Bab 1
Aku didudukkan di atas meja oleh ayahnya si preman sekolah.
Pria itu menggigit rokok di sudut bibirnya, wajahnya tampak seperti orang berpendidikan, tetapi kelihatan jelas aura brengseknya.
"Buka kakinya sedikit ... "
Tiba-tiba, preman sekolah masuk ke ruangan. Ayahnya langsung menekan kepalaku dan menyembunyikanku di bawah meja.
Detik berikutnya, dia langsung membuka ikat pinggangnya ...
Namaku Chastin Liana, aku adalah murid teladan yang penurut dan pintar di mata guru dan orang tua.
Di mata teman-teman, aku adalah primadona sekolah yang dingin dan sulit didekati, yang sudah menolak pernyataan cinta dari banyak pria.
Namun, mereka tidak tahu ... sebenarnya aku ini wanita murahan yang benar-benar tidak ada harganya.
Aku sudah berkali-kali membayangkan diriku diperkosa.
Namun, aku tak tertarik dengan pria seumuran.
Aku hanya suka pria dewasa dengan aroma rokok.
Hormon mereka membuatku tergila-gila.
Sayangnya, aku hanya seorang murid. Jadi tidak berani sembarangan mendekati om-om dan menanyakan apakah mereka mau memperkosaku.
Di hari-hari yang sepi dan hampa, aku hanya bisa mengandalkan jari-jari lentikku.
Hari ini ada pertemuan orang tua murid di sekolah, banyak om-om yang datang.
Ada om pekerja kasar yang kelihatan garang, ada juga yang kalem dan berwibawa. Tapi, yang paling membuatku terpikat adalah ayahnya si preman sekolah yang duduk sebangku denganku.
Dia memakai setelah jas rapi, tubuhnya tegap, wajahnya tegas dan tampan, kelihatan penuh percaya diri dan liar. Jakunnya menonjol, pinggulnya juga berisi. Auranya benar-benar kuat dan menggoda.
Sekilas saja sudah kelihatan seperti tipe yang bisa memuaskanku habis-habisan.
Begitu pertemuan dimulai dan guru mulai bicara di depan, aku malah diam-diam mengintip om dari balik pintu, seperti orang yang jatuh cinta diam-diam.
Kemeja putih yang dia pakai membentuk badannya yang kekar, lengannya digulung santai sampai kelihatan otot-otot lengannya yang kuat.
Pandanganku turun dan melihat bagian bawah perutnya yang tampak menojol, seolah celananya hampir tak mampu menahannya.
Punya om pasti sangat besar.
Kalau saja aku seorang pelacur, aku bisa langsung membuka sleting celananya dan kemudian menghisapnya ...
Pasti enak sekali, ya?
Sambil membayangkannya, tiba-tiba terjadi sesuatu yang agak sulit dijelaskan di bagian bawahku. Aku merasakan aliran hangat yang menyebar ...
Saat kupegang, astaga, ternyata aku sudah basah.
Aku tidak tahan dan reflek menyentuhnya, hanya sekali sentuhan, rasanya hampir tidak kuat lagi.
Aku langsung panik, buru-buru kabur sebelum ada yang melihat.
Wajah dan tubuh om terus terbayang di kepalaku.
Aku sangat ingin diperkosa oleh om.
Aku bilang pada diriku sendiri kalau hari ini ada banyak orang, jadi harus jaga sikap. Tapi tubuhku seolah berkata, 'jangan pura-pura, kamu butuh orang untuk menenangkanmu sekarang juga.'
Karena benar-benar tak bisa menahan diri, aku diam-diam masuk ke ruang kelas.
Aku memejamkan mata, duduk di bangku dengan kaki terbuka, membayangkan diriku sebagai wali kelas, lalu menarik om masuk ke ruang kantor.
"Ayahnya Ben, kamu pasti nggak mau Ben dibuli di sekolah, 'kan?"
Sambil bicara, aku pun berjongkok, lalu ...
Semakin dipikirkan, aku semakin terbawa suasana. Tubuhku terasa panas, jantung berdetak kencang, napasku pun makin terengah-engah dan gerakan tanganku juga makin cepat ...
Tepat saat aku hampir mencapai puncaknya, tiba-tiba terdengar suara dari luar.
Aku langsung membuka mata lebar-lebar karena kaget dan panik.
Namun, belum sempat aku merapikan jejak menggoda itu, seseorang sudah mendorong pintu dan masuk.
Dengan panik, aku buru-buru menarik turun rokku, lalu mendongak dengan wajah penuh rasa bersalah.
Ternyata yang berdiri di depanku itu ... ayahnya Ben, si preman sekolah.
Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia melihat semuanya?
Dia melirik ke arah namaku, lalu berkata dengan nada tegas,
"Chastin, ruang kelas itu tempat untuk menuntut ilmu. Bukannya belajar, kamu malah melakukan hal-hal yang nggak pantas?"
"om ... om, aku ... "
Sebenarnya om tidak tahu, sejak pertama kali dia mengantar anaknya ke sekolah, aku sudah menyukainya diam-diam.
Sejak saat itu, aku selalu menunggunya di depan gerbang sekolah setiap hari, hanya untuk melihatnya.
Aku berkali-kali membayangkan bagaimana pertemuan kami nanti, tapi tak pernah menyangka akan seburuk ini.
Aku menunduk, malu dan hampir menangis.
Ketahuan melakukan hal seperti ini, aku benar-benar tidak tahu harus menjelaskan apa.
om pasti akan menganggap aku perempuan nakal yang tak tahu malu.
Pada saat yang sama, om melambaikan ponselnya, lalu mendekat dan berbisik di telingaku,
"Chastin, om sudah merekam semua yang kamu lakukan tadi. Tadi gurumu sempat memuji kamu itu murid teladan, lho. Bagaimana kalau videonya kukasih lihat ke gurumu ... "
Bab 2
Aku mendongak dengan panik, dia bukan hanya diam-diam mengintip, tetapi juga merekam video dan sekarang malah mau mengirimkannya ke guru.
"Om, jangan ... kumohon, jangan ... "
Seluruh tubuhku gemetar, aku reflek merapatkan kedua kakiku, air mataku menggenang di mata yang sudah memerah.
Walaupun dalam hati aku memang nakal, aku tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi kalau orang lain sampai tahu hal ini.
"Dasar gadis nakal, melihat ekspresi polos dan menyedihkanmu itu, om jadi nggak tahan ... "
Sambil berbicara, dia tiba-tiba menyelipkan tangan kasarnya yang penuh kapalan ke bawah rokku.
Sensasi geli yang luar biasa langsung membuatku lemas, sampai harus mencengkeram erat lengan orang agar tidak jatuh.
"Om, kumohon ... jangan ... lepaskan aku ... "
Om perlahan menarik tangannya keluar, lalu melirik jejak menggoda di tangannya, sambil tersenyum mengejek,
"Tapi, adik manis ... sepertinya tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu, ya?"
Aku merasa malu setengah mati, buru-buru menyekanya dengan lengan seragam.
"Coba pikir baik-baik, kalau kamu nurut dan patuh, om janji nggak akan ada orang lain yang tahu. Tapi kalau nggak ... siap-siap saja jadi bahan omongan."
Aku hampir tidak percaya, om yang terlihat tinggi, berwibawa, seperti pria yang sopan dan jujur, ternyata bisa senakal ini.
"Om, aku sudah tahu salah. Aku nggak akan berani lagi, tolong lepaskan aku."
"Om paham, kamu stres belajar. Itu hal yang sangat wajar. Kalau om bisa membantumu, kenapa nggak?"
Meskipun dalam hati aku sering membayangkan berbagai skenario yang kelewat batas, tapi saat benar-benar kejadian, aku tetap merasa takut.
"Om, aku benar-benar bukan seperti itu ... "
Mataku berkaca-kaca dan akhirnya air mataku pun jatuh.
Om mulai kehilangan kesabaran, dia berkata, "Pura-pura apa, sih?"
"Aku lihat kamu terus melihat bagian bawahku daritadi, 'kan? Kamu juga sebenarnya mau aku perkosa, 'kan?"
Ternyata semua gerak-gerikku barusan tidak luput dari pandangannya.
Sejujurnya, aku memang sangat ingin tidur dengan om, bahkan ingin diperlakukan dengan kasar olehnya. Tapi sebenarnya rencanaku menunggu sampai aku lulus dan masuk universitas ternama, jadi orang yang lebih baik dulu, lalu baru menyatakan perasaanku ke om, seperti pasangan pada umumnya.
Aku tak mau jadi seperti perempuan murahan yang hanya dipakai om buat pelampiasan. Kalau sampai begitu, om pasti bakal menganggap aku perempuan yang bisa dimiliki siapa saja.
Melihatku hanya menangis tanpa berkata apa-apa, om pun menganggap aku sudah setuju.
"Aku ambil kondom di mobil dulu, kamu tunggu aku di sini. Kalau berani kabur, tanggung sendiri akibatnya!"
Ujar om dengan nada tak terbantahkan, lalu berbalik dan membuka pintu dan pergi begitu saja.
Aku jatuh terduduk di lantai, lemas dan mulai menangis.
Dalam hati aku menyesal, kenapa tadi harus begitu genit, sih? Kalau saja aku bisa menahan diri, semua ini pasti tak akan jadi seperti sekarang.
Aku tahu om bukan tipe yang hanya ngomong saja. Meskipun dalam hatiku liar dan tindakanku kadang nekat ...
Sebenarnya, aku ini perempuan perawan yang belum pernah punya pengalaman apapun.
Masa iya aku bakal menyerahkan hal paling berharga dalam hidupku dengan cara seperti ini?
Saat pikiranku masih kacau dan penuh pertanyaan, om pun kembali.
Melihatku tidak pergi, dia tampak puas dan berkata, "Pintar sekali, sayang! Ini baru namanya murid teladan."
Kemudian, dia menggendong dan mendudukkanku di atas meja, lalu dengan suara serak berkata, "Buka sedikit kakimu."
Jakun om bergerak naik turun dan tatapannya dipenuhi nafsu yang tak terkendali.
Dia tak sabar melepas kemejanya, memperlihatkan perut dan pinggangnya yang kencang dan menggoda.
Aku menunduk malu-malu, tapi malah melihat tonjolan besar di bawah perutnya. Celana panjangnya bahkan terlihat seakan robek saking tegangnya.
Om melepaskan ikat pinggangnya, lalu mengayunkannya dengan keras ke bagian tubuhku yang terbuka.
Tubuhku gemetar kesakitan, aku langsung menjerit dan menangis. Mata om memerah seperti akan menyemburkan api dan aku gemetar ketakutan seperti daun tertiup angin.
Namun, tubuhku bereaksi secara naluriah, gairah yang mengguncang terasa mengalir deras hingga ke otakku.
Terasa geli, kosong dan begitu ingin dipuaskan.
Seolah ada api yang menyala dalam tubuhku, aku sudah tak bisa mengendalikan diri lagi ...