikan kata-katanya.

Mereka malah sibuk ribut memilih nama untuk bayi yang akan lahir.

Rasanya dada ini sesak, aku pun langsung berlari pulang.

Air mataku mengalir tanpa henti. Orang-orang yang selama ini begitu ramah, selalu menyebutku adik ipar dengan penuh hangat, ternyata menyimpan kemunafikan yang begitu mengerikan!

Beberapa saat kemudian, ibuku menelepon.

"Amel, Keluarga Barata sudah setuju dengan pernikahan ini. Acara pertunangannya akan diadakan tiga hari lagi."

"Sayang, apa pun yang terjadi, Ibu akan selalu ada di pihakmu. Kalau Doni nggak memperlakukanmu dengan baik, kita cari yang lain saja. Oke?"

"Hmm, oke."

Aku menjawab dengan suara serak.

Sudah lewat tengah malam ketika Doni membawakanku segelas susu hangat, membangunkanku untuk menyuruhku minum. Itu rutinitasnya setiap hari.

Saat aku mencoba mengambil gelas, dia malah menggenggam tanganku.

"Amel, tanganmu kenapa? Apa tadi kamu sempat keluar rumah?"

"Ini semua salahku karena gagal melindungimu. Jangan khawatir, setelah kita menikah nanti, aku janji akan selalu menjagamu tanpa pernah meninggalkanmu."

Ketika dia melihatku gemetar, dengan lembut dia memegang bahuku dan menyodorkan segelas susu ke mulutku.

"Patuhlah, minum dulu supaya nanti bisa tidur nyenyak."

Doni pernah bilang berkali-kali, caraku meminum susu membuatnya merasa seperti menemukan kehangatan rumah. Walaupun aku tidak terlalu suka susu, aku tetap mau menurutinya.

Namun, hari ini berbeda. Setelah dia pergi, aku langsung meludahkan susu yang masih ada di mulutku.

Bab 2

Belum lama berselang, suara Mita terdengar dari arah pintu. "Apa dia sudah tidur?"

Doni diam saja, langsung menggendong orang itu.

Mita tersipu dan memukul lembut bahu Doni.

"Kalau dia belum tidur bagaimana? Kenapa buru-buru sekali."

"Nggak usah khawatir, dosis obatnya cukup kuat. Kalaupun belum tidur, dia pasti mengira sedang bermimpi."

Aku semula mengira itu adalah susu yang melambangkan kebahagiaan dan perhatian, tetapi ternyata hanya penutup aib bagi pasangan jahat itu.

Mita mulai mendesah.

"Dengar-dengar, anak sulung Keluarga Barata yang vegetatif itu mau bertunangan. Mereka mengundangku ke pesta pertunangannya. Sungguh konyol, siapa yang mau mengambil risiko menikah dan hidup menderita dengan orang seperti itu?"

Doni menambah kekuatannya.

"Orang yang pikirannya sempit, mendapat gelar menantu Keluarga Barata saja sudah begitu berharga. Entah siapa yang beruntung bisa mendapatkan itu."

"Apa kamu mau ajak aku ke acara pertunangannya?"

"Jangan bermimpi, orang-orang yang ada di acara seperti itu pasti dari kalangan orang kaya atau berpengaruh. Coba pikirkan baik-baik, aku cuma bisa ajak sepupumu."

Mita berbalik, tidak membiarkannya mencium.

"Kamu bawa orang buta saja nggak malu. Bawa orang buta ke acara yang begitu penting untuk kenalan orang-orang berpengaruh, malah menghambatmu."

"Lagi pula, katanya wanita yang dilirik Keluarga Barata itu berasal dari Kota Saroja. Aku juga besar di sana. Siapa tahu kita punya banyak kesamaan, sekaligus bisa bantu kamu menjalin koneksi."

Doni memutar bola matanya, merasa apa yang dia katakan masuk akal, lalu mengangguk setuju.

"Oke, oke, aku akan membawamu."

Ketika Doni mengeluarkan erangan pelan terakhir dan mendongak, dia langsung bertemu pandang dengan aku yang ada di dalam kamar.

Namun, dalam sekejap, aku langsung menutup mataku.

Doni pun terkejut.

"Aku sudah pastikan pintunya tertutup rapat saat keluar, kok bisa pintu itu terbuka lagi?"

"Mau ditutup atau nggak, nggak masalah. Dia sedang tidur nyenyak sekali sekarang."

"Sudah, jangan pedulikan dia. Temani aku sebentar lagi."

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara dua tubuh yang bertabrakan di ruang tamu.

Hingga fajar menyingsing, akhirnya semuanya sunyi.

Aku tidak bisa tidur sepanjang malam, bantalku basah karena air mata.

Doni, ternyata kamu selama ini menggunakan cara rendah seperti ini untuk merendahkan aku. Baiklah, aku tidak perlu lagi memberikanmu kesempatan.

Hanya setelah mendengar dua orang di luar itu terbangun, aku baru turun dari tempat tidur.

Saat aku hampir sampai di pintu, aku tersandung sesuatu. Aku pura-pura mencari tahu apa itu. Tiba-tiba Doni melompat dari sofa dan berlari menghampiriku.

"Amel, kamu nggak apa-apa? Kamu bangun kok nggak panggil aku?"

Terdengar sahutan suara Mita dengan nada cemburu.

"Cuma terpeleset. Lagi pula ..."

"Diam! Ini gara-gara kamu yang taruh barang sembarangan!"

"Aku ..."

Tatapan dingin Doni langsung membuat Mita bungkam.

Yang membuatku tersandung bukan barang lain, melainkan pakaian dalam Mita, yang semalam dilepas Doni sendiri.

Doni khawatir aku akan bangun, jadi dia langsung menggendongku dan menempatkanku di kursi makan, lalu dengan lembut menyuapiku sarapan.

Akan tetapi, setiap sentuhannya membuatku merasa sangat jijik hingga ingin muntah. Aku hanya bisa menahannya.

"Doni, apa undangan acara pertunangan Keluarga Barata sudah diterima?"

"Kamu mau datang?"

Nada suara Doni terdengar agak terkejut.

"Amel, pernikahan kita tinggal lima hari lagi. Apa kamu bisa tetap di rumah saja supaya nggak terluka? Kalau sampai ada apa-apa, bagaimana kamu bisa jadi pengantinku yang tercantik?"

Kata-katanya terdengar manis, tetapi ekspresi wajahnya penuh rasa kesal dan benci yang nyata.

Perbedaan itu sangat mencolok, membuatku merasa merinding.

Padahal awalnya dia begitu lembut dan penuh perhatian padaku.

Aku menunduk, memakan roti sambil berpura-pura bertanya dengan nada penasaran.

"Aku penasaran, siapa yang akan dipilih Keluarga Barata sebagai menantu."

"Nggak peduli siapa pun itu, asal menyandang gelar menantu Keluarga Barata, langsung bisa naik kelas. Wah, benar-benar beruntung."

"Menurutmu, kalau aku bersedia menikah dengan Keluarga Barata, mereka mungkin bisa menyembuhkan mataku, ‘kan?"

"Haha, meskipun Devan sudah jadi vegetatif, dia juga nggak mungkin menikahi orang buta, ‘kan?"

Doni langsung sadar kalau dia salah bicara.

Dia segera meminta maaf. "Maaf, Amel. Aku akan tetap mencoba menemukan dokter untukmu."

Ternyata, itulah yang ada di pikirannya.

Setelah dia pergi dengan tergesa-gesa, Mita menghampiriku.

Bab 3

Dia memakai baju dan perhiasanku. Kalau dilihat sekilas, memang ada sedikit kemiripan denganku.

Toh, ibu kami adalah saudara kandung.

Dia memandangku dengan sinis, sorot matanya dipenuhi dengan kecemburuan dan keangkuhan.

"Kak, kamu sudah sangat baik padaku. Kasih aku uang, hadiah, bahkan rumah. Tapi, boleh nggak kasih aku satu hal lagi?"

Aku menjawab dengan nada datar.

"Apa yang kamu inginkan?"

"Bagaimana kalau Kak Doni? Kamu tahu nggak? Aku hamil anaknya. Dia senang sekali. Setiap hari nggak sabar nunggu anak kami lahir. Nanti kami akan jadi keluarga kecil yang bahagia. Kamu mestinya sudah nggak cocok lagi buat dia."

"Tahu nggak, selama ini dia sering diejek orang gara-gara kamu yang nggak bisa lihat."

"Kalau kamu benaran sayang dia, lepaskan dia buat kami. Biar dia bisa dengan bangga bilang ke orang-orang kalau dia punya istri yang sehat, bukan yang nggak bisa diajak ke mana-mana."

Aku langsung melemparkan makanan di meja ke arahnya. Dia pun naik pitam, lalu mencengkeram daguku.

"Memang kenapa kalau kamu cantik dan keluargamu lebih baik daripada keluargaku? Sekarang, faktanya, Doni memilihku untuk menemaninya menghadiri acara."

"Jadi, sebaiknya kamu sadar posisi dan bersikaplah baik. Aku dan Doni pasti akan memperlakukanmu dengan baik."

"Toh, kalau dulu kamu nggak menolongku keluar dari Kota Saroja, mungkin aku sudah nggak ada. Aku nggak pernah lupa budi itu."

Selesai bicara, dia pergi sambil melenggak-lenggok.

Perasaan puas karena merasa dirinya di atas angin membuatnya tak menyadari tatapan penuh emosi di belakangnya.

Tiga hari kemudian.

Ibu datang dengan gaun yang dibawakannya untukku. Dia baru menyadari bahwa aku sudah bisa melihat kembali. Dia sangat senang.

Kami baru saja sampai di depan pintu ruang pesta saat ibu dipanggil seseorang dan pergi meninggalkanku. Jadi, aku masuk sendirian.

Tak disangka, Doni dan Mita sudah datang lebih dulu. Mereka berjalan bergandengan tangan seperti pasangan kekasih. Mita sesekali menyentuh perutnya. Setelah orang-orang menyadari jika dia hamil, dia tersenyum malu.

Begitu aku masuk, seseorang memberi kode pada Doni. Saat dia menoleh dan melihatku, ekspresinya langsung cemberut.

Teman-teman Doni langsung menghampiri, mengamatiku dari atas hingga bawah dengan tatapan penuh sindiran.

Aku mengenal mereka semua. Mereka dulu sering memujiku saat aku masih bisa melihat, berharap aku bisa membujuk ayahku agar memberi mereka kesempatan kerja sama. Namun, setelah aku berpacaran dengan Doni, mereka malah berusaha mendekati Doni.

"Amel, biasanya ‘kan kamu sangat mengerti situasi, aku sudah bilang jangan datang, kenapa kamu malah datang?"

Doni terlihat kesal.

Aku menatap Mita yang sedang memutar matanya dengan acuh, lalu bertanya dengan nada dingin.

"Kenapa kamu ada di sini?"

Keduanya langsung terlihat kaget dan cemas, tetapi Doni lebih dulu bereaksi.

"Amel, mata kamu sudah sembuh? Wah, akhirnya kamu bisa jadi pengantin yang sempurna."

Mita menghapus tatapan penuh kebencian di matanya dan pura-pura terkejut.

"Kakak, ini luar biasa. Akhirnya kamu kembali seperti semula. Aku sangat mengkhawatirkanmu selama ini."

Dia berbicara sambil menyeka air mata yang tidak ada, lalu mengulurkan tangannya seolah ingin memelukku.

Saat aku menghindar, entah bagaimana dia tiba-tiba terjatuh.

"Ah, Kak Doni, tolong bantu aku."

Doni yang tampak khawatir segera mendekat dan membantu dia berdiri, dengan ekspresi muram menatapku.

"Amel, minta maaf! Selama ini Mita merawatmu tanpa henti, kenapa sekarang kamu malah bersikap sombong?"

Aku membalas dengan nada keras.

"Dia sebenarnya merawat siapa, aku atau kamu?"

Setelah itu, ekspresi wajah keduanya langsung berubah. Mita mulai meneteskan air mata.

"Kak Amel, aku mengerti kalau kamu jadi sangat sensitif dan curiga karena sakitmu, tapi aku ...."

Dia mencoba bangkit dan meraih bajuku untuk menjelaskan. Namun, ketika aku menepisnya, dia terjatuh lagi dan memegangi perutnya sambil menangis.

Doni tidak bisa lagi menyembunyikan rasa cemasnya, dia menggenggam lenganku dan segera menarikku keluar.

"Amel, ini adalah acara pertunangan Keluarga Barata. Kamu nggak bisa bertindak sembarangan di sini."

Tiba-tiba, seluruh ruangan menjadi gelap, kecuali satu cahaya yang menerangi pintu aula. Cahaya itu mengarah pada seorang pria yang sangat tampan, Devan, pewaris Keluarga Barata. Dia sudah sadar dari komanya.

Semua orang terkejut, tidak ada yang menyangka pria yang terbaring koma cukup lama bisa tiba-tiba bangun.

Dia berjalan melewati kerumunan. Saat bertatap mata denganku, dia menyunggingkan senyumnya.

"Kemarilah, calon istriku."

Aku mencoba melepaskan tangan Doni dan bergerak maju, tetapi dia kembali menghalangiku.

"Amel, kalau kamu tetap bersikeras, jangan salahkan aku kalau Keluarga Halim memutuskan hubungan dan membatalkan pernikahan kita."

"Kak Amel, Devan sudah punya tunangan. Meskipun kamu ingin mendekati orang berkuasa, bukan berarti kamu harus buru-buru seperti sekarang."

Mereka saling menatap, lalu berdiri di sisi kiri dan kananku, berusaha menarikku keluar.

Devan tampak marah. DIa mendekat dengan langkah cepat, lalu menggenggam lenganku.

"Aku penasaran siapa yang begitu berani mengganggu tunanganku."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B70614" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B70614
Salin

Cinta Bisa Tumbuh Lagi

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya