Bab 1

Pada hari ketujuh setelah kematianku, suamiku membawa kekasih lamanya ke ranjang pernikahan kami dan bercinta dengan penuh hasrat. Wajahnya tampak sangat puas saat berkata, "Akhirnya aku nggak perlu lihat wanita penghibur itu lagi."

Namun kemudian, dia memeluk barang-barang peninggalanku sambil menangis penuh penyesalan. "Sheny, kenapa kamu belum pulang juga?"

Sepertinya dia sudah lupa, nyawaku dan anak dalam kandunganku telah melayang di saat dia memaksaku mendonorkan sumsum tulang kepada kekasih lamanya.

Ketika Ronald kembali, aku sedang membelai perutku yang mulai membesar. Di dalam sana ada anak kami. Sebenarnya, aku sedang bersiap-siap untuk memberitahunya kabar bahagia ini. Tak disangka, kebetulan sekali dia tiba-tiba pulang. Ini adalah pertama kalinya kami begitu kompak setelah 10 tahun pernikahan kami.

"Sayang, aku hamil!" Aku tersenyum bahagia, membayangkan dia akan menggendong dan memutar-mutarku seperti di drama-drama. Namun, bayangan itu tak terjadi. Dia memijat pelipisnya dengan ekspresi lelah.

"Sheny, Willianti butuh sumsum tulangmu." Dari nada bicaranya yang letih, aku bisa menebak siapa itu Willianti. Dia adalah wanita yang selalu dicintai Ronald, tetapi tidak pernah bisa dimilikinya. Willianti, wanita yang meninggalkannya untuk pria kaya ketika Ronald masih miskin, kini telah kembali.

Dulu, ketika Ronald masih memulai usahanya dan sangat membutuhkan modal, aku bekerja sebagai wanita penghibur. Aku menemani para tamu hingga larut malam, bahkan sampai mengalami pendarahan lambung akibat minum terlalu banyak.

Pada akhirnya, aku berhasil mengumpulkan modal untuknya dan dia berjanji akan memberiku pernikahan yang paling megah. Setelah kekayaannya bertambah, dia memintaku untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Meskipun tidak pernah mengatakannya secara langsung, aku tahu dia sebenarnya sangat peduli padaku.

Memikirkan hal-hal menyedihkan itu, aku menarik napas dan berkata dengan suara yang lemah, "Sayang, aku hamil. Lagi pula, dia bukan wanita baik!"

Wajahnya menampilkan ekspresi tidak sabar, seolah-olah menghakimiku.

"Sheny, kamu cuma wanita penghibur, sekarang bukan waktunya untuk omongin perasaan. Willianti butuh sumsum tulangmu."

Aku terdiam menatapnya. Dulu, dia memegang tanganku dan berjanji, "Sheny, kamu kerja sebagai wanita penghibur demi aku. Aku nggak akan pernah meremehkanmu."

Untuk pertama kalinya, aku menolak permintaannya. Bukan untuk diriku, tetapi demi anak di dalam kandunganku. Nada bicaranya berubah menjadi dingin dan tidak sabaran.

"Sheny, sudi atau nggak, pokoknya hari ini kamu harus pergi!"

....

Saat aku membuka mata lagi, keempat anggota tubuhku telah terikat di meja operasi. Ronald yang biasanya tampak dingin, kini malah sedang tersenyum. Sementara itu, Willianti berdiri di sampingnya dan berpura-pura prihatin. "Ronald, anestesi merusak tubuh nggak? Ini semua salahku. Gara-gara aku, Kakak jadi harus menderita!" pintanya.

Ronald benar-benar memberiku anestesi! Rasa sakit yang luar biasa menyerang perutku dan air mataku langsung mengalir deras.

"Sayang, anak kita, anak kita! Sakit sekali!" Aku berteriak kesakitan. Willianti segera menunjukkan ekspresi lemah lembut, seolah-olah dia tidak tahan melihatku menderita.

"Semua salahku! Gara-gara aku, Kakak jadi harus menanggung rasa sakit ini!"

Ronald terus menenangkannya dan menghapus air mata di sudut matanya dengan lembut. "Willianti, ini bukan salahmu, nggak akan pernah jadi salahmu."

Dia berbalik menatapku. Untuk pertama kalinya, Ronald menunjukkan ekspresi lembut itu padaku sambil berkata dengan lembut, "Sheny, Dokter bilang kamu nggak hamil. Aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan nanti."

Tidak hamil? Lalu kenapa aku merasa kesakitan begini? Suara Ronald yang lembut terus menggema di telingaku, dipenuhi dengan kata-kata manis yang belum pernah kudengar sebelumnya.

"Sheny, kamu mau apa? Biar kubelikan untukmu."

Aku menatap wajah tampannya yang terlihat lebih dekat di depanku. Dengan rendah hati, aku mengajukan sebuah permintaan kecil. "Sayang, bisa nggak ke depannya kamu lebih mencintaiku?"

Dulu, aku yakin Ronald memiliki sedikit rasa sayang untukku. Namun, setelah melihat bagaimana dia menghibur Willianti dengan penuh kasih sayang, aku mulai ragu.

Bab 2

Aku tiba-tiba merasa takut. Mungkin Ronald memang tidak pernah mencintaiku. Suaranya yang serak menyiratkan kelembutan yang tidak pernah kudengar sebelumnya. "Jangan bicara aneh-aneh. Aku suamimu, mana mungkin aku nggak mencintaimu?"

Indah sekali. Aku membawa harapan kecil ini dan tenggelam dalam mimpi yang dalam ....

....

Operasinya berjalan lancar dan Willianti akhirnya selamat. Namun, aku telah berubah menjadi roh yang kesepian dan bahkan tidak sanggup menyelamatkan anakku. Bayiku bahkan belum terbentuk sepenuhnya. Dia hanya sebuah embrio kecil tak bernyawa yang meninggalkanku sendirian sebagai hantu di dunia ini.

Mungkin keberuntunganku telah habis sejak aku bertemu dengan Ronald. Karena itulah, aku mati di atas meja operasi dengan membawa serta bayi yang tak sempat melihat dunia ini!

Benar, di dalam perutku memang ada seorang bayi! Aku benci sekali dengan mereka ... orang-orang kejam yang membunuh anakku dan para dokter tak berperasaan yang menyembunyikan kebenaran!

Ronald mencium kening Willianti, seolah-olah melupakan janjinya sebelum operasi untuk mencintaiku. Jantungku terasa sakit, bukankah aku sudah mati? Kenapa aku masih bisa merasakan kepedihan ini?

Ibu mertuaku datang dengan terburu-buru. Dia bersandar di ambang pintu sambil terengah-engah dan terus-menerus menyeka keringat dengan saputangannya. Ironisnya, dia bahkan tidak datang ke pernikahanku dan Ronald.

Dia bilang dirinya sudah terlalu tua dan tidak kuat untuk menghadiri acara besar. Ternyata, itu semua hanya kebohongan.

"Willianti ini anak baik, nggak kayak wanita penghibur itu. Untung saja Tuhan melindunginya!"

Padahal, ibu mertuaku tahu jelas mengapa aku menjadi wanita penghibur ....

Seorang perawat memandang keluarga ini dengan ekspresi rumit, lalu memberi isyarat kepada dokter untuk memberikan penjelasan. Aku hanya menyadari bahwa dokter ini bukan orang yang menangani operasiku. Sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, dokter mulai berbicara.

"Pak Ronald, Bu Sheny sudah ...."

Sebelum dokter sempat menyelesaikan kalimatnya, Ronald telah memotongnya dengan nada tak sabar. "Berapa banyak yang kamu mau? Bilang saja!"

Ibu mertuaku melambaikan tangannya dengan tak acuh. "Ngapain bawa-bawa nama perempuan itu sekarang? Kamu ini nggak peka sama sekali, ya!"

Dokter mungkin teringat bahwa sebelum meninggal, aku terus-menerus menyebut nama Ronald. Karena itulah, dia tidak bisa menahan diri untuk mengingatkan Ronald. "Sebelum meninggal, Bu Sheny ingin sekali bertemu denganmu."

Ronald mengerutkan keningnya dengan jengkel. "Suruh dia nggak usah terusin sandiwara murahan itu. Apa pun yang dia mau, akan kubelikan semuanya!"

"Ronald, Kak Sheny meninggal karena aku ya? Semua ini salahku, biar aku saja yang mati!" Willianti menangis tersedu-sedu di pelukan Ronald. Air matanya terus mengalir hingga menarik perhatian semua orang ke arahnya.

Ronald yang merasa kasihan, segera membujuknya dengan lembut.

"Kasih tahu Sheny, kalau dia masih pura-pura mati, nggak usah kembali lagi sekalian! Berlebihan banget, sih? Padahal cuma donor sumsum tulang!"

Berlebihan? Ternyata, pengorbananku sampai mempertaruhkan nyawa demi melindungi cinta pertamanya dianggap berlebihan.

Aku tiba-tiba merasa seperti tidak mengenal pria di hadapanku ini lagi. Ronald, bukankah dulu kamu bilang, kamu akan mencintaiku asalkan aku memberikan sumsum tulang itu? Kenapa sekarang setelah anakku kehilangan nyawa, kamu justru bermesraan sama wanita lain?

....

Pada hari Willianti keluar dari rumah sakit, ibu mertuaku memasakkan sup ayam untuknya. Aromanya yang harum, menguar sampai ke hidungku.

Selama bertahun-tahun menikah dengan Ronald, aku bahkan belum pernah mencicipi masakan ibu mertuaku. Ronald selalu memintaku untuk berbesar hati dan menyuruhku untuk memahami betapa sulitnya ibunya membesarkan dia sendirian.

Namun pada akhirnya, yang kudapatkan hanyalah kematian!

Saat dokter mendorong tubuhku untuk dibawa ke kremasi, Ronald mengerutkan keningnya sambil memeluk Willianti dengan erat. "Willianti baru keluar dari rumah sakit, dia nggak boleh lihat hal-hal sial begini. Cepat bawa pergi!"

Bab 3

Ronald, kamu menganggap semua ini bawa sial ya? Itu istri dan anakmu sendiri!

Aku hanya bisa menyaksikan dengan penuh penyesalan. Ingin sekali rasanya aku meraih kerah bajunya untuk bertanya, tetapi aku hanya bisa menjadi penonton yang malang.

Dokter mencegatnya dan memintanya untuk membayar biaya kremasi, tapi ibu mertuaku langsung marah. "Lihatlah rumah sakit nggak bermoral ini! Kalian malah mungut biaya sembarangan sama kami. Ini jelas-jelas pemerasan!"

Ronald mengerutkan keningnya dengan samar-samar, tapi aku sangat mengenal setiap ekspresinya. Ini adalah tanda bahwa dia merasa jijik. Tak kusangka, ternyata dia juga bisa merasa jijik pada ibunya sendiri.

Sekarang ini, uang bukan lagi masalah bagi Ronald. Dia hanya ingin menyelesaikan semuanya secepatnya. Oleh karena itu, dia hanya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas tanpa memedulikan siapa yang dibayarnya.

"Pak Ronald, mengenai Bu Sheny ...."

Sesuai dugaan, Ronald lagi-lagi memotong perkataan dokter, "Aku nggak punya kesabaran untuk main-main beginian. Suruh dia tahu diri saja."

Ronald menyipitkan matanya melihat jari yang terulur dari tubuhku. Di sana ada cincin pernikahan yang dia berikan padaku. Saat itu, harga cincin itu tidak lebih dari empat juta rupiah. Jantungku berdebar-debar dengan penuh harap. Mungkin saja, Ronald akan mengenali cincin itu!

"Dasar murahan."

Rohku merasakan kepedihan yang mendalam seakan tersayat-sayat.

....

Perusahaan Ronald kini menghadapi krisis keuangan terbesar kedua sejak didirikan. Krisis terbesar pertama yang dialaminya waktu itu adalah karena ayahku.

Saat itu, Ronald baru saja dicampakkan oleh Willianti. Aku yang tidak sabaran segera mendekatinya dan menjadi wanita penghibur demi dirinya dengan mempertaruhkan harga diriku.

Ayahku marah besar dan membuat keributan di hadapan media. Karena itulah, ibu mertuaku mulai membenciku dan menganggapku sebagai pembawa sial bagi Ronald. Saat itu, Ronald juga bersikap sangat dingin padaku.

"Kalau bukan karena kamu, semua kerja kerasku nggak akan sia-sia! Sheny, pantas saja nggak ada yang mencintaimu!"

Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa aku sampai mengancam ayahku dengan kematian demi membantu Ronald. Ayahku yang hanyalah seorang pekerja biasa, akhirnya mengumpulkan ratusan juta demi modal usaha Ronald.

....

Tiba-tiba, Willianti berjalan masuk ke kantor sambil menangis. Dia terkejut melihat kotak makanan yang dilempar Ronald.

"Makanan sampah begini berani dikirim ke kantor? Ganti sama makanan dari restoran yang dulu!" bentak Ronald dengan marah. Asistennya hanya bisa menjawab dengan suara gemetaran karena takut berkata jujur.

Ronald menderita penyakit lambung. Oleh karena itu, aku selalu mempelajari resep masakan hanya demi membuatnya makan lebih banyak. Tak kusangka, aku tidak bisa memenangkan hatinya saat masih hidup, tapi malah bisa membuatnya merindukan masakanku setelah aku meninggal.

"Kak Ronald, biar aku saja yang masak untukmu!" pungkas Willianti sambil berlinang air mata. Wajahnya terlihat begitu polos dan murni.

Ronald memegang tangannya dengan lembut sambil memijatnya dengan hati-hati. "Tanganmu nggak seharusnya melakukan hal-hal seperti ini."

Aku hampir saja tertawa mendengarnya. Lalu memangnya aku dilahirkan untuk jadi tukang masak?

Ronald sibuk hingga kelelahan, tapi akhirnya dia sempat pulang ke rumah. Di rumah, semuanya masih sama seperti sebelumnya. Di atas meja masih ada bunga yang kuletakkan sebelum meninggal, di balkon masih ada pakaian yang kujemur, bahkan di dalam kulkas masih ada makanan yang kusiapkan untuknya.

Sayangnya, Ronald tidak pernah menganggapku sama sekali. Bahkan, makanan yang kumasakkan untuknya baru bisa sampai ke tangannya melalui sang asisten. Dilihat dari semua ini, jelas sekali bahwa dia memang tidak pernah mencintaiku.

"Sheny, nggak usah sembunyi lagi. Kalau aku sudah mengalah, seharusnya kamu tahu diri."

Ronald berbicara pada udara, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku selalu memperlakukan Ronald dengan baik. Mana pernah dia mengalami penghinaan seperti ini?

Karena marah besar, dia mulai menghancurkan semua benda yang berhubungan denganku. Bunga yang kutanam dicabut sampai akarnya, pakaian yang kujemur dibuang begitu saja ke lantai, bahkan makanan di kulkas juga dibuang ke tempat sampah.

Setelah melampiaskan amarahnya, dia menekan nomor teleponku dan berkata bahwa dia akan memberiku satu kesempatan lagi.

Baru Dicintai Suami Setelah Meninggal

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya