Bab 2

Jangan tertipu oleh penampilan Linda yang biasanya tampak lemah lembut dan manja, karena dia dianugerahi wajah yang begitu menggoda, pinggang seramping ular air kelabu, dada bulat seperti roti bantal dan pantat semontok buah persik.

Bahkan pria paling kuat pun bisa kehabisan tenaga olehnya.

Kalau terlalu sering begitu, apa tidak berdampak buruk pada tubuh Jacky?

Tapi akhirnya, melihat wajah Jacky yang penuh harap, aku pun mengangguk setuju.

Malam berikutnya, aku membereskan rumah dengan rapi untuk menyambut kedatangan Linda dan Romi.

Romi bahkan lebih tinggi dari Jacky, badannya besar dan gagah karena rajin gym dan main basket. Tingginya lebih dari 190 cm dan bertubuh sangat atletis.

Begitu masuk rumah, tanpa basa-basi dia langsung memelukku dan meremas pantatku beberapa kali, lalu membenamkan wajahnya ke dadaku dan menggosokkannya dengan liar.

“Mami, dadamu lembut sekali. Nggak hanya lebih besar dari ibuku, juga jauh lebih wangi.”

“Hei, jangan sembarangan ….”

Wajahku merona malu dan melanjutkan, “Sudah besar masih saja seperti anak kecil, masih mau menyusui?”

“Bukannya nggak pernah, biarkan aku coba lagilah, mami.”

Usia bicara, Romi malah menciumi dan menggigit dadaku, bahkan sampai menarik dan membuka paksa braku.

Aku berusaha menolak, tapi tubuhku kekarnya membuatku sulit melepaskan diri.

Setelah puas menghisap beberapa kali dan merasa cukup, barulah dia menurunkanku.

“Mami, kamu cantik sekali hari ini.”

Mungkin karena kejadian semalam yang masih membakar perasaanku, kali ini aku justru menikmati tatapan penuh kekaguman Romi.

Tidak sia-sia aku memilih gaun pendek ketat ini.

Sementara itu, Linda juga tampil beda malam ini. Meskipun dia seorang janda, dia tampil memukau dengan balutan gaun merah panjang, dengan mata bulat yang sedikit terangkat di ujungnya, memperlihatkan pesona wanita dewasa yang menggoda, tapi tetap polos.

Jelas sekali, semua ini berkat pelayanan dari anakku!

Aku melirik Jacky dengan kesal. Dasar bocah, tenaga banyak juga bukan untuk dihamburkan seperti ini!

Linda tampak gelisah. Begitu masuk dapur, sambil membantuku menyiapkan sayuran, dia tampak ingin bicara tapi ragu-ragu.

Aku menepuk pantatnya pelan dan berkata, “Ada apa? Katakan saja.”

Linda mengusap-usap pantatnya sambil tersipu, lalu menjawab pelan, “Kemarin aku ke kamar mandi dan menemukan Romi lagi memuaskan dirinya sendiri. Aku sempat menggodanya sedikit.”

Aku memandang Linda dengan tatapan tidak percaya, “Untuk apa kamu menggodanya?”

Wajah Linda langsung dipenuhi rasa sesal.

“Iya, aku benar-benar menyesal. Aku hanya mau bercanda, tapi sejak itu dia malah menjauhiku.”

“Laki-laki itu paling pantang diganggu saat lagi begitu, jangan sampai malah memengaruhi fungsi bagian itunya.”

Kataku cemas.

Ekspresi Linda tampak makin berat, lalu dia mendekatiku dan berbisik, “Aku mau minta bantuanmu.”

“Apa itu?”

Dengan wajah memerah, Linda membuat gerakan dengan kedua tangannya, membentuk lingkaran dengan jari-jari tangan kiri dan menusukkannya dengan jari telunjuk tangan kanan, gerakan yang jelas artinya, “Tolong bantu lihat Romi masih normal atau nggak.”

Jantungku langsung berdegup kencang. Tanpa sadar, pikiranku teringat kembali pada momen saat Romi memeluk dan mencium tubuhku tadi.

Tubuh kekarnya, lengannya yang kuat dan sesuatu yang besar menekan perutku.

Mana mungkin dia tidak normal.

Pasti luar biasa!

“Aku … ee ….” Aku yang sudah lama tidak merasakan sentuhan lelaki, jadi lemas mendengar permintaan Linda.

Bahkan untuk menolak pun rasanya tidak ada kekuatan.

Sampai duduk di meja makan pun, aku masih belum sepenuhnya sadar.

Aku sempat mendengar Romi dan Jacky berbisik-bisik, samar-samar tertangkap ucapan, “Malam ini … ibumu dulu … baru ibuku ….”

Bab 3

Tubuhku terasa panas, tanpa sadar aku menuangkan anggur merah ke mulutku.

Tak lama kemudian, Linda berpura-pura mabuk dan bersandar di paha Jacky.

Meskipun aku tidak bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan, suara “blub blub” yang keluar dari mulut Linda terasa sangat memalukan dan membuat tubuhku semakin panas.

Tubuhku semakin panas, tanpa sadar aku terus menuangkan anggur merah ke mulutku.

Aku mulai cemas, jangan-jangan si jalang ini sedang melayani Jacky dengan mulutnya.

Jika sampai Romi tahu, habislah.

Untungnya, perhatian Romi tetap terfokus padaku, dia sama sekali tidak melihat ke arah sana.

“Mami, aku baru belajar titik akupresur khusus, biar kupijat kamu!”

Aku takut dia mengetahui masalah Linda dan Jacky, jadi aku memegang tangannya dan membawanya ke kamar utama, lalu berbaring di atas ranjang.

Yang mengejutkanku, saat Romi meletakkan tangan di pantatku dan mencoba melepaskan rokku, aku tidak merasa tidak nyaman.

Mungkin karena sudah minum terlalu banyak, mungkin juga karena dulu sering bermesraan dengan pria lain, membuatku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini, yang cepat lambat akan terjadi.

Jadi, aku juga tidak hanya tidak menolaknya.

Aku bahkan sedikit mengangkat pinggulku, supaya dia lebih mudah melepaskannya.

“Mami, pantatmu indah sekali, montok dan bulat, sungguh indah.”

Tangan Romi memijat bokongku seperti sedang menguleni adonan.

Terkadang cepat dan terkadang pelan, dengan kekuatan yang pas.

Wajahku menempel di bantal, rambut panjang yang kusut menutupi pipiku, juga menutupi rasa maluku.

Seiring tangan Romi semakin lancang, kakiku mulai gemetar dan bokongku tanpa sadar mengencang dan mengendur.

Namun, di dalam hati muncul perasaan kegembiraan dan gairah karena melanggar dan melakukan hal yang buruk.

Mungkin karena aku tidak menolak, membuat Romi semakin berani.

Tangannya bergerak ke atas melintasi celah pantatku, membuka kaitan bra dan dia pun melanjutkan, “Tubuhmu juga putih seperti krim dalam kue vanila.”

Lalu, napasnya tiba-tiba menyentuh bagian bawah pinggangku, lalu dia menggigit pelan pantatku.

Ujung lidahnya yang hangat dan lembap meluncur dari tulang ekorku, mengikuti lekuk pinggang hingga ke leher, lalu berhenti di belakang telingaku, “Melihatmu begini, rasanya mau langsung menghajarmu ….”

“Uh ….”

Aku bergidik.

Itu rasa geli yang menjalar langsung ke dalam hati, seperti tersengat listrik, membuatku tak bisa menahan diri untuk mengangkat tubuh bagian atas dan gemetar tanpa henti.

Menstruasiku masih sekitar seminggu lagi dan saat ini adalah masa di mana hasratku sedang paling menggebu.

Aku tak bisa menahan diri untuk mengencangkan jari-jari kakiku, menggigit bibir bawah erat-erat, tak berani membuka mulut. Seluruh otot tubuhku menegang, berusaha melawan rasa nyeri dan kesemutan yang menusuk hingga ke tulang.

Takut kalau aku mengeluarkan erangan memalukan.

Begitu akhirnya aku bisa mengatur napas lagi, aku kembali rebah di ranjang, lalu menggoyangkan bokongku sedikit di pelukannya.

“Mami begitu sayang denganmu, tapi kamu malah perlakuin mami seperti ini?”

“Justru karena mami sayang denganku, makanya aku nggak tega biarin mami hidup sendirian tanpa sentuhan.”

Romi menunduk dan menggigit telingaku pelan, sambil berkata, “Aku bakal … buat mami puas sampai melayang ….”

Saat itu juga, terdengar suara erangan Linda dari ruang tamu. Dia dan Jacky sudah mulai.

Seolah mendapat sinyal, Romi langsung menarik turun celana dalamku ….

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B84467" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B84467
Salin

Cinta Beda Usia

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya