Logo
Baby Daddy
Baby Daddy

Baby Daddy

75 Bab
Tamat
Dalam novel Baby Daddy, Eva Sania harus mencari pria untuk memiliki anak demi memenuhi tuntutan ibunya. Bastian Cokro, CEO yang dirumorkan mandul, menjadi target utama dalam billionaire romance ini. Baca kelanjutan kisah mereka dalam web novel modern yang penuh dengan pilihan sulit.
Bab 1 dari Baby Daddy

[Aura Finance: Seriusan gosipnya, Kir? Masa sih CEO kita itu ga laku2 karena mandul??]

[Kirana HR: SUMPAH, Ra! Gue denger sendiri dari adeknya yang mampir kapan hari itu, Mr. T tuh beneran infertil!]

[Aura Finance: Ah, gak percaya gue!]

[Kirana HR: Yeuuuhh si Aura. Tanya aja ke Wira. Ya nggak Wir? @Wira Desain]

[Wira Desain: apaan? gatau ah jangan tag gw masalah gosip2an begini. gw banyak kerjaan. skip]

[Aura Finance: Udah deh, Kir. Jangan nyebar gosip yang gak bener gitu, ntar fitnah jatohnya…]

[Kirana HR: ENAK AJA!]

[Kirana HR: Nih ya, kalo ga percaya, gue tag langsung aja asistennya si Tersangka. Woy, Nis, sini lu! Bantu gue klarifikasi! @Nisa PA CEO]

Wanita muda dengan rambut dikuncir kuda menekuni pantulan wajahnya sendiri dalam cermin genggam yang tersembunyi aman tertutup layar monitor di mejanya. Wanita itu, Nisa, sama sekali tak memperhatikan layar kaca monitor yang menyalakan group chat, berkedip memanggil namanya.

'Komedo jahat, makin digerus, makin beranak.' Omelan dalam benak sang empunya wajah itu tidak sampai terwujud dalam kalimat nyata, namun hanya terproyeksi dalam tautan di alis-nya yang tergambar rapi.

Rutinitas menggerundel berbagai imperfection di wajahnya terputus buru-buru ketika pintu ruangan di belakangnya—yang bertempelkan nama ‘Bastian Cokro’—mendadak terbuka, menampakkan dua remaja dengan seragam SMA berbalut jas almamater sekolah berjalan beriringan keluar dari ruangan.

"Kak, makasih, ya." Salah satu dari mereka menyapa wanita bercermin genggam. Gadis remaja dengan poni rata dan senyuman berlesung pipit manis. 

Wanita di balik meja itu membalas, "Oh iya, iya, sama-sama."

Interaksi pendek berakhir seiring dengan beranjaknya dua anak sekolahan itu, menghilang di balik pintu keluar.

Tepat saat itu, sang penunggu meja baru menyadari panasnya pembahasan di grup chat WhatsApp yang terhubung web browser di komputernya. Buru-buru ia menutup tab group chat ghibah itu.

Beberapa detik berlalu, seorang pria dengan kemeja putih fit body serta dasi abu-abu muncul dari balik pintu ruangan. Jas tergulung lipat bertengger di salah satu lengannya.

"Nisa, agenda saya setelah makan siang apa aja?" Suara berat menyapa pendengaran wanita yang ia ajak bicara itu—Nisa.

"Jam dua nanti ada meeting dengan vendor dari Jepara, dan setelah itu clear, Mas." Nisa menjawab dengan sigap sambil men-scroll layar ponsel yang ia pungut dari atas meja.

"Itu aja? Tumben. Seingat saya minggu ini kita agak padat." Lelaki itu mengerutkan dahi.

"Tadinya iya sih, Mas, cuma barusan ditelepon sama Bu Cokro untuk ngosongin jadwal Mas Tian hari ini setelah jam 4, katanya disuruh pulang, ada ... acara keluarga." Nisa berkata dengan hati-hati, melihat reaksi bosnya—Bastian—yang mulai kecut.

"Aduh, Nis! Kok kamu ‘iya’-in, sih? Kan jadi banyak kerjaan yang ketunda nanti!" Bastian mulai naik pitam. Nada suara berusaha dikontrolnya agar tetap rendah, namun tak ayal tekanan emosi terdengar pula di sana.

Nisa menunduk dalam, menelan bongkahan omelan Tian di penghujung hari kerjanya.

"Maaf, Mas. Tapi, Bu Cokro tadi agak maksa ...."

Tian menghela nafas dengan berat. Ia benci marah-marah pada karyawan sendiri.

"Oke, nggak papa deh. Kamu boleh pulang sekarang, saya bisa handle meeting sama vendor sendiri. Materinya sudah ada di meja saya ‘kan?"

Mata Nisa membulat mendengar kalimat Tian barusan.

"Iya, tapi ... saya nggak dipecat kan, Mas?"

Tian mengembuskan napas tawa. "Ya enggak, lah. Saya cuma nyuruh kamu pulang, bukan mecat kamu. Memangnya kamu nggak pingin istirahat, gitu? Jalan-jalan, refreshing?"

Manik mata Nisa berbinar dengan semangat.

"Wah, Mas Tian mau ngajak saya jalan?"

Kali ini tawa Tian pecah. Asistennya yang satu ini memang agak ... unik dan bebal. Apa, ya, istilah gaulnya? Oh, iya! Lola! Loading lama.

"Kapan-kapan ya, Nis, saya kan sudah fully-booked untuk hari ini," tolak Tian dengan nada halus, seakan ucapan Nisa barusan tidaklah kurang ajar dan melewati batas. 

Nisa mengangguk diiringi tawa juga, mulai mengemasi harta bendanya yang bertebaran di atas meja. Cermin, pouch makeup, kipas angin portable yang sedang di-charge, dan tas tangan berwarna pink pucat.

"Gimana tadi interview sama anak SMA, Mas?" Nisa mencoba mencairkan suasana sambil memasukkan barang-barang berharganya ke dalam tas, sementara matanya menangkap Basian masih berdiri terpaku dan belum beranjak dari tempatnya. 

Rupanya mata Tian tertuju pada layar TV yang tergantung di seberang ruangan.

"Asyik, kok. Nggak seformal biasanya. Mereka malah ngundang saya untuk hadir di acara kelulusan angkatan mereka nanti." Tian menjawab seraya tak melepaskan pandang dari layar kaca.

"Wah, mereka masih kelas 11, ‘kan? Visioner banget." Nisa mengomentari sambil berdiri, siap untuk pergi.

"Uh-huh," jawab Tian seadanya.

"Nonton apa sih, Mas? Serius amat." Nisa mengikuti arah mata Tian. Televisi sedang menampilkan potongan acara berita Flash Headline.

"Oooh, berita …," bisik Nisa, lebih kepada dirinya sendiri.

Gambar berganti kembali menuju scene di studio, saat tiba-tiba Tian bersuara, "Nis, itu pembawa berita yang perempuan, wajahnya ‘tuh ... saya kok kayak pernah lihat gitu, ya?"

Nisa memicingkan mata, pandangannya menangkap seorang wanita dengan balutan blouse berwarna marun gelap, membacakan berita dengan ekspresi yang tajam. Bibir wanita itu bergerak penuh, dan alisnya membingkai wajah berseberangan membentuk garis simetris alami antara satu sama lain, menaungi sepasang mata lentik yang menatap lurus menembus layar kaca. Cantik.

"Mas Tian kenal?" tanya Nisa. 

Sang Bos menggeleng.

"Nggak. Cuma kayaknya saya sering lihat wajah macem dia di majalah-majalah Vogue gitu. Wajahnya itu semacam ... mahal, nggak sih?"

Nisa mencerna kalimat rumit Tian dengan dahi berkerut. Mau bilang 'cantik' aja bebelit kali Masbos ini. Wajah mahal? Apa pula itu?

“Saya nggak pernah lihat-lihat majalah mahal begituan, Mas. Tapi saya yakin, yang Mas Tian maksud ‘tuh wajahnya si penyiar itu cantik, ya ‘kan?” Nisa berkata sambil menekankan pada kata 'cantik', seolah mengajari Bastian untuk mengeja.

"Iya. Cantik …," beo Tian pendek.

Akhirnya. Muji 'cantik' aja susah amat sih, Masbos. Pantes aja jomblo terus. 

Nisa membatin dalam hatinya, tak habis pikir bagaimana bosnya yang workaholic ini begitu kaku berhadapan dengan wanita cantik—walau hanya di depan layar kaca sekalipun. Sang asisten hanya bisa menggelengkan kepala.

**

"Nah! Ini Masmu, akhirnya pulang ...."

Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore ketika Tian menginjakkan kaki di kediaman keluarganya. Kedatangannya disambut dengan komentar sang Bunda, diikuti pandangan tiga orang tamu dekat yang sedang berkunjung. 

Oh, ini toh acara keluarga yang dimaksud Nisa, batin Tian.

"Mas!" Panggilan suara itu memekik.

"Hey, Lis!" balas Tian.

Elizabeth, yang biasa dipanggil Lisa, adalah sepupu Tian dengan tubuh mungil setinggi 155 senti, tampak mungkin meskipun usianya sudah menginjak awal 20. Lisa tersenyum lebar sambil duduk manis melipat kaki di sofa ruang tamu, memangku setoples turkish delight.

"Kok makin kecil aja kamu?" Tian memperhatikan Lisa yang sibuk mengunyah manisan gula itu.

"Mas juga makin jahat, komenin fisik orang." Mulut pintar Lisa membalas kalimat Tian dengan lugas, membuat seisi ruangan tertawa renyah.

"Sehat, Le?" 

Pria yang duduk di porsi lain sofa membuka suara, seorang bapak-bapak pertengahan usia 50 dengan uban minimalis, bersetelan baju bunga aloha dan celana pendek santai. Dia adalah Om Moel, suami dari Imelda Cokro alias Bulik Melda. Om Moel adalah ayah Lisa.

"Sehat, Om." Tian menyalami Om Moel dengan sigap.

"Makin gagah ponakanku iki ...." Wanita yang memperhatikan Tian dari sudut sofa berkomentar, membuat tulang pipi Tian membulat akibat senyum yang tiba-tiba timbul.

"Bisa aja, Bulik." Tian mencium pipi Buliknya dengan sayang sekaligus menghitung dalam hati.

Tiga ... dua ... sa—

"Kapan rabi (nikah) kamu?" Suara Bulik Melda terdengar.

**

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar
Dalam Pengantin Sempurna Sang CEO: Kesepakatan dengan Iblis yang Menyamar, Leyla terjebak pernikahan mendadak dengan Colton. Billionaire ini ternyata mengatur segalanya demi obsesi tersembunyi. Simak kisah romance novel ini di web novel pilihan untuk mengungkap motif sang playboy.
Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
Dalam novel romantis miliarder Cinta Kita Sudah Sampai Ujung, Vanesa mengakhiri pernikahan kontraknya setelah dikhianati Steven. Di tengah kehamilan rahasianya, ia bangkit menjadi wanita mandiri yang kaya raya. Baca novel online ini untuk mengikuti perjuangan Vanesa meraih kesuksesannya sendiri.
Di Jodohkan Dengan Om Galak
Di Jodohkan Dengan Om Galak
Dalam novel romance Di Jodohkan Dengan Om Galak, Nessa terikat kontrak pernikahan setahun dengan Arga, seorang CEO dingin. Di tengah bayang-bayang masa lalu sang billionaire, mereka harus memilih antara berpisah atau mempertahankan cinta. Baca web novel ini selengkapnya.
Gairah panas my Daddy
Gairah panas my Daddy
Dalam billionaire romance novels ini, Aldo Bimantara, pengusaha muda sukses pemilik restoran besar, harus menyeimbangkan ambisi bisnis dan tekanan keluarga untuk menikah. Ikuti kisah modern novel Gairah panas my Daddy saat ia menavigasi kekuasaan dan cinta di dunia web novel Indonesia.
Kecanduan Ciumanmu
Kecanduan Ciumanmu
Dalam Kecanduan Ciumanmu, Midori tak sengaja berciuman dengan Kenzo Watanabe, pewaris kaya yang sudah dijodohkan. Romance novel ini mengikuti perjuangan mereka melawan tradisi dan jarak Tokyo-Perth. Baca billionaire romance books ini untuk melihat takdir cinta yang penuh tantangan.
Madu Cinta Sang Ceo
Madu Cinta Sang Ceo
Dalam Madu Cinta Sang Ceo, Raja Adiwijaya terikat janji menikahi Putri yang sederhana. Namun, kembalinya cinta pertama menguji kesetiaannya. Baca kisah billionaire romance novels ini untuk melihat bagaimana Raja menjaga janjinya di tengah ambisi poligami dalam romance stories yang pelik.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Semua Alasan yang Salah
Semua Alasan yang Salah
Andrea adalah orang terakhir yang harus menulis kolom nasihat seks, mengingat fakta bahwa dia memiliki NOL pengalaman, tapi bos brengseknya tidak mau mengalah! Putus asa, Andrea mengunjungi bar lokal untuk kencan darurat, namun sebaliknya, dia menemukan orang asing seksi dengan tawaran menggoda: pelajaran rayuan dengan imbalan menghancurkan perjodohannya?!
Cinta Orang Tua yang Jauh (Sulih Suara)
Cinta Orang Tua yang Jauh (Sulih Suara)
Delapan belas tahun lalu, Junita memilih mengambil semua darah cucu perempuannya yang bernama Lisa Lianto untuk cucu laki-lakinya yang bernama Lintar Lianto.Lalu, Junita meminta pengurus rumah membuang Lisa, untungnya Lisa ditolong oleh Heru, bahkan memberi Lisa nama baru, yaitu Ratna.Delapan belas tahun kemudian, sekeluarga Lianto terus mencari Lisa, tapi mereka tak menyangka Lisa yang mereka cari adalah Ratna yang selalu mereka tindas.
Cinta Sesat: Lestari dan Bayangannya
Cinta Sesat: Lestari dan Bayangannya
Weni, istri Jenderal Rizal yang palsu, menculik Mega yang bisu untuk mengandungkan anaknya—tanpa tahu bahwa Mega sebenarnya adalah Lestari, gadis yang keluarganya pernah dibantai Weni! Dengan wajah baru dan pura-pura bisu, Lestari merencanakan balas dendam. Ironisnya, Rizal jatuh cinta pada "Mega" karena suara dan jiwa yang indah! Saat Weni mengetahui kebenaran, pertarungan mematikan pun dimulai... Siapa yang akan bertahan di antara tiga orang yang terikat cinta, kebohongan, dan dendam?
[Versi suara dubbing] Reborn: Tidak Ada Pengorbanan Lagi
[Versi suara dubbing] Reborn: Tidak Ada Pengorbanan Lagi
Dalam kehidupan sebelumnya, wanita beruntung itu menyelamatkan seorang pria terkutuk tetapi dibunuh olehnya. Setelah rebirth, dia menolak untuk membantu lagi, bekerjasama dengan orang lain, dan memperbaiki takdir mereka.
Selamat Tinggal, Aku Akan Menikah
Selamat Tinggal, Aku Akan Menikah
Berawal dari sebuah kebaikan kecil, Eva diam-diam mencintai Ruben selama lima tahun. Dia rela menjadi simpanan Ruben, tapi hati Ruben tetap milik Jodi. Saat melihat Ruben melamar Jodi di depan umum, hancur hati Eva. Dia pun memutuskan pergi dan menikah dengan pria lain yang jauh darinya. Barulah setelah kepergiannya, Ruben tenggelam dalam penyesalan yang mendalam.
Pernikahan Dadakan dengan CEO
Pernikahan Dadakan dengan CEO
Setelah mengalami pengkhianatan dari pacarnya dan di-PHK dari pekerjaannya, Aubrey menemukan dirinya dalam pernikahan kilat dengan Axel, CEO Grup Simpson. Awalnya seperti orang asing, keduanya perlahan-lahan menjalin ikatan yang mendalam. Meski diwarnai serangkaian kesalahpahaman dan tantangan, mereka akhirnya membuka hati satu sama lain dan memulai kehidupan bersama, berlayar menuju pernikahan yang penuh kebahagiaan.