Bab 1

Ini sudah ke-seratus kalinya aku diabaikan oleh keluarga ini.

Saat ulang tahun, mereka hanya menyiapkan kue untuk adikku.

Saat sakit, aku terbaring sendirian di ranjang, sementar mereka semua mengelilingi adikku.

Aku selalu bilang pada diriku sendiri untuk bersabar dan jadi anak yang pengertian, tapi semua itu tak pernah tergantikan sekalipun dengan kasih sayang mereka.

Hingga hari pernikahanku tiba.

Aku kira setidaknya di hari itu, aku bisa merasakan sedikit kasih sayang yang benar-benar menjadi milikku.

Namun, aku salah.

Ayah, Ibu, Kakak, bahkan Jason, tunanganku yang merupakan seorang bos mafia, semuanya malah pergi ke acara wisuda adikku.

Mereka meninggalkanku sendirian di tempat pernikahan, membiarkanku menanggung tatapan iba dan ejekan para tamu.

Sedangkan Jason hanya melontarkan kalimat dingin, "Hanya pernikahan saja, bisa digantikan lain hari."

Ini bukan pertama kalinya.

Waktu acara pertunangan pun sama, begitu adikku mengeluh sakit perut, dia tanpa ragu langsung menemaninya ke rumah sakit.

Sementara aku harus tersenyum pada tamu-tamu sendirian

Saat ini, aku benar-benar sadar. Bagi mereka, aku hanyalah sosok yang tidak penting.

Jadi, aku memilih untuk pergi.

Aku membawa koper dan satu rahasia, yaitu anak dalam kandunganku.

Kali ini, aku tidak akan menunggu kasih sayang mereka lagi.

Aku akan memulai hidup baru, demi diriku dan demi anakku.

Pada malam pembatalan pernikahan, Siska mengunggah foto wisuda bersama keluarga di media sosial.

Dia berdiri di tengah, dikelilingi oleh Ayah, Ibu dan Kakak, sementara tunanganku berdiri di belakangnya sambil memegang seikat bunga, seperti seorang pelindung.

Sebagai pusat perhatian, senyuman Siska terlihat begitu bersinar.

Caption di fotonya sederhana, tapi menyakitkan. [Kasih sayang itu tak perlu ditunggu].

Cahaya dari layar ponsel memantul di wajahku.

Dadaku terasa hampa. Bukan marah, melainkan lelah.

Aku hanya mengetik enam kata: [Selamat atas kelulusanmu, aku ikut bahagia].

Kemudian, aku baru saja hendak mematikan ponsel, tiba-tiba pintu terbuka keras.

Kakakku, Stefano menerobos masuk dan dengan nada yang setajam pisau, “Apa maksud komentarmu di postingannya? Mau mempermalukan adikmu sendiri di depan umum?”

Tanpa menunggu penjelasanku, dia melanjutkan tuduhannya, “Kamu sudah cukup memalukan di pernikahanmu hari ini, sekarang malah mau menarik Siska ikut dipermalukan juga?”

Aku meletakkan ponsel di lemari samping ranjang, lalu menjawab datar, “Aku nggak menyindir. Itu ucapan selamatku yang tulus.”

Ketenanganku membuatnya sempat terdiam.

Tatapannya jatuh ke koper di lantai, lalu dia pun dengan dingin berkata, “Mulai lagi? Sudah kemas koper dan mau pura-pura kabur dari rumah untuk mendapat perhatian? Biar semua orang memohonmu untuk tetap tinggal?”

“Selvy, sejak kecil kamu memang suka sekali buat drama seperti ini. Bisa nggak sih, kamu belajar sedikit lebih dewasa? Belajarlah seperti adikmu!”

Stefano pun melanjutkan perintahnya, seolah sedang membagi pekerjaan rumah, “Siska mau makan krim sup seafood. Kamu saja yang masak, sekalian minta maaf padanya.”

Nada bicaranya terdengar seenaknya, seolah aku berutang pada mereka.

Aku tidak berdebat seperti biasanya dan hanya menjawab, “Iya.”

Kemudian, berbalik menuju dapur.

Stefano terkejut dengan perubahanku, lalu tiba-tiba meninggikan suara, “Tunggu. Jangan-jangan kamu mau macam-macam dengan makanannya?”

“Kok kamu nggak menolak kali ini?”

Aku menoleh, mataku berkaca-kaca dan menjawab, “Kak, apa aku orang seperti itu di matamu?”

Mungkin karena ekspresiku terlihat sangat terluka, dia mengerutkan kening dan mengalihkan pandangan, lalu nadanya sedikit melunak, “Kurasa kamu juga nggak berani.”

Kemudian, dengan nada tenang seolah semua yang terjadi hari ini adalah hal sepele, dia berkata, “Acara wisuda Siska hanya sekali seumur hidup. Pernikahanmu yang batal hari ini masih bisa diganti lain hari.”

Diganti lain hari!

Mereka menganggap pernikahanku seperti pesta biasa, bisa dijadwalkan ulang kapan saja.

Di gereja hari ini, di barisan tamu penting di bawah panggung, duduk semua kalangan terpandang seluruh kota, kamera media menyorot kursi pengantin pria yang kosong. Aku berdiri sendirian di bawah lampu sorot selama sepuluh menit, hingga akhirnya pemandu acara menuntunku turun dari panggung.

Jason, seorang bos mafia yang selama ini dikenal memegang janji, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya juga tiga kata itu, “Ganti lain hari!”

Aku menunduk, melangkah pelan ke dapur dan mulai menyiapkan bahan.

Satu per satu kerang simping dikupas, air garam terasa menyengat di kulit. Jariku memerah dan membengkak, aku alergi seafood.

Namun, rasa perih di tangan tak membuatku menangis. Karena yang paling menyakitkan bukan luka di kulit, melainkan rasa terbiasa ini, terbiasa diabaikan.

Sebelumnya, saat acara tunangan, Siska bilang perutnya sakit.

Jason, tunanganku langsung pergi ke rumah sakit tanpa pikir panjang, meninggalkan seluruh tamu di ruangan.

Aku berdiri sendirian di atas pangggung, meminta maaf dan menuntaskan acara seorang diri.

Itu adalah kesembilan puluh sembilan kali diriku diabaikan.

Dan hari ini adalah keseratus kali.

Dari ruang tamu, terdengar suara lembut Siska, “Kakak, bungkusan cemilan ini susah dibuka.”

Stefano langsung berdiri, langkahnya tergesa-gesa dan berkata, “Jangan dibuka sendiri, gimana kalau sampai terluka? Tanganmu itu untuk bermain piano.”

Nada suaranya penuh dengan kasih sayang.

Aku kembali ke kamar dan menutup pintu.

Melepas kancing gaun pengantin di punggungku, kain putih itu jatuh ke lantai seperti ombak laut.

Aku duduk di meja kerja dan membuka laptop. Kursor berkedip-kedip, berhenti di email yang sudah setengah diketik: [Program Dokter Lintas Batas].

Aku menambahkan kalimat terakhir: [Bisa berangkat kapan saja dalam dua minggu ke depan.] Kemudian, klik kirim.

Ini bukan pertama kalinya mereka mengecewakanku.

Ini adalah kali keseratus mereka mengecewakanku.

Aku meraih ponsel, membuka riwayat obrolan kami. Pesan terakhir adalah [Hanya pernikahan saja, bisa digantikan lain hari.]

Aku menelungkupkan ponsel di atas meja.

Jika mereka hanya menyukai Siska, biarkan saja Siska menjadi segalanya bagi mereka.

Dan aku akan meninggalkan kota ini, meninggalkan rumah ini dan juga meninggalkan pria yang menganggap pernikahan denganku hanyalah hari yang bisa ‘dijadwalkan ulang’.

Tanpa berpamitan, tanpa menoleh.

Stefano menerima piring dari tanganku tanpa menatapku. Kemudian, dia berkata pelan pada Siska, “Hati-hati, masih panas.”

Stefano tersenyum tipis, pandangannya meluncur melewatiku, seolah aku hanyalah seorang pelayan.

Bab 2

Aku memakai sarung tangan dan membawa krim sup seafood ke meja makan.

Belum sempat mendekat, pemandangan yang menyilaukan langsung menyambutku.

Ayah, orang yang biasanya tak pernah sabar mendengarkan aku bicara, kini duduk tenang di sofa, tersenyum dan dengan sabar mendengarkan Siska bercerita tentang hal-hal lucu di kampus.

Ibu memeluknya lembut, menata rambutnya dengan penuh kasih.

Stefano duduk di samping dengan mata yang tampak berbinar.

Seluruh keluarga mengelilinginya, seolah-olah dia adalah bintang utama malam ini.

Aku berdiri di ambang pintu, terasa seperti orang asing.

“Makan malam sudah siap,” ucapku pelan.

Siska menatapku, bibirnya terangkat dengan senyuman penuh kemenangan, tapi dia pura-pura memasang wajah sedih.

“Kak, kamu pasti marah padaku, ‘kan? Apa… karena aku, pernikahanmu jadi terganggu?”

Seketika, wajah Ibu menjadi dingin. “Selvy, apa maksudmu?”

“Acara wisuda Siska itu hanya sekali seumur hidup. Kalau kamu keberatan, simpan saja sendiri. Jangan mengganggu suasana hati semua orang!”

Ayah ikut mengerutkan kening dan memarahiku, “Cepat sini! Jangan lelet!”

Suara Ibu pun menjadi semakin tajam, “Kalau kamu masih berani marah pada Siska, jangan panggil aku Ibu lagi!”

Siska meraih tangan Ibu dan berpura-pura membujuk dengan lembut, “Ibu, jangan salahkan Kakak. Pernikahannya batal, tentu saja dia sedih…”

Dia menekankan kata ‘batal’ itu, tatapan matanya penuh dengan provokasi.

Aku menatapnya, lalu berkata dengan tenang, “Aku nggak marah. Acara wisuda memang acara penting, patut dirayakan.”

Mereka terdiam, sepertinya tidak menyangka aku akan menurut semudah itu.

Tepat saat itu, pintu pun didorong terbuka.

Jason masuk membawa kue yang sangat cantik di tangannya. Suaranya sangat lembut, bahkan tak pernah kudengar sebelumnya.

“Siska, selamat atas kelulusanmu. Ini kue yang khusus kupesan untukmu, ada piano kecil di atasnya, dibuat langsung oleh chefnya.”

Siska tersenyum ceria, matanya berkilat dengan rasa bangga. “Terima kasih, Kak Jason. Tapi… kamu nggak lupa kasih hadiah untuk Kakak, ‘kan?”

Saat itulah, seolah baru sadar aku juga ada di ruangan itu, Jason mengeluarkan sepotong kecil tiramisu dari kantong kertas di belakangnya dan berkata, “Selvy, ini untukmu, rasa cokelat kesukaanmu.”

Aku menatap tiramisu kecil di tangannya, lalu menoleh ke arah kue stroberi mewah di meja dan nyaris tertawa.

Jason tak pernah benar-benar mengingat kesukaanku.

Aku tidak makan cokelat, tapi entah kenapa, dia selalu memberikannya padaku.

Dan selama bertahun-tahun ini, yang selalu jatuh ke tangan Siska bukan hanya kue miilikku, melainkan juga perhatian semua orang.

Aku menerima kue itu dengan senyuman samar dan mengucapkan, “Terima kasih.”

Jariku tak sengaja menyentuh alat tes kehamilan di saku.

Dua garis merah dan sangat jelas.

Pagi ini, aku masih menatapnya di kamar mandi untuk waktu yang lama, jantungku berdebar tidak karuan.

Awalnya aku ingin memberitahunya di pesta pernikahan, membayangkan betapa terkejutnya dia saat mendengar kabar itu, bahkan membayangkan dia akan memelukku dan memutar.

Namun sekarang, semua itu tidak penting lagi.

Anak ini tidak diharapkan oleh siapapun.

Namun, aku akan menjaganya.

Meskipun sendirian, aku tetap akan membawanya pergi dari sini.

Aku menekan perasaanku dan berjalan ke meja makan.

Di meja, selain seafood yang kubuat, hampir semua hidangan lain adalah makanan kesukaan Siska.

Ayah, Ibu dan Kakak terus mengambilkan makanan ke piring Siska, sambil terus memuji, “Siska benar-benar kebanggaan keluarga kita, baru lulus sudah bisa masuk orkestra itu sangat luar biasa.”

“Iya. Nggak seperti Kakakmu, selain bisa memasak, apa lagi yang bisa dibanggakan?”

“Siska, jangan meniru Kakakmu. Minyak dapur bisa merusak tanganmu. Tanganmu itu untuk bermain piano.”

Siska tersenyum manis, bahkan sengaja menambahkan, “Ayah, Ibu, kalian juga harus coba masakan Kakak. Sebenarnya Kakak juga sudah bekerja keras.”

Barulah Ibu teringat denganku dan secara simbolis mengambil sepotong udang ke piringku. “Selvy, kamu juga sudah capek memasak, makanlah.”

Aku perlahan meletakkan alat makanku dan berkata, “Aku sudah kenyang.”

Wajah Ibu langsung menjadi dingin dan Siska pura-pura polos. “Ibu, Kakak masih kesal karena pernikahannya dibatalkan?”

Ibu menatapku dengan tajam dan berkata, “Mau makan silakan, nggak makan juga nggak ada yang memaksamu!”

Detik berikutnya, tiba-tiba Siska memegangi lehernya, wajahnya pun langsung memerah.

“Ibu! Tolong aku… aku nggak bisa bernapas…”

Aku mendongak, kulitnya langsung dipenuhi ruam merah, itu reaksi alergi.

Ayah langsung berdiri, matanya tajam mengunci ke arahku. “Selvy, ada masalah dengan masakanmu!”

Suara nyaring Ibu pun menyusul, “Sudah kuduga! Kamu nggak puas dan sengaja mencelakai Siska, ‘kan?”

Stefano berdiri di depan Siska, melindunginya seperti harta yang rapuh dan berkata, “Seharusnya aku sudah menduga ini. Kamu begitu tenang dari tadi, pasti sedang merencanakan sesuatu!”

Tatapan Jason juga tertuju padaku, tampak dingin dan asing tanpa sedikit pun keraguan.

Empat pasang mata menatapku tajam, seolah ingin menelanku hidup-hidup.

Padahal aku tidak berbuat apa-apa, tapi aku sudah menjadi ‘pelaku’ yang meracuni di mata mereka.

Dadaku terasa dingin dan sesak.

Ternyata di hati mereka, aku benar-benar bukan siapa-siapa.

Bukan seorang putri, bukan kakak, apalagi tunangan.

Hanya bayangan yang bisa diabaikan kapan saja dan dijadikan ‘kambing hitam’.

Bab 3

Tatapan Jason yang menusuk ke arahku terasa dingin, seperti melihat orang asing.

“Cepat bawa Siska ke rumah sakit dulu.”

Tanpa ragu, tanpa bertanya apapun, dia bahkan tak menunjukkan sedikit pun keanehan terhadap ‘tuduhan’ mereka.

Stefano buru-buru memakaikan jaket pada Siska dan memapahnya berjalan keuar.

Langkah mereka tergesa-gesa, tapi tak satu pun mata mereka menoleh ke arahku.

Begitu pintu tertutup, seluruh rumah mendadak menjadi hening.

Baru saat itulah aku sadar, mereka benar-benar sudah pergi dan menyisakan diriku seorang.

Aku menyeret tubuhku yang kaku kembali ke kamar.

Kamar itu sangat sunyi, bahkan suara napasku pun terasa menusuk telinga.

Aku membuka lemari, melipat beberapa pakaian yang sering kupakai dan memasukkannya ke koper.

Paspor, dokumen, kartu bank, semuanya kuperiksa satu per satu.

Saat merapikan laci, sebuah buku tebal terjatuh ke lantai. Itu buku harian yang kutulis sejak umur delapan tahun.

Aku menatapnya lama, jari-jariku bergetar, lalu akhirnya membukanya.

Lembar demi lembar, kertas yang mulai menguning itu penuh dengan kisah tumbuh kembang dan kesendirianku.

Saat kecil, keluarga kami kekurangan. Ayah dan Ibu bilang harus menyisakan sumber daya terbaik untuk Kakak dan Adik.

Stefano berprestasi dan masuk sekolah swasta unggulan, sedangkan Siska sering sakit, butuh perawatan tanpa henti dari Ayah dan Ibu.

Sementara aku, dikirim ke sekolah asrama.

Sekali pergi langsung sepuluh tahun penuh.

Setiap kali liburan, asrama kosong. Teman-teman dijemput orang tua mereka untuk berkumpul di rumah.

Sedangkan aku hanya bisa tinggal di koridor yang sepi, melihat barang bawaan orang lain dibawa pergi satu per satu.

Surat yang sesekali dikirim padaku hanya berisi ‘harus menjadi anak yang penurut’, ‘jangan menyusahkan keluarga’.

Baru setelah kuliah, aku ‘berhak’ untuk kembali ke rumah.

Namun, yang menyambutku bukanah pelukan dan kerinduan, melainkan kamar kecil yang suram di sudut lantai dasar.

Saat ini, aku benar-benar mengerti bahwa di rumah ini, diriku hanyalah beban yang masih diberi tempat untuk tinggal.

Awalnya, aku juga menangis dan juga meredam isakan dengan bantal di malam hari.

Namun kemudian, aku memaksa diri untuk belajar diam.

Berusaha keras mengerjakan pekerjaan rumah, berusaha bersikap baik dan membuat diriku menjadi ‘bermanfaat’.

Aku pikir jika aku berusaha cukup keras, suatu hari nanti mereka akan menoleh melihatku.

Namun kenyataan berkali-kali membuktikan, ada hal yang tak bisa didapatkan hanya dengan usaha.

Sama seperti kasih sayang mereka yang tidak pernah menjadi milikku.

Tanganku berhenti di satu halaman, ujung jariku menekan kertas hingga sedikit mengerut.

Aku pun menarik napas dalam-dalam, menutup kembali buku harian itu dan memasukkannya ke dalam koper.

Pandanganku jatuh ke meja samping ranjang, alat tes kehamilan itu tergeletak tenang di sana.

Dua garis yang begitu jelas dan menusuk pandangan.

Pagi ini, aku sempat membayangkan untuk memberitahu Jason di pesta pernikahan.

Membayangkan ekspresi terkejut pertamanya dan diriku yang dipeluk olehnya.

Namun sekarang, aku tahu bahwa rahasia ini tidak perlu lagi diungkapkan.

Aku Pemenang Dalam Hidupku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya