Bab 1

Tristan Howard sudah memanjakan Talia Lewis selama lebih dari 20 tahun. Talia mengira mereka akan menikah, punya anak, dan hidup bahagia bersama seumur hidup.

Sampai suatu hari, Tristan membawa pulang seorang gadis dan memberi tahu Talia, “Tally, dia ini kakak iparmu.”

“Kak, karya fotografiku dapat medali emas internasional!”

Talia Lewis masuk ke kamar Tristan Howard dengan gembira. Berhubung terlalu bersemangat, dia langsung melemparkan diri ke dalam pelukan Tristan, seperti bagaimana dia bermanja-manja dengan Tristan semasa kecil. Namun, pada detik selanjutnya, sebuah tamparan malah mendarat di wajahnya.

Seusai menampar Talia, Helena Barus yang baru keluar dari kamar mandi dengan berhanduk langsung mendorongnya dengan kuat dan marah.

“Tally, aku ini pacar Tristan dan masih ada di sini. Tapi, kamu malah melemparkan diri ke pelukannya. Apa maksudmu? Memangnya kamu begitu nggak tahu malu dan bersikeras mau merayu kakakmu?”

Talia yang merasa wajahnya perih pun berlinang air mata, tetapi berusaha menahan air matanya. Benar juga, kenapa dia bisa lupa? Tristan sudah memiliki pacar dan akan segera menikah.

Sejak kecil, Talia sudah kehilangan orang tuanya. Setelahnya, Keluarga Howard berbaik hati menampungnya. Tristan juga sangat memanjakannya selama ini. Jadi, dia sudah terbiasa lengket pada Tristan.

Talia menatap Tristan dengan mata penuh kesedihan dan harapan. Bagaimanapun juga, Tristan tidak mungkin membiarkan dirinya ditindas, ‘kan?

Namun, Tristan hanya menunjukkan ekspresi dingin dan berkata dengan lebih dingin lagi, “Talia, kamu seharusnya tahu batasannya!”

Batasan? Talia pun menertawakan dirinya sendiri dan berseru, “Maaf, aku yang terlalu gegabah!”

Seusai berbicara, Talia langsung berbalik dan berlari keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, dia mendengar Helena berkata, “Tristan, tadi aku bukan sengaja. Aku terlalu mencintaimu, makanya baru merasa cemburu.”

Tristan hanya menjawab dengan dingin, “Nggak apa-apa. Sudah saatnya dia sadar diri.”

Apa memang sudah saatnya dia sadar diri? Talia kembali ke kamar dan menelepon seseorang.

“Pak Gary, aku sudah putuskan mau pergi mencarimu dan merintis karier di luar negeri.”

Di ujung telepon, Gary menjawab dengan kegirangan, “Kamu sudah seharusnya datang dari dulu! Dengan kemampuanmu, kamu pasti sudah jadi fotografer internasional yang terkenal kalau datang lebih cepat. Kapan kamu akan datang?”

Setelah berpikir sejenak, Talia menjawab, “Sekitar setengah bulan lagi deh.”

Talia memerlukan sedikit waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada segala sesuatu yang ada di sini.

Sebenarnya, Helena adalah sekretaris Tristan. Dulu, Tristan membawa beberapa CV ke hadapannya dan berkata, “Tally, coba bantu aku pilih satu.”

Talia merasa agak serbasalah. “Aku kurang ngerti. Sebaiknya kamu suruh saja karyawan SDM yang lebih profesional untuk memilihnya.”

Namun, Tristan malah berkata, “Sekretarisku mungkin akan sering ketemu sama kamu. Pilih saja yang kamu suka, biar kelak kamu juga merasa nyaman berinteraksi dengannya.”

Helena adalah orang yang dipilih Talia secara pribadi untuk menjadi sekretaris Tristan. Tak disangka, dia yang awalnya mengira itu hanyalah pemilihan sekretaris ternyata adalah pemilihan “kakak ipar”.

Keesokan harinya, Helena bersikap seperti masalah kemarin tidak pernah terjadi dan bersikeras menyeret Talia pergi mencoba gaun pengantin.

“Coba kamu bantu aku pilih, gimana gaun yang satu ini? Kakakmu benar-benar cuek. Nggak peduli aku coba yang mana, dia selalu bilang semuanya bagus. Dia sama sekali nggak bisa kasih pendapat.”

Talia menghela napas. “Itu gaun pengantinmu. Yang penting kamu merasa itu bagus.”

Helena memanyunkan bibirnya dan berkata dengan nada manja, “Tally, kamu tahu latar belakang keluargaku kurang bagus. Aku takut kalau seleraku kurang tinggi, kakakmu akan malu. Kamu kan beda. Kamu itu seorang fotografer terkenal! Seleramu pasti bagus banget!”

“Aku cuma bisa ambil foto dan nilai komposisi foto. Aku nggak pandai pilih gaun pengantin.”

Helena merasa agak sedih dan berkata dengan nada mengeluh, “Tally, kamu masih nggak bisa terima aku? Kemarin, aku yang bertindak terlalu gegabah. Aku minta maaf. Kamu jangan marah, ya?”

Talia membuka mulutnya dan hendak menjelaskan. Namun, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Dia bukannya tidak menerima Helena, juga tidak terlalu marah. Dia hanya tidak mengerti kenapa Tristan yang begitu memanjakannya dari dulu bisa tiba-tiba jatuh cinta pada orang lain.

Helena melirik Tristan yang ada di samping dan berkata dengan pengertian, “Tristan, kalau nggak, pernikahan kita diundur saja dulu. Habis amarah Tally reda, kita baru diskusikan lagi.”

Tristan mengerutkan kening. “Mana mungkin pernikahan kita diundur hanya karena dia nggak senang?”

Helena menjawab dengan tampang kasihan, “Tapi, dia itu adikmu. Aku mau dapat restu darinya.”

Tristan berpikir sejenak, lalu menoleh ke arah Talia dan berkata dengan nada yang agak dingin, “Talia, kamu pengertian dikit! Jangan buat kakak iparmu nggak senang!”

Talia menoleh. “Aku nggak ngapa-ngapain.”

Saat melihat tatapan Tristan yang penuh tuduhan, Talia sontak berlinang air mata. Ketika Tristan masih memanjakannya dulu, Tristan hampir selalu lengket dengannya. Saat ada orang lain di tempat, dia selalu menjaga sedikit jarak dengan Tristan, tetapi Tristan selalu menariknya kembali ke sisinya.

Saat Talia pergi ke desa untuk mengambil gambar, Tristan mengikutinya. Ketika dia pergi mengambil foto migrasi hewan di luar negeri, Tristan juga mengikutinya.

Tristan sendiri yang mengatakan bahwa tidak peduli di mana dan kapan pun itu, dia akan selalu berdiri di belakang Talia. Selama Talia menoleh, Talia pasti akan bisa melihatnya.

Talia menghela napas dalam-dalam, lalu berkata secara perlahan, “Maaf, aku yang nggak tahu batasannya dan buat Kak Helena salah paham. Kelak, aku akan lebih perhatikan tindakan dan kata-kataku. Aku nggak akan mengulanginya lagi.”

Tristan mengangguk pelan. “Baguslah kalau kamu sadari kesalahanmu.”

Talia mengiakannya, lalu berujar, “Kalian lanjut pilih gaun pengantin saja. Aku merasa kurang enak badan, aku pulang dulu.”

Begitu berjalan keluar dari butik gaun pengantin, air mata Talia langsung mengalir. Dia menyeka air matanya dengan asal, lalu mengeluarkan ponselnya dan memesan tiket pesawat. Setengah bulan lagi, dia akan naik ke pesawat dan meninggalkan tempat ini, juga meninggalkan Tristan.

Bab 2

Talia baru pulang ke rumah pada dini hari. Tekad untuk pergi bisa muncul dalam sekejap, tetapi hubungan yang terjalin selama lebih dari 20 tahun ini tidaklah palsu.

Talia juga tidak begitu hebat sampai bisa mengatakan bahwa dirinya sudah sepenuhnya melepaskan semuanya. Demi menghindari penyesalan, dia merasa sebaiknya dirinya menghindari Tristan selama setengah bulan ini.

Ketika Talia kembali ke vila Tristan, seluruh rumah gelap gulita. Dia pun menyalakan lampu dan berjalan ke kamar dengan tubuh yang terasa lelah.

Di ruang tamu, tiba-tiba ada sebuah suara yang memanggilnya, “Talia.”

Talia menoleh dan melihat ada seseorang duduk di sofa. “Ada apa, Helena?”

Helena mengenakan gaun tidur renda berwarna hitam yang seksi dan duduk setengah bersandar di sofa. Dia berkata sambil tersenyum tipis, “Ini gaun tidur yang dibelikan Tristan. Bagus?”

Seiring dengan Helena yang duduk tegak, beberapa bekas berwarna merah di dada dan pinggangnya juga terlihat. Namun, dalam balutan gaun tidur renda berwarna hitam itu, dia terlihat makin seksi dan memesona.

Helena menyentuh bekas merah di lehernya dan menggumamkan “ah”, seolah merasa kesakitan. Kemudian, dia mengeluh dengan suara mentel, “Waktu pilih gaun pengantin, selera kakakmu nggak bisa diandalkan. Waktu pilih gaun tidur, seleranya malah sangat bagus. Dia bilang, dia sama sekali nggak tahan waktu melihatku mengenakan gaun tidur ini.”

Talia berdiri di atas tangga dan menyaksikan pertunjukan Helena dengan tatapan dingin. Kemudian, dia tersenyum mengejek dan berujar, “Helena, hentikanlah pertunjukanmu itu.”

“Pertunjukan apa?”

“Pertunjukan murahanmu.”

Helena tertawa, lalu berkata, “Tapi, kakakmu justru suka yang murahan. Begitu pulang, dia langsung nggak sabar menyuruhku ganti gaun tidur ini, lalu ....”

“Nggak usah dilanjutkan lagi. Aku nggak pengen dengar.”

“Kamu pengen dengar atau nggak, ini kenyataan. Dia tergila-gila pada tubuhku. Apa gunanya punya perasaan selama lebih dari 20 tahun? Yang namanya pria cuma akan pilih orang yang cocok dengannya di ranjang.”

Talia malas berbicara omong kosong dengan Helena. Dia pun berbalik dan hendak pergi. “Lanjutkan saja pertunjukanmu sendiri. Aku nggak punya waktu nonton pertunjukanmu.”

Namun, Helena masih tidak menyerah dan mengejar Talia. “Dari jarak sejauh itu, kamu mungkin nggak lihat jelas jejak yang ditinggalkan kakakmu di tubuhku. Talia, jangan pergi. Ayo kemari, lihat yang jelas ....”

Saat berbicara, Helena sudah menyusul Talia dan menarik lengannya. Talia merasa mual dan secara refleks menarik tangannya. “Jangan sentuh aku!”

Tidak jauh dari sana, Tristan berjalan keluar dari kamar dan bertanya, “Sudah begitu malam, apa yang kalian bicarakan?”

Baru saja Talia hendak menjawab, Helena sudah tersenyum licik padanya. Pada detik selanjutnya, Helena langsung memasang ekspresi ketakutan dan berseru, “Ah ....”

Helena jatuh dari tangga.

“Helena!”

Tristan meletakkan gelas yang dipegangnya dan segera menerjang ke arah Helena. Setelah memeluknya dengan erat, dia bertanya, “Kamu baik-baik saja?”

Helena berbaring dalam pelukan Tristan dan menjawab dengan lemah, “Aku nggak apa-apa. Jangan salahkan Tally, dia nggak sengaja.”

Tristan mendongak dan menatap Talia dengan tatapan penuh kekecewaan.

“Talia, nggak peduli seberapa nggak suka pun kamu sama Helena, kamu juga nggak boleh mendorongnya dari tangga! Kamu tahu betapa bahayanya hal ini!”

Ketika memandang Helena lagi, nada Tristan berubah menjadi penuh kasih sayang dan rasa iba. Dia menggendong Helena dan berkata, “Ayo kita balik ke kamar. Biar aku periksa lukamu dengan saksama.”

Helena seketika tersipu. “Kelak, jangan bersikap begitu mesra denganku di hadapan Tally. Wajar saja seorang adik merasa posesif terhadap kakaknya. Dulu, kamu cuma manjakan dia seorang. Sekarang, aku tiba-tiba muncul. Dia pasti sulit untuk terima kedatanganku. Kita harus lebih pikirkan perasaan Tally dan kasih dia waktu untuk beradaptasi.”

Tristan hanya menjawab dengan dingin, “Cepat atau lambat, dia harus terbiasa.”

Saat Tristan menggendong Helena berjalan ke kamar, Helena menoleh ke arah Talia dan mengacungkan jarinya membentuk huruf V ke arah Talia dengan ekspresi penuh kemenangan.

Talia tiba-tiba merasa bahwa dunia ini sepertinya sudah tiba-tiba berubah menjadi dunia yang tidak dikenalnya. Kemunculan Helena sudah sepenuhnya menghancurkan dunianya.

Talia tidak mengerti kenapa Tristan bisa jatuh cinta pada wanita seperti Helena. Apa seperti yang dikatakan Helena, di antara perasaan dan hasrat, pria akan selalu memilih nafsu duniawi?

Talia tidak mengerti, tetapi juga tidak ingin mengerti lagi sekarang.

Keesokan paginya, Talia pergi ke kantor majalah. Dia sudah bekerja sebagai fotografer untuk kantor ini selama tiga tahun. Hubungannya dengan rekan-rekannya sangatlah baik.

Ketika menerima surat pengunduran diri Talia, Kepala Redaksi merasa agak terkejut, “Apa ini karena masalah gaji? Kamu boleh kasih tahu aku kok. Nanti, aku akan kasih tahu ke direktur.”

Talia menggeleng sambil tersenyum. “Makasih, Bu. Tapi, aku undurkan diri bukan karena masalah gaji.”

“Jadi, karena apa?”

“Aku punya rencana hidup lain.”

Begitu mendengarnya, Kepala Redaksi langsung mengerti dan berujar sambil tersenyum, “Kamu sudah mau nikah sama Tristan, ya? Bagus juga. Selama ini, dia selalu antar jemput kamu dari kantor nggak peduli gimana pun cuacanya. Dia memang perhatian padamu. Bisa menikah dengannya juga merupakan hal baik. Aku nggak akan menghalangimu.”

Seusai mendengar ucapan awal Kepala Redaksi, Talia awalnya ingin memberi penjelasan. Tristan memang akan segera menikah, tetapi pengantinnya bukanlah dirinya. Hanya saja, setelah mendengar ucapan Kepala Redaksi sampai akhir, dia sudah kehilangan minat untuk menjelaskan.

Hubungan di antara Talia, Tristan, dan Helena terlalu rumit, juga tidak dapat dijelaskan secara singkat. Sekarang, Talia hanya ingin menyelesaikan serah terima pekerjaannya secepat mungkin, lalu meninggalkan tempat yang menyakitkan ini setengah bulan lagi.

“Oh iya, Talia, kapan pernikahan kalian akan dilangsungkan? Nanti, jangan lupa undang aku ya. Aku harus pergi merestui kalian.”

Talia pun tersenyum canggung.

Tepat pada saat ini, Wenny dari meja resepsionis mengetuk pintu dengan bersemangat, lalu menjulurkan kepalanya dari celah pintu dan berkata, “Kak Talia, pacarmu datang menjemputmu lagi! Hehehe. Hari ini, ada kejutan, lho!”

Bab 3

Talia berjalan keluar dari gerbang kantor dan melihat Tristan sedang bersandar di samping Cullinan hitamnya. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

Setelah berjalan mendekat, Talia baru mengerti apa “kejutan” yang dimaksud Wenny. Ternyata, seluruh mobil dipenuhi dengan bunga mawar merah yang segar, selain kursi sopir dan penumpang depan.

Di belakang, Talia dapat mendengar suara beberapa rekan wanita yang memiliki hubungan lebih dekat dengannya. Mereka bersembunyi di balik papan nama kantor dan diam-diam melirik ke arah mobil. Mereka bahkan saling mendorong dan terkikik.

Ketika Tristan datang menjemput Talia dulu, kadang-kadang, Tristan juga akan membawakan sesuatu. Ada kue, teh susu, atau berbagai camilan yang disukainya.

Meskipun sudah sering menyaksikan hal seperti ini, rekan kerja Talia akan selalu menggodanya, “Setiap kali pacarmu datang, kami semua selalu kebagian makanan enak. Kami benar-benar kecipratan rezekimu, Tally.”

Dulu, Talia hanya menanggapi godaan rekan-rekannya dengan senyuman, lalu membagikan sebagian barang yang dibawakan Tristan untuk mereka. Sekarang, mereka mungkin sedang menanti untuk mendapatkan mawar-mawar di dalam mobil.

Talia menyapa, “Tristan.”

Tristan mendongak, tetapi raut wajahnya terlihat kurang bagus. Sikapnya juga tetap dingin. “Kelak, jangan langsung panggil namaku. Panggil aku kakak.”

Talia tertegun sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku mengerti, Kak.”

“Semalam, omonganku terlalu pedas. Jangan taruh dalam hati.”

“Emm.”

“Tapi, kamu juga sudah bukan anak kecil lagi. Jangan pernah ulangi tindakan berbahaya seperti mendorong orang dari tangga lagi.”

Talia mendongak dengan tidak percaya, lalu tertawa saking marahnya. “Jadi, hari ini kamu datang kemari untuk menginterogasiku?"

Ekspresi Tristan seketika menjadi muram. “Kamu masih belum sadari kesalahanmu sampai sekarang?”

“Tristan, kamu sudah kenal sama aku lebih dari 20 tahun. Meski aku benar-benar mau mencelakainya, aku juga nggak mungkin melakukan hal sebodoh itu di rumahku sendiri!”

Setelah berseru marah, Talia langsung menyesal. Namun, dia akan segera pergi. Tidak ada gunanya juga dia menjelaskan terlalu banyak.

“Sudahlah, kamu pergi saja. Jangan ganggu aku kerja.”

Ketika Talia kembali ke kantor, rekan-rekan yang masih bergurau tadi sepertinya menyadari ada yang tidak beres. Mereka segera menunjukkan tampang perhatian.

“Kak Talia, kalian bertengkar?”

“Jangan marah. Dia sudah bawa begitu banyak mawar untuk berdamai denganmu. Berikanlah dia sebuah kesempatan!”

“Benar! Kak Talia, kamu jangan nggak tahu bersyukur. Di mana lagi kamu bisa ketemu pacar sebaik ini.”

Talia hanya menyahut dengan ekspresi datar, “Jangan berkumpul di sini lagi. Cepat lanjut kerja sana.”

Berhubung memiliki keterampilan fotografi yang sangat luar biasa, Talia cukup dihormati di kantor. Para gadis ini lumayan patuh pada kata-katanya dan hanya bisa kembali ke meja masing-masing dengan kepala tertunduk.

Wenny memiliki hubungan paling dekat dengan Talia. Dia pun menarik Talia ke samping dan bertanya, “Kak Talia, aku boleh minta sekuntum bunga darinya? Tadi, aku lihat mobilnya dipenuhi sama bunga. Dia bahkan sudah siapkan vas bunga.”

Talia merasa sangat pusing dan menjawab, “Aku akan membelikannya untukmu. Aku nggak akan biarkan vas bungamu kosong.”

Setelah kembali ke mejanya, perasaan Talia masih sangat kacau. Saat sedang memaksakan diri untuk memproses beberapa lembar yang pernah diambilnya dulu, ponselnya tiba-tiba berbunyi.

[ Gambar ]

[ Gambar ]

[ Gambar ]

[ Kamu paling suka yang mana di antara beberapa ini? ]

Helena mengirimkan beberapa lembar foto berisi beberapa model gaun tidur. Daripada menyebutnya gaun tidur, itu lebih tepat disebut pakaian dalam seksi. Sebab, baik itu bagian yang seharusnya terbuka atau tertutup, terekspos semuanya.

Tidak lama kemudian, pesan-pesan itu dihapus.

[ Helena: Maaf, aku salah kirim pesan. ]

Talia menonaktifkan ponselnya, lalu menyimpannya dalam laci. Sebenarnya, mereka berdua sama-sama tahu bahwa Helena tidak salah mengirim pesan, melainkan sengaja mengirimkan foto-foto itu kepadanya.

Sampai waktu pulang kerja, Talia baru mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkannya lagi. Tidak ada panggilan tak terjawab, tidak ada pesan teks, tidak ada pesan Whatsapp. Tidak ada apa pun.

Dulu, selama Talia tidak bisa dihubungi lebih dari setengah jam, Tristan tidak akan berhenti menelepon atau mengirim pesan, bahkan langsung datang ke kantor untuk mencarinya. Sekarang, dia tidak akan berbuat begitu lagi.

Talia membuka Instagram dan melihat sebuah postingan dengan latar belakang yang familier. Sebuah Cullinan hitam yang dipenuhi bunga mawar segar.

Helena menggenggam sebuket bunga mawar dan berdiri di depan mobil sambil tersenyum bahagia. Dia menambahkan sebaris keterangan.

[ Makasih, Sayang. Ini hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kuterima. ]

Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Helena.

Mulai sekarang, barang-barang di mobil Tristan hanya akan berisi barang yang disiapkannya untuk Helena.

Setelah pulang kerja, Talia tidak langsung pulang ke rumah. Namun, Sherly, ibunya Tristan tiba-tiba meneleponnya karena merasa agak khawatir.

“Tally, kenapa belakangan ini kamu lembur sampai begitu malam? Kamu itu seorang perempuan. Nggak aman kalau kamu pulang malam-malam sendirian. Aku suruh Tristan jemput kamu, ya.”

Talia tidak ingin menaiki mobil Tristan lagi. Baik itu kursi penumpang depan maupun bunga mawar, itu bukanlah miliknya.

“Nggak usah, Bibi. Aku akan pulang naik taksi online.”

“Oke. Kalau begitu, hati-hati ya.”

Setelahnya, Talia memesan taksi online. Saat tiba di rumah, Tristan dan Helena juga ada.

Helena sedang mendorong sebuah koper besar dan berjalan keluar dari kamar Talia. “Tally, kamu sudah pulang ya?”

Talia langsung murka dan bertanya, “Siapa yang izinkan kamu masuk ke kamarku?”

Aku Pernah Mencintaimu, Sebatas Itu

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya