Bab 1
Ronan Leach adalah CEO Grup Leach, menempati peringkat ketiga dalam daftar Forbis.
Aku dan dia saling mencintai selama lima tahun dan tinggal bersama selama tiga tahun. Ronan berkata mencintaiku sampai rela mengorbankan nyawanya, tetapi dia tidak pernah memberiku status sebagai istrinya.
Selama tiga tahun hidup bersama, Ronan telah mengkhianatiku tiga kali, dan tiga kali mendorongku ke dalam neraka.
Pertama, Ronan diam-diam menikahi janda sahabatnya tanpa sepengetahuanku, lalu berlutut di hadapanku sambil menangis dan memohon agar aku percaya, bahwa itu hanyalah bentuk perlindungan.
Kedua, di hadapan sorotan media dan ribuan pasang mata, Ronan menggandeng tangan wanita itu dan mengumumkannya sebagai Nyonya Grup Leach, Nyonya Besar Keluarga Leach. Namun, di belakang panggung, Ronan menggenggam tanganku erat-erat dan bersumpah pelan, begitu semua berakhir, dia akan segera menikahiku.
Ketiga, Ronan bermesraan dengannya semalaman hingga membuat wanita itu hamil. Aku baru tahu kenyataannya ketika melihat mereka datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan
Atas nama cinta, segalanya berubah menjadi pisau paling tajam.
Aku berkali-kali memaafkannya, tetapi Ronan berkali-kali mengkhianatiku.
Akhirnya, aku berbalik pergi, membawa alat uji kehamilan yang menunjukkan hasil positif di dalam saku. Anak yang paling dinantikannya.
Saat itu, barulah Ronan berlutut dalam penyesalan dan keputusasaan, berteriak sekuat tenaga memanggil namaku...
Kali ini, yang hilang darinya bukan hanya aku, tetapi juga pewaris yang tidak pernah diketahuinya!
Di depan pintu poli kandungan rumah sakit, aku menggenggam erat alat uji kehamilan yang menunjukkan hasil positif di dalam saku. Aku melihat suamiku menemani wanita lain melakukan pemeriksaan kandungan. Aku ingin meminta penjelasan darinya, tetapi Sophie Gray tiba-tiba menjerit sambil memegangi perutnya.
"Ronan, perutku sakit sekali!"
Ronan refleks mendorongku ke samping, lalu berbalik dan memeluk wanita itu.
Aku terdorong hingga terhuyung dan membentur dinding. Rasa sakit menusuk dari punggungku, mataku pun langsung memanas.
Namun, Ronan hanya mengkhawatirkan keadaan Sophie.
"Ada apa? Perutmu sakit? Aku akan segera membawamu ke dokter."
Ronan menggendong Sophie dengan cemas. Saat melewatiku, dia seakan baru teringat aku masih berdiri di sana dan buru-buru menjelaskan.
"Mollie, Sophie lagi nggak enak badan. Aku harus segera membawanya menemui dokter. Kamu pulang sendiri dulu, ya?"
Aku hanya menatapnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku mengangguk pelan dan diam-diam menyingkir memberi jalan.
Ronan menggendong Sophie dan berjalan melewatiku tanpa sedikit pun keraguan.
Aku berdiri sendirian di lorong dan bersandar pada dinding. Menatap punggung mereka yang perlahan menjauh, air mataku pun mengalir deras.
Rasa sakit di punggung menembus tulang, tetapi tidak sebanding dengan perih di hati.
Aku menghapus air mataku, lalu tersenyum getir.
Hari ini, aku datang ke rumah sakit untuk memastikan kabar kehamilanku, lalu memberitahunya.
Namun, kini, aku tidak ingin mengatakannya lagi.
Ini adalah pengkhianatannya yang ketiga, sekaligus yang terakhir. Aku tidak ingin lagi mendengar alasannya, apalagi memberinya maaf.
Aku keluar dari rumah sakit dan naik ke mobil yang dikirim Keluarga Leach untuk menjemputku. Setelah menutup pintu, aku bersandar di jok belakang, menatap pintu utama rumah sakit dengan hati yang membeku.
Sopir bertanya hendak ke mana. Aku terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara dingin.
"Jangan kembali ke vila. Antar aku ke kantor imigrasi."
Setibanya di sana, aku masuk sendirian untuk mengurus paspor serta permohonan visa ke Negara A.
Visa baru bisa diterima dalam tujuh hari. Setelah keluar dari gedung, aku kembali naik ke mobil, menatap pemandangan yang bergerak di luar jendela dengan hati yang tenang.
Tujuh hari lagi, setelah visa keluar, aku akan memutus semua hubungan dengan Ronan.
Saat kembali ke Vila Keluarga Leach, aku masuk ke kamar tidur, menutup pintu, dan mulai berkemas.
Hadiah pemberian Ronan begitu banyak dan hampir memenuhi seluruh ruangan ini.
Mulai dari kalung dan perhiasan yang elegan, hingga tas dan boneka edisi terbatas dunia.
Semuanya kukeluarkan dari lemari dan kutaruh di atas tempat tidur, lalu kusatukan dalam sebuah kotak kardus besar.
Saat membereskan meja di samping tempat tidur, gerakanku terhenti.
Di dalam laci tersimpan foto-fotoku bersama Ronan, juga kerajinan tangan yang kami buat bersama, serta patung tanah liat yang kami bentuk berdua.
Itu semua adalah kenangan ketika kami saling mencintai, kenangan paling berharga yang pernah ada.
Namun, saat ini, aku bahkan tidak berani lagi menatapnya.
Dengan menahan air mata, aku mengeluarkan foto dari bingkainya, merobeknya menjadi serpihan kecil, lalu membuangnya ke tempat sampah. Patung tanah liat itu pun juga kumasukkan kembali ke dalam kotak. Semua barang kukumpulkan ke dalam kardus.
Baru saja selesai menutup kotak, terdengar suara dari lantai bawah.
Aku berjalan ke arah tangga dan melihat para pelayan memindahkan kotak besar maupun kecil ke ruang tamu, yang di dalamnya penuh dengan perhiasan.
Sophie duduk di sofa dan berpura-pura menolak.
"Ronan, mengapa kamu membelikanku begitu banyak barang? Aku nggak mungkin memakainya semua."
Ronan mengusap rambutnya dengan penuh kasih, lalu berkata lembut.
"Aku nggak kekurangan uang. Selama kamu menyukainya, sebanyak apa pun akan kubelikan."
Setelah mengatakannya, Ronan mendongak dan kebetulan melihatku berdiri di lantai dua.
Dia sempat tertegun, lalu refleks melepaskan Sophie dan buru-buru memberi penjelasan.
"Mollie, kamu sudah pulang. Sophie hari ini merasa kurang sehat, jadi aku menemaninya pulang. Jangan salah paham."
Aku memandangnya dengan tenang, tanpa berkata sepatah kata pun.
Wajahnya tampak panik, dia menambahkan lagi.
"Beberapa hari lagi ada lelang di Christie’s. Saat itu, aku akan mengajakmu ke sana. Kudengar ada kalung safir. Bukankah kamu paling menyukai perhiasan safir?"
Sophie bersandar dalam pelukan Ronan dengan lemah, lalu menguap sambil berkata.
"Ronan aku agak mengantuk, mungkin karena sedikit pusing setelah perjalanan tadi."
Ronan langsung terlihat cemas, dia dengan hati-hati menopang Sophie dan berkata dengan khawatir.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat. Ayo, kupapah ke kamar."
Setelah mengatakannya, Ronan memapah Sophie menuju kamar tidur.
Aku menatap mereka dan hatiku kembali sakit.
Kamar pengantin itu kupilih bersama Ronan, bahkan tata ruang dan dekorasinya dibuat mengikuti seleraku.
Namun kini, kamar itu justru dihuni oleh wanita lain.
Bab 2
Aku menundukkan pandangan dengan muram, lalu berbalik masuk ke kamar tidur kecilku di ujung lantai dua.
Kamar ini dulunya adalah ruang kerja Ronan. Pada hari pertama aku pindah ke sini, dia memelukku dan berkata.
"Mollie, besar kecilnya kamar nggak penting. Yang terpenting adalah berada paling dekat denganku. Setelah kamar pengantin kita selesai direnovasi, kita akan menikah."
Saat itu, aku percaya bahwa hari pernikahan kami akan segera tiba.
Namun, kini, lima tahun telah berlalu. Aku masih tinggal di ruang kerja sempit ini, sedangkan kamar pengantin kami justru menjadi kamar tidur wanita lain.
Aku menahan rasa perih di hati sambil membuka koper, lalu melanjutkan membereskan pakaian.
Baru saja merapikan beberapa potong, pintu kamar tiba-tiba didorong terbuka. Sophie masuk dengan perut membuncit, langkahnya begitu angkuh.
Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu berkata dengan pura-pura terkejut.
"Tempat ini bahkan luasnya nggak sampai seratus meter persegi, 'kan? Kamu tinggal di kamar sekecil ini?"
"Iya juga, lagi pula kamu nggak punya status, jadi nggak bisa dianggap bagian dari Keluarga Leach. Bisa mendapat satu kamar saja sudah bagus."
Sophie berjalan mendekat, lalu menatapku dengan penuh kemenangan.
"Kamu tahu kenapa Ronan begitu terburu-buru menikah denganku? Karena begitu aku melahirkan anak ini, dialah yang akan menjadi pewaris Grup Leach."
"Sementara kamu, nggak berarti apa-apa. Kamu hanyalah simpanan Ronan, nggak pantas tampil di depan umum. Singkatnya, kamu adalah pelakor."
Aku menatap Sophie dan berusaha menekan amarah yang membara di hatiku, lalu berkata dengan dingin.
"Sudah selesai? Kalau sudah, silakan keluar."
Sophie tidak menyangka aku akan setenang ini, seketika dia menjadi marah dan hendak mendorongku.
"Mollie Martin, kamu..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, wajah Sophie mendadak pucat. Tubuhnya langsung terjatuh ke lantai sambil berteriak.
"Perutku sakit sekali! Mollie, kamu berani mendorongku!"
Aku menatapnya dengan kaget, belum sempat bereaksi, Ronan sudah bergegas masuk dengan panik.
"Sophie!"
Ronan mendorongku keras, lalu menggendong Sophie dengan cemas. Dia berteriak marah padaku dengan mata memerah.
"Mollie, mengapa kamu begitu kejam? Sophie sedang hamil, bagaimana bisa kamu mendorongnya?"
Aku terhuyung beberapa langkah ke belakang dan berusaha menjelaskan dengan panik.
"Aku nggak mendorongnya, dia sendiri yang jatuh. Itu nggak ada hubungannya denganku!"
Namun, Ronan sama sekali tidak memercayainya. Dia menatapku dengan penuh amarah, menarik lenganku kasar dan menyeretku turun dari tempat tidur, lalu dengan hati-hati meletakkan Sophie di atas tempat tidur.
Selesai melakukan semua itu, Ronan segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter keluarga dengan cemas.
"Dokter, cepat datang. Sophie, perutnya sangat sakit. Aku khawatir anaknya dalam bahaya!"
Sophie bersandar di pelukan Ronan, sambil memandangku dengan penuh kemenangan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin.
Seluruh tubuhku gemetar, aku menatap Ronan dengan tidak percaya. Bagaimana bisa dia tidak memercayai kata-kataku?
Tidak lama kemudian, dokter pun datang. Setelah memeriksa sebentar, dia menghela napas lega dan berkata.
"Nggak ada masalah serius. Kandungan Nona Sophie hanya terguncang. Cukup beristirahat di tempat tidur."
Ronan masih panik. Dia menanyakan berbagai hal yang harus diperhatikan selama kehamilan, bahkan mencatatnya dengan saksama di sebuah buku kecil, sebelum akhirnya mengantar dokter keluar.
Begitu Ronan pergi, Sophie langsung bangkit dari tempat tidur dan menatapku dengan senyum angkuh.
"Mollie, kamu lihat sendiri, 'kan? Betapa Ronan sangat peduli padaku dan anak ini."
"Kamu pikir kamu itu siapa? Berani-beraninya merebut priaku!"
Tubuhku bergetar karena marah, tetapi aku enggan menanggapi dirinya. Aku berbalik dan berniat berdiri, tetapi Sophie tiba-tiba berkata.
"Sebenarnya, anak ini bukan anak Ronan. Aku menjebaknya dengan obat agar tidur bersamaku, tetapi malam itu nggak terjadi apa-apa. Anak ini adalah anak orang lain."
Aku langsung mendongak dan menatapnya dengan terkejut.
"Apa yang kamu katakan?"
Sophie melengkungkan bibir merahnya dan tertawa congkak.
"Aku bilang, anak ini bukan anak Ronan. Dia hanyalah orang bodoh yang ditipu mentah-mentah."
"Nggak tahu malu! Bagaimana bisa kamu memperlakukannya seperti ini!"
"Aku akan memberitahunya sekarang!"
Sophie menutupi wajahnya, tetapi sama sekali tidak tampak takut.
"Sekalipun kamu tahu, apa yang bisa kamu lakukan? Kamu sama sekali nggak bisa mengubah keadaan. Menurutmu, apakah Ronan akan memercayaimu?"
"Kalau kamu tahu diri, segeralah pergi. Jangan menghalangi aku dan Ronan."
Bab 3
Seluruh tubuhku bergetar karena marah, aku menggertakkan gigi dan berkata tajam.
"Kamu pikir bisa mengancamku dengan cara ini? Kamu salah. Aku pasti akan memberitahu Ronan!"
"Saat itu tiba, kamu pasti akan menerima balasannya!"
Sophie sama sekali tidak takut. Dia menyeringai sambil berkata.
"Silakan, katakan saja. Menurutmu, Ronan akan memercayaimu? Di matanya, aku hanyalah wanita lemah dan rapuh, sedangkan kamu adalah wanita kejam tanpa hati.
"Aku ingin tahu, apakah Ronan akan percaya padamu, atau padaku."
Setelah mengatakannya, Sophie tiba-tiba menangis tersedu-sedu, sambil terus meronta ingin turun dari tempat tidur.
"Ronan, maafkan aku. Aku seharusnya nggak mengandung anakmu dan mengganggu hubungan kalian. Aku akan menggugurkan anak ini sekarang, hiks... hiks..."
Aku menatapnya dengan terkejut, belum juga sempat bereaksi, pintu kamar tidur langsung terdorong terbuka, Ronan masuk dengan wajah cemas.
"Sophie, ada apa denganmu? Apa perutmu sakit lagi?"
Sophie langsung menerjang ke pelukan Ronan sambil menangis pilu.
"Ronan, Mollie nggak menyukai anak kita. Dia bahkan menyuruhku menggugurkan anak ini, hiks.. hiks..."
Wajah Ronan seketika mengeras. Dia menatapku dengan dingin, sorot matanya penuh ketidakpuasan.
"Mollie, bagaimana bisa kamu kamu sekejam ini? Sophie sedang hamil, bagaimana bisa kamu menyuruhnya menggugurkan anaknya?"
Aku buru-buru menjelaskan.
"Ronan, jangan dengarkan kebohongannya. Tadi, dia sama sekali nggak berkata begitu. Bahkan dia sendiri mengaku anak ini bukan anakmu..."
"Mollie, aku tahu sejak dulu kamu nggak menyukai Sophie. Tapi nggak kusangka kamu sampai sekejam ini, berani menodai kehormatannya. Tahukah kamu, bagi seorang wanita, kehormatan adalah hal yang paling penting!"
"Aku memperingatkanmu, jangan lagi menyulitkan Sophie. Setelah dia melahirkan, aku akan menyerahkan anak itu kepada ayah dan ibu untuk dibesarkan. Saat itu tiba, aku akan menepati janji menikah denganmu."
Sophie bersandar di pelukan Ronan, bibir merahnya terangkat membentuk senyum penuh kepuasan, sementara sepasang matanya berkilat dengan tawa dingin.
Dia berpura-pura lemah dan berkata pelan.
"Ronan, jangan salahkan Mollie. Ini salahku, membuatmu berada dalam kesulitan. Setelah anak ini lahir, aku akan pergi, aku pasti nggak akan mengganggu kalian lagi."
Ronan memeluknya dengan penuh kasih, lalu menenangkan dengan suara lembut.
"Sophie, jangan berkata begitu. Untuk saat ini, fokuslah menjaga kandunganmu. Soal Mollie, akan kuingatkan dia agar memperlakukanmu lebih baik."
"Mollie, kamu dengar, 'kan? Beberapa waktu ke depan, perlakukan Sophie dengan baik. Jangan sampai aku mendapati kamu menyakitinya lagi."
Aku menatap mereka, dadaku terasa perih seakan tergores pisau tumpul. Ronan, kamu benar-benar membuatku kecewa.
Namun, mengingat aku sebentar lagi akan pergi, aku tidak ingin berdebat lagi. Aku hanya diam dan menghapus air mata di sudut mataku.
Ronan, ketika kamu tahu bahwa anak yang dia lahirkan bukan anakmu, sedangkan demi seorang wanita jahat dan anak yang bukan darah dagingmu, kamu mengusirku bersama anak kandungmu sendiri. Saat itu, akankah kamu menyesal?
Melihat aku terdiam, Ronan mengira aku mengalah. Ekspresinya membaik, lalu dia kembali membicarakan persiapan pernikahan kami.
"Mollie, aku sudah meminta orang menyiapkan pernikahan kita. Setelah Sophie melahirkan, kita akan menikah."
"Besok kamu ikut aku mencoba gaun pengantin, pilihlah yang paling cantik. Aku pasti akan memberimu sebuah pernikahan yang sempurna."
Aku menundukkan kepala, menyembunyikan tatapanku yang dingin, lalu menjawab pelan.
"Oke."
Hanya saja, Ronan, kamu tidak akan pernah tahu, aku tidak akan menunggu hingga hari pernikahan itu tiba.