Bab 1
Perjanjian antar keluarga memaksa tunangan aku, Marvin Kurniawan, untuk menikah dengan aku.
Orang tuaku telah meninggal.
Sementara dia tergila-gila dengan Irma Fasnitan, putri dari musuh keluarga kami.
Pada akhirnya, Marvin menelan seluruh kekaisaran keluargaku dan membuang aku ke dalam bahaya.
Ia memamerkan Irma di sisinya, seolah wanita itu adalah trofi atas kemenangan yang berhasil diraihnya.
Dua puluh tahun kemudian, aku berada di ambang kematian.
Putra kami sendiri, anak aku dan Marvin yang menggenggam racun itu.
Dia berkata aku tidak berguna, dan ayahnya butuh kekuatan keluarganya Irma.
Lalu saat membuka mata lagi, aku sudah hidup kembali.
Kembali ke hari sumpah pernikahan aku.
Kali ini, untuk menyelamatkan keluargaku, aku tidak akan menandatangani namaku di perjanjian itu.
Aku menandatangani namanya, Irma Fasnitan.
Sedangkan aku? Aku membawa lari seluruh harta warisan yang ditinggalkan orang tuaku dan menghilang.
Kali ini, aku tidak akan menjadi orang bodoh yang sekarat demi pria yang tak pernah menjadi milikku.
Dua puluh tahun pernikahan berakhir dengan kematian aku. Suamiku, Marvin dan putra aku adalah pembunuhku. Tentu saja, dia sudah menelan seluruh kekaisaran keluargaku. Semua ini demi Irma, putri dari musuh keluarga kami.
Aku membuka mataku. Aku... hidup kembali.
Kembali ke gereja, pada hari sumpah pernikahanku bersama Marvin, sehari setelah pemakaman orang tuaku.
“Dengan nama Marvin Kurniawan dan Sara Rusadi, kita menyaksikan sumpah pernikahan ini. Sumpah untuk mengikat dua kekaisaran, dengan darah dan hukum.” Suara pendeta bergema di ruang besar Gereja Santa Maria di Kota Cessana.
Tunangan aku, Marvin, berdiri di sebelahku.
Dia memegang keris upacara, pusaka keluarga.
Namun matanya terpaku pada Irma yang duduk di bangku paling belakang.
Sama seperti sebelumnya.
Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah terang, dengan senyum kemenangan terukir di wajahnya.
Aku mengenali kalung safir itu.
Itu barang unggulan dari lelang Sortina terakhir.
Tampaknya Marvin tak segan mengeluarkan biaya besar untuk membuatnya bahagia.
Dia tahu Marvin mencintainya.
Dan aku? Aku hanyalah korban yang akan disembelih.
Kenangan dari kehidupan sebelumnya menusuk hatiku.
Malam pernikahanku, aku menunggunya dengan gaun tidur sutra baru.
Namun sepanjang malam, Marvin tidak pernah datang.
Dia sibuk menghibur Irma yang konon “terkejut” oleh upacara kami.
“Dia itu tamu, Sara. Kamu itu keluarga. Keluarga harusnya bisa mengerti.”
Kebohongan itu terus diulangnya selama dua puluh tahun.
Dan selama dua puluh tahun itu, aku melawan dia dengan satu-satunya senjata yang aku punya: pengawal lama ayahku dan kemampuan aku mengelola bisnis keluarga.
Tapi dia sabar.
Seperti rayap, ia menggerogoti fondasi aku sedikit demi sedikit.
Dia menghabiskan dua dekade untuk mengisolasi, merampas kekuatan aku, dan menunggu.
Dia menunggu sampai putra kami mencapai cukup umur, dan menjadi penerus yang sah untuk mewarisi segalanya.
Setelah itulah ketika aku telah memenuhi tugas aku, aku benar-benar menjadi tak berguna.
Sampai putra kami berdiri di sisi ranjangku yang sudah sekarat dengan membawa racun di tangannya...
“Kamu tidak berguna lagi, Ibu. Ayah butuh keluarganya Irma.”
Lalu Marvin mendekat, kata-kata terakhirnya lebih menusuk seperti pisau.
“Emang kamu benar-benar berpikir aku bisa mencintai alat? Kamu selalu begitu naif, Sara.”
Kuku aku menancap ke telapak tangan hingga berdarah.
Rasa sakit tajam itu menarikku keluar dari pusaran kenangan.
Itu membuat aku tetap sadar.
Sekarang, pria ini akan memainkan permainan yang sama.
Tapi kali ini, aku tidak akan menjadi bidaknya.
“Marvin,” kataku dengan suara lembut.
Dia akhirnya melepaskan pandangannya dari Irma. “Apa?”
Nada suaranya datar, tak sabar, seolah aku hanya orang asing yang menjijikkan.
“Sumpah pernikahan ini...” tanyaku dengan pelan, “Sudah kamu baca dengan teliti?”
Alisnya mengkerut. “Tentu saja. Kamu pikir aku bisa buat kesalahan semacam itu?”
Hatiku terasa seperti terbelah menjadi dua. Bahkan di depan Tuhan, suaranya masih penuh penghinaan pada aku.
“Aku hanya ingin konfirmasi nama pengantin wanita,” ujarku dengan tenang.
Marvin melirik perjanjian dan mendengus. “Sara Rusadi. Siapa lagi kalau bukan kamu?”
Penghinaan di matanya menjadi jaminan yang kubutuhkan.
Pada saat dia beralih ke pendeta untuk mengkonfirmasi, aku bergerak.
Tangan aku gemetar, tapi tekad aku sekeras baja.
Aku menukar perjanjian di atas altar dengan perjanjian identik yang telah aku sembunyikan di lengan.
Versi baru itu memiliki satu perubahan kecil.
Setelah ditandatangani, perjanjian ini sah secara hukum keluarga. Tidak dapat diubah.
Marvin menginginkan Irma?
Baiklah. Aku akan memberikannya pada Marvin.
Aku menusuk jariku dengan ujung keris, membiarkan darah menetes ke nama baru.
Rasa perih hampir membuat air mata aku menitik.
Bukan karena luka itu. Tapi karena dua puluh tahun penderitaan akhirnya berakhir.
Setiap tetes darah aku jatuh tepat di atas nama yang telah kutulis: Irma Fasnitan.
“Sumpah ini sah,” ujar pendeta, dengan suaranya terdengar jauh.
Marvin mengangguk puas, kilatan kemenangan lewat di matanya.
Dia berpikir dia telah memainkan semua orang dengan sempurna.
Dia tidak tahu, dia sendiri yang baru saja menjebak dirinya dengan wanita yang sebenarnya dia inginkan.
Dan aku? Aku akhirnya bebas.
Setelah upacara, para tamu pergi satu per satu.
Marvin langsung menghampiri Irma, bisik-bisik di telinganya.
Irma tertawa dengan suaranya yang manis tapi kejam, dan memastikan semua orang melihatnya bersama “penerus yang diharapkan.”
Tak ada yang memperhatikan aku di sudut ruangan.
Sama seperti dua puluh tahun lalu.
Aku kembali ke rumah keluarga aku dan langsung ke kamar aku.
Aku membuka loker, mengambil dokumen dana amanah rahasia yang ditinggalkan ibuku.
Delapan ratus miliar rupiah.
Sebelum meninggal, ibuku pernah menggenggam tanganku dan berbisik. “Sara, kalau kau nanti perlu kabur, gunakan uang ini. Bangun hidup baru untuk dirimu.”
Saat itu aku tak mengerti. Tapi sekarang aku sadar.
Ibuku juga pernah menjadi korban karena pernikahan politik lainnya.
Penderitaan seumur hidupnya menjadi kunci untuk kebebasan aku.
Aku sedang mengambil paspor dan kartu identitas ketika mendengar suara Marvin di luar pintu kayu tebal. Ia sedang menelepon. Nada suaranya begitu lembut, hingga aku hampir tak mengenalinya.
“Jangan khawatir, Irma. Sumpah pernikahan itu cuma formalitas.”
Tanganku berhenti.
“Setelah perjanjian itu jadi sah, aku akan punya alasan sah untuk menyingkirkannya.”
Mata aku terbelalak.
Di kehidupan sebelumnya, dia seperti kelinci. Begitu hati-hati, takut pada kekuatan yang aku miliki.
Kali ini, dia salah menilai diamnya aku sebagai kelemahan aku.
Bodoh. Dia mencoba bertindak lebih cepat dari yang seharusnya.
“Kamu yakin bocil itu tidak akan buat masalah?” Tawa Irma terdengar tajam seperti kaca, yang bahkan menembus pintu kayu.
Aku mendengar suara Marvin, begitu penuh kasih sayang yang tidak pernah dia tunjukkan pada aku.
“Kalau dia berani bicara satu kata saja, aku akan membuatnya menghilang. Selamanya.”
Bab 2
Aku berdiri di ambang pintu ruang kerja.
Marvin baru saja menutup telepon, wajahnya yang memerah masih tersisa akibat kelembutan panggilan dengan Irma.
Begitu melihatku, mukanya langsung berubah menjadi tatapan yang dingin.
“Sara. Ngapain kamu di sini?”
Nada suaranya terdengar seperti berbicara pada orang asing yang tak diinginkan.
Aku yang dulu mungkin akan menangis. Pasti akan bertanya kenapa dia begitu dingin.
Sekarang, aku hanya ingin tertawa.
“Ini rumah aku, Marvin. Atau kamu lupa?” Aku biarkan kata-kata itu menggantung di udara.
Selama Marvin belum sepenuhnya menelan bisnis keluargaku, akulah yang masih memegang kendali di sini.
Kemarahan melintas di wajahnya.
“Maksud aku, kamu seharusnya mengetuk pintu dulu. Aku sedang menangani urusan bisnis keluarga yang penting.”
“Apakah merencanakan pembunuhanku termasuk ‘urusan keluarga’ sekarang?”
Suara aku datar, tanpa emosi.
Wajah Marvin memucat. “Apa yang kamu dengar?”
“Cukup banyak.” Aku berjalan santai ke bar wiski peninggalan ayah aku dan menuangkan minuman. “Semua itu sangat menyentuh.”
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka.
Irma masuk dengan mengenakan gaun pernikahan Valentino satu-satunya.
Gaun pernikahan aku.
Dan kini, dia yang memakainya.
Irma berpura-pura terkejut, dengan tangan mungilnya terangkat ke mulut. “Oh, astaga! Sara, aku tidak tahu kamu ada di sini.”
Lalu ia beralih ke Marvin, matanya bersinar dengan pesona yang sombong, wajah sok cemberut. “Sayang, kamu tidak bilang kalau dia masih di sini.”
Ekspresi Marvin seketika melunak. “Irma, kamu tak perlu minta maaf. Semuanya akan menjadi milik kita segera.”
Aku merasa dunia berputar.
Bayangan dari kehidupan lama berkelebat di benakku.
Aku, mengenakan gaun yang sama, menangis di depan cermin.
Karena Marvin berkata Irma lebih cantik saat mengenakan gaun warna putih itu.
“Warna putih terlalu murni untuk kamu, Sara. Kamu tidak merasa warna merah lebih cocok untukmu?”
Pada akhirnya, aku mengenakan gaun berwarna merah terang untuk upacara sumpah pernikahan aku sendiri.
Seperti hewan yang disiapkan untuk disembelih.
Dan kini, Irma berdiri di sini dengan mengenakan gaun pernikahan aku, memperagakan kemenangannya.
“Gaun itu cantik,” kataku dengan tawa ringan.
Irma menegang, jelas tak mengharapkan reaksiku itu.
“Benarkah? Aku kira kamu akan marah,” ujarnya dengan pura-pura khawatir. “Lagi pula, gaun itu dibuat untukmu.”
“Marah?” Aku menggelengkan kepala. “Kenapa aku harus marah? Gaun itu sangat cocok padamu.”
Aku mendekat, dan meneliti gaun itu.
“Sebenarnya, aku selalu merasa gaun ini agak berlebihan. Terlalu berat untuk aku.”
Senyum Irma sedikit kaku. “Benarkah?”
“Tapi padamu, ini sempurna.” Senyumku semakin lebar. “Lagi pula, wanita seperti kamu memang butuh pakaian yang bagus untuk bisa sepadan.”
Suasana di ruangan mendadak menegang.
Wajah Marvin mengeras seperti batu. “Sara, apaan kamu bilang itu?”
“Aku memuji Irma,” jawab aku dengan ringan dan beralih ke arahnya. “Bukankah kamu juga berpikir dia tampak cantik memakainya?”
Pandangan Marvin langsung tertuju pada Irma, matanya penuh keinginan ganas untuk melindunginya.
“Tentu saja dia cantik. Irma cantik dalam baju apa pun.”
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk ulu hatiku.
Dalam kehidupan aku sebelumnya, dia tak pernah sekalipun menyebut aku cantik.
Bahkan dalam foto pernikahan kami, dia tampak seperti sedang berduka di pemakaman.
“Baiklah. Karena kalian berdua tampak begitu serasi, aku tak akan mengganggu.”
Aku pun berbalik hendak pergi, tapi suara Marvin menghentikan aku.
“Tunggu.” Dia mengambil botol wiski favorit aku dari lemari.
“Minum satu gelas?” katanya dengan suara yang dia coba menjadi lembut. “Kita perlu bicara.”
Aku menatap botol itu. Aku ingat kejadian ini dari kehidupan sebelumnya.
Setiap kali Marvin menyakiti aku, dia akan mengambil wiski untuk “berdamai.”
Seolah segelas minuman bisa menghapus luka yang ia buat.
“Tidak usah, makasih,” kata aku dengan tajam dan pasti. “Aku tidak minum alkohol.”
Marvin memeringkatkan alis. “Sebelumnya kamu tidak pernah gini.”
“Orang bisa berubah, Marvin. Kadang, kamu berubah untuk bisa bertahan.”
Irma ikut menyela. “Mungkin Sara hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan pengaturan baru.”
Nada suaranya terdengar lembut penuh perhatian, tapi matanya bersinar dengan kemenangan.
“Ngomong-ngomong soal pengaturan,” ujar aku seolah baru teringat. “Marvin, aku butuh dana amanah ibuku.”
Wajah Marvin langsung memucat.
“Apa? Dana amanah apa?”
“Jangan pura-pura bodoh.” Suara aku menjadi dingin. “Ibuku meninggalkan delapan ratus miliar rupiah dalam dana amanah untuk aku sebelum meninggal. Untuk masa depan aku. Aku membutuhkannya sekarang.”
Marvin dan Irma saling bertukar pandangan.
Aku melihat kepanikan di mata mereka.
Marvin berusaha mencari alasan. “Uang itu… sudah dialihkan. Untuk investasi keluarga yang kritis.”
“Investasi apa?”
Dia tak sanggup menatapku. “Air Mata Sisilia. Aku membelinya untuk Irma. Itu… bentuk penghormatan. Untuk keluarganya Irma.”
Air Mata Sisilia.
Harga lelang: tujuh ratus miliar rupiah.
Harta kerja keras ibu aku digunakan pria ini untuk beli perhiasan kecil demi wanita lain.
Kepalaku pusing dan pandanganku menggelap sejenak.
Irma mengangkat tangan kirinya dengan bangga. Permata merah muda itu berkilau di bawah cahaya lampu.
“Cantik, bukan? Marvin bilang hanya aku yang pantas memakainya.”
Aku menatap permata itu, mengingat tangan ibu aku yang menggenggam tangan aku di ambang kematiannya.
“Sara, aku peroleh uang ini dengan nyawa aku. Kalau kamu mau kabur, jangan ragu.”
Dan sekarang, uang yang diperoleh ibu aku dengan nyawanya, menjadi perhiasan di tangan wanita lain.
Aku menarik napas panjang yang dalam, menahan dorongan untuk berteriak.
“Aku mengerti.”
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu.
Marvin memanggilku dari belakang.
“Sara.”
Dia datang ke sisiku, suaranya yang rendah penuh dengan nada ancaman.
“Mending sadar diri deh, Sara. Kamu ahli waris keluargamu. Kelemahan kamu adalah kelemahan kami. Dan sekarang, kami butuh keluarganya Irma.”
Dia pun menutup pintu ruang kerja dengan keras. Suaranya bergema seperti tembakan di udara.
Aku berdiri di lorong, merasa lebih sendirian dari sebelumnya.
Rumah tempat aku tumbuh besar, kini terasa lebih mencekik daripada penjara.
Tapi aku punya kunci untuk keluar dari tempat ini.
Nama pada sumpah pernikahan telah berubah.
Segera, Marvin akan mengetahui bahwa yang ia nikahi bukan alat, melainkan wanita yang sebenarnya ia inginkan.
Dan aku akhirnya akan bebas dari neraka ini.
Bab 3
Selama beberapa hari berikutnya, aku diam-diam mulai menjual barang-barang mewah aku.
Tas edisi terbatas, kalung berlian, karya seni yang tak ternilai harganya.
Semua yang dipilih ibuku untukku.
Kini, semuanya menjadi tiket kebebasan aku dari neraka ini.
Aku memindahkan hasil penjualannya melalui perusahaan luar negeri ke rekening bank Swinida.
Marvin sama sekali tidak menyadarinya.
Dia terlalu sibuk merencanakan “bulan madu” dengan Irma.
Pada pagi hari ketiga, Marvin mengetuk pintu kamar aku.
“Sara, aku mau bicara dengan kamu.”
Suaranya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya, tetapi tatapan matanya tetap kosong.
Aku membuka pintu. Di tangannya ada selembar cek.
“Ini untuk kamu,” katanya, sambil menyerahkan kertas itu pada aku. “Dana amanah sudah digunakan, tapi aku tidak akan membiarkan kamu tanpa apa-apa.”
Aku melirik angka di atasnya.
Enam belas miliar rupiah.
Kompensasi yang “murah hati” untuk warisan ibu aku senilai delapan ratus miliar rupiah.
Aku yang dulu mungkin akan menangis terharu, berpikir dia masih memedulikan aku.
Tapi aku yang sekarang hanya ingin tertawa di hadapannya.
“Terima kasih atas kebaikan kamu, Marvin.”
Aku menerima cek itu dengan tenang. Ketenanganku membuatnya tampak terkejut.
“Aku akan bawa Irma ke Kota Lanisa,” lanjutnya. “Ada urusan bisnis keluarga yang perlu ditangani di sana.”
“Bagus sekali.” Aku mengangguk pelan. “Nikmati saja.”
Marvin memeringkatkan alis.
Kepatuhanku justru membuatnya gelisah.
Dalam kehidupan sebelumnya, teriakan aku adalah satu-satunya perlawanan yang kumiliki. Dia tahu aku bisa memanggil pengawal lama ayah aku kapan saja, dan melihat kekaisaran barunya hancur. Ketakutan itu yang membuatku tetap hidup. Sekarang, keheningan aku adalah senjata.
“Kamu… kamu tidak marah?”
“Kenapa aku harus marah?” Aku menatapnya dengan datar. “Bisnis tetaplah bisnis.”
Marvin menatapku dalam waktu yang cukup lama, matanya dipenuhi kebingungan dan rasa tidak nyaman.
“Mungkin kita harus mengambil foto resmi ahli waris keluarga dulu,” katanya secara tiba-tiba. “Itu penting untuk citra keluarga.”
Aku tahu dia sedang menguji aku.
Menguji apakah aku masih bisa dikendalikan dengan tradisi dan simbol.
“Tentu saja,” jawab aku dengan lembut. “Kapan?”
“Siang nanti.” Sekilas kebanggaan melintas di wajahnya. “Aku sudah pesan fotografer terbaik di Kota Cessana.”
Saat kami bicara, Irma muncul menuruni tangga.
Dia mengenakan setelan pakaian merah muda yang bermerek mahal, tampak manis dan polos seperti domba.
“Sayang, kalian berdua sedang bicarakan apa?” katanya sambil merangkai lengannya Marvin.
“Kita mau mengambil foto keluarga,” jawab Marvin, suaranya melunak hanya untuknya.
Mata Irma berkilau. “Benarkah? Bolehkah aku ikut?”
Dia beralih padaku, pura-pura meminta izin pada aku. “Kalau Sara tidak keberatan, tentu saja.”
Jika aku yang dulu pasti akan langsung menolak.
Foto keluarga adalah hal sakral, hanya untuk anggota resmi.
Tapi sekarang? Aku bahkan tak sabar menunggu dia pergi.
“Tentu saja,” kataku dengan datar. “Sebagai sekutu terpenting kita, Nona Irma memang seharusnya ada di sana.”
Pandangan Marvin menjadi lebih rumit.
Dia mulai menyadari aku telah berubah, tapi tidak tahu maksudnya apa.
Siang itu, kami tiba di studio foto eksklusif paling terkenal di Jalan Mutiara.
Fotografernya adalah pria berasal dari Negara Jekata bernama Alvin, yang hanya mengambil foto untuk kalangan elit.
“Pak Marvin, senang bertemu dengan Anda,” sapa Alvin dengan ramah. “Kita akan mengambil foto resmi ahli waris keluarga hari ini, bukan?”
“Ya,” jawab Marvin mengangguk. “Ini tunangan aku, Sara Rusadi.”
Kata “tunangan aku” terasa seperti sengatan.
Bahkan sekarang, dia masih menganggapku sebagai miliknya.
“Dan wanita cantik ini?” tanya Alvin sambil menoleh ke arah Irma.
“Irma Fasnitan,” jawab Marvin dengan suaranya yang melunak. “Teman… keluarga.”
Teman dari keluargaku.
Begitu juga dulu dia menyebut wanita itu di kehidupan sebelumnya.
Sampai aku mati, aku tetap “istri”. Dan Irma selalu “teman.”
Tapi semua orang tahu siapa yang sebenarnya dia cintai.
“Sebelum kita mulai, aku butuh properti foto,” kata Marvin sambil membuka kotak perhiasan antik.
Di dalamnya terdapat cincin berlian keluarganya Marvin, pusaka turun-temurun selama lima generasi.
Ia melambangkan kekuatan ketua wanita keluarga.
Kehidupan lalu, aku tidak pernah memakai cincin ini sampai setelah menikah.
Dan bahkan saat itu, aku tak pernah memegang kuasa yang diwakilinya.
Marvin mengambil cincin itu dan berjalan ke arah aku.
“Sara, ini adalah…”
“Wah!” seru Irma secara tiba-tiba. “Cincin itu cantik sekali!”
Tanpa meminta izin, dia meraih cincin itu dari tangan Marvin dengan cepat.
“Bolehkah aku coba pakai?” tanyanya dengan mata besar penuh kepura-puraan.
Sebenarnya Marvin ingin menolak, tapi tatapan memohonnya membuat Marvin melunak.
“Baiklah. Tapi hanya sebentar.”
Kesenangan Irma terasa seperti luka baru di hati aku.
Cincin ketua wanita keluarganya Marvin kini terpasang begitu mudah di jari wanita lain.
Irma memuji cincin di tangannya. “Seolah dibuat untukku!”
Alvin mulai menyiapkan pemotretannya.
“Kita mulai dengan beberapa foto Pak Marvin dan Nona Irma,” usulnya. “Selagi cincinnya masih di tangannya.”
Aku melihat Marvin dan Irma berpose. Mereka memeluk, mencium, berpelukan dengan intim.
Alvin mengambil foto mereka berkali-kali, setidaknya ada seratus kali.
Di setiap foto, mata Marvin penuh dengan kelembutan yang tidak pernah aku lihat.
“Sekarang untuk Pak Marvin dan Nona Sara,” kata Alvin yang akhirnya memanggil aku.
Saat Marvin melangkah ke arahku, Irma “tidak sengaja” menabrak peralatan.
Kamera mahal itu pun jatuh ke lantai, dan lensanya pecah.
“Oh Tuhan! Aku begitu ceroboh!” seru Irma dengan terkejut, terlihat ketakutan.
Wajah Alvin memucat. “Kameranya rusak… kita tidak bisa lanjut memotret hari ini.”
Marvin memeringkatkan alis, tapi saat melihat air mata muncul di mata Irma, kemarahannya menguap.
“Tidak masalah. Kita akan jadwalkan lagi.” Dia menenangkan Irma. “Jangan salahkan dirimu sendiri.”
Aku menyaksikan semua itu dalam diam.
“Kesalahan” Irma. Kelembutan Marvin. Dan kenyataan bahwa aku, lagi-lagi, terlupakan.
Semua sama persis seperti dulu.
Kembali ke rumah, Marvin memanggil aku ke ruang kerjanya.
“Aku punya sesuatu untuk kamu.”
Dia mengeluarkan tiket pesawat dari laci.
Sekali jalan. Tujuan: Pulau Sari.
“Apa ini?” Aku bertanya.
“Aku rasa kamu butuh liburan,” kata Marvin sambil menghindari pandangan aku. “Kita punya vila keluarga di Pulau Sari. Kamu bisa beristirahat di sana.”
Aku melihat tanggal di tiket.
Tiga hari dari sekarang.
“Ini pengasingan,” kataku datar. Bukan pertanyaan.
Wajah Marvin memerah.
“Bukan pengasingan. Ini demi keselamatan kamu,” katanya dengan dingin. “Kota Cessana tidak aman untukmu sekarang.”
“Dan kapan kamu akan datang jemput aku?”
Dia terdiam dalam waktu yang cukup lama.
“Setelah aku menstabilkan aliansi dengan keluarga Irma di Negara Austan.”
Jawabannya menegaskan segalanya.
Dia ingin aku pergi agar dia dan Irma bisa hidup tanpa gangguan.
“Aku mengerti,” kataku pada akhirnya sambil mengambil tiket itu. “Terima kasih atas pengaturannya.”
Kepatuhan aku kembali membuatnya tidak tenang lagi.
“Sara, kamu…”
Kalimatnya terpotong oleh suara rem mobil yang berdecit keras di luar.
Kami sama-sama menoleh ke jendela. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti mendadak di depan gerbang rumah.
Beberapa detik kemudian, jendela mobil turun dan laras senjata hitam muncul dari dalamnya.
Wajah Marvin seketika berubah. “Tiarap!”