Bab 1
Anak keluarga kaya yang memperkosa putriku dibebaskan.
Dia melemparkan segepok uang ke wajahku dan menghina,
"Aku akan membuatmu melihat bahwa uang bisa membeli segalanya!"
Saat itu juga, aku sangat ingin membunuhnya.
Pada hari putriku keluar dari rumah sakit, pria yang memperkosanya dibebaskan karena kurangnya barang bukti.
Siaran media memperlihatkan wajah Wisnu Permana, pria yang menghancurkan hidup putriku, serta senyuman di wajahnya yang sok suci dan munafik.
"Publik tentu saja bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aku yakin kita semua tahu seperti apa kelakuan perempuan gila uang. Marissa adalah contohnya. Tapi kalau memang dia kekurangan uang, aku tetap bersedia membantu, haha ...."
Tidak, kami tidak ingin uang sepeser pun darinya.
...
Pertunangan Marissa dibatalkan sehari setelah kejadian itu.
Tunangannya yang mengatakan sendiri.
"Kamu sudah nggak suci lagi. Kamu pikir aku mau terima begitu saja?"
Orang tuanya juga berkata, "Mahasiswa baik-baik nggak akan terlibat hal-hal kotor semacam itu. Dasar nggak punya malu. Aku nggak mau anakku ketiban sial menikah denganmu."
"Aku sudah tahu sejak dulu kamu bukan anak baik-baik. Penampilanmu seperti perempuan yang suka main di luar."
Beginilah, gosip sering kali menjadi pisau tajam yang menusuk paling dalam.
Marissa tidak ingin memperpanjang masalah ini, jadi dia memelukku malam itu. Air matanya berderai dan dia bertanya padaku, dosa apa yang telah dia perbuat.
Kenapa semua ini terjadi padanya.
Aku menatap mata Marissa yang kosong dan hampa. Hatiku pedih tak terkira.
Ya, kenapa semua ini terjadi pada kami.
Aku menghiburnya sangat lama sampai akhirnya dia mau terlelap.
Namun, sebuah notifikasi postingan populer membuat darahku mendidih. Aku sungguh ingin membunuh binatang keji itu.
Wisnu tidak berniat melepaskan Marissa begitu saja.
Dia menempatkan dirinya sebagai korban dan membayar seseorang untuk menuliskan sebuah cerita.
Sebuah cerita pendek. Setiap satu baris yang kubaca membuat tanganku mengepal semakin erat.
Dalam cerita ini, Marissa menjadi wanita murahan yang bersedia melakukan apa saja demi uang. Sementara Wisnu digambarkan sebagai pria suci yang tidak tergoda di hadapan segala macam bujuk rayu wanita.
Tiga hari setelah tindakannya menggiring opini publik itu, Wisnu hilang.
Kejadiannya sangat aneh.
Dia terakhir terekam kamera CCTV di sebuah tempat dekat rumahku.
Di sebuah gang tempat Marissa berjuang untuk merangkak keluar.
Beberapa minggu yang lalu pada malam hari, aku menerima panggilan telepon dari rumah sakit.
Orang di telepon mengatakan bahwa putriku ditemukan pingsan tanpa busana di sebuah gang. Terdapat luka-luka seksual yang parah di tubuh bagian bawahnya, menyebabkan pendarahan hebat. Dan ginjalnya juga hilang ....
Marissa masih berusia 20 tahun.
Masa mudanya baru saja dimulai.
Ketika aku tiba di rumah sakit, dia terbaring dengan tenang sendirian. Berbagai macam selang terpasang di sekujur tubuhnya.
Tidak berjiwa, seperti mainan yang sudah rusak dan nyaris hancur.
Aku bersimpuh di sudut ruangan, meratap tanpa suara.
Maaf, Ibu gagal melindungimu.
...
Marissa tetap tak sadarkan diri selama empat hari sebelum akhirnya membuka mata.
Tatapannya hampa dan mati.
Pada hari ketujuh, dia mengucapkan kata-kata pertamanya.
"Wisnu."
"Wisnu pelakunya."
...
Wisnu adalah bos dari tunangan Marissa.
Pria itu 20 tahun lebih tua darinya. Seorang keturunan keluarga kaya yang terkenal di Kota Jemara.
Mereka dikenalkan oleh Rangga, tunangan Marissa. Dan sejak saat itu, mata Wisnu selalu tertuju pada Marissa.
Ke mana pun Marissa pergi, Wisnu selalu muncul, pura-pura bertemu secara kebetulan.
Anehnya, Rangga sebagai pacar justru seolah mendorong mereka semakin mendekat.
Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, aku menampar putriku.
Kuperingatkan dia agar segera putus dengan Rangga dan menjauh dari kedua pria itu.
Tapi Marissa mengatakan bahwa mereka cinta sejati dan cinta mereka lebih berharga dari emas.
Dia meminta aku selalu berharap yang terbaik untuk mereka.
Dan bahkan menyuruhku berhenti curiga tanpa alasan.
Aku tersenyum pahit dan menatap putriku yang tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.
Cinta sejati apa? Tidak lebih dari sekadar jebakan saja.
Pada minggu kedua di rumah sakit, Marissa akhirnya bisa merasakan jari-jarinya lagi.
Hal pertama yang dia lakukan adalah menelepon polisi.
Marissa menggenggam tanganku sambil menunggu polisi. Suaranya bergetar.
Dia berkata, "Bu, di gang itu ada CCTV ...."
Napasku tersendat. Aku tahu betapa besar keberanian yang dikumpulkan putriku untuk mengucapkan kalimat ini.
Tanpa menunda-nunda lagi, aku langsung naik taksi dan pergi ke tempat kejadian setelah menghiburnya sebentar.
Namun, sesampainya di tempat, petugas keamanan tidak mengizinkanku masuk ke ruang pengawasan. Alasannya karena tidak mau melanggar aturan.
Baru setelah aku mengeluarkan uang 4 juta yang kubawa dalam tasku, dia mengizinkanku masuk.
Petugas keamanan itu mengawasi gerak-gerikku dengan cermat, seolah takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Bab 2
Kamera pengawas selalu menyala setiap hari selama satu bulan ini, kecuali pada malam saat Marissa diserang!
Gang itu tak bernoda, seperti baru dibersihkan. Tidak ada bekas atau sisa-sisa darah sedikit pun.
Aku duduk lumpuh di lantai. "Mana rekamannya? Mana rekaman CCTV malam itu!"
"Kameranya kebetulan sedang rusak hari itu. Ibu lihat sendiri, saya sudah menunjukkan semuanya. Nggak ada keperluan lain lagi? Saya masih harus lanjut kerja."
Benarkah hanya kebetulan?
Memikirkan wajah rapuh Marissa, aku memejamkan mata menahan rasa pilu.
Kenapa? Kenapa langkah pertama kami terjebak jalan buntu?
Pukul 11 malam, aku kembali ke rumah sakit dengan senyum yang dipaksakan.
Begitu membuka pintu, aku melihat Marissa meringkuk di kaki tempat tidur seperti burung ketakutan, menatap nanar ke arah belakang pintu.
Saat aku melangkahkan kaki, terdengar suara samar dari balik pintu.
Suara seperti gemeresik pakaian yang bergesekan dengan dinding.
Aku awalnya mengira itu cuma ilusi karena mental yang tegang.
Tapi kemudian, suara helaan napas seorang pria terdengar jelas di telingaku.
Bangsal ini yang sunyi. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Punggungku merinding seketika dan Marissa juga semakin menggigil.
Dia takut, takut pada pria asing ini.
Leherku yang kaku perlahan menoleh ke belakang. Melalui cahaya redup yang masuk dari celah pintu, aku melihat bayangan seseorang.
Tinggi dan kekar.
Ada seorang pria yang bersembunyi di balik pintu. Seseorang yang bisa mengambil nyawa kami kapan saja.
Sebuah tangan perlahan terulur dari celah pintu dan meraih leherku.
Cengkeramannya semakin kuat dan napasku semakin sulit.
Aku berusaha mati-matian untuk menahan gemetaran di tubuhku dan mencoba mendorong tubuh pria itu. Sayangnya, jarak dan perbedaan tinggiku dengannya membuat usahaku mustahil sama sekali.
Aku akhirnya meraba-raba ponsel di saku.
Dengan sekuat tenaga, aku menghantamkannya ke pergelangan tangan yang mencekikku.
Teriakan kesakitan pun terdengar. Perasaan tercekik di leherku terlepas.
Orang yang bersembunyi di balik pintu melangkah keluar sambil tertawa.
Dia menjambak rambutku keras-keras dengan wajah arogan dan berbisik di telingaku.
"Kejutan!"
Darah di sekujur tubuhku membeku.
Suara ini sangat familier di telingaku sampai hampir terukir dalam jiwa dan ragaku.
"Wisnu, bajingan! Beraninya kamu datang ke sini!"
Aku menggeram dan memelototinya, mengabaikan rasa sakit dari kulit kepalaku yang terkoyak. Aku mengangkat tanganku dan menampar wajahnya.
Wisnu tiba-tiba tersentak dan menghempaskanku dengan keras ke lantai.
Lalu dia menjambak rambutku dan menyeretku di lantai. Seperti melempar benda mati, dia menghempaskanku ke samping tempat tidur Marissa ....
Dari lantai, aku menyaksikan tanpa daya saat dia mendekati Marissa.
Aku berjuang dengan seluruh tenagaku untuk menyerangnya, bahkan menggigit kakinya sampai berdarah.
Tidak ada yang berguna.
Dia menginjakkan kakinya di perutku.
"Kita pacaran, suka sama suka, ya 'kan?"
Wisnu mengangkat sehelai rambut Marissa dan mengendusnya pelan.
Dia menunggu jawaban dari Marissa tanpa terburu-buru.
Seiring berjalannya waktu, kaki yang menginjak perutku lambat laun menekan dengan semakin keras.
Sampai aku tidak tahan lagi dan hampir pingsan, tapi ...
"Ya!"
Marissa akhirnya bicara.
"Nggak! Cepat bilang nggak! Brengsek, Wisnu, mati saja sana!"
Aku berteriak sekuat tenaga.
Wisnu berdiri, merapikan jasnya yang agak kusut, lalu mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan melemparkannya ke wajahku. "Bu Guru Soraya, uang bisa membeli segalanya. Kamu sudah setua ini, masih belum paham juga?"
"Atau uangnya masih kurang? Bilang saja. Apalagi Marissa sudah menyumbangkan ginjalnya untukku. Hahaha ...."
"Hubungi aku waktu kalian mau uangnya lagi."
Rasa putus asa merasuki hatiku.
Saat Wisnu pergi dan pintu kamar tertutup rapat, Marissa berkata, "Bu, aku nggak akan menuntut ...."
Kalimat itu mengantarkanku jatuh tak sadarkan diri.
Aku tidak menuruti kata-kata Marissa.
Laporan polisi tetap kulanjutkan dan berkas-berkas pengadilan telah kuajukan.
Di kantor polisi, aku ditanyai apakah bukti-buktinya ada.
Aku menggeleng.
"Nggak ada saksi, bukti fisik, pakaian yang dikenakan saat itu, atau cairan tubuh yang tertinggal?"
Rekaman CCTV tidak ada.
Pakaian .... Tidak ada sehelai benang pun saat putriku ditemukan hari itu.
Cairan tubuh yang tertinggal .... Aku teringat wajah sombong Wisnu dan hanya bisa menggelengkan kepala.
Polisi itu mengerutkan kening dan menatapku. "Bukannya putri Ibu ditemukan orang? Pernyataan saksi juga bisa membantu."
...
Sebelum datang ke kantor polisi, aku sudah menemui saksi mata ini, seorang pekerja bangunan.
Bab 3
Seorang pria yang tampak sederhana dan jujur.
Setelah mengetahui tujuan kunjunganku, ekspresinya tiba-tiba berubah. Dia menyangkal semuanya, mengatakan bahwa dia tidak keluar rumah sama sekali malam itu. Istrinya juga memperkuat pengakuannya dan menimpali bahwa dia selalu bersama suaminya sepanjang malam.
Tapi dia adalah harapan terakhirku.
Aku berlutut dan memohon agar dia bersedia menolong Marissa.
Pria itu juga ikut berlutut dan berkata, "Tolong jangan paksa aku. Ada belasan orang di rumah yang harus kuberi makan. Aku nggak bisa membantumu. Aku ingin tetap bertahan hidup!"
...
Aku menatap balik petugas polisi di depanku dan menggeleng lagi.
"Nggak ada." Suaraku gemetaran. "Nggak ada sama sekali."
Polisi itu mendesah dan memberiku segelas air.
"Ibu ingin melaporkan kasus pemerkosaan dan transplantasi organ ilegal, tapi belum ada buktinya. Saya mengerti perasaan Ibu, tapi kami nggak bisa mengajukan kasus begitu saja tanpa barang bukti. Begini saja, Ibu pulang dulu hari ini, pikirkan lagi, lalu kembali ke sini lain waktu."
Pikirkan lagi? Memikirkan apa?
Seluruh emosi terpendamku benar-benar meledak pada saat itu. Aku menangis dan berkata, "Bayangkan kalau itu anakmu! Sialan! Itu anakku, anakku!"
Saat berjalan keluar dari kantor polisi, aku tahu.
Kami tidak bisa memenangkan gugatan ini ....
Marissa keluar dari rumah sakit hari ini, tapi aku bahkan tidak berani melangkah kembali ke sana.
Hingga aku menerima telepon dari rumah sakit. Katanya, putriku mencoba bunuh diri dengan memotong pembuluh nadinya, dan baru saja diselamatkan.
Aku berlari ke rumah sakit.
Marissa tergeletak seperti boneka usang di ranjang rumah sakit.
"Aku kotor. Aku sudah nggak lengkap lagi."
"Bu, maaf, aku salah."
"Aku harusnya menuruti perintahmu."
Dia mengulang-ulang beberapa kalimat itu dengan linglung.
Kata-kata penghiburan berhamburan menuju ujung lidahku, tapi bibirku tidak bersuara.
Seorang perawat menyerahkan sebuah telepon genggam kepadaku. Yang kulihat di sana adalah foto-foto Marissa di gang malam itu.
Berbagai sosial media dan situs web dipenuhi komentar-komentar jahat. Bahkan ada orang-orang mesum yang menanyakan alamat kami!
Aku mencengkeram ponsel itu dan tidak bergerak sedikit pun.
"Bu Soraya, kamu suka kejutannya? Sudah kubilang, jangan macam-macam. Atau kamu memang ingin Marissa mati?"
"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir. Kalau kamu menolak, nasib Marissa hanya akan berakhir dengan menyedihkan."
Saat melihat pesan teks itu, aku menatap putriku dengan putus asa.
Apakah tragedi itu akan terulang kembali?
Tujuh puluh dua jam setelah hilangnya Wisnu, polisi mengetuk pintu rumahku.
Aku tahu mereka mencurigai aku.
Balas dendam untuk putriku.
Alasan yang sangat sederhana dan meyakinkan.
Aku saat itu sedang memasak sup daging. Aromanya sangat kuat sampai anjing-anjing di sekitar rumah tertarik, berlomba-lomba mengoyak sisa-sisa tulang yang jatuh di tanah.
Petugas polisi segera mendekat kepadaku begitu memasuki pintu. "Selamat sore, saya Bayu Herdani, kepala satuan reserse kriminal. Ini benar rumah Soraya Gustian?"
Aku menatapnya sekilas dan berkata dengan suara serak, "Benar, ada perlu apa dengan saya?"
Sebelum dia sempat menjawab, aku mengeluarkan beberapa mangkuk berisi sup dari panci, menyerahkannya kepada polisi serta para tetangga yang menonton. "Silakan dicoba. Dagingnya saya masak semalaman."
Seorang ibu-ibu menatap ke arah polisi di depannya, lalu ke arah sup di tangannya. Dia akhirnya tidak bisa menahan godaan aroma lezat dan mulai makan dengan lahap.
Bayu mulai menjelaskan, "Wisnu Permana dilaporkan hilang. Dari penyelidikan kami, dia terakhir terlihat di dekat rumah Ibu."
"Wisnu Permana yang juga dilaporkan atas kasus pemerkosaan dan transplantasi organ ilegal," tambahnya.
Mendengar tambahan itu, mataku memerah dan berkaca-kaca.
Setelah selama ini, hanya Bayu satu-satunya yang mengatakan ini.
Tapi pria itu hanya memegangi mangkuknya tanpa bergerak. Aku pun menatapnya. "Kenapa nggak dicoba? Rasanya enak."
"Ah! Ada apanya di sup ini? Kenapa amis sekali?"
Sebelum aku sempat selesai berbicara, tetanggaku tiba-tiba berteriak dengan suara gemetar dan memuntahkan sepotong daging.
Aku tertawa pelan. Mataku melirik ke arah sup yang menggelegak di atas kompor.
Senyum di sudut bibirku semakin mengembang.
"Aku baru pertama kali pakai bahan ini. Mungkin belum terlalu matang. Lain kali masaknya harus lebih lama lagi."
Seketika, orang-orang yang baru saja makan sup itu mulai muntah-muntah.
Anjing-anjing yang mencabik-cabik tulang di tanah juga diusir oleh polisi.
"Sayang sekali, padahal sangat enak."
Aku mengangkat pandanganku, melihat ke arah Bayu.
"Pernah dengar konsep pengobatan tradisional? Makan makanan dengan bentuk yang mirip dengan organ tubuh tertentu bisa bermanfaat untuk organ tersebut."