Logo
Anugerah Cinta
Anugerah Cinta

Anugerah Cinta

61 Bab
Tamat
Dalam novel modern Anugerah Cinta, Dila terjebak taaruf dengan Fabian, mantan pecandu yang kontras dengan idaman hatinya. Di balik perjodohan ini, tersimpan rahasia besar yang menguji kesetiaan. Simak romance novel penuh mystery story ini di platform web novel favorit Anda.
Bab 1 dari Anugerah Cinta

Ada sebuah pondok pesantren yang tidak terlalu dianggap oleh masyarakat di sekitarnya. Pondok pesantren tersebut berbeda dengan pondok yang lainnya, sebab lebih berfokus pada santri-santri yang memiliki masalah, seperti pecandu obat-obatan terlarang, pencuri, bahkan wanita tuna susila.

Gus Wirto, nama pendiri pondok pesantren Pondok Pesantren Ihsan. Ia mendirikannya di salah satu kota terbesar di Indonesia, yaitu Surabaya. Bukan tanpa alasan Gus Wirto mendirikan pondok pesantren tersebut, ia ingin membantu mereka-mereka yang ingin kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT.

Gus Wirto sendiri sudah memiliki keluarga. Ia menikah dengan Nyai Mina dan memiliki dua orang anak, putra dan putri. Anak yang pertama bernama Catur, usianya 28 tahun dan saat ini berada di Mesir untuk melanjutkan pendidikannya. Anak keduanya bernama Dila, usianya masih 23 tahun dan sedang menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Surabaya.

Gus Wirto saat ini tinggal bersama dengan istri dan putrinya, beberapa santri sering datang untuk menimba ilmu, tapi tidak pernah sampai dalam. Istrinya, Nyai Mina hanya ibu rumah tangga, meskipun beberapa kali membantu Gus Wirto pada saat-saat tertentu. Untuk putrinya sendiri, Dila jika ada waktu luang sering berada di tempat santriwati untuk berbicara atau menghafal ayat-ayat Al-Qur’an.

“Mau ke mana, Nduk?” tanya Gus Wirto pada Dila.

“Mau ke asrama santriwati untuk hafalan Surat Al-Mulk.”

“Tidur sana?”

Dila menggelengkan kepalanya.

“Ya wis, jangan malam-malam.”

Dila mencium tangan abinya sebelum keluar dari rumah, melangkahkan kakinya ke tempat santri dengan menundukkan kepalanya. Menurut ajaran orang tuanya ia tidak diperbolehkan memandang yang bukan muhrim. Dila semakin mempercepat langkahnya saat melihat tempat santriwati semakin dekat. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.

“Dila.” Terdengar suara seorang pria memanggil namanya membuat langkah kaki Dila berhenti.

“Kenapa, Kak?” tanya Dila yang masih menundukan kepalanya.

“Kamu, Dila, Anaknya Gus Wirto?” pria tersebut bertanya lagi pada Dila.

Dila mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.

“Astaga pelit amat sih liat wajahnya aja ga bisa. Lihat dong orang yang dihadapan kamu saat berbicara.”

Dila masih belum mengangkat wajahnya meski pria di depannya sedang mengucapkan kata-kata tidak enak untuk didengarnya.

“Ngapain kamu manggil Neng Dila?” tiba-tiba terdengar suara orang lain.

Dila dapat mengetahui suara orang tersebut, walau tidak melihat wajahnya.

“Neng Dila, tinggalin aja manusia nggak penting ini.”

“Maaf dan terima kasih.”

Dila pun kembali berjalan meninggalkan mereka dan masih terdengar beberapa perkataan, hanya saja ia tidak peduli sama sekali. Ia segera kembali menuju asrama santriwati. Sesampainya di asrama ia membuka pintu salah satu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ia membelalakkan matanya saat melihat pemandangan yang tidak baik, seketika ia langsung berbalik dan menutup matanya.

“Kenapa nggak dikunci?” omel Dila menatap malas pada Naila, santriwati yang sudah dianggap saudara.

“Lah, kamu sendiri yang nggak ngetuk, salah siapa coba?” ucap Naila kesal.

“Ya...ya...aku yang salah.” Dila mengangguk lemas, “Memang mau kemana rapi sekali? Lalu pakaiannya kenapa begitu tadi?”

“Bocah nggak perlu tahu.”

Dila mencibir perkataan Naila.

“Ada apa kesini?” tanya Naila.

“Mau ajak hafalan surat secara besok sudah waktunya menyetor hafalan yang langsung diawasi sama Nyai Mina.”

“Kamu anak pemilik pondok dan aku sahabatmu, kenapa Nyai Mina nggak ada pengecualian sama sekali sih?”

“Umma nggak melu-melu ya. Mau melu hafalan opo nggak?”

“Menurutmu ae piye? Jelas melu lah, pengen aku dihukum karo abimu?”

Dila tersenyum kecil mendengarnya. Ia pun memilih untuk menunggu Naila berganti pakaian yang lebih tertutup. Setelah sahabatnya tersebut mengganti pakaiannya, mereka melangkah ke tempat santriwati. Sudah banyak para santriwati yang ada di sana dan mereka yang sedang sibuk dengan membaca tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan Dila dan Naila. Dila mengambil tempat paling enak, tapi sayangnya ditarik Naila ke tempat paling pojok.

“Kuping e lapo disumpel?” Dila bertanya heran saat Naila menggunakan earphone di telinganya.

“Pegel arep turu disik,” sahut Naila santai.

Dila membelalakkan matanya menatap apa yang Naila lakukan. Sahabatnya tersebut menyandarkan tubuh di tembok dan langsung memejamkan matanya, telinganya sendiri sudah ditutup dengan earphone membuat Dila tidak bisa bertindak apa-apa. Ia pun mengikuti yang lainnya membaca Surat Al-Mulk dengan perlahan, meskipun sudah membacanya dari kemarin tetap saja belum memiliki rasa percaya diri sama sekali.

Melihat Naila yang seperti itu membuatnya menghela napasnya dengan kelakuan sepupunya. Di saat ia membaca beberapa ayat, mata Dila langsung membola melihat Ummanya memasuki ruangan secara otomatis membangunkan Emily yang memejamkan matanya.

“Nay...Nay...” Dila menepuk tangan Naila keras membuatnya mendapatkan tatapan tajam. “Umma ada di sini.”

Naila langsung melepaskan earphone dan membuka Al-Qur’an, begitu juga dengan Dila yang kembali fokus pada bacaannya.

“Sudah ada yang hafal?” Nyai Mina menatap para santriwati.

Para santriwati ada yang sebagian mengangguk, tapi tidak sedikit yang menggelengkan kepalanya.

“Besok waktunya terakhir, ingat ini termasuk dalam penilaian kalian nantinya.”

“Ya, Nyai.” Mereka teriak bersama-sama termasuk Dila dan Naila.

Mereka berdua kembali fokus pada bacaan yang ada dihadapannya saat ini, sebenarnya Dila bisa saja tidak ikut menghafal, tapi sebagai saudara yang baik akhirnya menemani Emily. Dila tahu jika saudaranya ini masih dalam tahap pembelajaran yang masih harus didampingi atau ditemani agar tidak jatuh dalam dunia gelap.

“Kalian sudah sampai mana?” suara Nyai Mina membuat Dila dan Naila terkejut, “Kenapa terkejut? Kaya habis lihat apaan aja.”

“Umma eh...maksudnya Nyai ngagetin aja. Kok tiba-tiba ada disini.” Dila menundukkan wajahnya karena salah mengucapkan nama, “belum terlalu hafal, Nyai.”

Nyai Mina hanya mengangguk mendengar jawaban Dila. “Kalau sudah selesai langsung pulang ya. Abi mau bicara sama kamu.”

Dila menatap Nyai Mina dengan bingung, hanya saja beliau langsung beranjak meninggalkan mereka. Ia terdiam mencoba mencerna kata-kata Nyai Mina tadi dan yang membuatnya heran, kenapa pada saat berangkat Gus Wirto tidak mengatakan apapun sama sekali.

“Ndang diwoco selak waktune entek,” tegur Naila yang membuat lamunan Dila hilang begitu saja dengan menatap Naila malas, “wis ndang diwoco.”

Menghembuskan nafas panjang mendengar perkataan Naila dan kembali konsentrasi pada hafalan yang sebelumnya sudah dibaca, mengulangnya berulang kali sampai benar-benar hafal diluar kepala.

Suara adzan berkumandang membuat mereka semua menghentikan semuanya kegiatannya dan langsung berdiri untuk mengambil air wudhu. Dila sendiri sudah membawa mukenanya berbeda dengan Naila. Naila yang tidak membawa mukenah sehingga membuat mereka berdua kembali ke kamar Naila. Mereka harus buru-buru karena suara adzan tidak akan lama, meskipun begitu masih ada suara iqomat yang bisa membuat sedikit lebih santai.

“Fabian sakau lagi,” ucap seorang santri yang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Dimana dia?” Naila menatap para pria dengan tajam.

Tatapan tajam Naila membuat pria tersebut terkejut dan seketika menatap Dila yang membuatnya langsung menundukkan kepalanya.

“Jawab aja ngapain lihatin Dila,” ucap Naila yang lagi-lagi membuat mereka terkejut.

“Fabian di dalam kamarnya dan pastinya nggak bisa keluar.”

Naila langsung pergi meninggalkan mereka dan kali ini langkahnya bukan menuju kamarnya sendiri, tapi tempat para santri pria berada. Dila membelalakkan matanya melihat tindakan Naila dan langsung mengejarnya. Dila menggapai tangan Naila dan langsung menarik tangannya. Hal tersebut membuat Naila berhenti dan langsung memberikan tatapan tajam pada Dila.

“Jangan kesana nanti ketahuan bisa bahaya lagipula sudah waktunya sholat.”

“Aish… kamu tu nggak bisa diajak kerjasama.”

“Lagian kenapa kamu peduli sih? Bukan tugas kamu juga dan pastinya Abi sudah tahu apa yang harus dilakukan.”

“Kalau kenapa-kenapa kamu yang nanggung?”

“Kita shalat dulu baru nanti bicara sama Abi. Abi pasti sudah punya solusi lagipula bukan pertama kali Abi melakukan ini.”

Dila menarik tangan Naila yang masih diam. Naila berpikir memang apa yang Dila katakan benar adanya. Tidak seharusnya mereka berdua yang wanita masuk dalam asrama laki-laki. Kalau sampai ketahuan yang mendapatkan masalah bukan hanya dirinya saja, tapi Dila juga akan mendapatkan masalah yang sama.

Naila pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya bersama Dila.

“Aku malas ke masjid.” Naila membaringkan badannya di atas ranjang membuat Dila membelalakkan matanya. “Jangan ceramah, kalau kamu mau ke masjid silakan dan biarkan aku sendiri disini.”

Menggelengkan kepala karena tahu apa yang ada dalam isi kepala Naila. “Aku pakai kamar mandi, mau wudhu langsung sholat disini dan jangan melakukan hal gila.”

“Jangan lupa aku titip absen saja kalau gitu, nanti kalau Nyai tanya bilang aja aku lagi sakit.”

Dila menggelengkan kepala mendengar perkataan Emily dan langsung beranjak dari tempatnya.

“Naila, tapi nggak baik kalau kamu kesana,” ucap Dila menghentikan langkahnya menatap Naila yang hanya diam dan tampak memejamkan matanya. “Aku melakukan ini karena sayang sama kamu.”

Dila menggelengkan kepala melihat tingkah laku Naila, memilih beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan kewajibannya. Memilih menunaikannya dalam kamar Naila disebabkan tidak ada waktu sama sekali untuk berangkat ke masjid, di saat terakhir suara ketukan pintu terdengar membuat Dila langsung membukanya.

“Mbak Dila dicari Nyai Mina.”

“Makasih, Mbak Ita.” Dila tersenyum menatap Ita.

Menutup pintu dan melanjutkan apa yang tadi dilewatkannya karena ketukan pintu, membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an termasuk didalamnya hafalan untuk besok. Panggilan dari sang Umma membuat Dila tidak bisa berlama-lama dalam kamar Naila. Ia pun membereskan perlengkapan sholat Naila dan merapikan dirinya sebelum membangunkan Naila.

“Aku balik dulu ya jangan lupa shalat.”

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Ayahmu Tidak Setuju Karena Aku Miskin
Ayahmu Tidak Setuju Karena Aku Miskin
Dalam romance novel Ayahmu Tidak Setuju Karena Aku Miskin, Aisyah dan Krisna nekat pergi demi mempertahankan hubungan yang terhalang kasta dan keyakinan. Baca kisah modern novel ini untuk melihat perjuangan mereka melawan restu keluarga dalam salah satu fiction books pilihan pembaca.
Cinta Melawan Syarat
Cinta Melawan Syarat
Dalam Cinta Melawan Syarat, Helena menikahi pewaris tuli demi biaya medis ayahnya. Terjebak kontrak bisnis dengan pria dingin, ia menghadapi tantangan hidup sebagai istri billionaire romance novels. Namun, saat masa berlaku berakhir, sang pelindung justru memohonnya untuk tetap tinggal di modern novel ini.
Do You Love Me
Do You Love Me
Dalam novel Do You Love Me, Allia terjebak dalam tuntutan Azzel untuk menjadi ibu bagi Lia. Hubungan romance modern ini menguji Allia saat menghadapi kekasih yang arogan. Temukan kisah young adult fiction romance books ini tentang pilihan sulit antara bertahan atau melepaskan diri.
Hadiah Menginjak Usia Dewasa
Hadiah Menginjak Usia Dewasa
Dalam novel romantis modern remaja Hadiah Menginjak Usia Dewasa, Chika menghadapi kenyataan pahit di hari ulang tahunnya yang ke-19. Kejutan tak terduga dari ayah tirinya mengubah hidupnya dalam sekejap. Temukan kisah lengkapnya di Novel Web ini untuk membaca dinamika hubungan yang rumit.
Jangan Pernah Menyentuh Anakku
Jangan Pernah Menyentuh Anakku
Dalam novel Jangan Pernah Menyentuh Anakku, Aurora terjebak pernikahan kontrak dengan billionaire Kaelan Dirgantara demi melindungi putranya. Di tengah intrik bisnis dan rahasia identitas, ia harus menjaga rahasia darah daging Kaelan. Baca romance novel penuh strategi dan pengkhianatan ini.
Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid
Dalam Kecanduan Manis: Istri Manja Tuan Wahid, Rossa terjerat pernikahan kontrak demi bisnis saat hamil. Meski jatuh cinta, ia justru menerima surat cerai. Temukan kelanjutan takdir mereka dalam billionaire romance novels ini melalui layanan read novels online terbaik.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Aku, Pemimpin Tanah
Aku, Pemimpin Tanah
Cahaya Hidayat, yang menjaga Keluarga Wijaya dari atas kursi rodanya, menyaksikan perjanjiannya dirobek oleh ayah dan anak keluarga itu. Hukuman langit turun seketika, menghancurkan Keluarga Wijaya. Keluarga Lestari berlutut memohon solusi, namun ia hanya mengeluarkan sebuah jeruk, memicu lima keluarga besar berebut gila. Cahaya pun pergi meninggalkan jejak teratai emas, berpesan bahwa gejolak energi bumi akan kembali, disusul gelombang konspirasi konsorsium internasional. Di pertaruhan berikutnya, nasib seluruh kota menjadi taruhan!
Mantan Suami Idola Amerika
Mantan Suami Idola Amerika
Seorang penulis muda membantu aktris Hollywood yang sedang naik daun, tapi sepuluh tahun kemudian, ia menjadi bapak rumah tangga yang nyaris tak diakui. Ketika mantan kekasih sang istri muncul kembali, Daniel memutuskan untuk menceraikan Bintang Amerika. Namun, ketika sang istri sadar kehilangan, mungkin sudah terlambat.
[Versi suara dubbing] Pembalasan Dendam Penyembuh Penyihir
[Versi suara dubbing] Pembalasan Dendam Penyembuh Penyihir
Santo penyihir penyembuh melakukan perjalanan waktu dan menjadi orang yang diperlakukan buruk. Setelah keluar dari penjara, dia menolak keluarganya, menyembuhkan kegilaan seorang pemimpin kaya, menyerang balik keluarga buruknya, dan memenangkan kasih sayang pemimpin tersebut.
Hati Sang Pahlawan (Sulih Suara)
Hati Sang Pahlawan (Sulih Suara)
Denis dipaksa orang tuanya dan Mila yang dicintainya untuk melepaskan masa depannya yang cerah ke Hanif demi balas budi. Denis yang sakit hati memutuskan untuk meninggalkan rumah. Setelah kepergiannya, Mila barulah menyadari kebenaran dari Hanif. Ia sangat menyesal dan gila-gilaan mencari Denis, namun di saat itu Denis sudah bersama orang lain.
Pelukan landak
Pelukan landak
Di malam pernikahan, Vivian dan Bagus saling menipu demi gengsi. Wanita kuat dan dokter genit itu awalnya hanya menikah pura-pura, tapi dari kebohongan tumbuh cinta yang sungguh.
Segala Sedih akan Berganti Bahagia
Segala Sedih akan Berganti Bahagia
Ida dan Owen telah menikah selama lima tahun dan memiliki hubungan yang penuh kasih sayang. Pada ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, Ida tanpa sengaja memergoki Owen berperilaku intim dengan adik kelasnya. Owen telah menyiapkan panggung untuk wanita itu, mengizinkannya memakai kostum opera milik nenek Ida. Ida dengan marah menegurnya, tetapi kata-kata suaminya tampak memihak wanita tersebut. Menyadari kalau pernikahan ini akan berakhir, Ida dengan tegas menarik investasinya dari perusahaan suaminya dan menjual semua sahamnya. Kemudian dia memesan tiket pesawat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya, melanjutkan karier opera tradisional yang telah dimulainya lima tahun lalu, dan menghilang sepenuhnya dari dunia Owen.