Bab 2
Alis anakku langsung berkerut. "Mama nggak salah! Aku melihat semuanya, kamu yang mendorong Mama jatuh dari tangga!"
Tatapan Mariana seketika membeku. Dia mengangkat tangan, hendak menyuruh pengawal melempar anakku keluar. "Nggak mau? Kalau begitu, lihat saja ibumu mati!"
Kali ini anakku panik. Matanya memerah, air matanya berderai deras. "Oke, aku bersujud. Starla mau minta maaf!"
Melihat anakku perlahan berlutut dengan begitu hina dan terpaksa, hatiku terasa bagaikan disayat pisau. Aku ingin sekali berlari memeluknya dan mengangkatnya dari lantai.
Starla adalah satu-satunya anak Ridwan, pewaris Grup Dariawan! Sekarang malah dipermainkan dan dihina seperti ini! Semua ini salahku sebagai seorang ibu yang tak berdaya ....
Mariana menutup mulutnya sambil tertawa sinis. "Jangan lupa untuk bersujud."
Anakku menyeka air mata dan menundukkan tubuhnya, lalu menghantamkan kepalanya ke lantai dengan keras. "Tante Mariana, kalau mau marah, marah sama Starla saja. Jangan salahkan Mama."
Di kamar itu, mesin pemanas menyala dengan kekuatan penuh. Mariana hanya mengenakan gaun putih tipis, sementara anakku sudah kepanasan hingga keringat bercucuran di wajahnya.
Namun, hati Mariana sangat kejam. Dia melirik pengawal dengan isyarat. "Selemah itu? Kamu nggak makan? Memangnya begini yang disebut sujud?"
Pengawal langsung mengerti. Dia melangkah maju dan mencengkeram leher kecil anakku dengan kuat. Detik berikutnya, dia menekan kepala anakku hingga membentur lantai dengan keras.
Anakku menjerit pilu, dahi mungilnya menghantam keramik. Hanya beberapa kali saja, dahinya sudah membengkak dan berubah menjadi ungu kebiruan. Keringat bercampur darah menetes, menempel di rambutnya dengan berantakan dan membuatnya tampak lebih lusuh daripada pengemis.
Aku berlari hendak mencakar pengawal itu dan meraung dengan histeris menyuruhnya jangan menyakiti anakku. Namun, setiap kali tanganku menyentuh tubuh mereka, yang terasa hanya kehampaan. Aku tidak bisa menyelamatkan anakku, bahkan jeritan marahku pun tak bisa didengar.
Mariana melambaikan tangan santai, memberi isyarat agar pengawal menghentikan aksinya.
"Jangan sampai langsung bikin dia mati."
Anakku memejamkan mata, napasnya nyaris tak terdengar. Tangan mungilnya yang gemetar, perlahan merogoh ke dalam saku jaket tebalnya.
Dengan susah payah, dia mengeluarkan sebuah mainan. Lalu, sebuah liontin babi emas kecil bertabur berlian, jatuh di kakinya.
"Tante ... aku ... aku sudah ... sudah sujud. Sekarang, bisa ... tolong ... selamatkan Mama?"
"Mobil mainan ini Papa yang kasih aku. Ini ... babi emas yang dikasih Kakek. Semuanya buat Tante. Aku nggak mau apa-apa lagi, aku cuma mau Mama. Starla cuma mau Mama ...."
Aku berlutut di samping anakku, memeluknya di udara hampa dan menangis tersedu-sedu. Dulu, Ridwan dan aku juga merupakan pasangan yang membuat banyak orang iri.
"Priscilla, nama anak kita nanti Starla saja, ya."
Ridwan pernah menggendong bayi mungil itu, membacakan dongeng sebelum tidur dalam bahasa Inggris. Dia juga yang menggenggam tangan kecil anaknya, mengajarinya menyelam dan bermain ski.
Ridwan tidak pernah mau membelikan mainan untuk anak. Katanya, benda-benda itu hanya akan membuat anak malas dan lalai. "Dia satu-satunya pewaris Grup Dariawan. Tentu saja, harus jadi yang paling unggul."
Namun, mobil mainan ini berbeda. Tahun lalu saat kami sekeluarga pergi ke taman bermain, Ridwan ikut sebuah permainan dan memenangkan hadiah ini untuk anaknya.
Oleh karena itu, Starla sangat menyayangi mainan ini. Bahkan saat tidur pun, dia selalu meletakkan mainan ini di sisi bantal.
Sedangkan babi emas itu, bukan barang sembarangan dari toko. Starla lahir di tahun babi dan unsur logamnya kurang. Kakeknya sengaja meminta desainer top dunia membuat liontin ini, dihiasi 99 butir berlian untuk mendoakan cucunya selamat dan bahagia seumur hidup.
Namun, semua kebahagiaan itu hancur sejak Mariana kembali ke negeri ini.
Fitnah demi fitnah membuat Ridwan perlahan kehilangan kepercayaannya padaku. Setiap kali Starla melindungiku, Mariana akan menangis dan menuduhku mengajari anak berbohong dan memukul orang. Katanya, cepat atau lambat aku akan merusak anak.
Saat kenangan itu berputar di kepalaku, Mariana bangkit dari ranjang dengan mengenakan sepatu hak tinggi. Dia berjalan mendekat, lalu menginjak mobil mainan itu hingga hancur berkeping-keping.
"Kamu mau pamer sama aku kalau Keluarga Dariawan itu memanjakanmu?" Dia menyuruh pengawal merobek jaket tebal anakku, lalu memelintir kedua lengannya. Kemudian, kuku tajam Mariana mencengkeram tubuh mungil itu dengan kejam.
Hanya dalam beberapa kali cakaran, dada dan perut anakku langsung lebam. Kulitnya terkelupas dan darah pun mengalir deras.
"Apanya yang babi emas kecil? Kamu itu cuma babi yang bodoh!"
Mariana tertawa puas dan sorot matanya penuh kebencian. "Memangnya kamu kira, kenapa ibumu si jalang itu bisa mati? Aku yang menyogok dokter untuk membunuhnya. Starla, kamu belum pernah lihat adik perempuanmu yang sialan itu, 'kan?"
"Bayi sekecil itu ... bahkan menangis pun masih nggak bisa, tapi malah dicekik hidup-hidup sama dokter. Ck, ck ... memang pantas mati!"
Mendengar ucapannya, ingin sekali rasanya aku berubah menjadi hantu jahat, supaya bisa langsung menuntut nyawa wanita keji ini dan menyeretnya bersamaku ke neraka!
"Siapa suruh kalian lahir dari rahim Priscilla yang nggak berguna itu? Dengan kemampuannya, dia berani merebut Ridwan dariku hanya karena aku pergi ke luar negeri?"
Dalam sekejap, anakku akhirnya mengerti semuanya. Dengan susah payah, dia membuka mata yang bengkak dan merah, lalu nekat menggigit pergelangan tangan Mariana.
Mariana langsung berteriak keras.
"Wanita jahat! Wanita busuk! Kembalikan adikku! Aku akan bilang sama Papa, biar polisi menangkapmu!"
Bab 3
Mariana geram. Dia menepis gigitan itu, lalu bangkit dan menendang keras perut kecil anakku. Tubuhnya meringkuk menahan sakit, lalu muntah seketika.
Sayangnya, demi merawatku beberapa hari ini, dia jarang makan teratur. Selain darah bercampur cairan asam lambung, sama sekali tidak ada lagi yang bisa dimuntahkannya.
Dari luar pintu terdengar langkah kaki.
Ekspresi Mariana langsung berubah. Dia buru-buru mengenakan pakaian anakku kembali. Baru saja menarik ritsleting, Ridwan sudah melangkah masuk.
"Aku tadi meninggalkan jam tanganku di ... Starla?"
Dalam sekejap, matanya langsung melihat dahi lebam anakku, ekspresinya penuh keterkejutan. "Apa yang terjadi? Mariana, kamu memukul anak?"
Mariana mengerutkan kening, menekan pelipisnya pura-pura hendak pingsan.
Ridwan buru-buru menahan dan merangkulnya ke dalam pelukan.
"Niat baik dibalas dengan jahat." Mariana sengaja mengangkat pergelangan tangannya, memperlihatkan luka di sana.
Sambil menangis, dia berkata kalau Starla tadi ribut di luar dan memukul-mukul pintu. Dia merasa iba, jadi membiarkan Starla masuk. Siapa sangka, anakku terus menabrakkan diri ke dinding sambil berteriak ingin melaporkannya ke polisi karena menyiksa anak.
Melihat bekas darah di pergelangan Mariana, kecurigaan di wajah Ridwan pun sepenuhnya lenyap.
Namun aku tahu, anakku sebenarnya sudah dipukuli sampai hampir tidak punya tenaga. Gigitannya sama sekali tidak menyakiti Mariana. Semua bekas darah itu hanyalah darah dari mulut anakku!
Pengawal yang berdiri mengelilingi Starla, diam-diam menopangnya agar tidak pingsan dan jatuh ke lantai.
"Starla, kamu benar-benar makin berani. Berani bikin keributan saat aku nggak ada."
"Sebagai putra Keluarga Dariawan, kamu sudah diajari Priscilla jadi anak nakal! Setelah cerai nanti, aku nggak akan biarkan dia bertemu lagi denganmu seumur hidup!"
Saat dipukuli, Starla tidak menangis. Namun mendengar kalimat itu, akhirnya dia tak kuasa menahan tangis. "Huhu ... Papa, apa Papa nggak sayang Mama lagi? Papa juga nggak mau Starla lagi?"
Ridwan mendengar suara anakku yang nyaris habis dan melihat wajahnya yang begitu mengenaskan, matanya sampai bengkak karena menangis. Ujung kaki Ridwan sempat bergerak, tetapi raut wajahnya tampak ragu.
Mariana segera memutar otak, lalu terhuyung bangkit dari pelukan Ridwan. "Anak bodoh ini ... Papa sudah dewasa, mana mungkin kekanak-kanakan sepertimu. Waktu marah sampai-sampai menghancurkan mobil mainan, katanya nggak mau lagi benda-benda ini."
Tatapan Ridwan langsung menjadi kelam. Saat itulah, dia baru melihat mainan yang hancur berkeping di lantai. Wajahnya pun seketika membeku.
Mariana memberi isyarat dengan mata pada pengawal. Salah satu dari mereka diam-diam mengutak-atik ponselnya, lalu memutar sebuah rekaman.
Terdengar jelas suara anakku yang serak dan penuh amarah, "Wanita jahat! Wanita busuk! Kembalikan adikku! Aku akan bilang sama Papa, biar polisi menangkapmu!"
Seketika, wajah Ridwan menjadi muram. Bahkan ujung jarinya juga bergetar karena marah. "Bagus! Bagus! Sia-sia aku mengkhawatirkanmu. Semua tampang lemah dan penuh kepura-puraan ini ternyata kamu pelajari dari ibumu!"
Aku menggeleng histeris dan terus berteriak, "Bukan, bukan!" Starla adalah anak yang paling manis dan sopan. Kenapa kamu tidak percaya pada anakmu sendiri yang sudah kamu besarkan dengan tanganmu?
Ridwan memerintahkan pengawal menyeret Starla ke luar kamar. Tubuh kecil itu terhempas dan tergeletak diam di lantai.
Sampai Ridwan mengambil jam tangannya dan selesai menenangkan Mariana, lalu keluar kamar, dia masih melihat anakku terbaring menelungkup di depan pintu.
"Heh, masih juga pura-pura? Anak sekecil ini sudah penuh tipu muslihat."
Dia bahkan sempat memotret, lalu mengirimkannya ke ponselku. "Cepat naik dan bawa anakmu pulang! Atau kamu mau makin mempermalukan diri?"
Ridwan sama sekali tidak tahu, aku sedang berlutut di sisi anakku dan menangis berkali-kali.
Detik itu juga, aku membenci diriku sendiri, bahkan lebih dari kebencianku pada Ridwan dan Mariana.
Kenapa aku harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri anakku diperlakukan begitu kejam? Kenapa aku harus mati secepat ini?
Kalau suatu hari nanti Mariana benar-benar menjadi ibu tiri anakku, apakah aku dan anakku harus menjalani siksaan seperti neraka yang kami alami hari ini?
Tanpa menunggu jawabanku, Ridwan hanya menanggapi dengan tawa dingin.
Setelah dia pergi, Starla perlahan sadar kembali. Keringat bercampur darah yang sudah mengering menempel di wajahnya, sampai-sampai matanya tertutup rapat.
Dia sudah tidak punya tenaga untuk berdiri. Dia hanya bisa meraba arah tangga yang familier, lalu merangkak dengan susah payah.
"Mama ... Starla mau kembali ke sisi Mama."
Dokter dan perawat yang lewat hanya melirik, lalu berbisik-bisik. Ada yang menatap penuh iba, ada pula yang mengejek dan mencibir.
Aku mengikuti anakku dari belakang, merasa seakan-akan jiwaku ditusuk ribuan jarum. Setiap langkah, setiap detik, terasa begitu panjang.
Ketika akhirnya dia merangkak sampai di sisi ranjangku, darahku sudah lama membeku karena kedinginan.
Namun, anakku tidak tahu. Dia malah tersenyum lega. "Syukurlah, Mama sudah nggak berdarah lagi!"
Setelah mengembuskan napas terakhirnya, dia pun benar-benar pingsan di samping jasadku.
Keesokan paginya, seorang petugas kebersihan yang pertama menyadari ada yang tidak beres. Dia menjerit ketakutan, lalu berlari terburu-buru naik ke lantai atas. "Ada ... ada mayat!"
Ridwan yang terbangun karena keributan itu, wajahnya penuh amarah saat menerobos kerumunan tenaga medis.
"Dasar ... setiap hari ada saja tingkahnya! Priscilla, hari ini kamu nggak suruh anakmu untuk berlagak kasihan, malah menyuruh petugas kebersihan akting di sini?"
Namun, begitu matanya tertuju pada kulitku yang tidak ada lagi rona kehidupan, wajah Ridwan juga ikut menjadi pucat pasi.