Bab 1

Pada hari aku mengetahui bahwa diriku sedang hamil, aku kebetulan memergoki suamiku sedang menemani "cinta sejatinya" periksa kehamilan.

"Aku malam ini nggak pulang, ada urusan."

Yohan Suharso berkata dengan nada dingin, lalu merangkul Maudy Hutomo, dan mereka pergi bersama.

Aku terdiam sejenak, kemudian memutuskan untuk membuat janji aborsi.

Semua orang mengira aku mengejar-ngejar Yohan. Mereka kira, aku tidak akan pernah meninggalkannya meskipun selalu diperlakukan dingin dan kejam.

Bahkan dia pun berpikiran serupa.

Tapi mereka tidak pernah tahu, bahwa aku melakukan semua itu hanya demi membayar hutang budi.

Sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu, aku akhirnya bisa mengakhiri pernikahan ini.

"Selamat, usia kandungannya sudah empat minggu."

Aku sudah telat datang bulan seminggu, dan memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Ternyata, aku malah mendapatkan kabar bahwa sedang hamil satu bulan.

Kehamilan ini benar-benar di luar dugaan. Aku keluar dari ruang dokter, lalu berdiri di lorong dan memegangi perutku sambil melamun. Aku ragu apakah harus mempertahankan janin ini atau tidak.

Rahimku lemah, dan jika memilih untuk menggugurkan kandungan ini. Aku mungkin tidak akan pernah bisa hamil lagi.

Tiba-tiba, orang-orang di sekitarku mulai heboh ....

"Hei, itu kan Maudy, si aktris top. Apa dia bersama pacarnya? Serasi sekali!"

"Pacarnya selalu menemaninya setiap periksa kehamilan. Mereka romantis sekali!"

"Wajah mereka berdua cantik dan tampan, pasti anaknya nanti juga akan rupawan!"

Aku refleks menoleh ke arah kerumunan, dan langsung melihat Yohan bersama Maudy.

Maudy hampir tujuh tahun ini selalu memanfaatkan Yohan untuk menggiring opini bahwa mereka berdua adalah pasangan. Orang-orang pun percaya dengan hal itu.

Sebelumnya, kami ketahuan paparazi saat makan bertiga di Hari Valentine.

Warganet langsung menghinaku habis-habisan, mereka menyebutku perempuan licik yang tidak tahu malu.

Mereka tidak tahu, akulah istri sah Yohan.

Aku tidak ingin berlama-lama di rumah sakit ini, karena enggan mempermalukan diriku sendiri.

Namun, Maudy malah memanggilku, "Ziva, sedang apa kamu di sini? Jangan-jangan, kamu sengaja mengikutiku dan Yohan?"

Aku sudah menutupi diriku rapat-rapat dan berhasil menghindari paparazi, tapi tetap tidak bisa menghindarinya. Dia memang luar biasa dalam mengenali orang.

Sebelum aku sempat menjawab, Yohan sudah lebih dulu terlihat mengerutkan kening dan berkata, "Cukup kali ini saja, jangan sampai terulang lagi!"

Begitu Maudy mengucapkan kata-kata "mengikuti", orang-orang di sekitarku langsung menatapku seolah akulah orang ketiga yang sengaja merusak hubungan Maudy dan Yohan.

Ini bukan kali pertama aku harus menghadapi situasi macam ini. Tapi tetap saja terasa menyakitkan, rasanya seperti ada duri yang menyangkut di tenggorokan.

Yohan sama sekali tidak mau membelaku. Dia lebih memilih membawa Maudy masuk ke laboratorium untuk mengambil darah.

Benar juga, mana mungkin dia rela membeberkan fakta bahwa akulah istri sahnya? Bukankah itu malah akan menyudutkan kekasihnya?

Lucu sekali, barusan aku sedang mempertimbangkan apakah harus mempertahankan kandunganku atau tidak.

Orang yang dingin dan tidak berperasaan sepertinya, apa mungkin punya gen baik?

Kalau anak ini lahir, jangan-jangan dia malah akan seperti ayahnya. Dan akan membuatku marah setiap hari!

Aku akhirnya membulatkan tekad, dan mendaftar untuk aborsi. Aku juga menelepon pengacara dalam perjalanan pulang.

"Tolong segera kirimkan surat cerainya begitu dokumennya selesai."

"Tapi, bukti perselingkuhan Pak Yohan selama pernikahan kalian masih kurang. Kamu bisa dapat lebih banyak harta gono-gini kalau kita mendapatkan bukti bahwa anak Maudy adalah anak Pak Yohan."

Aku sendiri juga cukup menyayangkan hal ini, tapi tetap berkata, "Sudahlah, setengah bagian dari harta gono-gini saja sudah cukup."

Pernikahan ini masih bertahan hingga sekarang, hanya karena aku terus menahan segalanya. Setiap hari rasanya seperti siksaan bagiku.

Dibandingkan terus melanjutkan pernikahan ini lebih lama, aku lebih rela kehilangan sedikit uang!

Aku buru-buru pulang untuk istirahat karena tidak enak badan.

Siapa sangka, belum lama aku tiba di rumah, Yohan juga tiba-tiba pulang.

Dia selalu bersikap dingin dan tenang, seolah tidak ada yang bisa menggoyahkan emosinya.

Tapi kali ini dia terlihat berbeda. Dia pulang dengan tergesa, bahkan tatapan matanya tampak memerah.

Yohan mencengkeram tanganku, "Aku sudah lihat trending topik di media sosial!"

Cengkeramannya terlalu kuat, tanganku sampai kesakitan.

Aku menarik tanganku, "Kalau sudah lihat, ya sudah."

Aku sendiri belum sempat melihatnya.

Bisa kutebak, pasti lagi-lagi ulah tim Maudy. Mereka membayar agar bisa membuat topik panas berisi pujian tentang betapa Yohan sangat memanjakan Maudy.

Hal ini sudah sering terjadi. Para penggemar Maudy sering menjadikanku sasaran, dan menyebutku sebagai orang ketiga.

Namun, kali ini Yohan terlihat lebih emosional. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa berat.

"Trending topik itu bilang ... kamu pergi ke rumah sakit hari ini untuk aborsi?"

Bab 2

Ternyata, Yohan malah mengatakan hal yang di luar dugaanku.

Aku tidak tahu kenapa dia semarah ini, "Iya, benar."

Yohan mau marah besar, tapi dia menahannya, "Kalau kamu masih marah soal penghargaan itu, kamu tetap nggak seharusnya melampiaskan kemarahanmu pada anakmu!"

Aku langsung tersulut emosi mendengarnya.

Aku sudah berkecimpung di industri ini selama delapan tahun, dan sudah lima kali dicalonkan sebagai penerima penghargaan Aktris Terbaik.

Dan akhirnya aku bisa mendapatkan gelar Aktris Terbaik, tapi Yohan malah membantu Maudy untuk merebutnya dariku.

Gara-gara itu, penggemar Maudy mengolok-olokku dan menyebutku sebagai aktris spesialis peran pembantu yang tidak pernah mendapat penghargaan.

"Aku melakukannya bukan karena marah. Aku melakukannya karena kita kan akan bercerai, jadi buat apa punya anak. Aku juga sudah meminta pengacara untuk menyiapkan surat cerainya, dan besok akan dikirimkan. Kamu tinggal tanda tangan saja."

Yohan yang memang bertemperamen buruk ini makin tidak bisa menahan emosi.

"Kamu seharusnya nggak perlu sampai seperti ini hanya karena sebuah penghargaan Aktris Terbaik. Kalau kamu memang sangat menginginkannya, aku akan memberikannya padamu tahun depan. Kita akan membahas hal yang lain setelah kamu jauh lebih tenang."

Aku sudah pergi aborsi dan meminta cerai, Yohan sama sekali tidak terpikir untuk meminta maaf ataupun mengakui kesalahannya. Dia malah mengambil kunci mobil dan pergi.

Seperti biasa, dia memang tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang kualami. Dia selalu meninggalkanku dan membiarkanku menghadapi semuanya sendirian.

Dia pasti mengira, sebentar lagi aku akan bergegas menemuinya dan meminta damai.

Tapi, kali ini dia tidak tahu kalau hal itu tidak akan terjadi lagi.

Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku sejak kecil. Aku hanya bergantung pada kakakku untuk bertahan hidup.

Kemudian, kakakku didiagnosa menderita penyakit ginjal. Ibu Yohan membantu membiayai operasi kakakku, dan juga membiayaiku melanjutkan pendidikan.

Aku sangat berterima kasih padanya. Demi membalas kebaikannya, aku rela mengawasi Yohan belajar di sekolah, menemaninya saat patah hati, hingga akhirnya menikah dengannya.

Ibu Yohan bilang, jika sepuluh tahun setelah pernikahan ini aku masih tidak punya perasaan untuk anaknya. Dia tidak akan memaksaku lagi.

Sekarang, batas waktunya sudah tiba.

Pagi-pagi sekali, pengacara datang dengan membawakan surat cerai.

Aku menelepon Yohan, tapi tidak ada jawaban.

Aku pun memutuskan untuk mengirimkan surat cerai dalam bentuk digital padanya.

[ Baca ini, kalau nggak ada masalah, pulang dan tandatangani. ]

Usai mengirimkan pesan tersebut, muncul tanda seru merah di layar.

Dia lagi-lagi memblokir nomorku.

Dia selalu melakukannya setiap kali kami ada masalah. Tidak peduli dia yang salah, tetap aku yang harus melakukan segala cara untuk menenangkannya.

Dia sudah lama terbiasa denganku yang selalu mengejar-ngejarnya.

"Menyebalkan! Untung saja bisa cerai darinya, aku jadi nggak perlu terus bersabar lagi!" Aku merasa sedikit lega.

Tapi, Yohan sama sekali tidak pulang ke rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia justru terang-terangan menemani Maudy belanja di mal, berjalan di karpet merah sebuah acara, hingga beberapa kali jadi trending topik.

Orang-orang di dunia maya menyebut hubungan mereka makin dekat.

Sudah empat hari dia tidak pulang, dan aku sudah kehilangan kesabaran. Aku pergi ke pesta ulang tahunnya untuk menemuinya.

Yohan hanya mengundang teman-temannya, dan acara pesta ulang tahunnya diadakan di salah satu vila miliknya.

Aku membuka pintu dan masuk, membuat semua orang langsung menoleh ke arahku.

Maudy tampak tertawa sinis, "Sudah nggak bisa duduk diam lagi, ya?"

Orang-orang yang lain ikut tertawa mengejekku.

"Maudy bilang, Ziva mengancam mau menceraikan Pak Yohan dan berharap bisa dapat harta gono-gini. Sayangnya, Pak Yohan mengabaikannya."

"Kak Yohan nggak akan mempan diancam seperti itu. Sekarang, Ziva pasti takut Kak Yohan benar-benar mau menceraikannya, makanya mau datang merayunya lagi?"

"Kak Yohan kan sukanya Maudy, tapi Ziva terus saja mengganggunya. Dia memanfaatkan orang tua Kak Yohan, makanya mereka bisa menikah. Kalau aku jadi dia, aku akan diam saja. Mana berani aku bertingkah setiap hari!"

Teman-teman Maudy jelas akan mendukungnya.

Sedangkan teman-teman Yohan, mereka menganggapku lelucon karena sikap dingin pria itu padaku.

Aku tidak mau buang-buang waktu dan banyak bicara, jadi langsung saja berterus terang, "Mana Yohan?"

"Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini?"

Suara dingin Yohan terdengar dari belakang.

Dia lalu berjalan ke samping Maudy.

Seseorang di antara mereka pun mengejekku, mereka menungguku dijadikan bahan tertawaan.

Aku tidak memedulikan mereka, dan langsung berkata pada Yohan, "Ada sesuatu yang perlu kubicarakan denganmu."

Dia merupakan bos dari ST Entertainment, dan sebuah skandal dapat memengaruhi nilai saham perusahaan.

Aku juga salah satu pemegang saham utama di perusahaan, dan enggan terang-terangan mempermalukannya. Makanya, aku mau bicara berdua saja dengannya.

Tapi Yohan jelas tidak mau menunjukkan sedikit respek padaku, "Katakan saja langsung. Tapi kamu nggak perlu mengatakan apa-apa kalau memang kamu menyesal dan mau rujuk. Aku mau saja kita nggak jadi cerai, tapi ini adalah terakhir kalinya kamu boleh membuat keributan seperti ini!"

Aku sudah berusaha menghormatinya, tapi dia malah menghinaku. Sekarang, buat apa aku harus menghormatinya lagi?

"Aku nggak mengenal kata menyesal dalam kamusku."

Aku mengeluarkan surat cerai dari dalam tas dan menyerahkannya padanya, "Tandatangani!"

Yohan tidak menerimanya, malah menatapku dingin, "Kamu mau aku menandatanganinya? Lalu kamu akan cari masalah lagi selama proses perceraian? Ziva, aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu!"

Aku kesal dengan sikap sok tahu dan egoisnya, "Tenang saja, kamu bicara begitu karena mengira aku menyukaimu. Tapi dari SMA sampai sekarang, aku tetap berada di sampingmu hanya demi balas budi!"

"Sekarang, batas waktu sepuluh tahun yang sudah aku sepakati dengan ibumu sudah habis. Aku nggak akan terlibat dengan urusanmu sama sekali setelah ini. Kamu menyebalkan, dan aku juga sudah muak dengan hubunganmu bersama Maudy. Kamu selingkuh dan melakukan kekerasan psikis dalam rumah tangga. Aku membencimu."

Kukira, Yohan akan menandatangani surat cerai itu setelah aku jujur seperti ini.

Apalagi, dia juga menyukai Maudy, dan sudah beberapa kali bilang membenciku yang jadi istrinya.

Tapi ekspresinya malah makin suram setiap kali aku bicara begini.

Dia seperti tidak percaya, sekaligus takut dan cemas.

Akhirnya, tatapannya berubah jadi tajam dan seolah mau memakanku hidup-hidup.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B84216" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B84216
Salin

Belenggu Cinta

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya