Bab 1

Anakku tidak sengaja menjatuhkan air panas pada tangan kekasih suamiku. Namun, suamiku malah langsung memotong setengah telapak tangannya sebagai hukuman. Saking kesakitan, pandangan anakku jadi kabur dan tidak sengaja terjatuh ke dalam danau. Noda darah langsung mewarnai permukaan danau.

Aku memeluk tubuh anakku, menangis histeris, lalu segera menelepon suamiku untuk meminta bantuan. Namun, dia hanya merespons dengan dingin, "Cuma telapak tangan yang putus, tinggal disambung saja. Kalau nggak diberi pelajaran, dia hanya akan semakin berani menindas orang!"

Karena penanganan yang terlambat, anakku tenggelam dan tak bisa diselamatkan. Dia akhirnya meninggal di danau itu.

Namun saat suamiku melihat jasadnya, dia seakan-akan tak percaya. "Hanya karena kehilangan setengah telapak tangan ... kenapa bisa mati?"

Putraku yang nakal dan menggemaskan itu kini tubuhnya telah memucat dan bahkan membengkak. Darah dari setengah telapak tangannya yang terputus telah membeku dan tidak bisa pulih lagi. Semua orang menasihatiku untuk menangis jika merasa sedih.

Namun, aku tidak menangis. Sebaliknya, aku mengurus segala keperluan untuk anakku dan mengantarnya ke dalam peti mati yang dingin dengan tenang.

Pada saat ini, telepon dari Shawn masuk.

"Salep untuk luka bakarnya belum dibeli? Sepertinya dia bukan cuma kejam, tapi juga bodoh! Beli satu barang saja sampai selama ini. Christine itu pelukis. Kalau sampai nggak bisa melukis lagi nanti, apa kalian bisa tanggung jawab?"

Nada bicaranya terdengar jengkel dan tidak merasa bersalah sama sekali terhadap putra kami. Aku diam saja, tapi kesabarannya sudah habis, "Cepat bawa dia ke sini! Suruh dia berlutut di depan Christine dan minta maaf! Ini nggak bisa dibiarkan begitu saja!"

Tanganku perlahan-lahan menyentuh telapak tangan anakku yang telah terputus setengah. Kemudian, aku menutup peti matinya, lalu berbalik dan pergi mencari Shawn.

Di dalam vila yang besar dan kosong itu, Shawn sedang mengoleskan salep luka bakar pada Christine. Wajahnya yang biasanya dingin menunjukkan kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Di atas meja makan persegi di belakang mereka, terlihat sebuah piring baja tahan karat.

Di atas piring itu, tergeletak setengah telapak tangan anakku. Telapak tangan yang diperintahkan oleh ayahnya sendiri untuk dipotong.

Kakiku langsung lemas dan hampir saja aku jatuh. Namun, aku berhasil meraih setengah telapak tangan itu dan mendekapnya di dadaku. Di detik berikutnya, suara Shawn terdengar marah, "Mana Zayn? Jangan kira kamu bisa melindunginya hanya karena kamu ada di sini! Memangnya kamu kira kamu siapa!"

Aku tidak menggubrisnya, tapi dia malah maju dan mencengkeram lenganku. Tenaganya sangat kuat hingga membuatku terdorong dan menghantam tembok yang dingin dan keras. Rasa sakit yang tiba-tiba itu membuatku langsung berkeringat dingin. Perutku terasa sakit dan semakin menusuk.

Namun, aku tetap memegang erat setengah telapak tangan itu dan berkata dengan dingin, "Dia nggak bisa datang."

Tatapan Shawn menjadi muram. Dia mengangkat tangan dan mendorongku, sehingga setengah telapak tangan anakku terjatuh di lantai.

"Kayla, kamu sengaja mau cari masalah sama aku ya?"

Dia mengadang di hadapanku dan menuding, "Kuberi tahu ya, kamu harus suruh anakmu untuk datang minta maaf sama Christine! Pikirkan baik-baik, telapak tangan yang putus itu masih bisa disambung lewat operasi. Tapi kalau dia nggak minta maaf dan waktu operasinya terlewat, dia akan cacat seumur hidup!"

Amarah langsung meluap dalam hatiku. Aku menatap pria di hadapanku ini dengan tatapan menyedihkan. Sambil mengatupkan bibir, aku tertawa pelan. Betapa konyolnya semua ini.

Anak yang akan menjadi cacat karena ulahnya sendiri ini adalah anak kandung Shawn.

"Sudahlah." Christine akhirnya bersuara sambil menarik pergelangan tangan Shawn. "Kak Shawn, ini cuma luka bakar kecil. Nggak separah itu kok. Jangan pertaruhkan masa depan anak kecil demi masalah begini ...."

Christine yang pengertian malah semakin memicu kemarahan Shawn. Wajahnya menjadi gelap, dan dia membentak dengan keras, "Di mana sebenarnya Zayn? Suruh dia keluar sekarang juga!"

"Sudah kubilang ...." Dengan ekspresi datar, aku berkata, "Dia nggak bisa datang lagi."

"Kamu ...!"

"Dia sudah meninggal," ucapku sepatah demi sepatah sambil memelototinya.

Bab 2

Zayn terdiam sejenak. Namun, yang muncul kemudian adalah kemarahan yang lebih hebat. Dengan cepat, dia menamparku.

Dadaku terasa sesak dan darahku seakan bergejolak. Tubuhku terhantam pada sudut meja dan rasa sakit yang hebat langsung menyerangku.

"Demi melindunginya, kamu bahkan berani mengarang kebohongan begini?" Shawn menatapku dengan sinis. "Kayla, seandainya saja kamu bisa selembut dan sebaik Christine, kita juga nggak akan sampai di tahap seperti ini."

"Kamu terus memanjakan Zayn, apa nggak takut dia akan jadi pembunuh ke depannya?"

Setiap kata dari Shawn bagaikan jarum yang menusukku. Tubuhku gemetar tak terkendali, keringat ingin membasahi kulit kepalaku. Bau anyir darah terasa di udara dan darah merah mengalir di antara kakiku.

Shawn malah hanya menggenggam erat tangan Christine. "Christine, tenang saja. Aku akan carikan dokter terbaik untukmu. Aku nggak akan biarkan ada bekas luka di tanganmu."

Aku terkulai lemas di lantai. Namun, Shawn hanya peduli pada lepuhan kecil di tangan Christine.

"Astaga!" Christine melirik ke arahku dan tiba-tiba berteriak kaget. "Kak Shawn, lihat .... Ada apa dengan Kak Kayla? Darah ... darahnya banyak sekali!"

Di bawahku, bercak darah menyebar. Tanganku perlahan menyentuh perutku dan aku bisa merasakan ada kehidupan kecil yang sedang memudar di sana.

Shawn tertegun, "Kamu hamil?" Dia tanpa sadar melangkah maju dan mengulurkan tangannya padaku.

Christine segera mendekat, "Kak Kayla, kamu nggak tahu kamu hamil? Sudah berapa bulan? Kenapa seceroboh itu ...." Dalam sekejap, ekspresi Shawn berubah drastis.

Dia menyunggingkan senyuman sinis. "Kayla, dari mana kamu dapat kantong darah ini? Beberapa waktu ini kita bahkan jarang ketemu, bukan? Apa mungkin, anak ini bukan milikku?!"

Kata-katanya seperti petir yang menggelegar di benakku. Aku menatapnya dengan tidak percaya, "Shawn, kenapa kamu bilang begitu? Apa kamu sudah lupa, waktu ulang tahun pernikahan kita yang lalu ...."

"Kak Shawn, perkataanmu ini sudah keterlaluan!" Christine memotong ucapanku dengan wajah tidak senang, "Mau marah sampai gimana pun, jangan sampai menodai nama baik Kak Kayla!"

"Sudahlah, jangan ribut lagi. Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit." Christine berjongkok, mencoba untuk membantuku berdiri.

Aku langsung mengulurkan tangan dan mendorongnya menjauh. Christine jatuh ke genangan darahku dengan telapak tangannya yang menekan lantai. Dia mengernyit dengan kesal, "Aduh, sakit ...."

Shawn merasa sangat cemas. Dia segera menggendong Christine dengan hati-hati dan berkata dengan wajah muram, "Nggak usah pura-pura! Kamu cuma mau ngambil telapak tangan anakmu, bukan?"

Aku menggertakkan gigi dengan kesal. "Kalau kamu tahu, cepat berikan padaku!"

Shawn menendang setengah telapak tangan itu ke arahku.

"Masalah Christine ini nggak akan berakhir begitu saja. Zayn berbuat salah, dia harus berlutut dan minta maaf sama Christine!"

Telapak tangan yang kecil itu menggelinding di lantai dengan berlumuran darah dan lumpur. Warnanya gelap, terlihat begitu mengerikan. Aku pun berjuang meraih benda itu, memeluknya erat seakan menemukan harta karun yang tak ternilai harganya.

Bab 3

Aku membersihkan telapak tangan anakku, lalu meletakkannya kembali ke dalam peti mati. Akhirnya, tubuhnya utuh kembali. Tubuhku yang telah berusaha bertahan seharian, akhirnya tak mampu bertahan lagi dan aku jatuh pingsan.

Dalam mimpiku, anakku kembali. Dia menangis tersedu-sedu sambil bertanya, "Mama, kenapa Papa nggak suka sama aku?"

"Mama, Papa nggak cinta sama aku ya?"

Aku hanya bisa memeluk tubuh kecilnya erat-erat, air mata mengalir deras di wajahku.

Zayn, ini semua salah Mama. Kalau bukan karena Mama, Papa tidak akan memperlakukanmu seperti ini ....

Pernikahanku dengan Shawn berawal dari sebuah kebetulan. Di sebuah pesta dansa, dia dipengaruhi obat dan aku juga mabuk. Saat itu, aku merasa ini adalah takdir yang sudah digariskan. Namun sekarang, aku menyadari bahwa ini hanyalah sebuah hubungan yang penuh kemalangan.

Kami terlibat satu malam bersama dan setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Siapa sangka aku mengandung anaknya? Demi memberikan keluarga yang utuh untuk anakku dan juga karena aku diam-diam menyukai Shawn, keluargaku mendatangi keluarganya untuk memberitahukan situasiku.

Setelah itu, kami menikah dan punya anak. Semuanya berjalan mulus. Shawn memang tidak pernah benar-benar menyukaiku, tetapi dia selalu bersikap sopan padaku.

Cukup lama aku mengira bahwa suatu hari aku akan bisa meluluhkan hatinya. Bagaimanapun, cinta bisa tumbuh seiring waktu.

Sampai akhirnya Christine kembali ke negara ini. Semuanya berubah.

Dia tak pernah punya waktu untuk liburan bersamaku dan anak kami, tetapi bisa meninggalkan pekerjaannya yang berat demi menemani Christine melukis di alam selama dua minggu.

Dia yang selalu merasa membeli hadiah itu tidak penting, malah membeli sebuah kristal yang sudah lama kuidamkan di pelelangan dengan harga sangat tinggi hanya untuk Christine.

Ketika anak kami demam tinggi, dia hanya berkata, "Christine sudah batuk beberapa hari dan belum sembuh."

"Zayn punya kamu yang merawatnya, jadi aku nggak khawatir. Tapi Christine cuma punya aku sebagai temannya di negara ini. Aku harus memastikan dia benar-benar membaik supaya aku bisa tenang."

Sejak saat itu, hatiku benar-benar hancur. Akhirnya aku sadar, tak peduli seberapa keras pun aku berusaha, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Shawn. Namun mengingat pernikahan kami melibatkan dua keluarga besar, aku tetap tidak mengajukan cerai.

Tak disangka, keputusan itu justru mencelakai anakku ....

Aku terbangun dari mimpi dengan tangisan. Dengan wajah penuh air mata, ibuku menyerahkan sesuatu padaku. "Kayla, ini ditemukan di kamar Zayn."

Aku menerima gambar itu. Sebuah lukisan sederhana yang dibuat oleh tangan mungil anakku. Lukisan itu menggambarkan kami bertiga dan di atasnya tertulis sebuah kalimat.

[ Selamat ulang tahun, Papa. Aku akan selalu mencintai Papa. ]

Itu adalah hadiah ulang tahun yang dipersiapkan Zayn untuk Shawn. Namun, dia tak akan pernah bisa menyerahkan hadiah itu langsung ke tangan ayahnya.

Aku menangis hingga hampir kehilangan suara dan ibuku meletakkan surat cerai yang selalu kubawa di sisiku ke hadapanku. "Kalau mau pisah, lakukanlah. Nggak perlu mikirin perusahaan."

....

Surat cerai itu langsung dikirimkan ke perusahaan Shawn secepat mungkin. Shawn pun segera datang ke rumah sakit. Betapa ironisnya, sudah hampir seminggu sejak aku mengalami keguguran, dia bahkan tidak pernah menelepon sama sekali. Namun karena Christine terkena flu ringan, dia mampir ke kamarku di rumah sakit.

Christine membawa bunga, katanya untukku. Namun ketika matanya menangkap lukisan yang terletak di samping tempat tidur, dia tiba-tiba panik dan gemetaran "Gambar itu ... gambar itu ...."

Christine berlutut, lalu menutup kedua telinganya dengan kuat dan menangis terisak. "Shawn, tolong bakar gambar itu untukku!"

Shawn sangat khawatir dan tanpa berpikir panjang, dia melempar bingkai gambar itu ke lantai dan menyalakan korek api.

Mataku memerah, aku mencabut jarum infus dari tanganku dan berlari ke arahnya. Kakiku yang telanjang tertusuk pecahan kaca hingga meneteskan darah di lantai.

"Kembalikan! Itu punyaku!" Aku menarik ujung baju Shawn, "Itu lukisan Zayn, itu lukisan Zayn ...."

Mata Shawn menunjukkan sejenak keraguan, tetapi Christine menjerit, "Kak Shawn, aku takut sekali. Gimana kalau nanti aku nggak bisa pegang kuas lagi?"

Shawn mengernyitkan alisnya memandangku dari atas, "Ini cuma sebuah gambar, bukan berarti dia nggak bisa melukis lagi!"

"Lagian, ini semua karena kesalahan Zayn! Sebenarnya Christine akhir-akhir ini kehilangan inspirasi, jadi dia merasa agak terbebani untuk melukis. Tapi Zayn malah merusak tangannya, sekarang setiap kali melihat lukisan, dia gemetar ketakutan!"

"Ssshhh ...." Shawn menyalakan korek apinya.

"Kumohon ... anggap saja ini permohonanku. Jangan lakukan ini ...." Aku berlutut memohon padanya dengan memukul-mukulkan kepalaku ke lantai. Pecahan kaca menusuk dahiku hingga meneteskan darah.

Namun, api kecil itu tetap melahap habis lukisan Zayn. Aku berteriak keras sambil mengulurkan tangan untuk merebutnya, tapi sudah terlambat. Api terlalu besar dan lukisan itu telah berubah menjadi abu dalam sekejap.

Aku memeluk sisa-sisa abu itu sambil terduduk di atas pecahan kaca, merasakan setiap tusukan yang merobek kulitku.

"Nggak ada lagi ... semuanya sudah hilang .... Lukisan terakhir Zayn juga sudah hilang ...."

Zayn, ini semua salah Mama ....

Ayah yang Salah Untuk Anakku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya