Bab 1
Ibu mertuaku mengenakan pakaian yang sama dan membuat gaya rambut yang sama denganku setiap hari. Suatu hari, ayah mertuaku salah mengenali orang dan memelukku dari belakang.
Saking emosinya, aku menampar suami manjaku itu. Ketika berselisih, ibu mertuaku mendorongku dari lantai atas. Saat membuka mataku lagi, aku kembali ke hari di mana ibu mertuaku meminjam rantai celana dalam dariku.
Sejak aku menikah dengan Ashton, ibu mertuaku terus bersaing denganku. Dia memakai pakaian dan menggunting model rambut yang sama denganku.
Setiap kali keluar, dia juga selalu bertanya kepada suamiku, aku atau dia yang lebih cantik. Pada akhirnya, ayah mertuaku salah mengenali orang dan memelukku dari belakang.
Aku yang tidak tahan lagi pun bertengkar dengan Ashton. Ashton malah bilang aku merayu ayahnya. Karena murka, aku menamparnya.
Kebetulan, ibu mertuaku melihat semua ini. Dia menamparku balik, lalu aku terdorong dan terjatuh dari lantai atas.
Demi menutupi kejadian sebenarnya, mereka membuat kematianku terlihat seperti bunuh diri. Aku merasa sangat tidak adil. Ketika membuka mataku lagi, aku kembali ke hari di mana ibu mertuaku meminta rantai celana dalam dariku.
....
Ibu mertuaku senang bersaing dengan orang lain. Jika melihat wanita yang kalah cantik darinya, dia akan mentertawakan mereka dan mengatakan suami mereka akan direbut cepat atau lambat.
Jika bertemu wanita yang lebih cantik darinya, dia akan menyebarkan gosip tentang mereka, seperti mereka punya hubungan dengan banyak pria atau sudah sering melakukan aborsi. Baginya, semua wanita adalah musuhnya, bahkan hewan peliharaan di rumah tidak boleh berjenis kelamin betina.
Sejak aku dan Ashton menikah, dia bukan lagi satu-satunya wanita di rumah. Makanya, dia merasa sangat tidak puas padaku.
Ibu mertuaku diam-diam memotretku saat baru menjalani operasi usus buntu, lalu mengunggahnya bersama foto dirinya yang telah diedit. Dia bertanya kepada netizen, siapa yang terlihat lebih tua di foto itu?
Netizen tentu memahami maksud ibu mertuaku. Mereka langsung menghujatnya habis-habisan. Hal ini yang menyebabkan aku makin dibenci olehnya. Dia berpakaian dan merias diri sepertiku untuk mendapat perhatian yang sama.
Sampai hari di mana ibu mertuaku menghalangiku hanya untuk meminjam rantai celana dalam, aku baru tahu dia sudah sering diam-diam memakai celana dalamku.
Saat itu, Ashton masih tidur. Aku berniat membahas masalah ini dengannya malam nanti. Tiba-tiba, ayah mertuaku yang baru bangun malah mengira aku adalah ibu mertua. Dia langsung memelukku dari belakang.
Aku pun berteriak. Ashton yang mendengarnya lantas keluar dari kamar. Aku yang tidak tahan lagi akhirnya bertengkar dengan Ashton, lalu mengancam akan bercerai jika ibunya terus meniruku.
Siapa sangka, Ashton malah mengatakan aku merayu ayahnya. Aku benar-benar pusing melihat keluarga aneh ini. Aku sontak menampar Ashton dan hendak mencari beberapa dokumen penting untuk mengurus perceraian.
Saat itu, ibu mertuaku tiba-tiba mendatangiku dan tidak sengaja mendorongku. Mereka tidak ingin menelepon ambulans untuk menyelamatkanku, melainkan sibuk memikirkan cara untuk menutupi kesalahan mereka.
Kini, aku kembali ke hari di mana ibu mertuaku meminta rantai celana dalam dariku. Sebelum aku tersadar dari ketakutan akan kematian, terdengar desakan ibuku. "Belle, aku cuma mau pinjam rantai celana dalammu. Kok malah bengong? Kamu takut aku lebih cantik darimu? Kamu iri ya?"
Aku menatap wajah ibu mertuaku yang memakai riasan tebal dan tampak kampungan. Seketika, aku baru menyadari bahwa aku terlahir kembali.
Saat teringat pada tindakan mereka sekeluarga, tubuhku gemetaran saking kesalnya. Sementara itu, ibu mertuaku mendorongku karena aku tidak menanggapi ucapannya. "Hei, aku lagi bicara. Sikap macam apa ini?"
Setelah kelahiran kembali, aku tentu tidak akan diam begitu saja. Aku langsung mengambil celana dalamku yang masih dijemur di balkon, lalu menjambak rambut ibu mertuaku dan memasukkan beberapa celana dalam itu ke mulutnya.
"Kamu suka pakai celana dalam orang, 'kan? Nah, pakai saja. Kalau nggak cukup, kamu telan saja. Nggak usah sungkan-sungkan." Usai berbicara, aku mendorongnya ke dinding di samping.
Ibu mertuaku seketika merasa pusing. Dia berusaha keras melawan, lalu muntah-muntah. Setelah semua orang terbangun karena keributan ini, aku sedang merapikan rambutku dan merasa puas dengan pembalasan ini.
Di sisi lain, Ashton mulai menegurku. Aku pun berpura-pura bahwa penyakit bipolarku kambuh, lalu meminta maaf kepada Ashton, "Maaf, Sayang. Aku nggak sengaja. Ibu terlalu mendesakku tadi. Aku jadi nggak bisa mengontrol emosiku dengan baik."
Aku awalnya merasa sangat terharu karena Ashton masih bersedia menikahiku, padahal tahu aku punya gangguan bipolar. Hal ini juga yang membuatku selalu mengalah pada ibunya.
Di kehidupan sebelumnya, Ashton menggunakan penyakit bipolarku untuk terlepas dari kecurigaan polisi. Mereka bahkan mengambil seluruh asetku. Jadi, sekarang saatnya aku membalas dendam.
Ketika melihatku minta maaf, sikap Ashton menjadi lebih baik. Dia bersedia menikahiku demi aset. Ashton pun tidak punya alasan untuk berselisih denganku.
Kemudian, aku meminta maaf kepada ibu mertuaku. Dia malah ketakutan hingga mundur beberapa langkah.
Aku membeli beberapa pakaian dalam dengan kualitas rendahan di internet, sampai ada komentar yang mengatakan pakaian dalam yang dijual bisa menyebabkan penyakit kelamin. Kemudian, aku memberikannya kepada ibu mertuaku sebagai tanda minta maaf.
Ibu mertuaku mengira dia berhasil menundukkanku, jadi ekspresinya dipenuhi kebanggaan. Sambil menatapku dengan tatapan memprovokasi, dia memeluk lengan putranya dan bertanya, "Ashton, menurutmu aku lebih seksi atau istrimu?"
Aku sungguh tidak tahan melihat keanehan keluarga ini. Sambil menahan rasa jijik, aku buru-buru meninggalkan rumah.
Bab 2
Sebelum aku terpikir akan cara untuk membalas dendam, ibu mertuaku mulai bertingkah. Dia senang mengunggah foto hasil editannya, lalu menikmati pujian dari para pria mesum. Jika ada yang mengkritiknya, dia akan menghapus komentar itu, mengira orang iri padanya.
Lambat laun, para netizen yang baik hati mulai menerima dan memilih untuk menghargai kehidupan orang lain. Ibu mertuaku pun merasa bangga dengan akunnya sendiri. Dia bahkan melakukan siaran langsung setiap hari. Jika ada yang melontarkan komentar tak senonoh, dia akan mengira itu karena dirinya punya pesona besar.
Hari ini, ibu mertuaku mendapati para pria yang biasanya menyanjungnya beralih ke akun sosmed seorang wanita kaya dan cantik dari kota yang sama. Dia tentu tidak bisa menerima dan menulis banyak komentar berisi makian. Pada akhirnya, akunnya diblokir karena bahasanya yang kotor.
Ibu mertuaku murka. Dia membuat akun lain untuk memfitnah wanita itu adalah pelakor. Sayangnya, lawannya terlalu kuat kali ini. Wanita kaya itu benar-benar berkuasa. Dia hanya bermain di internet karena merasa bosan, tetapi malah difitnah.
Jadi, dalam waktu kurang dari dua hari, wanita kaya itu datang ke rumah kami. Ibu mertuaku awalnya masih kebingungan. Akan tetapi, dia merasa sangat iri melihat wanita itu lebih cantik daripada yang ada di foto.
Tanpa berbasa-basi, wanita itu langsung menyuruh bawahannya memukul ibuku. Aku tidak lupa membantu wanita itu menutup pintu. Jangan sampai ada tetangga yang melihat.
Ketika melihatku begitu pengertian, wanita itu menatapku dengan tatapan memuji. Kemudian, aku mengambilkan segelas air untuknya.
Di sisi lain, ibu mertuaku masih menolak mengakui kesalahannya, padahal dipukul sampai tidak bisa berdiri. "Dasar jalang! Beraninya kamu menamparku! Memangnya aku salah? Mana ada wanita baik-baik yang sekaya kamu! Entah dari mana asal-usul uangmu itu! Entah sudah berapa banyak pria yang menidurimu!"
Ibu mertuaku merasa makin iri melihat wajah wanita itu yang begitu terawat. "Kamu bisa secantik ini pasti karena oplas, 'kan? Dasar murahan! Kamu merebut semua penggemarku! Akan kuhancurkan wajahmu!"
Ibu mertuaku ini sungguh keras kepala. Nyawanya jelas-jelas berada di tangan orang lain, tetapi dia masih berani menantang.
Wanita itu bangkit dengan elegan. Sepatu hak tingginya menginjak wajah ibu mertuaku. Dia berujar dengan tidak acuh, "Dasar bodoh."
Ibu mertuaku tentu tidak bisa menerima dirinya dihina oleh wanita yang jauh lebih cantik darinya. Dia hendak mencakar wajah wanita itu, tetapi langsung ditahan oleh para pengawal di samping.
Aku menyaksikan semua ini dengan tatapan dingin, sedangkan ayah mertuaku ketakutan hingga tidak berani maju. Setelah wanita itu merasa puas, dia baru meninggalkan rumah kami.
Ibu mertuaku ingin menelepon polisi, tetapi wanita itu telah membungkam mulut ayah mertuaku dengan uang. Jadi, ayah mertuaku langsung menghentikan ibu mertuaku, lalu mengantar wanita itu keluar.
Sebelum wanita itu pergi, dia tidak lupa memotret wajah asli ibu mertuaku. Ibu mertuaku sungguh murka melihat sikap lemah ayah mertuaku. Keduanya bertengkar hebat, sampai-sampai seluruh kompleks tahu.
Kini, mereka sekeluarga pun tidak berani keluar rumah. Suasana hatiku sungguh baik melihat wajah ibu mertuaku yang babak belur. Setiap kali saat hendak berangkat kerja, aku akan melaporkan kondisi ibu mertuaku kepada para tetangga.
Dengan bantuanku, ibu mertuaku akhirnya menjadi artis di kompleks ini. Anak kecil yang baru bisa berbicara sampai tahu tentang ibu mertuaku.
Di sisi lain, wanita itu tidak mau melepaskan ibu mertuaku begitu saja. Dia mengunggah foto wajah asli ibu mertuaku. Setelah melihatnya, aku mengirim hadiah virtual kepada wanita itu.
Sementara itu, ibu mertuaku jatuh sakit saking emosionalnya. Dia hanya bisa berbaring di ranjang. Demi membuat ibu mertuaku makin marah, aku sengaja membeli baju baru, juga berdandan setiap hari untuk keluar.
Ayah mertuaku sampai tidak bisa menahan diri untuk melirikku. Aku pun bisa menilai kebencian ibu mertuaku terhadapku makin bertambah. Hingga hari ini setelah aku berangkat kerja, ibu mertuaku diam-diam masuk ke kamar tidurku.