Bab 1

Tahun ketujuh pernikahan, Dhea baru tahu kalau suaminya punya seorang anak laki-laki berusia enam tahun.

Dia bersembunyi di balik perosotan TK, melihat Yordan sedang membungkuk menggendong seorang anak kecil sambil bermain dengannya.

"Papa, sudah lama banget Papa nggak datang lihat aku."

Suaminya mengusap kepala anak itu. "Anak pintar, Papa sibuk kerja. Kamu harus nurut sama Mama ya."

Duar! Suara itu seakan-akan meruntuhkan dunia Dhea. Kepalanya langsung kosong.

Papa? Mama?

Sosok besar dan kecil itu memiliki wajah yang mirip 70%. Semuanya jelas sekali mengatakan bahwa pria yang dulu bersumpah akan mencintainya seumur hidup, ternyata sudah selingkuh sejak lama!

Mereka tumbuh bersama sejak kecil, saling mencintai bertahun-tahun. Dhea bahkan pernah ditusuk di perut demi menyelamatkan Yordan. Akibatnya, dia bukan hanya kehilangan anak, tetapi juga tak bisa punya keturunan seumur hidup.

Saat itu, Yordan berlutut di sampingnya dengan mata merah dan berkata, "Aku nggak butuh anak. Aku cuma butuh kamu seorang!"

Suara bergetar Yordan yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di benak Dhea, kini hancur tak bersisa karena pemandangan di depan mata!

Dhea terhuyung mundur, hatinya seperti dicabik-cabik ribuan pisau sampai berdarah-darah. Dia tak berani lagi melihat, takut dirinya tak bisa menahan diri untuk langsung berteriak dan bertanya, lebih takut terlihat seperti badut yang menyedihkan. Dia pun berbalik, berlari terbirit-birit.

Di depan TK, sahabatnya, Naira, sudah lama menunggu. Melihat wajah Dhea yang pucat pasi, dia langsung keluar dari mobil. "Dhea, kamu kenapa? Lauren bilang barangmu ketinggalan, jadi pulang lagi. Sebenarnya ada apa?"

Lauren adalah anak Naira. Hari ini memang Naira yang meminta Dhea menemaninya ikut rapat orang tua murid.

Wajah Dhea benar-benar pucat, air mata menggenang di pelupuknya. "Naira, tolong bantu aku selidiki seseorang."

"Siapa?"

"Yordan ...." Dhea menelan ludah, suaranya serak. "Dia punya anak."

....

[ Sayang, aku masih seminggu baru bisa pulang. Kamu kangen aku nggak? ]

Dhea menatap pesan dari Yordan, air matanya jatuh tanpa henti.

Setiap bulan Juli, Yordan selalu bilang harus dinas dua minggu untuk inspeksi cabang luar negeri. Selama enam tahun penuh, Dhea tak pernah curiga.

Namun, kenyataan menamparnya dengan keras, mentertawakan kebodohannya. Yordan bukannya dinas, tetapi pergi menemani selingkuhannya dan anak mereka!

Kalau bukan karena kejadian tak terduga hari ini, mungkin dia masih dibodohi sampai sekarang.

Dhea menyiksa diri sendiri, berkali-kali menatap foto di tangannya. Di luar hujan deras, sesekali kilat menyambar, menerangi wajahnya yang pucat pasi.

Mungkin sebenarnya, dia seharusnya sadar sejak awal. Keluarga Furama adalah keluarga tradisional, mana mungkin mereka menerima seorang perempuan mandul? Kecuali, semua sudah diatur sejak awal! Lantas, Yordan yang katanya begitu mencintainya, sebenarnya mengambil peran apa?

Hati Dhea seperti diremas. Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Semua orang bilang, di kehidupan ini, Dhea dan Yordan pasti akan selalu bersama.

Di usia delapan tahun, saat Dhea jatuh dari pohon, Yordan menahan tubuhnya tanpa peduli bahaya. Tulangnya patah, tetapi dia masih tersenyum dan mengatakan tidak sakit.

Di usia 12 tahun, saat Dhea pertama kali menstruasi dan menodai roknya, Yordan yang tahu apa yang terjadi malah tetap ketakutan, sampai menangis dan mengatakan mau mati bersamanya.

Di usia 18 tahun, Yordan diam-diam ikut balapan liar, bahkan nyaris kehilangan nyawa hanya untuk memenangkan sebuah cincin. Setelah itu, dia menyatakan perasaannya kepada Dhea, "Dhea, aku akan mencintaimu seumur hidup."

Cinta remaja selalu murni dan membara, sudah lama menawan hati Dhea.

Menjelang pernikahan, Dhea pernah diculik musuh Yordan, disekap tiga hari tiga malam. Ketika ditemukan, dia sudah hampir mati.

Demi menyelamatkannya, Yordan dipukuli sampai tiga tulang rusuknya patah. Saat itu, Dhea juga menahan sebilah pisau untuknya, membuatnya kehilangan hak sebagai seorang ibu.

Setelah tahu, ibu Yordan, Anindya, sempat ingin memisahkan mereka. Namun, dengan tubuh penuh luka, Yordan berlutut tiga hari di aula leluhur Keluarga Furama, mogok makan, bersikeras berkata, "Aku rela kehilangan Keluarga Furama, asal tetap bersama Dhea."

Akhirnya, Anindya tak bisa menolak lagi.

Setelah luka Yordan sembuh, mereka segera menikah. Seluruh ibu kota menjadi saksi cinta mereka yang mengharukan.

Namun, pada akhirnya Yordan tetap mengkhianatinya.

Tiba-tiba, ponsel berdering. Di layar tertulis kata "Suami". Betapa ironisnya.

Dengan kaku, Dhea menekan tombol terima. Suara lembut pria pun terdengar. "Sayang, selama sendirian di rumah, kamu ada makan dengan teratur nggak? Kamu kangen aku nggak?"

Kalau dulu, pasti Dhea sudah larut dalam manisnya cinta, tak sabar membalas. Namun, sekarang dia takut sekali kalau membuka mulut, tangisannya akan pecah.

"Sayang? Ada apa? Jangan takut, aku langsung pulang sekarang!" Suara Yordan terdengar panik. Dia bahkan langsung berdiri untuk pulang.

Namun, Dhea sama sekali tak ingin menemuinya.

"Aku nggak apa-apa." Dhea berusaha menahan diri, tetapi suaranya tetap serak, "Aku nggak apa-apa, kerjaanmu lebih penting. Jangan pulang. Aku cuma flu ringan."

Ini pertama kalinya dia berbohong pada Yordan.

Pria itu tak menyadari sama sekali. Meskipun terdengar seperti terganggu oleh sesuatu, tetap saja dia khawatir, menasihatinya panjang lebar, "Kalau begitu, kamu cepat istirahat. Ingat telepon aku, jangan bikin aku khawatir."

Dhea hanya menjawab lirih, "Ya."

Baru saja hendak menutup panggilan, tiba-tiba terdengar suara perempuan dari seberang. Suara itu sangat menggoda. "Yordan, Rafael sudah tidur. Kita bisa ...."

Dhea jelas mendengar napas Yordan semakin berat, lalu telepon langsung terputus. Dia menggenggam ponsel erat-erat, buku jarinya memutih, tetapi tetap tak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hati.

Yordan dan wanita itu sedang bersama .... Dia tak berani lagi meneruskan pikirannya!

Tangisan Dhea pecah, seperti ada tangan besar yang mencengkeram jantungnya, perih sampai tak tertahankan.

Pernah terpikir, mungkin Yordan terpaksa demi anak itu. Namun sekarang, jelas dialah yang memilih!

Naira yang sadar ada yang tak beres langsung masuk ke kamar, lalu melihat Dhea dengan wajah putus asanya. Naira memiliki kepribadian yang berapi-api, tetapi kali ini dia sampai tak berani maju.

"Dhea, demi seorang laki-laki itu nggak sepadan."

Air mata jatuh menetes di foto, menimbulkan suara kecil.

Naira sakit hati melihat sahabatnya seperti itu. Dia langsung memeluk Dhea sambil menggertakkan gigi dan memaki, "Dhea, Yordan benar-benar berengsek!"

"Waktu melamar kamu, semua janji manis dia keluarkan. Sekarang berani-beraninya dia diam-diam punya selingkuhan dan anak!"

Dhea memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir deras. Dalam hati, dia sudah membuat keputusan ....

Bab 2

Keesokan paginya, hujan reda dan langit cerah kembali. Dhea tidak tidur semalaman.

Dia memikirkan banyak hal sepanjang malam. Dia pernah melihat cinta yang paling murni, jadi bagaimana mungkin dia bisa menerima hati yang sudah berubah?

Dia adalah Dhea, perempuan yang sungguh-sungguh mencintai Yordan, sekaligus putri sulung Keluarga Prawita. Dia tidak bisa menerima sedikit pun kesalahan dalam hidupnya.

Dengan pikiran itu, dia menelepon orang rumah. "Ayah, aku ingat Keluarga Prawita berencana mengembangkan bisnis di Inlandia. Kebetulan suaminya Naira berasal dari keluarga kekaisaran di sana. Setengah bulan lagi dia akan kembali bersama anaknya, aku mau ikut ke sana lihat-lihat."

Mahesa terdengar heran. "Yordan yang suruh kamu telepon Ayah?"

"Bukan, kali ini aku sendiri yang mau pergi." Dhea tersenyum pahit. Semua orang menganggap dirinya dan Yordan adalah satu kesatuan, bahkan ayahnya pun begitu.

Mahesa terkejut. Putrinya yang biasanya tak rela berpisah dari Yordan, tiba-tiba ingin pergi sejauh itu?

"Dhea, apa Yordan melakukan kesalahan padamu?" Nada Mahesa berubah serius.

Dhea menggigit bibir, akhirnya memilih menyembunyikan lebih dulu. "Ayah, jangan tanya dulu. Setelah aku sampai Inlandia, aku akan ceritakan semuanya."

Keluarga Furama dan Keluarga Prawita memang sahabat lama, apalagi setelah adanya hubungan pernikahan. Dhea tak ingin keluarganya terseret masalah karenanya.

Akhirnya, Mahesa tak bisa menolak keinginan putrinya. "Oke. Nanti kamu datang ke Grup Prawita sebentar, kenali dulu urusan-urusan yang berkaitan."

Dhea mengangguk. Setelah menutup telepon, dia bangkit untuk mencuci wajah. Saat menatap cermin, dia mendapati matanya bengkak seperti kenari, membuat hatinya semakin getir.

Pengacara sudah menyiapkan surat cerai dan mengirimkan kepadanya, tetapi dia masih tak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada Yordan. Bagaimanapun, hubungan mereka sudah bertahun-tahun. Mana mudah diputuskan begitu saja?

Dhea menutupi kesedihannya dengan riasan, mengenakan setelan kerja yang penuh wibawa, lalu keluar kamar.

Di bawah, Naira sedang menemani Lauren sarapan. Sepertinya, kondisi Dhea kemarin benar-benar membuat Lauren ketakutan.

"Bibi sudah bangun!" Lauren berlari dengan kaki mungilnya, menggenggam tangan Dhea, lalu meniupkan napas ke telapak tangan itu. "Mama bilang kemarin hati Bibi sakit. Aku tiup biar nggak sakit lagi."

Anak enam tahun memang polos. Dhea mengelus pipinya. "Lauren anak baik. Bibi sudah nggak sakit lagi, ayo kembali ke meja makan."

Lauren mengangguk polos, lalu berlari ceria ke pelukan Naira. Melihat itu, Dhea kembali teringat senyuman dan tawa Yordan bersama anak itu kemarin. Kalau saja anak mereka hidup, mungkin usianya lebih besar daripada Rafael.

Dhea menarik napas panjang, menekan kegetirannya, lalu pamit sebentar sebelum pergi. Namun, baru saja keluar dari gerbang vila, dia melihat di dekat mobil Maybach, berdiri satu sosok.

Itu adalah Yordan. Wajahnya lelah, sebatang rokok terselip di bibir, asap mengepul mengelilinginya membuat wajahnya tampak samar.

Dhea terkejut. Menurut informasi, ulang tahun Larissa dan anaknya jatuh di bulan Juli. Ulang tahun Larissa sudah lewat, sementara Rafael belum. Lantas, kenapa dia pulang mendadak?

Mungkin karena tatapannya terlalu panas, Yordan menyadari, lalu menoleh. Ketika melihat Dhea, mata yang semula redup itu tiba-tiba bersinar.

Yordan melangkah cepat menghampiri, langsung menarik Dhea ke dalam pelukannya. Pelukan itu masih sama hangatnya, tetapi kali ini membuat tubuh Dhea gemetar.

"Sudah agak baikan belum? Suaramu kemarin terdengar aneh, jadi aku langsung buru-buru pulang Sampai rumah nggak lihat kamu, aku tahu pasti di tempat Naira." Nada suara Yordan penuh kekhawatiran, tampak tulus tanpa dibuat-buat.

Dhea masih tak mengerti. Bagaimana mungkin pria yang dulu begitu mencintainya, bisa tenang-tenang bersama wanita lain sampai punya anak?

Bibirnya bergetar, menelan rasa pahit yang menyumbat tenggorokan. Dhea ingin bertanya, tetapi akhirnya hanya menyahut pelan, "Aku nggak apa-apa. Tadi juga memang mau pulang."

Yordan menghela napas lega. "Kalau sakit, jangan sembunyiin dari aku. Aku bisa khawatir setengah mati."

Suaranya lembut, dalam, membuat Dhea hampir percaya pada kehangatan semu itu. Namun, dari sudut matanya, dia melihat sosok ramping berdiri di bawah pohon.

Larissa. Wanita itu sedang menelepon. Tak lama kemudian, ponsel Yordan berdering.

Yordan menunduk melihat layar, wajahnya tampak kikuk. "Perusahaan ada urusan mendesak, aku harus urus sebentar."

Dhea tertegun. Dia jelas melihat nama itu sekilas, Larissa. Kegetiran di hatinya hampir meluap. Dia menahan diri, lalu berkata, "Pergilah, urusan perusahaan memang penting."

Tatapan Yordan dipenuhi rasa bersalah. Dia masih sempat mencium kening Dhea, lalu buru-buru masuk mobil dan pergi.

Begitu Yordan masuk mobil, Larissa menutup panggilannya. Sambil berlenggak-lenggok, dia berjalan mendekat. "Halo, Bu Dhea. Aku Larissa, aku ...."

Kalimatnya terhenti. Melihat bibir Dhea yang terkatup rapat, dia memahami sesuatu. "Sepertinya kamu sudah tahu tentang keberadaanku dan Rafael. Kalau begitu ... kita lihat saja nanti."

Bab 3

Dhea menghentikan sebuah taksi, mengikuti Larissa dari belakang.

Di rumah sakit, dia berdiri di depan pintu ruang rawat, menyaksikan semua yang terjadi di dalam. Sakit yang tajam menusuk hatinya hingga nyaris membuatnya tak bisa bernapas.

Dhea menggigit bibir kuat-kuat, menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun.

Saat ini, Rafael sedang diinfus. Wajah mungilnya tampak sangat lemah, membuatnya terlihat begitu menyedihkan.

Yordan gelisah setengah mati, mondar-mandir di ruang rawat sambil marah-marah, "Kalian ini kerja apa sih! Anak demam begini saja nggak bisa ditangani!"

Dokter yang sedang sibuk di samping adalah Josh, sahabat baik Yordan. Dhea mengenalnya.

"Anakmu cuma masuk angin, demam, dan pilek. Dirawat sendiri saja nggak becus, malah marah-marah sama rekan kerjaku!"

"Yordan, aku benar-benar nggak ngerti apa maumu. Bukannya dulu kamu bilang setelah perempuan itu melahirkan, kamu bakal kasih uang, lalu suruh pergi? Sekarang baru demam kecil sudah manggil aku ke sini. Kalau Dhea tahu, gimana?"

Setelah terdiam sejenak, suara Yordan akhirnya terdengar, lelah dan penuh ketidakberdayaan. "Aku bisa apa? Ikatan batin ibu dan anak terlalu kuat. Setiap kali menyuruh Larissa pergi, Rafael selalu menangis tanpa henti. Masa aku tega biarin anak terus-terusan menangis?"

Josh mendengus dingin. "Heh, sebenarnya anak yang nggak rela atau kamu yang nggak rela? Kamu sendiri tahu jawabannya."

Wajah Yordan semakin tegang. Dia memijat keningnya yang berdenyut sakit. "Jangan sembarangan! Seumur hidup ini aku hanya mencintai Dhea. Tapi Keluarga Furama nggak bisa tanpa pewaris. Kamu harus bantu aku merahasiakan ini dari Dhea, aku nggak mau dia terluka."

"Bagaimanapun juga, Larissa sudah melahirkan anakku. Aku nggak bisa menelantarkannya."

Mendengar itu, Larissa masuk sambil menangis tersedu-sedu. "Yordan, ini salahku yang nggak menjaga Rafael dengan baik. Semalam setelah kamu pergi, dia demam dan nangis ingin bertemu kamu. Aku takut mengganggumu dan Bu Dhea, jadi aku nggak bilang ...."

Yordan mengelus pipi anaknya yang panas, menghela napas. Hatinya melunak. Dia memeluk Larissa, menenangkan, "Jangan nangis lagi. Aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Rafael anak kita, justru aku yang sebagai ayah yang nggak becus."

Larissa menarik kerah baju Yordan, lalu jarinya menyapu dada Yordan dengan lembut. "Yordan, aku tahu aku nggak sebanding dengan Bu Dhea. Tapi aku nggak tega melihat anak kita menderita ...."

Tatapan Yordan menjadi tajam. "Nggak akan ada yang berani menyakiti anakku. Kamu sendiri yang harus jaga kesehatan. Lihat, wajahmu sampai bengkak karena nangis."

Dia mengangkat tangannya, dengan lembut menghapus air mata di sudut mata Larissa. Adegan mesra itu menusuk hati Dhea hingga sakitnya tak tertahankan.

Dhea mengepalkan tangannya, membiarkan kuku-kukunya mencengkeram telapak tangannya hingga berdarah. Namun, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di hatinya.

Hujan deras kembali turun. Dhea meninggalkan rumah sakit, berjalan di tengah guyuran hujan. Air hujan mengalir di pipinya, membuat pandangannya kabur. Namun, itu tetap nggak mampu mencuci bersih kehancuran di hatinya.

Saat sampai di Grup Prawita, pergelangan kakinya sudah lecet berdarah karena sepatu hak tingginya.

Penampilannya membuat resepsionis terkejut dan buru-buru mendekat. "Bu Dhea! Ada apa? Perlu aku telepon Pak Yordan? Kalau Pak Yordan lihat Ibu seperti ini, pasti dia sangat khawatir."

Hati Dhea sudah mati rasa. Ya, semua orang selalu percaya Yordan mencintainya, tanpa terkecuali.

Namun, mereka tidak tahu seberapa banyak kebohongan dan pengkhianatan yang tersembunyi di balik cinta itu.

Dia menepis tangan resepsionis yang hendak memapahnya, suaranya serak. "Aku nggak apa-apa. Tadi tiba-tiba turun hujan. Tolong belikan aku pakaian bersih, antar ke sini."

Dhea menyerahkan kartu hitam, lalu mengurung diri di ruang rapat terdekat. Begitu pintu tertutup, dia tak bisa lagi menahan tangisannya. Dia mengira setelah melihat foto-foto itu, hatinya sudah kebal.

Namun, ketika menyaksikan sendiri kebersamaan Yordan, Larissa, dan Rafael, luka terdalamnya kembali terkoyak habis-habisan.

Ruang rapat yang luas bergema oleh isakannya yang memilukan. Dia begitu ingin bertanya kepada Yordan, kenapa dulu dia yang bersumpah setia, kini malah bermesraan dengan wanita lain dan punya anak?

Sampai suara ketukan pintu terdengar, Dhea baru tersadar. Orang yang mengetuk sudah pergi. Hanya ada pakaian baru, kartu hitam, dan segelas air hangat yang ditaruh di depan pintu. Di bawah gelas, ada secarik catatan tulisan tangan.

[ Bu Dhea, tenang saja. Aku nggak menghubungi Pak Yordan. Aku tahu Ibu nggak ingin membuatnya khawatir. ]

Perasaan Dhea campur aduk. Akhirnya dia merobek catatan itu dan membuangnya ke tong sampah.

Dia mengganti pakaian di ruang rias. Sesaat kemudian, sosok tegar dan berwibawa Dhea sudah kembali, seolah-olah tidak ada yang bisa membuatnya gentar.

Dengan sepatu hak tingginya, dia melangkah ke ruang CEO. Hari itu, dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan sepanjang hari.

Selama itu, Yordan mengirim banyak pesan, tetapi satu pun tak dia buka, apalagi balas.

Sampai sore, Dhea pulang ke vila dengan tubuh lelah, berniat berkemas dan berangkat besok pagi. Namun, begitu membuka pintu, tawa riang seorang anak terdengar dari ruang tamu. Di sana, Larissa berdiri tepat di hadapannya!

Anak Suamiku yang Dirahasiakan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya