Bab 1
Di tahun kedelapan hubungannya dengan Jordan, Wulan harus dirawat di rumah sakit karena sakit.
Hari itu, saat keluar dari rumah sakit, secara tak sengaja Wulan mendengar percakapan antara Jordan dan kakak perempuannya di lorong.
“Jordan, kau gila? Kau benar-benar menyembunyikan hal ini dari Wulan, lalu diam-diam memberikan sumsum tulangnya untuk Maya?”
“Kau tahu kondisi tubuh Wulan lemah, tapi tetap membohonginya dengan alasan sakit maag dan membiarkannya menanggung risiko sebesar itu?”
Maya Hendrawan adalah sahabat masa kecil yang telah lama disukai Jordan.
Wulan tak menangis, tak juga mengamuk. Ia hanya mengangkat telepon, menelepon kedua orang tuanya yang berada jauh di luar negeri, dan setuju untuk menikah dengan keluarga Lunarman
“Jordan, kau sudah gila?! Kau benar-benar menyembunyikan hal ini dari Wulan dan diam-diam mendonorkan sumsum tulangnya untuk Maya?!”
Di sebuah rumah sakit swasta di Linkin, Erika bergegas masuk ke kamar rawat dan langsung menunjuk Jordan yang duduk di sofa sambil memaki dengan marah.
Jordan sedikit mendongak. Wajah tampannya tampak kusut, dan suaranya terdengar penuh kelelahan.
“Kak, cuma sumsum tulang Wulan yang cocok dengan Maya. Aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”
Erika meraih lembaran laporan medis di meja, sebuah laporan yang mencatat Wulan harus dirawat hampir setengah tahun karena infeksi dan setelah melihat sekilas, amarahnya pun meledak.
“Enggak punya pilihan?! Kau tahu sendiri kondisi tubuh Wulan buruk, tapi kau malah menipunya dengan bilang itu hanya sakit maag, lalu membiarkannya ambil risiko sebesar ini?!”
“Aku benar-benar nggak habis pikir… Maya itu apa sih buatmu? Dia kasih kau jampi-jampi?! Dulu demi melihat dia tertawa, kau nekat ikut balapan sampai akhirnya lumpuh lima tahun. Dan selama lima tahun itu, Wulan yang selalu ada di sampingmu!”
“Sekarang tubuhmu sudah pulih, Maya sakit dan dibuang kembali ke negara ini, lalu kau diam-diam pakai sumsum Wulan buat nyelamatin dia. Baru beberapa bulan setelah dia sembuh, kau bahkan ikut-ikutan main gila dengannya, ikut program bayi tabung segala!”
Di depan pintu ruang perawatan, Wulan baru saja menyelesaikan proses keluar rumah sakit ketika mendengar kata-kata penuh amarah dari Erika.
Tangan yang menempel di dinding tiba-tiba mengepal erat, senyum di wajahnya membeku, seolah jatuh ke dalam lubang es yang dalam.
Setengah jam yang lalu, dokter mengabari bahwa infeksi pasca operasi maagnya sudah benar-benar sembuh, dan dia boleh pulang.
Jordan melamar Wulan di tempat itu juga. Dia bahagia sampai menangis, bahkan mengunggahnya di media sosial bahwa hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.
Di dalam kamar, Jordan menundukkan kepala, rambut hitam yang sedikit berantakan menutupi matanya yang gelap, sehingga ekspresinya tak terlihat jelas.
“Kak, tolong tutup mulut soal ini semua, jangan sampai Wulan tahu. Nenek Maya sudah tak lama lagi, satu-satunya keinginannya adalah memeluk cucunya sebelum meninggal. Aku nggak mau dia menyesal.”
Erika menatap tajam, wajah cantik dan halusnya penuh dengan kemarahan.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Wulan? Siapa di circle kita yang nggak tahu dia sudah mencintaimu selama delapan tahun penuh?!”
“Aku masih ingat dengan sangat jelas. Delapan tahun lalu, Maya menyatakan cinta pada anak kedua Keluarga Sunarta tapi ditolak. Kau, karena ingin membela harga diri Maya, sengaja mendekati Wulan dan menggoda dia, supaya anak kedua Keluarga Suanrta yang menyukai Wulan merasa tersingkir!”
“Sekarang Maya hamil, dan Wulan sudah mengikutimu selama delapan tahun penuh. Lalu sekarang, kau mau dia bagaimana?!”
Jordan menunduk. Butuh waktu lama sebelum akhirnya ia membuka mulut, suaranya serak.
“Aku sudah atur semuanya. Wulan seumur hidup nggak akan tahu soal kehamilan Maya. Soal masa depan, delapan tahun ini aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku akan menikahinya…”
Namun Wulan tak lagi mendengarkan kelanjutannya.
Kebetulan saat itu seorang perawat lewat dan masuk ke ruang perawatan. Wulan menunduk, berpura-pura seolah baru kembali, seolah tak tahu apa-apa.
Kedua orang di dalam kamar saling pandang, dan Erika menarik Jordan pergi keluar.
Dalam perjalanan pulang, Jordan dan Wulan membicarakan detail pernikahan.
Namun tak satu kata pun benar-benar masuk ke telinga Wulan.
Ia hanya menatap gedung-gedung tinggi yang melintas mundur di balik jendela, tubuhnya terasa dingin seakan ditelan angin malam.
Pertama kali Wulan bertemu Jordan adalah saat usianya lima belas tahun, di sebuah pesta kerja sama antara orang tuanya dan rekan bisnis mereka.
Sekilas pandang waktu itu cukup untuk menggoreskan kesan mendalam, remaja laki-laki dengan sikap dingin dan angkuh, elegan tak tersentuh. Sejak itu, bayangannya tak pernah benar-benar hilang dari benaknya.
Enam belas tahun, ia mengikuti lomba balap mobil dengan identitas tersembunyi sebagai "Weldy", dan tanpa sengaja menyelamatkan nyawa Jordan. Saat itulah kisah cinta sepihak yang panjang dimulai.
Di usia dua puluh, Adit Sunarta mulai mendekatinya. Di tahun yang sama, Jordan menghadiri pesta temannya dan malam itu, ia sendiri yang meminta kontak WhatsApp Wulan.
Malam itu, Wulan bahagia semalaman penuh.
Masih di tahun yang sama, ia tahu bahwa Jordan punya teman masa kecil bernama Maya.
Tapi Maya punya jiwa bebas, telah berganti belasan pacar, namun tak pernah sekalipun menaruh hati pada Jordan.
Di usia dua puluh satu, Jordan menyatakan cinta padanya. Ia pun setuju untuk menjalin hubungan dengannya.
Di usia dua puluh dua, Jordan mengalami kecelakaan saat balapan dan dilarikan ke rumah sakit.
Keesokan harinya, dokter mengumumkan bahwa Jordan mengalami cacat permanen.
Tahun itu, Jordan yang menjadi cacat seolah berubah menjadi orang lain, emosinya murung dan mudah meledak.
Karena cinta, Wulan menolak ajakan orang tuanya untuk menetap di luar negeri, dan memilih tinggal di dalam negeri demi merawatnya.
Di usia dua puluh tujuh, kaki Jordan akhirnya sembuh total.
Tuan besar Keluarga Setyabudi pun secara resmi mengumumkan bahwa kendali keluarga kini diserahkan padanya. Saat itu, pemuda yang dulu terpuruk kembali bersinar, penuh percaya diri dan angkuh.
Masih di tahun yang sama, Wulan tiba-tiba pingsan di rumah. Saat sadar, dokter memberitahu bahwa ia mengidap sakit maag dan harus menjalani rawat inap serta operasi...
Kini, saat ia mengingat semuanya dengan hati-hati, cinta manis yang ia kira datang bak anugerah dari langit, sejak awal ternyata hanya penuh kebohongan!
Setengah tahun lalu, saat ia diambil banyak darah di rumah sakit, Jordan bilang itu hanya pemeriksaan.
Ternyata itu semua bohong, ia hanya dimanfaatkan untuk mendonorkan sumsum tulang buat Maya!
Mobil Bentley perlahan melaju memasuki kawasan vila.
Pukul dua belas malam, ponsel Jordan berdering.
Wulan sempat melirik layar, tertulis [Maya Imut].
Jordan menggeser layar untuk menolak panggilan. Jari-jarinya yang panjang menyentuh layar beberapa kali, lalu tak lama kemudian, ia berdiri dan buru-buru pergi.
Wulan berdiri di depan jendela.
Di tengah gelapnya malam, mobil Bentley itu perlahan menghilang di kejauhan.
Ia pun mengangkat ponsel dan menekan nomor ibunya.
“Mama, aku sudah pikirkan matang-matang. Aku setuju dengan perjodohan dengan Keluarga Lunarman. Tujuh hari lagi, begitu aku mendarat di bandara, aku akan langsung menikah dengannya.”
Nyonya Linda Wicaksono sepertinya bisa menebak apa yang telah dialami putrinya. Ia menenangkan Wulan beberapa saat, lalu dengan sabar berkata sambil menganalisis situasinya:
“Sudah benar-benar dipikirkan? Yanyan, sekarang Keluarga Wicaksono tak lagi sekuat dulu. Perjodohan ini bukan main-main.
Keluarga Lunarman dan Keluarga Setyabudi meski tinggal berjauhan, tapi sejak generasi ke generasi selalu jadi musuh bebuyutan, seperti api dan air, tak mungkin berdamai.”
“Kalau kau benar-benar menikah ke Keluarga Lunarman, mereka mungkin akan memintamu memutus semua hubungan dengan Keluarga Setyabudi.”
Di ujung telepon, Wulan menundukkan pandangannya, mata beningnya tampak murung.
Enam tahun lalu, karena bisnis berkembang pesat, Keluarga Wicaksono memindahkan perusahaan ke luar negeri dan menetap di sana.
Namun tak lama setelah relokasi, Keluarga Wicaksono mengalami krisis keuangan. Keluarga Lunarman yang juga tinggal di luar negeri beberapa kali menyatakan keinginan menjalin hubungan perjodohan.
Tapi saat itu, kedua orang tuanya tahu betul ia mencintai Jordan, dan mereka tak pernah berpikir untuk mengorbankan pernikahan putri mereka demi menyelamatkan perusahaan.
Kini, Wulan tak ingin lagi memiliki hubungan apa pun dengan Jordan.
Menikah ke Keluarga Lunarman adalah pilihan terbaik.
“Mama, aku sudah memutuskan. Seumur hidup ini, aku nggak mau lagi bertemu Jordan!”
Bab 2
Di seberang telepon, Nyonya Linda terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan.
“Baiklah. Besok, Mama dan Papa akan ke rumah Keluarga Lunarman untuk membicarakan soal perjodohan.”
Sepanjang malam, Wulan tak bisa memejamkan mata.
Keesokan paginya, Jordan tak juga pulang. Ia hanya mengirim satu pesan singkat.
[Yanyan, ada sedikit masalah di kantor. Aku harus dinas luar tiga hari.]
Wulan tak membalas pesannya. Ia langsung memesan tiket pesawat ke Negara Amsterhol untuk keberangkatan tujuh hari ke depan.
Ia mulai berkemas. Selama bertahun-tahun tinggal bersama Jordan, barang-barangnya tentu tak sedikit.
Kini, kondisi Keluarga Wicaksono sedang goyah, maka barang-barang yang masih layak jual ia unggah ke internet untuk dijual.
Menjelang sore, muncul notifikasi pesan dari akun asing di media sosialnya.
[Hai Wulan]
Wulan membukanya. Foto profil si pengirim adalah hasil tes kehamilan, jelas menunjukkan hasil positif.
Nama pengguna akun itu adalah ‘Maya Happy’.
Itu akun baru milik Maya, akun pribadi yang hanya dibagikan pada orang tertentu.
Kehamilannya belum ia umumkan ke publik. Dari semua akun yang diikutinya, Wulan adalah satu-satunya.
Satu menit kemudian, Maya mengirimkan sebuah tautan dari TikTok.
Itu video pendek, foto-foto saat Jordan menemaninya melakukan pemeriksaan kehamilan.
Dan di bawah videonya, tertulis caption:
[Hihihi. Papa idaman versi sultan. Lembut, pengertian, super kaya! o( ̄▽ ̄)~]
Wulan langsung tahu apa maksud tersembunyi di balik unggahan itu. Dia memberi satu tanda hati, lalu meninggalkan komentar.
“Sudah dapat sumsum tulangku, sembuh, terus balik buat nyindir aku. Maya, enak ya makan roti kukus yang dicampur darah orang?”
Keesokan harinya, Wulan pamit satu per satu pada sahabat-sahabat dekatnya. Sekalian, ia juga menjual barang-barang mewahnya pada pembeli yang sudah ia janjikan.
Di perjalanan pulang, notifikasinya berbunyi. Maya mengunggah video TikTok kedua.
Masih berupa kolase foto. Kali ini, Jordan sedang menemani Maya memilih baju hamil.
Warna pink dan putih, setiap potongannya terlihat sangat manis dan modis.
Wulan kembali membuka video sebelumnya. Di sana, Maya sempat membalas komentarnya. nada balasannya sangat angkuh.
“Bukan aku yang minta kau nyumbangin sumsum tulang, itu si Kak Jordan yang maksa aku nerima karena dia khawatir.”
Wulan mengejek lewat satu balasan pendek.
“?”
Hari ketiga, Wulan menjual semua hadiah yang pernah ia berikan pada Jordan. Lebih dari sepuluh kemeja, sepatu, dan arloji mahal, semuanya ia lepas.
Tak lama, Maya kembali memposting video baru.
Kali ini, tentang Jordan yang memesankan tempat pemulihan pasca melahirkan super mahal untuknya.
Caption-nya begitu congkak.
[Gimana dong? Emang dari lahir udah hoki!]
Sore harinya, Jordan akhirnya pulang.
Begitu masuk kamar tidur, dia langsung merasa ada yang berbeda, ruangan tampak agak kosong, dan di sudut muncul sebuah koper besar berwarna pink yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Keningnya langsung berkerut.
“Ada apa dengan rumah ini? Beberapa kemeja yang kau kasih ke aku juga nggak ada. Terus, kau beli koper ini buat apa?”
Wulan menunduk pelan, dan menjawab sekenanya, tanpa ekspresi.
“Kemeja-kemeja itu modelnya udah ketinggalan zaman, jadi aku buang. Belakangan ini kepikiran mau liburan, tapi kayaknya nggak jadi.”
Jordan mengira Wulan sedang ngambek karena tiga hari ini dia tidak punya waktu untuk menemani. Dia pun mengeluarkan sebuah dokumen kontrak pembelian mobil yang sudah lama ia siapkan, kontrak untuk satu unit mobil supercar Lamborghini edisi terbatas.
“Aku memang sibuk kerja beberapa hari ini. Jadi, aku beliin kau satu mobil supercar. Nanti kita ambil bareng, ya.”
Wulan menunduk, menatap kontrak di tangannya.
Berbeda dari kebanyakan wanita, Wulan tidak pernah tergila-gila pada tas-tas mahal. Dia hanya punya satu kelemahan, mobil balap.
Dan Lamborghini ini, adalah model yang baru saja dia incar beberapa waktu lalu.
Jordan memesannya dalam kombinasi hitam dan pink, warna favoritnya. Bahkan kursinya pun didesain khusus dengan gambar karakter kartun favoritnya yaitu Doraemon.
Delapan tahun bersamanya, Jordan memang selalu mengingat setiap detail kecil yang ia sukai.
Kalau saja Wulan tidak mendengar percakapan di depan ruang rawat hari itu, mungkin sekarang dia akan merasa sangat tersentuh.
Namun kini, senyumnya hanya setipis kabut pagi.
“Terima kasih.”
Wulan meletakkan kontrak pembelian mobil di sampingnya, Jordan mengerutkan alis dan menunduk mendekat, meremas lembut pipi putihnya yang halus.
“Kau masih marah, ya? Malam ini ada pesta, aku akan mengajakmu pergi supaya pikiranmu lebih rileks.”
Wulan hendak menolak, tapi Jordan sudah menggenggam tangannya dan turun ke lantai satu.
Bentley baru saja melaju sebentar, tiba-tiba ponsel Jordan berdering, tampak dari panggilan masuk [Maya Imut].
Wulan tidak sempat mendengar jelas, hanya terdengar samar suara, “Kak Jordan, uuu, cepat tolong aku…”
Wajah tampan Jordan menegang, dia menekan layar ponselnya, mencari lokasi real-time Maya dari sebuah aplikasi, lalu dengan cepat memutar arah mobilnya.
“Kita batal dulu ke pesta. Maya diculik, aku harus segera menyelamatkannya.”
Jordan menginjak pedal gas dalam-dalam, menerobos puluhan lampu merah tanpa ragu.
Dua puluh menit kemudian, Jordan memastikan Maya berada di dalam mobil hitam yang ada di depan, dia menyipitkan mata dan menekan pedal gas lebih dalam lagi.
Bam!
Bagian belakang mobil hitam itu langsung penyok parah!
Sementara itu, sisi penumpang Bentley tiba-tiba dihantam keras oleh kelompok penculik yang lain!
Wulan tak sempat menghindar, kepala bagian belakangnya terbentur hingga berdarah!
Darah merah segar mengalir dari kepalanya ke pipi putihnya, sakit yang menusuk seperti ribuan jarum halus menusuk jantungnya, membuatnya nyaris tak mampu bersuara untuk waktu yang lama.
Setelah mengalami benturan keras di kursi penumpang depan, Jordan sama sekali tak melirik Wulan. Matanya tertuju tajam pada Maya yang berada di dalam mobil hitam itu.
Setelah bertabrakan tiga kali berturut-turut, mobil hitam itu terpaksa berhenti. Orang-orang di dalamnya segera melarikan diri ke mobil kelompok mereka.
Jordan mendorong pintu mobil, mengangkat Maya dari kursi belakang dengan pelukan hangat. Untuk pertama kalinya, matanya yang gelap menunjukkan kecemasan.
“Apakah kau ketakutan? Ada bagian tubuh yang terluka?”
Maya meringkuk di dalam pelukan Jordan, menoleh dengan pipi memerah, air matanya berjatuhan bak hujan musim semi.
“Itu musuh bisnis ayahku. Mereka memukulku sekali, tapi tidak apa-apa kok.”
Melihat keadaan itu, hati Jordan terasa seperti dicubit, ia berteriak marah.
“Apa maksudmu tidak apa-apa? Bertahun-tahun ini, meskipun kau di luar negeri, aku selalu memanjakan dan melindungimu. Mana pernah kau menghadapi hal seperti ini? Apalagi ada anak, kalau sampai anakmu kenapa-kenapa bagaimana?”
“Uuu… semuanya karena kau datang terlambat. Aku sangat takut…”
“Jangan takut, itu salahku. Sekarang aku akan membawamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh.”
Jordan meletakkan Maya di kursi belakang Bentley, dan hanya butuh lima menit untuk sampai ke rumah sakit. Sesampainya di sana, ia turun dan langsung menggendong Maya menuju ruang gawat darurat.
Sepanjang perjalanan itu, Jordan sama sekali tidak memperhatikan Wulan yang duduk di kursi penumpang depan. Matanya merah dan darah yang mengalir di kepala membuatnya tampak mengerikan.
Bab 3
Wulan memandang punggung mereka yang menjauh.
Dia menengadahkan kepala, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dengan sakit yang masih terasa, dia memaksakan diri membuka pintu mobil, lalu berjalan terpincang-pincang menuju pintu rumah sakit.
Hujan deras mulai turun di senja hari. Wulan tak mengangkat tangan untuk melindungi dirinya dari hujan, membiarkan air menyentuh dan membasahi luka di tubuhnya.
Perawat di meja pendaftaran terkejut melihat kondisi Wulan. Dengan sigap, dia segera memberikan pertolongan pertama dan membawanya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah satu jam, tubuh Wulan terasa lemas usai pemeriksaan. Baru saat itu dia sempat mengangkat ponselnya.
Layar menampilkan lebih dari sepuluh panggilan tidak terjawab.
Semua dari Jordan.
Tanpa ragu, Wulan langsung mematikan ponselnya.
Mengingat harus menjalani infus hingga larut malam, Wulan meminta perawat untuk membelikannya sebuah kamar rawat.
Dalam keadaan setengah sadar, ingatannya melayang pada masa lalu.
Sejak Jordan mengalami cacat, beberapa acara minum-minum pekerjaan kerap dia hadiri mewakili Jordan.
Suatu kali, saat acara minum itu, dua bos besar dari perusahaan berbeda bertengkar hebat hingga meja mereka terbalik. Semua piring dan gelas pecah berantakan di lantai, dan serpihan keramik melukai pergelangan tangan Wulan.
Jordan buru-buru datang setelah mendengar kabar itu. Di tempat, dia langsung memerintahkan asistennya untuk memutuskan hubungan bisnis dengan kedua perusahaan tersebut, lalu dengan cemas mengantar Wulan ke rumah sakit untuk membersihkan lukanya.
Wulan merasa ini terlalu berlebihan, namun Jordan dengan lembut menenangkannya.
“Wulan, kau adalah wanita paling penting di hatiku. Selain mengandung dan melahirkan anak kita, aku nggak ingin melihat luka apapun di tubuhmu.”
“Seorang wanita harus putih mulus dari ujung kepala sampai ujung kaki, supaya saat memakai pakaian dan perhiasan terlihat cantik.”
Kini, wajahnya penuh darah, sementara Jordan justru acuh pada wanita lain.
Katanya tidak ingin ada luka di tubuhnya, tapi dia malah membiarkan Wulan mengambil risiko mendonorkan sumsum tulang untuk orang lain.
Bahkan soal menikah dan punya anak, dia diam-diam melakukannya dengan orang lain tanpa sepengetahuan Wulan.
Sebelum tidur, Wulan melihat ‘Maya Happy’ membagikan video baru di TikTok.
Video itu menunjukkan Jordan setengah berlutut mencuci kakinya, demi membuatnya tertidur dengan tenang.
Wulan memutar ulang video itu berkali-kali, hanya membuat dada terasa sesak dan sepanjang malam tak bisa terlelap.
Keesokan paginya, Wulan dengan enggan kembali ke rumah.
Begitu masuk vila, wajah wajah pengurus rumah tangga, Paman Arthur, terlihat tidak bersahabat.
“Nyonya, Tuan sedang menunggu Anda di tepi kolam renang. Mood-nya sedang buruk…”
Wulan berjalan menuju kolam renang, dari jauh sudah melihat Jordan sedang menenangkan Maya.
Maya terisak pelan, menangis dengan wajah yang membuat orang iba.
Melihat Wulan akhirnya kembali, kemarahan di wajah Jordan tak bisa disembunyikan lagi, hawa dingin seketika menyelimuti sekitarnya.
“Kau sengaja ya membocorkan keberadaan Maya ke musuh ayahnya?”
Langkah Wulan terhenti sejenak.
Matanya menatap Maya yang duduk santai di sofa, dengan kepala sedikit miring dan tatapan menyipit penuh arti. Bibir merahnya tersungging senyum penuh kemenangan.
Wulan langsung paham maksudnya, lalu mengusap dahi dengan kesal.
“Aku sama sekali nggak tahu siapa musuh ayahnya, lalu kenapa jejaknya bisa sampai bocor?”
Wajah Jordan berubah gelap. Ia mengeluarkan beberapa foto dan melemparkannya di hadapan Wulan.
“Kau jelaskan dong, foto-foto ini. Kau dan musuh Maya sedang ketemuan, ini gimana?”
Wulan menunduk dan sekilas melirik foto-foto itu di atas meja, wajahnya mendadak dingin.
Foto-foto itu diambil beberapa hari lalu saat dia sedang menjual barang-barang mewah bekas, bertemu dengan pembeli di sebuah kafe.
Nggak heran pria itu terlihat sangat mudah diajak deal dan nggak nawar, hanya minta ketemuan di kafe.
Melihat Wulan diam saja, Jordan mengira dia sudah menerima tuduhan itu. Wajah tampannya jadi sangat suram, bikin takut.
“Aku sudah bilang kan, meskipun gosip dan fitnah soal aku dan Maya beredar di luar sana, aku sama dia benar-benar nggak ada apa-apa. Aku anggap dia seperti adik sendiri, dia memang baik banget.
Dan kau? Kita sudah bersama delapan tahun. Bagaimana aku memperlakukanmu selama itu, kau pasti tahu sendiri, kan?”
“Apalagi, beberapa hari lalu aku bahkan sudah melamarmu, tapi kau malah terus menyakitinya, memperlakukannya dengan sulit seperti itu, apa itu masuk akal?”
Mendengar kata-katanya, hati Wulan terasa seperti ditusuk jarum tajam.
Selama delapan tahun mereka bersama, satu tahun di antaranya Jordan sengaja mendekatinya demi membalas dendam untuk Maya, dan lima tahun berikutnya dia lumpuh, sementara Wulan yang merawatnya.
Di lima tahun ketika dia lumpuh itu, Jordan pernah murung, pernah runtuh, bahkan menangis tersedu-sedu di tengah malam.
Semua itu terjadi karena dulu dia nekat balapan motor demi memuaskan kesombongan Maya.
Tapi semua rasa sakit yang berawal dari Maya itu, sekarang sudah dia lupakan sepenuhnya.
Selama lima tahun itu, demi kesembuhan Jordan, Wulan diam-diam mendaftarkan dirinya ke kursus rehabilitasi, setiap hari memijat dan mengurut kakinya, tak pernah absen sekali pun.
Saat Jordan sering murung, Wulan sampai belajar dari psikolog terbaik di Linkin bagaimana menenangkan pasien yang mengalami cacat.
Namun semua pengorbanan yang sudah dia berikan itu, tak ada satu pun yang diingat oleh Jordan.
Sungguh menyakitkan dan ironis.
Sebenarnya Wulan sangat ingin bertanya, kalau dia cuma menganggap Maya seperti adik, kenapa sekarang dia malah menemani ‘adik’ itu menjalani prosedur bayi tabung?
“Ya, selama delapan tahun ini, bagaimana kau memperlakukanku, bagaimana kau memperlakukannya, baru beberapa hari ini aku benar-benar mengerti.”
Wajah Jordan sedikit mengeras.
“kau sebenarnya sedang buat masalah apa sih?”
Wulan tak ingin berdebat lebih jauh. Dia menunjuk perban yang melilit kepalanya, lalu tersenyum sinis.
“Kemarin dia diculik, kepalaku juga terluka, dijahit lima jahitan. Apa aku sebodoh itu sampai harus menyakiti diri sendiri hanya demi menyakitinya?”
Meski Wulan sudah menegaskan kalau dirinya juga terluka, Jordan tetap tidak mempercayainya karena pikirannya sudah penuh oleh Maya.
Wulan menatap garis rahang pria itu yang tegang dan kaku, lalu merasa lega karena tiga hari lagi dia akan pergi jauh.
“Jordan, kalau kau sudah yakin ini semua gara-gara aku, bilang saja, bagaimana kau mau menyelesaikannya?”