Bab 1
Sejak sahabat masa kecil Irfan meninggal, dia membenciku selama sepuluh tahun penuh.
Hari kedua setelah menikah, dia langsung mengajukan diri ke organisasi untuk pergi ke perbatasan.
Selama sepuluh tahun itu, aku menulis surat tanpa henti, berusaha menunjukkan ketulusanku. Tapi, balasan yang kuterima selalu hanya satu kalimat.
[Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, lebih baik cepat mati saja!]
Namun, saat aku diculik, dia malah menerobos markas penjahat seorang diri, menembus hujan peluru demi menyelamatkanku.
Sebelum meninggal, dengan sisa tenaganya, dia menepis tanganku dengan keras.
“Menikah denganmu… adalah penyesalan terbesarku….”
“Kalau ada kehidupan berikutnya, kumohon jangan pernah datang menggangguku lagi….”
Di pemakaman, ibu Irfan menangis penuh penyesalan.
“Anakku, ini salahku… aku nggak seharusnya memaksamu….”
Ayah Irfan juga menatapku penuh kebencian.
“Kamu sudah membunuh Selina, sekarang juga membunuh anakku. Dasar pembawa sial! Kok kamu nggak mati saja?!”
Bahkan komandan yang dulu mati-matian mendukung pernikahan kami hanya bisa menggeleng dan menghela napas.
“Ini salahku yang dulu memisahkan mereka, aku benar-benar bersalah pada Irfan.”
Semua orang merasa kasihan pada Irfan.
Termasuk diriku sendiri.
Aku dikeluarkan dari organisasi dan malam itu juga, aku menelan racun di tengah sawah yang sepi.
Saat membuka mata kembali, aku mendapati diriku kembali ke malam sebelum pernikahan.
Kali ini, aku memutuskan untuk merelakan semuanya.
“Miselia, jangan kira dengan mengandalkan jasa militer untuk memaksaku menikahimu, aku akan jatuh cinta padamu. Itu nggak mungkin!”
Setelah sepuluh tahun, aku kembali mendengar ejekan yang begitu familiar itu.
Irfan yang muda berdiri tepat di hadapanku, nyata dan hidup.
Dengan seragam militernya, dia tampak begitu gagah berani.
Namun, sindiran di wajahnya tetap tak bisa disembunyikan, menusuk hatiku hingga terasa perih.
Ternyata aku tidak mati dan malah kembali ke sepuluh tahun yang lalu.
Aku menahan perih di hati, menatap wajah yang kurindukan selama sepuluh tahun dengan mata tanpa berkedip.
“Aku tahu orang yang kamu cintai itu Selina. Wanita yang ingin kamu nikahi juga dia, ‘kan?”
Alis Irfan berkerut, matanya tampak penuh kewaspadaan.
“Kalau kamu sudah tahu, emangnya kenapa? Kuperingatkan padamu, jangan coba-coba main licik di belakangku, aku….”
“Aku akan merelakan kalian berdua.”
Ujarku memotong ucapannya dengan pelan.
Irfan menatapku tajam.
Lalu beberapa saat kemudian, dia berkata dengan dingin, “Aku nggak ada waktu mendengar omong kosongmu. Cepat tanda tangan, dokumen ini masih harus diserahkan ke komandan untuk diarsip.”
Dia melemparkan lembaran pengajuan dari komandan ke arahku, lalu berbalik pergi.
Melihat sosoknya yang menghilang, hatiku kembali terasa seperti ditusuk jarum.
Di kehidupan sebelumnya, aku benar-benar mencintainya habis-habisan.
Hanya karena dia pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanku, aku salah mengira kalau dia juga punya perasaan padaku.
Bahkan orang tuanya pun pernah berkata, “Irfan memang mulutnya tajam, tapi sebenarnya hatinya lembut. Kalau dia nggak menyukaimu, mana mungkin dia nekat mempertaruhkan nyawanya untuk menolongmu?”
Namun setelah menikah, aku baru sadar betapa salahnya diriku.
Begitu mendengar Selina bunuh diri, Irfan langsung mengajukan diri pindah tugas ke perbatasan.
Meninggalkanku sendirian selama sepuluh tahun lamanya. Pada akhirnya malah dikhianati orang terdekat dan dicemooh semua pihak.
Aku masih ingat jelas, saat diam-diam pergi ke perbatasan untuk menemuinya, aku mendengar sendiri apa yang Irfan katakan pada rekannya dalam keadaan mabuk.
“Aku nggak seharusnya menikahi Miselia, nggak seharusnya mengikuti kata-kata orang tuaku dan lebih nggak seharusnya nggak berada di sisi Selina saat dirinya paling membutuhkanku.”
“Aku benar-benar menyesal….”
Kata-katanya sebelum meninggal yang menyuruhku untuk jangan mengganggunya lagi, benar-benar membuatku terpuruk.
Ternyata, cintaku padanya selama sepuluh tahun, malah menjadi siksaan sepuluh tahun baginya.
Kesalahannya yang paling fatal adalah bertemu denganku.
Untungnya, takdir memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal.
Kali ini, aku tidak akan membiarkannya mati karena aku.
Merelakan dirinya adalah sebagai balas budi dariku karena dulu dirinya pernah menyelamatkan nyawaku.
Setelah semua ini selesai, semuanya akan kembali ke kehidupan masing-masing.
Aku tidak akan lagi mengganggunya di sisa hidupku.
….
Aku mengambil berkas pengajuan yang tergeletak di lantai. Di kolom nama mempelai perempuan, aku menuliskan nama Selina.
Lalu, aku pun melangkah ke pintu gerbang dan bersiap untuk naik mobil.
Bab 2
Irfan reflek ingin meraih berkas pengajuan dari tanganku, tapi aku cepat-cepat menghindar.
“Ini juga akan diserahkan ke komandan untuk diarsip. Kamu biasanya sibuk, biar aku saja yang antarkan.”
Dia menatapku dengan curiga.
“Ada apa denganmu hari ini? Sudah gila?”
“Sudahlah, terserah kamu.”
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.
Sepertinya aku benar-benar sudah gila.
Karena hidup kembali, kali ini akhirnya aku bisa melepaskan diriku sendiri.
Setelah masuk mobil, kami berdua sama-sama tidak berbicara.
Mungkin keheningan ini membuatnya tidak nyaman, dia pun berdeham dua kali, lalu malah membuka percakapan duluan.
“Katanya malam ini ada pertunjukan dari grup seni. Kalau nggak ada kegiatan di markas nanti, bagaimana kalau kita pergi menonton?”
Aku agak terkejut dan menoleh melihatnya.
Di kehidupan sebelumnya, justru aku yang mengajukan ajakan itu.
Saat itu, bibirnya terkatup rapat dan wajahnya tampak kesal.
“Aku menikah denganmu, itu karena paksaan orang tuaku, bukan untuk bermesraan denganmu. Sebaiknya kamu ingat baik-baik hal itu!”
Jadi, kali ini aku memilih diam saja.
Melihat aku melamun lama, Irfan pun tampak sedikit kesal.
“Kalau nggak mau, ya sudah….”
“Ayo!”
Ujarku memotongnya.
“Tentu saja mau.”
Melihat sudut bibirku yang tak bisa menahan untuk tersenyum, Irfan membuka mulutnya, seakan ingin berkata sesuatu. Tapi akhirnya, dia hanya diam sambil menyalakan mesin mobil.
“Kalau begitu, tunggu aku setelah makan malam nanti….”
Belum selesai dia bicara, seorang anggota grup seni buru-buru berlari ke depan mobil.
“Gawat, Kapten Irfan! Terjadi sesuatu pada Selina!”
Mobil mendadak berhenti.
“Aku pergi lihat, kamu pulang sendiri dulu.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya, pergilah.”
Padahal Irfan terlihat buru-buru, tapi setelah mendengar jawabanku, dia malah berhenti dan perlahan menoleh melihatku.
“Kamu… nggak cemburu?”
Hatiku terasa getir. Kalau cemburu bisa menyelesaikan semuanya, aku tidak akan membuang-buang sepuluh tahun hidupku di kehidupan sebelumnya.
Belum sempat aku menjawab, dia sudah lebih dulu memperingatkanku dengan dingin, “Nggak peduli apa yang sedang kamu rencanakan, sebaiknya berhenti sekarang juga!”
Irfan pun buru-buru pergi.
Sama sekali tidak menyadari kepahitan dan kekecewaan di tatapanku.
Di dua kehidupan ini, aku tidak pernah menghalangi rasa sayangnya pada Selina.
Aku tahu hal itu diluar kuasaku.
Aku pun pulang sendiri.
Begitu masuk ke rumah, ibu Irfan yang mendengar suara dari halaman sebelah, langsung memanggilku dengan ramah.
“Miselia, berkas pengesahan dari markas sudah turun, ‘kan?”
Kemudian, dia menoleh ke belakangku dan alisnya berkerut.
“Di mana Irfan? Kok dia nggak pulang bersamamu?”
Aku tersenyum, menjawab bahwa dia ada urusan mendadak di markas.
Wajah ibu Irfan langsung memuram.
“Anak kurang ajar! Kerjaan apa yang lebih penting dari istri? Bakal kuberi pelajaran begitu dia pulang nanti!”
Ayah Irfan hanya bisa menggeleng tak berdaya.
“Anak itu memang semakin lama semakin keterlaluan. Miselia, jangan dimasukkan ke hati, ya.”
Mendengar itu, mataku langsung terasa perih.
Sepuluh tahun lamanya, aku tak pernah merasakan suasana sehangat ini.
Kalau saja Irfan tidak bertengkar dengan mereka karenaku di kehidupan sebelumnya, sebenarnya mereka berdua selalu memperlakukanku seperti putri kandung sendiri.
Aku ingin jujur pada mereka.
Namun, kata-katanya seolah tertahan, tak sanggup terucap.
Akhirnya, aku hanya menggenggam tangan ibu Irfan dan berkata pelan,
“Tante, terima kasih untuk semua perhatianmu dan om selama ini.”
“Aku pasti akan membalas kebaikan kalian.”
Ibu Irfan menjawab dengan lembut, “Dasar anak bodoh, untuk apa dibalas? Kamu bisa menikah dengan putraku saja, aku sudah sangat bahagia.”
Aku tidak berbicara lagi, hanya menggenggam erat tangannya.
Di kehidupan ini, aku bukan lagi istri Irfan.
Dengan begitu, Irfan tak perlu lagi hidup dengan penuh keterpaksaan.
Dia juga bisa mengejar orang yang dia cintai, bisa menjalani hidupnya dengan bebas.
Dan kedua orang tuanya pun tidak akan lagi dimusuhi anak mereka seumur hidup, hanya karena pernah membantu memisahkannya.
Menjelang senja, aku membawa tiket yang sudah kubeli dan tiba di depan gedung teater grup seni.
Namun sampai acara usai, sosok Irfan sama sekali tidak terlihat.
Aku tahu, dia mengingkari janjinya lagi kali ini.
Bab 3
Aku tidak merasa marah sedikit pun, hanya duduk sendirian di bangku taman.
Menatap bintang-bintang yang berkelip di langit malam, suasana ini membuatku teringat begitu banyak kenangan.
“Sudah lama sekali aku nggak melihat langit penuh bintang seperti ini….”
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari samping dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku.
Plak!
Pipiku terasa panas terbakar dan aku terdiam di tempat.
Wajah Irfan terlihat muram dan menakutkan, api amarah di matanya hampir meluap keluar.
“Miselia, dasar wanita kejam! Berani-beraninya menyuruh orang mempermalukan Selina, sampai dia ketakutan dan nekat mengiris pergelangan tangannya!”
“Aku sudah setuju untuk menikah denganmu, itu masih belum cukup?!”
“Haruskah sampai membuatnya mati dulu, baru kamu puas?!”
Tak mampu menahan amarah, Irfan kembali menamparku dengan keras.
Aku bahkan tidak diberi kesempatan bicara, langsung diseretnya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di klinik, aku melihat Selina terbaring di ranjang dengan wajah yang pucat.
Balutan di pergelangan tangannya merembes darah segar, jelas bahwa kabar percobaan bunuh dirinya bukan kabar bohong.
Saat aku masuk, meski matanya terpejam, bibirnya tetap bergumam,
“Maaf, aku yang nggak seharusnya mengganggu Kak Irfan. Kumohon lepaskan aku, jangan pukul aku lagi….”
Baru saja aku hendak bertanya, Irfan dari belakang langsung mendorongku keras.
Aku terhuyung menabrak sudut meja, rasa sakit yang menusuk membuat wajahku pucat seketika.
Namun, yang kulihat hanyalah tatapan Irfan yang semakin tajam.
“Lihat apa yang sudah kamu perbuat!”
“Cepat minta maaf pada Selina!”
Aku menatap Irfan dengan linglung dan berkata, “Tapi, bukan aku….”
“Kamu berbohong!”
Irfan benar-benar murka.
Untung perawat masuk tepat waktu, sehingga Irfan tak sempat melampiaskan amarahnya di depan umum.
“Pasien kehilangan terlalu banyak darah, harus segera ditransfusi.”
Irfan langsung mencengkeram lenganku.
“Dia juga golongan darah AB, ambil saja darahnya!”
Jadi, alasan Irfan menyeretku ke sini adalah untuk mendonorkan darah untuk Selina.
Padahal dia tahu jelas bahwa tubuhku lemah sejak kecil dan anemia, kalau nekat mendonorkan darah, bisa-bisa membahayakan tubuhku sendiri.
Namun, Irfan tidak peduli. Dia tetap menggulung lenganku.
“Ini hutangmu padanya!”
Jarum besar menembus kulitku, darah segar mengalir masuk ke tabung. Aku mendongak, menatap Irfan yang berdiri di samping, seakan menjaga agar aku tidak kabur.
“Irfan.”
“Pernahkah kamu menyesal karena telah menolongku dulu?”
Irfan terdiam dan menundukkan pandangan.
“Nggak menyesal. Siapapun orangnya hari itu, aku pasti tetap akan menolong.”
Aku tersenyum dan memalingkan wajah agar dia tak melihat air mataku yang jatuh.
Saat perawat mencabut jarumnya, aku pun berdiri. Tapi, rasa pusing yang kuat membuat tubuhku terhuyung.
Irfan reflek hendak menahanku, tapi aku menepis tangannya.
“Irfan, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi.”
“Aku akan melepaskanmu dan juga melepaskan diriku sendiri.”
Setelah terlahir kembali, aku baru sadar bahwa diriku dan dia itu bagaikan dua sulur berduri.
Semakin erat melilit, semakin parah pula lukanya.
Hingga tenaga terkuras habis, barulah aku menyadari bahwa kami memang tak seharusnya bertemu.
Sekilas, kegelisahan dan kebingungan melintas di mata Irfan.
“Apa… apa yang kamu katakan?! Apa maksudmu melepaskanku? Kita sudah mau menikah sebentar lagi, kamu….”
Belum selesai dia bicara, seorang perawat berlari masuk.
“Kapten Irfan, Bu Selina sudah bangun. Dia merengek ingin bertemu denganmu….”
Kening Irfan berkerut, tampak ragu sesaat, lalu menoleh melihatku.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Pergilah, orang sakit lebih penting.”
Irfan memandangku dengan ekspresi aneh, tapi tetap beranjak pergi.
“Aku bakal segera kembali. Tunggu sebentar, nanti aku antar pulang.”
Aku tidak menjawab, hanya menatap sosoknya yang menjauh.
Lalu, aku bergumam dalam hati, “Maaf, aku nggak seharusnya hadir dalam duniamu.”
“Irfan, semoga kamu bisa hidup dengan tenang, aman dan penuh kebahagiaan di sisa hidupmu.”