Bab 5
Maisha menatap Harvey dengan bingung. Dia tidak pernah mendengar kabar bahwa Harvey telah menikah.
"Tuan Harvey, kami telah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun dan tidak mengetahui berita di dalam negeri. Apa hubungan putriku dengan kamu?"
Harvey menatap Maisha dengan tenang, lalu berujar dengan wajah tanpa ekspresi, "Meskipun ada hubungan, itu sudah berlalu. Sekarang aku sedang dalam proses perceraian."
Selena tidak menyangka bahwa ketulusannya selama bertahun-tahun hanya menjadi masa lalu yang terucap dari bibir Harvey.
Marah? Tentu saja Selena marah.
Yang lebih membuatnya patah hati adalah dirinya yang buta ini telah menganggap makhluk yang sadis bagaikan hewan itu sebagai harta yang berharga.
Selena mengeluarkan kotak cincin berlian, lalu melemparkannya dengan keras ke kepala Harvey sambil berkata, "Bajingan, berengsek! Hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah berhubungan denganmu. Besok jam sembilan kita ke Kantor Catatan Sipil. Yang tidak datang adalah pecundang!
Kotak itu menghantam kening Harvey hingga memerah, lalu benda itu terjatuh ke lantai. Cincin pun terlempar ke sisi kakinya. Kali ini Selena tidak lagi melirik Harvey sama sekali. Dia langsung menginjak cincin itu dan pergi setelah membanting pintu.
Selama dua tahun terakhir, Selena sudah mengalami banyak hal. Hal kali ini seperti menjadi puncak dari segala beban yang dia tanggung. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, akhirnya dia pun pingsan di pinggir jalan.
Melihat tetesan hujan yang tak henti-hentinya turun dari langit, dunia ini bagaikan sedang bermusuhan dengannya.
Dia merasa ingin mati saja.
Di dunia yang penuh tipu daya ini, dia tidak memiliki apa pun yang bisa dirindukan.
Saat terbangun lagi, Selena berada di sebuah kamar yang asing. Cahaya kuning yang hangat mengusir kegelapan, suhu hangat di ruangan itu terasa seperti musim kemarau.
"Kamu sudah bangun."
Selena membuka matanya dan melihat mata Lewis yang lembut. "Kak Lewis, kamu yang menyelamatkanku?"
"Aku melihatmu pingsan di pinggir jalan saat aku pulang kerja, jadi aku bawa kamu pulang. Aku lihat bajumu basah kuyup, jadi aku suruh pembantu untuk mengganti bajumu."
Pria itu memiliki tatapan mata yang jernih, bersih, dan tulus, tanpa sedikit pun nafsu.
"Terima kasih, Kak," ujar Selena.
"Aku sudah memasak bubur, kamu minum air hangat dulu."
Selena membuka selimut dan turun dari tempat tidur. "Tidak perlu, Kak. Sudah larut malam, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Selena.
Selena yang bertubuh lemah, langsung terjatuh ke tanah saat kakinya baru saja menyentuh lantai. Lewis dengan cepat menolongnya berdiri, aroma deterjen yang harum dari tubuh pria itu tercium di hidung Selena.
Ini sama seperti deterjen pakaian yang dipakai di rumahnya. Tubuh Harvey dulu juga berbau seperti ini.
Setiap kali memikirkan Harvey, pasti ada rasa sakit yang menusuk hatinya.
"Kamu sekarang terlalu lemah. Jika ingin hidup lebih lama, jangan terlalu memaksakan diri." Lewis menasihati dengan lembut, "Anggap saja ini demi ayahmu."
Mata Selena yang tidak tadinya bersinar, saat ini baru saja menunjukkan sedikit harapan. "Kalau begitu, aku akan merepotkanmu," kata Selena.
Selena melihat pria itu sedang sibuk di dapur. Sebenarnya Selena dan Lewis tidak sering berhubungan. Selena baru saja masuk tahun pertama kuliah saat Lewis sudah di tahun keempat. Lewis yang menyerahkan penghargaan kepada Selena ketika Selena terpilih sebagai mahasiswa teladan.
Waktu itu, Lewis sudah magang di rumah sakit terkenal. Dia jarang berada di kampus. Kemudian, Selena bertemu Lewis di rumah sakit. Setelah itu, barulah Selena dan Lewis mulai lebih sering berhubungan.
Hubungan ini tidak bisa menjadi alasan bagi Selena selalu merepotkan Lewis.
Selena baru merasa perutnya sedikit lebih nyaman setelah makan bubur dan minum obat mag.
Lewis kembali membahas masalah kemoterapi. "Ilmu kedokteran sekarang sangat canggih. Kamu baru di stadium lanjut, beberapa pasien kanker stadium lanjut masih bisa hidup. Jadi kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Kemoterapi adalah cara pengobatan yang sangat efektif," jelas Lewis.
Selena menundukkan kepalanya sambil berkata, "Aku juga mahasiswa kedokteran, aku tahu manfaat dan efek samping kemoterapi."
Lewis melanjutkan nasihatnya, "Kesempatan sembuh setelah kemoterapi dan operasi sangat besar. Efek sampingnya memang besar, tetapi jika kamu memiliki keyakinan untuk bertahan … "
Selena perlahan mendongak. Matanya berkaca-kaca. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Bibirnya bergetar dan suaranya gemetar saat berkata, "Tetapi … aku sudah tidak tahan lagi."
Lewis ingin menghibur Selena, tetapi kata-katanya terhenti di bibirnya. Dia tidak bisa mengatakan apa pun saat melihat mata Selena yang memerah. Hati Lewis terasa agak tersumbat.
Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Selena, apakah tidak ada orang yang kamu pedulikan di dunia ini?"
Selena terdiam sejenak, lalu perlahan menjawab, "Hanya ayahku."
"Kalau begitu, demi ayahmu, kamu juga harus hidup dengan baik."
Selena tersenyum pahit sambil berkata, "Terima kasih, Kak. Aku sudah merasa tubuhku jauh lebih nyaman, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Lewis melihat bahwa cincin kawin Selena yang tidak pernah lepas dari tangannya itu telah menghilang. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kamu mau ke mana? Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku sudah memanggil taksi, sebentar lagi akan tiba." Selena menolak dengan tegas, sehingga Lewis pun hanya bisa setuju. Namun, Lewis memiliki pemikiran lain. Selena tampak sedih saat mengatakan hal itu tadi, sehingga Lewis takut Selena akan bunuh diri, jadi dia diam-diam mengikuti Selena dari belakang.
Mobil melaju hingga ke tepi sungai. Selena sendirian melamun sambil menatap air sungai. Meskipun hujan telah berhenti, suhu udara tetap masih sangat rendah. Lewis awalnya ingin menghampirinya untuk membujuk Selena, tetapi sebuah MPV tiba-tiba berhenti di samping Selena.
Pintu mobil terbuka, seorang pria berpenampilan elegan yang telah lama menjadi topik utama di majalah ekonomi muncul di bawah lampu jalan.
Lewis terkejut, lalu bertanya-tanya dalam hati, "Apa mungkin suami Selena adalah dia?!"
Angin sungai meniup rambut Selena, menambah kesan kesedihan pada dirinya yang sudah terlihat pucat. Harvey secara tidak sadar mengangkat tangannya dan ingin menyelipkan rambut Selena ke belakang telinga, tetapi dia segera menahan keinginan itu.
"Ada masalah?"
Selena menatapnya dengan sorot mata yang dingin, seolah mengenali wajah pria itu dengan jelas.
"Apakah kebangkrutan Keluarga Bennet ada hubungannya denganmu?" tanya Selena.
"Ya."
Selena bertanya dengan cuek, sementara Harvey menjawab dengan lebih tegas.
"Apakah anak itu adalah anakmu?" Selena mengajukan pertanyaan kedua.
Matanya menatap Harvey tanpa berkedip. Selena sangat berharap bahwa dirinya sendirilah yang telah berpikir terlalu jauh. Namun, Harvey justru tidak berniat untuk menyangkal, bahkan pria itu menjawab dengan tenang, "Ya."
Selena maju dua langkah, lalu menampar wajah Harvey sambil berseru, "Harvey, kamu tidak tahu malu!"
Pria itu dengan mudah menangkap pergelangan tangan Selena, lalu satu tangannya yang lain membelai bekas air mata di wajah Selena. "Sakit?" tanya Harvey.
"Dasar bajingan! Kenapa kamu harus memperlakukanku seperti ini? Memangnya apa kesalahan yang telah Keluarga Bennet lakukan padamu?!"
Harvey menatap Selena dengan tatapan dingin dan tanpa belas kasihan. Dengan suaranya terdengar dingin dan menusuk, Harvey berkata, "Selena, jika kamu ingin tahu jawabannya, kamu bisa pulang dan bertanya pada ayahmu sendiri apa yang telah dia lakukan."
Selena bertanya dengan suara terbata-bata, "Harvey, apakah kamu pernah mencintaiku?"
Dengan sepasang mata hitam yang menunjukkan ketidakpedulian, Harvey dengan perlahan menjawab, "Tidak. Sejak awal, kamu hanyalah sebuah bidak di tanganku."
Air mata Selena mengalir deras hingga jatuh di punggung tangan Harvey. Angin dingin berembus, dan kehangatan yang tersisa pun dengan cepat menjadi dingin.
"Kamu membenciku, 'kan?"
"Ya. Ini adalah utang Keluarga Bennet padaku. Selena, siapa suruh kamu adalah putrinya Arya? Aku ingin kamu hidup setiap hari dalam kesakitan untuk menebus dosa demi adikku!"
"Bukankah adikmu sudah lama hilang? Apa hubungannya dengan Keluarga Bennet?"
Harvey menatap Selena dengan rasa merendahkan. Dia merasa seolah-olah dirinya adalah sosok paling berkuasa di dunia ini yang hendak menghukum Selena. "Selena, saat kamu menikmati semua kasih sayang dari semua orang, adikku mengalami siksaan yang tidak manusiawi. Kamu bisa menebaknya sendiri, aku tidak akan memberitahumu kebenarannya. Aku ingin membuatmu hidup dalam ketakutan selamanya, dan merasakan semua penderitaan yang dialami adikku!" seru Harvey.
Harvey masuk ke mobil sambil meninggalkan sepatah kata dengan nada bicara yang dingin, "Besok jam sembilan, aku tunggu kamu di Kantor Catatan Sipil."
Selena dengan cepat mengejarnya dan terus-menerus memukul pintu mobil. "Katakan dengan jelas, apa yang terjadi dengan adikmu?" tanya Selena.
Mobil itu melaju dengan cepat begitu pedal gas diinjak. Selena pun kehilangan keseimbangan tubuhnya hingga terjatuh ke tanah dengan keras.
Bab 6
Angin sungai yang dingin bertiup ke arahnya terasa begitu dingin, bagaikan pisau yang menusuk ke sumsum tulang. Selena bangkit berdiri dan lanjut mengejar.
Selena meremehkan kondisi tubuhnya saat ini. Baru berlari beberapa meter, dia sudah terjatuh dengan keras lagi. Pintu mobil terbuka kembali, sepasang sepatu kulit buatan tangan yang mengkilap berhenti di depan Selena.
Pandangan Selena perlahan-lahan menyusuri celana panjang pria yang lurus itu, hingga akhirnya dia menatap mata Harvey yang dingin.
"Har … " ucap Selena dengan lemah.
Sepasang tangan dengan urat yang terlihat jelas mendarat di tubuh Selena. Dalam seketika, Selena seperti melihat pemuda berpakaian putih yang pernah memukau dirinya di waktu dahulu. Dia pun tanpa sadar mengulurkan tangan kepada pria itu.
Saat tangan mereka saling berpegangan, Harvey dengan kejam melepaskan genggaman tangannya. Dia telah memberi harapan kepada Selena, tetapi dengan kejam menariknya kembali, hingga membuat tubuh Selena yang baru saja bangkit berdiri, kembali jatuh ke tanah dengan keras.
Selena semula tidak terluka. Pada saat terjatuh, telapak tangannya tepat mendarat di pecahan kaca yang ada di atas tanah. Darah yang berwarna merah mencolok itu pun mengalir dari telapak tangannya.
Harvey menyipitkan matanya, tetapi tidak melakukan apa pun.
Selena tiba-tiba melamun. Dia teringat dulu ketika jarinya terluka sedikit saja, dia dibawa ke rumah sakit oleh Harvey saat tengah malam.
Dokter yang bertugas bahkan tertawa dan berkata, "Pak, untung saja Bapak datang lebih awal. Kalau terlambat, pasti lukanya sudah sembuh sendiri."
Pria yang ada di dalam ingatannya itu terkesan sangat berbeda jauh dengan pria yang ada di depannya saat ini. Alis dan matanya masih sama seperti dulu. Namun, yang berbeda adalah perhatiannya yang telah berubah menjadi sedingin es.
Harvey berkata dengan nada bicara dingin dan tanpa perasaan, "Selena, kalau orang lain tidak paham, itu wajar. Tapi mana mungkin aku tidak memahami dirimu? Dulu kamu masih bisa jungkir balik setelah berlari sejauh 1.500 meter, tetapi sekarang kamu sudah terjatuh hanya setelah berlari beberapa langkah?
Pandangan Harvey pada Selena penuh dengan penghinaan, seakan-akan ada pedang dingin yang menggores-gores tubuh wanita itu.
Selena menggigit bibirnya yang pucat dan menjelaskan, "Bukan. Aku tidak membohongimu. Aku hanya sedang sakit dan merasa ... "
Belum selesai penjelasan itu disampaikan, pria tinggi itu sudah membungkuk, lalu mengangkat dagu Selena. Jari-jari kasarnya membelai bibir Selena yang kering sambil berkata, "Memang seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, kamu sama seperti ayahmu yang sangat munafik. Demi sedikit uang, kamu rela memainkan sandiwara yang begitu buruk."
Ucapan Harvey lebih menyakitkan daripada tiupan angin yang dingin. Kata-kata itu menikam hati Selena dengan sadis.
Selena dengan kasar menepis tangan Harvey dan berkata, "Ayahku orang jujur dan selalu melakukan hal yang terpuji dalam hidupnya, aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal yang jahat!"
"Hah?!" Harvey hanya bisa tertawa dengan ekspresi kejam, sepertinya dia tidak ingin berdebat dengan Selena tentang hal ini. Dia mengeluarkan selembar cek dari dompetnya, lalu mengisinya dengan sembarang angka dan meletakkannya di depan Selena.
"Mau?"
Sepuluh miliar rupiah. Jumlah itu cukup besar, setidaknya bisa membuat Selena tidak perlu mengkhawatirkan biaya pengobatan Arya selama beberapa waktu.
Namun, Harvey jelas-jelas tidak sebaik itu, sehingga Selena pun tidak menerimanya.
"Syaratnya?"
Harvey bergumam di samping telinga Selena, "Asalkan kamu mengatakan bahwa Arya lebih hina daripada binatang, uang ini akan menjadi milikmu."
Setelah mendengar kata-kata ini, ekspresi wajah Selena langsung berubah drastis. Dia mengangkat tangan dan hendak menampar Harvey. Namun, Harvey berhasil menangkap pergelangan tangan Selena. Tangan Selena yang terluka dalam pergulatan itu berhasil menepuk kemeja Harvey hingga meninggalkan bekas tangan yang berlumuran darah.
Harvey mengencangkan cengkeramannya, lalu berkata nada bicaranya yang menjadi lebih keras lagi, "Kenapa? Kamu tidak mau? Kalau begitu, biarkan dia mati di rumah sakit saja. Aku sudah memilihkan tempat pemakamannya."
"Harvey, mengapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Selena dengan berlinang air mata.
Pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup dan tidak akan membiarkannya menangis ini, sepertinya hanya ada di dalam sebuah mimpi. Sekarang air matanya hanya menjadi alat untuk menyenangkan pria ini.
Bahkan meskipun cahaya lampu jalan berwarna kuning yang remang-remang itu menyinari wajah Harvey, tetap tidak tampak sedikit pun kehangatan. Hanya ada ketidaksabaran di wajahnya. "Tidak mau bicara?" tanyanya lagi.
Harvey melepaskan Selena, lalu perlahan-lahan merobek cek itu.
Selena menerjang ke arah Harvey untuk mencegah merobek cek itu, tetapi dia didorong oleh Harvey dengan kasar. Harvey bertindak seperti orang yang paling berkuasa di dunia. Dia menatap Selena dengan sorot mata dingin sambil berkata, "Aku sudah memberimu kesempatan."
Sobekan-sobekan kertas itu bagaikan harapan Selena yang hancur berkeping-keping, akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang beterbangan di udara dan jatuh di sampingnya.
"Tidak, jangan!" Selena dengan panik mencoba untuk mengumpulkan sobekan-sobekan kertas itu. Air matanya pun berjatuhan di tanah.
Dia terlihat panik seperti anak kecil yang kehilangan segalanya, sungguh tak berdaya dan kebingungan.
Harvey pun berbalik badan dan pergi. Saat akan naik ke mobil, dia mendengar suara benturan keras. Saat dia menoleh, terlihat seseorang pingsan di atas tanah.
Sopirnya, yaitu Alex, tampak cemas. "Pak Harvey, Nyonya sepertinya pingsan, apakah kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Alex.
Harvey menatap Alex dengan dingin dan berkata, "Kau sangat peduli padanya?"
Alex sudah lama bekerja untuk Harvey. Dia tahu bahwa dulu Harvey sangat mencintai sang nyonya. Namun, sejak dia pergi untuk mengidentifikasi jenazah, dia telah berubah menjadi orang yang sangat berbeda.
Bagaimanapun, ini adalah urusan keluarga mereka, jadi Alex pun tidak berani banyak bertanya. Dia hanya bisa mengemudikan mobil dengan patuh.
Sambil mobil itu berjalan semakin jauh, Harvey memandangi wanita yang tidak mampu bangkit berdiri itu melalui kaca spion. Ekspresi menghina di wajahnya tampak semakin kentara.
"Sudah lama tidak bertemu, Selena malah makin pandai bersandiwara," pikirnya.
Meskipun Selena dibesarkan dengan segala kemewahan dan kasih sayang, Arya sudah memintanya berlatih berbagai macam olahraga sejak kecil untuk memperkuat tubuhnya. Hal ini dilakukan agar putrinya tidak diganggu oleh orang lain.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang memiliki sabuk hitam Taekwondo, mahir dalam kickboxing, dan bertenaga sekuat kerbau itu, bisa pingsan dengan begitu mudah?
Di mata Harvey, ini hanyalah akting yang dilakukan Selena hanya demi uang saja.
Setelah berpikir demikian, Harvey pun mengalihkan pandangannya yang dingin itu, tidak lagi melirik ke arah Selena.
Setelah melihat mobil Harvey menghilang dari pandangan, barulah Lewis terburu-buru berjalan ke sisi Selena.
Selena kembali terbangun. Pemandangan yang tampak di hadapannya adalah kamar yang baru saja dia tinggalkan belum lama tadi. Infus terpasang di punggung tangannya, cairan dingin mengalir perlahan melalui pembuluh darahnya yang membiru, dan luka di tangan kirinya sudah dibalut.
Jam dinding berukir kepala rusa di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Belum sempat dia berbicara, suara Lewis yang lembut sudah terdengar, "Maaf, aku khawatir kamu akan melakukan hal bodoh, jadi aku mengikutimu.
Selena ingin duduk, Lewis pun segera memberinya satu bantal tambahan dan memberinya minum air. Setelah merasa lebih nyaman, Selena berkata, "Apakah Kak Lewis melihatnya?"
"Maaf, aku tidak bermaksud mengintip privasimu."
Wajah Lewis tampak polos bagai kertas kosong. Ekspresinya bisa terlihat dengan jelas, tidak seperti Harvey.
"Tidak apa-apa, aku adalah istrinya, itu bukan hubungan yang tidak bisa dilihat orang."
Melihat ekspresi Lewis yang bingung, Selena pun berkata sambil tersenyum pahit, "Benar juga. Semua orang mengira Agatha adalah calon istrinya. Kalau kamu tidak percaya, aku juga ... "
Lewis dengan cepat memotong perkataan Selena, "Tidak. Aku percaya. Aku mengenali cincin kawinmu. Itu adalah model edisi terbatas dari SL tiga tahun yang lalu dan hanya ada satu di dunia. Sebuah majalah pernah menulis bahwa itu adalah cincin yang dirancang oleh bos SL untuk istrinya sendiri. Aku tahu bos SL yang sebenarnya adalah Harvey."
Lewis dulu pernah mencoba mengaitkan hubungan antara Selena dengan Harvey. Namun, setelah mendengar adanya desas-desus antara Harvey dan Agatha, ditambah dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah melihat Harvey di rumah sakit selama dua tahun terakhir, dia pun menyangkal pemikiran itu.
Selena tanpa sadar menyentuh jarinya yang dulunya mengenakan cincin kawin itu. Jari itu sekarang kosong. Area pada kulit di jarinya itu tampak lebih pucat daripada di sekitarnya, seolah-olah mengingatkannya pada pernikahannya yang konyol.
"Sudah tidak penting lagi apakah aku masih istrinya atau bukan, besok jam sembilan pagi kami akan bercerai."
"Apakah dia tahu tentang kondisimu?" tanya Lewis.
"Dia tidak berhak tahu."
Bab 7
Suara Selena terdengar begitu tenang ketika dia menyebutkan orang itu, dia sepertinya sudah tidak peduli lagi.
Namun, Lewis tahu betul bahwa tidak mungkin Selena tidak peduli lagi pada orang yang pernah dicintainya dengan tulus itu. Selena hanya berusaha menyembunyikan luka di hatinya dan mencoba mengobatinya sendiri ketika tidak ada orang di sekitarnya.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Lewis pun kemudian mengubah topik pembicaraan. "Aku tahu kamu belum melunasi biaya operasi ayahmu. Sebagai temanmu, aku akan meminjamkan uang terlebih dahulu kepadamu, nanti kamu kembalikan lagi kepadaku."
Lewis tahu bahwa tidak mudah bagi seorang gadis seperti Selena untuk mendapatkan uang. Lewis sudah berulang kali ingin membantu Selena, tetapi selalu ditolak olehnya.
Selena masih menggelengkan kepalanya kali ini sambil berkata, "Tidak perlu, Kak."
"Selena, kondisi ayahmu lebih penting. Apa kamu lebih suka dipermalukan oleh sampah itu daripada menerima niat baikku? Aku tidak mengajukan syarat apa pun, aku hanya ingin membantumu. Kamu tahu, meskipun keluargaku tidak sekaya Keluarga Irwin, tapi kami bukanlah keluarga biasa. Sejumlah uang ini masih tidak terlalu banyak bagiku. Jangan sampai hatimu merasa terbebani jika menerima bantuanku."
Selena melihat ke arah Lewis sambil memegang secangkir air dengan kedua tangannya. Wajahnya yang pucat itu membuat hati orang yang menatapnya merasa iba.
"Kak, aku tahu kamu adalah orang yang baik, tapi ... aku sudah tidak punya masa depan."
Baik budi maupun uang, Selena merasa tidak sanggup untuk membayar semua itu.
Melihat cairan di dalam botol infus yang hampir habis, Selena tanpa ragu langsung mencabut jarum infus. Karena tidak ada kapas untuk menghentikan pendarahan, darahnya pun menyembur keluar.
Namun, dia tidak peduli dengan hal itu. Dia berdiri sambil mengambil jaketnya dan berkata, "Kak, kamu tidak perlu khawatir tentang masalah uang. Asalkan kami sudah mendapatkan akta cerai, Harvey akan memberiku 20 miliar. Ayahku dioperasi kemarin, aku mau pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya."
Selena memang keras kepala. Hal ini juga terlihat ketika dia tiba-tibameninggalkan studinya untuk menikah. Padahal waktu itu dia dipuji sebagai seorang genius. Sungguh tidak ada orang yang menduga dia bisa mengambil keputusan itu.
Bahkan, ketika setiap kali makan bersama Lewis, dosen pembimbingnya sendiri selalu menyayangkan hal ini. Sayang sekali, entah siapa yang telah berhasil mengambil hatinya.
Tampaknya Selena tahu bahwa Lewis akan menawarkan diri untuk mengantarnya, sehingga Selena pun langsung mengangkat ponselnya dan berkata, "Taksi yang kupesan sudah tiba."
Dia benar-benar telah memutuskan harapan Lewis.
Selena menggulung jaketnya. Ketika jari tangannya memegang gagang pintu, di saat itu pula Lewis berkata, "Selena, apakah kamu pernah menyesal melepaskan segalanya untuk menikah dengannya?"
Menyesal?
Harvey adalah orang yang telah menyebabkan Keluarga Bennett menjadi seperti ini. Sedangkan Arya mengalami guncangan berat dalam hidupnya, ditambah lagi dengan kecelakaan yang membuat dia terbaring di rumah sakit. Di sisi lain, Selena sendiri kehilangan anaknya yang imut.
Selena seharusnya merasa menyesal. Namun, saat memejamkan mata, Selena pun teringat kembali pada peristiwa kecelakaan kapal pesiar itu. Pria yang mengangkat tubuhnya di tengah amukan badai, tidak lain adalah pemuda berpakaian putih yang pernah dia temui di sekolah.
Selena berusaha keras menahan air matanya dan berkata, "Aku tidak menyesal."
Terdengar suara "klekkk" saat pintu tertutup. Saat melihat sosok Selena yang berjalan semakin menjauh, perasaan Lewis menjadi campur aduk.
Sesampainya di rumah sakit, Arya masih dalam pemeriksaan di ICU. Selena hanya bisa menatapnya dari jauh. Dia menelan kembali semua pertanyaan yang ingin diajukannya.
Bagi Selena, Arya terkesan sebagai pria bijaksana yang rendah hati dan baik hati. Kedua orang tuanya tidak pernah bertengkar hebat sebelum mereka bercerai.
Meskipun Maisha sudah meninggalkannya selama beberapa tahun, tetapi Arya tidak menikah lagi. Selain bekerja, sisa waktunya digunakan untuk menemani Selena.
Harvey selalu membicarakan ayahnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar dia benci bukanlah Selena.
Dulu Selena pernah mendengar kalau Harvey punya seorang adik perempuan yang hilang sewaktu kecil ketika mereka masih bersama. Hal ini yang membuat ibunya menjadi sangat sedih dan terguncang jiwanya. Sampai-sampai ibunya itu harus tinggal di luar negeri sepanjang tahun.
"Apa hubungan antara adik perempuan Harvey yang menghilang dan Ayah?" pikir Selena.
Selena memutuskan untuk menelusurinya mulai dari orang-orang yang ada di sekitar ayahnya. Pagi-pagi sekali dia sudah bergegas menuju ke rumah sopir keluarganya, yaitu Pak Hermawan. Setelah itu, dia mengunjungi pengurus rumah tangga keluarganya, yaitu Pak Cipto.
Anehnya, orang-orang yang telah ikut bersama ayahnya sepanjang hidup mereka, selain ada yang mengalami kecelakaan mobil yang janggal, ada juga yang pergi ke luar negeri dan tidak dapat dihubungi lagi.
Sedangkan ayahnya yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran masalah ini, saat ini masih dalam keadaan koma. Selena menjadi seperti orang linglung yang tidak punya tujuan. Dia terus terjaga dari malam hingga pagi hari.
Hal-hal yang telah terjadi sampai saat ini jelas tidak bisa disebut sebuah kebetulan. Jelas sekali ada orang yang mendalanginya.
Selena juga tidak bodoh. Ketika tidak bisa mendapatkan informasi dari pihak Keluarga Bennett, Selena pun segera berusaha mencari petunjuk dari sopir dan asisten Harvey, yaitu Alex dan Chandra.
Selena melihat jam tangannya, sekarang baru jam tujuh. Saat ini mereka pasti sedang dalam perjalanan untuk menjemput Harvey. Selena pun langsung menelepon Chandra.
Untungnya, setelah beberapa kali berdering, ponsel itu pun diangkat oleh Chandra. Chandra tetap menyapa dengan sopan seperti biasanya, "Halo, Nyonya."
Selena sudah lama tidak mendengar sapaan seperti ini. Dia menahan rasa sedih di hatinya sambil segera berkata, "Pak Chandra, aku ada janji dengan Harvey untuk mengurus perceraian, bisakah kamu menjemputku dan pergi ke sana bersama?"
Chandra pun terdiam. Mereka sama seperti Harvey yang tidak suka dengan hal yang tidak terduga.
Selena buru-buru menambahkan, "Jangan salah paham, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya takut perceraian ini akan tertunda lagi jika terjadi hal yang tidak terduga pada hari ini. Biaya pengobatan ayahku di rumah sakit belum dilunasi. Aku ... "
Selena memiliki hubungan yang cukup baik dengan Alex dan Chandra. Dia tidak pernah memperlakukan keduanya dengan kasar. Oleh karena itu, ketika Selena tampak sedang dalam kondisi tidak berdaya, Chandra pun menyetujuinya, "Nyonya ada di mana? Aku akan segera ke sana."
Selena memberikan alamat yang paling dekat dengan mereka, yaitu jalan menuju Perumahan Kenali. Perumahan Kenali adalah tempat tinggal Agatha.
Meskipun Selena enggan mengakuinya, Harvey telah berkali-kali difoto oleh awak media ketika bermalam di sana. Harvey pasti tinggal di sana selama berbulan-bulan setelah berpisah dengan Selena.
"Maaf, Nyonya. Kami hampir sampai di Jalan Kalpika. Mungkin Nyonya harus menunggu selama dua puluh menit."
"Oke." Selena sedikit terkejut mendengarnya. "Jalan Kalpika?" pikirnya.
"Itu adalah jalan di dekat kediaman Keluarga Irwin. Jadi mereka tidak tinggal bersama?" pikirnya lagi.
Selena dengan cepat menyingkirkan pikiran ini. Apakah mereka tinggal bersama atau tidak, tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Alex pun tiba dengan cepat. Seperti biasa, Chandra dengan hormat membuka pintu mobil sambil berkata, "Maaf sudah lama menunggu, Nyonya."
Selena mengangguk dan masuk ke dalam mobil sambil menjawab, "Tidak lama."
Dibandingkan dengan Chandra yang cukup pendiam, Alex jauh lebih suka berbicara. "Mengapa Nyonya tidak tidur lebih lama di hari yang dingin begini? Ayam-ayam bahkan belum berkokok," ujar Alex.
Begitu Chandra memelototinya, Alex pun langsung terdiam. Saat Selena masuk ke dalam mobil, terasa suasana yang sedih dan hening, sampai akhirnya Selena pun berbicara dengan perlahan, "Dulu aku selalu berpikir bahwa perasaan Harvey yang berubah secara tiba-tiba itu adalah karena Agatha. Sekarang aku malah merasa masalah ini bukan hanya menyangkut seorang wanita. Kalian selalu bersama Harvey, kalian pasti tahu masalah tentang adik perempuannya."
"Criiit … "
Terdengar suara mobil yang mengerem secara mendadak. Alex menjauhkan tangannya dari setir dan buru-buru melambaikan tangannya sambil berkata, "Nyonya, tidak boleh asal bicara."
Chandra dengan tenang menjawab, "Nyonya tahu kami tidak pernah berani bertanya lebih banyak tentang urusan Tuan Harvey. Jangankan hal yang kami tidak tahu, sekalipun kami tahu, kami juga tidak akan berani memberitahukannya kepada Nyonya. Mohon dimengerti."
Selena menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir lewat jari-jarinya. "Aku tahu hal ini akan menyulitkan kalian, tapi aku sudah tidak punya cara yang lain. Harvey tidak mau mengatakan apa-apa. Ayahku baru saja dioperasi dan masih belum sadar. Sekarang kondisi Keluarga Bennett sudah merosot jadi seperti ini. Semua petunjuk pun tidak bisa ditelusuri. Sekalipun mati, aku hanya ingin mati dengan tenang. Itu lebih baik daripada terus disiksa olehnya siang malam."
"Nyonya, Tuan Harvey melarang kami membicarakan masalah Nona Agatha. Jadi kami juga tidak tahu banyak."
Chandra sepertinya menyadari bahwa Selena akan terus memohon kepada dirinya, sehingga dia pun langsung menuliskan serangkaian alamat di selembar kertas sambil berkata, "Nyonya, kita sudah lama saling kenal dan bersahabat, aku hanya dapat membantu Nyonya sampai di sini."