Logo
Bidan
Bidan

Bidan

97 Bab
Tamat
Dalam novel modern berjudul Bidan, seorang wanita berjuang menyeimbangkan dedikasi profesi dengan tuntutan mencari jodoh di usia 25 tahun. Pertemuannya dengan pria mempesona mengubah ritme hidupnya. Simak perjalanan cinta unik ini dalam romance novel seru di platform web novel kami.
Bab 1 dari Bidan

Gambar yang ditampilkan oleh benda pipih berukuran tiga puluh dua inchi di hadapanku seketika berubah saat tombol pada remotenya kutekan. Hujan deras di luar, ditambah petir yang menggelegar dan saling bersahutan, membuatku mulai menguap dan mata menjadi berat.

"Ga ada yang seru ih acara tivi. Garing semua!" gerutuku sambil mengangkat tubuh menuju ruang jaga.

"Bu Bidan... tolong!" Terdengar suara teriakan yang menggema dari arah lorong Puskesmas.

Tiba - tiba seorang pria paruh baya masuk ke ruangan bersalin saat aku baru saja akan merebahkan diri di ruang istirahat.

"Kenapa, Pak?" tanyaku dengan mata yang sempat redup, mendadak terang benderang dan segera bangkit mencari sendal.

"Penumpang bajaj saya anaknya keluar, Bu!" Bapak supir bajaj berkata dengan nada panik dan wajah yang pucat.

"Memey, siapin partus set, APD, bedong!" teriakku pada bidan magang. Aku pun berlari mengambil alat pelindung diri dan memakai handscoon, alias sarung tangan karet.

"Siap kak!" Ia segera berlari menghampiri sterilizer, membukanya, mengambil partus set, kassa, lalu jarum suntik dan ampul berisi oksitosin yang kemudian disimpan dalam tempat alat persalinan. Berlari ke arah lemari bedong bayi, menyambar salah satu kainnya, lalu mengikutiku di belakang dengan secepat kilat memakai Alat Perlindungan Diri sambil berjalan. Semua dilakukan dengan gesit.

Kami mengayunkan kaki lebih cepat hingga tiba di depan bajaj tak sampai lima menit.

Saat pintu bajaj dibuka oleh sang supir, kepala dan separuh bahu bayi sudah menjuntai. Sang ibu terlihat kepayahan dan banjir keringat. Aku segera masuk ke tempat supir bajaj dan menghadap ke belakang.

"Mey, partus set buka. Taruh di jok sebelah ibunya. Duk nya kesiniin!" Aku mengadahkan tangan kanan meminta alat yang kusebut.

Memey bergerak cepat meletakkan partus set dan memberikan duk, berupa kain hijau padaku.

Tangan kananku segera menahan perineum agar tak robek terlalu besar. Tangan kiri berusaha menangkap bayi saat meluncur.

"Ibu ikuti aba-aba saya, ya. Tarik nafas, dorong!" Aku memberi instruksi seraya mempraktikkan. "Tarik napasnya yang dalam, ya, bu. Mata lihat ke perut, lalu dorongnya dari perut kayak mau buang air besar, jangan dari leher."

Sang Ibu mengarahkan pandangannya ke perut dan mulai mengejan dengan sekuat tenaga.

"UHHH,,, AHHHH!!!"

Bayi mungil itu perlahan meluncur, memperlihatkan tali panjangnya di bagian perut, lalu kelaminnya disusul kakinya.

Syuut!

Tangan kananku menangkap dadanya, tangan kiri mengapit kedua paha si bayi. Aku menariknya dan segera memberikannya pada Memey yang sudah bersiap dengan bedong terbuka di sebelah kananku. Di belakang Memey, sang supir bajaj memayunginya agar terlindung dari hujan.

Aku tetap fokus pada si ibu, segera memasang klem dan memotong tali pusatnya. Memey berlari masuk ke dalam puskesmas dan meninggalkan si ibu yang mulai tampak kelelahan dengan nafas terengah.

Tangan kananku memegang tali pusat yang sudah putus, tangan kiri meraba perut si ibu. Setelah dipastikan bahwa tak ada bayi kedua, aku langsung menyambar jarum suntik yang telah diisi cairan oksitosin dan menyuntikkannya di paha bagian dalam ibu.

"Ibu, jangan tidur ya!" Aku berusaha mengajaknya berbicara agar tidak terlelap.

"Pak, tolong kasih si ibu minum,donk," ujarku pada supir bajaj yang berdiri di sebelah kanan.

"Ba.. baik bu!" jawabnya terbata.

Aku memutar tali pusatnya perlahan dengan tangan kananku. Beberapa detik kemudian seluruh bagian tali pusatnya keluar utuh. Segera kuletakkan di atas duk tadi. Aku bernafas lega.

"Alhamdulillah.." Aku mengucap syukur dalam hati.

Si ibu mulai menyeruput air mineral ukuran gelas yang disodorkan supir bajaj dan menghabiskannya. Wajahnya mulai terlihat sedikit segar.

"Pak, bantu saya gotong ibunya ke dalam, ya," pintaku pada supir bajaj.

"Iya bu," Ia segera meraih tangan kiri si Ibu dan memapahnya. Aku keluar dari ruang supir di dalam bajaj. Beruntung hujan sudah berhenti. Kami segera memapahnya ke dalam ruangan bersalin. Daster yang dikenakan si ibu telah basah oleh darah di bagian pinggang ke bawah.

"Naik ke atas tempat tidur bisa, Bu?" tanyaku padanya setengah melirik.

"Bisa, Bu Bidan." Ia menjawab dengan suara yang lebih santai.

Aku mulai memeriksa tanda vitalnya setelah memasangkan alas bokong dan melepaskan sarung tangan penuh darah yang tadi kukenakan.

"Ibu cuma sendirian? Suaminya mana?" tanyaku mencoba mengumpulkan data pasien pada formulir rekam medis miliknya.

"Suami tadi masih di jalan dari tempat kerja, Bu Bidan. Jadi tadi saya berangkat duluan." Ia mencoba menceritakan kronologis.

"Gak ada keluarga yang nemenin?" aku meliriknya sekilas, pandangan tetap pada formulir yang harus segera diselesaikan pengisiannya.

"Gak ada, Bu. Kami sendirian di sini. Keluarga jauh di Sukabumi." Kulihat ia menenggak minuman yang baru saja diberikan oleh Mey.

Aku terdiam. Berkosentrasi pada indikator tensi meter di hadapanku. Normal. Kuraba nadi di pergelangan tangannya selama satu menit. Terhitung normal juga. Termometer yang kupasang pada ketiaknyapun ikut berbunyi, kulihat angka di layar menunjukkan bahwa suhunya juga normal.

"Ibu, selama dua jam ke depan jangan tidur dulu, ya. Saya masih observasi dulu," ujarku pada si Ibu yang mulai menguap.

"Observasi itu apa Bu Bidan?" Ia berhenti menguap dan memandangku penuh tanya.

"Observasi itu pemantauan. Jadi saya harus memantau kondisi Ibu dalam dua jam ke depan. Baik keadaan umu, seperti pucat atau tidak, lalu tekanan darah, suhu, pernapasan, denyut nadi, dan kondisi darah paska persalinannya." Aku mencoba menjelaskan dengan bahasa yang bisa lebih dimengerti oleh orang awam.

"Oh begitu. Oke Bu Bidan. Saya juga mau nungguin suami saya datang dulu, kok." jawabnya.

"Siap, Bu. Saya ijin nengok bayi Ibu dulu di sebelah, ya." Aku berpamitan.

"Iya Bu Bidan, silakan."

Aku pun meninggalkan si ibu demi melihat bayinya.

"Gimana Mey?" tanyaku oada Memey yang tengah mengisi lembar rekam medis milik si bayi baru lahir.

"All is fine kak. Apgar Scorenya bagus," jawabnya santai seraya mengarahkan telunjuk dan ibu jari yang membulat, padaku.

"Cewek ya?" Aku kembali bertanya saat hendak menyingkap selimut bayinya.

"Cowok, Kak!" Ia protes.

"Eh, cowok? Ealah, gak merhatiin." Kututup selimut bayi tadi dan melangkah ke luar ruangan.

"Hihi." Memey terkekeh.

"Udah disuntik vit.K, Mey?" Langkahku terhenti, dan kembali bertanya padanya.

"Udah, Kakakku.." Memey menjawab dengan nada setengah lelah dan nyinyir.

"Ya udah, jangan lupa observasi, ya. Kakak mau rebahan sebentar dulu." Aku menitip pesan padanya. Mata sudah semakin berat.

"Siap!" Ia menjawab dengan gaya memberi hormat ketika mendekatiku.

"Haish, lebay!" Akupun menurunkan tangan kirinya yang ia letakkan di sebelah alis.

"Dek..." suara pria dari arah ujung lorong menghentikan langkahku yang hendak menuju ruang istirahat.

Aku membalikkan badan. Di hadapanku muncul sosok yang sangat aku kenal sepuluh tahun lalu.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Apa Salahku Padamu, Bu?
Apa Salahku Padamu, Bu?
Dalam modern novel Apa Salahku Padamu, Bu?, Mutia berjuang bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi dan kemarahan ibunya yang tak beralasan. Ia harus menghadapi kenyataan pahit saat dirinya menjadi pelampiasan amarah. Simak kisah young adult fiction romance books ini di webnovel.
Api Dendam di Masa Lalu
Api Dendam di Masa Lalu
Dalam Api Dendam di Masa Lalu, seorang wanita kembali ke masa kuliah untuk membalas pengkhianatan suaminya yang licik. Mengusung genre romance modern dengan bumbu mystery story, ia bertekad mengamankan warisannya. Baca kisah balas dendam ini hanya di platform web novel kami.
FAMILIAR PLACES
FAMILIAR PLACES
Dalam novel modern FAMILIAR PLACES, Byan dan Gemi bertemu kembali setelah 15 tahun. Namun, pertemuan intim mereka terhalang status Gemi yang sudah bersuami. Ikuti kisah cinta rumit ini di webnovel kami, pilihan tepat bagi pembaca yang mencari romance novel dengan konflik mendalam.
Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
Ayana, ratu geng motor dalam Gadis Nakal Sang Bidadari Surga, dipaksa masuk pesantren dan menjalani perjodohan wasiat dengan Gus Farhan. Kisah romance modern ini membawa tantangan bagi sang pemberontak dalam menyeimbangkan kebebasan dan takdir. Baca romance novel ini sekarang.
Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal
Dalam novel Kawin Kontrak Sang Pewaris Tunggal, Maya terjebak menjadi istri kontrak Boy demi ekonomi keluarga. Romance novel ini mengisahkan perjuangan Maya di dunia billionaire yang penuh rahasia. Akankah misi ini berakhir cinta atau kehancuran saat kebenaran terungkap di webnovel ini?
Mati Kutu Ketika Mereka Tahu Suamiku Ternyata Sultan
Mati Kutu Ketika Mereka Tahu Suamiku Ternyata Sultan
Dalam novel Mati Kutu Ketika Mereka Tahu Suamiku Ternyata Sultan, seorang CEO menyamar menjadi pria miskin demi cinta. Saat identitas aslinya terungkap, semua yang menghinanya terdiam. Baca billionaire romance novels ini untuk mengungkap alasan di balik penyamaran sang sultan di web novel ini.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Bukan Permaisuri Gendut Biasa
Bukan Permaisuri Gendut Biasa
Dianggap remeh karena tubuhnya, tidak ada yang menyangka bahwa Permaisuri Elia memiliki kecerdasan dan keberanian yang luar biasa. Semua orang pikir dia lemah, nyatanya dialah ancaman terbesar.
[Versi suara dubbing] Berkat yang Berbalik Buruk
[Versi suara dubbing] Berkat yang Berbalik Buruk
Tiga tahun yang lalu, dia mensponsori seseorang saat berdoa untuk anak masa depannya. Tiga tahun kemudian, orang yang disponsori melakukan magang bersama teman-teman, salah mengira sang sponsor mencintainya, dan mengganggunya ketika dia hamil, hampir menyebabkan keguguran.
[Versi Dub] Cara Jinakkan Rubah Perak
[Versi Dub] Cara Jinakkan Rubah Perak
Hani Raharjo hanya ingin lulus di tahun terakhir kuliahnya tanpa menjadi pecundang yang tidak memiliki teman. Namun, ketika pestanya tiba-tiba didatangi oleh sahabat dan mitra bisnis misterius ayahnya, Chris Caraka, Hani menyadari dia lebih memilih ditangkap oleh polisi. Chris, selalu terlalu protektif terhadapnya, membuat Hani kesal, hingga Hani sadar Chris harus pergi. Bersama sahabatnya Maria, Hani merencanakan Operasi Penggodaan, berencana membuat Chris jatuh cinta padanya supaya ayahnya akan mengusir Chris. Namun, setiap kali Chris menyelamatkan Hani dari masalah, Hani makin menyadari kalau dia mungkin memang memiliki perasaan pada Chris.
Setelah Keguguran, Aku Ditinggalkan
Setelah Keguguran, Aku Ditinggalkan
Saat pesta ulang tahun pernikahan Eric dan Grace, tiba-tiba adik tiri Grace, Amanda, mengejutkan semua orang atas tuntutannya agar Grace mengembalikan Eric padanya. Amanda sengaja menyusun rencana untuk mencelakai Grace hingga keguguran. Alih-alih merawat Grace, sang suami justru pergi ke pelukan Amanda. Grace yang akhirnya tertampar realita pun memutuskan untuk menceraikan Eric.
Luka di Musim Dingin
Luka di Musim Dingin
Putus asa melihat cinta sepuluh tahunnya dikhianati oleh Putra Mahkota Hutama yang lebih memilih menikahi Kinaya Lindra, Yunis Kencana nekat mengajukan diri sebagai mempelai dalam pernikahan politik demi meredakan krisis di perbatasan Balangga. Meski Kaisar sempat ragu, tekad baja Yunis yang sudah mati rasa akhirnya berbuah titah resmi sebagai Putri Pelindung Negara yang akan diberangkatkan tujuh hari lagi, sementara Hutama yang terlalu percaya diri masih hidup dalam ilusi bahwa kekasih masa kecilnya itu takkan pernah sanggup meninggalkannya.
Juara Lari
Juara Lari
Bao Yuan, pelari berbakat, menghadapi banyak rintangan dalam upayanya menuju Olimpiade. Latihan keras dan pengorbanan pribadi menjadi bagian dari perjuangannya. Hubungannya dengan kakak ipar memberinya dukungan yang ia butuhkan untuk terus maju. Bersama, mereka menapaki jalan sulit menuju impian, berbagi tekanan dan harapan di setiap langkah.