Bab 1
Begitu tahu aku menukar kondom bekas suamiku dengan milik mertuanya, sahabatku langsung hancur di tempat.
Kehidupan sebelumnya.
Sahabatku sering dipukuli suaminya, lalu meminta menumpang di rumahku.
Aku merasa kasihan, jadi mengizinkannya tinggal sementara.
Tidak kusangka, setengah bulan kemudian dia justru dinyatakan hamil.
Aku baru hendak bertanya, tiba-tiba suaminya datang. Dia bukan hanya mematahkan kaki suamiku, juga menggugat seluruh keluargaku ke pengadilan.
Di ruang sidang, sahabatku menangis meraung. Dia menuduh suamiku berakhlak bejat dan telah memperkosanya selama tinggal di rumahku.
Sedangkan aku, dituduh menutup mata dan membantu kejahatannya.
Aku dan suamiku membela diri, tetapi dia mengeluarkan hasil tes amniosentesis. Bukti itu jelas menunjukkan anak dalam kandungannya memang milik suamiku.
Kami dihujat habis-habisan oleh warganet, lalu pengadilan menjatuhkan vonis penjara dan ganti rugi dua puluh miliar.
Pada akhirnya, aku dan suamiku masuk penjara, sementara dia menggugurkan anak itu, membawa uang ganti rugi, dan hidup enak bersama suaminya.
Saat kembali membuka mata, aku sudah kembali ke hari ketika sahabatku pertama kali menumpang di rumahku.
Kepalaku terasa sakit seperti mau pecah.
Aku membuka mata dan melihat rumah yang begitu tidak asing. Bukan jalanan tempat aku pernah dipukuli dan dihina, bukan juga penjara lembap yang penuh cercaan, ini adalah rumahku!
"Siena, kamu baik banget. Kalau nggak ada kamu, aku pasti sudah mati karena KDRT dari Riko."
Suara manja yang sangat kukenal terdengar. Aku langsung menoleh cepat dan melihat Felly berdiri di depanku sambil terisak. Saat itu juga aku sadar, aku benar-benar sudah terlahir kembali.
Aku kembali ke hari ketika sahabatku, Felly mengalami KDRT. Dia menangis minta tolong padaku dan aku yang waktu itu terlalu baik hati membiarkannya tinggal di rumahku.
"Siena, rumahmu luas banget ya. Apartemen segini pasti miliaran, ya?"
Sebelum aku sempat menjawab, mata Felly sudah menatap rumahku penuh keserakahan dan iri. Dia melangkah masuk begitu saja.
Pada saat itu, suamiku Johan baru saja pulang kerja.
Felly begitu melihatnya langsung buru-buru merapikan rambut. Dia bahkan cepat-cepat mengeluarkan bedak padat lalu menepuk wajahnya. Setelah itu dia melangkah maju dengan suara lembut.
"Itu suamimu Johan, 'kan? Aku dulu pernah ketemu sebentar di pernikahan kalian. Dia ganteng banget."
Sambil bicara, dia sengaja maju selangkah dengan sikap manja.
Suamiku sedikit mengernyit lalu mundur.
"Kamu berlebihan."
Aku tahu dia sedang merasa risih dengan Felly.
Keluarga suamiku memang berbisnis. Dia bisa dibilang anak orang kaya. Sehari-hari sudah sering ada perempuan dengan niat buruk yang mencoba mendekat, jadi dia sangat mudah melihat tujuan orang-orang seperti itu.
Di kehidupan sebelumnya, dia juga pernah canggung mengingatkanku kalau Felly tidak sesederhana yang terlihat. Waktu itu aku malah mengira dia meremehkan temanku. Sekarang kalau kupikir lagi, aku benar-benar bodoh.
Sama seperti kehidupan sebelumnya. Melihat suamiku tidak menanggapi, Felly tiba-tiba menangis sambil mengusap air mata.
"Siena, kamu beruntung banget dapat suami sebaik ini. Nggak sepertiku, tiap hari kerja cari uang buat keluarga, tapi tetap kena KDRT."
Sambil bicara, dia terus melirik suamiku dengan matanya. Dia sengaja pasang wajah menyedihkan, berharap suamiku bereaksi.
Benar saja, suamiku mendengar itu langsung mengernyit.
"KDRT? Di kantorku ada pengacara profesional. Kalau perlu bantuan bisa bilang ke Siena."
"Benaran Johan? Kalau begitu, aku harus terima kasih banget sama kamu."
"Sayang, apa sih sampai ke pengacara segala? Itu 'kan cuma urusan suami istri ribut kecil saja!"
Aku memotong ucapan Felly. Berbeda dengan kehidupan sebelumnya di mana aku menyarankannya segera bercerai, kali ini aku sengaja berkata lain.
"Orang bilang nggak ada asap kalau nggak ada api. Felly, kamu nggak pernah mikir kalau kamu kena KDRT mungkin juga karena kamu ada salahnya?"
"Dengarkan aku, cepat pulang, minta maaf sama suamimu, jangan sampai berlarut. Antara suami istri nggak ada dendam yang nggak bisa reda, siapa tahu besok kalian sudah baikan!"
Suamiku mendengar kata-kataku tampak heran, karena biasanya aku bukan tipe orang yang suka menyarankan bertahan dalam pernikahan.
Felly juga sama terkejutnya, menatapku dengan bingung.
"Siena, kok kamu bisa ngomong begitu? Aku ini 'kan korban."
"Korban?"
Aku mengangkat alis menatapnya.
"Kalau kamu bilangnya korban, itu beda urusannya. Kalau kamu korban, berarti suamimu Riko dengan sengaja melakukan penganiayaan. Itu bisa bikin dia masuk penjara. Kamu mau suamimu dipenjara?"
"Aku…"
Felly terdiam, kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
Dalam hati aku mengejeknya, tentu saja dia tidak rela.
Kalau suaminya masuk penjara, siapa yang bisa menemaninya melanjutkan sandiwara berikutnya?
Bab 2
Suamiku merasa suasana jadi tidak nyaman, dia pun cari alasan masuk ke ruang kerja untuk rapat. Tinggallah aku dan Felly di ruang tamu.
Begitu melihat itu, raut wajah Felly langsung berubah kesal.
"Siena, barusan kamu ngomong apa di depan Johan? Jangan-jangan kamu nggak mau suamimu menolong aku ya?"
Aku berusaha menahan benci di hatiku, lalu tersenyum tipis.
"Mana mungkin. Aku cuma takut kamu kehilangan laki-laki yang sebenarnya sayang sama kamu."
"Soalnya ada pepatah, kalau dipukul tandanya sayang, kalau dimarahi tandanya cinta. Suamimu mukul kamu segitunya, pasti karena dia punya rasa sayang yang nggak bisa diungkapkan dengan cara lain."
"Kamu..."
Felly terdiam. Sebelum pergi, dia buru-buru bilang, "Aku mau mandi."
Aku menatap punggungnya sambil tersenyum sinis. Kenangan masa laluku pun langsung muncul.
Felly adalah teman kuliahku. Karena wajahnya cantik, banyak yang mengejarnya. Akhirnya, dia memilih Riko karena uang. Tidak disangka, baru beberapa bulan menikah, Riko bangkrut karena kejadian tak terduga.
Pasangan yang tadinya lengket seperti lem mendadak sering bertengkar. Media sosial mereka penuh dengan caci maki dan keluhan. Awalnya aku dan Felly tidak terlalu dekat, sampai aku menikah dengan Johan. Karena dia tertarik dengan latar belakang keluarga Johan, barulah dia sering menghubungiku dan akhirnya jadi sahabat.
Saat dia kena KDRT dari Riko, tengah malam dia menangis datang ke rumahku. Aku merasa kasihan, tidak tega menolak, jadi kubiarkan dia tinggal sementara di rumahku.
Akan tetapi, setelah tinggal di rumahku, dia malah sengaja memakai baju terbuka di depan suamiku. Dia berkali-kali pura-pura lemah dan manja. Bahkan tengah malam dia pura-pura salah masuk kamar, mendadak masuk ke ruang kerja suamiku.
Suamiku sadar ada yang tidak beres, jadi dia pakai alasan dinas keluar kota untuk menghindar. Baru setengah bulan kemudian dia pulang.
Tak kusangka, di saat itu Felly malah dinyatakan hamil.
Aku baru mau tanya apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba suaminya, Riko datang. Bukan hanya mematahkan kaki suamiku, tetapi juga menggugat seluruh keluargaku ke pengadilan.
Di pengadilan, Felly menangis tersedu-sedu sambil menuduh suamiku berakhlak bejat. Katanya selama dia menumpang, suamiku menidurinya.
Sedangkan aku, bukan hanya tidak menghentikan, malah ikut membantu suamiku berbuat jahat.
Aku dan suamiku membantah sekuat tenaga, tetapi dia mengeluarkan hasil tes amniosentesis. Buktinya jelas, anak yang dikandungnya memang anak suamiku.
Di depan kamera awak media, dia kembali menangis sambil bersaksi.
"Aku selalu anggap Siena sahabat terbaikku, nggak nyangka ternyata dia iblis yang menjerumuskanku ke neraka. Suaminya juga binatang!"
Karena kalimat itu, aku dan suamiku jadi bulan-bulanan seluruh internet. Setelah polisi turun tangan, kami malah dipenjara, bahkan dituntut membayar dua puluh miliar sebagai ganti rugi mental untuk Felly dan Riko.
Pada akhirnya, aku dan suamiku mati mengenaskan di penjara. Sementara sahabat palsu itu, dengan uang ganti rugi dua puluh miliar, menggugurkan kandungannya dan hidup enak bersama suaminya.
Mengingat semua itu, aku sampai menggertakkan gigi penuh benci. Kali ini, aku pasti akan membuka kedok aslinya!
Bab 3
Keesokan harinya, aku diam-diam memasang kamera pengawas di rumah. Begitu suamiku keluar, aku juga mencari alasan untuk pergi, lalu di kafe dekat rumah, aku membuka ponsel dan mulai memantau semua gerak-gerik Felly.
Dia terlihat masuk ke kamar tidurku, mengenakan piyamaku yang mahal. Dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, lalu mendengus sinis sambil bergumam.
"Laki-laki sekaya itu mana mungkin suka sama Siena yang nggak punya selera. Badan kering kerontang kayak kentang busuk, mana bisa dibandingin sama tubuhku!"
Sambil bicara, dia mengeluarkan tas Hermos edisi terbatas punyaku, mencoba memakainya dengan berbagai gaya. Ekspresi wajahnya sangat angkuh.
Saat itu juga, Riko menelepon. Felly langsung menunjukkan wajah sebal.
"Apa lagi sih?"
"Bagaimana, ada kemajuan nggak? Johan tadi malam sudah kamu tidurin belum?"
Suara Riko yang cemas terdengar dari seberang.
"Tidur apanya. Dia itu kayu mati, sudah aku godain habis-habisan juga nggak ada reaksi. Jangan-jangan dia gay!"
Mendengar itu, Riko makin panik.
"Dasar perempuan nggak berguna! Biasanya kamu gampang banget merayu laki-laki berengsek di luar, kenapa sekarang pas benar-benar dibutuhin malah nggak bisa apa-apa!"
"Cih!"
Felly langsung memaki kasar.
"Riko, kamu masih tega salahin aku? Kalau saja kamu nggak dikejar utang sampai hampir dibacok, apa aku perlu repot-repot godain laki-laki lain? Lagi pula, kalau dia nggak mau tidur sama aku, aku bisa apa?"
"Bodoh! Kalau nggak tidur bareng, bagaimana bisa hamil!"
Mendengar kata-kata Riko, Felly tiba-tiba teringat sesuatu. Matanya berkilat, lalu tampak bersemangat.
"Benar juga. Sekarang teknologi sudah canggih banget. Selama aku bisa dapetin kondom bekas Johan, nggak susah buat hamil anaknya!"
Setelah itu, dia menurunkan suara dan mulai berbisik merencanakan sesuatu dengan Riko. Karena kualitas rekaman terbatas, aku tidak bisa mendengar sisanya dengan jelas.
Akan tetapi, sampai di sini, aku sudah bisa menebak apa yang ingin mereka lakukan.
Malam itu, saat aku pulang, baru saja masuk rumah aku melihat suamiku keluar dari kamar dengan panik. Sementara di belakangnya, Felly muncul dengan pakaian berantakan.
Begitu melihatku, ekspresi suamiku langsung berubah. Dia buru-buru memelukku.
"Sayang, jangan salah paham. Tadi sahabatmu bilang bajunya rusak, minta aku lihat. Aku baru mau nolak, eh dia malah tiba-tiba buka baju..."
"Mana mungkin aku salah paham, Sayang."
Aku cepat-cepat menyela ucapannya, takut dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.
Lalu, aku segera meraih lengannya, berpura-pura tenang sambil menoleh ke arah Felly.
"Felly, kamu nggak apa-apa, 'kan?"
"Aku… aku balik ke kamar tamu dulu!"
Felly tiba-tiba menutup mulutnya, lalu berlari pergi.
Sikap ini persis yang dia lakukan di kehidupanku sebelumnya. Dia berpura-pura jadi korban, padahal diam-diam sudah menyalakan kamera ponsel untuk membuat bukti palsu, seolah suamiku mencoba melecehkannya.
Bukti palsu itulah yang dulu tersebar di internet, dijuluki netizen sebagai 'hukuman dari Tuhan' yang menghancurkan hidupku dan suamiku.
Kali ini, aku ingin lihat bagaimana dia bisa berulah lagi ketika semua gerak-geriknya sudah terekam kamera pengawas!