Bab 3
Tamara memaki, “Dasar wanita jalang! Mau berlagak lemah? Aku cuma menendangmu dengan ringan, tapi kamu langsung teriak? Kamu mau kasih siapa dengar teriakanmu?”
Aku menatapnya dengan dingin dan berkata, “Tamara, kamu pasti akan menyesali perbuatanmu hari ini!”
“Masih berani lawan? Hari ini, aku akan ajari kamu gimana seharusnya seorang menantu Keluarga Lukita bersikap!”
Dari hari pertama aku menikah dengan Tristan, Tamara sudah tidak sabar untuk mengajariku cara bersikap. Dia berkata kakak itu bagaikan ibu. Kelak, aku harus melayaninya bagaikan melayani seorang senior. Dia juga memberiku catatan berisi apa yang harus aku lakukan. Contohnya, aku harus mencuci kaki dan pakaian dalamnya setiap hari.
Namun, Tamara lupa bahwa suamiku itu orang yang super posesif. Aku menikahinya juga bukan karena keinginanku sendiri. Sebelum catatan itu sampai ke tanganku, Tristan sudah merobeknya dan langsung memakinya.
Tamara tidak berani melawan Tristan. Dia selalu ingin melampiaskan amarahnya padaku, tetapi tidak pernah kesampaian. Hari ini, dia akhirnya mendapatkan kesempatan itu.
Tamara menjambakku sambil menyeretku ke tepi kolam di halaman. Kemudian, dia berkata di samping telingaku dengan nada sinis, “Wanita yang selingkuh harus dihukum dengan berat. Hari ini, aku akan buat kamu rasakan akibatnya!”
Seusai berbicara, dia langsung menceburkan kepalaku ke dalam kolam. Air yang dingin itu seketika membuatku tidak dapat bernapas. Aku berusaha untuk memberontak, tetapi tidak bisa melepaskan diri dari cengkeramannya. Pada saat aku merasa diriku sudah hampir mati, Tamara akhirnya menarik rambutku dan mengeluarkan kepalaku dari kolam.
Aku langsung mengambil napas dalam-dalam. Sekujur tubuhku terciprat air dan tampangku sangat menyedihkan.
“Dasar wanita jalang! Masih berani berlagak sombong dengan andalkan kekuasaan adikku? Beraninya kamu suruh adikku putus hubungan denganku!”
Setelah mengatur napasku, aku memelototinya dengan penuh kebencian. “Kalau kamu memang hebat, habisi aku hari ini! Kalau nggak, siap-siap saja kamu!”
Pada saat ini, aku merasa sangat membenci Tristan. Gara-gara dia memaksaku menikahinya, aku baru mengalami hal seperti ini.
Tamara menamparku lagi. Kali ini, ada darah yang mengalir dari sudut bibirku.
“Masih berani lawan? Kalau aku nggak bisa buat kamu tunduk hari ini, jangan panggil aku Tamara!”
Setelah itu, Tamara menceburkan kepalaku ke kolam lagi. Kali ini, dia menekan kepalaku dalam kolam lebih lama dari sebelumnya. Setelah berulang kali disiksa seperti ini, tubuhku pun kehilangan tenaga.
Pada saat ini, ada orang yang menyadari wajahku sudah pucat pasi dan takut masalahnya bertambah besar. Dia buru-buru berkata, “Tamara, kamu cuma perlu kasih dia sedikit pelajaran. Jangan sampai dia kenapa-napa! Kalau dia mati, kita semua juga akan dipenjara.”
Begitu mendengar akan dipenjara, semua orang juga buru-buru bersuara untuk menghentikan Tamara.
Tamara menjambak rambutku, lalu mengempaskan aku ke lantai dengan kuat. Tubuhku yang sudah sepenuhnya basah pun tergeletak di lantai dengan lemas.
Dia berkata dengan nada merendahkan, “Hari ini, aku akan ampuni kamu dulu. Tapi, aku pasti suruh adikku habisi kamu atas perselingkuhanmu!”
Aku berpikir dalam hati, ‘Waktu Tristan suruh kamu berlutut mohon ampun sama aku nanti, jangan harap aku bela kamu!”
Tepat pada saat ini, seorang wanita tiba-tiba menunjuk ke arah perutku dan bertanya, “Tamara, coba lihat! Apa dia lagi hamil?”
Gaunku yang longgar sudah menempel ke tubuhku karena basah. Perutku yang sedikit menonjol pun terlihat jelas.
Melihat hal ini, Tamara langsung menendangku. “Dasar wanita jalang! Kamu bahkan hamil anak pria lain!”
Aku meringkuk dan secara refleks melindungi perutku dengan tangan. Saat Tamara masih ingin menendangku, aku buru-buru berujar, “Ini anak Tristan!”
Tamara berseru marah, “Dasar wanita jalang! Jangan bohongi aku! Tristan nggak mau wariskan penyakit genetiknya, makanya dia sudah lakukan vasektomi dari dulu. Dia juga pernah bilang akan serahkan Grup Lukita pada putraku kelak. Kamu mau rebut harta putraku dengan andalkan anak harammu itu?”
Awalnya, Tristan memang tidak berencana untuk memiliki anak. Alasannya karena aku tidak bisa menerima dia mengidap sindrom Jacob dan dia juga tidak ingin anaknya mengidap penyakit yang sama. Hanya saja, berhubung dia masih belum bisa mendapatkan hatiku, dia pun tidak peduli lagi dan ingin mengikatku dengan anak. Oleh karena itu, dia melakukan operasi vasektomi reversal.
Begitu mendengar ucapan itu, teman-temannya Tamara juga murka.
“Wanita ini benar-benar licik! Ternyata dia mau rebut harta Keluarga Lukita dengan andalkan anak haramnya itu!”
“Untung kita cepat sadar! Kalau nggak, Grup Lukita akan jatuh ke tangannya.”
“Tamara, kamu nggak boleh ampuni anak haram itu!”
Setelah mendengar ucapan provokasi teman-temannya, Tamara menatapku dengan galak.
“Benar! Hari ini, aku harus gugurkan anak harammu itu! Aku mau tahu gimana kamu mau berebut harta dengan putraku!”
Aku langsung merasa sangat panik. Aku menatap Tamara dan menjelaskan, “Ini benar-benar bukan anak haram. Tristan sudah lakukan vasektomi reversal, makanya aku bisa hamil. Kalau nggak percaya, tanya saja padanya.”
“Dasar wanita jalang! Kamu kira aku nggak tahu apa rencanamu? Tristan sudah sepenuhnya terpesona sama kamu. Meski tahu kamu selingkuh, dia juga nggak akan lukai kamu. Mungkin saja kamu bisa menghasutnya untuk terima anak haram ini! Tapi, aku nggak akan biarkan harta Keluarga Lukita jatuh ke tangan anak haram ini!”
Seusai berbicara, Tamara tiba-tiba menendang perutku. Rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar di perutku.
Bab 4
Demi anak dalam kandunganku, aku mau tak mau harus menunduk pada Tamara dan memohon, “Kak, ini benar-benar anak Tristan. Aku mohon ampunilah dia ....”
Ini adalah pertama kalinya aku memanggil Tamara dengan sebutan kakak sejak menikah. Namun, aku melakukan hal ini malah demi memohonnya untuk mengampuni keponakannya sendiri.
Tamara menjawab dengan ekspresi tidak sudi, “Jangan panggil aku kakak! Tristan begitu baik padamu, tapi kamu malah berselingkuh dan mengandung anak pria lain!”
Aku menggeleng. “Aku nggak selingkuh. Foto-foto itu hasil editan!”
Tamara langsung meludahiku. “Jangan bohongi aku! Felicia yang kirimkan foto-foto itu padaku! Mana mungkin itu palsu!”
Felicia adalah sahabat Tamara, juga teman masa kecil Tristan. Sebelum Tristan bertemu denganku, dia adalah satu-satunya wanita yang setidaknya diperlakukan dengan cukup baik oleh Tristan. Namun, setelah dia menyiramku dengan anggur merah, Tristan pun sepenuhnya mengabaikannya.
“Felicia sengaja mengedit foto-foto itu pasti untuk balas dendam sama aku ....”
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Tamara menendangku lagi. “Dasar wanita jalang! Sudah khianati adikku, kamu masih berani fitnah sahabatku!”
Setelah itu, dia lanjut menendangku sambil berseru, “Sejak kamu nikah sama Tristan, Tristan cuma peduli sama kamu. Dia bahkan nggak peduli sama kakak kandungnya lagi!”
Aku meringkuk dan memeluk perutku dengan erat untuk melindungi anakku. Aku sama sekali tidak peduli pada makiannya.
Kemudian, dia memberi perintah pada teman-temannya, “Tarik tangan wanita jalang ini! Jangan biarkan dia lindungi anak haram itu!”
Dalam seketika, ada 4 orang yang menghampiriku, lalu menarik tanganku secara paksa. Aku tidak berhenti menangis dan memohon pada mereka, “Jangan ... jangan ....”
Tamara hanya tersenyum sinis, lalu menggunakan kekuatan penuh untuk menendang perutku.
“Ah!” Aku pun berteriak kesakitan.
Namun, dia tidak berhenti menendangku. Tubuhku terasa sakit sampai mati rasa, tetapi aku bisa merasakan ada cairan yang mengalir dari bawah tubuhku.
Semua orang di sekitar pun berseru, “Darah! Dia sudah alami pendarahan ....”
Darah dalam jumlah yang banyak langsung menodai gaun putihku. Aku bisa merasakan anakku perlahan-lahan meninggalkanku.
Setelah melihat aku mengalami pendarahan, mereka akhirnya melepaskanku. Aku memegang perutku dengan susah payah sambil menangis.
‘Nak, maaf, Ibu nggak bisa lindungi kamu. Jangan salahkan Ibu, ya.”
Kemudian, aku memelototi sekelompok wanita itu dengan penuh kebencian. Tampang kejam mereka sudah sepenuhnya terpatri dalam benakku. Aku berkata sambil menggertakkan gigiku, “Tamara, aku pasti akan buat kamu tanggung konsekuensi berat!”
“Sekarang, kamu seharusnya pikir mau gimana jelaskan hal ini ke adikku. Kamu sudah berselingkuh dan mengandung anak pria lain!”
Tamara mengayunkan ponselnya yang menunjukkan bahwa dia sedang menelepon suamiku. Namun, yang terdengar hanyalah suara operator.
Setelah mengusir Tamara sekeluarga, Tristan langsung memblokir nomor telepon mereka semua. Tamara pun merasa malu, lalu menendangku lagi. “Ini semua gara-gara kamu!”
Tepat pada saat ini, sebuah mobil hitam yang mewah berhenti di depan vila. Begitu pintu mobil dibuka, terlihat Tristan turun dari tempat duduk belakang.
Tamara buru-buru menghampirinya. “Tristan, akhirnya kamu pulang juga!”
Seiring dengan Tamara yang menyingkir ke samping, Tristan langsung melihat aku yang tergeletak di lantai. Kedua pipiku sudah bengkak dan merah, sedangkan bagian bawah tubuhku berlumuran darah.
Pada detik selanjutnya, dia langsung mendorong Tamara dan berlari ke arahku. Berhubung terlalu panik, dia hampir terjatuh. Dia memelukku dengan kedua tangan yang gemetar dan berkata, “Yuna, ka ... kamu kenapa?”