Bab 1
Perempuan yang dicintai suamiku terjebak di dalam mobil selama satu jam.
Usai berhasil diselamatkan, suamiku memasukkanku ke dalam peti kayu dan memaku peti kayu itu hingga aku mati di dalamnya!
"Kamu harus merasakan penderitaan yang dia rasakan seratus kali lipat lebih menyakitkan!"
Aku memohon belas kasihan dan berteriak untuk menjelaskan dengan putus asa, tapi dia mengabaikannya.
Dan malah berkata dengan kejam, "Tetaplah di dalam sana dan introspeksi dirimu sendiri sebelum keluar!"
Aku meringkuk di dalam peti kayu dengan kondisi patah tulang dan tubuh penuh luka, ada banyak darah di lantai.
Seminggu kemudian, dia serta wanita pujaan hatinya baru kembali dari liburan dan hendak melepaskanku.
Namun, aku sudah lama mati di dalam peti kayu itu. Aku sudah menjadi mayat dingin tidak bernyawa.
Cuaca sangat dingin, tapi bau busuk mayat tetap tercium di dalam ruangan ini.
Aku sudah mati selama seminggu ketika pintu ruangan ini akhirnya terbuka.
Aroma mayat yang menyengat langsung membuat langkah kaki Elina terhenti.
Dia menutup hidungnya dengan jijik, "Kenapa ada bau busuk begini?"
Diego yang sedang mabuk berat terlihat tengah memeluknya dengan sangat erat.
"Hari ini hari ulang tahunmu, aku akan membuat Sherina Madya si wanita jalang itu minta maaf padamu di depan orang-orang!"
Elina tentu senang mendengarnya, tapi bibirnya memilih mengatakan sesuatu yang lebih lembut.
"Nggak perlu, Kak Diego. Kak Sherina pasti nggak sengaja mengunciku di mobil."
"Dia pasti lupa mengeluarkanku, makanya hal itu bisa sampai terjadi."
"Bukankah sekarang aku baik-baik saja? Jangan sampai hubungan kalian jadi rusak gara-gara aku."
Sorot mata Diego terlihat marah, "Dia pasti sengaja melakukannya! Dia iri karena kamu mendapat perhatianku!"
"Kalau saja aku nggak menyadarinya tepat waktu, kamu mungkin sudah kehilangan nyawamu!"
"Jadi, kamu jangan membelanya. Aku nggak akan mengasihaninya!"
Elina menutup mulutnya, dia seperti mau muntah.
Bau busuk di dalam ruangan ini terlalu menyengat. Baru berdiri di depan pintu saja sampai tidak tahan dengan baunya.
"Kalau begitu, terserah kamu saja. Beri dia pelajaran secukupnya."
"Aku akan kembali ke aula dulu. Bicarakan masalah ini baik-baik dengan Kak Sherina."
Elina langsung berlari pergi usai berkata demikian.
Diego berteriak dari belakangnya, "Tunggu saja, aku akan menyeretnya ke sana agar minta maaf padamu!"
Aku tertawa dingin, rohku yang sudah berhari-hari terperangkap di dalam peti kayu itu akhirnya melesat keluar.
Aku melayang terbang ke sampingnya.
Aku sudah mati, lantas apakah dia mau menyeret jasadku agar minta maaf pada Elina?
Dia mencungkil paku-paku pada peti kayu itu, tapi terlalu malas untuk membuka peti kayunya dan melihat kondisiku.
Dia malah menendang peti kayu itu dengan keras!
"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
"Kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu, cepat keluar dan minta maaf pada Elina!"
"Kuberi waktu setengah jam untuk siap-siap dan membersihkan bau busuk itu dari tubuhmu!"
"Kalau sampai kamu telat, kamu akan terus berada di dalam sana! Akan kupaku lagi peti itu!"
Setelah berkata seperti barusan, dia akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
Dia kembali pergi untuk bersenang-senang dengan wanita pujaannya.
Setengah jam kemudian, Elina memonyongkan bibir dan merajuk pada Diego.
"Kenapa Kak Sherina nggak datang-datang?"
"Apa dia masih marah pada kita?"
"Hari ini kan ulang tahunku, aku harap Kak Sherina mau mengucapkan selamat ulang tahun padaku!"
Diego melihat jam tangannya, emosinya langsung tersulut.
Dia lalu menyuruh asisten di sampingnya, "Cepat pergi periksa keadaan wanita jalang itu!"
Asisten itu mengangguk dan segera berlari ke ruangan bawah tanah.
Dia membuka tutup peti kayu dan melihat kondisiku yang sudah sangat mengenaskan.
Dia sontak kaget saat itu.
Dia lalu berlari kembali ke aula dengan wajah yang sangat ketakutan.
Diego terlihat tidak sabar.
"Ada apa? Apa jalang itu masih berlagak sombong?"
"Bukankah ini sama saja dengan membuang-buang waktu Elina?"
Asisten itu terlihat ketakutan saat mau angkat bicara, apalagi setelah melihat apa yang barusan dia lihat.
"P-Pak Diego, Nyonya terlihat sudah nggak bernyawa lagi."
"Ruangan itu sudah penuh dengan bau busuk mayat, mayat Nyonya mulai membusuk ...."
Kata-kata barusan tentu saja membuat semua orang yang ada di sana kaget!
Malam ini adalah ulang tahun Elina, dan Diego mengundang teman-temannya ke rumah untuk merayakannya.
Elina sudah seperti nyonya rumah di sini.
Sementara aku, aku mati lemas di ruangan bawah tanah.
Elina menyadari ada yang tidak beres, dan buru-buru menjelaskan.
"Asisten ini sedang mabuk, dia cuma bercanda dan menakut-nakuti kalian saja."
"Tapi candaannya itu benar-benar nggak lucu!"
Orang-orang masih ragu setelah mendengar penjelasannya.
Wajah asisten itu terlihat sangat pucat, keringat dingin membasahi keningnya. Ketakutannya terlihat sangat nyata dan tidak seperti sedang akting.
Diego merasa aku telah merusak suasana di perayaan ulang tahun Elina.
Dia pun langsung marah!
"Mana mungkin wanita pencemburu itu mati begitu saja?"
"Dia benar-benar beruntung, padahal dia saja tidak mati saat kecelakaan mobil kemarin."
"Dia sampai rela minum air kencing dan darahnya sendiri demi bisa bertahan hidup."
"Aku cuma mengurungnya beberapa hari, dia mungkin hanya sedang menggunakan trik lamanya, yakni memakan segala sesuatu yang bisa dia dapatkan."
"Makanya wajar kalau di ruangan bawah tanah itu jadi bau busuk!"
Asisten itu lalu mengusulkan dengan hati-hati, "Pak Diego, sebaiknya Bapak langsung memeriksanya sendiri."
Bab 2
"Oke, aku akan ke sana. Aku mau lihat tipuan macam apa lagi yang dia perbuat kali ini!"
Diego berbalik kesal dan kembali ke ruang bawah tanah.
Aku melayang di belakangnya, lalu mengikuti setiap langkahnya.
Ketika kembali ke ruangan yang gelap dan lembap itu, hawa dingin langsung menyusup ke tulangku.
Sekarang aku memang sudah menjadi roh gentayangan, tapi dikurung di sini tetap meninggalkan trauma dalam jiwaku.
Kedua mata Diego setengah terpejam sambil menutup hidung dengan jijik karena bau busuk menyengat dari mayat.
Dia lalu menendang peti kayu itu beberapa kali sambil marah-marah.
"Sherina! Cepat keluar! Kamu mau main-main denganku?"
"Aku nggak akan membiarkanmu lolos kalau sampai merusak acara Elina!"
"Kuhitung sampai tiga, kalau kamu tetap nggak mau keluar, jangan salahkan aku kalau hukumanmu kutambah!"
Aku tertawa getir.
"Diego, aku ini sudah mati. Hukuman apa lagi yang mau kamu berikan padaku?"
"Apa kamu akan menyeret mayatku keluar dan mencambuki ragaku demi menyenangkan Elina?"
Tawa getir dan teriakanku tentu saja tidak akan mampu didengar oleh Diego sama sekali.
Dia malah mulai menghitung, "Satu ... dua ... tiga!"
Tentu saja tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam peti kayu itu. Bahkan darahku dari tujuh hari lalu juga sudah mengering.
Diego jelas naik pitam.
Dia berteriak keras, "Sherina, beraninya kamu mengabaikanku! Kali ini habislah kamu!"
Dia sudah kehilangan kesabaran setelah berkata demikian.
Dan hendak membuka paksa tutup peti kayu tersebut.
Tapi tiba-tiba Elina datang.
"Kak Diego!"
Diego segera menghentikan gerakannya begitu mendengar teriakan Elina.
"Kenapa kamu malah ke sini, Elina?"
Diego segera merangkul pinggangnya sambil menariknya ke dekat pintu.
"Wanita jalang itu pasti kotor dan bau, aku takut dia akan mengotorimu juga."
Elina terlihat sangat pengertian, dan seolah-olah tidak ambil pusing denganku.
"Kak Diego ini terlalu kejam, makanya Kak Sherina jadi nggak mau bertemu."
"Begini saja, Kakak kembali saja ke pesta dan sambut para tamu. Biar aku yang bicara sebentar dengan Kak Sherina."
Tapi Diego mencemaskannya, "Jangan! Bagaimana kalau wanita pencemburu itu nanti mengganggumu lagi?"
"Aku nggak mau kejadian terakhir kali terulang lagi!"
Elina melambaikan tangannya, "Hal itu nggak akan terjadi lagi. Kak Sherina sudah lama merenung, dia pasti sudah tahu kesalahannya."
Diego tidak bisa menentang keinginan Elina, dan akhirnya terpaksa menurutinya.
Sebelum pergi, Diego masih sempat memperingatkanku, "Sherina, kalau sampai kamu masih berani menyakiti Elina lagi, aku akan menghabisimu dengan cara yang mengerikan!"
Aku tertawa sinis, dia pikir sekarang aku mati dengan cara yang baik?
Setelah Diego pergi, Elina membuka peti kayu sambil menutup hidung.
Dia sontak kaget saat melihat kondisi tubuhku yang sudah mengenaskan.
Dia bahkan sampai mundur beberapa langkah.
Namun, tidak lama kemudian dia kembali tenang dan segera menelepon.
Tidak perlu menunggu lama, ada dua orang berpakaian serba hitam yang datang mendekat.
"Bawa mayat ini keluar lewat pintu belakang, lalu kubur!"
Elina memberikan perintah dengan tegas.
Aku panik mendengarnya.
Wanita ini ternyata mau menguburkan mayatku!
Kalau sampai itu terjadi, aku akan kehilangan kesempatan untuk membersihkan nama baikku dan juga membalaskan dendamku!
Aku berteriak sekuat tenaga, tapi semuanya sia-sia.
Mereka sama sekali tidak mendengar suaraku. Mereka sama sekali tidak bisa merasakan rohku yang menembus raga mereka.
Karena itulah, kini aku hanya bisa pasrah menyaksikan mereka mengangkat mayatku dan membawanya keluar.
Pintu belakang ruang bawah tanah ini langsung mengarah ke taman di belakang vila.
Aku sangat tahu tempat ini karena ini adalah rumah lama keluargaku.
Orang tuaku dulu tinggal di vila tua ini semasa hidup mereka.
Aku tidak sanggup meninggalkan tempat ini setelah kepergian mereka.
Diego akhirnya rela ikut tinggal di vila ini demi menemaniku.
Tapi siapa sangka, sejak saat itu aku justru mengundang bahaya ke dalam rumah?
Elina sudah lama mengincar rumah mewah ini. Dia sering datang dan tahu betul seluk beluk tempat ini.
Dia memberi perintah pada dua orang berpakaian hitam itu, "Cari tempat untuk menguburkannya!"
Aku menjerit dengan penuh penderitaan, "Jangan!"
Bab 3
Elina tentu saja tidak tahu reaksiku barusan. Dia tidak bisa mendengar jeritanku, bahkan tidak dapat melihatku.
Ketiga orang itu segera mencari tempat untuk mengubur jasadku di taman belakang.
Elina menunjuk sebuah pohon besar, "Kuburkan saja di bawah pohon itu, ayo cepat!"
Dalam waktu singkat, kedua orang berpakaian hitam itu mengeluarkan sekop dan menggali lubang.
Aku marah dan tidak terima!
Mereka bahkan sudah menyiapkan sekop, dan datang dengan persiapan yang matang.
Bagaimana kalau aku ternyata belum mati?
Apakah Elina yang kejam ini akan tetap menguburku hidup-hidup?
Tidak butuh waktu setengah jam, liang lahat untuk menguburku sudah siap.
Mereka pun melemparkanku ke dalam liang lahat, dan hendak menimbunnya lagi dengan tanah.
Tapi tiba-tiba asisten Diego datang dengan tergesa.
Dia terdiam sejenak saat melihat pemandangan yang mengejutkan di depannya.
"Sedang apa kalian?"
"Pak Diego pasti marah kalau sampai tahu!"
Elina sama sekali tidak memedulikan peringatannya.
"Dia sudah mati, aku melakukan semua ini juga supaya Diego nggak kena masalah."
"Apa kamu mau menyuruh Diego menyerahkan diri?"
"Kalau sampai Diego masuk penjara, kamu juga akan tamat!"
"Kamu kan juga terlibat dalam masalah ini, memangnya kamu bisa menjelaskan semuanya?"
Asisten itu panik dan melihat kedua tangannya sendiri, tubuhnya sudah gemetaran.
Dia berusaha menjauh agar tidak dikaitkan dalam masalah ini.
"Itu semua karena perintah Pak Diego, aku hanya membantu membelikan alat."
"Kematian Nyonya sama sekali nggak ada hubungannya denganku!"
Tapi Elina tidak membiarkannya cuci tangan begitu saja, dan terus menghasutnya.
"Kamu sudah membantu Kak Diego membelikan alat dan nggak melaporkan apa yang sudah kamu lihat!"
"Kamu tahu dia akan mati kalau disekap di ruang bawah tanah, tapi kamu malah nggak menolongnya."
"Kamu kira polisi nggak akan menjadikanmu tersangka juga?"
Asisten itu mundur beberapa langkah, kemudian terjatuh ke tanah dengan lemas.
Elina memanfaatkan kesempatan itu untuk mengancamnya, "Kalau kamu nggak mau kena masalah, maka tutup mulutmu dan rahasiakan hal ini."
"Kalau nggak, kamu akan kehilangan pekerjaan dengan gaji tinggi yang kamu miliki sekarang. Di mana lagi kamu bisa mendapatkan pekerjaan seperti itu."
Asisten itu akhirnya terpengaruh, "Anggap saja aku nggak pernah datang ke sini."
Sebelum pergi, dia juga mengingatkan, "Cepatlah, Pak Diego sedang mencarimu."
Elina menjawab dengan acuh tidak acuh, "Aku tahu. Bilang saja aku sedang membantu Sherina mandi, suruh dia nggak usah panik!"
Asisten itu mengangguk dan kembali ke tempat pesta untuk melapor pada Diego.
Diego sontak marah, "Apa? Sherina si tukang cemburu itu malah menyuruh Elina memandikannya?"
Asisten itu sedang diliputi perasaan bersalah. Dia terus-menerus mengelap keringatnya sambil mencari alasan untuk menutupi kebohongannya.
"Nyonya terluka, tangan dan kakinya nggak bisa digerakkan .... "
Diego malah makin marah!
"Terluka? Pasti cuma pura-pura, 'kan? Baru berapa hari dikurung kok sudah terluka?"
"Apanya yang luka? Tangan atau kakinya yang patah sampai nggak bisa digerakkan?"
Aku tertawa sinis dari samping, "Bukan cuma tangan dan kakiku yang patah, tapi aku bahkan sudah mati."
"Dasar bodoh! Kalau kamu nggak segera pergi ke halaman, kamu bahkan nggak akan pernah menemukan jasadku!"
Aku berkata demikian sambil meniupkan udara dingin di belakang leher Diego.
Diego pun langsung merinding!
Dia mengulurkan tangan menyentuh lehernya, tapi tidak ada apa-apa di sana.
Akibatnya, dia jadi makin marah! Dia merasa perlu melampiaskan amarahnya padaku.
"Aku mau lihat kondisinya separah apa sampai nggak bisa menggerakkan tangan dan kakinya!"
"Berani-beraninya dia menyusahkan Elina! Apa dia cari mati?"
Diego berkata sambil bergegas ke kamar mandi.
Namun, Asisten itu segera menghentikannya, "Pak Diego, mereka sedang dalam kondisi yang nggak bisa ditemui."
"Kenapa nggak bisa? Apa jangan-jangan Sherina sedang selingkuh dengan pria lain?"
Diego mengatakannya sambil mempercepat langkahnya untuk berlari ke kamar mandi.
Dia lalu membuka pintu, tapi ternyata kamar mandi itu kosong!
Diego marah besar, dan langsung bertanya pada asistennya dengan marah, "Di mana dia? Aku nggak akan memaafkanmu kalau sampai berani membohongiku!"
Asisten itu merasa bersalah, dia lalu melirik ke arah taman belakang.
Aku pun terus meniupkan hawa dingin ke tengkuknya, membuatnya panik seperti semut di atas kuali panas.
"Dasar bodoh! Kenapa malah diam saja?"
"Kalau kamu diam saja, mereka keburu selesai menguburkan jasadku!"