Bab 1

Cinta sejati Samuel Dirja diam-diam mengenakan gaun pengantinku. Saat kami berkelahi, dia yang sedang hamil tidak sengaja terjatuh.

Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa dia tidak akan bisa hamil lagi.

Samuel yang murka pun mengirimkanku ke sebuah biara di luar negeri untuk menjadi biarawati.

Setahun kemudian, Samuel datang menjemputku dari biara. Namun, saat dia mengetahui bahwa aku sudah kabur sejak lama dan sekarang menggendong seorang anak, dia memarahiku dengan mata memerah.

"Kamu ingin menikah karena memiliki anak, atau kamu ingin menggunakan anak ini untuk menghina Shinta yang nggak bisa hamil?"

Samuel tentu tidak tahu bahwa anak ini bukan anaknya. Selain itu, aku pun juga akan segera menikah.

Setelah lebih dari setahun tidak bertemu, Samuel masih bersikap sombong seperti biasa.

Namun, aku tetap menahan emosiku, menatapnya dengan mata berbinar sambil berkata dengan nada lembut.

"Kamu salah menebak semuanya."

Kilat penghinaan di mata Samuel tidak berkurang sedikit pun. Bahkan, tersirat sedikit kebanggaan serta ejekan di matanya itu.

"Aku nggak menyangka sifat burukmu sama sekali nggak berubah. Bagaimana mungkin orang sepertimu bisa menjadi menantu Keluarga Dirja?" ujar Samuel.

Pada saat itu, Fandy yang baru berusia sebulan mulai menangis tanpa henti, memotong ocehan Samuel.

Alis Samuel sedikit berkerut. Di matanya bahkan terlintas rasa kasihan pada anak itu. Samuel hendak mengulurkan tangan untuk menggendong Fandy.

Namun, dari kejauhan terdengar panggilan manja, membuat Samuel menurunkan tangannya kembali. Pandangannya langsung tertuju ke arah suara.

"Kak Samuel."

Shinta melangkah mendekat. Begitu melihatku dan Fandy, wajahnya langsung berubah muram.

Namun, dia langsung merangkul lengan Samuel dengan manja, menunjukkan kedaulatan, serta kepemilikannya atas pria itu.

"Kak Samuel, aku nggak tahu kamu datang ke sini mencari Kak Laura. Apakah kehadiranku di sini mengganggu ...."

Samuel langsung menjelaskan.

"Bagaimana mungkin mengganggu? Dia sudah merenung selama setahun, apa mungkin dia masih suka cemburu seperti dulu?"

Samuel mengangkat kepalanya untuk melihat reaksiku, sementara aku hanya tersenyum dengan tenang.

"Bagaimana mungkin kamu mengganggu? Yang mengganggu tentu saja aku. Aku akan pergi dulu," kataku.

Ketika aku hendak pergi, Samuel langsung menarik pergelangan tanganku, lalu memarahiku dengan penuh amarah.

"Aku baru saja mengatakan kalau kamu nggak akan bersikap cemburu lagi, tapi ternyata kamu masih sama seperti dulu. Aku sudah menilaimu terlalu tinggi!"

Jika ini dulu, aku pasti akan patah hati karena dia membela Shinta. Namun, sekarang aku tidak ingin berdebat sepatah kata pun dengannya.

Aku langsung melepaskan diri dari cengkeramannya dengan keras.

"Aku masih harus mengejar pesawat. Kalian berdua silakan lakukan urusan kalian," kataku.

Aku masih memiliki urusan besar yang harus diselesaikan dengan kepulanganku ke tanah air.

Namun, begitu aku menggendong Fandy menuju bandara, Samuel juga menelepon, memesan tiket pesawat untuk mereka berdua pulang ke tanah air.

Begitu naik pesawat, Fandy langsung menangis karena kelaparan. Aku bergegas ke ruang ibu dan anak untuk menyusuinya.

Namun, Shinta langsung menghalangiku, hendak merebut anakku.

"Kak Laura, kenapa kamu nggak bisa menidurkan anak? Fandy terus menangis, biar aku yang menidurkannya."

Aku menghindar dengan cepat, memeluk Fandy erat-erat dengan waspada, lalu berujar.

"Fandy punya asma, biar aku saja yang mengurusnya."

Tak disangka, Shinta malah menangis tersedu-sedu sambil menyeka air matanya.

"Aku nggak akan bisa punya anak lagi. Aku nggak menyalahkan Kakak yang menyebabkan aku keguguran. Tapi apa aku juga nggak boleh menggendong anakmu sebentar saja?"

Begitu Shinta menangis, semua orang di pesawat memandangku, mengira aku yang mengusik Shinta.

Samuel yang mendengar suara itu pun datang, memandangku dengan tatapan merendahkan.

"Laura, apa yang salah kalau Shinta ingin menggendong anak itu? Apa yang dia lakukan sampai kamu begitu nggak mau mengalah? Kamu benar-benar nggak tahu sopan santun!" ujar Samuel.

Aku benar-benar tidak bisa menahannya. Aku menatap Samuel dengan tegas, nada suaraku mengandung peringatan.

"Fandy adalah anakku. Shinta mengalami keguguran karena kecelakaan, kenapa harus menyalahkan aku?"

Begitu aku selesai bicara, Samuel hendak memarahiku, tetapi wanita-wanita lain di pesawat mulai membelaku.

"Setelah mendengarkan sekian lama, ternyata ada yang berpura-pura polos dan menyedihkan hanya untuk merebut anak orang lain. Benar-benar nggak tahu malu!"

"Di depan banyak orang, dia nggak hanya ingin merebut anak orang lain, tapi masih berani menangis juga!"

Shinta dimarahi sampai wajahnya menjadi merah padam, Samuel pun maju untuk membelanya.

"Aku adalah Ayah dari anak ini. Ini urusan keluargaku!"

Pada saat itu, seorang penumpang wanita dari tempat duduk tertentu mencibir memarahi.

"Apa kamu masih bisa disebut sebagai Ayah anak ini? Kamu membantu wanita lain merebut anak itu, bagaimana mungkin kamu bisa menjadi Ayah yang baik?"

"Jangan naik pesawat ini lagi nanti. Melihat sepasang bajingan seperti kalian benar-benar sebuah kesialan ...."

Samuel yang tidak pernah diperlakukan seperti ini murka setengah mati. Dadanya naik turun secara berlebihan, tetapi dia tidak bisa berkata apa-apa.

Shinta bahkan lebih marah sampai menggertakkan giginya. Matanya penuh air mata, sebelum akhirnya dia menangis sambil berlari ke toilet.

Ketika aku hendak mendorong pintu ruang ibu dan anak, Samuel mengangkat tangan untuk menghalangi gagang pintu.

Suara pria itu sangat dingin, tampak hampir menggertakkan gigi ketika memerintahkan pramugari yang ada di samping.

"Di pesawat ini ada banyak orang yang membawa anak. Mereka membutuhkan ruang ibu dan anak, tapi Nona Laura, kamu nggak memerlukannya."

Bab 2

Pramugari itu tampak bingung sesaat, tetapi karena Samuel adalah anggota dengan kartu platinum, dia tidak berani mengatakan apa-apa.

Namun, orang lain jelas merasa tidak senang. Ada yang melemparkan botol air ke arah Samuel sambil memarahi.

"Apa ini pesawat milikmu sendiri? Kenapa sikapmu begitu nggak masuk akal? Apa orang seperti ini pantas menjadi Ayah?"

Samuel yang dimarahi hingga seperti itu tidak berani membalas, hanya menoleh untuk memberi isyarat pada pramugari, tetap tidak bersedia melepaskan tangannya.

Aku berkata dengan tenang.

"Kalau begitu, aku nggak memerlukan ruang ibu dan anak."

Pada saat itu, seorang wanita yang duduk di sebelahku tiba-tiba berbicara padaku.

"Biar aku membantu menutupimu, kamu bisa menyusuinya saja. Sebentar lagi aku akan mengadukan pramugari yang menyalahgunakan kekuasaan ini!"

Aku tersenyum sambil mengangguk, lalu kembali ke tempat duduk. Wanita itu pun membantu menutupi diriku dengan jaketnya.

Setelah bersusah payah, aku akhirnya selesai menyusui. Fandy pun akhirnya berhenti menangis, tertidur sampai pesawat mendarat.

Setelah keluar dari bandara, wajah Samuel langsung berubah muram ketika melihatku tidak berniat naik ke mobil. Dia mengira aku sedang marah padanya.

"Laura, kamu bisa naik taksi, tapi anakku nggak. Apakah kamu mencoba menggunakan anak ini untuk mendapatkan simpati dariku?" ujar Samuel.

Aku menatap lurus ke arah Samuel yang bersikap tidak masuk akal.

"Fandy bukan anakmu," balasku.

Namun, pria itu seolah telah mendengar lelucon yang sangat menggelikan. Dia mendongak sambil tersenyum pahit cukup lama.

"Aku benar-benar nggak menyangka kalau omonganmu akan makin nggak terkendali. Kata-kata nggak masuk akal seperti ini pun bisa kamu ucapkan."

Samuel masih ingin melanjutkan kata-katanya, tetapi Shinta tiba-tiba menggigil secara berlebihan sambil mendengus.

Pria itu langsung maju dengan penuh perhatian.

"Apa kamu kedinginan?"

Tanpa banyak bicara, Samuel langsung melepaskan jaketnya, memakaikannya di bahu Shinta, lalu membuka pintu kursi penumpang depan untuknya.

Ketika menoleh melihatku lagi, kesabarannya padaku tampak sudah habis. Dia mengerutkan kening sambil berkata.

"Kalau kamu ingin kedinginan, silakan kedinginan sepuasnya di sini!"

Setelah berkata begitu, Samuel tidak memandangku lagi.

Mobil itu melaju pergi dengan kencang.

Tak lama kemudian, kepala pelayan Bianto menghentikan mobil di depanku, lalu dia melangkah turun utnuk membantu membawakan koperku.

"Bu Laura, Pak Bianto sudah lama ingin bertemu dengan cucu sulungnya."

"Ayo, cepat naiklah ke mobil."

Aku mengingat ke waktu setahun yang lalu. Henry Dirja menyelamatkanku dari biara, lalu kami berdua pun memutuskan untuk menghabiskan hidup bersama.

Awalnya Bianto tidak menyetujuinya. Namun, Henry sebagai anak sulungnya mengancam akan mati, sehingga pria tua itu pun mengalah.

Terlebih lagi, sekarang Fandy sudah lahir. Pria tua itu pasti tidak akan banyak bicara lagi.

Sesampainya di kediaman Keluarga Dirja, lampu menyala di sepanjang jalan.

Pria tua itu menatap Fandy dengan tatapan penuh kasih sayang, lalu melihat ke belakangku.

"Kenapa Henry nggak pulang? Aku ingin semuanya berkumpul untuk membicarakan acara pernikahan selanjutnya," ujar Bianto.

Aku menjelaskan, "Masih ada beberapa hal yang harus diurus Henry di kantor pusat di luar negeri. Dia sengaja menyuruhku pulang lebih dulu untuk menemuimu, juga menangani urusan cabang dalam negeri."

Pria itu menundukkan kepalanya, tampak berpikir.

Saat masuk ke rumah, ternyata semua anggota Keluarga Dirja ada di sana. Mereka sedang berkumpul untuk membicarakan tentang pesta pernikahan yang mewah.

Sementara itu, identitas Samuel cukup istimewa di sini. Dia hanya seorang anak haram. Bianto hanya bisa menjamin kemewahan hidupnya, tetapi Samuel tidak akan memiliki status apa pun.

Setelah selesai berdiskusi, Bibi yang merupakan pemimpin stasiun radio langsung menyebarkan berita malam itu juga.

Saat itu juga, Samuel meneleponku dengan nada menuduh serta mengejek.

"Laura, beraninya kamu berunding dengan Ayah dan yang lainnya tentang masalah pernikahan secara diam-diam. Aku belum mengatakan kalau aku setuju!"

Aku hanya menjawab dengan nada dingin.

"Apakah kamu benar-benar merasa pendapatmu penting?"

Setelah berkata begitu, aku langsung menutup telepon, tidak memedulikannya lagi. Aku berbalik, menggendong Fandy masuk ke kamar tidur Henry di kediaman Keluarga Dirja.

Keesokan paginya, begitu aku melangkah keluar dari kamar, aku langsung berpapasan dengan Samuel yang lewat.

Seluruh tubuhnya diselimuti oleh hawa dingin. Wajahnya tampak pucat, sementara matanya muram.

"Kenapa kamu tidur di kamar kakakku?" tanya Samuel.

Bab 3

Melihat aku tidak mengatakan apa pun untuk waktu yang lama, Samuel juga tidak bertanya lagi. Dia hanya menghela napas.

"Karena pernikahannya sudah diputuskan, kita ikuti saja rencanamu. Sekarang, ikutlah denganku untuk mencoba gaun pengantinnya," ujar pria itu.

Aku melirik Samuel yang bersikap aneh, lalu berbalik hendak pergi, tetapi aku ditarik dengan keras olehnya.

Samuel berujar, "Laura, yang ingin menikah itu kamu, tapi yang bersikap dingin juga kamu. Apakah menyiksaku begitu mengasyikkan?"

"Apa kamu masih marah karena Shinta? Kami tumbuh bersama sejak kecil, sementara mantan pacarnya meninggalkannya begitu saja. Apa salahnya kalau aku memperhatikannya?"

Aku tidak ingin terus terlibat dengannya, jadi aku menjawab dengan menekankan kata demi kata.

"Aku rasa kamu salah paham, aku sama sekali nggak marah."

"Benar-benar nggak marah sama sekali."

Begitu aku selesai berbicara, pria itu perlahan menyembunyikan gelombang di matanya, kembali menjadi tenang.

Samuel hendak meraih tanganku, tetapi dengan satu tatapan tajamku, dia menurunkan kembali tangannya dalam diam.

"Aku sudah mengaturnya. Gaun pengantin yang dulu juga sudah aku kembalikan ke ukuran semula. Terserah kamu mau pergi atau nggak," ucap Samuel.

Mataku berbinar, lalu aku pun menyetujuinya.

Gaun pengantin yang dulu diam-diam diubah ukurannya oleh Shinta itu, awalnya dikirim ke dalam negeri oleh Henry lewat perantara.

Dulu itu adalah hadiah pernikahan, tetapi sekarang membawa takdir yang menakjubkan.

Jika aku bisa mengambilnya kembali, itu juga akan menjadi kejutan yang tak terduga.

Namun, baru saja melangkah keluar dari gerbang kediaman Keluarga Dirja, Shinta sudah melompat seperti kelinci kecil, menempel dengan manja di sisi Samuel.

Begitu melihatnya, aku bisa langsung mencium aroma wanita jalang darinya.

"Terakhir kali saat aku mengubah ukuran gaun pengantin Kak Laura, Kak Samuel memarahiku. Pantatku bahkan masih sakit sampai sekarang. Tapi sekarang sudah nggak apa-apa, ukurannya sudah dikembalikan. Kak Laura pasti senang, 'kan?" kata Shinta.

Shinta tampak tersenyum riang, sementara Samuel mengusap hidungnya dengan penuh kasih sayang, tampak sangat lembut.

"Shinta memang paling penurut," ujar Samuel.

Melihat situasi saat ini, Shinta pasti juga akan ikut pergi. Jadi, aku langsung duduk di kursi belakang dengan bijak.

Samuel yang baru membuka pintu mobil tampak terkejut, matanya penuh dengan kebingungan, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Aku tidur sepanjang perjalanan, baru membuka mata saat kami sampai di tempat tujuan.

Setelah memasuki toko gaun pengantin, pelayan langsung menunjukkan gaun pengantinku yang asli. Bisa dibilang, gaun ini sudah dikembalikan dengan sempurna.

Aku memeriksa detailnya dengan teliti. Setelah memastikan semuanya sudah dikembalikan, aku menyuruh pelayan untuk menyimpannya.

Samuel yang awalnya mengharapkan sesuatu, menunjukkan pandangan yang agak muram ketika dia menatap mataku dengan tajam.

"Laura, aku sudah bersusah payah memperbaikinya. Apa kamu nggak mau mencobanya?"

Langkah pelayan yang hendak pergi terhenti. Aku hanya mengangkat tangan tanpa ekspresi, memberi isyarat agar dia menyimpannya.

Kemudian, aku menjawab dengan nada dingin, "Aku masih ada urusan lain."

Melihat diriku yang melangkah pergi, mata Samuel tampak muram. Cahaya di matanya berangsur menghilang.

Tepat saat dia hendak melangkah maju untuk mengejarku, Shinta sudah cemberut, menggoyangkan lengan Samuel sambil berujar manja.

"Kak Samuel, aku juga ingin mencoba gaun pengantin. Tolong temani aku, ya ...."

Setelah masuk ke dalam taksi, aku masih bisa melihat wajah Samuel yang seperti patung melalui kaca toko gaun pengantin. Dia menatap keluar jendela dengan wajah pucat.

Setelah mobil berjalan, aku baru menutup mata dengan perasaan lega, lalu memerintahkan sopir.

"Tolong pergi ke toko perhiasan terbesar di kota ini."

Untuk mempersiapkan pernikahan, Henry sudah bekerja siang dan malam tanpa henti. Jadi, aku berencana memilih cincin kawin untuk meringankan bebannya.

Begitu aku masuk ke dalam toko, aku langsung tertarik pada sebuah berlian biru dari wilayah selatan. Benda ini tampak berkilau memesona ketika aku memakainya.

"Nona, kamu benar-benar memiliki penglihatan yang bagus. Cincin ini sangat cocok dipakai di tanganmu."

Aku memandanginya dengan perasaan puas sejenak, lalu menyuruh pelayan mengambilkan dua buah cincin untuk dibungkus.

Ketika aku hendak memilih liontin panjang umur untuk Fandy, dua orang melangkah masuk dari pintu toko.

"Bagaimana bisa Kak Laura tahu kalau aku dan Kak Samuel ingin melihat cincin? Apakah dia mengikuti kita?"

Aku tidak mengangkat kepalaku, terus sibuk memilih.

Pada saat itu, pelayan baru saja selesai membungkus cincin dan memberikannya padaku. Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya, tetapi ditepis oleh Samuel sampai cincin itu jatuh ke lantai.

Pria itu tertawa meremehkan. "Kenapa kamu begitu terburu-buru? Tadi kamu berpura-pura nggak peduli dengan gaun pengantinnya, tapi sekarang kamu langsung memilih cincin berlian. Munafik sekali ...."

"Apa kamu takut kita nggak akan menikah?"

Ketika melihat semua ini, Shinta malah membungkuk untuk mengambil kantong itu. Dia membuka kotak cincin di dalamnya, lalu berseru kagum.

"Kak Samuel, cincin ini cantik sekali. Kamu dan Kak Laura pasti akan cocok memakainya, tapi aku nggak akan pantas ...."

Samuel dengan penuh rasa kasihan memeluk Shinta sambil menepuk-nepuknya. Kemudian, dia mengambil sebuah cincin, lalu memakaikannya di jari Shinta dengan terburu-buru.

"Itu hanya sebuah cincin. Tentu saja kamu akan pantas," ujar Samuel.

Aku mengepalkan tanganku, hendak merebutnya kembali.

"Ini cincinku. Siapa yang mengizinkan kalian memakainya?" tanyaku.

Wajah Samuel langsung berubah. Dia menepis tanganku dengan keras, tampak tidak sabaran.

"Aku nggak menyalahkanmu yang memutuskan membeli cincin kawin ini sendirian. Memang kenapa kalau Shinta memakainya sebentar saja? Kamu sungguh picik," balas Samuel.

Shinta berpura-pura bijaksana. Setelah memakainya sebentar, dia seakan hendak melepasnya, tetapi diam-diam membengkokkan cincin itu.

"Aku hanya menginginkan cincin yang akan dibelikan Kak Samuel. Aku nggak menginginkan yang ini," ucap Shinta.

Setelah berkata demikian, Shinta melemparkan cincin itu ke lantai, lalu dengan manja meminta Samuel membelikannya yang baru.

Aku tidak peduli lagi dengan mereka. Setelah memilih kalung, aku langsung membayar dan pergi.

Dalam sekejap mata, hari pernikahan pun akhirnya tiba. Aku sudah selesai bersiap, sudah mengenakan gaun pengantin.

Namun, Samuel tiba-tiba menerobos masuk ke belakang panggung. Tampak jelas bahwa dia tidak bisa menyembunyikan kemarahan dan kebingungan di hatinya.

"Laura! Apakah hanya karena masalah cincin kemarin, sekarang kamu terang-terangan memaksaku untuk menikah?"

"Aku beri tahu padamu Laura, hari ini aku nggak akan menghadiri pernikahan ini. Aku akan menunggu sampai kamu menyesali sikapmu, baru aku akan menikah. Aku nggak percaya kamu akan terus bertindak nggak masuk akal seperti ini!"

Begitu dia selesai bicara, pembawa acara yang tadi sedang membahas susunan acara denganku berdecak. Dia mengecek kartu acara sekali lagi, lalu mengingatkan.

"Pak Samuel, mempelai prianya bukan kamu, tapi Pak Henry."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B36352" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B36352
Salin

Bisa Tidak Mencintaimu Saja

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya