Bab 1

Setelah mengalami kecelakaan, aku sengaja berpura-pura amnesia untuk menggoda suami dan putraku.

"Kalian siapa?"

Mata putraku berbinar gembira saat menarik seorang wanita yang berdiri di luar kamar rumah sakit untuk masuk ke dalam.

Dia berkata, "Tante, aku dan orang tuaku ke sini untuk menjengukmu."

Suamiku berdiri diam di sampingnya, diam-diam menyetujui perkataan putraku.

"Tante, aku dan orang tuaku hanya ingin menjengukmu." Suara manis kekanakan itu bergema lembut di dalam kamar rumah sakit.

Kepalaku masih dibalut perban. Aku menunduk untuk melihat putraku yang berusia lima tahun, Zavier Pahlevi, yang kedua tangannya sedang menggandeng salah satu tangan dua orang dewasa tersebut. Senyum licik terpatri di wajahnya.

Suamiku, Rayan Pahlevi, yang berpakaian sangat rapi itu sama sekali tidak berniat mengoreksi panggilan 'tante' dari putraku. Sebaliknya, dia hanya menatapku dengan sorot ingin tahu.

Wanita yang digandeng oleh Zavier mengenakan gaun panjang berwarna putih, terlihat anggun dan lembut. Saat tatapanku tertuju padanya, dia terlihat sedikit gugup dan segera menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

Zavier menyadari tatapanku pada Yuki Wisam dan segera berdiri dengan waspada di hadapanku. Bersikap seperti pelindung.

Kalau aku benar-benar amnesia, mungkin aku akan mengira mereka bertiga adalah keluarga kecil yang bahagia nan harmonis.

Zavier menarik pelan tangan Rayan dan berbisik, "Ayah, karena Ibu amnesia, apa kalian sekarang bisa bercerai?"

Meski dia sedang berbisik, suaranya diatur sedemikian rupa agar aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Aku tahu ini hanyalah trik kecilnya. Dia sedang menghukumku karena aku kemarin menegurnya dan membuatnya malu di depan orang lain. Dia marah.

Ini memang gaya jahil Zavier yang biasa. Dia senang mempermainkanku.

Namun, aku tidak ingin terus bermain dalam sandiwara kecilnya lagi.

Karena aku sudah mengatakan kalau aku amnesia, maka aku akan terus pura-pura melakukannya.

Berpura-pura kalau aku tidak punya anak dan suami ini.

"Maaf … kalian siapa?"

Zavier sedikit terkejut, suaranya terdengar agak panik, "Kamu benar-benar nggak ingat aku? Nggak mungkin kamu lupain aku. Aku ini … aku ini anak yang paling kamu sayangi."

Rayan mengernyitkan alisnya heran, sorot matanya makin tajam. Suaranya terdengar tidak sabar, "Natania, jangan pura-pura. Dokter bilang kamu hanya mengalami gegar otak ringan, nggak parah. Jangan kira kamu bisa menghindari perceraian dengan pura-pura amnesia."

"Benar! Jangan pura-pura lagi! Kamu sangat mencintai kami! Mana mungkin kamu bisa melupakan kami begitu saja!" Ekspresi marah dan sinis Zavier terlihat sangat mirip dengan Rayan.

Aku merasa rasa sakit di kepalaku datang lagi.

Belum sempat aku mengatakan apa pun, seorang perawat di depan pintu mengetuk dan berkata, "Pasien butuh istirahat. Mohon yang tidak berkepentingan untuk keluar terlebih dahulu."

Rayan dan Zavier segera pergi tanpa mengatakan apa pun, membawa serta Yuki.

Tak lama kemudian, seorang perawat muda masuk ke kamar dan berkata padaku, "Suami Anda baru saja datang, sekarang dia keluar sebentar untuk membelikan bubur."

"Suami saya?"

Kepalaku rasanya agak kacau. Bukankah 'suami' ku barusan sudah kamu usir?

Perawat muda itu berkedip dan menjelaskan, "Benar, sebenarnya saya dulu bekerja di bidang kebidanan dan kandungan empat tahun lalu. Saya beberapa kali melihat kalian. Kalian berdua sangat tampan dan cantik, jadi sangat sulit dilupakan."

Empat tahun lalu aku memang menjalani pemeriksaan kehamilan di rumah sakit ini, tetapi Rayan tidak pernah sekalipun menemaniku.

Perawat itu melanjutkan, "Dan suami Anda adalah orang yang jarang bermain ponsel sepanjang waktu. Dia menunggu Anda diperiksa sampai selesai dengan cemas di depan pintu."

"Dia tinggi, tampan juga sangat perhatian dan berdedikasi. Membuat kami para perawat percaya dengan cinta lagi!"

"Oh iya! Pria dewasa dan anak kecil tadi itu siapa? Memang tampan sih, tetapi wajah mereka seram seperti rentenir."

Aku terkekeh mendengar perkataannya.

Dari empat belas kali pemeriksaan kehamilan, Rayan memang tidak pernah datang sekalipun. Orang yang menemaniku adalah Samudra.

Dia adalah adik laki-lakiku. Dia lima tahun lebih muda dariku, saat itu usianya masih delapan belas tahun.

Aku tidak ingin repot-repot menjelaskan hubungan antara aku, Rayan dan Zavier. Lagipula, sebentar lagi kami memang tidak akan ada hubungan apa-apa.

Tak lama kemudian, Samudra masuk ke kamar membawa kotak makanan sambil terengah-engah.

Aku memang sudah lapar sejak tadi. Seharian ini aku belum makan apa-apa, perutku mulai terasa nyeri.

Bab 2

Samudra segera membuka bubur dan meletakkannya di meja kecil. Dia menata sendok, lap dan gelas kertas dengan rapi

"Ini air hangat dan ini adalah telur rebus kesukaanmu, sekaligus bubur daging. Kamu makan saja dulu, aku akan mengupaskan telurnya."

Aku menerima perhatiannya tanpa sungkan.

Sejak pertama kali aku bertemu Samudra, seorang anak yang dibawa kakekku saat aku berusia 15 tahun, dia menjadi pelayanku yang paling setia.

Aku merasa nyeri perutku berkurang setelah makan beberapa sendok penuh bubur.

Saat aku mendongak, aku melihat mata Samudra merah dan bengkak.

"Kamu nggak tahu betapa paniknya aku mendengarmu mengalami kecelakaan." Bibirnya bergetar, suaranya tercekat karena emosi.

Hidungku tiba-tiba terasa sakit, mataku mulai terasa panas.

Siapa yang tidak takut mengalami kecelakaan?

Aku hanya beruntung karena aku tidak mengalami luka parah.

Awalnya aku hanya ingin bercanda, berpura-pura amnesia untuk mengerjai Rayan dan Zavier agar mereka sedikit khawatir.

Namun, apa mungkin orang yang tak punya hati akan khawatir terhadapku?

Aku keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari.

Aku bersikeras menjelaskan kepada dokter bahwa aku hanya tidak bisa mengingat siapa Rayan dan Zavier. Selain mereka, semua orang dan kejadian lainnya masih kuingat dengan jelas.

Setelah keluar dari rumah sakit, dokter memberitahu Rayan bahwa amnesia yang kualami disebabkan oleh gegar otak ringan dan bersifat sementara. Saat kondisiku membaik, ingatanku mungkin akan perlahan kembali.

Aku pun kembali ke rumah, rumah yang kutinggali bersama Rayan.

Begitu masuk, suara merdu alunan piano terdengar dari ruang tamu.

Yuki dan Zavier sedang memainkan piano berdua. Empat tangan di atas tuts, bermain dengan kompak.

Begitu lagu selesai, Yuki mengacungkan jempol sambil memuji, "Pianis kecil kita sangat hebat!"

Zavier tersipu, pipinya memerah, lalu tertawa dan berkata, "Itu karena kamu mengajariku dengan baik!"

Pemandangan yang sangat 'hangat'. Seperti ibu dan anak yang saling menyayangi.

Aku langsung naik ke lantai atas tanpa menghiraukan mereka.

Begitu Zavier melihatku, senyum di wajahnya langsung menghilang.

Yuki segera berdiri dan berkata, "Nyonya Natania, bagaimana kondisi tubuh Anda sekarang?"

Aku berdiri di tangga, mengangguk padanya sambil berkata tenang, "Aku sudah hampir pulih. Kalian bisa lanjutkan bermain."

Aku tidak membenci Yuki, aku hanya merasa cemburu padanya.

Yuki bukanlah orang ketiga dalam pernikahanku dengan Rayan.

Dia adalah cinta pertama Rayan yang tidak bisa pria itu lupakan.

Meskipun aku dan Rayan sudah menikah, ada satu kalimat yang sangat tepat yaitu yang tidak dicintai, dialah orang ketiga yang sebenarnya.

Saat Rayan berusia delapan belas tahun, di puncak karirnya, aku pertama kali melihat bagaimana dia mencintai seseorang dengan begitu hebat dan penuh semangat untuk pertama kalinya.

Bulan lalu, Keluarga Wisam mengumumkan kebangkrutan dan Yuki pun terpaksa kembali ke dalam negeri.

Seluruh tabungan Yuki habis untuk membayar utang keluarganya. Namun dengan latar belakang pendidikan musik, tidak mudah baginya menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi di sini.

Rayan lalu mencarinya dan mempekerjakannya sebagai guru piano untuk Zavier, dengan bayaran 1.2 miliar satu bulan.

"Ibu baru sangat baik! Aku paling sayang dengan Ibu baru!" Suara Zavier terdengar lantang dari ruang tamu.

"Anu… Tuan Muda Zavier, aku bukan … jangan panggil aku begitu lagi." Yuki tampak sedikit canggung menatap Zavier.

Zavier tampak tidak senang dengan panggilan itu, lalu memeluk kaki Yuki dengan manja dan berkata, "Kalau kamu terus manggil aku Tuan Muda Zavier, aku marah, lho. Kamu harus panggil aku Vier!"

"Kamu jauh lebih baik dari Ibu. Aku paling menyukaimu!"

Dia melirik ke arah lantai atas, ke arah kamar untuk memastikan aku belum keluar. Lalu dia lanjut berkata dengan suara keras, "Apa kamu bisa tinggal di rumahku? Aku ingin begitu bangun tidur bisa langsung melihatmu. Ayah juga sudah setuju, lho. Kenapa kamu nggak mau tinggal di sini? Rumahku mewah, kamu bisa dapat apa saja."

Sebenarnya, Rayan memang sudah pernah mengusulkan agar Yuki tinggal di rumah ini. Kamar di rumah ini banyak dan Yuki tidak perlu pergi bolak-balik. Apalagi sekarang wanita itu benar-benar tidak punya uang.

Namun, Yuki bersikeras untuk menyewa tempat tinggal sendiri di luar dan menolak tawaran Rayan.

"Tuan Muda Za… Vier, kamu harus melanjutkan latihan piano lagi."

Zavier menggeleng dengan keras kepala, tampak tak ingin menyerah sampai dia berhasil membujuk Yuki untuk tinggal.

"Apa kamu takut dengan Ibu? Tenang aja, aku dan Ayah akan melindungimu. Ibu sangat menurut dengan Ayah. Dia nggak akan macam-macam."

Zavier memang anakku. Dia sangat cerdas dan dia paling tahu harus berkata apa untuk menusuk ke bagian paling sakit di hatiku.

Bab 3

Aku mengenakan anting mutiara, lalu dengan langkah santai berjalan keluar dari kamar.

Begitu melihatku turun, Yuki terlihat agak canggung dan berkata, "Nyonya, saya ….."

"Tidak apa-apa, Yuki. Kamu tinggal saja di sini. Aku tahu kamu butuh waktu tiga jam pulang-pergi naik bus setiap hari."

Aku menerima sepatu dari pelayan dan berkata, "Kamu nggak perlu merasa terbebani. Aku juga senang kamu bisa kembali."

Zavier agak terkejut dan terdiam.

Dulu, kalau ayahnya mabuk lalu menyebut nama 'Yuki', kedua mata ibunya pasti langsung menangis.

Ya, kedatangan Yuki ke rumah bulan lalu sebenarnya bukan pertama kalinya Zavier bertemu dengannya.

Dia pernah diam-diam melihat foto-foto wanita yang disimpan ayahnya dengan sangat hati-hati di laci, juga nama wanita lain yang disebut ayahnya saat mabuk.

Itulah sebabnya Zavier merasa dia telah menemukan senjata terbaik untuk menghukum ibunya.

Namun, sekarang sepertinya senjata itu sudah tidak mempan.

"Aku mau es krim! Ambilkan dua, nggak, aku mau sepuluh!"

Yang terdengar hanyalah bunyi pintu tertutup.

Selama dirawat di rumah sakit, aku selalu terlihat kusut dan tak terurus. Sekarang akhirnya keluar juga, aku harus segera ke salon untuk perawatan kulit.

Supir sudah lama menunggu di luar.

Sementara itu, di dalam rumah, Zavier perlahan menghapus ekspresi di wajahnya.

"Tuan Muda, ini es krim-nya," kata pelayan yang buru-buru mengambil dari kulkas.

"Siapa yang mau makan eskrim?!" Dia membuang es krim itu ke lantai.

Matanya menatap lurus ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat.

Apa … Ibunya benar-benar sudah tidak mengingatnya?

Ibu Rayan, Zara Liam, mengetahui bahwa Yuki telah kembali ke negara ini dan putranya mempekerjakannya sebagai guru piano untuk Zavier. Tanpa banyak bicara, dia segera datang membawa beberapa kantong besar berisi barang-barang mewah.

Di atas sofa, wanita bangsawan yang tampak anggun dan berkelas itu menggenggam tangan Yuki dengan penuh kasih. "Yuki, anak baik … kamu sudah sangat menderita."

"Coba dulu kamu bisa bersama Rayan sejak awal, pasti Grup Wisam nggak akan bangkrut. Dengan bantuan Rayan, semua urusan bisnis pasti bisa ditangani dengan mudah."

Yuki terlihat gugup dan buru-buru menolak, "Tante Zara, tolong jangan bicara seperti itu. Semua itu sudah masa lalu. Aku sudah sangat berterima kasih Karena Pak Rayan bersedia mempekerjakan."

"Apa yang salah dengan omongan tante? Tante merasa sangat tenang karena Zavier dititipkan padamu." Zara menepuk tangannya dengan puas.

Dengan suara pelan, Zara berkata, "Kamu tahu Rayan akan bercerai, 'kan? Kamu baru saja kembali dan dia langsung ingin bercerai. Apa itu belum cukup menjadi bukti?"

"Tenang saja, bahkan Vier juga sangat menyukaimu. Di rumah kami, kamu nggak akan diperlakukan dengan buruk dan Rayan pasti juga akan membantu Keluarga Wisam bangkit lagi."

Saat Zara datang, wanita itu tidak memberitahuku, tidak juga memintaku untuk menjamunya, padahal dia jelas tahu aku ada di rumah.

Aku pun tahu diri, tidak keluar dan tidak mengganggu reuni mereka.

Bukan hanya Rayan dan Zavier yang menyukai Yuki, bahkan ibu mertuanya, Zara, juga sangat menyukainya.

Bahkan jauh sebelum aku dan Rayan menikah, Zara sudah menginginkan Yuki menjadi menantunya.

Yuki berasal dari keluarga terpelajar, sepadan secara status dan latar belakang dengan Keluarga Pahlevi.

Kebetulan juga, Rayan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Yuki, hal ini membuat Zara makin senang. Dia pun langsung mulai merancang rencana untuk menjodohkan mereka dan menyatukan kedua keluarga lewat pernikahan.

Sayangnya, Yuki tidak memiliki perasaan yang sama. Dia dengan tegas menolak pernyataan cinta Rayan dan kemudian memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri demi mengejar impiannya di bidang musik.

Meski Zara merasa sedikit kecewa, dia justru makin menyukai Yuki. Baginya, Yuki adalah perempuan yang punya prinsip dan ambisi.

Sedangkan aku, lahir dari keluarga sederhana, terobsesi akan kemewahan dan status. Demi bisa menikah dengan Rayan, aku mengerahkan segala cara.

Aku tahu betul, Zara sebenarnya memandang rendah diriku, bahkan mungkin membenciku. Tetetapi, karena pendidikan dan sopan santunnya, dia tak pernah menunjukkannya secara gamblang.

Kadang aku berpikir, jika sejak awal yang menikah dengan Rayan adalah Yuki, mungkin semua orang akan merasa bahagia dan segalanya akan berjalan sempurna.

Ponselku bergetar. Aku membuka layar dan melihat sebuah notifikasi pesan masuk.

Itu pesan dari pihak asuransi, uang ganti rugi kecelakaan terakhirku sudah ditransfer.

Kupikir, rasa takutku akan membuatku perlahan-lahan melupakan apa yang sebenarnya terjadi di hari kecelakaan itu.

Amnesia Palsu, Tapi Melepaskannya Sungguh-sungguh

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya