Bab 1

"Ayahmu menyakiti putriku, jadi aku sakitin kamu! Dengarin, kaki dibuka sedikit." Ayah dari sahabat memposisikan aku dalam gaya yang memalukan, mendengar gerakan mesra ayah dan sahabat di dalam kamar, aku hanya pasrah diperlakukan sesuka hati oleh Om Charlie......

“Fellicia, datang sini om peluk, bajumu turunkan lagi...permainan kartu tadi kamu kalah, sini dengar, merangkak ke sini."

Namaku Stella, tadi aku dan ayah, bersama sahabat dan ayahnya, berempat berminum, tapi karena tidak kuat minum jadi sudah kembali ke dalam kamar, sekarang aku mendengar ayah berbicara seperti itu dengan sahabatku Fellicia.

Mereka berdua mau ngapain?

"Fellicia yang penurut, seperti biasa, ayo ke sini..."

Kepalaku terasa agak pusing, perlahan aku mendorong pintu kamar tidur.

Lewat dari celahan pintu, aku melihat ruang tamu yang tadi bermain kartu, sahabatku Fellicia wajahnya merah, mengenakan gaun hitam bertali tipis, merangkak ke meja kartu, dan sedang bergerak ke arah ayah yang wajahnya penuh dengan kegilaan.

Gaun Fellicia sangat pendek, kelihatan semua bagian bawah gaunnya.

Aku melihat dengan jelas ayah seperti tidak sabaran berdiri, satu tangan mengelus kepalanya Fellicia, satunya lagi masuk ke dalam gaunnya...di saat itu, aku merasa tubuhku gemetar.

Seperti ada tangan yang langsung membuka bajuku dan masuk.

Mereka berdua, sejak kapan begitu mesra?

Itu adalah sahabatku, bisa-bisanya bermain sama ayah?!

"Om, pelan dikit, jangan...nggak mau..."

Nada suara Fellicia terdengar lembut, dia sepertinya sangat semangat, mengerti cara menggoda orang, ayah menjadi semakin terpancing.

Dia mulai memposisikan Fellicia, membuatnya berpose dalam posisi yang memalukan, "Hehe, Fellicia lah yang paling nurut..."

Lewat dari celah pintu, aku melihat dengan jelas, ayah langsung menekan Fellicia yang bentuk badannya montok di atas meja, dan tubuhnya menempelnya.

"Fellicia masih begitu sensitif, lihatlah, kamu sekarang bergetar, jangan takut, Om bantu kamu obatin sensitifmu..."

Aku hanya merasa tubuhku sangat panas.

Langsung menggoyangkan pinggangku.

Adegan ayah dan sahabat, membuatku seperti sedang mengalaminya.

Aku sudah dewasa, aku diam-diam banyak menonton film percintaan, sekarang aku adalah wanita yang sudah tumbuh dewasa.

Melihat ini, membuatku tidak bisa tahan.

Menjadi candu.

Saat ini, aku tiba-tiba mendengar suara lain muncul di sampingku, langkah kaki yang terdengar "tuk tuk tuk", seseorang berjalan beberapa langkah dari kamar mandi sebelah.

Lalu, aku mendengar suara samar yang seperti lagi mimpi.

"Sayang, kenapa kamu pulang, cepat aku mau peluk kamu tidur. Kamu nggak tahu, aku sudah tahan berapa lama..."

Mendengar suara itu, aku terkejut.

Itu adalah suara ayah sahabatku, Charlie.

Rumah kontrakan kami adalah tipe dua kamar tidur, ada kamar mandi di dalamnya, dua kamar tidur saling berhadapan, dengan kamar mandi yang menghadap ruang tamu, untuk sampai ruang tamu masih ada jarak.

Biasanya, kamar tidur tamu digunakan untuk Om Charlie dan putrinya, Fellicia.

Belum sempat aku sadar sepenuhnya, Charlie sudah berada di depanku.

Saat dia berbicara, aku terkejut sekaligus merasa malu.

Tadi, tanpa sadar tanganku mulai meluncur dari bagian atas gaun tidur ke bawah, Om Charlie pasti sudah melihatnya.

Aku tersadar setelah mendengar kata-kata Om Charlie, sepertinya dia sudah mabuk. Wajahnya memerah, ekspresinya sedikit terhuyung, namun tubuhnya yang kekar terlihat seperti gunung kecil.

Mungkin dia terlalu panas karena minum alkohol, kemeja Om Charlie terbuka, memperlihatkan otot-otot kekarnya yang gelap.

Di wajah kasar pria itu, ada ekspresi yang membuatku merasa sedikit takut, namun juga penuh dengan kegembiraan dan harapan yang gila.

Dia menatapku dengan senyum lebar, lalu berlari ke arahku, kedua tangan besarnya memelukku dengan erat.

Tapi entah apakah Om Charlie terlalu banyak minum, dia memelukku terlalu kuat hingga aku langsung terjatuh.

Bab 2

Aku bisa melihat matanya setengah terpejam, dan saat dia mendekat, aku bisa mencium bau alkohol dari tubuhnya.

Dia memanggilku sayang, apa dia salah orang makanya memelukku?

Aku baru mau bilang aku bukan tante, dia langsung menempel dan menindihku dengan tubuhnya yang kuat.

Tadi aku mau tidur, jadi memakai gaun tidur sutra. Sekarang begitu dia menindihku, tubuhku sudah hampir jatuh ke lantai, gaun tidur berantakan, kerah terbuka lebar, membuat Charlie melihat sampai terdiam.

Tetapi tubuh Om Charlie benaran kuat sekali, tangannya sudah mulai memegang pinggangku, terus menerus mengelus, dan dengan mabuk berbicara di samping telingaku.

"Sayang, tubuhmu lembek sekali, hanya saja sejak kapan kulitmu jadi sebagus ini?"

Saat berkata ini, dia mulai mencium wajahku, kedua tangannya sangatlah panas.

Pintu masih terbuka, aku bisa melihat ayah dan sahabat sedang mesraan.

Dan aku yang di sini juga dianggap Om Charlie sebagai istrinya.

Di saat kedua tangan Om Charlie yang panas masuk ke dalam bajuku, aku merasa seolah-olah ada api yang menyala dalam diriku.

Ini adalah ayah sahabatku, sekarang melakukan hal ini kepadaku...tidak ku sangka Om Charlie bisa sekekar itu, otot tubuhnya terasa sangat tegang.

Om Charlie yang seperti ini hampir memenuhi harapanku tentang pria.

Sebelumnya, saat aku melihat Om Charlie selalu memikirkan yang aneh-aneh, sekarang Om Charlie begitu langsung menempelku, tubuhku terasa semakin lemas, harapanku menjadi kenyataan, membuat tubuhku semakin bergetar.

Sangat cepat, gaunku seiring dengan nafasku yang cepat menjadi ketat, aku sudah siap meresponsnya.

Charlie menempel dekat denganku, lekukan tubuhnya menjadi semakin terlihat.

Pandanganku terus melihat Om Charlie, merasakan aroma tubuhnya, tangan mulai memegang otot kekarnya, membuatku tersesat sepenuhnya.

Pemikiran yang muncul di dalam hatiku membuatku menderita, sedikit panas dan gatal.

Aku sudah tidak tahan lagi, ingin Om Charlie memperlakukan aku dengan kasar lagi, aku ingin menciumnya.

Braaak!

Tepat pada saat ini, meja kartu di luar tiba-tiba runtuh.

Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan keras dari sahabatku.

"Aduh, sakit sakit... "

Fellicia mulai menangis.

"Om, aku berdarah di sini..."

Mendengar kata-kata itu, kepalaku yang sebelumnya sudah mulai linglung, langsung sedikit sadar kembali.

Sahabatku mengalami sesuatu, aku harus segera melihat keadaannya.

Tetapi di saat aku sadar, Om Charlie masih menindihku.

"Sayang, jangan pergi, hari ini aku harus bermain sepuasnya."

Om Charlie menjadi sangat gila karena alkohol, dia sudah tidak puas dengan menjelajahi, mulai menyobek bajuku.

Aku terkejut, sekarang aku memakai gaun tidur, kalau disobek dan dibuatnya ada bekas cupang, bagaimana aku untuk keluar?

Tetapi, saat disobek baju oleh Om Charlie, tubuhku tidak merasa kedinginan, melainkan semakin panas.

Adegan sekarang ini, sama dengan pemikiranku dulu. Menurutku, awalnya sedikit panik, tetapi sekarang benaran tidak mau bergerak, sangat nikmat dengan rasa sekarang.

Tetapi, sahabatku sepertinya sangat sakit.

Wajahku merah, merasa diriku sangat jahat. Om Charlie mabuk, menganggapku sebagai mantan istrinya yang sudah cerai, sahabat sedang terluka dan aku masih sedang sibuk menikmati.

Bagaimana kalau sahabat benaran terluka parah?

Bab 3

Aku mengusir pikiran-pikiran jahat itu dan mendorong Om Charlie.

"Fell, jangan bikin aku takut…"

Dari luar, terdengar suara ayah yang panik.

Saat Charlie mendengar kalimat itu dari ayahku, dia terdiam.

Charlie yang sebelumnya menindihku dan mulai bicara ngelantur karena mabuk, mengira aku adalah istrinya. Sekarang, dia malah menghentikan semua gerakannya dan di matanya terlihat sedikit rasa kecewa!

Lalu, tangannya memegang kakiku berkali-kali dan berdiri jalan keluar.

Aku melihat tatapan matanya, dan saat itu aku baru sadar, ternyata dia berpura-pura!

Hatiku langsung terasa berat.

Om Charlie tidak mabuk!

Dia hanya berpura-pura!

“Om Charlie, bukankah kamu mabuk?” Dia melirikku sekilas, menggosok matanya, “Udah sadar… Tapi, kamu bukan istriku, kamu kan si Stella ya? Maaf ya, Om tadi agak linglung, kukira kamu istriku.”

Alasannya terdengar jelas dibuat-buat. Setelah itu, dia buru-buru pergi.

Aku berdiri, cepat-cepat merapikan gaun pendekku.

Dalam kepalaku, ada rasa malu dan kesal yang aneh terhadap Om Charlie.

Dia sengaja bersikap seperti itu padak...begitu aku sampai di ruang tamu, barulah aku tahu, kaki sahabatku ternyata terluka cukup parah, ada sayatan besar dikakinya.

Aku menghela napas lega, lalu menunduk memeriksa gaun pendek yang kupakai, khawatir kalau ada sesuatu yang mencurigakan terlihat.

Saat pikiranku masih mengingat kejadian barusan, Om Charlie melirikku sejenak, lalu berkata, “Untungnya Fell nggak kenapa-kenapa. Eh, Nak, biar Om Adam bantu bersihin lukanya ya. Aku nggak ngerti hal beginian, tapi Om Adam pernah ikut pelatihan P3K.”

Om Charlie mendorong sahabatku ke arah ayahku untuk ditangani.

Setelah itu, dia kembali melihat ke arahku, “Stella, jangan khawatir lagi. Fell nggak parah, kita beresin barang-barang ini.”

Awalnya aku ingin menolak, tapi ayah sudah membawa Fell masuk ke kamar, sepertinya sudah pergi mengobati lukanya.

Akhirnya, dengan perasaan campur aduk, aku membantu Om Charlie membereskan semuanya.

Saat sedang membereskan, tubuhku pun otomatis membungkuk ke depan...

Gaun tidur sedikit ketat, bentuk bokongku menjadi terlihat samar.

Plak! Om Charlie datang ke sampingku, dia langsung menampar belakangku.

Gerakan ini, membuat tubuhku gemetar.

"Om, kamu..."

"Stella, kamu juga sengaja kan, kamu kira aku tidak tahu kejadian tadi? Sebenarnya kamu juga sangat menginginkannya kan? Walaupun aku berpura-pura, apakah kamu tidak menikmatinya?"

Charlie tersenyum lebar.

"Apa yang kamu bilang Om, tadi kamu menganggapku sebagai tante, jadi aku tidak menolak, tidak ku sangka kamu itu pura-pura..."

"Jangan pura-pura lagi Stella, aku menganggapmu sebagai tante, apakah kamu benaran tante? Kenapa begitu nurut? Atau kamu suka samaku? Lagi pula..."

Tatapan Charlie melihat bentuk lekukan di belakang punggungku.

"Kamu kira aku tidak mencium aroma ditubuhmu? Kamu sudah pengen, masih aja tidak mau mengaku!"

Charlie semakin mendekatiku.

Memukul bagian belakangku berkali-kali.

Tunggu sampai aku sudah gemetar jatuh ke lantai, aku mendengar suara aneh dari dalam kamar.

Dalam kamar, harusnya ayah sedang mengobati luka sahabat.

Tetapi sampai sekarang, kenapa sepertinya dia sedang melakukan hal yang tidak bisa dideskripsikan dengan sahabat?

Aku melihat suara sahabat dengan memohon.

"Jangan gini Om, ayahku dan Stella masih di luar...."

"Dengar nggak?"

Charlie mendekatiku dengan mata yang merah, "Ayahmu beraninya melakukan hal ini pada putriku, menurutmu, apakah aku perlu melakukannya terhadapmu juga?"

"Jangan Om, aku...aku belum pernah mengalami hal ini, aku takut, jangan..."

Charlie tidak mendengarkanku, dia menggeserkan barang yang ada di lantai, dan menempel ke belakang tubuhku.

"Tenang saja, aku sangat berpengalaman melakukan ini, tidak akan membuatmu terluka."

Dia dengan tangan yang gemetar membuka gaunku.

"Tapi aku takut aku bisa rusak Om, tidak..."

Aku masih menolak, tetapi dia membuka gaunku, membuatku merasakan sensasi panas yang sulit diungkapkan di dalam tubuh.

Kejadian tadi, membuatku ingin terjadi sesuatu dengan Charlie, sekarang menbuatku semakin tidak tahan lagi.

Aku dengan tidak sadar menggoyang pinggangku, malah semakin memancing Charlie.

"Dengarin, kaki buka lagi sedikit."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B57599" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B57599
Salin

Balas Dendam dari Ayahnya Sahabat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya