Bab 5
Seketika, surat cerai itu diserahkan ke tangan Bimo oleh pelayan atas isyarat mata Silvia, di atasnya tertulis jelas nama Riana dan namanya!
Terdengar suara sobekan.
Bimo dengan marah merobek dokumen itu, tubuhnya seperti singa yang mengamuk.
"Bagaimana bisa kamu menceraikanku? Bagaimana bisa kamu berani menceraikanku?!"
Silvia berpura-pura menenangkannya.
"Kak Bimo sudah sangat baik pada Kakak, tapi dia masih mau bercerai. Mungkinkah kakak sudah jatuh cinta pada orang lain?"
Mendengar itu, Bimo benar-benar kehilangan akal, dia mencengkeram pergelangan tangan Riana sampai terasa sakit.
"Lepaskan aku, Bimo!"
"Nggak mungkin!"
Mata Bimo memerah, auranya penuh dengan hawa membunuh.
"Siapa pun pria itu, akan kubunuh dengan tanganku sendiri! Selain itu, kamu ...."
"Riana, dalam hidup ini kamu nggak akan pernah bisa meninggalkanku! Kamu milikku dan akan selalu menjadi milikku!"
Tentu saja Bimo tidak berhasil menemukan pria itu.
Namun, dia tidak lagi mengizinkan Riana keluar rumah.
Alasannya terdengar mulia, katanya demi dirinya dan anaknya. Namun, pada kenyataannya, itu tidak lebih dari sebuah penjara.
Di luar vila dipasang sistem keamanan otomatis 24 jam dan dijaga ketat oleh pengawal yang bergantian jaga. Tidak seorang pun diizinkan keluar atau masuk. Semua pelayan diganti dengan wajah-wajah baru. Selain itu, setelah menemukan nomor penerbangan di ponsel Riana, Bimo yang marah besar menyita semua alat komunikasi Riana agar dia tidak bisa berhubungan dengan dunia luar.
"Aku tahu ini menyakitkan bagimu, tapi aku nggak akan membiarkanmu menggugurkan anak yang susah payah kita dapatkan, apalagi sampai kamu meminta pengacara membuat surat cerai!"
"Riana, bersikaplah baik. Aku sudah tanya dokter, semua emosi berlebihanmu saat ini hanyalah efek dari hormon kehamilan. Nanti setelah kamu melahirkan anak kita, kamu pasti akan mengerti."
Mengerti bagaimana membuat anaknya dicap sebagai anak haram oleh orang-orang? Atau mengerti bagaimana suaminya menjadi ayah dari anak wanita lain?
Riana tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap Bimo dengan tenang. Namun, tatapan itu sudah cukup membuat pria yang selalu tidak terkalahkan di dunia bisnis itu kehilangan kewibawaan dan pergi dengan panik.
Riana dikurung selama setengah bulan, melewatkan waktu janji untuk menggugurkan kandungan, juga melewatkan penerbangan yang seharusnya membawanya pergi.
Tidak lama setelah itu, ibu Bimo datang.
Begitu melangkah masuk, dia memerintahkan Riana dengan suara keras untuk berlutut, "Dasar wanita nggak tahu malu. Bukannya Bimo sudah memperlakukanmu dengan baik? Demi menikahi seorang gadis yatim piatu seperti dirimu, dia berlutut di aula leluhur selama tujuh hari tujuh malam dan menerima hukuman keluarga, nyawanya nyaris melayang dan baru berhasil diselamatkan setelah sebulan terbaring di ICU. Dia bahkan menjalani vasektomi untukmu. Tapi bagaimana kamu membalasnya? Kamu malah berselingkuh dan berani mengandung anak haram! Bagaimana bisa ada wanita sejahat dan nggak tahu malu sepertimu? Rasanya aku ingin membunuhmu!"
Di samping, Silvia pura-pura membela, "Kakak hanya nggak tahan hidup kesepian, makanya sering mencari pria di luar. Tolong, maafkan kakak kali ini saja."
Nyonya Ganendra makin marah dan hendak menampar Riana, tetapi Riana menahan pergelangan tangannya dan berkata, "Anakku bukan anak haram!"
"Apa kamu bilang?"
"Aku bilang, anak yang aku kandung adalah anak Bimo."
Wajah Silvia tampak panik, dia segera maju dan menahan Nyonya Ganendra.
"Tante, Kakak hanya berbohong supaya lolos dari hukuman. Cepatlah tutup mulutnya."
Riana malah menampar Silvia, lalu menatap Nyonya Ganendra sambil mengucapkan tiap kata dengan tegas, "Dialah yang mengandung anak haram. Kalau Ibu nggak percaya, sekarang juga aku bersedia melakukan tes DNA!"
Bab 6
Saat Nyonya Ganendra masih ragu, Bimo tiba-tiba menerobos masuk.
Begitu mendengar laporan dari bawahannya bahwa ibunya pergi ke vila, dia langsung menghentikan rapat dan buru-buru pulang.
Dia baru mengembuskan napas lega setelah melihat Riana baik-baik saja.
Namun, pada detik berikutnya, Silvia sudah berlari ke dalam pelukannya, menutupi pipinya yang memerah dan bengkak sambil menangis pilu.
"Kak Bimo, kakak memfitnahku, katanya anak dalam kandungankulah yang anak haram. Hiks, hiks, hiks, padahal dulu aku menyelamatkan nyawanya, tapi dia justru ingin menghancurkanku! Kalau begini, lebih baik aku mati saja!"
Setelah mengatakannya, Silvia berlari ke arah pintu, tetapi Bimo segera menariknya kembali.
Riana memandangi pria yang telah dicintainya selama bertahun-tahun. Meskipun hatinya sudah mati rasa, tetap ada secercah harapan dalam dirinya, harapan bahwa kali ini, Bimo akan mengatakan kebenaran dan menegakkan keadilan untuk dirinya serta anak dalam kandungannya.
Nyonya Ganendra menatap putranya dengan tegang.
"Apakah yang dikatakan Riana itu benar?"
Namun, di mata Bimo hanya tampak sedikit keraguan sebelum akhirnya dia menggeleng.
"Anak yang dikandung Silvia bukan anak haram."
Bimo bahkan menatap Riana dengan penuh permohonan, seakan ingin dia memahami pergulatan dan penderitaan yang dialaminya.
Kekecewaan yang teramat besar membuat hati Riana hancur, meninggalkan kehampaan yang pelan-pelan menelan seluruh dirinya.
Nyonya Ganendra yang marah menamparnya dengan keras.
Bimo hendak maju untuk menghentikannya, tapi Silvia buru-buru menahannya.
"Dengan apa yang sudah dilakukan kakak, wajar kalau tante perlu meluapkan emosinya. Kalau nggak, kesehatannya bisa terganggu karena terlalu menahan marah."
Nyonya Ganendra menepuk punggung tangan Silvia dengan penuh kasih.
"Anak baik, kamu seribu kali lebih berharga daripada wanita hina itu. Sekarang, kamu juga sedang mengandung cucu pertama Keluarga Ganendra. Segeralah pindah ke sini, biar Bimo bisa menjagamu dengan baik."
Setelah mengatakannya, dia menatap Riana dengan penuh kebencian.
"Wanita murahan nggak tahu malu sepertimu nggak pantas tinggal di sini! Segera ceraikan Bimo dan keluar dari Kediaman Keluarga Ganendra sekarang juga!"
Di permukaan, Silvia tampak patuh dan manis, tetapi dia diam-diam menatap Riana dengan senyum kemenangan.
Namun, ketika Silvia yakin dirinya akan segera menjadi Nyonya Keluarga Ganendra, Bimo tiba-tiba menepis tangannya dan menarik Riana ke dalam pelukannya.
Dengan nada tegas, dia berkata, "Riana nggak akan menceraikanku dan nggak akan pernah meninggalkan Kediaman Keluarga Ganendra! Kecuali aku mati, aku nggak akan pernah membiarkan dia pergi dari sisiku!"
Nyonya Ganendra menepuk pahanya dengan marah. Wajah Silvia juga terlihat tidak senang, tetapi dia tetap menahan diri dan mengusulkan jalan tengah.
"Anak yang kukandung memang membutuhkan sosok ayah. Begini saja, aku pindah ke kamar utama dan tinggal bersama Kak Bimo, sedangkan Kakak tinggal di ruang bawah tanah. Anggap saja itu hukuman karena sudah menamparku."
Tentu saja Bimo tidak setuju.
Namun, Nyonya Ganendra langsung memutuskan.
"Kalau hal seperti ini saja kamu nggak mau setujui, suruh saja wanita murahan itu angkat kaki dari rumah ini!"
Akhirnya, Riana pun diantar sendiri oleh Bimo ke ruang bawah tanah yang lembap dan dingin.
"Riana, tenanglah. Setelah ibu nggak marah lagi, aku akan segera memindahkanmu kembali ke atas."
Selama tinggal di ruang bawah tanah, Riana setiap hari mendengar barang-barang milik Silvia terus dipindahkan ke dalam vila.
Silvia tidak terbiasa tidur di ranjang kamar utama, jadi Bimo membongkar tempat tidur yang dipesan khusus oleh Riana kepada seorang ahli dan dibuat selama setahun penuh, lalu menggantinya dengan kasur lateks kesukaan Silvia.
Silvia alergi terhadap serbuk bunga, jadi Bimo mencabut semua bunga matahari yang Riana rawat dengan penuh perhatian, lalu menggantinya dengan kolam renang tanpa batas yang disukai Silvia.
Bahkan, Silvia mengubah ruang musik Riana menjadi kamar bayi. Di hadapan Riana, Silvia menghancurkan piano yang pernah dicat dan dipernis sendiri oleh Bimo untuknya, lalu membakarnya hingga menjadi abu.
"Nggak lama lagi, aku akan sepenuhnya menggantikanmu menjadi Nyonya Keluarga Ganendra. Sementara kamu dan anakmu, aku akan memastikan kamu melahirkan anak haram itu, lalu membuatnya dibenci semua orang hingga mati dalam keputusasaan."
Saat itulah Riana akhirnya mengerti alasan Silvia menyerahkan lembar jadwal operasi aborsi miliknya kepada Bimo.
Karena Silvia ingin membuat Riana menyaksikan sendiri bagaimana anaknya dibenci seluruh dunia dan hancur perlahan.
Begitu melihat Bimo, Silvia langsung mengganti ekspresinya.
"Aku hanya ingin membujuk Kakak agar melahirkan anak ini dengan baik."
Mendengar itu, Bimo tampak begitu kecewa.
"Riana, nggak kusangka sampai sekarang kamu masih berpikir untuk menyingkirkan anak kita. Kamu benar-benar membuatku kecewa!"
Riana bahkan sudah tidak ingin melihatnya lagi.
Yang dia inginkan sekarang hanyalah pergi dari Bimo, mencari tempat di mana dirinya tidak akan pernah diganggu lagi.
Namun, bagaimana caranya Riana bisa menghubungi dunia luar?
Bab 7
Riana mulai bersikap lebih ramah kepada Bimo. Dia bahkan menggenggam tangan suaminya dan menaruhnya di atas perutnya.
"Aku dengar, anak yang sejak kecil mendengarkan cerita dari ayahnya akan tumbuh lebih cerdas."
Sulit sekali melihat Riana yang biasanya bersikap dingin kini mulai melunak dan menunjukkan kasih sayang terhadap anak mereka. Bimo pun gembira bukan main, seharian penuh dia memeluk istrinya tanpa mau melepasnya.
Ketika Silvia mengeluh bahwa perutnya terasa tidak nyaman dan meminta Bimo menemaninya, Bimo tanpa berpikir panjang langsung menolak dengan alasan pekerjaannya terlalu banyak.
Namun, begitu Riana berkata ingin makan sup pangsit isi telur kepiting, Bimo segera membatalkan rapat dan turun tangan memasak sendiri, menyiapkan satu meja penuh hidangan untuk Riana. Dia bahkan berjanji akan datang setiap malam untuk membacakan dongeng sebelum tidur buat anak mereka.
Akhirnya, Silvia tidak sanggup lagi menahan diri. Saat Riana berjalan-jalan di halaman belakang, dia menghadang Riana dengan wajah penuh kebencian.
"Wanita nggak tahu malu! Kamu sudah merebut delapan belas tahun hidupku, sekarang kamu masih ingin merebut suamiku!"
Riana menatapnya dingin sambil tersenyum sinis.
"Pertama, dulu kamu sendiri yang menganggap Keluarga Handoko terlalu miskin dan memilih pergi bersama orang yang menjanjikan boneka Barbie edisi terbatas padamu. Baru setelah mendengar bahwa Keluarga Handoko sudah kaya, kamu datang kembali untuk merebut posisi anak kandung. Jadi, yang nggak tahu malu itu kamu, bukan aku. Kedua, sampai sekarang, nama yang tercantum di buku nikah Bimo masih namaku. Akulah istrinya yang sah!"
Silvia hampir kehilangan akal, tetapi masih memaksakan senyum aneh di wajahnya.
"Kakak, kalau kita berdua jatuh ke air bersamaan, menurutmu Kak Bimo akan memilih siapa?"
Namun, Riana bergerak lebih cepat. Dia menarik pinggang Silvia dan langsung meloncat bersamanya ke kolam renang.
"Riana!"
Tanpa ragu sedikit pun, Bimo segera terjun ke kolam renang.
Silvia dengan panik mengibas-ibaskan tangannya di permukaan air, seolah dirinya bisa tenggelam kapan saja.
"Kak Bimo, aku nggak bisa berenang! Uhuk-uhuk! Aku akan mati!"
Bimo yang semula berenang menuju Riana tiba-tiba berhenti.
Hanya dalam jeda singkat itu, Silvia sudah berpegangan di bahu Bimo dengan wajah pucat pasi.
"Perutku sakit banget, aku nggak kuat lagi. Kak Bimo, tolong aku."
Pantulan cahaya di permukaan air membuat keraguan dan kebingungan di mata Bimo terlihat begitu jelas.
Ternyata, suami yang selalu berkata "kamu akan selamanya menjadi pilihanku yang pertama" pun bisa goyah, hanya karena beberapa kata dari orang lain, hingga ragu apakah dia harus menolong istrinya lebih dulu atau tidak.
Ternyata, sekuat apa pun sebuah sumpah, hanya berlaku pada saat diucapkan. Seiring waktu, semuanya berubah menjadi sebilah pisau yang menusuk tepat ke dada Riana.
Didorong oleh naluri, akhirnya Bimo tetap menolong Riana lebih dulu.
Namun, dia hanya mendorong Riana ke tepi kolam tanpa benar-benar membantunya naik, lalu Bimo segera berbalik dan dengan panik memeluk Silvia, seolah sedang memeluk harta berharga yang nyaris hilang untuk selamanya.
Setelah mengangkat Silvia ke darat dan memanggil dokter keluarga untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, serta memastikan Silvia tidak apa-apa, barulah Bimo teringat pada Riana yang masih berpegangan erat pada pagar kolam agar tidak tenggelam.
Saat Riana akhirnya ditarik ke atas, Silvia telah dibungkus dengan satu-satunya selimut wol di tempat itu. Dia menatap Riana dengan tatapan puas, sementara bibir Riana membiru karena kedinginan.
Bimo tiba-tiba merasakan kegelisahan yang kuat di hatinya. Dia ingin menyelimuti istrinya dengan jaketnya, tetapi tangannya segera ditepis.
"Riana?"
"Nggak perlu. Aku nggak mati di dalam air, apalagi di darat. Aku bisa berjalan sendiri."
Bimo merasakan firasat buruk, seakan sesuatu yang penting akan benar-benar hilang darinya. Namun, tangannya ditahan erat oleh Silvia yang memandangnya dengan mata berlinang.
"Kak Bimo, aku nggak menyalahkanmu karena memilih menyelamatkan kakak lebih dulu. Tapi perutku benar-benar sakit, bisakah kamu mengantarku ke rumah sakit?"
Riana pun berjalan pulang sendirian ke ruang bawah tanah. Setelah mengunci pintu dari dalam, dia mengambil sebuah ponsel yang terbungkus plastik dari balik dadanya.
Ponsel itu dia curi ketika menarik Silvia masuk ke air tadi.
Karena terburu-buru, bungkus plastiknya tidak terlalu rapat, tapi untungnya ponsel itu masih bisa digunakan untuk menelepon.
Riana segera menekan deretan angka yang telah dia hafal di luar kepala. Tidak lama kemudian, terdengar suara berat dari seberang sana.
"Siapa ini?"
"Aku, Riana. Aku bersedia menjual hak cipta Kebahagiaan Cahaya Bulan kepadamu. Syaratnya, bawa aku pergi menjauh dari Keluarga Ganendra dan Bimo untuk selamanya."