Logo
BIDADARI SURGAKU
BIDADARI SURGAKU

BIDADARI SURGAKU

93 Bab
Tamat
Dalam romance novel BIDADARI SURGAKU, Zaira menghadapi tekanan karena belum memiliki anak. Ia nekat meminta Zafran berpoligami dengan Arumi demi kebahagiaan keluarga. Baca kisah modern novel ini untuk melihat perjuangan kesetiaan dan pengorbanan di tengah ujian rumah tangga.

Ringkasan BIDADARI SURGAKU

Lima tahun menikah tanpa buah hati membuat Zaira Khazanah tertekan oleh ekspektasi sosial. Meski suaminya, Zafran, tetap setia menerima keadaan, Zaira justru mengambil langkah ekstrem dengan meminta Zafran berpoligami. Walau sempat menolak, kehadiran Arumi yang diam-diam mencintai Zafran mulai mengubah dinamika rumah tangga mereka. Kini, keteguhan hati Zaira dan kesetiaan Zafran diuji saat Arumi masuk sebagai madu. Mampukah pernikahan mereka bertahan di tengah badai pengorbanan ini?
Selengkapnya

Bab 1 dari BIDADARI SURGAKU

Senin pagi seperti biasa aktifitas padat dimulai. Jalanan Ibu Kota akan dipenuhi oleh kendaraan yang lalu lalang. Saat fajar datang menyapa, kebanyakan dari para pengais rejeki akan memulai aktifitasnya. Sama seperti diriku yang memilih berangkat setelah shalat subuh kutunaikan agar aku bisa menghirup udara segar di pagi hari, juga menghindari macet yang menjadi ikon kota ini. Kota dengan tingkat kemacetan yang tinggi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, aku tiba di pelantaran  sebuah bangunan tempatku mengais rejeki. Bangunan tiga lantai berdiri tegak atas hasil keringat sendiri.

Suasananya masih sepi. Tentu saja. Aku lebih suka datang lebih awal agar aku bisa berehat sejenak sebelum memulai aktifitasku. Menghambakan kepada Sang Pemilik diri ini untuk memohon keberkahan atas segala usahaku hari ini.

Satu jam berlalu, satu persatu karyawan mulai berdatangan dan memulai aktifitas sesaat setelah breafing yang rutin setiap pagi dilakukan untuk menambah semangat kerja para karyawan.

Saat aku tengah sibuk memeriksa laporan bulanan, terdengar pintu diketuk. Seseorang muncul setelah aku persilahkan untuk masuk.

"Hari ini jadi nggak ngisi poadcast di channel Muslimah Berbagi Inspirasi?" tanya Rayyan setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjaku.

Aku melirik jam di tangan sejenak.

"Sepuluh menit lagi aku berangkat," jawabku tanpa menoleh.

"Ayolah, Zafran. Kamu bakal tampil, loh, di channel youtube terkenal. Perbaiki dulu penampilanmu."

Aku tersenyum tipis menanggapi.

"Apa penampilan begitu penting?"

Rayyan beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di hadapanku dengan tangan menyilang di depan dada.

"Kamu akan ditonton oleh banyak orang. Jelaslah penampilan penting," ucapnya sewot.

Aku berdiri mengikuti dia yang lebih dulu sudah di depan lemari pakaian yang memang aku siapkan di ruang kerja. Ini adalah ide Rayyan. Saat aku tanya kenapa, dia malah menjawab di luar perkiraanku.

"Takutnya kamu tiba-tiba butuh untuk berganti pakaian. Kan sampai saat ini belum ada yang ngurusin kamu. Maka bersyukurlah punya sahabat sebaik aku." Aku hanya diam tanpa menanggapi.

"Makanya buruan, gih, cari pendamping sebelum aku yang nikah duluan."

Aku mendelik malas jika ujung-ujungnya membahas ke arah sana. Menikah.

Lamunanku buyar saat sebuah tangan menepuk wajahku.

"Jangan bengong! Entar kesambet kamu."

"Kamu terlalu cerewet. Kayak perempuan aja," ujarku sambil memilih baju yang akan kupilih.

"Terserahlah. Asal kamu nurut."

Sepuluh menit berlalu, tak perlu banyak waktu untuk memilih. Kali ini kemeja koko warna navi adalah pilihan yang tepat untukku yang berkulit cerah. Rambut sedikit kurapikan kemudian memasang peci berwarna hitam , jam tangan digital dengan merk ternama melingkar manis di pergelangan tangan kiri serta sepatu santai warna hitam sepadan dengan celana kain berwarna senada.

Dering ponsel menghentikan aktifitasku. Tertera nama Mas Taufik salah satu kru channel Muslimah Berbagi Inspirasi.

"Assalamu'alaikum. Iya, aku sudah menuju ke sana. Mungkin setengah jam lagi aku tiba di sana."

Gegas aku menyambar kunci mobil di atas meja lalu melangkah keluar. Tak kupedulikan teriakan Rayyan yang protes ditinggal begitu saja.

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, kembali aku merapikan diri sebelum masuk ke dalam gedung berlantai dua itu.

"Bagaimana?" tanyaku memastikan.

"Udah keren," jawabnya dengan menaikkan dua jempol.

Langkah kaki ini kemudian membawaku menaiki lantai tiga. Rayyan tentunya sejak tadi mengekor di belakangku. Selain menjabat sebagai manajer, dia juga merupakan sahabatku sejak kecil. Jadi tak salah jika dia secerewet itu.

Di lantai tiga kami disambut oleh tiga orang yang kuyakini para kru.

"Assalamu'alaikum, Ustadz Zafran," sapa Mas Taufik.

"Wa'alaikumussalam, Mas. Maaf kami telat," ucapku sambil merangkul Mas Taufik.

Pandanganku kemudian tertuju pada dua wanita yang berdiri bersisian di samping Mas Taufik. Salah satu di antara mereka sedikit mengalihkan perhatianku. Kuucapkan istighfar sebelum setan mengambil kesempatan ini.

"Assalamu'alaikum, Ustadz," sapanya lembut sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan.

"Wa'alaikumussalam," balasku kikuk.

"Sudah bisa dimulai, Ustadz?" tanya Mas Taufik kemudian.

"Boleh."

"Silahkan masuk Ustadz. Lima menit lagi kita mulai, ya." Aku mengangguk kemudian mengikuti langkahnya.

Wanita yang belum aku tahu namanya tersenyum simpul lalu kubalas dengan senyum pula.

Di dalam ruang persegi dengan warna dominan putih serta kaligrafi menghiasi setiap sudut ruangan. Aku dan Rayyan duduk bersisian. Saat aku sedang asyik mengobrol dengan Rayyan, muncul salah satu wanita tadi.

"Maaf mengganggu, Ustadz. Mungkin ustadz Zafran sudah bisa masuk ke ruang utama untuk mengambil rekaman hari ini."

Sejenak aku menoleh ke arah Rayyan yang tak pernah berkedip menatap wanita tadi.

'Semoga nggak kumat, batinku'

Aku berjalan menuju ruangan yang dituju. Di dalam sudah ada wanita yang duduk di balik meja yang berhadapan langsung dengan kursi yang akan menjadi tempatku nanti. Wanita dengan gamis berwarna navi dengan paduan khimar berwarna abu muda. Sangat cocok dengan wajahnya yang manis.

'Jadi, dia yang akan memandu acara hari ini?' tanyaku dalam hati.

Sejenak pandangan kami bertemu.

"Silakan duduk, Ustadz," ujarnya dengan lembut dengan senyum menghiasi wajahnya.

Aku mendudukkan diri kemudian sedikit merapikan penampilan sebelum ditake.

"Bisa kita mulai ya, Ustadz?" Aku menggangguk patuh. Ada dentuman dari dalam dada yang sedang berusaha kukontrol.

Pandangannya mulai melihat ke arah sisi kanannya kemudian mengangkat jempol kanannya.

"Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul pada hari ini dengan keadaan sehat wal'afiat.

Tak Lupa Sholawat serta salam tak henti - hentinya kita haturkan kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam, yang kita tunggu syafaatnya di hari kiamaat nanti. Semoga kita termasuk golongan umat yang mendapatkan syafa'atnya kelak. Aamiin Allahumma Aamiin."

"Sahabat MBI di mana pun berada, apa kabar hari ini? Semoga senatiasa dalam lindungan Allah Subhana Wa Ta'ala. Aamiin. Seperti biasa hari ini Zaira Khazanah kembali menyapa sahabat fillah semua untuk berbagi kisah inspirasi dengan ornag hebat."

Aku sekali-sekali mencuri pandang kepadanya. Zaira, nama yang indah. Tanpa sadar senyum tercipta diwajahku.

"Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu istimewa yang belakangan ini jadi pembicaraaan hangat akan sosoknya. Ustadz Zafran Abdullah. Pengusaha muda dengan berjualan busana muslim. Masya Allah."

"Assalamu'alaikum, Ustadz"

"Wa'alaikumussalam," jawabku yang kini berhadapan dengannya.

"Sebelumnya jazakallah khairan katsiran Ustadz sudah bersedia membagi waktunya di tengah kesibukan Ustadz untuk menjadi narasumber kami hari ini."

"Wa jazakillah khair."

"Sebelumnya kita santai saja ya, Ustadz, agar sharing kita berjalan dengan mudah."

Entah dia menangkap sinyal rasa gugupku atau memang prosedurnya.

"Baik."

"Sebelumnya, apa Ustadz bisa sedikit bercerita bagaimana kisah di balik kesuksesan Ustadz dalam mengelola usaha ini?"

"Awalnya itu bermula pada tiga tahun silam. Saat itu aku masih menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini. Di kampus kami itu ada suatu lembaga yang mengadakan kegiatan khusus sebagai wadah bagi mahasiswa beragama muslim untuk mengembangkan dakwah di kampus kami. Setiap hari jum'at sore kami akan mengadakan kajian rutinan yang dihadiri oleh beberapa petinggi universitas, staf dan juga mahasiswa."

"Sampai suatu hari kami berencana mengadakan lomba dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Salah satunya adalah kelompok shalawatan. Petinggi kampus meminta untuk membuat seragam sendiri yang akan didanai oleh pihak kampus."

"Kebetulan Umi saya memiliki keahlian menjahit. Lalu dengan bantuan beliaulah, seragam itu jadi. Alhamdulillah setiap kegiatan kampus bertema islami, seragam akan dipesan dengan saya sebagai perantara. Katanya, jahitan, kain dan modelnya berbeda dari yang ada di pasaran."

"Saat itulah saya terinspirasi untuk menjadi pedangan muslim dan banyak belajar dari Umi."

"Masyaa Allah sangat inspiratif sekali yang berawal dari seorang aktifis dakwah di kampus, lalu sentuhan jahitan seorang ibu dan pastinya diselingi do'a sehingga bisa seperti ini ya, Ustadz?" Aku mengangguk ramah.

"Lalu untuk nama brandnya sendiri yaitu An-Nur Barokah itu terinspirasi dari mana, Ustadz?"

"Untuk nama brandnya seperti artinya adalah cahaya berkah. Berharap apa yang saya lakukan senantiasa mendapatkan limpahan cahaya keberkahan di dalamnya."

"Masyaa Allah berarti sebuah do'a ya, Ustadz?" Aku mengangguk kembali.

Lalu pertanyaan terus terlontar darinya. Wanita yang berhasil menarik perhatianku sejak awal jumpa. Wanita shalihah yang cerdas dan santun. Zaira Khazanah.

Satu jam telah berlalu, obrolan ringan yang sedikit diselingi canda darinya membuatku semakin tertarik. Pembawaannya yang ringan dan mudah membawa lawan bicara sudah seperti sangat dekat.

"Alhamdulillah sharing pada hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang disampaikan oleh narasumber kita pada hari ini bermanfaat untuk kita semua."

"Jazakallah khairan kepada Ustadz Zafran Abdullah yang telah menyampaikan sharing luar biasa pada hari ini. Semoga menjadi amal jariyah untuk Ustadz."

"Sebelum kami akhiri sharing hari ini, ada sedikit kenang - kenangan dari kami sebagai ucapan terimakasih."

Tangan lentiknya mengeluarkan sebuah plakat

sebagai tanda terimakasih dan telah bersedia membagi waktuku untuk berbagi di akun channel mereka.

Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat hingga sharing hari ini selesai. Ada rasa sedikit sesal karena waktu yang kuminta begitu sedikit. Ah, andai saja aku memilih waktu sedikit lwbih lagi, tentu saja aku bisa menikmati kedekatan ini meskipun hanya sebagai tuan rumah dan tamu. Tapi rasa nyaman itu muncul seketika.

'Astagfirullah ada apa ini? Ampuni Hamba' batinku.

Setelah kami selesai sharing di ruangan persegi kini kami terlibat obrolan ringan di sebuah meja kecil.

"Masyaa Allah begit menginspirasi cerita di balik suksesnya usaha Ustadz." Mas Taufik membuka obrolan.

"Di luaran sana pasti masih banyak lagi inspirator hebat, Mas."

Kami tertawa ringan sambil menikmati kopi dan beberapa irisan kue bronis cokelat pandan.

"Oh, iya, ini dua rekan saya ustadz, yang satunya pasti ustadz sudah kenal tadi. Zaira Khazanah, dan sahabatnya Khadijah." Mas Taufik memperkenalkan dua rekannya kembali.

"Ini sahabat sekaligus partner saya dalam bisnis ini. Rayyan Habibullah.

Mereka kemudian saling berkenalan. Bisa kutangkap sesekai Zaira mencuri pandang kepadaku. Akupun begitu selalu tertangkap basah mencuri pandang ke arahnya. Saat mata kami bertemu, Zaira akan otomatis menunduk, sedang aku membuang pandangan.

"Maaf ustadz, di kisahnya tadi ustadz belum pernah menyebut sosok wanita yang senantiasa mendampingi ustadz selain sosok umi. Apa sengaja tidak disebut ustadz?"

Khadijah sebagai salah satu yang hadir di sini bertanya sesuatu yang sangat jarang ditanyakan oleh kebayakan orang.

Kulihat rona wajah Zaira seolah menunggu sebuah jawaban dariku. Apakah dia? Ah, aku tak ingin menimbulkan praduga yang berujung kecewa.

"Sayangnya sosok itu memang belum ada," jawabku dengan sedikit terkekeh.

"Jadi ustadz masih sendiri ternyata. Saya pikir ustadz sudah ada yang punya," celetuk Mas Taufik.

"Apa Mas Taufik ada calon untuk Ustadz Zafran?" tanya Rayyan.

"Segan aku ustadz. Nanti ustadz sendiri yang memilih. Aku yakin pilihan ustadz paling terbaik," timpal Mas Taufik.

Tak terasa setengah jam berlalu. Aku harus kembali ke kantor. Aku tidak bisa meninggalkan lebih lama lagi pekerjaan di sana.

Sebelum benar-benar berlalu, aku sengaja menyuruh Rayyan turun duluan. Aku menghampiri Zaira yang tengah merapikan bekas minum kami.

Aku berdehem yang membuatnya sedikit tersentak.

"Ada apa, Ustadz?" tanyanya.

"Eum, apa kamu....masih sendiri?"

Jujur, aku sangat ragu untuk menanyakan hal yang sangat pribadi. Untuk mengumpulkan keberanian bertanya saja sangat butuh lama hingga sedikit terjeda.

Zaira tersenyum lantas menunduk.

"Belum, Ustadz," lirihnya.

"Alhamdulillah."

Zaira mendongak menampakkan wajahnya yang tengah menghangat. Aku mengulum senyum melihat wajahnya begitu lucu saat ini.

"Zaira, jika kita ditakdirkan bertemu lagi, maka ijinkan aku untuk membawa namamu dalam do'aku."

Wajahnya semakin bersemu merah. Secara tidak langsung aku telah mengakui memiliki daya tarik untuknya. Entah Zaira mengerti atau tidak.

"Aku permisi. Assalamu'alaikum."

Aku pemait setelah mendapatkan balasan atas salam yang telah terucap. Meninggalkan dia yang masih mematung di tempat.

Zaira, ijinkan aku membawa namamu dalam sujud panjangku.

"Lama amat sih, di atas masih ada ketinggalan?" tanya Zafran saat aku sudah berada di balik kemudi.

'Ada, Rayyan. Hatiku, bisikku dalam hati.'

"Tidak ada," jawabku santai namun ditanggapi tawa renyah oleh Rayyan.

"Zafran, aku nggak mengenalmu baru kemarin. Sejak tadi tuh gerak-gerik kamu aku awasi semua."

Aku terkesiap. Jangan-jangan dia tahu.

"Sudahlah. Nggak usah berlagak sok kalem di depanku. Aku tahu. Zaira kan?" godanya.

"Ah, sok tahu kamu," kilahku.

"Tatapan mata kamu itu buktinya. Saat sebelum mulai acara. Pandangan kamu itu udah mengarah ke dia. Meskipun ada Khadijah di sampingnya." Aku bergeming.

"Saat mulai sharing. Tatapan kamu nggak lepas dari dia."

"Sok tahu kamu." Aku terus berpura-pura fokus menyetir.

"Zafran, aku sangat mengenal kamu. Aku setuju kalau sama dia. Dia cantik, baik, shalihah." Aku mengerling tajam.

"Hey, biasa aja dong tatapannya. Apa salahnya?" tanyanya seolah-olah apa yang dia lakukan adalah benar.

"Kamu memujinya di depanku. Membayangkan wajahnya. Itu dosa!"

"Hey, kamu cemburu?" Rayyan terkekeh.

Aku diam dan memilih fokus menyetir.

"Tenang aja, aku akan bantu kamu untuk mencari tahu soal dia." Aku memilih tetap diam.

Zaira, akankah kita akan bertemu lagi? Kapan? Di mana? Atau apakah justru ini adalah pertemuan terakhir kita?

'Astaghfirullah'

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Atasanku Menggodaku
Atasanku Menggodaku
Baca Novel Online Atasanku Menggodaku, sebuah novel romantis miliarder modern. Kisah dimulai saat sang bos genit tidak sengaja menguasai remote pengontrol gairah karyawannya dan menyetelnya ke tingkat maksimum. Bisakah dia bertahan dari godaan intens ini?
Dear Clarissa
Dear Clarissa
Dalam novel Dear Clarissa, seorang wanita malam berjuang menjaga rahasia misinya di Jakarta. Namun, Arga muncul sebagai penguntit berkuasa yang menghalangi kebebasannya. Romance novel penuh aksi ini mengikuti konflik kekuasaan dan pilihan sulit Clarissa saat menghadapi kejaran Arga.
Dendam Seorang Adik
Dendam Seorang Adik
Dalam Dendam Seorang Adik, Amara merancang misi balas dendam terhadap keluarga Pramudya demi keadilan kakaknya. Sebagai modern novel bertema billionaire romance novels, ia harus menghancurkan reputasi mereka atau justru terjebak emosi tak terduga dalam intrik kekuasaan ini.
Hasrat Kedua
Hasrat Kedua
Dalam romance novel Hasrat Kedua, Senja mengira hidupnya sempurna setelah dinikahi Dafa, seorang billionaire. Namun, pengkhianatan Dafa dengan Lily menghancurkan segalanya. Di tengah kemelut modern novel ini, Senja dihadapkan pada pilihan sulit saat kakak iparnya mulai jatuh hati.
Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
Dalam novel romantis misteri Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam, seorang istri yang divonis kanker otak menghadapi pengkhianatan saat catatan medisnya ditukar oleh adik angkatnya demi merebut pengobatan. Baca novel online gratis ini untuk mengungkap perjuangannya di sisa waktu hidupnya.
Pahitnya Pengkhianatan
Pahitnya Pengkhianatan
Dalam Pahitnya Pengkhianatan, Fina sang MUA mandiri harus menikahi Rai demi wasiat neneknya. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, mereka menghadapi konflik masa lalu dan ego. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan mereka dalam modern novel penuh intrik di platform web novel.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Ibu, Sampai Jumpa
Ibu, Sampai Jumpa
Bella lahir dikeluarga yang sederhana, tapi orang tuanya hanya sayang pada adiknya, bahkan terus menyalahkan Bella karena dia tidak sengaja menjatuhkan air dan membuat ibunya lahir prematur. Sedangkan adiknya yang pandai jago akting terus menerus memfitnah Bella yang melakukan kejahatan, bahkan teganya mencelakai kakaknya sampai mati.
Ayah Pekerja Ternyata Miliarder
Ayah Pekerja Ternyata Miliarder
Seorang miliarder bernama Karyadi Mahesa menyamar sebagai kasir minimarket untuk mendidik putranya, Kusuma Mahesa. Namun, Kusuma menikah dengan wanita sombong dari keluarga kaya, yang membuat Kusuma selalu tertekan di hadapan calon istri, mertua, dan adik iparnya. Meski Kusuma tak ingin ayahnya hadir, Karyadi tetap datang ke pernikahan dan membela putranya dari hinaan. Setelah dihina dan mendiang istrinya direndahkan, kesabaran Karyadi habis. Situasi makin heboh saat anak angkatnya yang sukses besar tiba-tiba muncul dan bersaing menjadi menantu Keluarga Mahesa, membuat semua orang kaget.
Berani Menghina Kuasa Mutlakku
Berani Menghina Kuasa Mutlakku
Sony Japhar, Kepala Perancang Tempur Generasi Ketujuh, pulang ke kampung halaman untuk mengajar. Di kereta cepat, dia tak sengaja bertemu Rahayu Liem yang menuduhnya merekam diam-diam demi konten. Setibanya di kampus, Rahayu memalsukan bukti, menyuruh preman menghasut mahasiswa hingga mengepung dan menghina Sony. Hingga akhirnya Sony tak bisa menahan diri dan melancarkan serangan balasan dahsyat yang membuat Rahayu menanggung konsekuensi pahit.
Bukan Permaisuri Gendut Biasa
Bukan Permaisuri Gendut Biasa
Dianggap remeh karena tubuhnya, tidak ada yang menyangka bahwa Permaisuri Elia memiliki kecerdasan dan keberanian yang luar biasa. Semua orang pikir dia lemah, nyatanya dialah ancaman terbesar.
[Dijuluki] Setelah Cerai, Tuan CEO Memohon Aku Kembali
[Dijuluki] Setelah Cerai, Tuan CEO Memohon Aku Kembali
Setelah setahun pernikahan rahasia, dia menyadari bahwa dia hanya menjadi gantinya di hatinya, bukan cahaya bulan putih yang sejati. Dia memutuskan dengan tegas untuk mengakhiri, tetapi setelah menandatangani surat cerai, dia menyesal!
Ibuku Belum Mati! (Sulih Suara)
Ibuku Belum Mati! (Sulih Suara)
Delia Lesmana, 24 tahun, mengalami kecelakaan saat mengantar anaknya ke sekolah. Dia kemudian menyadari bahwa dirinya adalah karakter dalam novel yang meninggal muda dan cinta pertama Satya Atmaja. Sejak kematian Delia, putranya menjadi berandalan dan masuk penjara, sedangkan putrinya sering mengalami penyiksaan. Setelah terlahir kembali menjadi seorang gadis berusia 18 tahun, Delia bertekad untuk mengubah nasib keluarganya!