Bab 1

Ibu mertuaku mengalami kecelakaan mobil dan masuk ke ruang gawat darurat. Setelah menelepon suamiku yang merupakan seorang pengacara sebanyak lebih dari 20 kali, barulah dia menjawabnya.

"Kamu bikin ulah apa lagi? Stacy lagi ada sedikit masalah, aku lagi bantu dia. Jangan bikin keributan."

Aku menahan perasaan tertekan dan memberitahunya bahwa ibu mengalami kecelakaan dan memintanya mentransfer 200 juta. Namun, dia malah percaya pada ucapan mantan kekasihnya, lalu memarahiku.

"Apa hubungannya kecelakaan ibumu sama aku? Jangan harap bisa ambil uang dariku untuk keluargamu. Jangan ganggu, aku lagi sibuk!"

Telepon ditutup dengan tergesa-gesa. Tak lama kemudian, mertua dinyatakan gagal diselamatkan dan meninggal dunia.

Tiga hari kemudian saat persidangan dimulai, aku malah melihat suamiku duduk di kursi pembela. Dengan penuh keyakinan, dia membela mantan kekasihnya yang mabuk dan menabrak orang. Dengan kepandaiannya dalam berbicara, dia berhasil membuat mantan kekasihnya bebas dengan alasan "bukti tidak cukup".

Hatiku benar-benar hancur. Setelah sidang selesai, aku langsung mengajukan perceraian. Dia malah panik.

"Ibuku baik sekali sama kamu. Kalau kamu cerai sama aku, dia pasti akan sedih!"

Aku hanya tertawa sinis dan melemparkan kwitansi biaya rumah sakit dan surat kematian ke wajahnya. Dasar bodoh ... dia bahkan belum tahu, ibunya sudah tidak ada.

Saat menerima telepon dari rumah sakit, seluruh tubuhku mendadak terasa limbung. Ibu mertuaku baru saja datang ke rumahku untuk mengantarkan acar kesukaan suamiku, Carlos. Baru saja keluar dari pintu, beberapa saat kemudian dia sudah mengalami kecelakaan.

Aku panik luar biasa dan buru-buru melesat menuju rumah sakit. Sepanjang jalan, aku terus-menerus menelepon Carlos. Dia seorang pengacara. Biasanya dia memang sibuk dan lumayan sering mengabaikan teleponku.

Akan tetapi, kali ini tidak boleh! Ibunya sedang di rumah sakit, nyawanya di ujung tanduk!

Aku menekan tombol panggil lagi, tetapi Carlos tetap tidak mengangkat. Aku mengernyit kesal, lalu menaruh ponselku. Kemudian, aku berlari sendiri menuju ruang gawat darurat dan bertanya pada perawat dengan terengah-engah.

"Gi ... gimana keadaan ibu mertua saya?"

Perawat menghela napas, "Pasien masih dalam penanganan, tapi kondisinya nggak terlalu baik. Keluarga sebaiknya bersiap-siap."

Aku semakin panik dan buru-buru kembali menekan nomor Carlos. Kali ini, akhirnya dia menjawabnya. Namun baru saja dia membuka mulut, nada bicaranya sudah terdengar sangat tidak sabar, "Minerva, kamu ribut apa lagi? Kamu sudah telepon lebih dari 20 kali, nggak tahu kalau aku sedang sibuk?"

Aku baru hendak bicara, tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita di sampingnya, "Carlos, jangan pergi ya? Aku benar-benar takut ...."

Carlos segera menenangkannya, "Nggak apa-apa, ada aku di sini. Orang-orang jahat itu nggak akan bisa mencelakaimu."

Sudah lama sekali dia tidak bicara padaku dengan suara selembut itu. Dalam sekejap, hatiku terasa dipenuhi hawa dingin.

Tenggorokanku terasa kering saat bertanya, "Sibuk yang kamu maksud itu ... sibuk apaan?"

Di ujung sana, Carlos terdengar mendengus kesal. Meskipun tidak melihat wajahnya, aku bisa merasakan kejengkelannya.

"Stacy ada masalah, dia ditipu orang. Dia sendirian di sini, nggak kerabat sama sekali. Jadi, dia terpaksa minta tolong aku sebagai teman lamanya. Jangan bikin ribut lagi, bisa nggak?"

Stacy. Lagi-lagi Stacy.

Stacy adalah cinta pertama Carlos. Sejak dia kembali ke negara ini sebulan lalu, entah sudah berapa kali aku mendengar nama itu keluar dari mulut Carlos.

Entah itu alasan Stacy rumahnya kebanjiran karena pipa bocor dan Carlos harus menolong memperbaiki. Atau katanya Stacy diikuti orang dan Carlos tidak bisa membiarkan dia celaka, jadi harus melindunginya.

Di mulut Carlos, Stacy digambarkan sebagai wanita lembut yang tidak suka merepotkan orang lain. Namun bagiku, Stacy lebih mirip bayi besar yang sama sekali tidak bisa mengurus dirinya sendiri dan selalu saja menyusup ke dalam hidupku setiap saat.

Waktu luang Carlos hampir seluruhnya dihabiskan untuk wanita itu. Karena masalah itu, aku dan dia sudah sering bertengkar. Dari awal dia berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan Stacy, sampai akhirnya semakin lama semakin memperlihatkan ketidaksabarannya.

Terakhir kali bertengkar, dia bahkan berkata, "Aku dan dia sudah cerita masa lalu, jangan berpikiran macam-macam. Kalau aku dan Stacy benar-benar ada sesuatu, apa aku masih akan menikah denganmu?"

Mengingat ucapan itu, hatiku terasa makin getir. Aku baru saja hendak memberitahunya tentang kondisi ibu mertua, tapi ujung telepon malah terdengar nada sibuk. Carlos benar-benar menutup telepon!

Aku buru-buru menelepon lagi. Satu kali, dua kali ... tetap tidak dijawab. Semakin lama, hatiku makin mencelos. Sampai entah sudah mencoba berapa kali, akhirnya telepon diangkat.

Takut dia akan buru-buru menutup lagi, aku segera menyampaikan kabar itu. "Ibu kecelakaan, masih di ruang gawat darurat! Cepat datang! Terus, uang di kartuku nggak cukup untuk biaya rumah sakit, bisa nggak kamu transfer 200 juta?"

Tak kusangka, bukan Carlos yang menjawab telepon itu. Terdengar suara lembut Stacy, tetapi kalimatnya membuat darahku mendidih.

"Kak, aku tahu kamu ingin sekali Carlos segera pulang, jadi kamu sengaja mengarang alasan ini, 'kan? Tapi aku benar-benar nggak bisa ditinggal di sini. Begitu urusannya selesai, aku akan kembalikan dia padamu, ya?"

"Soal uang itu ... sebaiknya kamu jangan nipu Carlos lagi. Beberapa hari lalu aku dengar sendiri, ibumu minta 200 juta darimu untuk membelikan rumah adikmu."

Carlos ada di sampingnya. Aku langsung mendengar suaranya yang penuh amarah, "Minerva, kamu ini benar-benar tukang bantu adikmu, nggak bisa ditolong lagi!"

"Apa hubungannya kecelakaan ibumu sama aku? Meskipun dia mati, jangan harap bisa menguras uang dariku untuk keluargamu. Jangan ganggu aku lagi, pergi!"

Bab 2

Telepon kembali diputus. Aku sama sekali tidak menyangka, hanya karena beberapa kalimat Stacy, Carlos bisa salah paham mengira yang kecelakaan itu ibuku. Teleponku untuk meminta uang pun dianggapnya aku sedang membantu adikku.

Di tanganku ada setumpuk kwitansi biaya rumah sakit, sementara perawat berdiri di depan pintu menunggu. Dadaku penuh rasa marah bercampur panik. Namun ketika kucoba menelepon lagi, nomorku malah sudah diblokir.

Aku benar-benar panik dan mencoba semua cara untuk menghubunginya, tetapi semuanya tidak berhasil. Katanya sibuk, tapi ketika memblokirku, kenapa tidak merasa itu buang-buang waktu?

Yang sedang berbaring di ruang gawat darurat itu adalah ibunya sendiri! Stacy bahkan tidak punya bukti apa-apa, tapi dia percaya begitu saja!

Aku menahan diri mati-matian, agar tidak kehilangan kendali di depan begitu banyak orang di rumah sakit. Sekarang bukan saatnya untuk menghitung semua kesalahan Carlos. Tidak ada yang lebih penting daripada nyawa ibu mertua.

Aku segera mencari beberapa teman dan meminjam ke sana-sini, hingga akhirnya berhasil mengumpulkan 200 juta. Kemudian, aku bergegas turun untuk membayar biaya rumah sakit.

Ketika kembali ke depan ruang gawat darurat, seluruh punggungku sudah basah kuyup oleh keringat. Aku mengepalkan tangan dengan erat sambil menatap lampu merah di atas pintu ruang operasi yang masih menyala. Aku terus berdoa, semoga ibu mertuaku bisa selamat.

Ibu mertuaku selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Karena tahu keluargaku sendiri cenderung lebih menyayangi anak laki-laki, jadi ibu mertuaku malah menganggapku seperti anak perempuannya sendiri.

Meskipun sudah lama bercerai dengan ayah Carlos dan membesarkan Carlos sendirian, ibu mertuaku bukan tipe ibu yang terlalu menuntut atau ingin menguasai anak. Sebaliknya, dia sangat menghargai privasi kami.

Ibu mertuaku tinggal di apartemen lain. Dia hanya datang menjengukku dan Carlos setiap akhir pekan, sambil membawa makanan kesukaan kami.

Kali ini juga sama seperti biasanya. Hanya karena Carlos sempat mengatakan bahwa dia suka acar waktu terakhir kali menelepon, ibu mertuaku langsung ingat. Begitu selesai dibuat, dia buru-buru mengantarkannya. Namun di perjalanan pulang, ibu mertuaku malah kecelakaan.

Padahal jarak dari rumah ke tempat kami sangat dekat, hanya perlu menyeberang satu persimpangan jalan saja.

Aku mendengar dari orang baik hati yang mengantar ibu mertua ke rumah sakit, katanya pengemudi lawan diduga mabuk dan melaju dengan kecepatan tinggi. Tubuh ibu mertuaku sampai terpental beberapa meter dan darah berceceran di mana-mana.

Mengingat kembali ucapan perawat saat aku baru datang tadi, hatiku semakin tidak tenang.

Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang gawat darurat. Dia menggeleng pelan sambil menghela napas. "Operasinya agak terlambat, kami sudah berusaha sekuat tenaga. Pasien sekarang masih sadar, tapi kemungkinan ...."

"Silakan keluarga masuk untuk bicara terakhir kalinya."

Kegugupan yang kutahan sejak tadi akhirnya pecah. Kakiku menjadi lemas dan aku jatuh terduduk di lantai. Air mata yang kutahan mati-matian tak lagi bisa dikendalikan.

Namun, aku tidak bisa membuang waktu. Dengan langkah terhuyung, aku bangkit lagi, lalu masuk ke ruang perawatan.

Tubuh ibu mertua penuh dengan selang dan jarum infus. Padahal beberapa jam lalu, dia masih tersenyum ceria padaku, berkata bahwa lain kali akan membawakan kue hijau buatannya agar aku bisa mencicipinya.

Namun kini, dia hanya bisa terbaring di ranjang dan wajahnya tampak sangat pucat. Melihat aku masuk, dia berusaha keras menyunggingkan senyum.

"Minerva, kamu datang ya? Carlos mana?"

Bab 3

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Hatiku semakin benci pada ketidakpercayaan Carlos. Aku hanya bisa memaksakan senyum tipis. "Bu, Carlos lagi kerja, nggak bisa meninggalkan kantor."

Entah ibu mertua percaya atau tidak, senyum di wajahnya tampak sedikit meredup. Dia memberi isyarat agar aku mendekat.

Aku melangkah maju dengan patuh, lalu melihat kedua matanya juga memerah.

"Minerva, semua kesalahan ada di Carlos, bukan di kamu. Ibu tahu. Belakangan ini, setiap kali Ibu ke rumah kalian, Carlos selalu nggak ada di rumah. Apa benar sesibuk itu?"

Ucapannya lancar, wajahnya pun seakan lebih bersemu dibanding tadi. Dadaku langsung sesak. Aku sadar, ini adalah kesadarannya yang terakhir kalinya sebelum ajal menjemput.

Ibu mertua juga menyadari kesedihanku. Tangannya yang sudah hampir tak berdaya, mengusap wajahku dan menghapus air mataku.

"Kalau Ibu sudah pergi, nggak ada lagi yang bisa membantumu menegur Carlos si anak bodoh itu. Minerva, kamu anak baik. Kamu seharusnya bisa hidup lebih bahagia. Jangan menyakiti dirimu sendiri, ceraikan dia."

"Salah Ibu juga, Ibu nggak menyangka, ternyata dia sama saja seperti ayahnya dulu ...." Setetes air mata mengalir di sudut matanya, lalu tangan yang terulur itu jatuh lemah.

Aku menggigit bibir, tapi akhirnya tidak mampu lagi menahan tangis.

"Ibu!!!"

Di layar monitor, detak jantungnya berubah menjadi garis lurus. Aku tidak akan pernah lagi bisa mencicipi kue hijau buatannya.

Ketika kami membereskan barang-barangnya di rumah, aku menemukan sepucuk surat yang entah sejak kapan ditulisnya di atas meja tulis. Surat itu ditujukan padaku.

Aku membukanya, barulah aku tahu kenyataan pahit itu. Ayah kandung Carlos dulu juga berselingkuh.

Ibu mertua menderita seumur hidup. Ketika Carlos beranjak dewasa, barulah dia bisa merasakan sedikit kebahagiaan.

Hal yang paling dia benci adalah pengkhianatan dalam cinta.

Namun tak disangka, anak yang dia cintai seumur hidup dan dididiknya dengan sepenuh hati, ternyata sama busuknya.

Anak Durhaka Dibutakan Nafsu

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya