Bab 1
Setelah suamiku meninggal karena kecelakaan, aku mengelola restoran kecil untuk membesarkan anakku.
Sehari sebelum pernikahan anakku, aku tiba-tiba menang lotre senilai 160 miliar.
Aku merasa sangat senang. Aku berencana menjual restoranku dan memulai kehidupan pensiunku.
Siapa sangka, saat aku menelepon putraku untuk memberitahunya rencanaku, calon menantu yang selalu bersikap sopan tiba-tiba menjadi galak.
"Kamu harap kami menghidupimu ya? Kami baru kerja dua tahun. Kami nggak punya uang untukmu!"
Calon menantuku juga mengancam putraku, "Kalau kamu berani memberi uang kita pada ibumu, aku bakal batalkan pernikahan ini!"
Putraku yang marah pun bertengkar dengan pacarnya. Kemudian, dia menghiburku, "Kamu sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Sudah waktunya istirahat. Aku yang akan menghidupimu."
Aku merasa sangat lega. Aku pun berniat mentransfer 40 miliar kepada putraku supaya dia bisa berbisnis.
Keesokan hari, aku malah mendapat panggilan yang memberitahuku bahwa putraku mengalami kecelakaan. Butuh 1 miliar untuk menyelamatkan nyawanya.
Aku langsung mentransfer uang itu, tetapi putraku tidak berada di rumah sakit. Saking paniknya, aku pergi ke kota tempat putraku tinggal dengan menerjang badai.
Ketika menemukan putraku, ternyata dia sedang mengadakan acara pernikahan di hotel. Putraku berlutut kepada cinta pertama suamiku dan memanggilnya ibu saat bersulang.
Mengejutkannya, yang duduk di sampingnya adalah suamiku yang meninggal sepuluh tahun lalu!
Setelah menang lotre senilai 160 miliar, aku langsung menjual restoran yang kukelola selama 20 tahun. Aku juga mencari rumah 3 lantai untuk putraku sebagai hadiah pernikahannya.
Malam itu, aku menelepon putraku. "Restoran kita sudah tutup. Nanti Ibu tinggal di rumahmu untuk sementara waktu ya?"
"Tutup? Apa maksudnya?" Putraku termangu. "Restoran kita bangkrut?"
"Ya. Aku jual dengan harga murah," sahutku sambil bercanda. "Ada bagusnya juga. Aku sudah bekerja keras selama 10 tahun lebih. Sudah waktunya aku pensiun. Apalagi, bulan depan kalian akan nikah. Takutnya aku nggak punya waktu untuk hadir."
"Pensiun?" Sebelum aku sempat melanjutkan ucapanku, tiba-tiba terdengar suara calon menantuku yang kaget. "Kamu belum 50 tahun. Kamu harap kami menghidupimu?"
Ekspresiku sontak membeku. Gladys dan putraku berkenalan saat wisuda. Keduanya telah berpacaran selama dua tahun. Tahun lalu, mereka bertunangan.
Kami sudah bertemu beberapa kali. Gladys selalu bersikap sopan. Setiap tahun baru, dia selalu mengucapkan selamat tahun baru kepadaku. Hari ini, nada bicaranya malah terdengar sangat berbeda.
Namun, Gladys memilih untuk menikah juga supaya beban hidupnya berkurang. Aku bisa memahami keterkejutannya.
Aku pun tidak berniat bercanda lagi dan hendak menjelaskan. Namun, Gladys sontak berteriak, "Aku nggak peduli! Pokoknya aku nggak bakal bantu kamu menghidupi ibumu! Kalau dia berani datang, jangan harap kita bisa nikah! Aku bakal pindah!"
Aku tentu merasa tidak nyaman mendengar omongan ini. Aku bisa memahami kekhawatirannya, tetapi bukankah sikapnya ini terlalu kasar?
Putraku pun merasa kesal. "Kenapa bicara begitu? Selama ini, ibuku menganggapmu sebagai anaknya. Sudah seharusnya kamu berbakti kepadanya sepertiku."
"Kamu saja yang berbakti kalau mau! Aku nggak mau!" Pertengkaran terdengar makin sengit. Bahkan, ada suara barang jatuh dan pecah.
Beberapa menit kemudian, putraku berkata, "Ibu, tolong jangan marah. Gladys memang pemarah. Tapi, dia pasti menyayangimu."
"Nanti aku bakal bujuk dia. Setelah dia tenang, aku bakal jemput kamu kemari. Kamu juga sudah bekerja keras selama bertahun-tahun. Sudah waktunya kamu pensiun."
Nada bicara putraku dipenuhi ketulusan. Mataku sampai berkaca-kaca mendengarnya. Aku merasa sangat lega dan puas.
Aku mengakhiri panggilan. Setelah mereka selesai berdiskusi, aku akan memberi tahu mereka tentang lotre itu. Kemudian, aku akan mentransfer 40 miliar supaya putraku bisa berbisnis.
Sebelum ini, putraku terus mengatakan ingin berbisnis. Hanya saja, dana tidak cukup. Sekarang aku sudah punya uang. Dia tidak perlu mencemaskan soal dana lagi. Kalaupun gagal, aku bisa menjamin kehidupannya.
Aku telah merencanakan semuanya dengan baik. Siapa sangka, ketika aku mendapat panggilan lagi, ternyata itu adalah kabar buruk.
Terdengar isak tangis Gladys. "Edo kecelakaan! Kami butuh 1 miliar supaya dia bisa dioperasi! Tolong cari cara! Kami harus gimana?"
Aku terkesiap. Aku buru-buru mentransfer uangnya. Kebetulan, aku mendapat 1 miliar dari penjualan restoranku.
Gladys tidak memberi penjelasan apa pun. Begitu mendapat uangnya, dia langsung mengakhiri panggilan.
Aku pun berniat membeli tiket pesawat untuk menjenguk putraku. Namun, hari ini ada topan. Pesawat berhenti beroperasi. Aku hanya bisa menunggu sambil mencoba menelepon mereka.
Namun, sejak hari itu, tidak ada yang menjawab panggilanku. Bahkan, seminggu kemudian nomor mereka tidak bisa dihubungi lagi.
Bab 2
Seminggu kemudian, angin topan akhirnya berhenti. Maskapai kembali beroperasi dengan normal. Aku membeli penerbangan terdekat untuk pergi ke kota tempat putraku tinggal.
Setibanya di depan apartemen putraku, aku mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang merespons. Seseorang yang kebetulan lewat pun berbaik hati bertanya, "Kamu salah rumah ya? Yang tinggal di sini sudah pindah seminggu lalu."
Aku terkejut. "Kok bisa?"
Orang itu mengira aku tidak percaya, jadi menarikku ke rumahnya untuk melihat. Dia berkata, "Entahlah. Mereka terburu-buru sekali. Banyak perabotan yang diberikan kepadaku."
Sambil memandang ke dalam rumahnya, aku melihat barang-barang putraku. Namun, kenapa mereka pindah dengan terburu-buru? Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa mungkin putraku terlilit utang? Atau mungkin dia dalam masalah besar yang tidak bisa diatasi? Kalaupun ada masalah, dia tidak seharusnya merahasiakannya dari ibunya.
Aku merasa panik. Aku ingin melapor polisi, tetapi takut menimbulkan kerepotan untuknya. Pada akhirnya, aku mencari detektif swasta untuk melacak lokasinya.
Kami bertemu di sebuah hotel. Ketika mendengarku ingin mencari orang, detektif itu membawa beberapa orang bersamanya.
Ketika turun untuk menjemput mereka, tiba-tiba aku menyadari aula di lantai satu sangat ramai. Sepertinya ada acara pernikahan.
Dari kejauhan, aku merasa mempelai pria dan mempelai wanitanya sangat familier. Ternyata, itu adalah putra dan calon menantuku!
Aku sontak membeku di tempat. Aku sampai meragukan penglihatanku. Namun, kecurigaanku seketika sirna.
Aku melihat putraku berlutut kepada seorang wanita paruh baya sambil berkata, "Ibu, silakan minum tehnya."
Aku kenal wanita itu! Kalaupun wajah wanita itu cacat, aku tetap bisa mengenalinya! Namanya Elvi. Dia teman SMA suamiku. Elvi menyukai suamiku.
Ketika aku dan suamiku berpacaran, Elvi terus-menerus mencoba merusak hubungan kami. Dia merayu suamiku. Dia ingin memisahkan kami.
Setelah kami menikah, Elvi juga tidak berhenti. Ketika aku hamil, dia mengantarkan sup untukku. Sup itu bisa membuatku keguguran ....
Untungnya, aku sangat berwaspada sehingga tidak mengalami keguguran. Meskipun begitu, Elvi masih tidak menyerah. Setelah putraku lahir, dia terus mendekati putraku supaya bisa menggantikan posisiku.
Setelah putraku berusia 5 tahun, keluarga kami merasa muak dengan gangguan yang ada. Kami pindah ke kota lain untuk hidup dengan damai.
Siapa sangka, dalam waktu kurang dari 2 bulan, suamiku malah mengalami kecelakaan. Kebetulan sekali, Elvi juga mengalami kecelakaan.
Perbedaannya adalah suamiku terluka parah dan tidak tertolong lagi. Sementara itu, Elvi hanya mengalami cedera ringan.
Elvi muncul mendadak, padahal kami sudah pindah. Dia dan suamiku juga sama-sama mengalami kecelakaan. Selama ini, aku curiga kematian suamiku berkaitan dengannya. Namun, aku tidak punya bukti apa pun.
Apalagi, putraku masih begitu kecil saat itu. Aku terpaksa mengesampingkan kecurigaanku. Yang tersisa hanya dendam yang terkubur di dalam hati.
Kini, putraku yang hilang malah berlutut di depan wanita yang paling kubenci. Bahkan, dia memanggilnya ibu. Konyol sekali.
Aku tidak tahu yang kurasakan adalah kemarahan atau kekecewaan. Sebelum aku sempat bereaksi, aku sontak menyadari orang yang duduk di samping Elvi adalah suamiku yang telah meninggal 10 tahun lalu!
Ekspresiku berubah drastis. Aku terhuyung dengan tidak percaya. Saat ini, Elvi melihatku. Dia termangu sejenak sebelum tersenyum memprovokasi. Kemudian, dia menunduk dan membisikkan sesuatu kepada putraku.
Segera, putraku menoleh dan memelototiku. Dia bangkit dan menghampiriku. "Aku sudah pindah rumah! Apa kamu bisa berhenti menggangguku? Kamu mau aku mati dulu baru puas ya?"
Bab 3
Jika dibandingkan dengan saat berbicara di telepon, ekspresi putraku yang histeris ini membuatnya terlihat jauh berbeda. Situasi sudah seperti ini. Apa lagi yang tidak kupahami? Kecelakaan mobil itu tidak nyata. Putraku merasa aku adalah beban hidupnya. Itu sebabnya, dia berusaha mencampakkanku!
"Kalau kamu masih punya hati nurani, cepat pergi dari sini! Jangan menghancurkan pernikahanku!" Putraku memelototiku dengan galak. Dia menunjuk pintu masuk hotel dengan ekspresi jijik.
Saat ini, Elvi datang. Dia menepuk bahu putraku, lalu berpura-pura memasang ekspresi suram saat berkata, "Dia ibu kandungmu. Kenapa kamu malah mengusirnya? Seharusnya orang luar sepertiku yang pergi."
"Jangan bicara begitu!" sela putraku buru-buru. "Di hatiku, kamu baru ibuku. Wanita ini yang mengganggu hubunganmu dengan ayahku. Dia merusak hubungan kalian dengan melahirkanku. Dia baru pelakor!"
Usai berbicara, putraku menoleh menatapku dan mengancam, "Kalau kamu tahu diri, cepat pergi dari sini. Kalau nggak, kupanggil satpam!"
Aku menarik napas dalam-dalam. Hatiku diliputi kekecewaan. "Edo, aku sudah lama memperingatkanmu untuk nggak berhubungan dengan wanita ini. Kalau nggak, kamu bakal sial."
Setahun lalu, putraku pernah memberitahuku bahwa dia bertemu Elvi di kota ini. Selain itu, katanya Elvi menikah dengan pria kaya.
Elvi bersandiwara dengan sangat baik di depan putraku. Dia terlihat seperti seorang senior yang elegan dan bermartabat. Hanya aku yang tahu dia punya niat jahat.
Aku berkali-kali memperingatkan putraku untuk tidak berhubungan dengan Elvi. Aku menyuruhnya menghindar sejauh mungkin. Namun, putraku ini hanya berpura-pura menuruti nasihatku.
"Sial? Justru aku sial kalau bersamamu!" Tebersit rasa bersalah pada ekspresi putraku untuk sesaat. Segera, yang terlihat adalah amarah.
"Bibi Elvi memperkenalkanku kepada banyak orang hebat. Dia punya banyak uang! Sementara itu, restoranmu bangkrut. Pada akhirnya, aku yang harus menghidupimu! Aku masih muda. Aku nggak ingin kamu menjadi bebanku! Apa ada yang salah?"
Hanya dengan beberapa kalimat, putraku menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak mengindahkan nasihatku selama ini.
"Ngapain basa-basi dengannya?" Gladys tiba-tiba berdiri di samping Edo dan melirikku dengan sinis. "Cepat suruh satpam seret dia keluar. Nanti ada tamu penting yang bakal datang."
Ekspresi putraku berubah sedikit. Kemudian, dia menyuruh satpam menyeretku keluar. Aku tidak menghentikan dan hanya menyaksikan dengan ekspresi datar. Yang kurasakan hanya kekecewaan, tetapi aku tetap tenang.
"Cuma satu hal yang ingin aku tanya, kamu yakin mau mengakuinya sebagai ibumu?" tanyaku sambil menunjuk Elvi. "Kalau kamu mau mengakuinya, mulai sekarang kita nggak punya hubungan apa pun lagi. Aku anggap aku nggak punya anak. Kalaupun kamu menangis dan memohon kepadaku, aku nggak bakal memaafkanmu."
Putraku seolah-olah mendengar lelucon terkonyol di dunia ini. "Aku? Memohon kepadamu? Aku justru ingin memintamu jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
Saat ini, satpam datang. Putraku menyuruh mereka menarikku keluar. Kemudian, dia memapah Elvi untuk kembali ke aula.
Aku mengelak dari tangan para satpam itu, lalu memekik, "Hotel ini sudah kusewa hari ini! Justru kalian yang harus pergi!"