Bab 1

Setelah mendengar kabar dari pasukan bahwa kakak kembar suamiku gugur dalam sebuah misi, kakak ipar yang baru ditinggal suaminya itu sangat terpukul hingga pingsan.

Saat sadar kembali, dia kehilangan ingatannya. Tangannya menggenggam erat tangan suamiku dan tidak mau melepaskannya.

Hanya karena dokter mengatakan, “Pasien tidak boleh menerima guncangan.”

Suamiku dan ibu mertua pun membujukku agar ikut dia bersandiwara.

Setiap kali aku menyinggung soal itu, mereka berdua selalu menjawab, “Tunggu aja sampai kakak iparmu pulih kembali ingatannya!”

Maka dari itu, aku hanya bisa memandangi suamiku sendiri tinggal dan makan bersama kakak iparnya dengan mataku sendiri.

Bahkan putri kami pun hanya bisa melihat anak kakak iparku memanggil suamiku sebagai papa di hadapannya.

Sampai suatu ketika, putriku demam tinggi dan tak kunjung sadar. Aku memohon padanya untuk mengantarkan kami ke rumah sakit.

Dan yang tidak kusangka, kakak ipar justru marah besar karena hal ini. Dia menangis sambil mengancam bunuh diri.

Pada saat tarik menarik pertikaian mereka, sebilah gunting itu malah menancap ke jantungku.

Saat kembali membuka mata, aku mendapati diriku telah kembali ke hari ketika suamiku memutuskan untuk menjadi suami pengganti bagi kakak iparnya.

“Tasya, kamu tahu, di dalam hatiku hanya ada kamu. Tapi sekarang kakakku sudah tiada, kita sekeluarga seharusnya lebih banyak menjaga Kakak Ipar.”

“Dokter bilang, Kakak Ipar tidak boleh kena guncangan. Anggap saja kita sedang berbuat kebaikan.”

Suara dan kata-kata yang begitu familiar terdengar, otakku sempat kosong sesaat.

Belum sempat sadar sepenuhnya, aku sudah merasakan genggaman tangan lelaki itu.

Aku sontak menepis tangannya secara refleks.

Wajah lelaki itu langsung berubah sedikit, nada bicaranya pun seperti menyudutkanku.

“Tasya! Kalian sama-sama perempuan, ‘kan? Kenapa sih kamu nggak bisa mengerti?”

“Aku melakukan ini semua juga demi keluarga ini. Apa kamu benar-benar tega memberi tahu Kakak Ipar kebenarannya?”

Aku mencubit telapak tanganku dengan keras, berusaha agar diriku sedikit lebih sadar.

Namun, justru diamku ini malah membuat kedua orang di depanku semakin cemas.

Detik berikutnya, wanita di sampingku mulai membujukku lagi dan berkata, “Barusan dokter bilang, Kakak Ipar-mu ini hanyalah amnesia sementara, mungkin saja beberapa hari lagi akan pulih.”

“Kamu tahan saja dulu ya, nanti begitu dia pulih ingatan, semuanya akan kembali.”

Perkataan yang amat sangat familiar itu kembali terdengar, dan aku akhirnya menyadari sesuatu.

Hanya karena kalimat itu … kalimat yang entah aku sudah berapa kali mendengarnya.

Namun … semua itu terjadi sebelum aku mati.

Kenapa sekarang semuanya seolah kembali ke awal?

Jantungku berdebar keras dua kali, sebuah dugaan gila terlintas dalam pikiranku.

A-apakah ... aku benar-benar telah terlahir kembali?

Hatiku bergetar hebat.

Untuk sesaat aku tidak menyadari, bahwa reaksiku membuat dua orang di depanku saling bertukar pandang.

Saat aku kembali sadar, kulihat mereka berdua masih ingin mengatakan sesuatu lagi.

Namun pada saat itu, suara seorang wanita dari dalam kamar pasien terdengar, “Yudha, kamu di luar?”

Yudha Tanujaya, itu nama kakak suamiku.

Namun, yang berdiri di hadapanku jelas-jelas adalah suamiku sendiri, Yudhi Tanujaya.

Di kehidupan sebelumnya dan juga di tempat ini, aku hanya bisa melihat suamiku melangkah masuk tanpa menahannya.

Tidak pernah kuduga, sejak saat itu, dia benar-benar menjadi pengganti suami sang janda yang merupakan kakak iparnya.

Lebih tidak pernah kubayangkan, bahwa aku menyetujuinya pada waktu itu akan menyeretku dan putriku ke dalam hidup yang tragis.

Sejak saat itu, aku hanya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana suamiku hidup bersama dengan Kakak Iparnya.

Bahkan, putriku tidak punya kesempatan lagi untuk memanggilnya papa.

Kemudian, setiap kali aku menyinggung masalah ini, mereka hanya akan menutup mulutku dengan satu kalimat: “Tunggu saja sampai ingatan Kakak Ipar pulih kembali.”

Namun setelah aku mati, barulah aku tahu, ternyata semua amnesia yang disebut-sebut sang janda itu hanyalah pura-pura.

Arwahku melayang-layang di udara, melihatnya berdiri di hadapan jasadku tanpa rasa bersalah.

Dia berkata, “Kamu jangan salahkan aku ya. Yudha sudah mati, aku dan anakku sendirian, tentu harus ada seseorang yang menjaga kami.”

“Salah kamu sendiri tidak bisa mempertahankan dia.”

“Kamu mati juga bagus, cepatlah bereinkarnasi memulai hidup baru, jangan selalu merebut lelaki denganku!”

Setelah mengetahui kebenaran itu, aku panik melayang di hadapan suami dan mertuaku. Tetapi tidak peduli bagaimana aku melambaikan tangan di depan mereka, mereka sama sekali tidak melihatku.

Aku mati-matian ingin membuat mereka tahu kebenarannya, tetapi tidak pernah kusangka ...

Detik berikutnya, aku justru mendengar mertua berkata dengan wajah penuh sukacita,

“Bagus sekali! Mulai sekarang akhirnya tidak ada lagi yang merusak kebahagiaan kalian!”

Hatiku langsung seperti ada yang menusuk dengan dalam, menatap wajahnya dengan kosong.

Aku sempat mengira itu hanya ilusi.

Walau mertuaku memang tidak pernah menyayangiku, tetapi juga tidak pernah benar-benar menyiksaku. Bagaimana mungkin dia berharap aku mati?

Namun setelah mendengar perkataan suamiku, seluruh tubuhku sontak terasa dingin. Dengan wajah penuh senyum, dia berkata dengan puas, “Kalau bukan aku yang menghentikan kalian, kalian pasti sudah menolongnya. Bagi kita semua, akan lebih baik kalau dia mati.”

Saat itulah aku tahu, ternyata aku masih punya sedikit kesempatan untuk hidup, tetapi mereka yang memilih untuk menyerah menyelamatkanku. Marah, benci, semuanya menyatu di dalam hatiku.

Aku ingin membalas dendam kepada mereka, tetapi aku hanya bisa menyaksikan mereka yang bermesraan.

Mengingat kembali adegan itu, kebencianku pun kembali meledak.

Aku mendengar Yudhi menjawab suara dari dalam, lalu memberi isyarat kepada mertuaku sebelum melangkah masuk.

Mertuaku menangkap isyarat itu, segera meraih lenganku erat-erat.

Sambil setengah memaksaku keluar, dia berkata, “Kakak Ipar-mu baru saja bangun, dia pasti lapar. Ayo, kita pergi keluar membeli sesuatu untuk dimakan.”

Mungkin khawatir aku akan kembali lagi, dia berjalan sangat cepat.

Aku hanya menyeringai sinis, tidak berkata apa-apa.

Di kehidupan sebelumnya, aku tidak menghentikan mereka, karena aku bodoh, tolol, dan terlalu percaya pada lelaki yang tidak pernah mencintaiku.

Di kehidupan ini, aku tetap tidak akan menghentikan mereka. Karena di dalam hatiku, mereka sudah bukan lagi suami dan mertua, melainkan pembunuh.

Bab 2

Sikapku membuat raut wajah Feni, ibu mertuaku, tampak semakin puas.

Dia menepuk tanganku, nadanya lembut berkata, “Tasya, aku tahu kamu paling pengertian. Kami sangat beruntung bisa mendapatkanmu sebagai menantu!"

"Tenang saja, mama akan selalu menyayangimu.” Sambil bicara, dia mengeluarkan tiga ribu dolar dari sakunya dan menyerahkannya ke tanganku, menyuruhku menyimpannya untuk dipakai sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, karena dari awal sampai akhir aku tidak pernah setuju dengan hal ini. Bahkan setelah mengalah pun, wajahku selalu terlihat penuh dengan ketidakpuasan. Saat itu, Feni hanya bisa menyalahkanku terus-menerus, mana mungkin memberiku uang seperti sekarang.

Namun, melihat uang di tanganku, aku tidak kuasa menahan tawa sinis dalam hati.

Tiga ribu dolar memang banyak, tetapi mana bisa kalau mereka ingin membeli status suamiku dengan segini saja? Mana ada hal semudah itu di dunia ini?

Lagipula, di kehidupan kali ini, aku sudah punya rencana lain. Justru saat inilah aku sangat membutuhkan uang.

Memikirkan ini membuatku menarik napas panjang, lalu dengan nada sedih aku berkata, “Bukan aku yang keberatan, tapi Yani sangat menyayangi papanya. Aku takut dia tidak bisa menerima hal ini.”

“Kalau nanti Kakak Ipar tahu semua faktanya, lalu terguncang, itu akan lebih buruk lagi.”

Maksud dalam ucapanku jelas terbaca, wajah Feni pun terlihat tampak agak berat hati.

Namun, meski begitu, dia tetap menambahkan enam ribu dolar lagi.

Dengan nada agak tidak sabar dia berkata, “Uang yang kubawa hanya ini saja.”

Aku tersenyum sambil berkata, “Terima kasih, Ma.”

Melihatnya berjalan masuk ke restoran, ekspresi di wajahku langsung berubah. Mengingat putriku yang manis dan penurut, aku kembali mengepalkan tangan dengan kuat. Yani adalah anak yang paling pengertian di dunia ini.

Walaupun dia tidak paham dunia orang dewasa, bahkan tidak tahu arti kata-kata yang kami ucapkan. Tetapi dia selalu patuh, tidak pernah rewel atau menangis keras.

Saat dia demam tinggi hingga pingsan, dia terus menyebutkan kata “Papa”.

Saat itulah aku sadar betapa keterlaluannya diriku.

Aku memohon pada Yudhi untuk mengantar kami ke rumah sakit, memohon agar dia setidaknya bisa memberikan kehangatan sekali saja pada Yani.

Tidak kusangka, justru karena itu, aku dan putriku kehilangan nyawa bersama.

Di kehidupan ini, aku pasti akan melindungi putriku dengan baik, membawanya pergi dari keluarga kejam ini.

Tidak lama kemudian, Feni keluar dari dalam. Dikarenakan restoran itu tidak banyak pelanggan, membungkus makanan pun sangat cepat.

Saat kami kembali ke kamar pasien, Yudhi sedang memijat kepala Cinthya, Kakak Ipar-nya. Begitu melihatku, dia segera menarik kembali tangannya.

Secara refleks, dia buru-buru menjelaskan, “Cinthya bilang kepalanya sakit, jadi aku bantu pijat sebentar.”

Dulu dia selalu menyebut “Kakak Ipar”, tetapi sekarang dia seolah sudah terbiasa dengan peran barunya.

Mendengar ucapannya itu, Cinthya langsung berkata dengan nada tidak senang, “Hubungan kami sangat bagus, mama juga pasti tidak akan keberatan!”

Cinthya seakan salah paham dengan maksud Yudhi, tetapi aku tahu, itu semua dia lakukan dengan sengaja. Aku tidak melewatkan sorot matanya yang menantang itu.

Mungkin karena sadar aku masih ada di samping, Feni tampak agak canggung.

Dia tertawa kering dua kali, lalu berkata, “Ya, yang penting kalian rukun.”

Kemudian dia cepat-cepat mengalihkan topik dan berkata, “Ini makanan yang kubeli, makanlah dulu untuk mengganjal perut.” Dia pun sambil bersiap untuk membuka bungkusan makanan.

Siapa sangka, detik berikutnya, Cinthya kembali mencari perhatian. “Yudha, tanganku sakit. Atau … kamu aja deh yang menyuapiku.”

Yudhi segera mengangguk setuju. Tetapi selama menyuapi Cinthya, tangannya bergetar berkali-kali. Bahkan keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Beberapa kali pandangan matanya bersirobok dengan milikku, wajahnya tampak begitu tegang.

Apa dia gugup? Mungkin.

Namun aku tahu, lebih dari itu, dia sebenarnya takut, takut aku akan meledak dan membuat keributan. Aku menatap tenang, menikmati pemandangan memalukan itu.

Di kehidupan sebelumnya, adegan ini juga pernah terjadi.

Hanya saja, saat itu aku merasa begitu sakit hati hingga langsung berbalik keluar dari kamar pasien. Sekarang kupikir, justru karena kepergianku, mereka bisa lebih leluasa.

Kalau tidak, mereka juga pasti akan sama gelisahnya seperti sekarang.

Akhirnya, setelah Cinthya selesai makan dan minum, Yudhi sibuk mengurus semua proses untuk keluar dari rumah sakit. Dan aku tahu, pertunjukan yang sesungguhnya … akan segera dimulai.

Bab 3

Namun, yang membuatku sedikit terkejut adalah ... Sebelum pergi, Yudhi menarikku ke samping.

Dia menjelaskan, “Tasya, jangan salah paham. Aku tidak tahu bagaimana hubungan Kakak dan Kakak Ipar dulu. Aku hanya mengikuti kata-katanya saja. Kalau tidak, dia bakal curiga.”

Melihat ekspresi menenangkannya, aku hanya tersenyum tipis. “Aku mengerti, tunggu saja sampai ingatannya pulih kembali.”

Melihat aku begitu pengertian, wajah Yudhi justru tampak sedikit canggung.

Dia mengeluarkan sejumlah uang dari saku dan menyerahkannya ke tanganku.

Ibu dan anak ini benar-benar sama, kata orang, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Itu memang benar.

Keduanya sama-sama ingin menyingkirkanku dengan uang.

Namun, uang yang sudah sampai di tangan, tentu saja tidak ada alasan untuk menolak.

Aku pun menerimanya sambil berkata, “Kalau begitu, nanti saat pulang aku akan membelikan hadiah untuk putri kita, supaya dia tidak sedih.”

“Kamu juga tahu, putri kita jauh lebih pengertian.”

Mungkin tersentuh karena aku menyebut soal anak, Yudhi kembali mengeluarkan sedikit uang untukku. “Untuk sementara waktu, kamu jaga anak kita baik-baik. Tenang saja, aku akan segera pulang.”

Aku hanya mengangguk, tidak bicara lagi.

Keheningan melayang di udara dua detik. Dia menggaruk belakang kepalanya, lalu berkata, “Kalau begitu, kita pulang dulu. Jangan sampai nanti dia curiga.”

“Baiklah.”

Pulang ke rumah hanya akan membuat lebih banyak orang tahu skandal suami dan Kakak Iparnya.

Dibandingkan kehidupan sebelumnya yang penuh amarah, di kehidupan ini aku jauh lebih tenang.

Seperti yang sudah kuduga, sama seperti kehidupan lalu, begitu sampai rumah, mertuaku langsung mengusulkan untuk pindah rumah. Dari desa pindah ke kota, seharusnya itu adalah kabar baik.

Oleh karena itu, di kehidupan lalu aku menerima dengan senang hati. Hanya saja aku bertanya, “Kenapa tiba-tiba mau pindah rumah?”

Aku ingat saat itu Feni berkata, "Kebetulan uang santunan untuk almarhum Yudha sudah turun. Dia memang telah berkorban, tetapi tetap meninggalkan sesuatu untuk kami. Kalau kami hidup lebih baik, di alam sana dia pun bisa tenang."

Namun kemudian, aku baru sadar. Alasan mereka terburu-buru pindah ke tempat baru yang tidak mengenal siapa pun, hanyalah supaya Yudhi dan Cinthya bisa hidup bersama secara terang-terangan.

Dengan begitu, lebih cepat pula menetapkan status mereka sebagai pasangan suami-istri. Sedangkan aku, hanya akan terlihat sebagai perempuan jahat yang merusak hubungan orang lain.

Aku punya rencanaku sendiri. Maka aku sengaja berkata, “Ma, bagaimana kalau aku yang pergi lihat rumah? Tadi di jalan aku bertemu teman lama, kebetulan keluarganya sedang menjual rumah.”

Feni sempat ragu, tetapi Yudhi yang merasa aku mengganggu kalau di rumah, justru membujuk mertuaku. Aku pun sengaja menunda-nunda dengan alasan mencari rumah, sambil diam-diam menyebarkan gosip di desa mengenai alasan sebenarnya mereka pindah.

Yudhi setiap hari sibuk dengan Cinthya dan anaknya, sama sekali tidak menyadari ada yang janggal. Sebaliknya, Feni yang lebih peka, memperhatikan tatapan aneh dari orang-orang desa.

Begitu pulang, dia langsung menudingku dan bertanya, “Tasya, apa kamu yang bicara sembarangan di luar?”

Aku menatapnya dengan tatapan polos. “Nggak ada. Pasti ada orang yang melihat Kakak Ipar dan suamiku bersama. Ma, kamu juga tahu, ‘kan ... orang-orang di desa ini suka sekali bergosip.”

Feni mulai kehilangan kesabaran dan mendesakku, “Rumahnya sudah dapat belum? Kalau tidak, biar aku sendiri yang cari!”

“Baiklah. Hari ini aku akan bicara lagi dengan temanku soal harga.” Dalam hati, aku mulai sedikit cemas. Kesabaran mertuaku terbatas, sementara kabar yang kutunggu belum juga datang.

Untung saja, Tuhan masih berpihak padaku.

Aku pergi ke warung telepon umum, lalu kembali menekan nomor yang sudah sangat familiar itu.

Awalnya kupikir bakal seperti sebelumnya, tetap tidak ada yang mengangkat. Tapi tidak kusangka kali ini, sebelum aku sempat bicara, suara asing namun sangat familiar terdengar dari seberang, “Halo, ini Yudha, ada perlu apa?”

Benar. Yudha ternyata … belum mati.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B41800" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B41800
Salin

Biarlah Kau Jadi Kakak Ipar Selamanya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya