Bab 4
Ibu dari Selena, yaitu Maisha Osmond, pergi ketika Selena berusia delapan tahun. Hari itu adalah hari ulang tahun Arya. Selena pulang dengan penuh sukacita untuk mempersiapkan ulang tahun ayahnya, tetapi yang dia dapati justru surat cerai kedua orang tuanya.
Demi mengejar ibunya, Selena bahkan sampai terjatuh terguling dari tangga. Dia tidak menyadari sepatu yang sudah terlepas dari kakinya. Kemudian dia memeluk kaki Maisha dan terus menangis. "Ibu, jangan pergi!" serunya.
Wanita yang berpenampilan terhormat itu membelai pipi Selena yang lembut sambil berkata, "Maafkan Ibu."
"Ibu, aku mendapat peringkat pertama di kelasku kali ini, Ibu belum melihat kertas ulanganku, itu perlu ditandatangani oleh orang tua."
"Ibu, jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan nakal. Aku berjanji tidak akan pergi ke taman bermain lagi, aku tidak akan membuatmu marah lagi, aku akan patuh, aku mohon … "
Selena mengungkapkan ketidakrelaannya dengan rasa panik. Dia berharap wanita itu akan tetap tinggal. Maisha hanya memberitahunya bahwa pernikahannya dengan ayahnya tidak bahagia. Sekarang dia telah menemukan kebahagiaan sejatinya.
Selena melihat seorang pria yang tidak dikenalnya membantu ibunya memasukkan koper ke dalam mobil, lalu mereka pergi bergandengan tangan.
Selena mengejar mereka hingga sejauh ratusan meter dengan kaki telanjang, sampai dia pun terjatuh dengan keras di atas tanah. Lutut dan telapak kakinya terluka. Selena hanya bisa memandangi kepergian mobil yang selamanya tidak bisa dikejarnya itu tanpa berdaya.
Pada saat itu, dia tidak mengerti. Setelah tumbuh dewasa, dia baru mengetahui bahwa ibunya telah ketahuan berselingkuh oleh ayahnya, sehingga ibunya pun langsung mengajukan perceraian dan pergi dari rumah tanpa membawa harta apa pun, termasuk dirinya.
Selena sangat membenci ibunya dan tidak pernah berhubungan selama lebih dari sepuluh tahun dengannya, Selana bahkan pernah berpikir untuk tidak menemui ibunya lagi seumur hidup ini.
Namun, takdir benar-benar konyol. Pada akhirnya, Selena masih harus tunduk di hadapan ibunya itu.
Tenggorokan Selena seperti tersumbat sesuatu. Dia berdiri di sana tanpa bergerak sama sekali. Maisha juga tahu apa yang dipikirkan Selena, sehingga dia berinisiatif untuk bangkit berdiri dan menarik putrinya untuk duduk di sampingnya.
"Aku tahu kamu membenciku. Saat itu kamu masih kecil, banyak hal yang tidak seperti yang kamu pikirkan. Ibu tidak bisa menjelaskannya padamu. "
Maisha mengulurkan tangan dan membelai wajah putrinya sambil berkata, "Putriku sudah dewasa. Nak, Ibu akan tinggal di sini cukup lama pada kepulangan kali ini. Ibu tahu telah terjadi sesuatu pada Keluarga Bennett. Tapi tidak apa-apa, Ibu akan menjagamu dengan baik."
Saat ini, Selena baru menyadari bahwa kebencian itu tiba-tiba terasa tidak berarti lagi saat terdengar kata "Ibu". Selena pun memanggil dengan terbata-bata, "Ibu."
"Anak baik, tinggallah di sini untuk makan malam. Selama ini Paman Calvin memperlakukan Ibu dengan sangat baik. Dia memiliki seorang putri yang dua tahun lebih tua dari kamu, sebentar lagi dia akan datang untuk makan malam dengan tunangannya, Ibu akan memperkenalkan kalian satu sama lain."
Selena sama sekali tidak berniat untuk bergabung dengan keluarga baru ibunya, sehingga dia buru-buru menyela, "Ibu, kedatanganku kali ini semata-mata hanya karena masalah Ayah. Ibu tahu Keluarga Bennett sudah bangkrut, sekarang ayah sedang mengalami sakit jantung. Aku tidak punya uang untuk biaya operasi, bisakah Ibu membantuku? Aku berjanji akan mengembalikannya kepada Ibu nanti."
Sebelum menjawabnya, Maisha mendengar suara yang tidak asing, "Nona Selena benar-benar kekurangan uang hingga harus datang dan meminta uang ke rumahku, ya."
Mendengar suara ini Selena tampak seperti disambar petir. Dia menatap orang-orang yang muncul di depan pintu saat ini. Dia sungguh merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukankah itu Agatha dan Harvey?
Nasib kembali mempermainkan dirinya, dia tidak menyangka ibunya telah menjadi ibu tiri Agatha!
Suami dan ibunya kini telah menjadi kerabatnya.
Sekarang kebetulan dia tertangkap basah oleh Agatha dan Harvey ketika hendak meminta uang kepada ibunya.
Saat memandangi ekspresi Selena yang gelisah, Harvey hanya tetap bersikap tenang dan tidak bereaksi apa pun.
"Uwaa uwaa uwaa ... "
Suara tangisan bayi memecah suasana yang canggung itu. Saat ini Selena memperhatikan kereta bayi kembar yang didorong oleh asisten rumah tangga.
Pada saat bayi itu baru mulai menangis, Harley sudah menggendong salah satu bayi itu dan membujuknya dengan terampil.
Pemadangan hangat dari keluarga yang beranggotakan empat orang itu bagaikan menusuk mata Selena. Seandainya masih hidup, mungkin anaknya saat ini juga sudah sebesar mereka.
Dia mulai menyesal mengapa dia mau datang ke sini. Dia merasa benar-benar malu, hatinya bagaikan tersayat-sayat.
Anehnya, hari ini anak itu tidak bisa berhenti menangis meskipun telah dibujuk dengan berbagai cara. Asisten rumah tangga pun buru-buru mengambilkan susu, tetapi anak itu malah menangis semakin hebat.
Harvey dengan sabar membujuk, “Anakku sayang, jangan menangis lagi, ya."
Cara pria bertubuh tinggi dan gagah itu menggendong anak kecil sungguh menghangatkan hati. Dia terlihat lembut dan sabar, hingga membuat sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benak Selena.
Dia pun bangkit berdiri dan melangkah maju beberapa langkah ke depan Harley, kemudian meraih anak itu. Anehnya, Harley tidak menghentikannya. Yang lebih aneh lagi, saat digendong olehnya, anak itu berhenti menangis dan malah tersenyum.
Alis dan mata anak berusia hampir satu tahun itu terlihat sangat indah, bibir merah mudahnya melengkung ke atas. Anak itu pun tertawa sambil menggumamkan kata yang tidak begitu jelas, "Am … ma … "
Tangannya yang kecil dan putih itu dengan lembutnya mencoba meraih bola bulu di topi Selena. Ekspresi wajah anak itu tampak begitu ceria. Senyumannya yang begitu memesona itu membuat wajahnya terlihat mirip sekali dengan Harvey.
Hati Selena sepertinya telah ditikam oleh pisau. Keteguhan hatinya pun seakan hancur menjadi berkeping-keping.
Selena begitu naif berpikir bahwa Harvey mencintai dirinya. Harvey memperlakukannya dengan sangat baik selama tahun pertama pernikahan mereka.
Dalam mimpi di tengah malam, Harvey mengganggu Selena dengan bergumam pelan di telinganya, "Seli, lahirkanlah seorang anak untukku."
Bagaimana mungkin Selena menolak memberikan apa yang diinginkan pria itu? Meskipun belum lulus kuliah, Selena pun tetap bertekad untuk hamil.
Pada saat ini, Selena baru menyadari, selama menjalin kasih dengan dirinya, Harvey sering kali bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis. Ternyata, pada setiap kepergiannya ke luar negeri, Harvey juga menjalin hubungan dengan wanita lain.
Lambung Selena pun bergejolak lagi. Selena melemparkan anak itu kepada Harvey, kemudian langsung berlari ke dalam toilet tanpa menoleh sama sekali. Setelah itu, Selena mengunci pintu toilet.
Dia belum makan apa pun. Yang dia muntahkan hanyalah cairan bercampur darah, tampak gumpalan-gumpalan besar darah berwarna merah terang yang seakan menusuk matanya.
Matanya berkaca-kaca dan berkedut tak bisa terkendali. "Bagus, bagus sekali," ujarnya dalam hati.
"Pernikahan kita sejak awal ternyata hanya lelucon!" serunya lagi dalam hati.
Apa yang tidak dapat dipahaminya dulu, kini dia telah mendapatkan penjelasannya, ternyata semuanya sudah bisa terungkap sejak awal.
Mengapa pada saat yang mereka sama-sama jatuh ke dalam air, orang yang Harvey selamatkan adalah Agatha? Mengapa pada saat mereka sama-sama mengalami kelahiran prematur, Harvey malah menemani Agatha? Karena anak di dalam perut Agatha juga merupakan benih Harvey!
Setelah beberapa waktu, terdengar ada yang mengetuk pintu.
"Selena, apakah kamu baik-baik saja?"
Selena merapikan dirinya, lalu mencuci wajahnya dengan air bersih dan keluar dengan langkah terhuyung-huyung.
Maisha tidak tahu tentang hubungan dan konflik di antara mereka bertiga. Dia menarik Selena dan bertanya dengan perhatian, "Selena, apakah kamu merasa tidak enak badan?"
"Aku hanya jijik melihat kedua orang itu, muntah membuatku merasa lebih nyaman," jawab Selena.
"Selana, kamu kenal dengan Agatha? Dia tinggal di luar negeri selama ini, apakah ada kesalahpahaman di antara kalian? Ini adalah Har ... "
Selena menyela kata-kata Maisha dengan ucapan yang dingin, "Aku tahu, Harvey, presiden direktur Grup Irwin, siapa yang tidak mengenalnya?"
"Ya, Tuan Harvey masih muda dan bertalenta, dia memiliki keberhasilan di usia yang begitu muda."
"Tentu saja Tuan Harvey hebat. Belum selesai bercerai, dia sudah buru-buru ingin menikah lagi, bagaimana mungkin orang biasa memiliki keberanian sepertinya?"
Kalimat itu membuat Maisha menjadi bingung. "Selena, apa yang kamu katakan? Tuan Harvey bahkan belum menikah, bagaimana dia bisa bercerai?" tanya Maisha.
Selena tersenyum mengejek sambil berkata, "Jika dia belum menikah, lalu aku ini apa? Tuan Harvey, ayo beri tahu Ibu, aku ini kamu anggap sebagai apa?"
Bab 5
Maisha menatap Harvey dengan bingung. Dia tidak pernah mendengar kabar bahwa Harvey telah menikah.
"Tuan Harvey, kami telah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun dan tidak mengetahui berita di dalam negeri. Apa hubungan putriku dengan kamu?"
Harvey menatap Maisha dengan tenang, lalu berujar dengan wajah tanpa ekspresi, "Meskipun ada hubungan, itu sudah berlalu. Sekarang aku sedang dalam proses perceraian."
Selena tidak menyangka bahwa ketulusannya selama bertahun-tahun hanya menjadi masa lalu yang terucap dari bibir Harvey.
Marah? Tentu saja Selena marah.
Yang lebih membuatnya patah hati adalah dirinya yang buta ini telah menganggap makhluk yang sadis bagaikan hewan itu sebagai harta yang berharga.
Selena mengeluarkan kotak cincin berlian, lalu melemparkannya dengan keras ke kepala Harvey sambil berkata, "Bajingan, berengsek! Hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah berhubungan denganmu. Besok jam sembilan kita ke Kantor Catatan Sipil. Yang tidak datang adalah pecundang!
Kotak itu menghantam kening Harvey hingga memerah, lalu benda itu terjatuh ke lantai. Cincin pun terlempar ke sisi kakinya. Kali ini Selena tidak lagi melirik Harvey sama sekali. Dia langsung menginjak cincin itu dan pergi setelah membanting pintu.
Selama dua tahun terakhir, Selena sudah mengalami banyak hal. Hal kali ini seperti menjadi puncak dari segala beban yang dia tanggung. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, akhirnya dia pun pingsan di pinggir jalan.
Melihat tetesan hujan yang tak henti-hentinya turun dari langit, dunia ini bagaikan sedang bermusuhan dengannya.
Dia merasa ingin mati saja.
Di dunia yang penuh tipu daya ini, dia tidak memiliki apa pun yang bisa dirindukan.
Saat terbangun lagi, Selena berada di sebuah kamar yang asing. Cahaya kuning yang hangat mengusir kegelapan, suhu hangat di ruangan itu terasa seperti musim kemarau.
"Kamu sudah bangun."
Selena membuka matanya dan melihat mata Lewis yang lembut. "Kak Lewis, kamu yang menyelamatkanku?"
"Aku melihatmu pingsan di pinggir jalan saat aku pulang kerja, jadi aku bawa kamu pulang. Aku lihat bajumu basah kuyup, jadi aku suruh pembantu untuk mengganti bajumu."
Pria itu memiliki tatapan mata yang jernih, bersih, dan tulus, tanpa sedikit pun nafsu.
"Terima kasih, Kak," ujar Selena.
"Aku sudah memasak bubur, kamu minum air hangat dulu."
Selena membuka selimut dan turun dari tempat tidur. "Tidak perlu, Kak. Sudah larut malam, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Selena.
Selena yang bertubuh lemah, langsung terjatuh ke tanah saat kakinya baru saja menyentuh lantai. Lewis dengan cepat menolongnya berdiri, aroma deterjen yang harum dari tubuh pria itu tercium di hidung Selena.
Ini sama seperti deterjen pakaian yang dipakai di rumahnya. Tubuh Harvey dulu juga berbau seperti ini.
Setiap kali memikirkan Harvey, pasti ada rasa sakit yang menusuk hatinya.
"Kamu sekarang terlalu lemah. Jika ingin hidup lebih lama, jangan terlalu memaksakan diri." Lewis menasihati dengan lembut, "Anggap saja ini demi ayahmu."
Mata Selena yang tidak tadinya bersinar, saat ini baru saja menunjukkan sedikit harapan. "Kalau begitu, aku akan merepotkanmu," kata Selena.
Selena melihat pria itu sedang sibuk di dapur. Sebenarnya Selena dan Lewis tidak sering berhubungan. Selena baru saja masuk tahun pertama kuliah saat Lewis sudah di tahun keempat. Lewis yang menyerahkan penghargaan kepada Selena ketika Selena terpilih sebagai mahasiswa teladan.
Waktu itu, Lewis sudah magang di rumah sakit terkenal. Dia jarang berada di kampus. Kemudian, Selena bertemu Lewis di rumah sakit. Setelah itu, barulah Selena dan Lewis mulai lebih sering berhubungan.
Hubungan ini tidak bisa menjadi alasan bagi Selena selalu merepotkan Lewis.
Selena baru merasa perutnya sedikit lebih nyaman setelah makan bubur dan minum obat mag.
Lewis kembali membahas masalah kemoterapi. "Ilmu kedokteran sekarang sangat canggih. Kamu baru di stadium lanjut, beberapa pasien kanker stadium lanjut masih bisa hidup. Jadi kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Kemoterapi adalah cara pengobatan yang sangat efektif," jelas Lewis.
Selena menundukkan kepalanya sambil berkata, "Aku juga mahasiswa kedokteran, aku tahu manfaat dan efek samping kemoterapi."
Lewis melanjutkan nasihatnya, "Kesempatan sembuh setelah kemoterapi dan operasi sangat besar. Efek sampingnya memang besar, tetapi jika kamu memiliki keyakinan untuk bertahan … "
Selena perlahan mendongak. Matanya berkaca-kaca. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Bibirnya bergetar dan suaranya gemetar saat berkata, "Tetapi … aku sudah tidak tahan lagi."
Lewis ingin menghibur Selena, tetapi kata-katanya terhenti di bibirnya. Dia tidak bisa mengatakan apa pun saat melihat mata Selena yang memerah. Hati Lewis terasa agak tersumbat.
Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Selena, apakah tidak ada orang yang kamu pedulikan di dunia ini?"
Selena terdiam sejenak, lalu perlahan menjawab, "Hanya ayahku."
"Kalau begitu, demi ayahmu, kamu juga harus hidup dengan baik."
Selena tersenyum pahit sambil berkata, "Terima kasih, Kak. Aku sudah merasa tubuhku jauh lebih nyaman, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Lewis melihat bahwa cincin kawin Selena yang tidak pernah lepas dari tangannya itu telah menghilang. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kamu mau ke mana? Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku sudah memanggil taksi, sebentar lagi akan tiba." Selena menolak dengan tegas, sehingga Lewis pun hanya bisa setuju. Namun, Lewis memiliki pemikiran lain. Selena tampak sedih saat mengatakan hal itu tadi, sehingga Lewis takut Selena akan bunuh diri, jadi dia diam-diam mengikuti Selena dari belakang.
Mobil melaju hingga ke tepi sungai. Selena sendirian melamun sambil menatap air sungai. Meskipun hujan telah berhenti, suhu udara tetap masih sangat rendah. Lewis awalnya ingin menghampirinya untuk membujuk Selena, tetapi sebuah MPV tiba-tiba berhenti di samping Selena.
Pintu mobil terbuka, seorang pria berpenampilan elegan yang telah lama menjadi topik utama di majalah ekonomi muncul di bawah lampu jalan.
Lewis terkejut, lalu bertanya-tanya dalam hati, "Apa mungkin suami Selena adalah dia?!"
Angin sungai meniup rambut Selena, menambah kesan kesedihan pada dirinya yang sudah terlihat pucat. Harvey secara tidak sadar mengangkat tangannya dan ingin menyelipkan rambut Selena ke belakang telinga, tetapi dia segera menahan keinginan itu.
"Ada masalah?"
Selena menatapnya dengan sorot mata yang dingin, seolah mengenali wajah pria itu dengan jelas.
"Apakah kebangkrutan Keluarga Bennet ada hubungannya denganmu?" tanya Selena.
"Ya."
Selena bertanya dengan cuek, sementara Harvey menjawab dengan lebih tegas.
"Apakah anak itu adalah anakmu?" Selena mengajukan pertanyaan kedua.
Matanya menatap Harvey tanpa berkedip. Selena sangat berharap bahwa dirinya sendirilah yang telah berpikir terlalu jauh. Namun, Harvey justru tidak berniat untuk menyangkal, bahkan pria itu menjawab dengan tenang, "Ya."
Selena maju dua langkah, lalu menampar wajah Harvey sambil berseru, "Harvey, kamu tidak tahu malu!"
Pria itu dengan mudah menangkap pergelangan tangan Selena, lalu satu tangannya yang lain membelai bekas air mata di wajah Selena. "Sakit?" tanya Harvey.
"Dasar bajingan! Kenapa kamu harus memperlakukanku seperti ini? Memangnya apa kesalahan yang telah Keluarga Bennet lakukan padamu?!"
Harvey menatap Selena dengan tatapan dingin dan tanpa belas kasihan. Dengan suaranya terdengar dingin dan menusuk, Harvey berkata, "Selena, jika kamu ingin tahu jawabannya, kamu bisa pulang dan bertanya pada ayahmu sendiri apa yang telah dia lakukan."
Selena bertanya dengan suara terbata-bata, "Harvey, apakah kamu pernah mencintaiku?"
Dengan sepasang mata hitam yang menunjukkan ketidakpedulian, Harvey dengan perlahan menjawab, "Tidak. Sejak awal, kamu hanyalah sebuah bidak di tanganku."
Air mata Selena mengalir deras hingga jatuh di punggung tangan Harvey. Angin dingin berembus, dan kehangatan yang tersisa pun dengan cepat menjadi dingin.
"Kamu membenciku, 'kan?"
"Ya. Ini adalah utang Keluarga Bennet padaku. Selena, siapa suruh kamu adalah putrinya Arya? Aku ingin kamu hidup setiap hari dalam kesakitan untuk menebus dosa demi adikku!"
"Bukankah adikmu sudah lama hilang? Apa hubungannya dengan Keluarga Bennet?"
Harvey menatap Selena dengan rasa merendahkan. Dia merasa seolah-olah dirinya adalah sosok paling berkuasa di dunia ini yang hendak menghukum Selena. "Selena, saat kamu menikmati semua kasih sayang dari semua orang, adikku mengalami siksaan yang tidak manusiawi. Kamu bisa menebaknya sendiri, aku tidak akan memberitahumu kebenarannya. Aku ingin membuatmu hidup dalam ketakutan selamanya, dan merasakan semua penderitaan yang dialami adikku!" seru Harvey.
Harvey masuk ke mobil sambil meninggalkan sepatah kata dengan nada bicara yang dingin, "Besok jam sembilan, aku tunggu kamu di Kantor Catatan Sipil."
Selena dengan cepat mengejarnya dan terus-menerus memukul pintu mobil. "Katakan dengan jelas, apa yang terjadi dengan adikmu?" tanya Selena.
Mobil itu melaju dengan cepat begitu pedal gas diinjak. Selena pun kehilangan keseimbangan tubuhnya hingga terjatuh ke tanah dengan keras.
Bab 6
Angin sungai yang dingin bertiup ke arahnya terasa begitu dingin, bagaikan pisau yang menusuk ke sumsum tulang. Selena bangkit berdiri dan lanjut mengejar.
Selena meremehkan kondisi tubuhnya saat ini. Baru berlari beberapa meter, dia sudah terjatuh dengan keras lagi. Pintu mobil terbuka kembali, sepasang sepatu kulit buatan tangan yang mengkilap berhenti di depan Selena.
Pandangan Selena perlahan-lahan menyusuri celana panjang pria yang lurus itu, hingga akhirnya dia menatap mata Harvey yang dingin.
"Har … " ucap Selena dengan lemah.
Sepasang tangan dengan urat yang terlihat jelas mendarat di tubuh Selena. Dalam seketika, Selena seperti melihat pemuda berpakaian putih yang pernah memukau dirinya di waktu dahulu. Dia pun tanpa sadar mengulurkan tangan kepada pria itu.
Saat tangan mereka saling berpegangan, Harvey dengan kejam melepaskan genggaman tangannya. Dia telah memberi harapan kepada Selena, tetapi dengan kejam menariknya kembali, hingga membuat tubuh Selena yang baru saja bangkit berdiri, kembali jatuh ke tanah dengan keras.
Selena semula tidak terluka. Pada saat terjatuh, telapak tangannya tepat mendarat di pecahan kaca yang ada di atas tanah. Darah yang berwarna merah mencolok itu pun mengalir dari telapak tangannya.
Harvey menyipitkan matanya, tetapi tidak melakukan apa pun.
Selena tiba-tiba melamun. Dia teringat dulu ketika jarinya terluka sedikit saja, dia dibawa ke rumah sakit oleh Harvey saat tengah malam.
Dokter yang bertugas bahkan tertawa dan berkata, "Pak, untung saja Bapak datang lebih awal. Kalau terlambat, pasti lukanya sudah sembuh sendiri."
Pria yang ada di dalam ingatannya itu terkesan sangat berbeda jauh dengan pria yang ada di depannya saat ini. Alis dan matanya masih sama seperti dulu. Namun, yang berbeda adalah perhatiannya yang telah berubah menjadi sedingin es.
Harvey berkata dengan nada bicara dingin dan tanpa perasaan, "Selena, kalau orang lain tidak paham, itu wajar. Tapi mana mungkin aku tidak memahami dirimu? Dulu kamu masih bisa jungkir balik setelah berlari sejauh 1.500 meter, tetapi sekarang kamu sudah terjatuh hanya setelah berlari beberapa langkah?
Pandangan Harvey pada Selena penuh dengan penghinaan, seakan-akan ada pedang dingin yang menggores-gores tubuh wanita itu.
Selena menggigit bibirnya yang pucat dan menjelaskan, "Bukan. Aku tidak membohongimu. Aku hanya sedang sakit dan merasa ... "
Belum selesai penjelasan itu disampaikan, pria tinggi itu sudah membungkuk, lalu mengangkat dagu Selena. Jari-jari kasarnya membelai bibir Selena yang kering sambil berkata, "Memang seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, kamu sama seperti ayahmu yang sangat munafik. Demi sedikit uang, kamu rela memainkan sandiwara yang begitu buruk."
Ucapan Harvey lebih menyakitkan daripada tiupan angin yang dingin. Kata-kata itu menikam hati Selena dengan sadis.
Selena dengan kasar menepis tangan Harvey dan berkata, "Ayahku orang jujur dan selalu melakukan hal yang terpuji dalam hidupnya, aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal yang jahat!"
"Hah?!" Harvey hanya bisa tertawa dengan ekspresi kejam, sepertinya dia tidak ingin berdebat dengan Selena tentang hal ini. Dia mengeluarkan selembar cek dari dompetnya, lalu mengisinya dengan sembarang angka dan meletakkannya di depan Selena.
"Mau?"
Sepuluh miliar rupiah. Jumlah itu cukup besar, setidaknya bisa membuat Selena tidak perlu mengkhawatirkan biaya pengobatan Arya selama beberapa waktu.
Namun, Harvey jelas-jelas tidak sebaik itu, sehingga Selena pun tidak menerimanya.
"Syaratnya?"
Harvey bergumam di samping telinga Selena, "Asalkan kamu mengatakan bahwa Arya lebih hina daripada binatang, uang ini akan menjadi milikmu."
Setelah mendengar kata-kata ini, ekspresi wajah Selena langsung berubah drastis. Dia mengangkat tangan dan hendak menampar Harvey. Namun, Harvey berhasil menangkap pergelangan tangan Selena. Tangan Selena yang terluka dalam pergulatan itu berhasil menepuk kemeja Harvey hingga meninggalkan bekas tangan yang berlumuran darah.
Harvey mengencangkan cengkeramannya, lalu berkata nada bicaranya yang menjadi lebih keras lagi, "Kenapa? Kamu tidak mau? Kalau begitu, biarkan dia mati di rumah sakit saja. Aku sudah memilihkan tempat pemakamannya."
"Harvey, mengapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Selena dengan berlinang air mata.
Pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup dan tidak akan membiarkannya menangis ini, sepertinya hanya ada di dalam sebuah mimpi. Sekarang air matanya hanya menjadi alat untuk menyenangkan pria ini.
Bahkan meskipun cahaya lampu jalan berwarna kuning yang remang-remang itu menyinari wajah Harvey, tetap tidak tampak sedikit pun kehangatan. Hanya ada ketidaksabaran di wajahnya. "Tidak mau bicara?" tanyanya lagi.
Harvey melepaskan Selena, lalu perlahan-lahan merobek cek itu.
Selena menerjang ke arah Harvey untuk mencegah merobek cek itu, tetapi dia didorong oleh Harvey dengan kasar. Harvey bertindak seperti orang yang paling berkuasa di dunia. Dia menatap Selena dengan sorot mata dingin sambil berkata, "Aku sudah memberimu kesempatan."
Sobekan-sobekan kertas itu bagaikan harapan Selena yang hancur berkeping-keping, akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang beterbangan di udara dan jatuh di sampingnya.
"Tidak, jangan!" Selena dengan panik mencoba untuk mengumpulkan sobekan-sobekan kertas itu. Air matanya pun berjatuhan di tanah.
Dia terlihat panik seperti anak kecil yang kehilangan segalanya, sungguh tak berdaya dan kebingungan.
Harvey pun berbalik badan dan pergi. Saat akan naik ke mobil, dia mendengar suara benturan keras. Saat dia menoleh, terlihat seseorang pingsan di atas tanah.
Sopirnya, yaitu Alex, tampak cemas. "Pak Harvey, Nyonya sepertinya pingsan, apakah kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Alex.
Harvey menatap Alex dengan dingin dan berkata, "Kau sangat peduli padanya?"
Alex sudah lama bekerja untuk Harvey. Dia tahu bahwa dulu Harvey sangat mencintai sang nyonya. Namun, sejak dia pergi untuk mengidentifikasi jenazah, dia telah berubah menjadi orang yang sangat berbeda.
Bagaimanapun, ini adalah urusan keluarga mereka, jadi Alex pun tidak berani banyak bertanya. Dia hanya bisa mengemudikan mobil dengan patuh.
Sambil mobil itu berjalan semakin jauh, Harvey memandangi wanita yang tidak mampu bangkit berdiri itu melalui kaca spion. Ekspresi menghina di wajahnya tampak semakin kentara.
"Sudah lama tidak bertemu, Selena malah makin pandai bersandiwara," pikirnya.
Meskipun Selena dibesarkan dengan segala kemewahan dan kasih sayang, Arya sudah memintanya berlatih berbagai macam olahraga sejak kecil untuk memperkuat tubuhnya. Hal ini dilakukan agar putrinya tidak diganggu oleh orang lain.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang memiliki sabuk hitam Taekwondo, mahir dalam kickboxing, dan bertenaga sekuat kerbau itu, bisa pingsan dengan begitu mudah?
Di mata Harvey, ini hanyalah akting yang dilakukan Selena hanya demi uang saja.
Setelah berpikir demikian, Harvey pun mengalihkan pandangannya yang dingin itu, tidak lagi melirik ke arah Selena.
Setelah melihat mobil Harvey menghilang dari pandangan, barulah Lewis terburu-buru berjalan ke sisi Selena.
Selena kembali terbangun. Pemandangan yang tampak di hadapannya adalah kamar yang baru saja dia tinggalkan belum lama tadi. Infus terpasang di punggung tangannya, cairan dingin mengalir perlahan melalui pembuluh darahnya yang membiru, dan luka di tangan kirinya sudah dibalut.
Jam dinding berukir kepala rusa di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Belum sempat dia berbicara, suara Lewis yang lembut sudah terdengar, "Maaf, aku khawatir kamu akan melakukan hal bodoh, jadi aku mengikutimu.
Selena ingin duduk, Lewis pun segera memberinya satu bantal tambahan dan memberinya minum air. Setelah merasa lebih nyaman, Selena berkata, "Apakah Kak Lewis melihatnya?"
"Maaf, aku tidak bermaksud mengintip privasimu."
Wajah Lewis tampak polos bagai kertas kosong. Ekspresinya bisa terlihat dengan jelas, tidak seperti Harvey.
"Tidak apa-apa, aku adalah istrinya, itu bukan hubungan yang tidak bisa dilihat orang."
Melihat ekspresi Lewis yang bingung, Selena pun berkata sambil tersenyum pahit, "Benar juga. Semua orang mengira Agatha adalah calon istrinya. Kalau kamu tidak percaya, aku juga ... "
Lewis dengan cepat memotong perkataan Selena, "Tidak. Aku percaya. Aku mengenali cincin kawinmu. Itu adalah model edisi terbatas dari SL tiga tahun yang lalu dan hanya ada satu di dunia. Sebuah majalah pernah menulis bahwa itu adalah cincin yang dirancang oleh bos SL untuk istrinya sendiri. Aku tahu bos SL yang sebenarnya adalah Harvey."
Lewis dulu pernah mencoba mengaitkan hubungan antara Selena dengan Harvey. Namun, setelah mendengar adanya desas-desus antara Harvey dan Agatha, ditambah dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah melihat Harvey di rumah sakit selama dua tahun terakhir, dia pun menyangkal pemikiran itu.
Selena tanpa sadar menyentuh jarinya yang dulunya mengenakan cincin kawin itu. Jari itu sekarang kosong. Area pada kulit di jarinya itu tampak lebih pucat daripada di sekitarnya, seolah-olah mengingatkannya pada pernikahannya yang konyol.
"Sudah tidak penting lagi apakah aku masih istrinya atau bukan, besok jam sembilan pagi kami akan bercerai."
"Apakah dia tahu tentang kondisimu?" tanya Lewis.
"Dia tidak berhak tahu."