Bab 1
Aku tidak pernah menyangka, setelah terlahir kembali, aku masih saja memilih suami yang salah.
Di kehidupanku sebelumnya, aku memilih tunanganku, Jayden Hanson.
Namun, Jayden malah selingkuh dengan putri kaya gadungan, Clarisse Smith, selama tiga tahun. Mereka bahkan memiliki seorang anak di belakangku.
Demi wanita itu, Jayden bahkan tega menabrakku hingga kedua kakiku lumpuh. Kemudian, dia memberikan posisi penari utama milikku pada Clarisse.
Setelah terlahir kembali, aku memilih menikah dengan adik iparku, Simon Hanson.
Awalnya aku mengira sudah lolos dari takdir yang menimpaku di kehidupan sebelumnya, jadi aku bisa mewujudkan impianku sendiri.
Namun, sebelum mengikuti audisi penentuan penari utama itu, aku kembali mengalami kecelakaan mobil yang sama seperti kehidupan sebelumnya.
Begitu Simon mendapat kabar kecelakaan yang menimpa diriku, dia bahkan tidak ragu-ragu untuk menyinggung orang-orang berkuasa di kota ini. Simon sendirilah yang menjebloskan Clarisse ke penjara.
Aku sangat terharu, sekaligus keliru. Aku mengira kalau pilihan yang aku buat setelah terlahir kembali ini merupakan pilihan yang tepat.
Aku baru tahu setelah lima tahun kemudian, saat mendengar percakapan antara Simon dan putra kami.
Ternyata selama ini, Simon hanya mencintai Clarisse saja. Bahkan putra yang aku lahirkan dengan susah payah juga demikian.
Kalau begitu, aku tidak menginginkan Simon lagi.
Putra seperti ini, aku juga tidak menginginkannya lagi.
Putraku bertanya, "Kenapa? Padahal Ayah juga sangat mencintai Bibi Clarisse."
"Bibi Clarisse tak hanya cantik, juga pandai menari. Bibi Clarisse juga nggak akan mengekangku seperti yang selama ini dia lakukan. Bibi Clarisse tidak akan membuatku kehilangan muka di depan teman-teman sekelasku," tambah putraku.
Suara kekecewaan putraku pun terdengar sampai di luar ruang kerja. Aku merasa kecewa dan sakit hati, sampai kesulitan untuk bernapas.
Di belakangku, putraku sendiri bahkan tidak mau memanggilku Ibu.
Pria setengah baya itu terdiam sejenak, mengelus cincin kawin yang ada di jarinya, lalu mendengkus dan mulai menjelaskan.
"Ibumu terlalu mencintai keluarga ini. Dia juga sangat mencintaimu. Waktu itu demi Clarisse, aku sudah menghianati ibumu. Keluarga yang utuh seperti ini adalah satu-satunya hal yang bisa kuberikan padanya."
Suara putraku yang masih kekanak-kanakan itu terdengar sedikit kebingungan.
"Tapi, bagaimana kalau dia sampai tahu?"
"Ibumu nggak akan tahu."
Simon berkata dengan penuh keyakinan.
"Aku akan merahasiakannya dengan baik. Bahkan kalau dia curiga sekalipun, dia pasti akan memilih memercayaiku demi kamu dan keluarga ini," jelas Simon.
Rasa sakit di hatiku membuat sekujur tubuhku gemetar tak terkendali. Aku berusaha keras untuk kabur dari tempat ini.
Namun tanpa sengaja, aku malah masuk ke ruangan yang selama ini Simon tidak pernah mengizinkan aku masuk.
Awalnya memang tidak ada yang aneh di ruangan ini. Aku sempat mengira semua yang terjadi barusan hanyalah ilusi.
Lalu, aku menemukan beberapa lembar surat hibah aset berharga di atas meja kerja. Surat-surat hibah itu semuanya mencantumkan nama Clarisse Smith sebagai pihak penerima hibah.
Padahal bertahun-tahun ini, aku mengira Clarisse sedang mendekam di penjara. Tapi ternyata selama ini, dia justru mengunakan dana yang disponsori Simon untuk berpartisipasi dalam berbagai ajang kompetisi tari di luar negeri.
Menatap foto-foto Clarisse yang tampak angkuh dan bersemangat, rasa sakit di hatiku semakin menjadi-jadi. Aku merasa sesak dan kesulitan untuk bernafas.
Di belakang foto itu tertulis sebaris tanggal dan sebuah kalimat di bawahnya.
[Hari yang berkesan ini, dilewati bersama seseorang yang berharga.]
Saat itulah aku baru menyadari, setiap bulan saat Simon dan putra kami menghilang secara misterius, ternyata mereka sedang bersama Clarisse.
Di hari ulang tahun Clarisse, mereka pergi ke taman ria dan bermain bersama seharian. Mereka berpelukan bersama saat kembang api bermekaran dan menghias di langit malam. Mereka merayakan ulang tahun Clarisse dengan penuh kebahagiaan.
Di hari yang berkesan itu, di bawah pancaran cahaya aurora, putra kami dengan gembira memanggil Clarisse sebagai ibu mengakuinya sebagai ibu tiri dan memanjatkan doa agar mereka dapat menjadi keluarga yang sesungguhnya di kehidupan selanjutnya.
Mataku terasa perih, tetapi aku tak dapat meneteskan air mata.
Aku tidak pernah menyangka, setelah terlahir kembali, aku tetap jatuh cinta pada orang yang salah.
Kedua orang tuaku memperlakukanku seperti alat mereka. Sejak kecil, aku tidak pernah merasakan kehangatan keluarga. Jadi, aku selalu berharap memiliki keluarga sendiri.
Di kehidupanku sebelumnya, aku tertipu oleh kelembutan tunanganku, Jayden. Lalu, aku pun mati secara tragis di tangannya dan Clarisse.
Saat itu, Simon menangis tersedu-sedu di depan makamku. Dia bahkan menghancurkan perusahaan Jayden demi aku. Aku pikir dia benar-benar mencintaiku.
Setelah terlahir kembali, tanpa ragu-ragu aku pun memilih Simon. Akan tetapi, aku tidak menyangka, malah terjerumus ke jurang lain.
Aku terjebak dalam kehidupan penuh kebohongan yang dibuat Simon. Aku bahkan merasa sangat berterima kasih padanya dan mengira dia adalah sang penyelamatku.
Namun keluarga yang dia berikan ini ternyata palsu.
Pernikahan selama lima tahun ini dan intrik dua kehidupan ini .… Simon, hubungan kita cukup berakhir sampai di sini saja.
Bab 2
Setelah menenangkan diri, aku baru keluar dari ruangan itu dengan kursi roda.
Di depan, aku berpapasan muka dengan suami dan putraku yang sedang mencariku.
"Ibu …."
Wajah putraku terlihat kikuk, ada kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikannya.
Simon menyesuaikan raut wajahnya dan mulai berbicara dengan gugup.
"Molly, tadi kamu masuk ruangan ini?"
Aku tersenyum tenang tanpa mengatakan apa pun.
Melihat raut wajahku yang biasa saja, suami dan putraku pun saling memandang satu sama lain, kemudian mereka menghela napas lega.
Melihat reaksi mereka, hatiku terasa kecut. Aku muak melihat sandiwara mereka, aku pun mengeser roda kursi rodaku berbalik dan bersiap untuk pergi.
Melihat ini, Simon bergegas maju. Bingkai matanya tampak agak memerah. Dengan hati-hati, Simon membopongku ke sofa.
"Molly, jangan khawatir. Aku sudah menghubungi dokter spesialis bedah tulang terbaik di dunia. Dia pasti bisa menyembuhkanmu."
"Kalaupun kamu tak bisa sembuh, aku akan menjadi kakimu dan membawamu berkeliling dunia," lanjut Simon.
Dulu aku mengira dia benar-benar sayang padaku, tetapi sekarang sepertinya semua ini hanyalah air mata buaya.
Bodoh sekali aku, bisa sampai ditipu oleh Simon selama lima tahun.
Simon menatapku seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat nama yang muncul di layar ponsel tersebut, tanpa sadar Simon langsung menyampingkan badan sambil mengengam ponselnya dan menutupi bagian layar ponsel. Dengan panik dia menatapku sekilas dan berbicara dengan lembut.
"Ada panggilan pekerjaan, aku pergi mendengarkan telepon dulu."
Usai berkata demikian, Simon berbalik dan pergi ke balkon. Aku tidak bisa mendengar percakapan panggilan itu dengan jelas, tetapi aku tahu kalau panggilan itu dari Clarisse.
Aku menundukkan kepala dan tidak membongkar kebohongan Simon. Setelah beberapa saat, Simon datang dan berkata padaku dengan penuh rasa bersalah.
"Molly, hari ini aku mungkin tidak bisa menemanimu untuk pemeriksaan lanjutan."
"Guru anak kita barusan menelepon dan bilang ada pameran dirgantara yang sangat jarang diselengarakan. Anak kita sudah lama menantikannya, jadi aku akan mengajaknya pergi melihat pameran," jelas Simon.
Simon pun bertanya, "Bagaimana kalau besok aku baru menemanimu pergi ke rumah sakit?"
Aku mendongak dan menatap Simon, raut wajahnya masih penuh dengan rasa bersalah, seakan-akan dia memang merasa bersalah terhadapku.
Lima tahun kami menikah, aku tidak pernah menyadari kalau dia memang aktor yang handal dan bisa berbohong dengan mudah.
Aku menahan kepedihan dan menatap Simon.
"Simon, bisakah kamu tidak pergi?"
Ini kesempatan terakhir yang kuberikan pada Simon. Kalau dia memilih untuk tinggal, aku akan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
Simon ragu sejenak. Dia berbalik, lalu memelukku dan mencium keningku dengan lembut.
"Pameran dirgantara ini akan membantu memperluas wawasan Stanley. Ini akan bermanfaat bagi perkembangannya kelak. Molly sayang, tunggulah kami pulang. Kami akan bawakan kue lapis kesukaanmu."
Aku tidak menjawab Simon dan berbalik bertanya pada Stanley.
"Benarkah begitu?"
Putraku mengangguk tanpa ragu.
"Ya! Aku sudah lama ingin pergi ke sana."
"Bu, istirahatlah di rumah. Ayah dan aku akan menceritakannya setelah kami selesai menontonnya," lanjut Stanley.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya melirik kedua orang itu, lalu berbicara dengan tenang.
"Oke."
Melihat aku setuju, Simon pun menitipkan aku pada pengasuhku. Dia menyuruh pengasuh itu merawatku dengan baik, lalu bergegas pergi bersama putra kami.
Menatap mereka pergi, air mata diam-diam mengalir di pipiku.
Entah berapa lama waktu sudah berlalu, aku pun mengeluarkan ponselku dan menelepon pengacaraku.
"Bantu aku siapkan surat cerai. Selain itu, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu."
Bab 3
Aku menceritakan semua yang kejadian yang menimpaku pada pengacara. Usai mendengarkan, dia mendengkus tak berdaya.
"Nota kesepakatan damai yang dikeluarkan oleh pihak anggota keluarga memang memiliki kekuatan hukum yang sama. Apalagi kasus ini sudah berlalu lima tahun, kalau ingin meminta pertanggungjawaban Clarisse, kurasa ini mustahil," jelas pengacaraku.
Dia bertanya lagi, "Tentang perceraian ini, apakah kamu sudah memikirkannya baik-baik?"
"Aku sudah memikirkannya. Karena dia begitu mencintai Clarisse, aku akan merestui mereka."
Aku menjawabnya tanpa keraguan.
"Bagaimana dengan Stanley?"
Begitu membahas soal anak, aku terdiam sejenak. Stanley adalah anak yang aku lahirkan dengan mempertaruhkan nyawaku, bisa dibilang dia adalah satu-satunya keluargaku.
Awalnya aku ingin bilang kalau aku juga tidak menginginkan anak seperti itu, tetapi aku tidak tega mengatakannya.
Aku pikir, Stanley masih kecil. Asal aku bisa menjelaskannya, semuanya akan baik-baik saja.
Saat aku hendak mengatakan lagi, sepasang ayah dan anak itu mendorong pintu dan masuk, dengan senyuman yang merekah di wajah mereka.
Saat melihat aku sedang menelepon, Stanley pun menghampiriku dengan rasa ingin tahu.
"Bu, lagi menelepon siapa sih?"
Tatapan Simon juga menunjukkan rasa penasarannya.
"Bukan siapa-siapa, hanya teman lama saja. Kami hanya saling mengobrol."
Aku menutup telepon, lalu mengambil kue lapis di atas meja yang baru dibeli Simon secara khusus untukku dan memasukkannya ke dalam mulutku.
Kue-kue yang dulunya terasa cocok dengan seleraku, sekarang malahan terasa sangat manis sampai membuatku merasa jijik.
Sama seperti pernikahanku yang busuk ini.
Melihatku memakannya, Simon menatapku penuh harapan. "Enak, nggak? Kalau enak, lain kali aku akan membawakannya lagi untukmu."
Putraku juga ikut menatap ke arahku. Aku mengerucutkan bibir dan tersenyum.
"Enak sih, tapi nggak usah deh."
Mendengar ini, Simon seperti sedang menghadapi musuh besar dan segera bertanya, "kenapa?"
Aku menggelengkan kepala. "Dokter memintaku untuk mengurangi makanan manis."
Simon merasa lega. "Kalau begitu nanti setelah kamu sembuh, aku akan beli buatmu lagi."
Aku menundukkan kepalaku dan menatap draf surat perceraian yang telah disusun sementara di ponselku.
Tidak ada kesempatan lain lagi, Simon.
Keesokan paginya, aku menerima telepon dari guru sekolah putraku. Dia mengundangku untuk menghadiri pekan olahraga yang diselenggarakan di sekolah.
Karena kondisi kakiku, biasanya acara sekolahan seperti ini Simon yang menghadirinya.
Aku pikir mungkin Simon lupa, juga takut putraku akan kesepian sendirian, jadi aku pun bergegas pergi ke sekolah.
Sesampai di gerbang sekolah, sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, seorang guru datang menghampiriku dan bertanya dengan sopan.
"Maaf permisi, siapa Anda?"
"Tadi pagi, Anda meneleponku dan mengundangku untuk menghadiri pekan olahraga sekolah. Stanley itu …."
Sebelum aku selesai berbicara, sang guru itu sudah menunjukkan ekspresi kalau dia sudah mengerti.
"Anda asisten rumahnya, 'kan? Stanley pernah bilang kalau orang tuanya mempekerjakan orang cacat untuk mengasuhnya."
Senyum di wajahku langsung membeku. Ternyata bagi Stanley, aku ini hanyalah seorang pengasuh.
Pada saat ini, Clarisse datang dan melambaikan tangannya dan membiarkan guru itu pergi meninggalkan kami. Kemudian, dia menatapku dengan ekspresi jijik.
"Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu. Kamu sungguh menyedihkan."
Clarisse menyilangkan lengannya di depan dada dan tatapan matanya penuh dengan provokasi.
"Lalu, kenapa?"
"Kenapa kamu masih begitu sok sih, dasar sampah. Asal kamu tahu deh, sebenarnya saat awalnya kamu bisa saja disembuhkan. Hanya saja, aku bilang kalau aku ingin menjadi penari utama. Dia pun memenuhi keinginanku, lalu menyuap dokter untuk memberikan obat palsu padamu, membuat saraf kakimu jadi lumpuh total dan nggak bisa berdiri lagi. Aduh, dia begitu mencintaiku sampai membuatku kewalahan."
Tubuhku gemetaran tak terkendali, api kemarahan berkobar dan menjalar di hatiku. Aku berharap bisa bergerak maju dan mencabik-cabik Clarisse menjadi berkeping-keping.
Melihat gerakanku, Clarisse tiba-tiba melangkah ke samping dan langsung terjatuh dari tangga.
Detik berikutnya, aku pun didorong ke lantai. Suara mengamuk pria itu terdengar dari atasku.
"Apa kau gila? Kalau terjadi sesuatu padanya, kau akan menerima ganjaran yang setimpal!"