Bab 1
Di kehidupan yang lalu, aku merelakan kedua kakiku dilindas hingga hancur demi melindungi suamiku. Mertuaku menganggapku sebagai pembawa sial, beban keluarga, dan menunjukkan kebencian yang mendalam padaku.
Orang tuaku sendiri merasa aku tak berguna dan menyusahkan, sehingga memilih untuk memutus hubungan denganku. Hanya suamiku yang tetap berada di sisiku dan aku selalu mengira bahwa dia mencintaiku.
Namun menjelang kematianku, aku mendengar dia berkata, "Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya nggak bertahan hidup dan membuatku malu."
Kemudian, dia membunuhku secara perlahan-lahan dengan membekapku sampai napasku habis.
Setelah kematianku, dia menikah lagi. Saat itulah aku baru tahu, ternyata selama ini dia menjual kisah hidupnya yang menyedihkan di internet hingga menghasilkan puluhan miliar.
Ketika membuka mata lagi, aku kembali ke saat ketika mobil itu hampir menabrakku. Namun kali ini, aku memilih untuk menyaksikan semua itu dengan ekspresi dingin.
"Brak!" Aku berdiri di tempat sambil menyaksikan tubuh suamiku terpental ke udara setelah ditabrak mobil. Jeritannya yang penuh kesakitan menggema di sekitar dan roda mobil yang tampak tak terkendali menggilas tubuhnya tanpa ampun.
"Krakk!" Suara tulang yang remuk bercampur dengan jeritan memilukan itu membuat orang-orang di sekitar terkejut dan bergidik.
Aku berdiri di antara kerumunan, seolah-olah melihat kembali kehidupanku yang lalu. Dulu, aku yang mendorong suamiku ke tempat aman dan justru tubuhku yang terpental setelah ditabrak mobil. Roda kendaraan itu menggilas kedua kakiku dengan suara yang begitu menyeramkan, hingga orang-orang di sekitar ingin segera memanggil ambulans.
Namun, suamiku menghentikan mereka dan justru membawaku ke klinik kecil dengan motornya. Di sana, aku hampir saja meninggal. Namun, akhirnya aku selamat meski harus kehilangan kedua kakiku dan menjadi cacat seumur hidup.
Mertuaku menganggapku pembawa sial. Dia terus mengeluhkan kejadianku tertabrak dan mendesak suamiku untuk menceraikanku. Orang tuaku memandangku dengan jijik dan menganggapku sebagai beban. Pada akhirnya, mereka memutuskan hubungan denganku.
Hanya suamiku yang saat itu menggenggam tanganku dengan mata berkaca-kaca sambil meminta maaf. Namun kemudian, aku mendengar dia berbisik pelan, "Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu nggak seharusnya bertahan hidup dan membuatku malu."
Setelah itu, dia membunuhku perlahan-lahan dengan membekapku hingga tewas. Kemudian, dia membakar jasadku dan menyebarkan abuku di udara. Aku bahkan tak punya makam sebagai peristirahatan terakhir.
Setelah kematianku, dia menikahi wanita lain dan membawa anak berusia tiga tahun pindah ke rumah mewah yang besar. Saat itulah aku menyadari bahwa suamiku yang berpura-pura miskin di depanku, ternyata adalah seorang influencer dengan kekayaan puluhan miliar dari hasil siaran langsung.
Judul dari konten yang dia buat adalah "Peduli pada Istri Penyandang Cacat" dan video-videonya penuh dengan gambar diriku yang cacat. Dia memanfaatkan rasa simpati orang-orang untuk mengumpulkan uang melalui konten penderitaan yang dia rekayasa.
Kali ini, tanpa pertolonganku, suamiku kehilangan banyak darah dan pingsan. Para pejalan kaki segera menelepon ambulans dan suamiku pun segera dilarikan ke rumah sakit.
Di rumah sakit, mertuaku marah besar. Dia mengangkat tangan dan hendak menamparku dengan keras. "Jalang sialan! Kenapa bukan kamu yang tertabrak?"
Aku sudah bersiap, melangkah mundur untuk menghindari tamparan mertuaku. "Bu, kenapa tiba-tiba mukul orang?"
Wajahnya penuh amarah, menatapku dengan geram, "Kenapa? Kamu bahkan nggak bisa jaga orang dengan benar, masih berani nanya kenapa?"
Aku tetap menatapnya dengan tenang. "Dia punya kaki sendiri. Mana bisa aku hentikan dia?"
"Sejak aku nikah ke sini, nggak pernah ada kejadian begini. Tapi lihat, baru beberapa tahun menikah, anakku sudah jadi seperti ini. Semua karena kamu pembawa sial, kamulah yang bawa bencana pada anakku."
Di koridor, mertuaku terus memarahiku dengan lantang. Beberapa kerabat yang berdiri di sekitar sana juga langsung pergi. Hampir semua orang berdiri di sisinya, menunjuk-nunjuk dan berbisik tentangku.
Di kehidupan sebelumnya, saat aku terbaring di tempat tidur dengan kedua kaki yang diamputasi, mertuaku sama sekali tidak merasa bersyukur ataupun terharu. Bahkan pada para kerabat ini pun, dia tidak pernah mengungkit tentang pengorbananku.
Saat aku mulai siuman, hanya dalam dua hari saja dia sudah mengutukku habis-habisan dan menyalahkanku sebagai pembawa sial yang membawa petaka bagi keluarganya. Kini saat dia mencoba lagi melimpahkan kesalahan padaku, aku memotong ucapannya dengan tegas.
"Anakmu sendiri yang nggak lihat jalan sampai ketabrak mobil. Itu salah siapa kalau bukan dirinya sendiri?"
Mertuaku tertawa dingin, "Dasar jalang, akhirnya kamu nggak bisa pura-pura lagi! Sedari awal aku sudah tahu kamu ini bukan orang baik. Kalau bukan karena anakku yang mau menikahimu, kamu kira kamu bisa masuk ke keluarga ini?"
Kerabat di sekitar mulai menatapku dengan ekspresi penuh penilaian. Aku pun tersenyum dingin dan berkata, "Kalau begitu, kembalikan semua mas kawinku."
Mendengar hal itu, mata mertuaku langsung membelalak. "Apa maksudmu? Siapa yang ngambil mas kawinmu?"
Saat menikah, aku membawa mas kawin beberapa toko, cincin emas, dan uang ratusan juta sebagai mas kawin. Namun, semua itu diambil oleh suamiku dengan alasan agar aku tidak lelah mengurus toko.
Saat itu aku merasa tidak masalah karena kami adalah sekeluarga. Namun tak kusangka, hanya dalam kurun waktu beberapa tahun, suamiku menjual semua toko itu dan hanya menyisakan satu toko. Bahkan uang ratusan juta yang kubawa juga mereka gunakan diam-diam untuk melunasi utang.
Aku marah besar. Namun, suamiku berlutut di depanku dan terus-menerus meminta maaf. Dia bilang, semua utang itu adalah demi biaya pengobatan ayahnya. Dia juga mengatakan bahwa sulit untuk menjalankan bisnis di masa-masa seperti ini. Jadi, sebaiknya toko-toko itu dijual saja untuk mendapatkan sedikit uang.
Tanpa izin dariku, dia diam-diam menjual toko-toko tersebut. Dia menangis dan mengaku bahwa dia melakukan semua ini demi baktinya sebagai anak. Akhirnya aku merasa tidak tega dan memaafkannya.
Sebelum menikah, aku memang sudah pandai berbisnis. Aku mengelola beberapa toko yang menghasilkan keuntungan cukup besar dan menabung ratusan juta sebagai mas kawin. Karena itulah, orang tuaku juga tidak berani banyak mengaturku.
Ketika aku pergi ke satu-satunya toko yang tersisa untuk memantau keadaannya, aku baru sadar bahwa semua stafku telah diganti. Begitu tahu aku pergi ke toko itu, suamiku menelepon dengan nada kesal.
"Kamu itu perempuan, di rumah saja sudah cukup. Urusan bisnis adalah pekerjaan laki-laki."
Suamiku mengatakan bahwa dia tidak ingin dianggap hidup menumpang pada istri dan tidak ingin aku kelelahan. Dia menyuruhku untuk menikmati hidup di rumah.
Namun, sebuah kecelakaan membuatku kehilangan kedua kakiku. Alih-alih membawaku ke rumah sakit yang layak, dia malah membawaku ke klinik kecil yang tak bisa diandalkan. Setelah itu, dia hanya terus berkata bahwa dia menyesal, lalu menangis sambil mengeluh miskin.
Setiap kali membahas soal uang, dia selalu mengatakan bahwa semua uang sudah habis untuk pengobatanku. Sementara itu, mertuaku menyebarkan cerita yang membuat semua orang menganggapku sebagai beban keluarga.
Namun, tak seorang pun yang tahu bahwa jika aku tidak menikah ke keluarga ini, mereka masih akan hidup dalam hari-hari yang dihantui oleh para penagih utang.
Bab 2
"Aku membawa mas kawin 340 juta, enam toko, dan 30-an perhiasan emas. Semuanya telah kamu gunakan untuk membayar utang. Nggak masalah kalau kamu nggak suka sama aku. Kembalikan semua barang-barangku, aku akan pergi sekarang juga."
Para kerabat terkejut mendengar hal itu. "Benaran sebanyak itu? Pantas saja kalian tiba-tiba jadi sukses, ternyata punya menantu kaya."
Wajah mertuaku langsung berubah pucat. "Utang apanya? Mas kawin apaan? Semua itu cuma bohongan, kalian jangan percaya sama ucapannya."
Aku membalasnya, "Nggak masalah kalau kamu nggak mau ngaku, kita bicarakan saja ke kantor polisi."
Mendengar ucapanku, ekspresi mertuaku langsung berubah. "Jalang, kalau sudah nikah, berarti kamu sudah jadi keluarga kami. Memangnya kenapa kalau kami pakai sedikit uangmu?"
Para kerabat mengangguk. "Ya, sudah jadi sekeluarga, nggak perlu dibeda-bedakan lagi masalah uang."
Pada saat ini, pintu ruang operasi terbuka dan suamiku didorong ke kamar perawatan. Mertuaku langsung bergegas bertanya, "Gimana kondisi anakku?"
Sama seperti nasibku di kehidupan sebelumnya, kedua kaki suamiku diamputasi dan menjadi cacat sekarang. Wajah mertuaku pucat pasi. Dia menoleh padaku dan hendak memukulku.
"Jalang sialan, semua ini gara-gara kamu. Kalau bukan karena kamu mau keluar rumah, mana mungkin anakku jadi begini? Dasar pembawa sial! Anakku benar-benar sial menikahimu!"
Saat mertuaku akhirnya pingsan setelah memaki-makiku, aku hanya menatap suamiku yang berbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan mertuaku yang pura-pura pingsan. Kemudian, aku melangkah keluar dari rumah sakit menuju toko milikku.
Biaya operasi mencapai 40-an juta dan biaya inap harian sebesar jutaan rupiah. Kini mereka bahkan masih berharap aku yang membayar semuanya? Tidak mungkin.
Dulu, ketika bisnis toko mulai menurun, aku ingin mencari peluang lain. Namun, suamiku menyuruhku untuk bekerja di luar. Sekarang aku masih bekerja di pabrik dan berjuang mati-matian lembur untuk gaji enam juta per bulan. Dari gaji itu, aku hanya menyisakan sejuta untuk kebutuhan makan, sementara sisanya semuanya diambil oleh suamiku.
Dengan membawa kontrak toko, aku tiba di sana dan melihat para pegawai tampak malas-malasan. Bahkan, ada beberapa karyawan yang tertidur. Aku langsung melunaskan gaji mereka dan memecat semuanya.
Pada saat itu, mertuaku menelepon dan memarahi dengan nada tajam, "Jalang sialan, ke mana kamu? Cepat kembali untuk bayar biaya rumah sakit!"
Aku membalas dengan nada dingin, "Nggak ada uang!"
Mertuaku tertawa sinis, lalu memerintahkan, "Kalau nggak punya uang, pinjam saja dulu gaji beberapa bulan sama bosmu."
Dulu, aku pernah mengalami hal yang serupa. Namun pada akhirnya, suamiku dan mertuaku berpura-pura tidak tahu. Mereka menyangkal bahwa mereka pernah menyuruhku meminjam uang. Aku pun harus merelakan dua juta dari gajiku untuk melunasi utang itu setiap bulan. Akibatnya, jumlah yang kuberikan untuk keluarga berkurang dua juta setiap bulannya.
Suamiku sempat memprotes, "Kamu cukup nyisain sejuta saja untuk keperluan rumah tangga, untuk apa ambil uang sebanyak itu?"
Saat mengungkit soal utang itu, suamiku pura-pura bodoh. "Memangnya ada?"
Mertuaku bahkan menuduhku berselingkuh dan memberikan uang pada pria lain. Sekarang mereka ingin aku berutang lagi? Aku hanya tertawa sinis dan langsung menutup telepon.
Aku merombak toko sepenuhnya, mempekerjakan staf baru, dan mengubah konsepnya dari toko pakaian menjadi tempat yang menjual camilan. Sebelum menikah, toko-toko milikku adalah kedai teh susu, sarapan pagi, dan camilan yang selalu ramai.
Namun setelah menikah, semua toko itu dijual atau diubah konsepnya dan bisnisnya terus menurun. Berkali-kali aku memberikan saran, tetapi suamiku selalu mengabaikannya. Ketika aku bersikeras, dia justru memarahiku, mengatakan bahwa bisnis adalah urusan pria.
Keesokan harinya, suamiku memintaku datang ke rumah sakit. Dengan tampang pucat dan lemah, dia menggenggam tanganku dengan erat dan menatapku dengan penuh kasih.
"Chelsea, keluarga kita sekarang benar-benar kekurangan uang, apalagi setelah kejadian ini. Bsa nggak kamu minjam uang dari pabrik?"
Mertuaku yang sedang memakan kuaci di samping, tertawa sinis sambil menimpali, "Jalang sialan itu langsung menghilang kemarin. Dasar nggak tahu terima kasih."
Siapa sebenarnya yang tidak tahu berterima kasih?
Suamiku memarahinya dengan suara pelan, "Ibu, jangan bilang Chelsea begitu."
Mertuaku tertawa sinis, lalu terdiam. Aku langsung menarik kembali tanganku dan menatap kedua orang itu dengan intens.
Mereka benar-benar kompak memainkan peran masing-masing. Kenapa dulu aku bisa berpikir bahwa suamiku benar-benar berada di pihakku? Ternyata semua itu hanya sandiwara. Yang satu berpura-pura baik, yang satu lagi bersikap kasar untuk mempermainkanku.
Aku menanggapi dengan dingin, "Sudah kutanya, nggak bisa pinjam. Bukannya kamu yang nyimpan semua uangku dulu?"
Suamiku mengerutkan alisnya, "Uang itu bahkan nggak cukup untuk keperluan sehari-hari."
Dia sepertinya lupa saat aku jatuh sakit dan tidak punya uang untuk berobat, aku harus meminta padanya hanya untuk mendapatkan sedikit uang. Saat itu, dia berkata, "Cuma demam, 'kan? Cukup oleskan minyak gosok dan minum obat flu saja. Uang susah dicari!"
Jadi, aku terpaksa meminjam dari teman-temanku.
Saat ini, dia berkata dengan nada memerintah, "Kalau nggak bisa pinjam dari pabrik, kamu pinjam saja dari orang tuamu atau temanmu. Bilang saja kita pasti akan bayar."
Aku tertawa mendengarnya. Tentu saja dia akan membayar ... dengan uangku. Dulu, uang yang kudapatkan setiap bulan akan langsung menjadi miliknya. Ketika dulu aku meminjam enam juta dari teman untuk kebutuhan mendesak, utang itu tidak bisa dibayar bahkan setelah setahun berlalu.
Saat aku menanyakannya pada suamiku, jawabannya selalu sama ... tidak ada uang. Padahal temanku sedang membangun rumah dan membutuhkan dana itu, tetapi dia tak peduli.
Aku terpaksa mengambil pekerjaan tambahan. Setiap kali pulang kerja, aku langsung terkapar kelelahan di tempat tidur. Ketika gaji dibagikan, suamiku ingin mengambilnya. Namun, aku berkata bahwa uang itu untuk melunasi utang pada teman.
Suamiku hanya bilang aku bisa menyimpannya dulu sampai jumlahnya cukup. Namun, akhirnya kami bertengkar selama berhari-hari, sampai akhirnya aku menyerah dan menyerahkan uang itu padanya. Tidak cukup sampai di sana, aku pun terkena sindiran pedas darinya.
Setelah jumlahnya terkumpul, dia menghitung uang yang sebelumnya kupinjamkan untuknya, lalu berkata padaku, "Aku nggak perlu diingatkan untuk membayar utang." Setelah itu, dia memberikan uang itu padaku, lalu menyuruhku untuk melunasinya pada teman.
Sekarang setelah para kerabatnya tidak ada yang mau meminjamkan uang, dia kembali berharap padaku. Aku menatapnya dengan dingin dan berkata, "Nggak ada uang!"
Suamiku terkejut, memandangku dengan tatapan penuh tuduhan, "Kamu sudah berubah."
Mertuaku berseru dengan marah, "Kamu nggak mau minjamin uang, jadi kamu rela melihat anakku mati?" Lalu, dia langsung duduk di depan pintu kamar rumah sakit sambil meratap, "Ya Tuhan, kenapa keluarga kami bisa punya menantu seperti ini?"
Ratapan kerasnya menarik perhatian para perawat. Salah satu perawat mendekat dan bertanya, "Ada apa ini?"
Mertuaku menangis, "Menantuku ini nggak mau bayar biaya rumah sakit!"
Tatapan para perawat segera tertuju padaku. Aku menghela napas, lalu menjelaskan, "Maaf, tapi setiap bulan aku cuma menyisakan sejuta untuk kebutuhan rumah tangga. Selebihnya semuanya kuserahkan pada suamiku. Jadi, aku benar-benar nggak punya uang lagi."
Mendengar itu, mertuaku segera menyembur dengan kata-kata kasar, "Gaji segitu nggak ada artinya! Kalau nggak ada uang, pinjam saja. Jangan pura-pura nggak bisa."