Bab 1
“Kak, kumohon jangan dorong ke depan lagi, aku sudah nggak kuat.”
Di tengah konser, kerumunan orang sangat padat dan aku sengaja mendesak ke arah gadis muda di depanku.
Dia mengenakan rok mini bergaya seragam sekolah yang sexy, aku pun langsung mengangkat roknya dan menempel pada pantatnya.
Parahnya, celana dalamnya sangat tipis.
Pantatnya yang padat dan berisi itu langsung membuatku terangsang.
Yang mengejutkanku, sepertinya dia juga bereaksi dengan doronganku.
Namaku Peter, aku sering dengar kalau di konser banyak gadis muda dan mereka cukup terbuka.
Untuk mencari sensasi, aku sengaja membeli tiket konser seorang artis terkenal dan ingin membuktikannya.
Setibanya di lokasi konser, ternyata tempat ini dipenuhi lautan manusia.
Sekilas pandang, terlihat banyak gadis muda yang memakai pakaian sexy, usianya terihat sekitar dua puluhan dan masing-masing berdandan dengan sangat memikat.
Biasanya mereka adalah wanita cuek yang butuh waktu lama untuk didekati.
Namun, begitu melihat idolanya, mereka semua seperti ayam betina yang sedang birahi, terus menjerit dengan suara melengking.
Mereka berjinjit, memanjangkan leher, sama sekali tidak peduli kalau pakaiannya mungkin akan tersingkap, hanya demi bisa melihat sang idola.
Bahkan ada yang berteriak, “Sayang! Cepat mainin aku!”
Aku mencari sumber suara itu. Yang berteriak adalah seorang gadis cantik yang memakai baju bergaya seragam sekolah yang sexy dengan rok yang super mini.
Begitu berjinjit, celana dalam putihnya yang tipis langsung terlihat.
Wanita seperti ini tampak memiliki hasrat yang kuat.
Aku menyusup melalui kerumunan yang padat dan berdiri tepat di belakangnya.
Dia tampaknya benar-benar larut dalam musik, tubuhnya bergoyang mengikuti irama dan roknya terus bergerak.
Jantungku berdebar kencang dan telapak tanganku berkeringat, tapi aku tidak berani bertindak sembarangan.
Suasana di lokasi sangat panas dan kerumunan terus bergerak.
Aku didorong oleh orang belakang, membuatku menempel erat di punggungnya.
Perhatiannya terfokus sepenuhnya pada artis di atas panggung dan sama sekali tidak menyadari ada orang di belakangnya.
Konser memang ramai dan gesekan fisik itu hal yang sangat normal.
Meski aku menempel di punggungnya, dia tampak tak peduli.
Keberanianku pun perlahan meningkat. Akhirnya aku menyandar padanya dan merasakan kelembutan tubuh gadis itu.
Mungkin karena tekananku cukup berat, dia pun menoleh ke belakang, sambil menggerakkan sedikit tubuhnya.
“Jangan dorong aku, nggak nyaman.”
Aku mundur selangkah dan membungkuk, lalu berkata, “Maaf, belakangku terlalu berdesakan.”
“Nggak apa-apa,” jawabnya sambil tersenyum, lalu kembali larut dalam musik.
Sensasi barusan terus terngiang di benakku. Aku belum pernah merasakan gadis muda cantik seperti ini.
Saat ini, dia tepat ada di depan mataku, itu membuat hatiku gelisah.
Kali ini aku belajar lebih pintar. Aku tak lagi menempelkan seluruh tubuh seperti sebelumnya.
Melainkan menegakkan pinggul dan mendorongnya ke bawah roknya, sementara tubuhku sedikit mencondong ke belakang.
Suasana konser memang sudah meriah, ditambah lagi gadis itu memang sangat lincah.
Pantatnya yang berbentuk buah persik itu bergoyang mengikuti irama, terus-menerus bergesekan dengan benda milikku, membuat seluruh tubuhku terasa gelisah.
Yang lebih parahnya, saat konser mencapai puncaknya, dia melompat mengikuti irama.
Gerakan naik turunnya terus-menerus menekan area pinggulku.
Sensasi desakan yang kuat ini seketika membuatku terangsang dan benda milikku langsung berdiri tegak.
Tiket konser ini benar-benar tak merugikan!
Di luaran, gadis muda cantik seperti ini mungkin tak bisa didapatkan dengan harga berapapun.
Namun, saat ini sedang kupermainkan secara terang-terangan.
Apalagi ada banyak orang di sekitar, sensasi terlarang ini membuatku merasa semakin gembira.
Area bawahku menjadi semakin panas.
Gadis itu juga menyadari keanehan, merasakan ada benda keras di bawahnya.
Sepertinya dia menikmati desakanku dan mengeluarkan suara lembut yang sensual dari tenggorokannya.
Yang tak kuduga, dia tidak menunjukkan penolakan sama sekali.
Sebaliknya, dia malah mencondongkan pantatnya dan menekan kedua kakinya ke arah ituku.
Aku merasa seperti mengenai suatu cekungan, yang samar-samar menyelimuti benda milikku.
Dari sudut pandangku, pemandangan di bawah roknya terlihat jelas. Isinya sungguh besar dan kenyal.
Terutama di bagian itu, celana dalamnya sudah tertekan ke dalam karena doronganku.
Dia mengayunkan tongkat cahayanya dan menatap artis di atas panggung.
Sambil terus berteriak, “Sayang, aku mencintaimu.”
Gadis ini benar-benar terlihat polos dari luar, tapi ternyata begitu menginginkannya.
Dia berhalusinasi diriku adalah idolanya, seolah-olah yang sedang mendesaknya adalah artis di atas panggung.
Bab 2
Suasana di konser semakin panas dan semua perhatian tertuju pada panggung.
Sama sekali tidak ada yang memerhatikan apa yang kulakukan!
Ditambah lagi suasana yang gelap, keberanianku pun semakin membesar.
Aku mengikuti ritme gerakan tubuhnya, mengayunkan pinggul maju mundur.
Setiap tekanan yang timbul memberikan sensasi yang membuatku semakin bergairah.
Dia juga tampak sangat menikmati sensasi ini. Bersamaan dengan tekananku, dia juga menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan kanan.
Setiap goyangan bergesekan dengan perut bagian bawahku.
Gesekan ini terasa seperti semut yang menyusup hingga ke tulang-tulangku.
Seluruh tubuhku terasa geli.
Aktivitas di bagian bawah tubuhku pun semakin besar.
Aku mengulurkan tangan untuk menggenggam pinggang rampingnya.
Aku menekan seluruh pinggulnya ke tubuhku dengan kuat.
Tindakan ini sama saja seperti sedang melakukan hal intim!
Guncangan fisik dan batin yang kurasakan membuat seluruh tubuhku serasa hampir meledak.
Datang ke konser ini benar-benar keputusan yang tepat!
Gadis yang dicari secara acak pun begitu menggoda, membuatku bisa melakukan apapun yang kumau.
Aku menyapu pandangan ke sekeliling. Ada sekitar puluhan ribu penonton di dalam, setidaknya dua puluh ribu diantaranya adalah wanita.
Bahkan jika aku berganti-ganti setiap hari, sepuluh tahun pun tidak akan selesai. Apalagi semuanya adalah gadis sexy yang berusia sekitar dua puluhan tahun.
Memikirkan hal ini membuat hatiku sangat gembira dan semanis madu murni.
Aku merasa terhalang dengan celana, seperti gatal yang tak tergaruk. Aku pun membuka risleting celanaku.
Aku mengeluarkan benda sepanjang tujuh inch itu dan menyelipkan ke bawah roknya.
Lalu langsung menekannya dengan kuat.
Melalui celana dalam yang tipis, aku merasa di dalamnya sudah benar-benar basah.
Ada aliran hangat yang keluar.
Tanpa penghalang celana, benda milikku pun bisa masuk lebih dalam.
Terbungkus erat oleh kedua pantat yang indah dan lembut.
Benar-benar gadis sexy dua puluhan tahun, sangat kencang dan jauh lebih nikmat dari istriku yang sudah mengendur.
Tiba-tiba, tubuh gadis itu melemas dan kedua kakinya gemetar.
Untungnya tanganku memegang pinggangnya. Jika tidak, dia akan langsung terjatuh ke lantai.
Dia berbisik pelan di depan, “Kak, jangan mendesak lagi. Kamu membuatku merasa sangat geli.”
Aku paham, semakin wanita mengatakan tidak, semakin dia menginginkannya.
Aku menekan pinggangnya dan kekuatan benda milikku semakin bertambah, celana dalamnya bahkan terasa akan sobek dengan desakanku.
Tepat pada saat itu, lampu sorot kamera menangkap kami.
Aku dan gadis ini ditampilkan di layar besar.
Barulah aku melihat wajah gadis ini dengan jelas, wajahnya benar-benar seperti artis papan atas!
Wajah ovalnya putih dan lembut, tampak merah merona karena tekananku.
Dia sedikit mengerutkan kening, bibir mungilnya sedikit terbuka dan terus mendesah, ekspresinya terlihat seperti sedang melakukan hal intim.
Dia tidak menyadari layar besar. Matanya sedikit tertutup, fokus menikmati tekananku.
Melihat kamera menyorot kami, aku segera menghentikan gerakan. Lalu berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Barulah dia tersadar kembali. Melihat dirinya sendiri di layar besar, wajahnya semakin memerah karena malu dan buru-buru menundukkan kepala.
Artis di panggung pun berkata, “Pasangan ini mesra sekali kelihatannya. Kameraman, coba lihat masih ada pasangan yang lain?”
Atas perintahnya, kamera pun beralih ke pasangan lain.
Barulah aku menghela napas lega. Aku memeluk pinggang gadis itu dari belakang dan merasakan kelembutannya.
Gairah dalam dirinya sudah terangsang olehku dan sekarang dia berbicara sambil terengah-engah,
“Kak, kamu berani sekali. Aku bahkan tak mengenalmu, kamu malah….”
Aku mencubit perutnya dan tertawa, lalu menjawab,
“Malah apa?”
“Kamu belum pernah melakukan ini di tempat seperti ini, ‘kan? Seru nggak?”
Dia menundukkan kepala, menjawab dengan malu-malu,
“Aku belum pernah melakukan hal seperti itu, dasar kamu.”
Ternyata dia masih perawan. Pantas saja begitu kencang dan sensitif.
Memikirkan bahwa diriku mendapatkan gadis yang murni, aku pun semakin bersemangat.
Aku langsung menggigit cuping telinganya dari belakang dan berbicara lembut,
“Kamu secantik ini, mana mungkin nggak pernah?”
Dia merasa geli dengan tingkahku, meringkuk dan tertawa cekikikan.
“Aku baru kuliah semester satu, keluargaku sangat ketat, mereka nggak mengizinkan aku pacaran.”
Biasanya wanita seperti ini memiliki hasrat yang sangat kuat terhadap lawan jenis. Aku mencengkeram payudaranya dari belakang dan dengan lembut memainkan kedua putingnya.
Tubuhnya langsung tidak tahan lagi, dia bahkan berinisiatif memohon,
“Kak, geli sekali. Aku mau sensasi seperti tadi lagi.”
“Boleh!”
Aku langsung melepaskan celana dalamnya, memperlihatkan pantatnya yang kenyal.
“Buka kakimu sedikit dan menungging sedikit.”
Dia dengan patuh menunggingkan pantatnya yang indah. Kini, bagian itu sudah sepenuhnya dalam kendaliku.
Aku juga hampir tak bisa menahan diri lagi, di tengah desakan orang-orang… aku langsung mengangkat rok mininya….