Bab 2

Aku akhirnya menyadari, orang yang selingkuh bukan bos, melainkan Jared. Quincy, wanita yang berdiri di depanku dengan penuh amarah ini, memang tidak salah orang. Wanita yang sering disebut Jared sebagai "rekan kerjanya" ini, ternyata adalah selingkuhannya.

Pantas saja Jared tidak berniat menikah denganku dan sikapnya terhadapku selalu dingin dan tidak konsisten. Ternyata di luar sana ada selingkuhan yang menarik perhatiannya. Yang membuatku lebih sakit adalah aku begitu memercayai Jared sepenuhnya, sampai akhirnya wanita ini muncul dan mengungkapkan semuanya di hadapanku.

Aku menatap Quincy yang berdiri dengan berkacak pinggang. Aku hanya bisa menghela napas. "Bu Quincy, tolong tenang dulu. Dalam situasi ini, kita berdua sama-sama korban. Orang yang bersalah adalah Jared."

Namun, sebelum kata-kataku selesai diucapkan, Quincy melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparkannya ke arahku. Aku tidak sempat bangkit atau menghindar. Rantai di sepatu itu menggores wajahku, meninggalkan beberapa luka yang langsung terasa perih.

Quincy tampak seperti kucing garong yang ganas. Dia semakin marah dan berteriak keras, "Jared nggak salah apa-apa! Jared-ku cumaa tergoda sama perempuan licik seperti kamu. Dia cuma khilaf sesaat. Salahnya apa coba?"

Dia kemudian menoleh ke arah kamera yang dipegang salah satu teman-temannya. "Penonton di siaran langsung, kalian lihat sendiri, 'kan? Perempuan ini adalah sumber masalah! Dia bahkan mencoba memaksa Jared menikahinya dengan cara seperti ini."

"Sekarang dia pura-pura nggak tahu apa-apa dan malah menyalahkan Jared! Apa dia pantas dibandingkan denganku? Dia cuma seorang perusak rumah tangga, apa dia selevel denganku?"

Beberapa wanita di belakangnya juga mendekat dengan kamera dan ponsel yang siap merekam. Pandangan mereka penuh hinaan dan kemarahan padaku.

"Iya, benar! Quincy dan Jared sudah bersama sejak kecil. Quincy bahkan bisa masuk ke perusahaan ini berkat Jared! Siapa kamu ini? Berani-beraninya menghancurkan hubungan Quincy dan Jared yang sudah bertahun-tahun?"

Aku mulai merasa bingung dengan semua yang mereka katakan. Aku dan Jared sudah bersama sejak kami lulus kuliah, total tujuh tahun tanpa pernah berpisah sekalipun. Sementara Jared baru mengenal Quincy tiga tahun yang lalu.

Bahkan saat itu, Jared hanya membantu Quincy mendapatkan pekerjaan ini melalui seorang teman, bukan secara langsung. Mana mungkin mereka bisa disebut "teman masa kecil"? Apakah mereka yang telah dibohongi atau aku yang sebenarnya sudah tertipu sejak lama?

Sebelum sepenuhnya sadar dari keterkejutanku, suara Quincy dan penonton di siaran langsungnya kembali mengganggu pikiranku.

"Teman-teman, hari ini aku akan beri pelajaran sama perusak rumah tangga ini! Biar dia tahu rasa dan nggak berani lagi merebut pacar orang lain! Siapa yang kenal perempuan ini? Cari tahu identitasnya dan tuliskan di komentar! Aku mau bantu kalian menghindari orang sepertinya!"

Mendengar hal itu, aku mendongak dan melihat banyak kamera diarahkan ke wajahku. Dengan panik, aku segera menundukkan kepala untuk menutupi wajahku.

"Quincy, jangan keterlaluan! Kamu nggak tahu ya kalau membongkar privasi orang lain itu melanggar hukum?"

Namun sebelum aku selesai bicara, beberapa orang sudah maju dan memegangi tubuhku dengan kasar. Quincy mengarahkan kamera lebih dekat ke wajahku dengan bangga, sementara kakinya menendang keras ke perutku.

"Aku cuma menghajar perempuan nggak tahu malu! Aku ini membantu masyarakat menyingkirkan sampah, siapa yang berani bilang aku melanggar hukum? Lagi pula, kamu tahu kan Jared punya koneksi keluarga yang kuat? Kamu pikir bisa melawannya?"

Dia tertawa sinis, lalu menambahkan, "Pokoknya, kalaupun aku dipenjara hari ini, aku nggak peduli! Jared pasti bakal gunakan koneksinya untuk mengeluarkanku! Huh."

Dalam sekejap, rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhku. Otakku terasa kosong.

Quincy menyerahkan kameranya kepada salah satu temannya, lalu menggulung lengan bajunya dan mulai memukul perutku dengan keras menggunakan tinjunya. Gadis-gadis lain juga mengambil tongkat kayu dan mengayunkannya ke arahku.

Salah satu tongkat menghantam bagian atas kepalaku dengan keras. Telingaku langsung berdengung dan cairan hangat terasa mengalir dari kepala ke wajahku. Penglihatanku jadi buram terkena darah. Segalanya terjadi begitu cepat. Baru setelah aku merasakan darah di wajahku, kemarahanku benar-benar memuncak.

Kenapa aku harus diperlakukan seperti ini? Jared yang selingkuh, tapi aku yang menjadi korban, bahkan dianiaya seperti ini?

Tadi aku memilih bersabar karena merasa Quincy juga korban yang sama sepertiku. Namun, ternyata dia semakin menjadi-jadi dan bertindak seenaknya tanpa batasan.

Aku tidak tahan lagi. Dengan kekuatan yang tersisa, aku menarik tanganku yang ditahan dan berdiri. Gerakanku begitu kuat hingga menjatuhkan beberapa orang di sekitarku. Kemudian, aku melangkah mendekati Quincy dengan tatapan penuh amarah. Tanpa ragu, aku melayangkan pukulan keras tepat ke tulang hidung Quincy.

Terdengar bunyi derakan dan dia terhuyung ke belakang sambil memegangi hidungnya yang mulai berdarah.

Bab 3

Quincy menutupi wajahnya dengan panik, lalu berteriak ketakutan. Ternyata hidung Quincy adalah hasil operasi plastik dan pukulanku tadi cukup kuat untuk membuatnya bergeser. Seperti yang kuduga, saat Quincy mendongakkan kepala lagi, hidungnya terlihat miring ke satu sisi. Ditambah dengan ekspresinya yang meringis kesakitan, wajahnya terlihat sangat lucu.

Aku menyeringai dingin. "Awalnya aku pikir kita berdua adalah korban yang nggak tahu apa-apa dan bisa bekerja sama untuk membuat si Jared berengsek itu menanggung akibatnya. Tapi nggak kusangka, kamu sebodoh itu sampai langsung ingin membunuhku. Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku nggak segan lagi!"

Aku pernah belajar taekwondo. Jadi, jika benar-benar mau berkelahi, Quincy bukanlah tandinganku.

Quincy melihat teman-temannya hanya berdiri terpaku, bahkan beberapa dari mereka refleks mengarahkan kamera ke hidungnya yang terlihat konyol. Aku melirik layar kamera mereka, komentar di siaran langsung sudah membanjir, meskipun aku tidak tahu apa yang mereka tuliskan.

Quincy seperti kehilangan akal, lalu mencengkeram rambutnya sambil berteriak, "Kenapa kalian rekam aku? Buang ponsel kalian! Cepat habisi dia sampai mati!" Dia berteriak lagi, "Perempuan nggak tahu malu! Akan kutunjukkan akibatnya merebut pacarku!"

Sambil berteriak, Quincy mengambil tongkat kayu dan menyerangku. Kami bergulat dengan sengit.

"Kenapa kalian cuma diam? Panggil orang ke sini!" teriak Quincy dengan panik ketika melihat beberapa temannya sudah terkapar di lantai akibat seranganku.

Tak lama kemudian, sekelompok pria dan wanita yang menunggu di luar pintu mendorong pintu masuk dan menyerbu ke dalam aula. Aku mencoba melawan, tetapi beberapa pria berhasil mencengkeram tanganku erat-erat. Mereka menyeretku di atas panggung, lalu merusak dekorasi yang berjatuhan ke lantai.

Meski sudah berusaha, kekuatanku tidak cukup untuk melawan mereka. Rambut dan bajuku ditarik keras hingga aku tidak bisa bergerak.

Quincy yang melihat tongkatnya patah akibat tendanganku sebelumnya, tidak berani mendekat lagi. Sebagai gantinya, dia mengambil beberapa pajangan kristal di panggung.

"Perempuan nggak tahu malu! Pakaiannya biasa saja, tapi bisa punya pajangan kristal semewah ini? Jangan-jangan kamu pakai uang pacarku?"

Dia menatap pajangan itu sejenak sebelum tertawa dingin. "Nggak mungkin Jared memberimu uang sebanyak itu! Aku yakin semua ini barang sewaan. Kamu mau pura-pura kaya untuk menipu Jared untuk menikahimu? Mimpi!"

Setelah berkata demikian, dia mengambil vas keramik biru-putih di kakinya dan mulai menghancurkan pajangan kristal di panggung.

Dalam sekejap, kristal, keramik, mutiara, dan benda-benda lainnya beterbangan. Pecahan-pecahan itu tersebar di lantai, menciptakan pemandangan yang kacau.

Bahkan patung naga emas di sisi panggung juga ikut dihancurkan hingga meninggalkan dua lubang besar. Kepala naganya bengkok hingga bentuk aslinya tidak lagi terlihat.

Sambil menghancurkan barang-barang itu, Quincy berkata dengan sombong, "Katanya barang sewaan, 'kan? Akan kuhancurkan semuanya! Aku mau lihat gimana kamu membayarnya!"

Pajangan-pajangan itu memang barang sewaan, tapi semuanya adalah dekorasi yang disewa oleh bos mereka dengan harga tinggi dari perusahaan pernikahan tempatku bekerja. Biaya total dekorasi ini lebih dari 16 miliar.

Awalnya, aku merasa kasihan pada istri bos dan segera berlari mencoba untuk menghentikan Quincy yang sedang mengamuk. Namun, ketika sebuah botol menghantam kepalaku dan darah mulai mengalir dari dahiku, aku tiba-tiba merasa sangat tenang.

Aku menyentuh darah di dahiku yang mengalir deras, lalu menatap dingin ke arah kamera digital yang lampunya berkedip tak jauh dariku. Aku menahan diriku untuk tidak menghentikan Quincy lagi.

Aula perjamuan hotel ini memang tidak memiliki kamera CCTV. Namun, aku punya kebiasaan untuk merekam setiap momen gladi resik pengantin menggunakan kamera digital agar semua detailnya terdokumentasi dengan baik. Barusan, semua yang terjadi sudah terekam dengan sudut terbaik oleh kamera itu.

Baiklah, biar saja dia menghancurkan semuanya. Lagi pula, yang dia hancurkan adalah properti perusahaan tempatku bekerja. Nanti ketika aku menyebutkan nilainya, Quincy harus mengganti sepenuhnya sesuai harga aslinya.

Melihat senyum mengejek di wajahku, Quincy tampak semakin terpicu. "Kamu kenapa senyum? Apa hakmu untuk tersenyum seperti itu?" katanya dengan nada tajam.

Aku tersenyum lebih lebar lagi, lalu menunjuk ke arah gaun pengantin yang diletakkan di pinggir panggung dalam kotak kado. "Aku senyum karena meskipun kamu sudah menghancurkan banyak hal, kamu tetap melewatkan yang paling penting. Selama gaun pengantin itu masih ada, pernikahan tetap bisa dilaksanakan, 'kan?"

Quincy menatapku dengan tatapan tidak percaya, lalu berjalan ke arah gaun itu dan mengangkatnya. Gaun itu adalah gaun pengantin yang sangat mewah dan indah.

"Ini sewaan? Kamu benar-benar bisa nyewa gaun semewah ini?" tanyanya sinis.

Namun, saat dia memperhatikan gaun itu lebih lama, nada bicaranya berubah menjadi kekaguman. "Gaun ini pasti mahal sekali! Cantik banget!"

Tiba-tiba, dia sadar kembali dan menatapku dengan tatapan jahat. "Jangan mimpi! Jared sudah janji, setelah dia dapat promosi akhir tahun ini, kami akan menikah! Dia cuma mau nikah denganku. Nggak peduli seberapa cantiknya gaun pengantinmu, dia tetap nggak akan menikahimu!"

Sambil berbicara, Quincy mulai menempatkan gaun itu di depan tubuhnya, lalu mencoba membayangkan dirinya memakai gaun itu. Dia tampak sangat puas.

"Gaun ini bagus. Anggap saja ini hadiah pernikahan darimu untukku dan Jared!" katanya sambil memeluk gaun itu erat-erat. Senyum di wajahnya begitu lebar hingga lemak di pipinya terlihat menumpuk.

"Baiklah, karena kamu sudah memberiku hadiah, aku maafkan kamu. Ayo, teman-teman, kita pergi!" katanya dengan penuh kemenangan.

Namun, setelah memukul dan merusak segalanya, dia mau pergi begitu saja? Tidak semudah itu.

Aku melipat tangan di dada dan berkata dengan suara dingin dari belakangnya, "Kamu pikir selesai setelah ini? Nggak semudah itu, Quincy.

Bab 4

"Tergantung kamu bisa pakai atau nggak. Bu Quincy, gaun ini memang sudah ukuran terbesar di toko, tapi dengan tubuhmu, aku rasa tetap nggak akan muat. Mau diberikan sama kamu juga nggak ada gunanya, sayang sekali!"

Quincy menoleh ke arahku dengan ekspresi tidak percaya. Dia terkejut melihatku yang penuh luka lebam di wajah, masih bisa bicara dengan nada menghina.

Setelah beberapa saat, dia menunjuk ke arahku dengan jari yang gemetaran. Bibirnya yang gemuk menyeringai, lalu berkata, "Oke, tunggu saja. Lihat apa yang akan kulakukan!"

Lalu, Quincy mulai melepas jaketnya dan mencoba mengenakan gaun pengantin itu. Dua teman di sebelahnya segera membantu menarik gaun itu dengan paksa. Akhirnya, dengan susah payah, mereka berhasil memaksanya masuk.

Namun, gaun itu jelas-jelas sudah berubah bentuk. Bahan sutra berkualitas tinggi memang elastis, tetapi juga sangat rapuh. Begitu ditarik, terdengar suara benang yang mulai robek.

Quincy yang seolah-olah tidak menyadarinya, mengangkat ponselnya untuk melihat bayangannya di layar. Dia memutar-mutar tubuhnya dengan puas.

"Cantik sekali! Kalau begitu, gimana kalau aku langsung melamar Jared hari ini? Jared pasti akan setuju menikah denganku," katanya sambil tertawa puas.

Beberapa temannya menimpali, "Iya, benar! Ada yang bahkan mau maksa menikah, tapi kalau kamu pakai gaun ini pasti jadi kejutan! Jared pasti ...."

Sebelum ucapan itu dilontarkan, terdengar suara kain robek. Semua orang langsung terdiam. Jahitan di bagian pinggang gaun itu telah robek dari pinggang hingga punggung. Lemak Quincy langsung meluber keluar dari gaun itu, membuat pemandangan yang lucu sekaligus memalukan.

Dia berteriak panik sambil menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangan, lalu memekik memerintahkan semua orang untuk memalingkan wajah mereka.

Aku tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil, "Pfft."

Tawa itu langsung membuat Quincy yang baru saja berjuang keluar dari gaun itu lepas kendali. Dia buru-buru mengganti gaun itu dengan kemeja longgar miliknya. Namun, bahkan sebelum sempat mengancingkan kemeja itu dengan benar, dia sudah menyerbu ke arahku seperti orang gila.

"Kenapa kamu ketawa? Apa hak pelakor nggak laku sepertimu mentertawakanku? Kalau nggak kubunuh kamu hari ini, jangan panggil aku Quincy!"

Entah dari mana Quincy mendapatkan sebuah gunting besar dan langsung mengarahkannya ke leherku. Saat aku masih berusaha melawan, tiba-tiba terdengar suara yang familier dari pintu.

"Apa yang kalian lakukan?"

Suasana langsung sunyi. Semua orang memalingkan pandangan ke arah Jared yang berdiri di pintu aula, kebingungan melihat kekacauan yang terjadi.

"Quincy, bukannya kamu yang manggil aku ke sini? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya dengan raut bingung.

Quincy yang awalnya sudah gelap mata, tiba-tiba tersadar dan buru-buru mengganti ekspresinya. Matanya langsung berkaca-kaca, seperti hendak menangis.

"Jared, kamu jahat banget! Kenapa baru datang sekarang? Aku hampir mati dianiaya!" katanya dengan nada manja, lalu melempar gunting di tangannya dan berlari ke pelukan Jared.

Jared langsung memeluk Quincy dengan cemas, lalu menepuk punggungnya untuk menenangkannya.

"Sudah, Sayang, jangan nangis lagi. Siapa yang berani nyakitin kamu? Akan kubalas dia!"

Mendengar ucapan Jared, Quincy kembali menjadi percaya diri. Dia mengangkat wajahnya dengan bangga dan berkata, "Suamiku memang yang terbaik! Tapi tenang, aku sudah hajar dia sampai puas. Biar dia tahu akibatnya mencoba merebut suamiku!"

Quincy lalu merajuk dengan nada manja, "Sayang, kalau ada perempuan lain yang mencoba melamarmu, apa yang akan kamu lakukan?"

Jared memeluk Quincy semakin erat dan berkata dengan tegas, "Sayang, aku sudah bilang berkali-kali. Dalam hidupku, aku hanya mau kamu. Kalaupun perempuan lain pakai gaun pengantin dan melamar di depanku, aku nggak akan meliriknya sama sekali."

Keduanya saling berpelukan dengan mesra di pintu, seolah-olah dunia hanya milik mereka. Orang-orang di sekitar mulai bubar satu per satu.

Namun setelah keramaian reda, Jared akhirnya memperhatikan aku yang masih tergeletak di panggung dengan wajah penuh luka dan mata yang menatapnya penuh keterkejutan.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B99762" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B99762
Salin

Cinta 10 Tahun, Dibalas Dusta

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya