Bab 2
Ketika aku membuka mata lagi, pemandangan putih bersih menyambut pandanganku.
Seluruh tubuhku terasa sakit luar biasa, bahkan ada alat bantu pernapasan yang terpasang di wajahku.
Melihatku mulai sadar, perawat yang entah sudah berapa lama berjaga di sisiku langsung berseru dengan gembira ke arah pintu, "Keluarga pasien di mana? Pasien sudah sadar!"
Ternyata, setelah aku pingsan, aku dibawa ke rumah sakit.
Awalnya, aku mengira Ayah yang membawaku ke sini.
Aku menatap ke arah pintu dengan penuh harap.
Namun, wanita yang masuk justru membuat darahku seperti mau membeku.
Dia adalah ibu tiriku.
Setelah beberapa jawaban singkat untuk mengusir perawat, dia menatapku lekat-lekat dengan cukup lama, kemudian menunjukkan senyum yang menyeramkan.
Dia berkata, "Tak kusangka kamu memang benar anaknya Fendy. Terus kenapa? Aku akan segera jadi ibu tirimu. Membantu ayahmu memberi pelajaran padamu, rasanya itu bukan masalah, 'kan?'"
"Kamu 'kan perempuan, apa memang perlu uang saku sebanyak itu? Nanti juga akhirnya kamu akan menikah!"
Mendengar ucapannya yang tidak masuk akal, aku tidak punya tenaga untuk berdebat.
Dengan sisa tenaga, aku bertanya padanya, "Di mana ayahku? Ke mana dia?"
Ayahku sangat perhatian padaku sejak kecil. Bahkan kalau aku kena flu ringan saja, dia selalu khawatir.
Apalagi sekarang, saat aku dipukuli hingga harus dirawat di rumah sakit.
Namun, mendengar pertanyaanku, ibu tiri itu malah tertawa sinis seolah-olah dia baru saja mendengar lelucon.
"Kenapa? Mau mengadu ke ayahmu? Aku sudah bilang pada dia kalau aku mau menengokmu di kampus. Dia sangat percaya padaku. Sekarang, mungkin dia sedang sibuk dengan perjalanan dinas."
Tepat saat itu, seorang perawat masuk lagi ke ruangan.
Menatap luka-luka di tubuhku, perawat itu mengernyit dalam-dalam, lalu menoleh ke arah ibu tiriku dan bertanya.
"Anak ini terluka parah sekali. Apa ini karena dianiaya? Kenapa nggak melapor ke polisi?"
Mendengar itu, harapan untuk mendapatkan pertolongan kembali muncul dalam diriku.
Namun, sebelum aku sempat berbicara, Ibu Tiri sudah menjawab lebih dulu, "Aduh, ini memalukan sekali. Anak ini bukannya belajar yang benar di kampus, malah menggoda pria yang sudah menikah. Akibatnya, dia dipukuli oleh istri orang itu. Memalukan sekali, kami juga nggak mau memperpanjang masalah."
Mendengar fitnah itu, ekspresi perawat yang tadinya penuh simpati langsung berubah menjadi sinis.
Aku ingin sekali menjelaskan.
Namun, dia sudah mendekat untuk mengganti perban di tubuhku.
Gerakannya jadi jauh lebih kasar, membuatku hampir pingsan lagi karena kesakitan.
Bahkan untuk bicara pun aku tidak sanggup.
Baru setelah perawat itu keluar dari ruangan, ibu tiri itu menatapku dengan puas.
Lalu, dia mengeluarkan sebuah cincin dari kantongnya.
Melihat cincin itu, mataku langsung melebar.
Aku bahkan tidak peduli lagi dengan rasa sakitku, aku mencoba merebutnya.
Namun, sebagai pasien yang sedang sakit, mana mungkin aku menang melawan Ibu Tiri yang kondisinya sehat sempurna.
Dengan mudah, dia menghindari seranganku dan mengejek, "Ini cincin pernikahan ayah dan ibumu, 'kan? Ayahmu sudah memberikannya padaku. Tahu kan, betapa pentingnya aku di hatinya?"
"Aku kasih tahu, ya, mulai sekarang, akulah nyonya besar sebenarnya di rumah Keluarga Limawan."
"Sebagai anak dari istri lama, lebih baik kamu pikirkan bagaimana caramu menyenangkanku. Mungkin aku bisa mencarikan suami yang baik untukmu!"
Aku begitu marah sampai tak sanggup berkata-kata.
Cincin itu adalah sepasang cincin pertama yang dimiliki Ayah dan Ibu saat mereka masih pacaran.
Setelah Ibu meninggal, Ayah pernah bilang cincin itu akan disimpan sebagai bagian dari mas kawinku.
Tapi entah bagaimana, cincin itu sekarang ada di tangan ibu tiriku.
Bab 3
Ibu tiriku tidak tinggal terlalu lama. Karena merasa terganggu dengan bau disinfektan di rumah sakit, maka dia pergi.
Sebelum pergi, dia tak lupa membawa semua perangkat komunikasi milikku.
Mungkin dia khawatir aku akan menghubungi Ayah untuk mengadukan perbuatannya.
Namun, meski licik, dia terlalu bodoh untuk menyadari satu hal.
Dia tidak tahu bahwa rumah sakit menyediakan layanan telepon.
Aku menekan tombol panggil, dan tak lama kemudian, sebuah telepon disiapkan di samping tempat tidurku. Aku segera menelepon nomor yang telah kuhapal luar kepala.
Nada sambung berbunyi cukup lama sebelum akhirnya tersambung.
Dari ujung telepon, terdengar suara seorang pria paruh baya yang dingin, dengan latar suara diskusi rapat yang samar-samar.
Namun, begitu mendengar suara itu, air mataku langsung mengalir, dan dengan suara terbata-bata aku berkata, "Ayah ... aku di rumah sakit."
Ayah segera mengenali suaraku. Dia terdengar sangat panik dan segera bertanya apa yang terjadi.
Akan tetapi, terlalu banyak yang mau aku ceritakan, sehingga tak mampu menjelaskannya lewat telepon. Aku hanya memberi tahu alamat rumah sakit sebelum menutup panggilan.
Tidak sampai satu jam, Ayah sudah berdiri di depan pintu kamar rawatku.
Melihat kondisiku, matanya langsung terbelalak, dan dengan tangan gemetar dia mendekatiku, suaranya juga gemetar seperti akan menangis. "Maura ... katakan pada Ayah, siapa yang memukulmu? Ayah nggak peduli, Ayah akan buat mereka bertanggung jawab!"
Namun, saat itu juga, pintu kamar terbuka.
Ternyata itu ibu tiriku.
Begitu melihatnya, tanpa sadar aku langsung meringkuk ke sudut.
Ibu Tiri tampak tidak peduli. Dia malah menatap Ayah dengan gaya manja sambil berkata, "Bukankah sudah kubilang aku bisa menjaga Maura? Kenapa kamu mendadak pulang padahal sedang rapat?"
Ayah memandang ibu tiriku dengan ekspresi marah.
Namun, dia masih berusaha menahan diri dan bertanya dengan nada dingin, "Susan, bukankah kamu bilang kamu bisa menjaga Maura? Bagaimana dia bisa sampai mengalami hal seperti ini, dan kenapa kamu nggak kasih tahu aku?"
Susan masih tetap bersikap manja, dan sama sekali tidak melirikku sepanjang percakapan.
Dia terlihat sangat santai, seolah-olah tidak khawatir aku akan mengatakan yang sebenarnya.
Namun, akhirnya Ayah kehilangan kesabaran. Dia berkata dengan suara dingin, "Aku dengar dari resepsionis bahwa ada yang menuduh putriku adalah orang ketiga sehingga dia dipukuli. Aku akan menyelidiki ini, dan siapa pun pelakunya, aku nggak akan membiarkannya!"
Mendengar itu, wajah ibu tiriku terlihat sangat panik untuk pertama kalinya.
Dengan enggan, dia meraih lengan Ayah dan akhirnya mengaku, "Sayang, aku yang memukulnya. Kamu nggak pernah bilang anakmu sudah sebesar ini, aku pikir dia adalah wanita simpananmu. Jadi, aku hanya kasih sedikit pelajaran padanya."
Mendengar pengakuannya, Ayah menatapku yang penuh luka di tempat tidur dengan mata terbelalak tak percaya.
Dia menunjukku sambil berkata dengan suara bergetar, "Katamu memberi sedikit pelajaran, tapi lihatlah, kamu buat putriku yang kusayangi sejak kecil menjadi seperti ini?"
Bahkan pada saat itu, ibu tiriku masih belum menyadari betapa seriusnya situasi ini.
Dia malah mendekat dan merangkul lengan Ayah sambil berkata manja, "Aku melakukan ini karena terlalu mencintaimu, 'kan? Lagi pula, aku akan segera menjadi ibu tiri Maura. Bukankah mendidik anak adalah tugasku juga?"
Kali ini, Ayah benar-benar kehilangan kesabaran.
Dia melupakan segala citranya sebagai seorang pria terhormat dan tanpa ragu mendorong ibu tiriku dengan keras hingga jatuh ke lantai.
Dia bahkan meludah ke arahnya dengan penuh kemarahan. "Sejak kecil aku nggak pernah memarahi putriku. Bagaimana kamu berani memukulnya? Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran!"
Setelah itu, Ayah mengangkat kakinya, siap untuk menendang ibu tiriku.
Melihat itu, meskipun aku merasa lega, aku tidak ingin Ayah sampai melakukan kesalahan karena orang seperti dia.
Aku pun berniat untuk menghentikannya.
Namun, ibu tiriku justru lebih dulu berteriak, "Fendy, kamu nggak bisa memukulku! Aku sedang hamil!"
Mendengar itu, bukan hanya aku, tapi Ayah juga terkejut dan langsung membeku.