Bab 2

Aku membelalakkan mata memandangnya.

Di balik kacamata tebalnya, terlihat jelas ekspresi ketakutannya. Aku buru-buru menenangkannya,

"Lina, kamu gila, ya?"

"Kita tinggal bareng Jenny setiap hari, mana mungkin dia sudah mati?"

"Kamu pasti kebanyakan baca novel horor, makanya lihat siapa pun kayak lihat hantu ... "

Karena gugup, aku mengoceh panjang lebar.

Aku tidak bisa langsung memercayainya, bagaimana kalau Lina sedang membohongiku.

Kalaupun dia tak berbohong, tanpa pengakuan dariku, Lina juga hanya bisa mencurigai, tidak mungkin langsung menyebutkan ini di asrama.

Yang perlu kulakukan hanyalah menenangkan si mayat selama dua minggu ke depan.

Melihat aku terus membantah, ekspresi wajah Lina semakin muram.

Aku merasakan hawa dingin di sekeliling kami dan tubuhku langsung merinding. Langkahku juga otomatis menjadi lebih cepat.

Begitu sampai di asrama, aku mau segera makan dan tidur. Tidak ada yang boleh menggangguku!

Namun, saat kami hampir tiba di depan gedung asrama, Lina akhirnya tidak tahan lagi.

Dia memaksaku duduk di bangku panjang pinggir jalan, memastikan tidak ada orang di sekitar, lalu memaksa aku mendengar cerita horornya.

Hari itu, Lina sedang menjemur pakaian di balkon.

Saat itu, gerbang asrama akan segera ditutup dan semua pasangan kekasih sudah kembali ke kamar masing-masing.

Hanya Jenny dan pacarnya yang masih duduk di bangku belakang gedung, sedang bermesraan.

Gedung asrama kami memang terletak paling belakang. Di belakangnya ada tempat pengambilan paket dan tidak ada apa-apa lagi.

Di waktu itu, tempat pengambilan paket juga sudah tutup.

Jadi, area tersebut gelap gulita, hanya diterangi lampu jalan yang redup. Dalam pandangan Lina, hanya ada Jenny dan pacarnya yang duduk membelakanginya.

Saat bercerita sampai sini, Lina menelan ludah dengan susah payah.

Dia menggenggam tanganku erat-erat.

Tangannya basah dan dingin, penuh keringat dingin.

Aku pun merasa tidak nyaman. Aku merinding, bulu kudukku berdiri dan keringat dingin mulai mengalir di tubuhku. Namun, aku tetap harus berpura-pura tenang.

Aku menggenggam balik tangannya sambil berkata, "Lina, sudah malam, ceritamu menakutkan sekali."

Namun, Lina menatapku dengan mata membelalak, "Nggak bisa! Kamu harus dengar sampai selesai!"

Dia menekan bahuku erat-erat agar aku tak bisa bangun.

Kekuatannya begitu besar, aku bahkan tak bisa melepaskan diri.

Akhirnya, aku tak punya pilihan selain mendengarkan.

Lina yang tidak ingin mengganggu mereka, melanjutkan menjemur pakaian tanpa berkata apa-apa.

Namun, saat dia kembali ke kamar untuk mengambil gantungan baju, hal aneh terjadi.

Jenny sedang mengintip dari tirai tempat tidurnya, mengobrol dengan diriku yang duduk di atas tempat tidur.

Melihat Lina kembali, tiba-tiba Jenny menoleh dan bertanya dengan senyuman lebar, "Kamu lihat apa barusan di luar?"

Lina terkejut hingga gantungan bajunya terjatuh ke lantai.

Tanpa peduli untuk mengambilnya, Lina langsung berjalan cepat kembali ke balkon.

Dan saat itu, wanita yang membelakanginya tadi perlahan memutar tubuh.

Wajahnya ... adalah wajah Jenny!

Ada dua Jenny!

Suara Lina menjadi tinggi, wajahnya pucat, bagaikan selembar kertas putih.

Sementara diriku yang mendengar ceritanya, sudah basah kuyup karena keringat dingin.

Hari itu, aku juga ada di sana.

Aku ingat bahwa kemarin sedang berbincang dengan Jenny dan aku juga ingat Lina terlihat aneh malam itu.

Dia tidak berbohong.

Jangan-jangan, Jenny benar-benar orang mati itu?

Lalu, apakah aku harus memberitahu Lina kebenarannya.

Melihat kondisi mentalnya saat ini, dia mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama.

Jika dia tiba-tiba kehilangan kendali dan langsung mempertanyakan Jenny, bukankah itu seperti menyerahkan diri pada maut?

Aku menelan ludah dengan berat dan akhirnya memutuskan untuk memberitahunya.

Bagaimanapun, Lina adalah teman asramaku. Dia tidak pantas kehilangan nyawa di usia yang seharusnya penuh kebahagiaan.

Namun, belum sempat aku mengatakan apa-apa. Lina sudah terjatuh ke lantai.

Matanya menatap ke belakangku dengan penuh ketakutan, tubuhnya gemetar hebat.

Keringat dingin mengalir di pelipisku. Mengikuti arah pandangannya, aku perlahan menoleh.

Entah sejak kapan, Jenny sudah berdiri di sana, menatap kami dengan tatapan tajam.

Jika bukan karena lampu menyala tiba-tiba, pasti tidak ada yang menyadari Jenny yang berdiri di tempat gelap itu.

Aku tidak tahu seberapa banyak yang dia dengar, tapi aku tetap berpura-pura tenang. Namun, tubuhku membeku, gemetar tak terkendali.

Melihat Jenny perlahan mendekat, aku benar-benar hampir kehilangan akal.

"Bilang saja, apa yang sedang kalian lakukan diam-diam di sini?"

"Melihatku datang langsung ketakutan seperti ini. Jangan-jangan kalian sedang membicarakanku?"

Jenny tidak menunjukkan tanda-tanda berubah, aku sedikit merasa lega.

"Bukan, kami hanya mencari udara segar di luar saja. Lina sedang cerita horor tadi, aku ketakutan sampai ngompol."

Mendengar itu, Lina buru-buru mengangguk.

Jenny memandang kami dengan curiga, tapi akhirnya tidak berkata apa-apa.

Dia lalu merangkul aku dan Lina di kedua sisi dan kami bertiga pun kembali ke asrama bersama.

Begitu sampai, aku makan dengan cepat, lalu langsung naik ke tempat tidur.

Tempat tidur kami semua punya tirai yang bisa ditutup, yang tidak hanya melindungi dari nyamuk tapi juga cahaya.

Setelah menutup tirai, akhirnya aku bisa merasa sedikit tenang.

Tidak lama kemudian, Lina memanggilku untuk mandi bersama.

Aku tahu dia ingin membahas rencana. Baru saja aku mau menyetujui, tiba-tiba terdengar suara Jenny,

"Aku juga ikut, yuk barengan saja!"

Suasana menjadi hening sejenak. Aku langsung mengatakan bahwa diriku sedang datang bulan dan merasa tidak enak badan, jadi tidak bisa ikut.

Rasanya seperti ada duri yang menusuk punggungku dan aku hanya ingin sendiri.

Bab 3

Barusan aku memang terlalu gegabah.

Setelah menenangkan diri, aku mulai memikirkan semuanya dengan lebih berhati-hati.

Haruskah aku memberitahu Lina kebenarannya? Mumpung mereka belum kembali, mungkin aku bisa berkonsultasi dengan sahabatku dulu.

Namun, tiba-tiba Jenny berkata bahwa dia juga tidak enak badan, jadi tidak ingin pergi mandi.

Tubuhku menegang, aku tak bisa lagi mengatakan apa-apa untuk membantahnya.

Bagaimana mungkin aku yang tadi bilang tidak mau pergi, sekarang malah mau? Jika aku begitu labil, pastiterlihat mencurigakan.

Lina diam-diam mengirim pesan, bertanya apakah dirinya perlu tetap tinggal.

Aku membalas tidak perlu.

Setelah berpikir sejenak, aku menambahkan beberapa pesan,

"Mungkin karena kamu terlalu stres akhir-akhir ini, makanya sampai halusinasi."

"Sebagai teman sekamar, sebaiknya kita hidup rukun."

"Aku nggak tahu kamu punya masalah apa dengan Jenny, tapi menyeret cerita horor seperti ini terlalu berlebihan."

"Ini terlalu aneh, aku nggak percaya."

Lina pun tidak membalas pesanku lagi.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara pintu terbuka dan tertutup.

Kini, hanya aku dan Jenny yang tersisa di kamar.

Aku memejamkkan mata rapat-rapat, berpura-pura tidur. Namun, rasa takut membuatku tetap waspada mendengarkan setiap suara di sekitarku.

Aku mendengar suara sandal bergesekan dengan lantai, terkadang berhenti, terkadang berjalan lagi.

Jenny sepertinya sedang mondar-mandir di kamar, mungkin sibuk dengan sesuatu.

Saat aku mulai merasa sedikit lega, suara itu tiba-tiba berhenti.

Lalu, kasurku mendadak terasa tertekan ke bawah.

Dia memanjat ke atas kasurku!

Aku menahan napas, tetap memejamkan mata dan tidak berani bergerak sedikit pun.

Satu tangan menggenggam erat ponselku, itu satu-satunya harapanku.

Tiba-tiba, tirai kasurku dibuka dan cahaya terang menusuk mataku.

Bulu mataku sedikit bergetar dan aku perlahan membuka mata.

"Jenny, apa yang kamu lakukan?"

Namun, Jenny tiba-tiba mendekat, wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Lisa, aku baru saja menyadari Lina sudah mati."

Aku memaksakan diri untuk tersenyum sambil berkata, "Jenny, kamu asal bicara apa?"

"Aku nggak asal bicara!"

"Hari itu, aku dan pacarku sedang duduk di bangku belakang asrama."

"Baru saja aku mau balik ke kamar, tapi saat menoleh ke belakang, aku melihat Lina berdiri di balkon, menatapku."

Jenny tampak mengingat kembali, wajahnya menunjukkan ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Dia begitu pucat, seperti secarik kertas, berdiri kaku di sana."

"Aku yakin dia bukan manusia, nggak ada manusia dengan mata yang sepenuhnya hitam seperti itu ... "

Sekujur tubuhku langsung merinding.

Dengan tangan gemetar, aku menghapus keringat dingin di telapak tanganku dan mencoba menenangkan,

"Kamu pasti salah lihat, malam itu gelap sekali, mungkin kamu salah lihat."

Namun, Jenny tiba-tiba menoleh ke arahku, menatapku dengan tajam.

"Kamu nggak percaya padaku?"

Saat itu, aku baru menyadari bahwa pupil matanya telah melebar, sepenuhnya menghitam, tanpa bola warna putih sedikit pun.

Tubuhku gemetar hebat. Aku memundurkan tubuhku, sementara senyuman di wajahku lebih mirip ekspresi menangis.

"Iya, aku percaya ... "

Jenny tampak semakin marah. Dari matanya, pola hitam mulai menyebar, perlahan menutupi seluruh wajahnya.

Tangan gemetarku mencoba membuka ponsel, tetapi aku tak bisa memasukkan kata sandinya dengan benar.

Teringat ucapan sahabatku, aku menangis sambil bergumam,

"Halusinasi, semua ini hanya halusinasi."

Saat Jenny mengulurkan tangannya dan hampir mencapai tubuhku, tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar.

Lisa masuk dengan membawa ember mandi, wajahnya memuram dan bertanya, "Apa yang sedang kalian berdua lakukan?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B90051" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B90051
Salin

Bermula Dari Casing Berminyak

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya