Bab 2
"Mana ada wanita yang nggak mau hamil," kata ibu mertua dengan sinis.
"Tenanglah, Bu! Kami akan berusaha bulan ini, kemungkinan bulan depan dia hamil," kata suamiku.
"Menurutku, kamu perlu cari wanita lain! Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan rekan kerjamu. Dia tampaknya oke, bokongnya besar, dia sepertinya bisa melahirkan anak laki-laki untukmu."
"Dia juga sepertinya menyukaimu. Nak, carilah wanita lain."
"Setelah anak itu lahir, uruslah pembagian harta dan ceraikan istrimu." Suamiku berkata, "Bercerai? Aku nggak akan menceraikannya."
"Kenapa kamu nggak mau menceraikannya? Kamu masih mau mempertahankan pernikahanmu seumur hidup! Aku muak melihatnya!" Ibu mertua khawatir.
"Dia anak tunggal, orang tuanya sudah meninggal, tabungannya banyak dan gajinya tinggi. Bu, bukankah Ibu pernah mengatakan bahwa ada tetangga di kampung halaman yang dapat asuransi empat miliar setelah istrinya meninggal? Tolong carikan informasi darinya."
"Kamu benar, aku akan tanyakan padanya."
Perkataan suamiku membuat hatiku hancur.
Suamiku berniat membunuhku untuk mendapatkan uang asuransi!
Sikap suamiku membuatku muak dan merasa mual lagi.
Aku dan Alan Linardi bertemu di acara sosial. Ketika dia mengejarku, parasnya yang tampan dan perawakannya yang tinggi membuatku agak tertarik dengannya. Sayangnya, makna nama Alan adalah tampan, hal itu yang membuatku ragu.
Aku tidak ada keinginan memiliki anak setelah menikah, aku juga tidak suka anak kecil, sedangkan dia memiliki nama yang artinya tampan, hubungan kami tidak akan langgeng. Namun, Alan tidak mau melepasku. Meskipun aku menolaknya berulang kali, Alan menanyakan alasannya sambil menangis.
"Aku nggak ada keinginan memiliki anak setelah menikah, aku juga nggak suka anak kecil. Kamu memiliki paras tampan sesuai namamu, kita nggak akan cocok." Aku mengatakan dengan terus terang.
"Aku juga nggak suka anak kecil. Kalau kamu nggak mau anak kecil, kita nggak usah punya anak, kamu yang terpenting buatku. Aku kira kamu nggak menyukaiku! Kalau kamu nggak suka dengan namaku, aku akan mengganti namaku."
Mendengar Alan ingin mengganti namanya, membuatku terharu. Aku berpikir telah menemukan cinta sejatiku.
Jarang sekali ada pria yang menerima dengan lapang hati keputusan pasangannya untuk tidak memiliki anak. Menurutku, Alan adalah pria yang baik, humoris, romantis, memiliki perawakan tinggi dan paras tampan, aku jatuh cinta padanya.
Aku tidak menyangka bahwa Alan akan berubah secepat ini. Apakah cintanya selama ini palsu? Padahal dia sudah berjanji padaku sebelumnya.
Aku tidak menyangka, ternyata dia ingin mengambil keuntungan dariku.
Sepertinya, dia sudah tahu waktu itu aku adalah anak tunggal.
Muncul kebencian dalam hatiku. Aku tidak akan membiarkan mereka berdua mendapatkan uang dan asetku.
Selain itu, mereka harus membayar mahal atas perbuatan yang sudah mereka lakukan.
Bab 3
Ketika penyakit radang lambungku mulai membaik, aku pulang dari rumah sakit. Di pagi hari, suamiku sudah berangkat kerja, sedangkan ibu mertua senam di lapangan luar rumah. Aku memasang kamera tersembunyi di seluruh bagian rumah.
Mereka sudah membahas masalah asuransi. Aku harus mulai mengawasi gerak-gerik mereka. Tindakan ini kulakukan untuk antisipasi mereka ingin membunuhku untuk mendapatkan asuransi.
"Siska, kamu nggak sarapan? Ini ayam yang baru kubeli dari pasar, masih segar. Sejak masuk rumah sakit, kamu kurusan, jadi sekarang kamu harus lebih banyak makan," ucap ibu mertua.
"Aku nggak sarapan. Kantor sudah menyediakan makanan. Aku pergi kerja dulu." Aku takut mereka ingin meracuniku.
"Kamu belum minum pil KB," kata suamiku mengingatkan.
Pil KB seharusnya diminum setiap hari dan harus di jam yang sama, biasanya selalu kuminum setelah sarapan.
Sambil menahan mual, aku berkata, "Nggak perlu. Selama di rumah sakit, aku nggak meminumnya, jadi nggak berguna kalau aku minum sekarang."
Setelah itu, aku berangkat kerja. Sesampainya di kantor, bos memerintahkanku untuk pergi dinas.
Ini suatu kebetulan yang mengejutkan, memang inilah yang kuinginkan!
Sorenya, aku pulang untuk mengemasi barang-barangku. Baru saja masuk kamar, aku melihat ibu mertua masuk kamar dengan tersenyum lebar bersama tetangga kami bernama Paman Owen.
"Ada beberapa gerakan yang belum kukuasai, tolong Pak Owen ajari aku, ya," kata ibu mertua sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa, aku akan mengajarimu."
Mereka berdua tiba-tiba melihatku, lalu menjadi salah tingkah. Ibu mertua bertanya dengan gugup, "Siska, kamu kok sudah pulang?"
"Oh, aku mengemasi barang untuk pergi dinas. Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Ada gerakan senam yang belum kukuasai! Kami mau latihan."
"Oh, baiklah. Kalian latihanlah, aku pergi dulu."
Setelah keluar kamar, aku baru menyadari ada yang aneh.
Jika ada gerakan senam yang belum dikuasai, kenapa ibu mertua tidak minta Bibi Lusi mengajarinya, dia malah meminta tolong suaminya Bibi Lusi?
Aku keluar rumah sambil membuka CCTV. Dari rekaman CCTV, aku melihat ibu mertua berpelukan dengan Paman Owen. Selanjutnya, mereka berdua berguling-guling di tempat tidur.
Heh, dia menyuruh anaknya berselingkuh dengan wanita lain, ternyata dia sendiri adalah pelakor. Dasar nggak tahu malu!'
Aku akan ambil rekaman ini sebagai bukti. Setahuku, Bibi Lusi sangat pintar berdebat. Dalam waktu dekat, aku akan membongkar skandal ibu mertua dan Paman Owen.
Aku tidak bisa menahan tawa saat memikirkan ide bagus ini. Aku mengeluarkan ponsel.
Ada seorang sahabat menghubungiku.
Sania, apa kamu punya pil KB? Gantilah isi kapsul KB dengan suplemen, kemudian kirimkan kepadaku."
"Kamu mau melakukan apa?"
"Nanti kamu lihat sendiri, sebentar lagi akan ada pertunjukan yang menarik!" jawabku.
"Oke!"
Ibu mertua begitu menginginkan anak. Kalau begitu, aku akan membuat dia hamil.
Malam harinya, aku meminta sahabatku mengirimkan pil KB itu ke rumahku.
Setelah turun dari pesawat, aku menghubungi ibu mertua.
"Bu, nanti akan ada paket yang dikirim ke rumah. Tolong terima paketnya, ya."
"Beli apa lagi? Buang-buang uang saja. Sebagai seorang wanita, harus pintar menabung."
"Pil KB kualitas bagus, harganya mahal. Jangan dibuang, ya. Sudah dulu, Bu. Aku masih ada pekerjaan."