Bab 1

"Sayang, aku setel ke pengaturan tertinggi sekarang. Nikmatilah."

Sambil berkata, suamiku menekan tombol pengontrol di tangannya.

Aku masih di luar, di antara kerumunan, tapi aku langsung lemas terduduk di lantai di bawah tatapan semua orang.

"Nggak ... Ini terlalu berlebihan."

Sebelum aku sempat berdiri, semua pria di sekitarku mendekat, menatapku dengan tatapan jahat.

"Bu, biar kami bantu..."

Namaku Cindy Pomell, aku berusia 25 tahun. Di universitas yang ramai itu, aku digemari oleh semua murid pria karena tubuhku yang montok.

Para pria dapat dengan mudah memegang pinggangku yang sangat ramping dengan satu tangan, tapi aku juga memiliki payudara dan bokong yang montok.

Di sekolah, aku adalah seorang guru yang tegas dan serius, tetapi sebenarnya, aku adalah wanita jalang.

Suamiku, Mitch Harper, adalah seorang pengembang produk wanita dan memiliki toko online sendiri.

Terlebih lagi, dia selalu bisa mengembangkan barang-barang unik, dan sebagai model pribadinya, aku perlu membantunya bereksperimen dengan berbagai produk setiap saat.

Bahkan untuk menguji stabilitas produk dan kebisingannya, aku sering berada di berbagai tempat umum.

Aku harus memakainya saat bekerja, bahkan ketika aku memberikan bimbingan privat kepada siswa, tubuh bawahku juga terus menguji berbagai mainan.

Aku bahkan pernah mengujinya saat acara rapat orang tua dan guru sedang berlangsung.

Di permukaan, aku tampak tenang dan kalem, tetapi kakiku di belakang podium sudah lemas dan gemetar.

Awalnya, aku merasa malu dan risih, tetapi aku tidak bisa menahan permohonan suamiku.

Namun, setelah mencobanya sekali, aku jatuh cinta pada perasaan ini.

Rasa malu karena ketahuan oleh orang banyak membuatku tergila-gila.

Seiring waktu, aku menjadi lebih berani.

Kali ini, aku pergi ke taman kompleks sendirian dengan stiker cinta yang baru saja diciptakan suamiku.

Untuk mengembangkan stiker ini, suamiku khusus mempelajari titik-titik akupunktur.

Suamiku mengatakan dengan menempelkannya di pangkal paha bagian dalam, pada bagian yang sangat dekat dengan area pribadi, stiker itu akan memijat titik akupunktur, ditambah stimulasi arus listrik, maka stiker ini menjadi mainan cinta paling ampuh sepanjang masa.

Setelah makan malam, banyak orang berjalan-jalan di taman.

Pahaku mulai sedikit kebas, dan wajahku mulai merah merona.

Bahkan napasku mulai terasa berat.

Huh!

Siapa sangka stiker cinta sekecil ini begitu ampuh!

Namun, ini masih di pengaturan terendah, dan aku sudah tidak tahan.

"Nggak..."

Parahnya suamiku terus menggodaku, "Gimana, nyamankah? Nyaman seperti digoda beberapa orang sekaligus kan?"

Suara bariton suamiku terdengar dari headset.

"Nakal... Sayang, aku nggak sanggup lagi ... Aku mau pulang."

"Jangan, ini masih bukan level tertinggi. Sabarlah, Sayang. Ayolah!"

Aku hampir tidak bisa berjalan normal, dan merasa sangat terkejut.

Sekuat ini masih bukan level tertinggi?

Jadi bagaimana rasanya level tertinggi?

Baru saja memikirkannya, suamiku tiba-tiba mengubah pengaturan.

Mendadak aku merasakan aliran listrik di pinggangku meningkat, seolah-olah ada tangan yang tak terhitung jumlahnya menjalar di tubuhku.

Perasaan ini membuatku lemas dan kakiku sedikit gemetar.

"Hmm..."

Aku mengeluarkan suara aneh.

Bab 2

Aku segera menutup mulutku, dan wajahku semakin memerah.

Untungnya, orang-orang di sekitarku tidak menyadari ada yang aneh.

Namun, sensasi kuat itu membuatku gila.

Di paha bagian dalamku, stiker itu tidak hanya sedikit bergetar, tetapi juga mulai terasa panas.

Seolah-olah ada sepasang tangan besar yang terus-menerus meraba pinggangku.

Aku hampir tidak bisa menahannya, dan rangsangan yang kuat itu membuat kakiku lemas, dan aku hampir berlutut di tanah.

Banyak pria mulai melirikku dengan pandangan penuh hasrat.

Apakah mereka telah mengetahui rahasiaku?

Memikirkan hal ini, aku tidak takut, tetapi malah semakin bersemangat.

Perasaan dimata-matai disertai perasaan tak berdaya ini membuatku terobsesi.

Aku terhuyung ke tepi jembatan, dan seluruh tubuhku bergelantungan di parapet.

Kakiku sudah tak kuat.

"Hmm, hmm ..."

Napasku berat, dan tenggoranku terus-menerus mengerang.

Warna merah yang tidak merata menutupi sekujur tubuhku.

Penglihatanku kabur. Jika aku di ranjang sekarang, aku pasti sudah mencapai klimaks beberapa kali.

Apalagi, ada sekelompok mahasiswa olahraga yang sedang bermain basket di bawah parapet. Semuanya tampan dan berotot.

Mata mereka mengikuti arah bola basket. Jika bola basket itu terbang ke arahku, mereka pasti akan menyadari bahwa aku tidak mengenakan apa pun di balik rokku!

Hari ini, aku hanya mengenakan terusan rok pendek ketat demi merasakan sensasi maksimal, tanpa celana dalam lagi!

Adegan ini membuatku yang sudah diambang klimaks semakin imajinatif.

Stimulasi yang kuat itu telah membangkitkan nafsuku, dan aku tidak sabar seseorang datang memadamkan api hasrat di hatiku.

Jika bersama mereka ... pasti sangat nyaman kan?

Aku buru-buru merapatkan kedua kakiku sembari berpikir demikian.

"Gimana? Sudah sampai?"

"Sayang, um... Aku benar-benar nggak sanggup lagi, aku ingin pulang."

Karena rangsangan yang kuat, aku bahkan tidak bisa mengucapkan satu kalimat utuh.

Dan perasaan lemah dan tak berdaya itu hampir membuatku menangis.

Aku hanya bisa memohon ampun berulang kali.

"Sayang, aku butuh kau, biarkan aku pulang, oke?"

"Oke, tapi kau harus berjalan kembali seperti ini, dan nggak boleh matikan kontrolnya diam-diam!"

Setelah mengatakan itu, suamiku menutup telepon.

Aku menyimpan headset Bluetooth dan menyentuh remot kendali jarak jauh di sakuku.

Tapi aku tidak mematikannya karena aku suka tantangan ini.

Setelah stimulasi yang cukup lama, kakiku sudah agak tidak terkendali, terutama karena arus listrik terus mengalir di pahaku.

Setiap langkah yang kuambil, postur tubuhku terasa sangat aneh.

Dan suamiku sepertinya sengaja mempermainkanku, dia terus-menerus mengubah level stiker.

Aku hanya bisa menerima serangannya tanpa pilihan lain.

Beberapa kali, aku hampir terduduk di tanah karena stimulasi yang tiba-tiba meningkat.

Parahnya aku salah jalan lagi. Aku malah jalan ke lapangan basket.

Detik berikutnya, aku ditabrak oleh seorang mahasiswa olahraga yang kuat dan terjatuh ke tanah!

Remot kendali juga terlempar keluar dari sakuku.

Sialnya, kendalinya diputar ke maksimum saat itu.

Bab 3

Tanpa sadar aku menggeliat di tanah.

"Hmm... hmm..." Aku terus mengeluarkan suara-suara yang tidak senonoh.

"Kau baik-baik saja?"

Para mahasiswa yang sedang bermain basket langsung mengerumuniku.

Tatapan mereka membuatku ingin mencari lubang dan merangkak masuk.

Tapi aku tak bisa berdiri karena tubuhku yang lemas ini.

Dua dari mereka saling memandang, dan begitu menyadari situasiku, tatapan mereka langsung berubah.

Mereka berdesakan ke hadapanku dan bertanya, "Kau baik-baik saja?"

Setelah berkata demikian, tangan mereka mulai bergerak di tubuhku.

"Coba aku periksa."

Aku sudah diliputi nafsu, dan rasanya semakin sulit untuk menahannya saat ini.

Aku menggenggam tangannya dengan susah payah, tersipu dan berbisik, "Kumohon, bawa aku pergi."

Napas pria itu langsung menjadi berat dan menggendongku.

"Kubawa dia ke rumah sakit untuk diperiksa."

Namun, tangannya langsung diletakkan di dadaku, dan terus meremasnya.

Aku tersipu malu, ingin melawan, tetapi aku tak berdaya.

Aku merasa sedikit putus asa. Efek stiker itu terlalu kuat, dan sekarang remot-nya hilang. Bukankah aku hanya akan dianiaya orang lain?

Jika aku menunggu sampai habis baterai, mungkin aku yang akan terlebih dahulu kelelahan dan bahkan tidak bisa pulang.

"Bisakah kau antar aku pulang?" tanyaku malu-malu.

"Jangan khawatir," jawab pria itu dengan cepat.

Sesaat kemudian, sesuatu mengenai pinggangku.

Keras dan panas. Aku langsung menyadari apa itu.

Hal ini membuatku merasa semakin terhina, bahkan sedikit marah, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagaimanapun, aku wanita cantik dengan tubuh yang sempurna, dan sekarang aku begitu lemas dan lembut, malah aneh kalau dia tidak bereaksi padaku.

Namun tiba-tiba aku menyadari ada yang salah. Ini sama sekali bukan jalan pulang.

Dan sepertinya semakin sedikit orang di sekitar.

"Kalian mau bawa aku ke mana?"

Kedua orang itu saling berpandangan dan tertawa bersamaan.

Aku ingin melawan, tetapi setiap kali aku menggerakkan tubuhku, tubuhku menjadi lebih sensitif.

Dan aku merasakan napas pria itu semakin berat.

"Ssshh."

Pria itu berkata dengan penuh makna.

Tak lama kemudian, tidak ada seorang pun di sekitar.

Aku pun dibawa ke hutan oleh kedua pria itu.

Pria itu menempatkanku di atas batu besar.

Stimulasi yang berkepanjangan membuat tubuhku sangat sensitif.

Aku terus menggeliat dan gemetar, napasku menjadi lebih cepat.

Aku berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara-suara aneh.

"Kak, ini barangmu, kan?"

Pada saat ini, pria lain mengeluarkan sesuatu, remot pengendali!

"Hmm... berikan padaku."

Aku hampir gila. Stimulasi yang berkepanjangan membuatku kelelahan.

Aku tidak mampu mengerahkan tenaga sedikit pun. Aku mengulurkan tanganku untuk meraihnya, tetapi karena kelelahan, aku bahkan tidak bisa mengangkat tanganku, malah menyentuh bagian yang keras.

Napas pria itu memburu dan dia tampak bersemangat.

"Bersabarlah, Kak."

Dia mendekat, perlahan mengangkat kakiku, lalu menciumku.

"Nggak ... Pergi sana, aku bukan wanita seperti itu."

Aku ingin menolak, tetapi penjelasan apa pun terasa tidak berguna.

Keduanya tertawa.

Lalu dia mengangkat remot di tangannya. "Nggak baik lho berbohong."

"Kau pakai benda ini keluar emang bukan untuk menarik perhatian orang? Tenanglah, kami akan memuaskanmu."

Lalu, dia memutar remot ke posisi maksimal.

Hari sudah gelap, dan bayangan pohon menutupi kami dengan sempurna.

Kedua orang itu mendekat bersamaan, menyerang dua area di tubuhku. Aku tidak berdaya melawan dan hanya bisa melihat mereka mengulurkan tangan mereka yang cabul dan perlahan merogoh ke dalam rok miniku.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B92761" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B92761
Salin

Arus yang Membuatku Liar

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya