Bab 1

"Bu Kate, kamu sudah enam kali menjalani program bayi tabung supaya bisa hamil. Kamu benar-benar ingin menyerah? Apa Pak Stuart juga setuju untuk menggugurkan anak ini?""Aku yakin, dia akan setuju."

Suara Kate serak setelah semalaman tidak tidur. Namun, pikirannya tidak pernah sejernih ini.

"Operasi sudah kami jadwalkan seminggu lagi."

Seminggu lagi adalah hari ulang tahun pernikahannya dengan Stuart.

Bagus juga. Kalau harus diakhiri, biarlah berakhir dari tempat semuanya dimulai.

Setelah memesan tiket pesawat untuk pergi jauh, tangan Kate perlahan menyentuh perutnya. Di dalam sana tumbuh satu kehidupan kecil yang belum terbentuk sempurna.

Lima tahun terakhir, dia menantikan kehadiran anak ini dengan penuh harap.

Siapa sangka, di hari ketika harapannya akhirnya terwujud, justru dia memilih untuk melepaskan.

Ting tong .... Ponsel kembali memunculkan trending topic yang telah bertahan selama setengah bulan.

Stuart membeli sebuah vila mewah dengan harga tinggi, bahkan menanam sendiri taman penuh mawar sebagai persiapan untuk perayaan ulang tahun pernikahan yang kelima. Sekali lagi, dia mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa hanya Kate yang dia cintai.

Komentar yang tak terhitung jumlahnya, semuanya iri pada kisah cinta mereka.

[ Siapa bilang cinta beda usia nggak bisa bahagia? Pak Stuart sangat tergila-gila padanya. Katanya, Bu Kate lebih tua enam tahun dari dia dan Pak Stuart perlu tiga tahun penuh usaha untuk menaklukkan hatinya. ]

[ Semua orang tahu Pak Stuart sangat mencintai istrinya. Dua tahun lalu saat gempa, Bu Kate terjebak dan Pak Stuart nekat masuk untuk menyelamatkan. Saat berhasil diselamatkan, tubuhnya penuh luka, tapi malah dia yang menenangkan Bu Kate yang ketakutan. Di berita waktu itu, Pak Stuart memeluk istrinya sambil menangis lho! ]

[ Tahun lalu, ada media yang mengejek Bu Kate karena usianya dan bilang dia nggak bisa punya anak. Media itu langsung digugat Pak Stuart sampai bangkrut. Pak Stuart bahkan bilang terang-terangan, dia nggak peduli soal anak, tapi nggak akan biarin siapa pun menyakiti istrinya karena hal itu. ]

Melihat komentar itu, Kate hanya bisa tersenyum pahit. Tidak membiarkan siapa pun menyakitinya, Stuart memang benar-benar melakukan itu. Kalaupun harus menyayat dagingnya, pisau itu tetap dipegang oleh Stuart sendiri.

Saat pertama kali tahu dirinya hamil, Kate begitu bersemangat ingin memberi tahu kabar baik itu kepada Stuart. Namun, yang datang justru sebuah pesan dari orang asing. Isinya adalah foto maternity.

Seorang wanita muda tersenyum manis, sementara Stuart berlutut dengan satu kaki dan mencium perut buncit wanita itu dengan ekspresi bahagia serta puas.

Air mata pun jatuh deras. Hasil dari enam kali program bayi tabung yang penuh rasa sakit, terasa seperti lelucon saat melihat hasil USG di tangannya.

Saat hari pernikahan, Stuart pernah bersumpah, "Seumur hidupku, aku hanya akan mencintaimu seorang."

Namun, ternyata seumur hidupnya hanya bertahan lima tahun. Kalau begitu, Kate tidak ingin lagi memiliki pria bernama Stuart ini. Sementara itu, anaknya tidak boleh dilahirkan dalam kebohongan.

Pintu kamar terbuka. Mata Kate yang merah menatap Stuart. Pria itu langsung panik.

"Ada apa, Sayang? Kenapa nangis? Jangan nangis, biar aku yang selesaikan masalahmu." Stuart melirik sekilas hasil USG di sebelah, tetapi tidak terlalu memperhatikannya. Dia langsung memeluk Kate ke dalam pelukannya.

"Kalau program bayi tabungnya gagal, ya sudah. Aku nggak masalah kalau kita memang nggak bisa punya anak. Aku cuma butuh kamu. Ayo, jangan nangis. Aku sedih lihat kamu begini."

Kate tersenyum, tetapi senyumannya lebih buruk daripada tangisan. Sungguh munafik. Padahal, anak dari wanita lain akan lahir sebentar lagi.

Stuart tidak menyadari perubahan sikap Kate, masih terus menenangkannya, "Sayang, seminggu lagi ulang tahun pernikahan kita. Aku tanam hamparan mawar khusus untukmu, juga siapkan kembang api warna biru. Nanti kita lihat bareng ya? Kamu 'kan paling suka warna biru."

Kate menatapnya dengan tatapan kosong, tersenyum sambil meneteskan air mata. Tampaknya, pria ini sudah lupa dirinya tidak pernah menyukai warna biru.

"Kalau begitu, seminggu lagi aku juga akan kasih kamu hadiah ulang tahun pernikahan," ujar Kate.

Mata Stuart langsung bersinar penuh kegembiraan. Dia menghapus air mata yang dikiranya adalah tangis bahagia itu dengan hati-hati.

"Sayang, aku nggak sabar deh. Aku tunggu kejutan darimu."

Kate hanya menatap hasil USG itu dalam diam. Semoga nanti Stuart benar-benar "terkejut"!

Bab 2

Keesokan siang, Stuart membawa Kate makan siang di rumah keluarganya. Ibu Stuart tidak menyukai Kate. Bahkan saat pernikahan mereka, dia sama sekali tidak hadir.Setelah menikah, Stuart langsung mengajaknya pindah dari rumah dan hanya pulang ke rumah keluarga setiap akhir bulan.

"Sayang, nanti apa pun yang Ibu katakan, jangan dimasukkan ke hati ya. Suamimu ini selalu di pihakmu. Kita makan sebentar, lalu pulang," pesan Stuart sambil menggenggam tangan Kate.

Begitu masuk ke rumah, Kate sudah mendengar tawa ibu Stuart. "Bayinya imut sekali, tangan dan kaki mungilnya itu bikin hati meleleh."

Wajah Kate langsung pucat, langkahnya terhenti di tempat. Orang yang duduk di sebelah ibu Stuart adalah perempuan yang sama di foto maternity itu.

"Dia anak temanku, Winter. Dia sedang hamil, keluarganya di luar negeri. Jadi, temanku minta aku untuk menjaganya. Tadi pagi, aku baru temani dia periksa kehamilan."

Ibu Stuart menggandeng Winter mendekat, lalu menyodorkan hasil USG ke Stuart dengan tatapan penuh makna. "Cepat lihat, bayi ini mirip nggak sama ayah ibunya?"

Tatapan Stuart seketika menunjukkan kepanikan, nada suaranya pun terdengar seperti memberi peringatan. "Jangan bercanda, Bu. Mana mungkin aku tahu? Aku baru pertama kali ketemu Winter hari ini."

Ibu Stuart melirik ke arah Kate, lalu mendorong Winter ke depan. "Kalau begitu, aku perkenalkan dulu ke kamu. Winter, ini Stuart. Panggil Kak Stuart."

Pipi Winter memerah. "Kak Stuart ...."

Stuart mengangguk, lalu langsung merangkul Kate. "Ini kakak iparmu, Kate."

"Halo, Kak Kate."

Hati Kate benar-benar hancur. Tangan yang terkulai di sisi tubuhnya mulai gemetar. Ternyata seluruh keluarga ini tahu tentang Winter, hanya dia satu-satunya yang dibohongi.

"Kenapa, Sayang?" Stuart langsung panik. "Gula darahmu turun lagi ya?"

Dia buru-buru mengeluarkan permen dari sakunya, membuka bungkusnya, dan menyodorkannya ke bibir Kate.

Kate membuka mulut dengan kaku. Itu jelas-jelas adalah permen, tetapi rasanya begitu pahit di lidah.

Stuart meminta pelayan menyajikan makanan, lalu menggandengnya duduk. "Tadi kamu belum sarapan, sekarang makan lebih banyak ya."

Saat melihat Kate memegang gelas, Stuart langsung menggantinya dengan air hangat. "Kamu sebentar lagi mens, jangan minum yang dingin. Nanti perutmu sakit lagi. Udangnya segar banget hari ini, aku kupasin buat kamu."

Sepanjang makan, Stuart hampir tidak makan apa pun, fokusnya hanya pada piring Kate yang selalu penuh.

"Kak Stuart baik banget sama istrinya. Aku sampai iri sama Kak Kate." Tiba-tiba, Winter bersuara, "Aku juga suka udang, Kak Stuart bisa kupasin buat aku juga nggak?"

Dia mendorong piringnya ke arah Stuart, tetapi Stuart sama sekali tidak peduli. "Kalau mau makan, kupas sendiri. Aku cuma kupasin udang buat istriku."

Kate meneguk air hangat, menahan rasa mual yang menyerang. "Kasih dia saja. Aku nggak ingin makan."

Stuart terdiam, lalu memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. "Kalau begitu, aku makan sendiri deh. Masa kamu kasih udang yang aku kupasin ke orang lain sih ...."

Tatapan Kate dipenuhi sindiran. Sudah tidur bareng, tetapi masih berpura-pura seperti ini?

Ibu Stuart meletakkan sendok dengan wajah masam. "Kate, program bayi tabungmu sudah gagal enam kali, 'kan? Pas banget ada Winter di sini, coba tanya-tanya sama dia."

"Bibi, aku nggak punya pengalaman apa-apa. Aku sama pacarku langsung hamil di percobaan pertama. Kebetulan hari itu juga ulang tahunku, mungkin suasana hati juga berpengaruh." Winter menggeleng dengan malu-malu.

"Ya jelas. Menantuku ini sepuluh tahun lebih tua darimu, jelas nggak bisa dibandingkan," sindir ibu Stuart. "Aku berencana mengajak Winter tinggal di rumah, biar lebih mudah dijaga. Siapa tahu bisa ikut kecipratan rezeki dan cepat dapat cucu."

Begitu ucapan itu dilontarkan, Stuart langsung menolak dengan tegas, "Aku nggak setuju."

Tatapan ibu Stuart ke arah Kate semakin dingin. "Kenapa? Karena kamu nggak bisa punya anak, jadi orang lain juga nggak boleh punya?"

"Sudah cukup?" Suara Stuart rendah dan dingin. "Kalau Ibu terus begini, aku nggak akan pernah kembali ke rumah ini lagi."

"Maaf, aku nggak akan ganggu kalian." Winter berdiri dengan mata memerah, lalu cepat-cepat pergi.

Stuart secara refleks bangkit untuk mengejarnya, tetapi langsung sadar dan berhenti di tempat.

"Aku sudah selesai makan," ujar Kate dengan dingin sambil menyaksikan seluruh drama, lalu langsung pergi.

Begitu keluar dari rumah itu, Kate menerima permintaan pertemanan dari Winter.

[ Tanggal 5 Maret itu ulang tahunku, juga pertama kalinya kami bercinta. Dia nggak membiarkanku turun dari ranjang seharian penuh. ]

Hari itu, Kate gagal untuk kelima kalinya dalam program bayi tabung. Dia tidak makan, tidak minum, mengurung diri di kamar selama sehari semalam.

Saat suasana hatinya akhirnya stabil dan dia membuka pintu kamar, dia mendapati Stuart duduk di luar kamar dengan pakaian berantakan. Dia bahkan merasa kasihan dan berusaha menghiburnya.

Ternyata, saat itu Stuart baru saja selesai bercinta dengan Winter. Betapa menyedihkan, betapa menyakitkan.

Selama lima tahun, meskipun telah menerima begitu banyak suntikan, dia tidak merasa sakit. Namun, kali ini dadanya terasa sakit luar biasa, napasnya pun sesak.

"Sayang, kenapa kamu nangis?" Stuart menyusul ke luar. Melihat air mata yang membanjiri wajah Kate, dia langsung panik dan refleks melirik layar ponsel Kate.

Bab 3

Layar ponsel otomatis mati. Stuart tidak mencurigai apa pun. Dia menarik Kate ke pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

"Sayang, jangan nangis. Aku ikut sedih lho. Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya membawamu ke sini dan membuatmu tersakiti."

"Dia memang ibuku, tapi kamu nggak punya kewajiban untuk bersikap baik padanya demi aku. Kamu boleh memukul atau memakiku, asalkan kamu bisa lega."

Sepanjang perjalanan pulang, Stuart terus berusaha menenangkan Kate. Kate memilih menutup mata dan berpura-pura tidur.

Suara notifikasi pesan sesekali terdengar. Stuart pun terus-menerus membalas pesan.

Sesampainya di depan rumah, Stuart mengusap kepala Kate dengan lembut. "Sayang, ada urusan mendadak di kantor yang harus kutangani. Kamu tunggu di rumah ya, aku janji malam ini pulang cepat."

Kate turun dari mobil dengan tenang tanpa melontarkan sepatah kata. Setelah Stuart pergi, Kate menyetujui permintaan pertemanan dari Winter. Kemudian, dia membuka foto-fotonya.

Postingan yang disematkan ada dua foto. Foto pertama, punggung Stuart saat sedang menanam mawar. Foto kedua, hamparan lautan mawar biru.

[ Demi seseorang yang sudah menanamkan mawar biru kesukaanku, aku maafkan sekali ini. Cepat datang dan bujuk aku ya. ]

Dada Kate terasa sesak. Ternyata, yang menyukai warna biru adalah Winter. Bahkan, mawar-mawar itu bukan ditanam untuknya.

Kate langsung memesan taksi dan menuju ke vila tempat mawar itu ditanam. Begitu sampai, dia langsung melihat mobil Bentley hitam milik Stuart.

Tak jauh dari hamparan mawar biru, Stuart berdiri membelakanginya, belum menyadari kehadiran Kate.

"Kalau Kate bisa punya anak, aku nggak akan mencarimu. Dia itu batas terakhirku. Kamu muncul di hadapannya dan masih berani ngambek?" tegur Stuart.

Mata Winter berkaca-kaca. "Kalau begitu, kenapa kamu masih datang mencariku? Biarin saja aku, jangan urus aku lagi."

"Jangan nangis lagi." Suara Stuart melunak. "Selama kamu nurut, aku akan jaga kamu seumur hidup."

Winter pun langsung tersenyum dan memeluknya. "Aku bisa lebih nurut lagi kalau kamu mau."

"Aku sudah kosongin waktu sore ini khusus buat kamu, kamu rasa aku nggak mau?" Suara Stuart terdengar serak. Dia langsung menggendong Winter dan melangkah cepat ke dalam vila.

Winter sempat menoleh ke belakang dan tersenyum sinis ke arah Kate. Dia sudah sadar Kate ada di sana sejak tadi.

Bayangan dua tubuh yang saling menempel terlihat dari balik jendela, terus bergerak dalam siluet yang menyakitkan.

Di tepi jalan, Kate menyaksikan semuanya. Dia merasa tersiksa, bahkan napasnya terasa dingin. Seperti ada kail berduri yang mencabik jantungnya. Setiap tarikan menyebabkan luka berdarah.

"Kamu juga mau foto di sini ya? Hubungan Pak Stuart dan Bu Kate tetap mesra setelah bertahun-tahun, bikin iri deh," ucap seorang wanita yang sedang berfoto di dekat situ.

"Di kehidupan sebelumnya, Bu Kate mungkin adalah pahlawan galaksi. Wanita mana yang nggak ingin punya suami kayak Pak Stuart?"

Kate tersenyum sambil menangis. "Tapi, sekarang dia sudah nggak mau lagi."

Vila yang katanya hanya untuknya, ternyata juga tempat Stuart tidur dengan wanita lain.

Wanita tadi memandang Kate dengan saksama, lalu tertegun. Tak heran banyak orang bisa salah mengenali. Winter memang sangat mirip dengan dirinya saat pertama kali bertemu Stuart. Saat itu, dia baru 24 tahun.

"Ternyata semua laki-laki sama saja," gumam wanita itu dengan ekspresi sedih. "Padahal Pak Stuart termasuk baik, mungkin dia cuma benar-benar ingin punya anak. Sampai wanita simpanannya yang dicari pun mirip kamu."

"Kalau menurutku, lupakan saja. Anggap saja nggak tahu apa-apa. Pulang dan teruskan hidup kalian seperti biasa."

"Nggak mungkin kembali seperti biasa." Suara Kate terdengar ringan.

Fakta bahwa wanita itu mirip dengannya bukanlah alasan untuk bersyukur, malah membuatnya merasa semakin jijik.

Setelah keluar dari vila mawar, Kate pergi ke rumah sakit dan mengambil obat perawatan sebelum melakukan aborsi.

Obat itu diletakkannya di atas meja kecil. Dia menatapnya lama, matanya kosong, hatinya nyaris tenggelam dalam kepedihan.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Stuart masuk dengan terburu-buru. Ada dua kancing bajunya yang salah dipasang, bahkan dia sempat menabrak kursi sampai kursi itu terjatuh.

Dia memandang Kate dari atas ke bawah dengan wajah pucat. "Sayang ... kenapa kamu ke rumah sakit?"

Buah Cinta Pengkhianatan Suamiku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya