Bab 1

Suasana hatiku sangat buruk akhir-akhir ini. Temanku menyarankan agar aku menemui dokter pengobatan tradisional.

Namun, aku sama sekali tidak berani melakukannya, karena aku memiliki kecanduan dalam urusan seks. Aku mendengar bahwa dokter pengobatan tradisional bisa mengetahui hal semacam ini ….

Hanya saja, kesehatanku makin memburuk, jadi aku harus pergi ke sana sendiri.

Cara dokter pengobatan tradisional itu memandangku benar-benar berubah.

"Kamu sudah sangat ingin disetubuhi, 'kan?" Dokter pengobatan tradisional itu membaringkanku di atas meja periksa.

Dengan satu tangan, dia merobek celana dalamku yang basah ….

Namaku Christy Siswono, seorang mahasiswi di tahun kedua. Aku dikenal sebagai salah satu gadis tercantik yang lembut di jurusanku.

Ada banyak orang yang menyukaiku.

Setiap kali aku pergi berkencan, aku selalu merasa tergelitik ketika seorang pria menyentuhku.

Namun, tidak ada satu pun dari pria-pria ini yang bisa memuaskanku. Aku belum pernah merasakan kepuasan tertinggi.

Para pria itu hanya akan menaikkan celana mereka, lalu tertidur di samping.

Jadi, aku harus memuaskan diriku dengan tanganku sendiri.

Namun, itu tidak cukup. Aku tidak cukup puas ….

Seandainya saja ada dua ... atau yang sedikit lebih besar.

Makin aku memikirkannya, aku merasa makin panas. Di balik selimut, keinginanku untuk mendekat dan duduk di atas pacarku pun makin kuat.

Pacarku mendorongku dengan bingung. "Sayang, aku lelah."

Dia memunggungiku, lalu tertidur lelap.

Aku segera mengemasi barang-barangku, memutuskan hubungan dengannya, lalu pulang ke rumah.

Tanpa ada seorang pun yang menghiburku, aku malah makin lapar.

Semua pria di sekolah mengira aku adalah bunga di ujung bukit. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekatiku, lalu meniduriku secara langsung.

Ketika temanku melihatku bersedih, dia menyarankan agar aku menemui seorang dokter pengobatan tradisional.

"Pengobatannya sangat akurat. Dia bahkan bisa mengatakan apa yang kamu makan tadi malam."

Aku menelan ludah.

Jika dia bisa mengetahui kalau aku memuaskan diri sendiri setiap malam ….

"Nggak, terima kasih," kataku.

Larut malam, tubuhku bereaksi begitu kuat. Meskipun tanganku terus bergerak, benda silikon besar itu tetap terasa tidak pas, tidak mampu mengisi kekosongan yang aku rasakan.

Tokoh utama dalam film di sebelahku sudah memulai ronde berikutnya. Karena merasa tidak puas, aku pun bergegas menyelesaikannya.

Setelah memikirkannya, aku menghubungi nomor dokter pengobatan tradisional yang direkomendasikan oleh temanku.

"Halo, jam berapa aku bisa membuat janji temu untuk besok?" Aku menimbang-nimbang kata-kataku dengan hati-hati. Kemudian, dokter pengobatan tradisional itu menjawab dengan cepat.

"Sekarang sedang kosong, silakan datang."

Aku melirik jam, pukul 21.10.

Sudah cukup larut.

Meskipun di dalam batin imajinasiku begitu berani dan panas, di mata dunia luar aku hanyalah seorang gadis lembut yang manis dan penurut.

Terlebih lagi, lampu di asrama akan dipadamkan pada pukul 22.00, jadi aku mungkin tidak akan bisa kembali tepat waktu jika pergi ke sana sekarang.

Aku secara tidak sengaja membuka status WhatsApp dokter pengobatan tradisional itu. Ternyata yang aku lihat adalah sebuah foto otot perut.

Di bawah cahaya redup, kulit pria itu tampak kencang. Meskipun tidak bisa melihat dengan jelas tubuhnya, ototnya yang kuat, serta garis yang halus di bagian atas tubuh pria itu bisa tampak.

Tiba-tiba aku berpikir, jika aku bisa menjadikannya sebagai pacarku … bukankah semuanya akan berbeda? Dia terlihat cukup bisa diandalkan, jadi pasti ahli dalam melakukan itu.

Aku menelan ludah. Tiba-tiba, bagian dalam diriku yang selama ini hampa mulai merasakan sesuatu ....

Setelah mandi, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 ketika aku datang ke lokasi klinik pengobatan tradisional.

Hanya ada satu dua lampu yang menyala di klinik pengobatan tradisional. Tidak banyak orang di sana.

Sebelum aku bisa berbicara, seorang pria muda yang mengenakan masker berjalan keluar.

"Christy Siswono?" Ketika pria itu melihatku, dia mengangguk sambil menyingsingkan lengan jas putihnya.

"Duduklah. Lepaskan jaketmu, aku akan memeriksa denyut nadimu terlebih dulu."

Aku tak bisa berhenti melihat urat nadi di kulit itu. Aku berpikir tentang betapa nikmatnya jika disetubuhi oleh pemilik tangan seperti itu.

Ketika aku kembali sadar, dokter pengobatan tradisional itu sedang mengukur denyut nadiku. Aku segera menekan fantasi yang tidak realistis di kepalaku.

Pria itu sesekali melirik ke arahku.

"Energi lemah, hati penuh dengan hawa panas. Apakah kamu sering begadang?"

Perasaanku makin tak tenang. Rasa hangat dan lembap mulai menyebar di balik rokku. Di bawah meja, jemariku tanpa sadar menekan ringan beberapa kali. "Sejauh ini baik-baik saja."

Dokter pengobatan tradisional pria itu mengangkat alisnya. Tangannya menekan lenganku dengan cara yang tidak terlalu lembut. "Katakan yang sebenarnya."

Aku menundukkan kepalaku, hatiku menegang. Namun, perasaan yang menyesakkan ini makin membuat hasratku meningkat.

Tiba-tiba, aku mendengarnya berkata, "Penuh dengan hasrat."

Sebelum aku bisa bereaksi, dia tiba-tiba memegang tanganku.

Mata tajamnya menyapu dengan kegelapan dan hasrat yang tidak disembunyikan. "Sebenarnya kamu ingin aku melakukan ini sejak lama, 'kan? Dasar wanita penuh hasrat pembohong, apa kamu pikir aku nggak tahu? Kamu sudah melakukannya sekali sebelum kamu datang ke sini. Sekarang kamu berani menyentuh dirimu sendiri di depanku."

Bab 2

"Kamu …. Omong kosong apa yang kamu katakan?" Aku tidak berani mengakuinya, langsung bangkit untuk berlari.

Dokter pengobatan tradisional itu melangkah maju, mengunci pintu di depanku, menghalangi jalanku. Aku menabrak otot-ototnya yang berkembang dengan baik. Aku melangkah mundur beberapa langkah, dipaksa untuk duduk di atas meja.

"Temanmu sudah lama mengatakan padaku kalau kamu hanya wanita yang penuh nafsu. Tubuhmu memang bagus, tapi kamu kurang jujur. Sekarang, biarkan aku mengajarimu untuk lebih jujur."

Tatapannya membakar setiap bagian tubuhku, seperti api yang berkobar.

"Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan." Bagian bawahku sudah basah kuyup, tetapi aku tidak ingin terlihat terlalu mudah ditaklukkan.

Aku hanya ingin pelampiasan, tetapi tidak ingin tampak murahan.

"Masih saja keras kepala." Tangan besar pria itu memegang pinggulku, benda yang menggembung di depan tubuhnya menekan perutku. "Apa kamu menginginkannya?"

Dia melepaskan maskernya. Di wajah yang tampan dan dingin itu, ada kilatan api samar di matanya, tetapi kata-katanya sangat lugas.

"Di mana titik sensitifnya? Di sini?" Dia mengusap pinggangku, sementara aku langsung merasa lemas.

Tubuhku terkulai di atas meja, tiap gesekan terasa begitu nyata. Jari-jarinya yang kasar karena kapalan dengan mudah membuka kancing, lalu merayap masuk untuk menyentuh tempat-tempat yang membuatku gemetaran.

Sentuhan samarnya seolah tak disengaja pada lekuk tubuhku yang lembut. Ujian seperti ini terlalu menggoda, begitu menggairahkan.

Aku memohon, "Nggak, kumohon …."

"Apa kamu memohon agar aku menidurimu lebih cepat?" cibirnya.

Pada saat ini, terdengar ketukan dari pintu depan, lalu seseorang di luar pintu berteriak, "Pak Anton, apakah kamu di sana?"

Wajah Anton tetap tenang. Dia bahkan bergerak lebih dekat padaku. Dia menatap mataku yang panik sambil tersenyum. "Ya."

Aku merasa panik. "Jangan biarkan dia masuk!"

Bagian bawah tubuhku sudah basah kuyup. Ada beberapa noda air yang samar di pakaianku.

Anton mendorongku ke bawah meja pemeriksaan. Dia membuka pintu, lalu duduk lagi untuk bertanya kepada pasien yang masuk, "Apa kamu sedang nggak enak badan?"

Aku menutup mulut sambil meringkuk di bawah meja pemeriksaan. Aku hanya bisa melihat sepatu kulit dan kaki jenjang pria itu.

Pasien itu berbicara begitu banyak sehingga aku tidak berani bernapas. Namun, Anton membuka diri kepadaku saat dia dengan tenang menjawab.

Pria itu membuka ikat pinggangnya dengan satu tangan. Apa yang ada di balik jas putihnya hampir tidak bisa digambarkan.

Itu seperti cambuk keledai!

Napasku terengah-engah, darahku langsung menjadi panas.

Jika dimasukkan ke dalam mulut ….

Anton membelai berputar-putar dengan satu tangan melalui kain celana dalamnya. Aku menelan ludahku, mataku menatapnya tanpa berkedip.

Aku tidak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangan ke bagian bawahku, meniru mengikuti gerakan cepat Anton. Rasanya begitu nikmat hingga aku menutup mulutku, terkesiap dengan suara rendah.

"Suara apa itu?" tanya pasien itu.

Jantungku berdegup kencang. Aku merasa bersemangat sekaligus takut.

Mataku melirik ke arah Anton yang tidak terpengaruh sedikit pun. Sebaliknya, tangannya mempercepat gerakannya, nadanya terdengar tenang, "Fasilitas kedap suara di sini nggak bagus. Ada tempat jajan di dekat sini."

Tak kusangka, dia benar-benar mengeluarkannya.

Yang muncul lebih besar dan lebih tebal. Mataku tidak bisa berpaling.

Tidak berlebihan jika aku mengatakan bahwa mantan pacarku tidak bisa dibandingkan dengannya.

Dalam sekejap, tenggorokanku terasa kering. Seakan tak bisa mengendalikan diri, aku merangkak maju, sementara pinggulku terangkat tanpa sadar. Kedua kakiku bergesekan, gatal oleh dorongan yang sulit dijelaskan. Sepertinya tubuhku ini tahu apa yang diinginkannya.

Namun, aku tidak peduli dengan semua itu. Yang bisa aku lihat hanyalah benda besar milik Anton.

Itu pasti bisa membuatku kenyang, bisa membuatku merasa puas ….

Merasakan aku yang mendekat, Anton menundukkan pandangan sedikit. Dia menatapku dengan pandangan yang lebih nakal, lalu mengalihkan tangannya ke mulutku.

Sentuhan itu terus mempermainkanku, hingga napasku tercekat dan air liur pun jatuh perlahan ….

"Aku mengerti situasinya. Datanglah besok untuk mengambil obatnya. Jangan begadang malam ini." Anton menulis daftar obat dengan satu tangan.

"Astaga, sekarang sudah jam 10. Terima kasih, Pak Anton. Kamu juga istirahatlah lebih awal."

Begitu orang itu pergi, Anton langsung menekan kepalaku ke bawah.

Bab 3

Tubuhku dipaksa bergerak naik turun, diliputi rasa tak nyaman yang bercampur kenikmatan. Seperti semut yang gelisah di atas wajan panas, begitu tak sabar, tetapi juga terjebak dalam kenikmatan yang menggoda.

Di detik berikutnya, karena tak mampu menahan diri, dia mengangkat tubuhku. Ciumannya mendarat tanpa ragu. Dalam waktu bersamaan, rokku terasa basah oleh gairah yang tak tertahan.

Tubuhku terbaring di atas meja tempat pemeriksaan barusan, sementara pintu belum ditutup rapat. Dengan napas tertahan dan hati berdebar, aku berbisik gugup, "Pintunya ... belum ditutup .... Nanti ada yang lihat ...."

Tangannya berada di pinggangku, membuat tubuh bagian bawahku menegang. Yang mengejutkan, aku mencapai kenikmatan ….

Anton berkomentar, "Nafsumu cukup besar."

"Bukankah bagus kalau ada yang melihatnya? Apa kamu nggak ingin orang melihatnya?" Dia menggulingkanku. Pakaianku bergesekan saat bagian sensitifku digosokkan ke meja yang dingin. Dia tidak memasukiku, tetapi aku merasa lebih bersemangat daripada jika dia melakukannya.

Tongkat panas itu makin panas seperti korek api, aksi Anton juga makin ganas, seolah-olah dia sudah dipasangi motor yang tidak bisa dihentikan.

Bokongku ditampar beberapa kali, sementara aku hanya bisa berteriak, "Pelan … pelan …."

Tanggapannya adalah tabrakan yang lebih hebat.

Meskipun aku tidak sampai pada langkah terakhir, aku tiba-tiba merasa sangat puas.

Aku berpikir bahwa semua pria sebelumnya tidak seperti Anton. Aku tidak sabar untuk segera menghapus semuanya, sekumpulan sampah yang tidak berguna itu.

Saat itu sudah melewati jam malam asrama, jadi Anton membawaku kembali ke rumahnya. Namun, dia tidak tidur di sini, sebaliknya dia memesan kamar hotel di dekatnya.

Sebelum pergi, dia memberitahuku kode sandi pintunya.

"Aku akan mengirimimu pesan dalam beberapa hari ke depan. Lakukan apa yang aku katakan kalau kamu ingin sembuh."

Setelah itu, dia menjelaskan kepadaku bahwa dia akan menyembuhkanku.

Aku tahu bahwa tidak wajar bagiku untuk menjadi begitu terangsang. Namun, aku tidak memiliki banyak masalah dengan teknik penyembuhan khususnya.

Intinya, cara ini sungguh hebat.

Jadi, aku pun mengangguk setuju.

Mungkin penampilanku yang polos dan lembut itu membuatku tampak patuh. Dia menatapku sekilas, lalu menjatuhkan ciuman di keningku. "Selamat malam."

Bagian bawahku basah lagi.

Aku buru-buru menutup pintu.

Keesokan harinya, teman baikku adalah orang pertama yang meneleponku. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun untuk menegurnya, dia sudah lebih dulu menjelaskan padaku bahwa meski temperamen Anton tidak terlalu baik, tetapi kemampuan medisnya sangat baik.

"Dia memang hanya menerima pasien dengan kasus sulit, jadi itulah alasan aku berkata begitu padamu." Temanku tumbuh bersamaku dan tidak pernah menyakitiku.

Setelah memikirkan hal ini, aku mengangguk. "Kemampuan medisnya memang sangat bagus. Pengobatan terakhir sangat efektif."

Aku begitu lelah sampai aku tidak bermimpi semalam.

Saat Anton mengirimkan pesan, aku menutup telepon.

Dia bertanya apakah aku sudah bangun.

Aku: [Aku sedang bersiap-siap untuk mandi. Nanti aku akan kembali ke sekolah.]

Anton: [Apa yang kamu kenakan hari ini?]

Aku: [Baju yang sama seperti kemarin. Aku nggak membawa baju baru.]

Beberapa detik kemudian, Anton membalas: [Ada pakaian baru yang diletakkan di depan pintu. Pakailah, lalu berfotolah untukku.]

Aku membuka pintu. Benar saja, memang ada sebuah kotak di sana.

Ada satu set pakaian lengkap, termasuk bra. Semuanya masih baru serta pas dibadanku. Namun, pakaian ini agak ketat, serta berbeda dengan gaya rok longgar yang biasa aku pakai.

Yang lebih penting … tidak ada celana dalam.

Anton menjawab: [Pengobatan telah dimulai. Langkah pertama hari ini adalah nggak memakai celana dalam.]

Bagian pribadiku sangat jelas terlihat pada bahan pakaian yang tipis ini. Aku merasa sedikit malu. Anton sepertinya tahu apa yang aku pikirkan. Dia mengirimkan foto padaku.

Tangan yang berotot tampak ternoda oleh cairan. Hanya dengan melihat benda di tangannya itu, aku langsung teringat akan sensasi asing di antara kedua kakiku tadi malam.

Tanpa sadar aku hendak menggerakkan tangan ke bagian bawahku ketika pria itu mengirimkan pesan lainnya: [Jangan menyentuh dirimu sendiri.]

Aku merasa makin sulit untuk menolak. Namun, memikirkan bahwa ini adalah untuk pengobatan, aku menahannya.

Meskipun kain yang aku pakai tampak ringan dan lembut, aku tidak bisa tidak memikirkan bahwa bentuk tubuhku akan tampak menonjol. Setiap kali membungkuk sedikit atau duduk di tempat umum, rasanya tatapan orang-orang akan langsung mengarah padaku.

Pada siang hari, Anton mengirim pesan: [Lepaskan pakaian dalammu, lalu ambil foto untukku.]

Pada saat yang sama, pria itu juga mengirimkan foto telanjangnya setelah berolahraga.

Aku berlari ke kamar kecil wanita, lalu memotret kain yang basah kuyup dengan hati-hati.

[Bagaimana kalau aku nggak bisa memakainya lagi?]

Anton mengirimkan pesan suara balasan.

Aku mendekatkan speaker di telingaku, lalu menyalakannya dengan volume serendah mungkin.

Pria itu berbisik menggoda, "Jangan dipakai, Sayang."

Aku merasakan diriku menjadi makin basah.

Dia seperti membisikkan hal ini di telingaku, tidak mungkin untuk aku melupakannya.

Celah itu membuatku tanpa sadar merapatkan kedua kakiku saat berjalan. Aku segera pergi ke toilet untuk menyeka noda basah segera setelah aku merasakannya. Aku tidak akan pernah berdiri jika aku bisa duduk.

Setelah seharian penuh disiksa, perhatianku benar-benar beralih dari tonjolan di bagian bawah ke komentar Anton bahwa dia akan menjemputku.

Aku menunggu kelas berakhir dari pukul 16.45, lima belas menit terasa seperti satu abad. Aku tidak tahu berapa kali aku menelan ludah saat pikiranku terus kembali ke benda tebal dan lengan Anton yang kuat.

Begitu bel akhir kelas berbunyi, aku berjalan keluar dari kelas bersama orang-orang.

Begitu naik ke mobil, pandangan Anton melihat tonjolan itu dengan mata terbelalak. Aku tanpa sadar menghalanginya. Dia berkata, "Ini sangat cantik, nggak boleh menghalanginya."

Aku hanya bisa meletakkan kembali tanganku. Sabuk pengaman mengikat tubuhku yang menawan, membuat lekukannya lebih jelas lagi. Aku melihat jakun Anton bergerak.

Mobil melaju ke garasi bawah tanah. Dia berbalik dan menggigit bibirku, sementara bagian bawahku langsung basah kuyup ….

Dia menggigit tonjolan itu dengan penuh ejekan, sementara tangannya menjelajahi ke bawah ….

Di dalam mobil yang sempit, tubuhku berada dalam pelukannya. Jemarinya menyusuri setiap sudut tubuhku dengan lembut, lalu dia berbisik, "Apa yang kamu rasakan sekarang?"

"Rasanya ... gatal. Aku nggak bisa menahannya, aku ingin …."

Aku begitu gelisah sampai air mataku keluar. Aku menarik-narik bajunya dengan sembarangan.

Anton mencubit pantatku, mendorongnya ke atas, sementara aku langsung berteriak ….

Jendela mobil menampilkan penampilanku yang tertekan, dengan tubuh bergetar tanpa henti. Anton mengeluarkan benda lain, tidak setebal miliknya, tetapi sangat panjang.

Dia membukanya di depan wajahku, perlahan-lahan memasukkannya. Pada saat ini, suara langkah kaki tiba-tiba datang dari luar mobil.

"Berhati-hatilah. Bagaimana kalau ada yang datang?"

Suara ini ….

Ternyata itu adalah temanku Winda Wiryo!

Di luar jendela mobil, Winda tampak dipeluk oleh seorang pria, tetapi tangan pria itu tampak berkeliaran. Winda terprovokasi oleh nafsu, sementara pria itu membenamkan kepalanya ke tubuh Winda.

Mereka bersandar dengan keras ke mobil Anton!

Anton mendorong masuk dengan tiba-tiba hingga aku hampir berteriak. "Apa ini bisa mengalihkan perhatianmu? Kenapa? Apa ini nggak memuaskanmu, wanita penuh nafsu?" tanya Anton.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B92413" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B92413
Salin

Astaga, Gairahku Diketahuinya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya