Bab 1
Pijatan lembut tangan terapis itu membuat seluruh tubuhku panas dan terkulai lemas di sofa.
"Kamu sangat sensitif ...."
Embusan napas yang hangat di telingaku membuatku tanpa sadar gemetar ....
Pijatan lembut tangan terapis itu membuat seluruh tubuhku panas dan terkulai lemas di sofa.
"Kamu sangat sensitif ...."
Embusan napas yang hangat di telingaku membuatku tanpa sadar gemetar ....
....
Namaku Fiora dan aku baru saja melahirkan seorang anak perempuan.
Semua orang memberi ucapan selamat kepadaku. Hanya aku sendiri yang mengerti rasa sakit yang kurasakan.
Payudaraku tersumbat dan tidak bisa mengalirkan ASI dengan baik.
Setiap kali bayiku menyusu, aku gemetar kesakitan.
Bahkan terkadang keluar darah.
Ketika sahabatku mengetahui hal ini, dia merekomendasikan seorang terapis laktasi kepadaku.
Dia juga mengatakan bahwa terapis itulah yang membantunya saat dia dulu kesulitan menghasilkan ASI. Kemampuannya tidak diragukan lagi.
Terapis tersebut melayani kunjungan ke rumah. Setelah mendapat kontaknya, aku segera membuat janji.
Pembengkakan payudaraku sudah terlalu menyakitkan.
Karena ASI yang dihasilkan tersumbat dan tidak bisa keluar, tidak sengaja tersentuh saja rasanya sangat sakit.
Bahkan memakai pakaian terasa sangat menyusahkan.
Dua hari kemudian, terapis laktasi itu akhirnya datang ke rumahku sesuai jadwal.
Aku membuat janji pukul tiga sore dan bel pintu berbunyi tepat waktu.
Setelah membuka pintu, aku sangat terkejut karena tidak menyangka terapisnya adalah seorang pria.
Dia mengenakan pakaian putih, dengan wajah yang tampan dan kalem. Usianya sekitar 30 tahun, jauh lebih muda dari yang kuduga.
Aku tiba-tiba merasa ragu. Masih semuda ini, dan seorang pria pula. Apakah dia benar-benar ahli?
Terlebih lagi, rumah adalah tempat yang pribadi. Apa kata orang jika tersiar kabar rumahku kedatangan pria asing untuk terapi menyusui?
Pria itu tampaknya mengerti kekhawatiranku dan berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, saya terapis laktasi profesional dan sudah belajar selama lebih dari 20 tahun. Saya jamin masalah Ibu akan teratasi."
"Saya mengerti kalau Ibu khawatir. Tapi kami nggak akan mengembalikan uang mukanya. Mohon dimaklumi."
Setelah mendengar kalimat ini, aku membulatkan tekad dan mempersilakannya masuk.
Biaya memanggil terapis laktasi swasta tidaklah murah. Uang mukanya saja sudah cukup besar.
Kalau bukan karena kegagalanku dengan beberapa terapis sebelumnya, aku tidak akan berpikir untuk memanggil pria ini.
Sahabatku benar-benar memuji keahliannya.
Dia tidak akan merekomendasikan seseorang yang bermasalah.
Memikirkan hal ini, saraf-sarafku yang tegang berangsur-angsur mengendur.
Aku sepertinya jadi lebih mudah kepikiran banyak hal setelah melahirkan. Pantas saja suamiku selalu mengataiku cerewet dan bawel akhir-akhir ini.
Nama terapis ini adalah Lucas Harjasa. Begitu memasuki rumah, dia langsung memakai sandal rumah sekali pakai yang sudah kusiapkan di depan pintu.
Dia lalu menoleh kepadaku. "Mau di mana?"
Kalimatnya tidak terlalu jelas, tapi aku tahu apa yang dia maksud.
Meski aku baru saja menguatkan tekadku agar mempercayainya, sedikit rasa khawatir tetap muncul saat ini.
Suamiku belum pulang kerja, jadi hanya aku dan bayiku di rumah.
Anakku masih tidur di kamar.
Setelah menimbang-nimbang antara kamar dan ruang tamu, aku memilih ruang tamu.
Lucas memang tidak terlihat seperti orang yang jahat, tapi aku tidak berani mengambil risiko.
Jika di ruang tamu, aku bisa langsung keluar dan meminta bantuan kalau-kalau tindakannya mulai mencurigakan.
Lucas hanya menganggukkan kepala mendengar jawabanku, tanpa perubahan ekspresi.
Dia membentangkan matras steril sekali pakai di atas sofa dan pergi mencuci tangannya.
"Silakan berbaring."
Aku menarik napas dalam-dalam, melepas sandalku, dan perlahan-lahan berbaring telentang di atas matras.
Bab 2
Meskipun sudah berpakaian, berbaring telentang di depan seorang pria asing membuatku sedikit gugup.
Kedua tanganku mencengkeram tepi sofa.
Lucas sepertinya dapat merasakan kegugupanku. Dia tertawa pelan dan berkata, "Santai saja. Tolong angkat bajunya ke atas."
Aku mengangguk, memberanikan diri, dan membuka bajuku ke atas dengan sedikit malu-malu.
Dibuka secukupnya saja untuk memperlihatkan payudaraku yang membusung.
Lucas mengangguk dan menatap payudaraku. Sekilas rasa takjub terpancar di matanya, seolah sedang menatap sebuah harta berharga.
Aku memang diberkati yang indah. Awalnya berukuran C dan menjadi sedikit lebih besar sejak aku melahirkan.
Lucas tidak menutupi tatapannya sama sekali. Aku merasa seperti spesimen percobaan yang sedang diamati dari segala sudut.
Aku tersipu malu dan sedikit bergeser tanpa sadar, sambil berbisik, "Dok, sudah bisa dimulai ...?"
Lucas terdiam sejenak seolah baru sadarkan diri, lalu tersenyum lembut padaku.
"Ya. Kamu sangat cantik."
Kalimat itu sangat tiba-tiba dan di luar batas sampai aku tertegun beberapa saat.
Sebelum pikiranku tersadar sepenuhnya, sensasi dingin merasuk ke dalam kulitku.
"Ah ...."
Tubuhku otomatis menghindar dari sentuhan itu.
Lucas tertawa, seperti merasa senang. "Kamu sangat sensitif."
Komentar ini membuatku semakin malu. Wajahku merona merah dan mataku mengembara, tidak tahu harus melihat ke mana.
Lucas melihat rasa maluku dan mengeluarkan penutup mata, sambil bertanya dengan serius.
"Mau pakai penutup mata? Mungkin kamu bisa lebih nyaman saat dipijat dengan mata tertutup."
Aku berpikir sejenak dan akhirnya setuju.
Aku tidak dapat membayangkan menatap wajah Lucas tepat di depanku selama dua hingga tiga jam ke depan.
Betapa memalukan.
Tangan Lucas bergerak, ingin membantuku memakai penutup mata itu. Aku pun buru-buru mengambilnya. "Biar saya pakai sendiri ...."
Lucas mengangguk dan tidak mendesak lebih jauh.
Setelah mengenakan penutup mata, seluruh dunia menjadi gelap dan pikiranku tidak lagi dikuasai rasa canggung. Tapi, indra di seluruh tubuhku jadi lebih fokus pada dadaku.
Harus kuakui, Lucas sangat terampil dalam memijat. Lembut dan tidak terlalu kuat, membuatku sangat nyaman.
Pijatan Lucas lambat laun semakin cepat. Telapak tangannya hangat setelah menggosok-gosok cukup lama.
Tubuhku semakin sensitif setelah melahirkan. Aku hampir tidak tahan menerima perlakuan seperti itu dari seorang pria.
Suhu badanku meningkat dan tubuhku juga mulai bereaksi.
Untungnya, aku sudah pakai penutup mata. Kalau tidak, pria itu akan mengetahui segalanya.
Seluruh proses berlangsung selama sekitar dua jam. Di tahap akhir, wajahku sudah merah membara.
Lucas tiba-tiba menekan dan meremas dengan lebih kuat. Aku tidak bisa menahan eranganku.
"Mmm ...."
Pikiranku yang semula linglung seketika tersadar dan jernih. Aku cepat-cepat menutup mulut dan merasakan telingaku memanas.
Aku tidak bisa melihat ekspresi Lucas, tapi sebuah suara pelan terdengar dari telingaku tak lama kemudian.
"Ada benjolan di sini, jadi harus lebih keras agar terurai."
Setelah jeda sebentar, dia melanjutkan, "Selain itu, nggak perlu menahan diri. Semua itu normal."
Rasa maluku memuncak sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya bumi terbelah dan menelanku sekarang juga.
Bab 3
Lucas tidak berkata apa-apa lagi. Gerakan lembut tangannya membuat sarafku kembali rileks.
Saat aku jatuh tertidur, suara Lucas terngiang di telingaku.
"Oke, pijatnya sudah selesai."
Aku segera bangun dan terduduk di sofa, membuka penutup mataku.
"Sudah selesai?"
Aku merasa seperti kurang puas, tidak menyangka semuanya akan berakhir secepat ini.
Aku mendongak tepat saat Lucas menyeka tangannya dengan tisu basah. Ada sedikit cairan putih di tangannya dan aku terlalu malu untuk terus melihat.
Wajah Lucas tenang, tidak ada reaksi apa-apa.
"Ya. Kondisinya akan membaik setelah pijat ini. Kalau ingin lanjut pijat lagi, silakan membuat janji lain waktu."
Dia lalu mengemasi barang-barang dan hendak pergi.
Aku buru-buru berdiri dan ingin mengantarnya sampai ke depan. Tapi aku mendapati Lucas menatapku dengan aneh.
Pakaianku masih belum diturunkan.
Pada saat itu, pintu rumah tiba-tiba terbuka dengan keras.
Aku tersentak kaget. Aku 'kan punya suami!
Kalau dia melihatku bersama laki-laki lain dengan dada terbuka, dia akan sangat marah.
Aku cepat-cepat merapikan baju dan Lucas berjalan menuju pintu.
Benar saja, begitu suamiku masuk dan melihat seorang pria asing di dalam, raut wajahnya berubah suram.
"Siapa kamu? Ada apa di rumahku?"
Suamiku pria yang keras. Aku takut mereka berdua akan bertengkar, jadi aku buru-buru maju untuk menjelaskan.
"Sayang, dia terapis laktasiku yang baru. Barusan selesai pijat."
"Terapis laktasi? Laki-laki?"
Bukannya membaik, justru awan kelabu semakin menutupi wajah suamiku. "Kenapa laki-laki jadi terapis menyusui? Pasti punya niat jahat!"
Setelah mengatakan itu, dia juga menatapku dengan curiga. "Kalian beneran cuma pijat? Nggak melakukan yang lain?"
"Beneran!"
Aku sedikit marah karena kecurigaan suamiku. "Lihat sendiri di CCTV kalau nggak percaya!"
Ruang tamu dipasangi CCTV untuk mengawasi anak kami.
Aku tidak menyangka, sebelum tujuan tersebut tercapai, CCTV itu akan digunakan untuk membuktikan hal seperti ini.
Melihat ekspresiku yang tidak bersalah, suamiku pun menyadari bahwa di antara aku dan terapis itu tidak terjadi apa-apa. Kemarahannya tampak sedikit mereda.
"Maaf, aku salah paham."
"Nggak apa-apa."
Lucas tetap terlihat dingin seperti biasa. Dia mengangguk dan segera pergi.
Sama sekali tidak berniat untuk berlama-lama.
Suamiku semakin lega melihat hal ini.
Dia cepat-cepat mendekat dan memelukku. "Sayang, jangan marah. Laki-laki mana yang nggak akan curiga dengan situasi tadi?"
Mata aku sedikit memerah. Meski aku mengerti, aku tetap merasa sedikit dalam lubuk hatiku.
Apalagi, aku jadi sangat emosional dan cengeng setelah melahirkan.
Wajah suamiku semakin cemas dan dia memohon maaf berkali-kali untuk membujukku.
Aku tidak benar-benar marah. Situasi tadi memang mudah menimbulkan curiga.
Akhirnya aku sengaja pergi melihat rekaman CCTV. "Ini! Lihat sendiri, nggak ada apa-apa."
"Dokter Lucas itu rekomendasi dari sahabatku. Walaupun masih sangat muda, dia sudah punya pengalaman belasan tahun."
Sejak dipijat Lucas, dadaku tidak bengkak lagi dan ASI dapat mengalir dengan lancar.
Meski suamiku mengaku percaya padaku, tapi tatapannya tidak bisa bohong.
Dia menyaksikan rekaman CCTV dari awal hingga akhir.
Barulah dia merasa lega.